Emperor Domination Chapter 3 – Sekte Kuno Dupa Suci Bagian 1 – Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Lyle

Tetua pertama, meski sangat tidak puas, masih berhasil memberikan jawaban: “Tiga hari lagi, setelah menghormati leluhur, kau akan secara resmi menjadi murid utama sekte kami.”

Li Qiye masih duduk di sana dengan santai tanpa sedikit pun ada rasa keterkejutkan. Dia hanya tertawa terbahak-bahak: “Saya yang menjadi murid utama seharusnya memiliki satu atau dua jaminan senjata untuk keselamatan pribadi saya, bukan?”

Semua tetua terkejut melihat betapa santainya dia di bawah suasana yang berat ini. Pada akhirnya, dia hanyalah bocah berusia tiga belas tahun, tetapi sikap tenangnya mirip seperti seorang tirani yang mendominasi dunia dengan membuat mereka semua tunduk di bawah kendalinya. Bagaimana mungkin seorang manusia seperti dia memiliki keberanian seperti itu?

Tetua pertama menatap Li Qiye dan menggelengkan kepalanya sambil berkata: “Meskipun kami menerimamu sebagai murid utama, kami hanya bisa memberimu senjata biasa. Jika kau ingin sebuah harta karun atau Senjata Kaisar Abadi, kau harus berkontribusi untuk sekte.”

Li Qiye hanya tersenyum. Tujuannya tentu saja bukan Senjata Kaisar Abadi atau harta karun sekte. Tujuan sebenarnya adalah tongkat kayu yang tergeletak di atas. Memindahkan pandangannya ke tongkat itu, Li Qiye menekankan: “Baiklah, kalua begitu saya ingin tongkat kayu itu.”

“Tongkat kayu?” Keenam tubuh lansia bergetar karena terkejut.

Tongkat itu hanya digunakan untuk mengumpulkan abu setelah upacara pembakaran untuk menghormati leluhur. Itu selalu ada di sana, dan tidak ada yang tertarik.

Para tetua berpikir bahwa Li Qiye akan meminta harta karun menggunakan status barunya, tetapi ia hanya menginginkan tongkat kayu. Mereka sangat tidak menduga permintaan ini.

Li Qiye berbicara dengan cara yang tak terkendali: “Karena aku murid utama, posisiku layak untuk dihormati. Tongkat itu milik ruang besar, dan ini adalah Ruang Utama Leluhur dari seluruh sekte. Itu adalah kekuatan Kuno untuk melindungi sekte dupa suci, sehingga layak untuk posisi saya saat ini sebagai murid utama… “

Setelah mendengar logika Li Qiye, ke-enam orang tua didepannya saling pandang dengan mata terbuka lebar. Mereka berpikir: ‘Bocah bodoh ini dan si playboy iblis tua sialan memang sama, seperti bagaimana seekor sapi akan mencari sapi yang lain sementara seekor kuda akan menemukan kuda lain.’
[TL Note : Maksudnya Orang bodoh akan cenderung berkumpul bersama.]

“Oke, kami akan memberimu tongkat ini.” Tetua pertama dengan senang memberi Li Qiye tongkat tak berharga ditangannya jika memang itu berharga dia tidak harus mendengarkan Li Qiye yang terus-menerus menggerutu. Baginya, tongkat ini hanyalah tongkat kayu biasa yang dimaksudkan untuk menghilangkan abu; sehingga memungkinkan mereka untuk memberikannya kepada Li Qiye.

“Terima kasih banyak kepada Tetua Yang Terhormat.” Li Qiye dengan bersemangat menunggu kata-kata itu. Sebelum kata-katanya selesai, tangannya sudah memegang tongkat itu. Tindakan ini, di mata ke-enam orang tua, terlihat sangat naif.

“Huairen, bawa dia ke tempat peristirahatannya.” Seorang tetua akhirnya menjadi tidak sabar dan memberi tahu murid terdekat untuk mengirim Li Qiye pergi.

Peristiwa hari ini sangat menekan ke-enam tetua. Orang tidak berguna telah menjadi murid utama dari Sekte Kuno Dupa Suci… Bahkan jika sekte itu telah melewati masa kejayaannya, itu tidak cukup hancur sehingga menerima orang tidak berguna semacam manusia biasa sebagai murid utama.
Dipimpin oleh muridnya, Li Qiye mendekati sebuah puncak. Itu tidaklah kecil; di atasnya terdapat sebuah villa kecil berukuran 36.000 meter persegi.

Itu jelas bahwasanya vila itu telah ditinggalkan untuk waktu yang lama karena kotoran dan tanaman liar yang mengelilinginya. Meskipun puncak ini jauh dari segalanya, itu masih bagian dari Sekte Kuno Dupa Suci.

Setelah membuka pintu, murid itu segera berkata: “Saudara kec—, tidak, Kakak pertama, tempat ini akan menjadi rumahmu mulai sekarang.”

Dia hanya berbicara dua kata setelah dia segera menyadari kesalahannya.

Berdasarkan waktu Li Qiye bergabung dengan sekte, Li Qiye akan menjadi juniornya. Namun, karena dia adalah murid utama, siapa pun dalam generasi ketiga – tidak peduli seberapa muda atau tua mereka – harus memanggilnya Kakak Pertama.

Li Qiye melirik murid yang cerdik ini dan melihat sekeliling sebelum menganggukkan kepalanya: “Puncak yang sangat jauh dari sisa-sisa sekte yang ada ini adalah lokasi yang cocok.”

Murid itu tersenyum dan berbicara: “Itu memiliki nama yang sangat pas, Puncak Penyendiri [Lonely Peak].” Dia mengintip dengan melihat Li Qiye beberapa kali sebelum melanjutkan: “Kau akan menjadi tuan dari puncak ini kedepannya.”

Kebenarannya adalah bahwa menurut aturan sekte, murid utama memiliki hak untuk hidup di puncak yang paling dekat dengan tanah leluhur. Sekte itu memiliki banyak puncak, dan murid utama bisa memilih sendiri puncak itu.

Namun, sebagian besar puncak sekte telah diduduki. Selain itu, semua dari ke-enam tetua itu tidak senang dengan Li Qiye. Dengan demikian, Li Qiye diasingkan ke tempat yang jauh, jauh dari puncak utama.

Puncak utama yang terletak paling dekat dengan tanah leluhur mengandung esensi duniawi yang lebih tebal daripada gunung di luar sana dan puncak lain yang lebih rendah.

Li Qiye secara alami menyatakan: “Tempat ini akan baik-baik saja.” Dia bukan orang kecil yang akan mempermasalahkan hal-hal sepele seperti itu.

“Aku telah membawa semua kebutuhan sehari-hari untuk Kakak Pertama sebelumnya.” Adik junior ini benar-benar menangani masalah dengan mudah dan berpengalaman. Setelah mengurus semua barang yang diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari Li Qiye, dia dengan sopan berkata: “Jika kau membutuhkan yang lain, datang saja ke pengadilan luar untuk menemukanku.”

Sebelum murid itu pergi, Li Qiye dengan santai bertanya: “Siapa namamu?”

Murid itu terkejut oleh pertanyaan yang tiba-tiba itu. Dia tidak begitu tahu mengenai Li Qiye. Bakatnya yang kurang, sampai-sampai dia tidak akan diterima sebagai murid biasa.

Tindakan Li Qiye sebelumnya di ruangan menyebabkan orang lain merasa bahwa dia bodoh. Namun, Li Qiye saat ini yang tenang dan alami membuat murid ini merasa bingung di dalam hatinya; dia tidak tahu apakah Li Qiye gila atau memang dia sudah memikirkan semua itu sebelumnya.

Murid ini dengan cepat kembali sadar dan menjawab Li Qiye: “Kakak Pertama, nama adik junior ini adalah Nan Huairen. Aku pengurus dari pengadilan luar. ”

“Namaku Li Qiye.” Li Qiye mengangguk lembut.

Dalam jutaan tahun terakhir, orang-orang yang tahu asal dan nama aslinya dapat dihitung dengan jari.

Setelah kepergian Nan Huairen, Li Qiye tidak hanya berdiam diri. Dia mulai membersihkan halaman dan merapikan seluruh gunung. Setelah menyelesaikan tugas ke standar yang dapat diterima, gunung yang sepi sekarang lebih menyerupai sebuah rumah.

Li Qiye melakukan semuanya dengan cara yang sistematis dan rapi, lambat tapi pasti. Jika ada orang yang kebetulan lewat untuk menyaksikan tindakan pembersihannya, mereka tidak akan percaya bahwa dia baru berusia tiga belas tahun.

Langit telah menjadi gelap pada saat tugas yang membosankan itu selesai. Li Qiye merasa lelah dan lapar. Dia perlahan-lahan duduk di depan villa. Mengambil napas dalam-dalam, dia mengeluarkan tongkat kayu yang sekarang ditempatkan di pinggangnya. Dia dengan hati-hati mengamati tongkat yang digunakan orang-orang untuk memindahkan abu. Dia perlahan mulai mendapat ingatannya, dan membuatnya menunjukkan senyuman pahit.
Dunia percaya bahwa jika seorang Kaisar Abadi berhasil memikul Kehendak Surga, mereka akan menjadi abadi. Namun, jika itu adalah kasusnya, maka kemana perginya kah Kaisar Abadi Min Ren, Kaisar Abadi Tun Ri, dan semua para ahli tak tertandingi lainnya dari setiap era? Kemana mereka pergi?

Li Qiye perlahan-lahan mendapatkan kembali ketenangannya dan menyingkirkan debu dan abu dari tongkat itu, akhirnya mengungkapkan bentuk aslinya. Ini adalah tongkat yang berukuran satu meter. Bahkan setelah disiram api selama ribuan tahun, itu tetap dapat mempertahankan bentuk aslinya tanpa berubah sedikitpun. Namun di mata orang lain, ini hanyalah tongkat kayu biasa tanpa sifat magis.

Li Qiye berbisik sambil dengan lembut menyeka tongkat kayu: ” Tongkat Penghakiman Sang Ular [Serpent Punishing Stick]!”

Dengan tongkat kayu di tangannya, ingatannya menyebabkan dia merasakan emosi yang tidak bisa dijelaskan.

Kembali pada masa-masa ketika Min Ren tanpa Kehendak Surga, Li Qiye, sebagai penguasa Kaisar Abadi masa depan, telah mengajarkan sekelompok anak-anak yang akan menjadi jenderal setia Min Ren. Karena Li Qiye ingin merawat mereka dengan baik, dia secara khusus mengambil Tongkat Penghakiman Sang Ular dari Hutan Iblis.

Para remaja yang akan menginjak ke-Sembilan Dunia di bawah kaki mereka semuanya adalah karena tongkat ini. Setelah menyelesaikan pelatihan mereka, ia meninggalkan tongkat di sini, di Sekte Kuno Dupa Suci, dan di sini itu tetap terjaga sampai sekarang.

Menggenggam tongkatnya erat-erat, Li Qiye menenggelamkan dirinya bahkan lebih dalam pada ingatannya. Berhasil melarikan diri dari Immortal Demon Grotto, dan dia akhirnya mendapatkan kembali tubuh dan jiwanya dari kendali Gagak Hitam.

Namun, waktu memanglah tidak berbelas kasih. Semua orang yang dulunya adalah teman dan keluarganya, seperti Dewa Alchemy, Kaisar Abadi Xue Xi, Kaisar Abadi Min Ren… dan bahkan Raja Naga Hitam termasyhur yang selamat dari tiga era, semuanya telah meninggalkan dunia ini.

Pada awal Era Desolate, ia hanyalah seorang gembala muda. Untuk menemukan domba yang hilang, dia masuk ke gua dan dipenjara oleh Immortal Demon Grotto. Dia dipaksa untuk mengikuti jalan yang tuannya bayangkan dalam tubuh gagaknya dari zaman ke zaman.

Pada saat itu, Li Qiye sangat ketakutan. Dia terbang tanpa istirahat di seberang Forbidden Burials, bepergian melintasi sembilan wilayah, melintasi Sembilan Dunia… Dan pada akhirnya, dia masih tidak punya pilihan selain kembali ke Immortal Demon Grotto.

Namun, karena ini, dia telah mengalami bahaya dan misteri dunia yang tak terhitung jumlahnya. Dia melewati tanah yang bahkan Paragon Virtuous yang tak ada duanya pun akan menjauh. Tekadnya, terbuai dalam kesulitan sepanjang masa, menjadi tak tergoyahkan.

Sejak saat itu, dia tidak mau selamanya tinggal sebagai budak dari Immortal Demon Grotto. Dia merumuskan rencana besar untuk memotong semua segel roh abadi dan formasi dalam jiwanya.

Untuk melarikan diri dari tubuh Gagak Hitam, untuk kebebasannya sendiri dan untuk mendapatkan kembali tubuhnya, dia terus memimpin banyak genius di jalan pembudidaya. Yang terhebat dari anak-anak muda ini yang dapat bertarung di jalan tak tertandingi di bawah langit untuk mendapatkan Kehendak Surga.

Tapi hari ini, ketika Li Qiye kembali ke tubuh lamanya untuk menjadi manusia sekali lagi, semua teman-temannya telah meninggalkannya.

Mengambil napas terakhirnya yang dalam untuk menyingkirkan rasa sakitnya, dia sekali lagi memperkuat tekadnya untuk menghancurkan semua rintangan dan menghancurkan jiwa mereka di Immortal Demon Grotto.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded