Chronicles of Primordial Wars Chapter 1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Eliane

Orang yang Disana, Celanamu Melorot

Di suatu gua, tergeletak dua puluh anak-anak yang berbaring di lantai.Tujuh dari mereka, terselimuti dengan selimut kulit tipis dan kasar. Sebagian dari mereka yang tidak berselimut memakai sesuatu yang lain, atau mereka berdempetan satu sama lain seperti yang berada di sudut sana. Tetapi bagaimanapun mereka berselimut atau berdempetan layaknya bola, mereka tetap tidur dengan sangat nyenyak.

Karena tidak dibersihkan dalam waktu yang cukup lama dan banyak orang yang tidur disana, bau yang sangat menyengat bertebaran di dalam goa itu.Di sekitar mereka, ada lubang seperti ventilasi udara, memungkinkan sinar matahari untukmasuk, yang mana tidak seperti di kebanyakan goa pada umumnya.

Dibawah ventilasi, di sudut gua, ada seorang anak yang berpakaian lusuh tidur di sana. Tetapi dia berbeda dari anak-anak yang lain. Disana terlihat ada anjing besar yang ikut tidur disampingnya, kira-kira besarnya sama seperti anak itu.

Shao Xuan mulai membuka matanya.Melihat sinar matahari yang sudah mulai menyinari pundaknya, dia menggosok matanya, merangkak bangun, dan mulai merapikan rumput kering dibawahnya.Melihat aktivitas Shao Xuan, anjing besar dengan mata yang awalnya tertutup dengan sigap bangkit dan dengan patuh duduk di sampingnya sehingga Shao Xuan dapat mengambil rumput kering.

Setelah mengikat rumput kering, Shao Xuan berjalan keluar gua dengan satu tangan membawa seikat rumput kering, dan satu tangannya lagi memegang tali kekang anjing, yang dibuatnya dari jerami.

Terbangun dengan cara yang sulit digambarkan di tengah suku primitif, menjadi seorang bocah nakal dalam suku yang berada di entah berantah. Tubuh ini sangat lemah, kemungkinan dapat dengan mudah terserang penyakit. Sejak Shao Xuan terbangun di tubuh itu, sudah setengah tahun lamanya. Bahkan ketika tubuhnya tak berfungsi seperti yang seharusnya, ia hanya bisa menggertakan giginya dan menyerah dengan keadaannya. Karena yang terpenting adalah bertahan hidup.

Shao Xuan tidak menyangka untuk benar-benar pergi ke tempat seperti itu. Ada perbedaan besar dari suku-suku primitif zaman batu yang telah ia pelajari sebelumnya. Dari penampilan mereka tidak ada yang terlalu spesial, akan tetapi esensi mereka sangatlah berbeda.

Pernahkah kau melihat seseorang yang membawa batu seukuran tangki air kecil di tangannya dan berjalan dengan santai tanpa tujuan di jalanan ?

Pernahkah kau melihat seseorang melompati benda yang tingginya tiga meter dan berdiri tegap setelah melompat tanpa bantuan alat apapun?

Shao Xuan tidak pernah melihat hal itu di kehidupan sebelumnya, tetapi kehidupannya yang sekarang . . . . . Dia melihatnya setiap hari!

Ada juga gua yang baru saja ia kunjungi, nama gua itu adalah “Gua Sapi Berbaring”  karena bentuk dari gua itu sendiri seperti sapi yang sedang berbaring. Gua itu dinamai oleh seorang “Shaman” dari suku purba, namun sudah ribuan tahun sejak saat itu. Ketika bulan dan tahun silih berganti satu sama lain, suku itu, ketika masa beranak-pinak, mereka membangun rumah diluar gua. Jadinya, gua yang lama digunakan untuk menampung anak yatim yang dipungut oleh suku itu.Sejak saat itulah, gua ini dinamakan “Gua Anak-anak” oleh orang-orang di suku.Anak yatim yang tinggal di sana tidak mempunyai orang tua untuk mengurusi mereka, dan juga orang-orang di suku tidak ada yang mau mengambil mereka untuk dijadikan keluarga. Jadi, intinya, “Gua Anak-anak” adalah panti asuhan untuk suku purba itu.

Setelah Shao Xuan tiba di tempat itu, dia tidak melihat suku lain. Itu berarti di sekitar pegunungan, hanya ada satu suku di sana, “Tanduk Berapi” itulah sebutan suku mereka.

Dalam kehidupan suku yang terisolasi, pilihan yang ada hanyalah bergantung pada diri sendiri.

Sembari menarik anjingnya, Shao Xuan berjalan dengan santai.

Tak lama setelah itu, dia melihat rumah kayu dengan ukuran dan bentuk yang aneh.Sebagian komponennya terbuat dari kayu yang dikombinasikan dengan benda seperti bebatuan, rumput, dan tanah.Berbeda dari yang sebelumnya, yang satu ini, terbuat dari kayu dan batu, dan sedikit lebih besar, dan juga terlihat lebih kokoh.Rumah itu dapat dikategorikan sebagai rumah mewah, yang terletak di dekat kaki gunung.

Akan tetapi meskipun rumah biasa ataupun rumah “Mewah”, di mata Shao Xuan, rumah-rumah itu memiliki konstruksi yang sederhana. Meskipun setelah tinggal di sana untuk waktu yang cukup lama, Shao Xuan mendambakan rumah kayu miliknya sendiri, tetapi impian itu tak pernah terwujudkan.

Pada saat itu, sebagian orang sudah mulai beraktivitas. Para lelaki sudah menyiapkan perkakas batu mereka untuk diasah sehingga akan memudahkan mereka ketika pergi berburu dengan pisau batu yang sudah tajam. Para wanita juga memiliki peran tersendiri seperti menyulam kulit binatang, mengeringkan makanan, dan pekerjaan lainnya.

Ketika Shao Xuan lewat, beberapa orang memandanginya.Bukan ke arah Shao Xuan, melainkan sesuatu yang Shao Xuan bawa bersamanya.Dengan tatapan rakus mereka meneteskan dan menelan air liur mereka.Bagi mereka, Shao Xuan sedang menarik bongkahan daging besar, yang cukup bagi mereka untuk membuat beberapa hidangan.Bagi mereka yang bangun sangat pagi untuk berburu namun masih memiliki perut yang lapar terasa seperti terisi kembali; tetapi setelah melihat sesuatu yang terkalung di lehernya, mereka dengan terpaksa menahan hasrat mereka dan membiarkan serigala itu melewati mereka.Itu adalah Marking Tile sebuah tanda dari “Shaman”, yang mengartikan bahwa itu adalah milik “Shaman”.Mereka tidak berani menyentuhnya, di mata mereka, Shao Xuan hanya sekedar membantu Shaman untuk menjaga serigalanya.

Ya benar, yang sebenarnya berada di sisi Shao Xuan adalah serigala.Serigala itu lahir di sekitar pegunungan, tetapi ketika masih bayi, seorang pemburu dari suku yang sedang berburu menangkapnya, dia membawanya pulang sehingga Shao Xuan bisa memakannya, akan tetapi secara kebetulan, sang “Shaman” pergi, lalu meninggalkan Marking Tile tanda yang tak lain adalah “tanda Shaman”, lalu menghilang. Shao Xuan menamai serigala itu “Caesar”, nama anjing Shao Xuan di kehidupan sebelumnya. Dia menggendong Caesar seperti anjing, sepanjang jalan bahkan sampai sekarang.

Pikiran orang-orang di suku sangatlah aneh. Memang benar, mereka menghormati Shaman meskipun hanya sedikit, akan tetapi sikap mereka ketika berhadapan denga Shao Xuan tidak banyak berubah bahkan setelah Shaman memberikan Marking Tile kepada Shao Xuan. Satu-satunya hal yang berbeda adalah mereka berkeinginan untuk memotong Caesar dan memakannya. Di sisi lain, mereka tidak begitu memperdulikannya selain apa yang mereka lakukan biasanya. Lagipula, sang Shaman tidak memberitahu semua orang agar mereka membantu Shao Xuan. Di mana seorang tokoh besar seperti Shaman mempunyai waktu luang untuk mengurusi seorang anak kecil?Seiring berjalannya waktu, semua orang telah terbiasa berdampingan dengan seorang anak yang memiliki serigala. Dan, meskipun sejak Caesar belum memiliki taring yang lengkap, sang Shaman belum pernah muncul lagi.

Tetapi yang membuat orang-orang tepian kaki gunung bingung adalah mengapa Shao Xuan memanggil Caesar “anjing”?

Dan, apa itu sebenarnya “anjing”?

Namun, pertanyaan itu sirna seiring berjalannya waktu karena tidak ada yang mempermasalahkannya. Mereka tidak memperdulikan hal kecil seperti itu, karena mereka sibuk memikirkan hal-hal penting lain yaitu makanan.

Shao Xuan sudah terbiasa dengan pandangan orang sekitarnya.Seperti tak terjadi sesuatu yang besar, dia tetap berjalan bersama Caesar.Meskipun orang-orang di suku rakus dan serakah, mereka tidak pergi merampok barang-barang milik Shaman. Seperti yang dikatakan oleh Shi Qi : posisi Shaman dalam suatu suku sangatlah tinggi. Itulah mengapa gunung adalah “tempat untuk orang-orang yang berpengaruh”, seperti Shaman tertinggi atau yang tertinggi kedua dalam suatu suku, diberikan kepada Shao Xuan, yang mana pernah tidur di “Gua Anak-anak” dimana itu adalah sebuah keberadaan yang sangat rendah tetapi seperti tanda “Marking Tile” menandai sesuatu yang penting, seperti itulah Shao Xuan menyebutnya saat itu “Memelihara”. Awalnya, Shao Xuan saat itu berkata untuk memelihara Caesar hingga besar lalu memakannya, dan tidak sengaja kata-kata itu terdengar oleh Shaman. Dia mengijinkan Shao Xuan untuk memeliharanya, dan untuk mencegah agar orang-orang suku tidak mengambilnya, Shaman meninggalkan Marking Tile untuk Shao Xuan, yang diletakan di lehernya.

Sang Shamansangat antusias dalam membesarkan serigala itu, tetapi sudah lebih dari setengah tahun berlalu, orang tua itu tidak pernah menunjukan dirinya.Sebagai hasilnya, pandangan Shao Xuan terhadap orang tua itu adalah sebagai seorang penipu tua yang tidak bertanggung jawab.Apakah mudah membesarkan seekor serigala?Tiap hari, dia diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya.Tanpa mental yang kuat, mungkin dia sudah lama menjadi gila.

Pokoknya, membesarkan Caesar hanyalah kebetulan semata.

Hidup mengapa sesulit ini! Meskipun suku itu mengurusi masalah makanan di “Gua Anak-anak”, tetapi tetap saja dia masih merasa lapar. Shao Xuan hanya bisa menghela nafasnya. Dia melihat ke depan, lalu  matanya tersentak.

Di hadapannya, seseorang memegang gada batu – dua meter panjangnya seperti tongkat baseball, tetapi jauh lebih tebal. Sepertinya itu sangat berat, dan menurut pandangan Shao Xuan itu melewati kemampuan orang biasa, dan walaupun seandainyaia dapat mengangkatnya, mungkin akan sangat melelahkan. Akan tetapi orang itu mengangkatnya dengan mudah layaknya mengangkat cangkul biasa. Sambil menguap, dengan lesu dia berjalan di atas gunung, mungkin sedang menuju ke kelompok pemburu yang sedang berdiskusi di atas sana.

Itu normal bagi orang-orang di sini. Dan Shao Xuan, dia termasuk kumpulan orang lemah yang belum bisa membangkitkan Power of Totem. Ketika seseorang mencapai umur sepuluh tahun, dia dapat membangkitkan Power of Totemnya, dan akan dianggap sebagai pemburu yang memiliki kemampuan yang cukup untuk berburu di luar. Power of Totem adalah satu-satunya pengukur untuk menentukan apakah seseorang mampu menjadi pemburu atau tidak di dalam suku. Shao Xuan tidak begitu mengerti, apa sebenarnya The Power of Totem itu, Dan mungkin dia akan tau jika telah tiba saatnya.

Pada saat itu, pria di depan Shao Xuan yang sedang membawa gada batu dengan penampilannya yang mengantuk sama sekali tidak sadar bahwa celana kulit yang ia kenakan saat itu melorot ke lututunya. Di siang bolong, dia berjalan seolah-olah tidak ada hal yang terjadi.Orang-orang di sekitarpun tidak menanggapinya ketika melihat itu. Shao Xuan menahan perkataannya, tapi pada akhirnya, dia berkata, “Om yang membawa gada disana, celanamu melorot!”.

Setelah teriakan Shao Xuan yang ketiga orang itu berbalik sambil menguap.Lalu dia melihat Shao Xuan, pandanganya terheti sekitar setengah menit ketika melihat Caesar, lalu menatap celananya yang melorot.Setelah itu, dia dengan santai menarik celananya, memasangkan sabuk, dan melanjutkan perjalanannya menuju gunung dengan gada di pundaknya.

Setelah itu Shao Xuan tidak mengatakan apapun.

Dalam sudut pandang orang-orang di sini . . . Etika? Malu?Apa itu? Apakah bisa dimakan? Jika tidak, apa gunanya membahas hal itu?

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded