Chronicles of Primordial Wars Chapter 2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Eliane

Kehidupan yang Sederhana

Tujuan Shao Xuan bukan mengarah ke atas bukit. Dia berjalan ke bagian belakang bukit yang ada jalan kerikilnya, setelah itu, dia hanya perlu mendaki sedikit.

Sesampainya di sisi bukit, dia mengangkat kepalanya dan menengok ke atas. Pegunungan tak berujung yang tertutup hutan hijau membentang di kejauhan memanjakan pandangannya, sebagian diantaranya adalah bukit-bukit, yang hampa dan gundul, dengan sedikit tumbuhan. Bukit-bukit itu adalah tempat berlatih pasukan pemburu di suku mereka serta sebagai sumber utama pemasok batu yang mereka gunakan. Karena daerahnya berbatu, tempat itu tidak terlalu cocok untuk ditumbuhi tanaman tapi tempat itu sangat cocok untuk tempat berlatih.

Shao Xuan sedang berdiri di lapangan berkerikil. Kerikil-kerikil itu tidak terbentuk secara alami melainkan bekas batu-batu yang pecah menjadi kerikil. Semua batu yang terlihat berguna sudah diambil orang-orang di suku untuk diproduksi menjadi perkakas batu dan sisanya yang tak berguna, tidak ada orang yang memperdulikannya dan ditinggalkan begitu saja.

Di sana lumayan sepi, tetapi tetap saja, suara terompet dapat terdengar menggema dari balik bukit di sekitar. Shao Xuan sendiri belum pernah melihat latihan para Totem Warrior, dikatakan bahwa kekuatan penghancur yang ditimbulkan oleh para Totem Warrior begitu besar sehingga orang-orang yang lemah, seperti Shao Xuan untuk umurnya yang sekarang tidak diperbolehkan untuk mendekat. Banyak yang sudah mencoba untuk menonton secara daim-diam tetapi akhirnya terluka karena kesalahan mereka sendiri.

Shao Xuan memalingkan pandangannya dan melonggarkan tali jerami di tangannya, “Sekarang pergilah dan makan ‘Mie’mu.”

Caesar yang sudah tak sabar dan langsung berlari di sekitaran lapangan berkerikil. Dia mengendus-endus sambil berlari, dan dengan cepat menggali di sekitar kerikil menggunakan cakarnya setelah mencium sesuatu. Tak lama setelah itu, dia menarik cacing besar sepanjang 1 kaki (sekitar 30,48 CM) dan tebalnya setebal ibu jari orang dewasa keluar dari lobang; tanpa basa-basi Caesar menelannya dan segera mencari yang lain.

Cacing itu dinamakan “Cacing Batu” oleh orang-orang di suku. Bentuknya seperti cacing tanah, namun ukurannya jauh lebih besar. Yang Casar makan terbilang relatife kecil, Shao Xuan pernah melihat Cacing Batu sebesar tangan manusia. Dan katanya ada yang lebih besar lagi. Namun, semakin besar Cacing Batu tumbuh, semakin dalam mereka mengubur dirinya di bawah tanah, sehingga hanya yang berukuran kecil yang berada di permukaan.

Rasa Cacing Batu tidak begitu enak dan banyak orang menderita diare berat ketika memakannya, jadinya tidak ada satu pun orang di suku yang memasukan Cacing Batu di menu mereka. Ini sebenarnya adalah kabar yang sangat bagus bagi Caesar karena Cacing Batu adalah makanan favoritenya.

Untuk seekor serigala, cukup menyedihkan karena dia harus memakan cacing.

Shao Xuan menemukan tempat yang cocok untuk mengeringkan rerumputan kering. Dia mengikat rumput itu sehingga akan lebih nyaman untuknya tidur saat mereka kembali ke goa malam nanti.

Setelah meletakan tumpukan rumput dibawah, Shao Xuan melihat sekeliling dan memastikan bahwa hanya dia yang satu-satunya berada di sana. Dia menghampiri pohon pendek yang berada di tepi lapangan berkerikil dan mulai membersihkan permukaan lapangan yang berkerikil, lalu menggali tanah dengan pisau batu yang menggantung di pinggangnya. Setelah itu, dia membongkar wadah batu yang terlihat kasar untuk membuat wadah, lalu meletakan daging kering disana. Shao Xuan meletakan daging itu di wadah batu dan menguburnya dengan cepat.

Daging yang kering dan amis, hanya berukuran setengah dari telapak tangan. Shao Xuan di kehidupan sebelumnya tidak pernah menyentuh makanan seperti itu, tetapi sekarang setelah kelaparan yang tiada akhir, makanan yang teksturnya seperti karet itu pun terlihat sangat lezat.

Lihatlah, kehidupan sederhana seperti itu . . . sudah seperti takdir.

Shao Xuan merasa berenergi lagi setelah makan dan berdiri untuk melakukan beberapa peregangan. Setelah itu, dia berlatih tinju seperti yang diingatnya di kehidupan sebelumnya. Setiap hari, Shao Xuan perlu berolahraga, karena dia terbangun di tubuh yang cukup lemah.

Sementara itu, Caesar masih menggali cacing. Dia terus mencari dan melihat sekelilingnya. Inilah alasan mengapa Shao Xuan berani mengambil makanan secara terang-terangan, karena saat ia tertangkap, makanan yang diambil akan diberikan untuk memuaskan rasa lapar orang lain. Shao Xuan hanya sendirian, tidak berdaya, pucat, dan kurus kering. Jika bukan karena pengalaman yang dia miliki di kehidupan sebelumnya dan pikiran jahat yang dia rencanakan mungkin dia tidak memiliki cukup semangat dan keberanian untuk keluar dari goa.

Setelah berlatih tinju untuk beberapa waktu, Shao Xuan berhenti sejenak untuk mengambil nafas, ketika ingin menengok Caesar secara tiba-tiba menoleh dengan mulutnya yang menggigit setengah bagian dari Cacing Batu. Beberapa kali dia merobek cacing itu menjadi dua bagian dan bagiannya yang lainnya dengan cepat kembali kedalam tanah. Cacing Batu dapat menyembuhkan lukanya dan dapat kembali utuh dalam waktu tertentu. Sebagiannya memutar tubuhnya di mulut Caesar, dan memukul mulut Caesar.

Caesar tidak menelan cacing itu bahkan dia tidak menghiraukan pukulan dari cacing itu. Sebaliknya, dia menggeram di satu arah, menunjukkan seolah-olah seseorang berada di sana.

Shao Xuan beranggapan bahwa itu adalah seseorang yang dia kenal, karena Caesar menggertakan giginya. Shao Xuan juga menatap ke arah yang sama, dan seketika, dia mendengar suara yang lembut, selembut tiupan angin yang meniup daun di tanah. Perlahan, muncul sosok di pandangan Shao Xuan.

Dia adalah seseorang yang sangat tinggi, sangat besar, dengan pakaian sederhana dari kulit dan diselimuti bulu. Di pakaiannya ada sekeping batu dan wajahnya, ada beberapa luka, memberikan kesan garang. Ada juga luka-luka kecil yang terlihat di sekujur tubuhnya yang tak terlapisi pakaian. Sebuah cincin dengan alat-alat batu istimewa yang dibuat dari perkakas batu menggantung di pinggangnya.

Batu yang digunakan untuk membuat alat-alat itu sangat berbeda dengan kerikil-kerikil yang berada dibawah kaki Shao Xuan, mereka lebih kokoh. Itu dibuat untuk berburu dengan alat yang canggih dan keahlian yang tinggi sangat berbeda sekali dengan pisau batu kasar yang berada di tangan Shao Xuan. Jika itu ditukar dengan daging, bahkan alat terkecil yang ada di cincin itu tidak sebanding dengan daging yang bisa membuat Shao Xuan kenyang untuk beberapa hari.

Mungkin itu kebiasaannya ketika berburu di hutan, lelaki itu berjalan pelan dengan cara yang sama, bahkan tidak memiliki niat untuk bersembunyi. Caesar tidak bisa menemukannya langsung dan Shao Xuan tidak pernah mendengar suara sedikitpun ketika dia benar-benar sedang menyembunyikan dirinya.

Sebelum Caesar menggonggong, dia dengan sigap mengencangkan tubuhnya dan menganga dan memperlihatkan empat taringnya yang panjang ke arah pria yang mendekatinya untuk beberapa saat. Bahkan perhatiannya tidak teralihkan ketika sisa tubuh Cacing Batu jatuh dari mulutnya.

Bagi prajurit pemburu di dalam suku, hewan buas hanyalah mangsa, dengan kata lain adalah makanan. Tentu saja, Caesar masuk didalam kategori ini. Meskipun orang itu hanya meliriknya, orang itu memancarkan aura yang sangat berbahaya yang membuat Caesar ketakutan karena naluri pemburunya.

Mengingat situasinya, Shao Xuan tau kalau dia harus bicara terlebih dahulu.

“Selamat pagi, Paman Mai!”

Pria kekar paruh baya itu mengalihkan pandangannya dari Caesar dan melihat kearah Shao Xuan. Suasana yang berbahaya sebelumnya perlahan memudar, ketegangan Shao Xuan pun ikut mereda. Faktanya, sebagian besar prajurit pemburu di suku tidak akan pernah menyakiti anak-anak asalkan tidak diprovokasi.

Mai melihat Shao Xuan kemudian melihat kearah tanda di lantai yang digunakan Shao Xuan untuk berlatih sebelumnya. Kegembiraan memenuhi matanya, tetapi senyumnya tidak bisa membuat wajahnya terlihat ramah karena bekas lukanya.

Shao Xuan tau bahwa Mai adalah orang yang baik dan ramah, tidak seseram penampilannya. Selain itu, Mai dan ayah kandungnya saat ini berada di tim berburu yang sama, jadi untuk kedepannya, Mai akan selalu membantu Shao Xuan.

“Bukankah kau pergi terlalu cepat Ah-Xuan? Ada baiknya kau berlatih sebelum waktunya tiba,” Kata Mai.

Orang-orang dalam suku tidak memiliki nama keluarga (marga) dan kebanyakan dari mereka hanya diberi satu kata sebagai nama mereka. Mungkin itu lebih mudah untuk orang lain mengingatnya dan tubuh Shao Xuan di kehidupan ini adalah “Xuan”. “Ketika di Roma, lakukanlah seperti orang Roma lakukan”. Sedikit demi sedikit Shao Xuan mulai terbiasa dengan cara seperti ini. Seperti halnya “Ah”, itu memiliki asal-usul yang menarik, dulu ada leluhur yang sangat dihormati dan seringkali menyebut kata “Ah” sebelum memanggil nama seseorang. Ini berkembang menjadi sebuah tradisi, diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga orang-orang di suku ini menyebutkan kata “Ah” sebelum memanggil nama seseorang. Tentu saja, aturan itu tidak bisa dipakai untuk para manula dan mereka yang memiliki posisi khusus.

Hanya beberapa orang yang tinggal di dekat gunung, termasuk anak-anak dari “Goa anak yatim”, yang keluar untuk berolahraga semasa muda mereka. Pada dasarnya, putaran hidup mereka hanya disekitar makan dan tidur, bermain-main untuk sementara waktu adalah hiburan yang mewah bagi mereka. Karena berolahraga dan bermain membutuhkan tenaga, dan terlalu banyak bergerak menyebabkan rasa lapar muncul lebih cepat. Bagi orang miskin, semakin sedikit konsumsi maka semakin baik, sehingga orang dewasapun mendukung hal ini. Akan tetapi, Mai sangat mendukung tindakan Shao Xuan, karena akan sangat bermanfaat di masa depan jika dia mulai berlatih dari sekarang.

“Apakah kau baru kembali dari tempat latihan, Paman Mai?” Tanya Shao Xuan.

“Ya” Mai mengangguk.

Tidak ada waktu yang pasti bagi para pemburu untuk berlatih, mereka dapat menentukan waktu latihan mereka sesuka hati selama mereka tidak melewatkan perburuan.

“Sepertinya hari ini Paman Mai sedang beruntung! Ngomong-ngomong, Paman Mai, aku dengar dari Lang Ga bahwa besok adalah giliran timmu untuk berburu? Semoga beruntung dan kuberharap kau akan mendapat banyak buruan!”.

Lang Ga berada di tim berburu yang sama dengan Mai, dan dia adalah orang yang membawakan Caesar pada Shao Xuan. Nama “Lang Ga” memiliki arti “Busur Tanah” dalam Bahasa local, Lang Ga adalah orang yang pantas menyandang nama ini.

Mai tersenyum mendengar perkataan Shao Xuan. Dia tidak terlalu banyak bicara dan segera bersiap-siap untuk pergi, karena besok dia akan pergi berburu dan mungkin dia akan kembali dalam beberapa hari. Dia perlu beristirahat sehingga berenergi di pagi hari.

Mai berhenti setelah beberapa langkah dan berbalik ke belakang, “Ah-Xuan!”

Shao Xuan melihat kearah Mai dan melihatnya mengambil sepotong daging kering dari tas kulit binatangnya.

Prajurit harus membawa makanan mereka sendiri ketika sedang berlatih karena di tempat latihan hanya ada batu dan kerikil, begitu pula dengan tumbuhan dan lebih sedikit lagi hewan yang dapat disebut sebagai makanan di sana. Untuk mengisi tubuh mereka yang kelelahan, mereka harus menyiapkan makanan jauh-jauh hari. Daging kering yang dipegang Mai di tangannya sudah disiapkannya sebelumnya dan dia berencana untuk memakan potongan daging itu di perjalanan pulangnya. Tetapi secara tidak sengaja bertemu Shao Xuan saat perjalanan pulang, diapun memberikannya kepada Shao Xuan tanpa ragu sedikit pun. Shao Xuan tidak diizinkan untuk pergi keluar karena anak-anak dalam suku tidak diperbolehkan berburu, untuk kepentingan mereka sendiri.

“Terima kasih, Paman Mai!” Kata Shao Xuan.

Makanan cukup langka di suku ini, terutama di musim seperti ini tidak semua orang dengan mudah memberikan daging mereka seperti yang dilakukan Mai. Setelah memberikan daging kepada Shao Xuan Mai berkata, “Di lereng bukit tempat biasa aku berlatih, kau bisa mengamati matahari terbenam . . .”

Mai pergi setelah memberikan rincian lokasi di mana dia berlatih, dan menekankan pada Shao Xuan agar berhati-hati. Caesar merasa tenang setelah Mai menghilang di kejauhan. Ketika melihat kebawah, dia sangat marah setelah mengetahui setengah dari Cacing Batu yang dia jatuhkan tadi sudah menggeliat pergi. Caesar menggali dalam-dalam dan mencoba melacak aromanya seolah ingin menangkap kembali mangsanya. Namun, Shao Xuan tidak memperdulikannya, karena dia mendapatkan kesempatan untuk melihat tempat latihan Mai.

Shao Xuan mengubur daging kering yang ia dapat dari Mai di wadah batu dan meletakan beberapa pecahan batu di atasnya untuk menyamarkannya. Dia memanggil Caesar sembari melihat kearah yang ditunjukan oleh Mai.

“Ayo Caesar! Mari kita melakukan sesuatu yang berbahaya!”

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded