Chronicles of Primordial Wars Chapter 3 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Eliane

Saingan Lama

Karena daerah ini adalah sumber utama penghasil batu untuk suku, pasti akan ada banyak batu mulus yang dapat dengan mudah dibuat menjadi sebuah alat. Biasanya, para Totem Warrior mendapat izin untuk mengambil batu untuk pertama kalinya, karena tempat itu adalah tempat mereka berlatih. Setelah itu, orang-orang yang lebih lemah, termasuk Shao Xuan, mendapat kesempatan untuk mengambil “Batu Sisa”.

Kalimat itu mungkin terdengar sangat rendah, namun kalimat itu menggambarkan dengan sempurna keadaan tersebut.

Biasanya, orang-orang di suku mengambil “Batu Sisa” pada jam makan malam, saat matahari terbenam. Karena di waktu itulah sebagian besar prajurit berhenti berlatih dan beristirahat. Namun, di siang hari, tempat latihan akan menjadi tempat yang cukup berbahaya bagi mereka yang belum membangkitkan kekuatan Totem mereka. Batu-batu yang berterbangan akibat batu yang para Totem Warrior hantam dengan tinjunya sama seperti peluru bagi mereka yang lemah. Untungnya berkat instruksi dari Mai, akan jauh lebih aman dan mudah bagi Shao Xuan untuk sampai ke tujuan.

Sebuah batu halus dapat ditukar dengan banyak hal dan Shao Xuan tentu tidak akan membiarkan kesempatan seperti itu lewat begitu saja.

Bersama Caesar, Shao Xuan pergi menyusuri jalan yang ditunjukan Mai sebelumnya. Saat diperjalanan, suara gemuruh datang dari bukit tempat berlatih, batu-batu berjatuhan di berbagai tempat. Dari arah atas, ke arah jalan alternative, batu yang jauh lebih besar bergulir ke sisi bukit. Akan sangat berisiko jika Shao Xuan melewatinya jika Mai tidak memberikan informasi mengenai rute yang aman.

Shao Xuan melanjutkan perjalanannya sembari merapikan rambutnya yang berantakan dan membersihkan bajunya dari serpihan batu-batu kecil.

Tempat di mana Mai berlatih berada di dekat puncak bukit. Karena ini adalah tempat latihan para Totem Warrior, tidak ada jalan yang dibuat mulus dan ternyata sangat sulit untuk dilalui. Lengan Shao Xuan, tangan, dan kakinya berdarah ketika akhirnya sampai.

Shao Xuan tidak memperdulikan luka-lukanya sama sekali, karena mereka akan sembuh setelah beberapa hari. Dan itu semua akan sepadan jika dia berhasil menemukan beberapa batu yang bagus.

 Membutuhkan banyak tenaga untuk mencapai tempat itu dan Shao Xuan pasti tidak akan bisa sejauh ini jika dia tidak sarapan tadi pagi.

Batu dengan berbagai ukuran dan bentuk bertebaran di tanah yang tidak rata, sementara di sisi lain tebing ada lubang dengan kedalaman yang berbeda di masing-masing permukaan batu. Shao Xuan berpikiran bahwa dia pasti menemukan batu yang lebih keras tertanam di lubang itu sebelum Mai menggalinya dan membawa mereka untuk dibuat menjadi beberapa alat berburu. Batu-batu yang keras dan halus tidak tersebar luas di sekitaran bukit. Bahkan, sebagian berbentuk seperti sebuah gumpalan, beberapanya tersebar di permukaan bukit dan sebagiannya lagi terkubur jauh dibawah. Para prajurit tidak dapat membongkar bukit-bukit, jadi pada akhirnya untuk menemukan batu-batu bagus dan halus tergantung dari keberuntungan mereka. Itulah mengapa Shao Xuan mengatakan bahwa Mai memiliki nasib baik saat dia kembali.

Selain lubang, di tebing itu terdapat bekas tinju dan jejak kaki. Di sinilah tempat Mai melatih dirinya.

Sebagian besar Totem Warrior mempunyai tinju yang keras. Shao Xuan hanya akan menghancurkan tinjunya meskipun dia memukul bagian tebing yang lemah sekalipun, sementara batuan tebing yang dipukulnya masih utuh.

Mai sudah mengambil batuan yang paling keras dan memiliki bentuk yang sempurna. Mai mengincar itu untuk membuat perkakas yang lebih berguna, tetapi Shao Xuan masih dapat mengambil beberapa batu dengan kualitas menengah untuk dia gunakan.

Tanpa basa-basi, Shao Xuan menyuruh Caesar untuk mengawasi keadaan sekitar, selagi dia menikmati waktunya mengambil beberapa batu untuk ditukar dengan makanan. Dia harus bergegas sebelum orang lain datang untuk merebut temuannya.

Shao Xuan mengambil pecahan batu yang panjang. Panjangnya setengah kaki (15,24cm) dengan bentuk yang tak beraturan dan tidak terlalu besar atau pun berat. Shao Xuan tahu bahwa kualitas batu tidak bergantung pada beratnya. Disana ada banyak jenis batu yang belum pernah Shao Xuan lihat di kehidupan sebelumnya. Bahkan menggunakan pengetahuannya di kehidupan sebelumnya terbukti sangat tidak berguna di dunianya yang sekarang. Semua pengetahuan yang Shao Xuan pelajari di sini masih sangat baru baginya, dia mengumpulkan pengalamannya ini selama enam bulan terakhir. Tidak seperti prajurit yang berpengalaman, yang dapat mengenali dan menilai batu hanya dengan melihat dari tekstur dan penampilannya saja, Shao Xuan tidak tahu bagaimana caranya mengenali kualitas batu karena dia tidak memiliki cukup pengalaman di bidang ini. Jadi dia menggunakan metode primitif dimana dia mencari batu dengan bentuk yang sesuai untuk dikerjakan dan menggoresnya menggunakan pisau batunya untuk melihat apakah goresan itu meninggialkan bekas pada batu. Biasanya, semakin dangkal goresan yang dihasilkan, maka semakin bagus pula kualitas batu itu.

Shao Xuan mengangkat pisaunya tinggi-tinggi dan menghantamkannya ke tepi batu. Setelah retakan keras terdengar, tanda goresan kecil terlihat di batu itu. Shao Xuan sangat yakin, karena dari penilaiannya sepertinya batu itu bisa dijadikan anak panah atau ujung tombak. Tukang pembuat perkakas batu dapat memutuskan batu tersebut masuk dalam kategori apa, yang perlu Shao Xuan lakukan hanyalah menemukan lebih banyak batu yang bagus dan menukarkannya dengan makanan.

Setelah menaruh batu-batu itu kedalam kantong kulit binatangnya, yang penuh dengan beberapa lubang kecil, Shao Xuan berencana untuk mencari lebih banyak lagi, namun Caesar menyadari sesuatu yang tidak normal. Shao Xuan bergerak dengan hati-hati ke arah Caesar dan melihat arah yang ditunjukannya. Disana terlihat tiga anak, sekitaran umur sepuluh tahun, lebih tinggi dan kuat dibandingkan Shao Xuan.

Mereka adalah kenalan Shao Xuan yang juga adalah saingan lamanya, dan mereka selalu mengambil barang-barang Shao Xuan. Dasar tiga baj*ngan itu!

Mereka bukan berasal dari “Gua yatim piatu”, melainkan dari keluarga yang tinggal di kaki gunung. Pada awalnya, Shao Xuan tidak mengubah pikirannya dan melakukan hal-hal biasa yang dia lakukan di kehidupan sebelumnya. Dia menahannya hingga batas tertentu bahkan ketika sedang melawan balik. Karena kebaikan dan belas kasihan ini mengakibatkannya kehilangan semua daging keringnya yang susah payah ia temukan, dan para sialan itu mengalahkannya.

Setelah itu, Shao Xuan memahami kenyataan dari situasi ini dan beradaptasi. Itu sama halnya seperti hari pertamanya terbangun di goa dan melihat anak-anak berkelahi satu sama lain untuk berebut makanan, dengan mata mereka yang seperti serigala. Shao Xuan pun mengubah perilakunya terhadap mereka.

Selagi menguatkan dirinya, Shao Xuan mempunyai tekad yang dalam dan setelah itu dia memutuskan untuk tidak lagi menahan diri saat bertarung melawan mereka. Dalam aturan suku mereka tidak boleh membunuh dan tidak boleh membuat cacat. Jadi tidak akan ada yang mengganggumu selama kau tidak membunuh dan mencacati lawanmu. Bagi penduduk di kaki gunung aturan barbar seperti ini sudah biasa.

Shao Xuan tidak mengetahui apakah orang-orang suku termasuk ras khusus, mereka memiliki kemampuan menyembuhkan diri yang sangat luar biasa meskipun terlihat seperti orang-orang pada umumnya yang berada di kehidupan sebelumnya. Seorang lelaki dapat berjalan dengan kakinya lagi setelah beberapa hari beristirahat bahkan setelah dia terluka parah. Setelah satu atau dua bulan, tubuh mereka akan kembali seperti semula. Itu juga menjadi alasan mengapa orang-orang di suku tidak memperdulikan perkelahian, di mata mereka, berkelahi untuk suatu alasan hanyalah masalah kecil yang tidak lebih besar ketimbang mencari makanan.

Dibandingkan dengan ketiga anak itu, Shao Xuan tidak setinggi dan sekuat mereka dan dia juga tidak memiliki gizi yang berkecukupan seperti mereka. Apa yang bisa dia gunakan dalam pertarungan? itu membutuhkan pikiran licik dan strategi yang kuat untuk bertarung, terlebih ketika kalah jumlah.

Shao Xuan menekan mulut Caesar sedikit, tetapi Caesar masih menunjukan taringnya yang ganas ke anak-anak yang datang itu. Shao Xuan menekan mulut Caesar dan berbisik, “Tunggulah sebentar!”

Melihat sekelilingnya, Shao Xuan memilih tempat tersembunyi untuk kantong kulit binatangnya yang berisi batu yang telah dikumpulkannya. Kemudian dia diam-diam pindah ke sisi tebing dan berkata kepada Caesar, “Kau harus berurusan dengan ‘Ye’, mengerti? Kau tahu siapa itu ‘Ye’, bukan?”

Beberapa prajurit pernah mengatakan bahwa hewan buas yang hidup di dalam hutan cukup cerdas, dan yang bodoh sekalipun bisa dilatih walaupun sulit. Caesar tergolong hewan yang cerdas, dan ini bukanlah kali pertama mereka bekerja sama. Bahkan jika Caesar kebingungan, itu tidak menjadi masalah siapa yang dia tangani, karena Shao Xuan sejak awal memutuskan untuk melawan bocah yang dipanggil “Sai” pemimpin dari para baj*ngan itu seorang diri, karena akan lebih mudah jika dia mengalahkan “Sai” terlebih dahulu.

Caesar menjaga tubuhnya dekat dengan tanah dan bersembunyi di balik bebatuan besar, ini menunjukan bahwa dia mengerti apa yang Shao Xuan katakan tadi.

Tampaknya semua binatang buas secara alami mampu mengendap-endap, lalu menerkam dengan ganas dan melakukan serangan yang fatal. Naluri pemburu mereka akan bangkit, bahkan untuk seekor serigala yang dibesarkan sebagai anjing.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded