Hataraku Maou-sama Volume 13 Chapter 2 Part 1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

[Translator : Scraba]

Pahlawan, Mengalami Masalah Karena Situasi Yang Membingungkan

“Halo, Bell? Maaf menelponmu selarut ini. Ini agak mendadak, tapi bisakah aku menginap di tempatmu malam ini? Yah, aku baru saja pulang kerja, tapi ada sesuatu yang mendadak … Rika datang ke toko. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia katakan, akan kuusahan untuk tidak pulang terlambat, tapi sepertinya, aku tidak bisa mengejar kereta terakhir. ”

“Tidak apa. Tolong kirim salamku pada Rika-dono. Hmph! “

“Eh? Uh, erhm, terima kasih. Aku akan mengirimmu pesan ketika aku akan kembali, apa tidak masalah? “

“Tidak apa. Aku akan tidur lebih larut daripada biasanya, jadi tidak perlu terburu-buru. Nikmati waktunya …… sial! Akan lebih baik jika kau menghubungiku sebelum kembali …… berisik sekali! Aku baik-baik saja.”

“A-aku mengerti, terima kasih ……”

Rasanya benar-benar gaduh ketika mereka bercakap.

Teriakan aneh dan orang-orang saling memaki bisa terdengar, yang bercampur dengan suara Suzuno.

Sepertinya Suzuno tidak merasa marah karena Emi pulang terlambat, tetapi diakhir telpon, terdengar suara samar seperti futon yang sedang dipukul.

“Oh ya. Lailah sepertinya ingin mengatakan sesuatu padamu, dia sedang menunggu di apartemen. ”

“Eh?”

Emi mengeluh, tapi tidak ada gunanya bahkan jika dia mengeluh kepada Suzuno tentang itu.

“Sepertinya ada sesuatu yang sangat berbeda dari permintaan yang biasanya…”

“Apa dia mengatakan hal lain padamu?”

“Aku juga diberi tahu sih…… ah, berisik! Aku sedang menelpon, diamlah! ”

“Bel?”

Dari ini tampak bahwa ada orang lain selain Suzuno ketika dia menelpon. Dan dari cara Suzuno berbicara, itu pasti tiga pria dari Benteng Iblis.
“Apa kau sedang sibuk sekarang?”

“Itu benar, tapi jangan khawatir. Saat ini aku mencoba mengontrol situasinya dan Alas = Ramus juga ada disebelahku. ”

Apa yang mereka lakukan? Emi tidak bisa membayangkannya sama sekali.

“Bagaimanapun, aku sudah mendengarnya, tapi aku merasa bahwa Lailah seharusnya memberitahumu ini secara pribadi, jadi aku tidak dapat meneruskan pesan itu. Dia bilang dia akan menunggumu selama mungkin, jadi tolong cari Lailah dulu setelah kembali, dia mungkin saja menunggumu di ruangan Nord-dono. ”

“……Aku mengerti.”

“Kalau begitu aku tutup teleponnya … baiklah, jika ada alasan lain …”

Setelah mengeluarkan nada yang berbahaya diakhir kalimatnya, Suzuno pun menutup telepon.

“A-apa yang terjadi ……”

Situasi yang paling mungkin adalah Maou pasti membuat kesalahan di depan Suzuno dan membuatnya marah,
tapi bagaimana dengan Alas=Ramus yang berada didekat Suzuno?

Bagi Maou, lebih baik dipukuli Suzuno, daripada dibenci Alas=Ramus.

“Huft, lupakan. Dibandingkan itu. ”

Emi menggunakan Ponselnya dan mengirim pesan ke Emerada yang berada di apartemen Eifuku-nya, memberi tahu Emerada bahwa dia akan menginap di apartemen Suzuno malam ini.

Setelah Emi menerima balasan Emerada yang sudah menerima pesannya, Emi segera menghembuskan nafas.

“Baiklah, mulai saat ini, aku harus menjaga semangatku!”

Pada akhirnya, Rika menunggu Emi ditoko hingga dia pulang bekerja.

Ini bukan pertama kalinya Rika berkonsultasi dengan Emi untuk membahas tentang Ashiya.

Namun, ada perbedaan besar antara konsultasi kali ini dan yang sebelumnya.

Perbedaannya adalah Rika yang sekarang tahu tentang identitas sejatinya Ashiya.

Dia belum pernah melihat bentuk iblis Ashiya Shiro –– Great Demon General Alsiel –– tetapi Rika sudah tahu apa yang Ashiya lakukan di masa lalu, dan alasan hidupnya saat ini.

Walaupun demikian–

“Ashiya-san menelpon dan mengajakku keluar ……”

Berdasarkan ini.

“…………..Apa yang harus aku lakukan? Huft.”

Emi melihat jam, sudah lewat pukul 10.15 malam.

Akan sangat buruk membuat Rika menunggu begitu lama, dan jika dia pulang terlambat karena terlalu lama, itu akan menimbulkan masalah bagi Suzuno juga.

“Aku rasa aku hanya bisa mendengarkannya.”

Setelah Emi membuat keputusan, dia keluar dari ruangan karyawan. Kemudian setelah berkata selamat tinggal kepada semua rekannya termasuk Akiko, Emi berjalan keluar dari toko bersama dengan Rika.

“Maaf karena datang tiba-tiba menemuimu.”

Rika mengikuti di belakang Emi dengan sikap yang lebih kaku dibandingkan biasanya.

“Tidak apa-apa. Seharusnya aku yang merasa bersalah karena membuatmu menunggu begitu lama. Aku ingin mengajakmu makan, tapi Rika sepertinya sudah kenyang, kan? ”

“Ah, ya. Tapi jika kau ingin makan sesuatu, tidak apa juga. ”

“ Bahkan jika kau mengatakan itu, kita hanya bisa ke Izakaya kalau sudah jam segini. ”
(TL Note: Izakaya adalah restoran tempat makan yang biasa di Jepang. Itu adalah tempat santai untuk minum setelah pulang bekerja.)

“Pergi ke tempat yang menjual alkohol … apa tidak masalah?”

“Kenapa kau bertanya? Bukankah kita sering pergi ke tempat semacam itu bersama sebelumnya? ”

“Karena, Emi sebenarnya belum berusia 20 tahun, kan? ”

“Ah, aku mengerti.”

Rika khawatir bahwa menurut hukum Jepang, Emi masih di bawah umur.

“Lagipula peraturan itu tidak ketat, dan berdasarkan KTP ku di Jepang mengatakan bahwa aku sudah berumur 21 tahun, jadi seharusnya tidak ada masalah dengan hal itu. Kau tidak ingin minum? “

“Y-ya, bukannya aku tidak mau, tapi aku tidak yakin bisa tetap tenang ……”

Rika sudah tampak bingung sekarang, jadi jika dia minum alkohol, mungkin sulit untuk berbicara dengan serius, karenanya Emi mengangguk dan menjawab,

“Ada restoran keluarga di depan sana, bagaimana?”

“Yah, aku jadi tidak enak.”

Rika terus meminta maaf hari ini.

“Tidak apa. Namun …… aku mungkin akan mengatakan beberapa hal yang kasar kepada Rika nantinya, jadi tidak perlu mentraktirku hari ini. Makan seperti biasanya saja. ”

“……Ya.”

Setelah mereka memutuskan untuk pergi, Emi dan Rika menuju restoran keluarga dengan langkah yang agak berat. Setelah pukul 22.30, ada banyak kursi yang kosong di restoran keluarga.
Setelah memilih meja yang bebas asap rokok, dia ingin makan makanan enak setelah selesai bekerja, Emi memesan spaghetti kerang dengan sup, salad, dan minuman. Sedangkan Rika, dia hanya memesan minuman.

“Rasanya sudah lama sejak kita pergi ke restoran untuk makan bersama.”

“Lagipula kita tidak bisa pulang bersama seperti dulu. Ketika itu Rika lah yang selalu mengajakku, meskipun aku merasa senang, aku juga merasa bersalah karenanya. ”

“Tidak apa-apa. Apapun alasannya, itu masih akan terasa aneh jika pergi ke daerah dekat perusahaan yang memecatmu. ”

“Tidak, bukan begitu. Karena Rika lah yang membawaku ke semua toko yang ada di dekat perusahaan, jadi aku cepat terbiasa dengan makanan di Jepang. Sebagai gantinya, lain kali aku akan mengajakmu, dan jika waktunya cocok, mari kita ajak juga Maki untuk makan bersama. ”

“Toko-toko disana cepat sekali pindahnya. Apa kau ingat restoran Rusia yang sering dikunjungi orang itu? Restoran itu sudah ditutup bulan lalu. ”

“Eh? Padahal daging krim asamnya benar-benar enak! ”

“Restoran Italia dibuka di sana setelah itu. Sayangnya, makanan di sana tidak menarik sama sekali. Sudah ada begitu banyak restoran Italia di daerah itu, tapi itu masih standar rata-rata. Dan karena dekorasi interiornya masih seperti yang sebelumnya, itu bahkan lebih mengecewakan. ”

“Meski begitu, dekorasi gaya restoran Rusia itu terlalu modis, jika itu dijadikan toko Gyuudon atau toko Ramen, tetap saja akan terlihat aneh.”

Ketika mereka berdua membicarakan hal itu, spageti yang Emi pesan pun datang.
“Melihatnya membuatku lapar.”

“Apa kau ingin memesan sesuatu juga?”

“Hm ~ tapi aku jarang berolahraga baru-baru ini, makan sesuatu yang semcam itu saat ini …… hm ~”
Setelah khawatir tentang hal itu, Rika tidak memesan apapun pada akhirnya, dan Emi dengan cepat menghabiskan apa yang dia pesan. Setelah itu, seolah-olah dia ingin menenangkan diri, Rika pergi ke bar minuman untuk mendapatkan segelas teh herbal, kemudian setelah kembali, dengan menegapkan badannya dan menghadap Emi.

“Kalau begitu, mari kita mulai.”

“Ya.”

Emi mengangguk setelah menggunakan air dingin untuk membersihkan mulutnya.

“Rasanya aku sudah memberi tahumu sesuatu yang serupa di telepon sebelumnya. Alasan Ashiya-san mengajakku keluar adalah karena dia berharap aku bisa memberikan saran untuk membeli ponsel. ”

“Dengan kata lain, dia berencana memintamu untuk membawanya ke departemen elektronika.”

Ketika Maou membeli televisi dulu, Ashiya telah memberi tahu Rika bahwa dia berpikir untuk membeli ponsel dan meminta pendapatnya.

Pada akhirnya Ashiya tidak membeli ponsel pada hari itu, dan setelah itu, banyak masalah yang terjadi satu demi satu, menyebabkan Ashiya tidak dapat membeli ponsel sama sekali.

“Huft, jadi seperti itulah.”

Rika tidak menyangkalnya.

“Karena dia menyembunyikan banyak hal dariku, sebagai permintaan maaf, dia bahkan mengundangku untuk makan bersama.”

“Puh!”
Emi hampir saja menghancurkan gelas kaca berisi air dingin dengan reflek.

“M-makan?”

Seorang pria mengundang seorang gadis untuk makan adalah kejadian biasa, tapi akan sedikit berbeda jika itu adalah Ashiya dan Rika.

“L-lalu?”

“Aku tidak punya alasan untuk menolaknya, jadi aku setuju. Aku juga mau sih sebenarnya. ”

Emi tidak tahu sudah sampai mana mereka melakukan percakapan yang penuh semangat ini, tetapi entah bagaimana, Rika dengan senang hati menerima ajakan Ashiya.

“A-aku mengerti.”

Saat Emi merasa bingung, dia juga membayangkan adegan mereka berdua yang makan bersama, lalu mulai merasa terganggu.

Lagipula itu Ashiya.

Apa yang Ashiya yakini sedikit berbeda dibandingkan dengan apa yang biasanya dipikirkan orang lain, dan dia juga berpikir bahwa tidak ada gunanya berpakaian rapi dan bertingkah baik untuk orang lain.

Jika itu Maou, dia mungkin akan khawatir dengan penampilannya dan memilih toko yang bagus. Bahkan, Emi telah melihat Maou berpenampilan dengan rapi dan pergi berkencan.
Dia kemudian mengetahui bahwa Ashiya telah memilih pakaian, tetapi menilai dari apa yang dia tahu tentang sikap Maou di tempat kerja, Emi dengan cepat membangun kesan bahwa Maou masih akan berpakaian dengan rapi ketika berkencan. Di sisi lain, lihatlah Ashiya.
Pakaian Ashiya yang biasa sangat bersih dan rapi, tetapi tidak seperti Maou, Emi tidak memiliki kesan mendalam tentang pakaian Ashiya sama sekali.

Tidak peduli bagaimana Emi mengingatnya, dia hanya bisa ingat pakaian biasa yang Ashiya pakai selama musim panas dan ketika melakukan pekerjaannya yang biasa.

“E-erhm, ke restoran mana dia membawamu makan?”

“Aku tidak tahu. Tetapi aku sedikit paham tentang apa yang kau khawatirkan. ”

Rika menunjukkan senyum bermasalah pada Emi yang tidak bisa menyembunyikan kegusaran di dalam hatinya.

“Aku mengerti situasi rumah tangga Maou-san. Jadi aku tidak keberatan makan Manmaru Udon atau MgRonalds. ”
(TL Note: Manmaru Udon adalah plesetan dari Hanamaru Udon.)

“Kupikir akan lebih baik untuk tidak mempermasalahkan itu.”

Namun, jika Rika bisa menerimanya, Emi tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.

“Kalau begitu, apakah itu semua yang ingin kau diskusikan denganku?”

“Aku pikir itu tidak ada gunanya membahas tentang apa yang Ashiya-san akan makan dengan Emi.”

Itu benar.

“Bukankah sebelumnya kau bilang akan mengatakan beberapa hal kasar padaku? Dengan kata lain, inilah masalahnya. ”

“ Tapi masalah yang begini …… ”

“Hmm, sederhananya, kita mungkin akan mendiskusikan tentang hal-hal yang Maou-san dan kau telah katakan padaku lagi. Ashiya-san mungkin mengajakku keluar hanya untuk meminta maaf padaku secara pribadi. Dia sendiri juga mengatakan itu padaku. ”

“Aku mengerti……”

Sejak awal, Emi telah berulang kali menggunakan cara yang sederhana ini untuk membalas ucapannya.

“Huft, jadi.”

Ketika dia mencapai bagian ini, Rika mulai gelisah.

“Dengan keadaan yang seperti itu, erhm, aku berencana akan melakukan pertaruhan.”

“Eh? Apa? Pertaruhan? “

“Y-ya, erhm, dengarkan.”

“Ya.”

Wajah Rika mulai memerah. Dia menggeliat dan tampak ragu untuk berbicara.

Meski begitu, Rika masih mengambil keputusan, dan mengungkapkannya setelah mengambil beberapa tarikan napas dalam-dalam,

“S-sejujurnya, aku, erhm, suka, menyukai Ashiya-san, jadi …… ”

“ Aku tahu itu, jadi? ”

“ …………… Eh? ”

“ Eh? ”

“……Kenapa?”

“Kau tanya kenapa, eh?”

“Eh?”

Rika, yang memerah, dan Emi, yang memiliki ekspresi serius, terdiam setelah saling pandang.

“Kau …… sudah tahu, eh?”

“Rika, apa kau merasa terkejut jika aku mengetahuinya?”

“……Ya, h-habisnya, ketika aku berbicara denganmu tentang ini, aku benar-benar sangat malu ……”

Mungkin saja, Emi merasa tidak enak dengan Rika, tetapi dari sudut pandang Emi, sudah terlambat untuk
Rika mengatakan hal itu sekarang.

“Aku minta maaf …… tapi setelah melihat caramu bertindak ketika kau dan Alsiel bersama, kurasa siapa pun akan menyadarinya.”

“…… Begitukah?”

“Mungkin.”

“Lalu bagaimana dengan Ashiya-san ……”

“Sayangnya, dia mungkin tidak menyadari itu…… tapi Maou, Bell, dan yang lainnya mungkin sudah menyadarinya.”

Rika berkedip karena terkejut, lalu––

“Maou-san dan Suzuno-chan ………. ack? “

” Rika? “

Dia tiba-tiba mengeluarkan teriakan aneh, dan dahinya menghantam meja dengan keras hingga cangkir pun hampir terbang ke udara.

“Itu ––– Benaarrrrrr! Bagaimana aku bisa lupa? Kenapa dia tidak memberitahuku saja pada hari ituuuuuuu! ”

“T-tunggu, Rika, tenanglah sedikit! Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini ?! ”

“Waughhhhhhh, dia bilang begitu sebelumnya, dia menyadarinya, itu benar, hari itu, Maou-san uuuuuu.”

“Maou? Apa yang Maou katakan padamu? Hari itu, apakah kau mengacu pada hari ketika mereka pergi untuk membeli televisi?”

“Iyaaa ––––! Hari itu! Maou-san, mengatakan itu kepadaku sebelumnya, bahwa dia mengerti perasaanku, gahhhhhh! ”

Gadis muda yang ragu untuk bersikap jujur tentang perasaannya baru saja mengerang dengan suara serak dan kesakitan seperti Malebranche yang cakarnya hancur.
[T/N : Malebranche, sejenis iblis dari sebuah cerita yang memiliki cakar dan kuku yang tajam]

“ ‘Mungkinkah kau menyukai Ashiya’! Maou-san! Maou-san mengatakan itu pada saat itu! Dia mengatakan itu kepadaku sebelumnya! Ahhhhhh! Aku juga ingat Suzuno-chan menarik kerah baju Maou-san dan memukulnya setelah mengatakan itu ahhhhh! Apa ini?! Apa yang aku lakukan?! Kenapa aku selalu mengalami hal memalukan setiap kali membahas Ashiya-san? Apa aku idiot? Memalukan, memalukan, memalukan, kehidupan memalukan macam apa ini ?! ”

“…… Maou …… ugh!”

Dia tidak tahu keadaan apa yang menyebabkan mereka melakukan percakapan ini, tetapi Emi memutuskan bahwa dia harus mencari kesempatan di hari-hari berikutnya untuk dengan tegas bertanya kepada Maou tentang apa yang telah terjadi.

“Jangan khawatir, jangan khawatir, Rika. Maou itu mungkin tidak peka terhadap orang lain, tapi dia tidak akan memberitahu orang lain tentang hal-hal semacam itu dengan mudah, Alsiel …… Ashiya mungkin belum pernah mendengar tentang hal itu dari siapa pun. ”

“Benarkah begitu? Rasanya seperti seseorang sudah memberitahu dia? “

Rika mengadah, area di sekitar hidungnya benar-benar sudah merah dan matanya dipenuhi air mata.

“S-Semua akan baik-baik saja. Tidak ada hal buruk yang akan terjadi. Karena Bell hampir mencekik Maou hari itu, itu artinya informasi ini paling tidak hanya diketahui Bell …… ”

“Rasanya seperti, kau sendiri tidak yakin dengan apa yang kau katakan, apa aku salah?”

“………… Maaf, aku tidak bisa menjamin itu.” 

“Uwahhhhhhhhhhhhhhhhhh!”

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded