Emperor Domination Chapter 33 – Pedang Ganda Tak terlihat Bagian 1 – Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Lyle
  • Editor : Scraba

Harta Suci Kaisar Abadi tidak hanya dalam bentuk barang yang tak ternilai bagi semua pembudidaya, tetapi mereka juga merupakan bagian integral dalam perlindungan sekte Kaisar Abadi.

Min Ren mendirikan sekte kuno dupa suci, dan dia telah meninggalkan beberapa Harta Suci untuk melindungi keturunannya. Namun, setelah seratus ribu tahun, sekte tersebut saat ini tidak memiliki lagi Harta Suci.

Sekarang Li Qiye benar-benar mengerti; Sekte Kuno Dupa Suci tidak merosot tanpa alasan. Hukum Kaisar Abadi Hilang dan Harta Suci Kaisar Abadi juga hilang. Ditambah, tidak ada pemimpin yang bijaksana untuk membimbing mereka. Itu akan bertentangan dengan kehendak surga jika mereka tidak menolak.

“Sunior, apakah kau ingin memilih Harta Berumur Panjang atau Harta Suci? Atau mungkin Harta Sejati?” Melihat Li Qiye dengan bingung, Nan Huairen mengingatkannya.

Meskipun Li Qiye telah membuat satu putaran di tingkat ketiga, tidak ada satu pun harta yang cocok dia temukan.

Nan Huairen tidak mengerti mengapa Li Qiye tidak suka senjata yang disimpan di sini. Tingkat ketiga bukan yang terbaik, tetapi senjata-senjata ini masih akan membuat semua murid di dalam sekte iri melihatnya.

Namun, Li Qiye tidak puas dengan senjata apa pun di sini, dan Nan Huairen tidak berani mengatakan apa pun. Dia tahu Li Qiye punya alasannya, jadi dia mengikuti Li Qiye turun, meninggalkan level ketiga.

Semua murid yang mengejek Li Qiye, sebelumnya, masih ada di sana. Melihat tangannya yang kosong, mereka mengejek: “Lihat! Mata Murid Utama kita terlalu tinggi. Jadi… Bahkan tingkat ketiga tidak memenuhi kebutuhannya!”

“Heh. kau tidak tahu ini, tetapi hanya Harta Suci Kaisar Abadi yang pantas baginya; dia tidak peduli dengan hal-hal lain.”Murid lain, dengan suara bernada tinggi, berkomentar:“Mengapa dia tidak melihat ke cermin dan menyadari tempatnya? Sepotong sampah seperti dia diizinkan untuk memilih senjata dari tingkat tiga sudah merupakan hak istimewa yang diberikan oleh Tetua.”

Seorang siswa, yang sangat marah, berkata: “Dia hanyalah orang yang tidak berguna. Bahkan jika kita membawakannya Harta Suci Kaisar Abadi sebelumnya, dia hanya akan berpikir bahwa itu adalah logam bekas. Seseorang yang memiliki mata tetapi tidak dapat melihat melaluinya tidak memenuhi syarat untuk menggunakan Harta Suci.”

Setelah mendengar semua ejekan dari para murid, Nan Hai Ren mengerutkan alisnya sementara Li Qiye dengan santainya berkata: “Sepertinya kalian semua sangat tidak puas denganku.”

Seorang murid dengan kasar menjawab: “Hmmph! Seseorang seperti dirimu, yang tidak memenuhi syarat, tidak seharusnya menjadi Murid Utama kami!”

“Sayang sekali; Aku masihlah Murid Utama kalian.”Li Qiye perlahan berbicara:”Terus-terusan bicara tidak sopan; sepertinya aku tidak akan layak untuk posisi ini jika aku tidak merusak kaki anjing kalian itu, hari ini.”

Setelah mendengar Li Qiye, seorang murid berdiri keluar dari kerumunan dan meluruskan posturnya; dia kemudian dengan dingin menyatakan: “Oh? Murid Utama yang hebat ingin memukuli kami semua? Sebagai juniormu, aku ingin belajar banyak teknik darimu.”

Mendengar kata-kata ini, murid-murid lain berteriak dan tertawa keras. Semua dari mereka dengan sombong berpikir bahwa Li Qiye, dengan Fisik Fana, Roda Kehidupan Fana, dan Istana Takdir Fana, dapat dengan mudah diatasi hanya dengan menggunakan satu tangan.

“Huairen, pukul mereka sampai mereka merangkak keluar.” Li Qiye melototi mereka dan memerintahkan Huairen.

Murid lain tidak tahu, tetapi Huairen melakukannya; bagaimana Du Yuanguang mati? BagaimanaXu Hui menemui ajalnya? Tiba-tiba, dia mengusap keringat dingin dari dahinya. Jika Li Qiye benar-benar menjadi marah, dia akan mencabik semua bocah kecil ini.

Perintah adalah perintah; Nan Huairen menghela nafas dan melangkah maju. Dia menatap para murid dan dengan tenang berkata: “Kalian telah melakukan kejahatan karena tidak menghormati senior kalian; Aku di sini akan melaksanakan hukuman!”

“Nan Huairen, kau…!” Melihat gangguan Nan Huairen, beberapa murid dengan marah berteriak.

Seorang murid berkata tanpa ragu-ragu: “Senior Nan, kau adalah favorit di antara para Tetua; mengikuti pecundang seperti itu akan merusak nama baikmu… ”

“Bang!” Murid ini, yang belum menyelesaikan kata-katanya, tersingkir oleh Nan Huairen.

Dalam Sekte Kuno Dupa Suci, bakat Huairen bukanlah yang terbaik; namun, sebagai murid Pelindung Mo, mudah baginya untuk menghadapi murid yang hanya rata-rata ini.

“Kau terlalu banyak bicara! Tidak tahu kapan harus tutup mulut akan membawa ancaman kematian yang akan datang!” Setelah memukul siswa itu, Nan Huairen menunjuk ke arah siswa lainnya dan berkata:“Kalian semua maju bersama; jangan bilang aku yang menyerangmu!”

Murid-murid lainnya takut dan marah. Mereka melompat maju bersama, tetapi Nan Huairen tidak menunjukkan belas kasihan; dia mengalahkan mereka semua, kiri dan kanan, kebawah lantai.

Sepertinya Nan Huairen telah menggunakan terlalu banyak kekuatan; Namun, dia hanya menyelamatkan hidup mereka. Paling buruk, dia hanya menyebabkan mereka kesakitan secara fisik tanpa komplikasi jangka panjang.
Jika Li Qiye secara pribadi menanganinya, maka mungkin akan ada tubuh yang dip*nggal di lantai, sebagai gantinya. Nan Huairen tahu bahwa Li Qiye, pada kenyataannya, tidak mempedulikan para murid, atau siapa pun, yang tidak menghormatinya. Kebetulan, Nan Huairen berharap bahwa pemukulan brutal yang dilakukannya sudah cukup untuk menenangkan Li Qiye.

Adapun para murid yang melindungi Gudang Senjata dan Armor, tugas mereka hanyalah untuk melindungi itu; pertengkaran lain tidak ada hubungannya dengan mereka, jadi mereka menutup mata dan mengabaikannya.

“Aku ingin pedang ganda yang ada di sana.” Ketika Nan Huairen melemparkan para murid keluar dari gudang senjata dan armor, Li Qiye sedang berbicara dengan pelindung yang bertanggung jawab.

Alis pelindung mengerut, dan dia bertanya: “Pedang ganda yang ada di bawah kaki Dewa Gagak?”

“Itu benar.” Jawab Li Qiye.

“Baru-baru ini, aku telah berlatih teknik Pedang ganda Tak Terlihat, dan pada pandangan kedua, bilah dari pedang ganda tersebut sempurna untukku; jadi, aku menginginkannya.”Para pelindung dan para murid yang menjaga semua berpikir bahwa permintaan Li Qiye sangat aneh; mereka memandangnya seolah-olah dia adalah seorang pasien rumah sakit jiwa.

Dua pedang ganda di sana pada dasarnya adalah dua bilah pedang biasa yang telah berkarat. Bahkan tidak bisa membandingkannya dengan Senjata Kehidupan dan Sejati pada tingkat ketiga; mereka bahkan tidak sebanding dengan senjata biasa di level satu.

Mereka percaya bahwa tidak mengambil harta dari tingkat ketiga sudah aneh, tetapi dia kemudian mengambil dua bilah pedang berkarat, tidak sepadan, yang terbuat dari baja fana. Jika orang ini tidak memiliki masalah mental, maka dia pastilah idiot karena tidak mengetahui apa yang baik dan yang buruk.

Ketika Nan Huairen melihat pilihan Li Qiye, hal pertama yang muncul dalam pikirannya adalah Tongkat Penghukum Ular. Hatinya gembira karena dia ingat ketika Li Qiye ingin tongkat tua dari perapian di Ruang Agung; semua Tetua, dan termasuk dirinya sendiri, ,berpikir Li Qiye idiot ketika menilai tongkat biasa itu sangat tinggi.

Namun, tongkat itu telah mengalahkan seorang jenius, seperti Xu Hui, seolah dia tak berdaya. Sekarang, Li Qiye tiba-tiba menginginkan kedua bilah pedang itu? Itu mungkin bukan hanya kebetulan. Dia mungkin tertarik terhadap itu karena mereka telah melangkah ke dalam gudang senjata dan armor.

Seorang siswa yang dilempar oleh Nan Huairen marah dan takut; dia berteriak: “Nan Huairen! Kau… Kau berani memukulku? Aku akan laporkan ini ke Tetua… ”

“Tampar dia. Tampar dia sampai dia tidak bisa bicara lagi.” Kata Li Qiye tanpa ampun.

Dari kata-kata sederhana itu, Nan Huairen bisa merasakan seutas amarah yang terbentuk di dalam diri Li Qiye. Sepertinya seniornya menjadi gelisah. “Maafkan aku.”

Nan Huairen menampar murid itu tiga kali, tanpa ragu-ragu. “Slap, Slap, Slap.” Nan Huairen tahu ini bukan hanya semata-mata dia menyelamatkan hidup murid ini; ini juga percobaan yang Li Qiye gunakan untuk mengujinya.

Li Qiye meninggalkan masalah ini, dan dia kembali menatap pelindung: “Para Tetua telah setuju padaku untuk memilih senjata, jadi aku ingin memilih pedang itu.”

Pelindung memutar matanya kearah Li Qiye. Anak ini tidak terlihat seperti orang bodoh, jadi mengapa dia begitu ngotot melakukan sesuatu yang begitu bodoh?

Sang pelindung ragu sejenak, tetapi dia kemudian, akhirnya, menganggukkan kepalanya: “Ini dia!”

Ini hanyalah dua bilah pedang fana; mereka bukan harta karun yang terkenal. Li Qiye datang dengan order dari Tetua, dan mereka memberinya dua pedang ganda biasa bukanlah masalah yang besar.

Li Qiye secara pribadi menurunkan kedua bilahnya, sehingga pelindung dapat menuliskannya di daftar pembayaran. Meskipun permintaan Li Qiye aneh, pelindung tidak benar-benar tahu harus berkata apa.

Menyelesaikan tugasnya, Li Qiye meninggalkan gudang senjata dan armor dengan pedangnya. Berjalan melewati di seberang para murid yang dipukuli tanpa alasan oleh Nan Huairen, dia memperlambat langkahnya dan dengan marah berkata: “Kalian harus berterima kasih kepada Nan Huairen karena menyelamatkan hidup kalian. Jika kalian tidak senang dengan tindakanku, kalian harus pergi dan melaporkannya kepada Tetua. Namun, jangan biarkan aku yang secara pribadi berurusan dengan kalian karena hasilnya tidak akan lebih baik dari ini.”

Niat Nan Huairen diungkapkan oleh Li Qiye, dan dia hanya bisa tersenyum malu.

Para murid yang dipukuli terdiam oleh rasa takut. Orang ini, sebenarnya, adalah pria yang menakutkan; tidak ada kemiripan dari seorang anak laki-laki berusia tiga belas tahun.

Li Qiye berjalan kembali ke puncaknya setelah berbicara mengungkapkan isi pikirannya.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded