Chronicles of Primordial Wars Chapter 6 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Eliane
  • Editor : Scraba

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Suruh Mbak Google Baca”]

Merepotkan

Secara keseluruhan terdapat 27 anak yang tinggal di goa itu, termasuk Shao Xuan. Karena tiap-tiap dari mereka cukup ganas, bagaimana mungkin Shao Xuan mengambil alih goa dengan kaki dan tangannya yang kurus?

Banyak anak-anak di goa akan dengan senang hati mewarisi posisi “Ku” demi mendapat lebih banyak makanan. Tentunya, banyak yang tidak puas dengan hal tersebut ketika Shao Xuan mendapatkan perkerjaan itu di usianya yang masih muda. Dan seperti biasanya ketidakpuasan akan melahirkan perselisihan yang tak dapat di hindari.

Kata “Merepotkan” menjelaskan secara singkat situasi tersebut.

Ada seorang pria paruh baya  yang dipanggil “Ge” setiap harinya bertugas untuk mengantarkan makanan ke “Goa Yatim Piatu”. Dia tidak sekuat Mai dan bahkan lebih buruk, dia kehilangan lengannya saat berburu, yang mana sekaligus mengakhiri identitasnya sebagai prajurit pemburu. Itulah alasan mengapa dia berhenti dari tim pemburu dan memulai pekerjaannya sebagai pengirim makanan.

Shao Xuan pergi menanyakan alasannya, tetapi dia tidak mendapatkan jawaban.

Selagi membagikan jatah makanan, Ge membawa tempayan batu dengan tangan kirinya. Meskipun dia kehilangan salah satu lengannya, kekuatan tubuhnya tetap sama dan tak masalah baginya untuk membawa tempayan batu hanya dengan satu tangan.

Setelah Ge pergi, “Ku” masuk ke dalam goa untuk mengumumkan keputusan siapa yang akan menggantikannya dan mengambil alih posisinya.

“Mulai besok, Ah-Xuan akan bertugas membagikan makanan!”

Suasana saat itu baru saja tenang dari perkelahian karena perebutan makanan sebelumnya, tetapi suasana segera berubah menjadi tegang kembali karena pengumuman dari Ku. Anak-anak di “Orphan’s Cave” tidak berteriak untuk mengeluh karena mereka tidak ahli dalam berdebat. Hanya saja mereka tampak tidak ramah dan merasa tidak puas.

“Ku” tidak berlama-lama atau memberikan penjelasan lebih lanjut, dan segera pergi dengan semua barang-barangnya. Dia hampir dewasa dan jika semuanya berjalan dengan lancar, kekuatan Totemnya akan dibangkitkan pada musim dingin ini. Yang berarti dia mungkin akan meninggalkan goa untuk selamanya.

“Ku”pun pergi, tetapi ada kekhawatiran yang membebani pikiran Shao Xuan.

Melihat ke langit, Shao Xuan sepertinya saat ini pukul tiga sore jika hari masih terbagi menjadi 24 jam seperti di kehidupan sebelumnya. Ini memberikannya beberapa jam untuk pergi sebelum matahari terbenam.

Bersama Caesar yang terikat tali, Shao Xuan pergi ke lapangan berkerikil lagi, duduk di tanah dan memikirkan apa yang selanjutnya dia kerjakan.

Awalnya, dia merencanakan untuk terus menjalani kehidupan sederhana. Setelah beberapa tahun, dia akan membangkitkan kekuatan Totemnya dan memulai kehidupannya sendiri di luar. Dan jika beruntung, dia bisa membangun rumah, bergabung dengan tim pemburu, dan menikmati tahun-tahun hidupnya. Bahkan jika dia terlambat menguasainya, kekuatan Totemnya masih akan terbangun di usia yang sama dengan “Ku”. Namun, berdasarkan keadaan saat ini, menjalani kehidupan sederhana bukanlah pilihan. Sebagai contoh, ketika dia baru berangkat pergi dari goa bersama Caesar, dia melihat beberapa anak menatap mereka dengan tatapan jahat.

“Apakah kau pikir mereka akan bangun di tengah malam dan membuatmu menjadi cemilan mereka?” Sambil membayangkan itu Shao Xuan melihat Caesar di lapangan berkerikil.

Dahulu, ketika “Ku” masih berada di sini, mereka tidak berani melakukan sesuatu yang berarti, tetapi sekarang situasinya menjadi tidak bisa diprediksi setelah “Ku” pergi. Anak-anak di goa jauh lebih kejam daripada orang-orang di luar dan orang bodoh lainnya. Dengan kelaparan yang menjadi-jadi, mereka pasti akan menghiraukan sesuatu yang bertanda dari “Shaman”. Bagaimana jika mereka bersatu dan bekerjasama memanggang Caesar? Shao Xuan tidak akan pernah memiliki kesempatan menang menghadapi puluhan anak di sana.

Caesar tidak menyadari kesulitan yang datang ketika dia terus menggali Cacing Batu di lapangan berkerikil itu. Karena di sana hampir tidak bersisa, dia mulai berpindah ke Rawa Hitam.

Di sekitar suku, ada dua daerah terlarang. Salah satunya adalah Rawa Hitam, di mana orang akan dengan mudah terjebak, dan terjebak di sana itu berarti adalah kematian. Satunya lagi adalah sungai di depan bukit, dan bahkan tepi sungainya tidak dapat terlihat. Di sungai itu hidup berbagai monster air. Dari gosip yang beredar, beberapa prajurit kuat dalam suku pernah pergi ke sungai itu untuk menangkap ikan, akan tetapi mereka tidak pernah kembali lagi. Karena begitu banyak bahaya yang tidak mereka ketahui, kepala suku melarang orang untuk pergi ke sungai itu.

Jadi, selain beberapa wanita dari suku yang kadang-kadang pergi ke sana untuk mencuci kulit binatang, tidak ada lagi yang berani menyetuh air. Ada sumber aliran air lain yang turun dari puncak gunung dan dari sanalah sumber air minum suku berasal. Tentu saja tidak ada yang mau mendekati sungai yang bahayanya tidak diketahui.

Terdapat penjaga yang bergiliran untuk berjaga di area Black Swamp dan di sepanjang tepi sungai, semisalnya jika ada seseorang yang terjebak dalam bahaya tanpa disadari, atau bahaya yang tak terduga terjadi.

Memancing dan berburu sering disamakan, dan karena tidak terlalu banyak yang bisa diharapkan dari hasil memancing, suku ini sangat bergantung pada hasil buruan, ditambah lagi mereka kurang berpengalaman di bidang pertanian. Itulah yang menjadi penyebab utama krisis pangan di dalam suku.

Yang menyebabkan semua ini adalah makanan. Anak-anak di goa akan meneteskan air liurnya ketika Caesar berjalan-jalan di sekitar dengan semua daging yang ada dibalik kulitnya.

“Apa yang harus kuperbuat?” Shao Xuan menghela nafasnya lagi, dan dia mulai menyalahkan Shaman tua yang memberinya tanda, lalu pergi begitu saja.

Orang-orang, khususnya anak-anak tanpa kekuatan Totem dilarang untuk pergi ke Rawa Hitam, atau memasuki area sungai, tetapi tidak ada yang mengatakan bahwa serigala juga termasuk. Jadi sesekali ketika mereka berdua berada di dekat sana, Caesar akan pergi ke Rawa Hitam untuk menemukan sesuatu yang membuat giginya tenang, contohnya, beberapa kumbang aneh yang tinggal di sana. Dari waktu ke waktu, para prajurit yang berjaga di sana seolah menutup mata mereka terhadap kedatangan Caesar.

Hewan memiliki naluri yang sangat tajam terhadap bahaya, jadi pada dasarnya Caesar hanya akan berjalan-jalan di tepiannya saja, karena dia tau bahwa Rawa Hitam memiliki bahaya yang sangat tinggi.

Kali ini, Caesar kembali dengan membawa sesuatu di mulutnya. Ketika dia mendekat, dia memuntahkan gumpalan hitam di depan Shao Xuan.

Gumpalan itu adalah cacing yang belum pernah Shao Xuan lihat sebelumnya.Tidak seperti kumbang yang tadi, cacing ini jauh lebih lembek dan bentuknya oval besarnya seperti kepalan tangan Shao Xuan. Makhluk itu memiliki banyak kaki tipis dan panjang, dan berwarna hitam seperti rawa.

Ketika makhluk itu berada di mulut Caesar, makhluk itu menggunakan kaki-kakinya untuk menusuk hidung Caesar.

Sebelumnya Caesar telah mengambil beberapa cacing, mungkin dia memungutnya untuk hiburan saja. Pokoknya, tidak ada banyak makhluk yang bisa ditemukan di sekitar suku. Dan berharap untuk mengejar kelinci adalah mimpi belaka. Sangat menyedihkan bahwa si Caesar, seekor serigala, harus berurusan dengan cacing setiap saat.

Sama seperti saat Caesar mencoba untuk menangkap kembali cacing yang melarikan diri, Shao Xuan menyadari bahwa cacing menyebarkan gelembung hitam dengan jumlah yang banyak di mulutnya dan gelembung itu menutupi tubuh cacing itu secara keseluruhan. Caesar tidak menyukai gelembung itu, jadi dia melepaskan cacing itu.

Gelembung-gelembung hitam itu berkumpul dan membentuk sebuah bola dengan cacing di tengahnya. Caesar mengitari bola gelembung tersebut tetapi dia tidak menggigitnya. Gelembung itu pasti benar-benar terasa tidak enak, karena sangat jelas, Caesar membencinya.

Setelah lima belas menit kemudan, Caesar menyerah pada cacing di dalam bola gelembung hitam itu, dan berbalik untuk mencari beberapa Cacing Batu di lapangan.

Akan tetapi, Shao Xuan cukup tertarik dengan cacing itu, jadi dia mengeluarkan pisau batunya dan menusuk bola gelembung itu. Anehnya, gelembung-gelembung hitam yang lembek itu menjadi keras dan kering seiring berjalannya waktu. Dan “Bola Sepak” hitam itu pecah menjadi dua bagian saat Shao Xuan menusuknya. Cacing yang bersembunyi di dalam panik dan melarikan diri menuju Rawa Hitam. Cacing itu tampak menyusut lebih dari setengah ukurannya dan tampak lesu.

Shao Xuan tidak mengejar cacing itu melainkan dia menjongkok dan mengamati dengan cermat “Bola” itu, yang sudah pecah menjadi dua bagian.

Dengan mengambil setengah bagian dengan pisau batu, Shao Xuan menyadari bahwa kedua bagian itu cukup ringan, dan hanya membutuhkan sedikit tenaga untuk menghancurkannya.

Setelah mengerjakan sebagian dari setengah bola itu dan bahkan menghancurkannya, Shao Xuan mengarahkan pandangannya ke bagian yang lainnya. Dia memanggil Caesar kembali setelah berpikir cukup lama, dan berjalan menuju sungai dengan gelembung hitam di tangannya.

Bahkan ketika orang-orang suku pergi ke sungai, mereka akan sangat berhati-hati bergerak di sekitar tepi sungai, karena tepian sungai masih dianggap aman.

Tentu saja Shao Xuan tidak mencari masalah, jadi dia hanya berada di tepian pantai saja. Hanya Tuhan yang tahu makhluk aneh apa yang ada di dalam sungai itu. Dia mencoba experimen dengan setengah bola, untuk membuktikan tebakannya.

Shao Xuan membuka ikatan tali jerami miliknya yang tergantung di pinggangnya, dan mengikat ujungnya dengan setengah bola hitam, dan ujung tali yang satunya dia pegang dengan tangannya. Dia kemudian melemparkan setengah bola hitam itu ke dalam air.

Seperti yang dia harapkan, bola hitam itu mengambang di permukaan air.

Benda itu . . . sepertinya bisa digunakan untuk memancing.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded