Chronicles of Primordial Wars Chapter 5 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Eliane
[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Suruh Mbak Google Baca”]

Apakah Kau Bercanda?

Sai berbaring di sekitar dan mengusap wajahnya, tidak peduli tentang wajahnya yang bengkak atau hidungnya yang berdarah. Dia memperhatikan Shao Xuan mengambil batu-batu, tetapi dari sudut pandang itu, dia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sebenarnya Shao Xuan pungut. Dia yakin bahwa apa yang Shao Xuan pungut adalah beberapa batu halus yang dapat ditukar dengan makanan untuk setidaknya beberapa hari.

Shao Xuan dapat merasakan tatapan dari Sai dan Zhan, bagaimanapun juga, dia sudah terbiasa dengan hal itu. Setelah mengambil beberapa barang, dia menyadari bahwa itu sudah cukup lama dan sudah waktunya untuk kembali. Dari sudut pandangnya di sana masih banyak batu bagus yang berserakan, tetapi dia tau dia telah memperoleh cukup banyak temuan untuk hari ini. Terlalu banyak mengumpulkan mungkin bukan hal yang baik untuknya, terutama saat ini dia masih muda dan rentan. Dia mungkin kehilangan semuanya jika dia memiliki terlalu banyak.

Kekuatannya saat ini tidak cukup. Dia harus bersabar menunggu untuk membangkitkan apa itu disebut Totem Power atau apalah namanya . . . .

Setelah memanggil Caesar untuk memastikan bahwa Ye aman setelah diseretnya, Shao Xuan pergi dengan batu-batu yang ditaruhnya didalam tas kulit binatang.

Pada saat Ye terhuyung kebelakang, dia melihat Sai terbaring di tanah dengan gigi yang terkatup dan darah diwajahnya, di sampingnya ada Zhan, yang masih terlihat gemetar ketakutan.

Sai sedikit demi sedikit pulih dan menarik nafasnya. Segera setelah itu dia memerintahkan Ye dan Zhan untuk melihat apakah mereka dapat menemukan batu bagus yang bisa di tukar. Dia menggumamkan sesuatu yang cukup kasar dan bersumpah untuk membalas dendam dengan memukuli Shao Xuan dan merampas semua barang miliknya ketika mereka bertemu lagi.

Tanpa sepengetahuan mereka, tidak jauh dari sana, beberapa prajurit menyaksikan semua kejadian yang berlangsung. Tetapi satu demi satu dari mereka meninggalkan tempat itu setelah Shao Xuan pergi.

“Siapa bocah itu?” Tanya seorang prajurit muda kepada seniornya dengan penasaran.

“Maksudmu bocah yang bersama serigala itu? Kalau tidak salah dia dipanggil Xuan dan tinggal di goa dekat kawasan kaki gunung. Untuk serigala itu, sebaiknya kau jauhkan tanganmu darinya, karena itu milik Shaman!” Prajurit yang lebih tua menjawab sembari memperingatkan. Dia tidak begitu faham apakah ada makna tersembunyi dalam tindakan Shaman, tentu saja dia tidak memperdulikan alasannya. Yang dia tau hanyalah serigala itu adalah milik Shaman dan tidak bisa diburu. Dan dalam pemikirannya, anak itu hanya menjaga serigala itu untuk Shaman.

Prajurit muda itu mengusap rambutnya yang berantakan karena tertutupi serpihan batu, “Aku tidak memikirkan tentang apa yang Shaman pikirkan. Ha-ha, hanya saja aku tertarik dengan anak yang di sana itu. Berdasarkan apa yang dia lakukannya tadi, aku pikir dia akan menjadi prajurit yang hebat setelah dia membangkitkan kekuatan Totemnya. Mungkin kita bisa merektrutnya kedalam tim berburu kita.”

“Masih terlalu cepat, dan mungkin akan memakan waktu dua atau tiga tahun untuk itu. Aku percaya beberapa anak dari tepian lereng gunung di daerahmu tidak begitu buruk, tetapi untuk anak-anak dari goa itu sedikit . . .” Prajurit yang lebih tua itu menggelengkan kepalanya dan tidak melanjutkan kata-katanya lagi, namun siapapun bisa mengetahui makna yang tersembunyi di balik kalimatnya itu.

Secara kasar suku ini dibagi menjadi tiga wilayah, dan semakin kuat prajurit itu, semakin tinggi pula wilayah yang dia tinggali. Daerah puncak gunung adalah titik pusat suku mereka. Dikatakan bahwa perapian suku itu terletak di sana, dan juga di sana merupakan daerah terdingin.

Di mata semua prajurit, anak-anak dari goa memiliki kemampuan yang lebih rendah daripada anak-anak yang tinggal di sekitar wilayah kaki gunung, dan mereka tidak bisa membangkitkan kekuatan Totem mereka secepat yang lain. Meskipun mereka sudah memiliki cukup umur untuk membangkitkan kekuatan Totem, mereka tidak akan mudah diterima oleh sebagian besar kelompok berburu. Kerjasama dianggap sebagai bagian terpenting ketika berburu, dan setiap hubungan yang lemah dapat membawa suatu hasil tragis yang tak terduga.

Shao Xuan tidak tau apa yang dibicarakan para prajurit, ataupun pendapat mereka tentang dirinya. Tetapi dia sudah tau seseorang di sekitarnya pasti ada, yang mengamatinya. Karena dia telah banyak mendengar hal dan dapat menduganya.

Meskipun para prajurit tidak memperdulikan keadaan sekitarnya ketika sedang berlatih, mereka cukup sensitif ketika mereka sedang beristirahat. Suara di sini pasti akan menarik perhatian beberapa prajurit, dan mereka mungkin sudah berada di sekitar ketika Ye berteriak minta tolong. Hanya saja para prajurit tidak ikut campur dengan mudahnya.

Dan Shao Xuan yakin, mereka akan terus mengamati dari kejauhan selama situasinya masih terkendali. Sama seperti sebelumnya ketika Shao Xuan menghantamkan tongkat kayu ke tanah, jika Shao Xuan mengarahkannya ke Sai atau Zhan, berdasarkan kekuatan lemparan itu mungkin para prajurit akan turun untuk ikut campur karena nyawa Zhan dan Sai terancam. Yang artinya Shao Xuan memberikan mereka kesan yang jauh lebih buruk karena menjadi seorang yang agresif, dan itu akan membuat Shao Xuan kerepotan jika dia ingin terus hidup dalam suku itu. Jadi serangan itu hanyalah ancaman dan peringatan kepada Sai dan Zhan.

Shao Xuan kembali dengan banyak barang bawaan. Para penjaga dan prajurit yang menjaga di tepi area pemukiman hanya menanyakan satu atau dua hal, ketika melihat tas kulit binatang Shao Xuan yang menggembung. Mereka tidak mencoba untuk merebut hasil temuannya, karena mereka tidak selalu menganggap Shao Xuan memiliki barang yang cukup berharga.

Pagi itu dia kembali ke lapangan berkerikil tempat dia berlatih, Shao Xuan memilih dua buah batu untuk dijual dan mengubur sisanya. Dia tidak mempunyai banyak waktu untuk mengurusi batu-batu itu, dan akan terlihat bodoh ketika dia membawanya kembali ke goa. Di dalam goa, ada sekelompok “Serigala yang kelaparan”. yang akan mencoba berkelahi demi mendapat sepotong daging atau apapun itu. Karena itulah Shao Xuan tidak pernah menyimpan makanan atau apapun yang berguna didalam goa.

Dia duduk untuk beristirahat setelah menyembunyikan barang-barangnya. Mendaki dan berkelahi keduanya benar-benar sangat melelahkan.

Shao Xuan menatap pegunungan di kejauhan dan melihat daerah pemukiman suku tersebut. Dia menatap rumah-rumah di dekat daerah kaki gunung dan kemudian melihat darah yang sudah kering ditangannya. Baru setengah tahun saja, dan dia sudah menjadi orang yang buas seperti manusia goa. Tekanan untuk bertahan hidup tentunya menambah kecepatan adaptasi menjadi buas.

Seperti apakah zaman yang beradap itu? Shao Xuan bermimpi di malam hari, tetapi sebagiannya semakin tidak jelas seiring berjalannya waktu. Tetapi itu hanya kurang dari setahun.

Meskipun kehidupan di sini lebih baik dibandingkan dengan orang barbar primitif yang biasanya memakan sesama manusia, seperti yang pernah dijelaskan Shi Lin, itu tidak jauh lebih baik.

Suatu ketika, Shao Xuan pernah mencoba untuk menjadi penengah ketika dia melihat orang tua yang mendisiplinkan anak-anak mereka, dan kadang-kadang dia bahkan bertengkar ketika melihat orang tua memukuli anak-anak mereka. Dia tidak pernah menyakiti anak-anak, tapi bagaimana sekarang?

Tentu saja, lingkungannya berbeda, dan anak-anak dalam suku itu tidak sama dengan anak-anak dari kehidupannya yang sebelumnya. Meskipun jika mereka berada di usia yang sama, mereka memiliki banyak perbedaan karakter. Ambil anak-anak dari “Gua anak yatim”, contohnya, meskipun kau mengalahkan mereka hari ini, hari selanjutnya mereka akan tetap datang dan berkelahi ketika ada makanan, dengan sikap yang lebih brutal dan tinju yang lebih keras. Ketika mereka sudah sepenuhnya dikendalikan oleh emosi, tidak ada yang akan menahannya seperti yang dilakukan Shao Xuan. Seseorang akan kalah ketika dia mempunyai belas kasihan di hatinya. Contohnya, Zhan yang gemetar dan ketakutan sebelumnya, tapi lain kali, dia masih akan mengayunkan senjatanya ke Shao Xuan dan mencoba merebut barang-barangnya bersama Sai.

Demi Tuhan, di hari pertama ketika Shao Xuan terbangun dari koma, saat itu adalah waktu ketika orang-orang membagikan makanan di dalam goa. Shao Xuan pikir dia mungkin jatuh ke goa serigala ketika anak-anak lainnya saling menatap dengan wajah beringas. Mereka semua anak-anak yang berusia enam hingga sebelas tahun, dan hanya beberapa dari mereka yang berusia tiga belas tahun.

Kebrutalan itu menular.

Setelah cukup beristirahat, Shao Xuan menggunakan dua batu bagusnya untuk ditukarkan ke pengrajin batu dan dia mendapatkan empat daging kering;dua diantaranya bertulang dan dua lagi tidak. Dia memberikan Caesar daging yang bertulang dan memakan satu daging yang tidak bertulang. Daging kering terakhir, ia gunakan untuk ditukar dengan kulit hewan yang murah dengan ukuran sedang. Musim dingin akan datang dan dia harus bersiap-siap lebih awal.

Dia kembali ke goa “Gua Anak Yatim”, tepat ketika mereka membagikan makanan. Orang yang bertanggung jawab sudah menyiapkan makanan dan menyimpannya di dalam tempat batu raksasa. Hanya mereka yang memiliki kekuatan Totem yang bisa mengankat tempat batu raksasa itu.

Suku itu akan membawa makanan ke “Gua Anak Yatim” sampai anak-anak di sana membangkitkan kekuatan Totem mereka dan pergi untuk membangun tempat tinggal mereka sendiri.

Terkadang daging berada di menu mereka, tetapi itu tidaklah cukup, dan hanya dapat mencukupi sebagian kebutuhan pokok mereka, karena daging sulit diperoleh. Selain daging, biasanya makanan mereka adalah tumbuhan, contohnya adalah buah merah berambut (rambutan? lol) yang sedang Shao Xuan amati.

Itu adalah umbi dari beberapa pohon yang berwarna merah kecoklatan, biasanya tumbuh di akar tipis di bagian luarnya, seperti rambut halus. Yang besar memiliki ukuran seperti buah Labu di kehidupan Shao Xuan sebelumnya, dan yang paling kecil seukuran kepalan tangan orang dewasa. Rasanya seperti kentang, dan orang akan merasa cepat kenyang memakannya. Satu-satunya masalah adalah buah merah berambut itu memiliki beberapa efek samping.

Berbicara tentang efek samping, buah merah berambut itu bagus untuk melancarkan saluran pencernaan. Dengan kata lain, buah itu akan menciptakan banyak gas. Dan, efeknya akan semakin jelas, jika satu-satunya makanan adalah buah itu tanpa adanya daging. Ya, efek sampingnya adalah kentut jika tidak dimakan dengan daging. Tetapi itu tidak akan terjadi jika seseorang memakannya bersama dengan daging.

Sebagian besar anak-anak di “Gua Anak Yatim” hanya tidur dan makan setiap harinya, sehingga hanya beberapa anak saja yang keluar untuk mencari makanan tambahan. Dan dengan sumber makanan yang berasal dari suku, ini menjelaskan bahwa setiap kali mereka makan buah merah berambut itu, kualitas udara di “Gua Anak Yatim” akan menjadi sangat unik dan cukup ‘Istimewa’.

Wajah Shao Xuan berubah menjadi pucat.

“Hoi, Ah-Xuan!”

Ku bertugas membagikan makanan dan Shao Xuan melihatnya berlari ke arahnya, sambil membawa sepotong buah merah rebus di tangannya. Itu adalah potongan yang besar, setidaknya jelas itu potongan lebih besar dari anak-anak lain.

Biasanya Ku tidak berbicara banyak dengan orang lain, karena biasanya sepanjang hari dia berada di luar dan hanya kembali ke goa ketika bertugas untuk membagikan makanan. Dia juga tidak terlalu banyak bicara dengan Shao Xuan, tetapi mengapa dia mendekatinya dengan sepotong buah besar di tangannya?

Shao Xuan melihat ke arah Ku dan mengambil buah merah berambut itu.

Ku dalam suasana hati yang bagus, dan bagaimanapun juga dia terlihat bersemangat

“Ah-Xuan, aku akan turun ke lereng bukit besok dan menghabiskan seluruh musim dingin di sana. Kau harus menjaga goa itu.” Kata Ku.

Shao Xuan hampir melempar buahyna ke Ku. Meskipun Ku pergi, goa itu harus di rawat oleh anak yang lebih tua. Ada dua anak berumur tiga belas tahun dan beberapanya lagi sebelas dan dua belas tahun. Mengapa pekerjaan itu diberikan ke dia, sementara dia masih di bawah sepuluh tahun?

Pemilihan itu tidak mungkin dilakukan oleh Ku, jadi Shao Xuan bertanya, “Siapa yang mengatakan itu?”

Ku menunjuk orang yang membawa makanan setiap hari, yang sedang bersandar di penyimpanan batu, sembari mengorek giginya dan menggoyang-goyangkan jari-jari kakinya.

Melihat anak-anak yang berjuang dengan ganas untuk berebut makanan di “Gua Anak Yatim”, Shao Xuan sangat ingin meraih kerah baju dari pria yang bertanggung jawab dan berteriak, “Apakah kau bercanda, Pria Pengirim?!”

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded