Chronicles of Primordial Wars Chapter 4 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Eliane

Anak-anak dari Goa Sangat Mengerikan

Tentu saja, Shao Xuan tidak mengharapkan Caesar melakukan serangan yang fatal, karena itu dilarang di dalam suku. Tetapi, Shao Xuan tidak akan pernah menyerahkan barang-barangnya ke siapapun, apalagi kepada ketiga baj*ngan kecil itu.

Ketika Shao Xuan tenggelam dalam pikirannya yang membayangkan apakah dia harus menyerang dengan melempari mereka dengan batu atau memukul mereka dengan tangan kosong, ketiga anak itu sedang bersiap di posisi mereka, mereka tidak menyadari Shao Xuan akan menyergap. Mereka tidak tau jalan mana yang aman untuk pergi ke atas, jadi yang hanya bisa mereka lakukan adalah mencoba dan memutar arah berdasarkan sumber dari bunyi gemuruh berasal.

“Apakah benar ke arah sini, Zhan?” Sai berjalan didepan kelompok, dan baru saja menghindari batu yang jatuh dari pinggiran di atas tebing. Dia memandangi sesuatu yang bersembunyi di belakangnya, dengan alisnya yang terangkat tinggi.

Anak yang lebih kecil bernama Zhan membungkukkan lehernya dan menjawab, “Ya benar! Ayahku bertanggung jawab atas patroli hari ini dan dia melihat Mai turun lewat jalan ini. Kita semakin dekat. Seharusnya ada banyak barang yang bagus tersisa karena Mai adalah prajurit menengah.”

Sai bersenandung dan terus berjalan sambil menendang batu yang jatuh didekat kakinya.

Melihat mereka mendekat, Shao Xuan menahan nafasnya dan menunggu waktu yang tepat. Karena mereka telah bekerja sama beberapa kali, Shao Xuan tidak perlu repot untuk mengucapkan beberapa kata dia hanya memberikan Caesar aba-aba ketika waktunya tepat. Lalu dia membuat langkah besar ke arah Sai, dengan kepalan tangan kanannya dia menghantam dahi Sai.

Sai memiliki reaksi yang cukup cepat, tetapi dia tidak memiliki kesempatan untuk sepenuhnya menghindar dari serangan mendadak Shao Xuan, meskipun dia yang tertinggi di antara ketiganya. Dia nyaris menghindar ke satu sisi untuk menyelamatkan hidungnya, tetapi wajahnya masih terpukul dengan keras. Sebelum dia sempat bereaksi lagi, serangan lain memukul rahangnya, yang membuatnya pusing dan jatuh ketanah.

Tetapi, itu hanyalah permulaan saja. Setelah waktu yang cukup singkat, pukulan Shao Xuan datang satu demi satu, mendarat tepat di wajah Sai. Pada akhirnya, Shao Xuan tidak jadi menggunakan batu untuk mengalahkan musuhnya. Bahkan menyerang dengan satu tangan kosong saja dapat menyebabkan rasa sakit dan penderitaan yang cukup.

Orang-orang di suku Flaming Horn cukup kuat, dan bahkan anak-anak yang belum membangkitkan kekuatan Totem mereka dapat mengalahkan beberapa orang yang berada di kehidupan Shao Xuan sebelumnya. Dia ingin mengakhiri ini dengan cepat, jadi dia tidak menahan kekuatannya.

Pada saat yang bersamaan ketika Shao Xuan berlari ke arah Sai, Caesar melompat ke arah Ye. Sama seperti bagaimana Shao Xuan melatihnya, Caesar menggigit pakaian kulit binatang Ye dan menggigit tali jerami yang berada di pinggangnya, dia tidak menggigit daging Ye secara langsung. Caesar menutup rahangnya dan menyeret Ye ke arah yang berlawanan. Meskipun Caesar masih dalam masa pertumbuhan, dia bisa menyeret seorang anak yang berusia sepuluh tahun dengan sangat mudah, dia tidak membiarkan Ye untuk membuat masalah bagi Shao Xuan, bahkan tidak membiarkannya berdiri sedikitpun.

Adapun anak ketiga yang bernama Zhan itu, Shao Xuan bermaksud meninggalkannya sendirian untuk sementara waktu, karena dia adalah orang yang penakut dan tidak ada bandingannya dengan dua anak lainnya mengenai kekuatan dan kelicikan.

Zhan dan Ye terkejut saat Shao Xuan berlari dari arah depan dan menyerang Sai lalu tiba-tiba Caesar melompat untuk menahan Ye sebelum dia sempat membantu Sai. Melihat taring-taring itu, bahkan Zhan dan Ye ketakutan dan hampir mengompol di celana, terutama Ye, yang dengan kasarnya di seret oleh Caesar. Dia tidak dapat melakukan apapun selain meminta pertolongan.

Zhan menyadari apa yang terjadi sekarang, dan kemudan mengayunkan tongkat kayu ke arah Shao Xuan.

Shao Xuan juga memperhatikan gerakan dari Zhan ketika sedang memukuli wajah Sai. Tongkat kayu itu meleset dari kepalanya tetapi punggung Shao Xuan terbakar rasa sakit karena dia tidak sepenuhnya bisa menghindari serangan itu. Dia mulai memukuli Sai lebih cepat dari sebelumnya.

Sai sebenarnya, dua kali lebih tua dari Shao Xuan, dan lebih kuat juga. Tetapi dia kehilangan kemampuannya untuk bertarung di bawah pukulan Shao Xuan yang menghujamnya seperti badai, dia hanyalah terlihat seperti bocah yang tidak memiliki kekuatan Totem.

Shao Xuan menarik nafas panjang karena dia tau dia akan kalah jika tidak bisa menang dengan cepat. Selama enam bulan terakhir, dia cukup menderita karena keragu-raguannya.

Setelah membereskan masalah besar, Shao Xuan berguling di tanah untuk menghindari pukulan tongkat kayu. Dia menatap Zhan dengan tatapan garang di matanya yang tersisa dari pertempuran sebelumnya, melihat itu membuat tangan Zhan yang memegangi tongkat kayu gemetar karena ketakutan.

Zhan gemetar ketakutan, melihat Sai sudah tumbang, tanpa ada kepastian akan melawan balik, dan Ye di sisi lainnya juga dalam situasi yang cukup sulit, dia berteriak dan ketakutan. Dia memegang tongkat kayu itu dengan erat tetapi memalingkan pandangannya dari Shao Xuan.

Shao Xuan tau bahwa Zhan tidak tinggal diam ketika melihat reaksinya, jadi dia berdiri dan berjalan ke arah Zhan selangkah demi selangkah.

Shao Xuan tidak mendekatinya dengan begitu cepat, tetapi setiap langkah yang diambilnya seperti pukulan keras di benak Zhan. Dan wajah Zhan menjadi lebih pucat setiap langkahnya.

Di antara mereka berdua, Zhan lebih tinggi dan memiliki senjata, tetapi sayangnya, dia adalah orang yang lemah dalam hal momentum. Ketika Shao Xuan berjarak selangkah dari Zhan, dengan gemetar Zhan melemparkan tongkatnya ke tanah, dan melangkah mundur yang menandakan bahwa dia menyerah.

Mereka telah bertemu beberapa kali, jadi Zhan tau dalam pikirannya Shao Xuan tidak akan menyerang ketika menunjukan gerakan itu, walaupun dia telah memukul punggung Shao Xuan beberapa kali.

Sai perlahan pulih, dan dia sangat marah dan lebih marah lagi ketika melihat Zhan menyerah. Seperti pecundang!

Sai tau akan sangat buruk ketika dia mengetahui bahwa yang menyerangnya adalah Shao Xuan. Karena selama beberapa kali mereka bertemu, mereka tidak pernah mendapat sesuatu dari Shao Xuan. Namun, kali ini, dia kalah sebelum sempat melawan! Itu sangatlah membuat frustasi!

Mereka mengambil resiko dan mencoba keberuntungan mereka dan melihat apa saja yang bisa mereka peroleh, tetapi tanpa diduga, Shao Xuan sudah lebih dulu di sana dan jauh didepan mereka! Apakah Shao Xuan memiliki penciuman seperti serigala? Dibandingkan dengan Shao Xuan, mereka bertiga datang terlambat, dan yang lebih memalukannya lagi adalah mereka kalah dalam pertarungan! Memikirkan hal itu, Sai memandang Shao Xuan seolah ada kebencian diantara mereka.

Shao Xuan mengabaikan Sai, tetapi dia tidak berencana untuk melepaskan Zhan dengan mudah. Dia tidak memukuli Zhan seperti yang dilakukannya kepada Sai tetapi hanya menendangnya ke arah Sai.

Memungut tongkat kayu yang dijatuhkan oleh Zhan, Shao Xuan melangkah ke arah Sai dan Zan ketika mereka sedang tergeletak di tanah. Dia menimbang tongkat itu dan perlahan-lahan menggosokan tangannya. Darah di tangannya saat pertarungan sebelumnya tergores di tongkat, lalu dia tersenyum pada keduanya.

Melihat senyum itu, membuat Sai dan Zhan merinding, mereka ingin segera melarikan diri, karena mereka merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka. Namun, Sai tergeletak di tanah dan tidak bisa berdiri lagi, sementara Zhan dengan cepat menarik kakinya kebelakang.

Shao Xuan menurunkan badannya dan tiba-tiba melemparkan tongkat itu kearah mereka. Itu sangat mendadak dan tepat mengenai sasaran tanpa ada keraguan sedikitpun.

Pada saat itu, keringat dingin dari tubuh Sai dan Zhan bercucuran keluar dan mereka berfikir bahwa mereka akan kehilangan nyawa mereka. Semuanya lenyap hanya karena satu tongkat yang tersisa di tengah.

Jepret!

Tongkat menghantam daerah kosong di antara Sai dan Zhan, dan tongkat itu hancur berkeping-keping setelah menghantam tanah. Pecahan kayu yang melayang sedikit menyobek wajah Sai dan Zhan.

Shao Xuan mendekati mereka berdua dengan tatapan dingin, “Apapun yang berada di sana adalah milik ku. Kau boleh pergi ke sana setelah aku mengumpulkannya. Mengerti?”

Suaranya tidak begitu keras tetapi memiliki tekanan perasaan yang aneh. Sai dan Zhan mungkin beranggapan bahwa tongkat yang tadi akan menancap ke tubuh mereka jika mereka tidak menyerah.

Sai tetap diam sambil menatap Shao Xuan. Namun, Zhan sudah getir seperti layaknya daun yang tertiup angin dan buru-buru mengangguk untuk menunjukan bahwa dia sangat mengerti apa yang Shao Xuan katakan. Di matanya, masih terlihat kehati-hatian dan hawa ancaman.

Zhan berkata dalam hatinya, “Tidak heran mengapa para orang tua melarang anak-anak mereka untuk mendekati anak-anak yang berasal dari ‘Gua anak yatim’. Anak-anak dari goa sangat mengerikan! Mereka bahkan lebih mengerikan daripada Sai, yang dulu sering terlibat dalam perkelahian!”

Shao Xuan tidak ada niat lagi untuk mengurusi mereka. Jika Sai bisa datang ke sini bersama teman-temannya, maka yang lain juga demikian. Shao Xuan tau bahwa dia dapat mengalahkan ketiga anak itu dengan taktik dan kemenangan itu tercapai berkat bantuan Caesar. Shao Xuan harus melarikan diri jika menghadapi banyak orang atau anak yang lebih tua datang.

Memikirkan tentang ini, Shao Xuan bergegas mengumpulkan batu-batu temuannya.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded