Hataraku Maou-sama Volume 13 Chapter 2 Part 3 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

[Translator : Rozen]

Manusia dan malaikat bisa hidup berdampingan.

Lalu bagaimana dengan manusia dan iblis?

“…… walaupun kita membicarakan banyak tentang ini sekarang, tidak ada cara untuk mengetahui ini benar atau tidak.”

Rika mengangguk sambil tersenyum.

“Makasih, Emi. Makasih juga sudah mau ngobrol denganku sampai selarut ini. ”

Saat mereka melihat ke atas, jam di toko menunjukkan bahwa sudah hampir tengah malam.

“Tolong jangan di pikirkan, aku sudah lama tidak makan bersama denganmu, apa kau bisa ngejar kereta api yang terakhir?”

“Aku sudah melihat jadwal kereta tadi, jadi itu akan baik-baik saja, tapi apa kau tidak minta tolong Suzuno-chan untuk membantu mengurus Alas = Ramus-chan? Saat kau pulang terlambat, itu mungkin akan merepotkan Suzuno-chan dan Alas = Ramus.”

“Aku sudah memberitahu mereka kalau akan pulang terlambat, jadi itu akan baik-baik saja. Tapi terima kasih atas perhatianmu. Selain itu, aku lupa mengenai hal yang paling penting, kapan kau berencana untuk ‘memutuskan kemenanganmu’?”

“Besok sore.”

“Cepet sekali”

“Karena kita berdua hanya punya waktu luang besok. Itu sebabnya aku sangat ingin bertemu denganmu. Heh heh heh. “

Rika tertawa dan tersipu malu

“Aku akan melihatnya. Aku hanya mengatakan bahwa aku tidak dapat bersorak untukmu, tetapi aku akan bilang ‘semoga berhasil’. “

“Sejujurnya, dari situasi saat ini, aku tidak tahu hasil seperti apa yang akan menjadi yang terbaik.”

Rika, yang sedang berdiri untuk bersiap kembali, mengambil tagihan, tetapi Emi menghentikannya.

“Aku akan bayar apa yang ku makan”

“Uh, kau tidak boleh melakukan itu.”

“Aku tidak akan mundur dalam hal ini, jika kita lihat akar permasalahan pada kejadian hari ini, orang yang harus mentraktir adalah aku. Jadi, mari kita membayar untuk bagian kita sendiri seperti biasa”

“…… Aku tidak bisa menang melawan alasanmu.”

Emi menekankan bahwa dia menginginkan hal yang sama seperti biasanya, Rika mengangkat tangannya dan menyerah.

Setelah mengatakan selamat tinggal pada Rika di depan stasiun Sasazuka, Emi berjalan menuju Villa Rosa Sasazuka sendirian.

Sejujurnya, dia merasa bahwa kemungkinan perasaan Rika tersampaikan pada Ashiya sangat rendah.

Tidak seperti Maou, Ashiya selalu menjaga jarak antara dia dan manusia, ini adalah anggapan Emi padanya.

Dia tidak tertarik pada manusia seperti Maou dan tidak terbuka pada manusia sama seperti Maou. Meski begitu, tidak seperti sebelumnya, dia tidak lagi memandang semua manusia sebagai musuh.

“Jadi, jika semuanya berjalan dengan lancar, aku akan sangat terkejut.”

Melihat hembusan nafas berwarna putih yang dihembuskannya menghilang ke udara di bawah lampu jalan, Emi mempercepat langkahnya.

Seseorang menunggunya di Villa Rosa Sasazuka.

Di apartemen tempat musuh yang harus dilenyapkan tinggal, ada seseorang yang dicintainya dan seorang teman penting. Beberapa waktu telah berlalu sejak ia mulai menjalani kehidupan seperti ini – pergi menuju dan dari Villa Rosa Sasazuka dan berkerja di tempat yang sama dengan musuh dan temannya – selama kurang lebih satu bulan.

Akan lebih baik jika situasi yang rumit dan aneh yang tidak bisa digambarkan ini, jika dunia yang nyaman ini, bisa berlanjut selamanya.

Penerangan dari lampu jalan, lampu mobil dan lampu dari toko, emi berjalan di bawah cahaya yang biasanya di lalui oleh orang orang yang sedang menjalani hidup dan sedang bepikir demikian.

Di jalan yang biasanya Emi lalui ini, dia bisa melihat lampu-lampu apartemen.

Dari jalan terlihat lampu-lampu kamar di lantai dua yang masih menyala, Emi mengira bahwa Maou dan Suzuno masih belum tidur.

Sejak kapan itu mulai terasa seperti ini? Begitu dia melihat lampu-lampu itu, Emi akan merasa lebih tenang.

“Ini buruk, aku seharusnya tidak merasa seperti ini.”

Mungkinkah perasaannya sudah tidak berfungsi lagi karena dia baru saja mengatakan hal itu pada Rika?

“……Hmm?”

Apakah matanya tidak berfungsi juga? Ketika Emi melihat ke arah apartemen, dia menemukan hal yang aneh di sebelahnya.

Seseorang memeluk lututnya dan duduk di tangga apartemen.

Dan ternyata ada dua orang.

Ketika dia tau siapa mereka, Secara refleks Emi bersembunyi di balik dinding luar apartemen.

“Emi seharusnya sudah pulang dari tempat kerjanya, apa yang sedang dia lakukan ……”

“Bell-san bilang kalau dia sedang bertemu temannya ……”

Itu Maou dan Lailah.

Cuacanya sangat dingin, mengapa mereka berdua meringkuk dan menggigil di tempat itu?

“Teman? Apakah itu Suzuki Rika? ”

“Aku tidak tahu siapa itu, aku hanya dengar bahwa orang ini tiba-tiba datang ke toko untuk menemuinya …”

“Sepertinya aku benar. Itu Suzuki Rika. Dia sering datang ke toko. ”

“Aku tidak mengenalnya, tapi apakah itu teman Emilia?”

“Ya. Dia adalah orang dari dunia ini, tetapi dia tahu identitas kita yang sebenarnya. Dia tampaknya adalah sahabat terbaik Emi, jadi dia mungkin tahu tentang mu juga. ”

“Apakah begitu? Senang rasanya memiliki seorang teman yang bisa di ajak bicara tentang segala hal. ”

“Tapi tidak perlu memilih hari ini, kan? Karena Suzuno, kami jadi tidak bisa kembali ke kamar kami sebelum Emi pulang. Jika orang yang datang menemuinya adalah Suzuki Rika, tidak ada yang tau kapan dia akan kembali. ”

Lailah mungkin ada di sana karena dia ingin berdiskusi dengan Emi tentang topik bahasan kemaren, tapi mengapa Maou juga ada di sana?

Interaksi antara mereka berdua mungkin sangat berbeda dari sebelumnya, tapi itu tidak mungkin bagi Maou untuk menunggu diluar yang dingin demi menunggu Emi kembali.

Pada saat, Suzuno sedang berbicara melalui telepon, dia sepertinya sedang marah pada seseorang yang mungkin itu Maou, apa itu berhubungan dengan ini?

Bagaimanpun, tidak peduli apa yang dikatakan Suzuno, Emi tidak berpikir bahwa Ashiya akan membiarkan Suzuno menyuruh Maou menunggu di luar ruangan dalam cuaca dingin ini.

Ketika Emi sedang memikirkan hal ini––

“Aku belum melakukan ini sejak lama.”

Dia ingat bahwa dia sering pergi ke Villa Rosa Sasazuka sendiri untuk mencari tahu situasinya.

Sejak Alas=Ramus datang, Emi mulai secara langsung masuk ke tempat itu. Itu tidak pernah terjadi sebelumnya, tetapi dia tiba-tiba merasa nostalgia tentang hal itu.

“Aku pikir setidaknya aku sudah menunjukkan rasa peduliku ……”

“Dari sudut pandang seorang wanita, apa yang pria ‘pikirkan’ semuanya adalah alasan. Bukankah hasilnya akan seperti itu? Tidak peduli berapa banyak strategi yang di gunakan, itu tidak akan berarti kalau tidak ada hasilnya. ”

“Aku tidak mau mendengar itu darimu.”

“Maafkan aku, tapi aku Cuma berbicara yang sebenarnya. Aku sudah melihat bermacam-macam orang dari banyak negara selama bertahun-tahun. Hal yang aneh adalah, semua orang bertengkar karena alasan yang sama. ”

“Kami tidak bertengkar.”

“Dari bagaimana cara kedua belah pihak saling berkomunikasi, itu sudah bisa dianggap pertengkaran.”

“Apa maksudmu?”

Topik ini sepertinya agak sensitf untuk dibicarakan antara Raja Iblis dan seorang Malaikat, tetapi sepertinya Maou membuat marah beberapa wanita.

Dalam situasi ini siapa yang membuatnya tersinggung?

Seharusnya bukan Lailah yang saat ini berada di depannya. Emi belum bertemu dengan Maou hari ini.

Suzuno terdengar agak tidak senang ketika mereka menelpon sebelumnya, tetapi jika dia hanya menyinggung Suzuno, Ashiya tidak akan membiarkan dia menyuruh Maou keluar dari rumah.

Dengan ini, satu-satunya wanita yang tersisa yang bisa Maou marahi adalah Amane, Acies, atau ibu kos

Mengingat bahwa Maou dan Ashiya tidak bisa melawan ibu kos Villa Rosa Sasazuka, situasi yang paling memungkinkan adalah Maou yang diomeli oleh Shiba Miki, jadi Ashiya hanya bisa menahan air matanya saat dia melihat Maou diusir. . Namun, percakapan berlanjut ke arah yang tidak diduga-duga Emi.

“Karena dari apa yang aku dengar, kau sepertinya terlalu bergantung padanya.”

Lailah berkata sambil menghela nafas.

“Tergantung pada … uh, mungkin kelihatan seperti itu, tapi kita berdua harus tahu bahwa ini tidak bisa ditangani hanya dengan perasaan saja …”

Maou mencoba untuk menegur, tetapi dia merasa tidak yakin.

Itu bukan karena dia gemetar kedinginan. Rasanya dia tahu bahwa kata-katanya tidak masuk akal, tetapi dia tetap harus mengatakannya.

“Bahwa ‘seseorang harus tahu’ kita sedang mengandalkan orang lain. Mungkin pada saat itu tidak ada pilihan lain lagi, tapi mungkin ada perasaan tidak puas atau tidak nyaman seiring berjalannya waktu, hal semacam ini biasa terjadi, kan? ”

“Itu benar. Tetapi bahkan kalau kau bilang begitupun, aku tidak bisa membuat keputusan apa pun pada saat ini. ”

“Bahkan jika kau tidak bisa mengambil keputusan apa pun, kau harus berusaha secara maksimal untuk itu, kan? Apakah kau sudah menunjukkan usaha yang kau lakukan kepadanya? Apakah kau sudah meluangkan waktumu untuk menyampaikan ketulusanmu karena kau yakin bahwa dia akan menghormati keinginanmu dan dapat memahami segala sesuatu tentang dirimu? ”

“…………”

Mungkin Lailah telah memukul paku di kepalanya, Maou pun terdiam.

“Sesungguhnya, toleransi dan keadaan mental anak itu berada pada tingkat yang tidak wajar, tapi dia masih seorang gadis sekolah! Dia hanya memiliki tujuh belas tahun pengalaman hidup! Kau tidak boleh berasumsi bahwa dia akan memiliki pikiran yang sama sepertimu, iblis yang telah hidup selama beberapa ratus tahun.”

“Kau benar… Aku tahu itu… uuuu, ini dingin sekali, mengapa Emi belum juga kembali… “

Emi pun menghela nafas

Hanya ada satu ‘gadis sekolah menengah’ yang akan cocok dalam pembicaraan antara Maou dan Lailah.

Itu adalah Chiho

Apa Maou membuat Chiho merasa tidak senang?

“Kebenaran yang sesungguhnya adalah bahwa ‘Pria berdosa’ yang ada didalam film drama dan televisi tidak bisa di maafkan bahkan jika mereka tampan, kaya, atau memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. Karena mereka tidak bisa di maafkan di dalam drama, itu artinya mereka juga tidak bisa di maafkan di kehidupan nyata.”

“Kau tidak boleh menjadikan film drama atau televisi sebagai rujukan. Dia akan menangis”

“Orang itu seperti bagian di dalam drama, jadi tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, di dalam bagian drama, para lelaki hidung belang yang senang bermain-main dengan wanita itu akan dibunuh oleh para gangster atau organisasi jahat sebelum mereka kembali ke jalan yang benar di episode terakhir. Ini adalah contoh yang biasanya sering terjadi. ”

“Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan.”

“Itu berarti bahwa seorang laki-laki yang menyakiti gadis cantik pasti akan mendapatkan pembalasan ribuan kali lebih sakit dari yang dirasakan gadis itu.”

Emi hanya terpaku dan dia sangat setuju dengan pendapat Lailah tentang bagian dari drama, lalu ia segera sadar

Sepertinya Maou telah menyakiti Chiho

Dari bagaimana Suzuno berbicara melalui telepon, Ashiya juga setuju untuk membiarkan Maou keluar dari apartemen.

Suzuno sangat menyayangi Chiho, Ashiya juga menganggap Chiho sebagai seseorang yang layak dihargai dan memperlakukan Chiho dengan lebih sopan daripada bagaimana dia memperlakukan Urushihara.

Namun, itu adalah fakta bahwa Maou dan Emi tidak tahu itu akan menyakiti Chiho.

Sama seperti bagaimana hal itu di benarkan dari percakapan dengan Rika tadi, Maou telah memberikan perlakuan khusus kepada Chiho sejak awal.

Setelah Emi mulai bekerja di MgRonalds, dia juga mendengar omongan dari Kisaki, Akiko, dan Kawada tentang sikap Maou terhadap Chiho, dan apakah sebelum atau setelah Chiho mengetahui identitas mereka yang sebenarnya, sikapnya tidak berubah sama sekali.

“Apakah Chiho-chan …… baik-baik saja?”

Jika situasi memungkinkan, Emi benar-benar ingin meninggalkan mereka berdua yang kedinginan dan pergi ke tempat Chiho yang telah disakiti oleh Maou untuk memeluknya dengan erat.

Namun, sekarang sudah lewat tengah malam, berkunjung tiba-tiba pada saat ini akan terlihat aneh.

Selain itu, melihat dari sifat Chiho, rasanya dia tidak akan berbicara hal buruk tentang Maou bahkan jika dia telah menyakitinya.

Pada akhirnya, Apa yang sudah Maou lakukan pada Chiho?

Percakapan yang dia dengarkan sejauh ini belum menghasilkan apapun.

“Bagaimanapun, dia benar-benar memiliki batin yang kuat, huh. Itu mengingatkanku pada diriku yang dulu. ”

“Jika kau terus berbicara dengan khayalanmu, aku akan menendangmu dari belakang.”

“Reaksimu yang seperti anak kecil ini bagus juga, alangkah sempurna…… kyah?”

“?”

Mendengar teriakan Lailah, Emi mengintip dari balik dinding untuk menyelidiki, lalu dia melihat bahwa Lailah tersandar di pagar tangga dengan gaya yang tidak wajar dan terengah-engah.

Sepertinya Maou benar-benar memiliki niat untuk menendang Lailah ke bawah tangga.

“T-tidak perlu benar-benar menendangku juga! Bukankah akan berbahaya jika aku jatuh dari tangga? ”

“Itu karena seorang malaikat berani berbuat kekacauan dengan Raja Iblis, sebagai gantinya kau seharusnya berterima kasih padaku. Dan putrimu sudah jatuh dari tangga ini beberapa kali, aku meningkatkan poin di antara kalian berdua. ”

Maou yang memiliki logika kacau menyebabkan Lailah kebingungan dan bertanya, “A-Apakah kau pernah mendorong Emilia ke bawah?”

“Dia jatuh sendiri. Aku bahkan pernah menyelamatkannya sekali. Berterima kasihlah padaku. “

Berpikir tentang hal itu, yang telah terjadi sebelumnya.

Dia tidak lagi terpeleset di tangga setelah beberapa kali, tapi itu karena dia mulai lebih sering datang ke sini.

Ketika Emi menjadi penghuni di lantai dua Villa Rosa Sasazuka, dia tidak lagi merasa takut dengan tangga ini.

Maou dengan pelan menghembuskan nafas yang berhembus dari tenggorokan melalui hidung saat Lailah tidak memperhatikan

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”

“…… Aku sedang memikirkannya.”

“Aku tidak berhak mengatakan ini, tapi masalah seperti ini akan menjadi lebih sulit untuk ditangani jika kau tidak menyelesaikannya dengan cepat.”

“Aku tidak ingin diberitahu olehmu. Cepatlah berdamai dengan dia. “

“Bukankah aku menunggunya di luar untuk melakukannya?”

“Biarkan aku mengatakan ini dulu, kau sebaiknya tidak bertindak seperti dia. Sikap Emi yang keras kepala itu tidak normal. Jika kau tidak bisa membuatnya bahagia, dia akan lebih bersikap dingin dariku. ”

“Apakah, begitu?”

“…… Siapa yang kau sebut bersikap dingin?”

Saat suara Lailah terhenti, Emi mengerutkan kening dan mengeluh di tempat yang tidak bisa mereka lihat.

“Dia memang menjalani kehidupan yang keras, jadi dia tidak akan percaya dengan orang lain begitu mudah. Tanpa memperhitungkan Chi-chan dan Suzuki Rika, Suzuno, yang sekarang memiliki hubungan yang baik dengannya,pada awalnya Emi telah menunjukkan sikap waspada pada Suzuno. ”

“…… Tapi tidak terlihat tanda-tanda seperti itu.”

“Maksudku yang sekarang. Kau hanya tahu hal tentang Emi pada saat dia baru lahir dan akhir-akhir ini saja, kan? ”

“Bukankah kau sama saja denganku ?!”

“Setidaknya aku masih punya keuntungan dalam satu tahun terakhir ini. Bagaimanapun, kami sudah sering berkumpul gak jelas. ”

“…… Apa maksudmu gak jelas?”

Kerut kening Emi semakin dalam

“Dia paling membenci hal yang tidak masuk akal, bahkan jika itu bisa dijelaskan, dia akan bertindak berdasarkan emosinya apabila dia tidak bisa menerimanya, diapun akan menjadi emosi dengan cepat.”

Emi tidak bisa melihat ekspresi wajah Maou karena berada di balik dinding, tapi dia pasti sedang mengeluh dan cemberut.

Namun, meskipun seseorang mengatakan hal-hal buruk tentang dia di belakangnya tanpa menahan diri, Emi anehnya sama sekali tidak merasa marah.

“……Apa.”

Menggantikan perasaan itu dengan pemikiran ‘tidak perlu mengartikanya secara negatif’, dan pikiran itu muncul di hati Emi seperti noda kari pada saputangan putih yang tidak dapat dibersihkan dengan mudah.

“hmmm~”

Di sisi lain, itu adalah sisi buruk manusia yang membicarakan hal buruk tentang putrinya, tetapi Lailah bertindak seperti dia tidak tertarik pada hal itu.

Emi merasa lebih marah karena hal ini.

Perasaan yang rumit ini berasal dari posisinya sebagai anak, tetapi karena Emi tidak mau mengakui ini, dia membiarkan itu.

“Sehubungan dengan Alas=Ramus, dia benar-benar menangani sendiri hal ini dengan baik. Namun, selama liburan, Emi masih sering datang kemari seolah hal yang wajar untuk dilakukan meskipun dia sering bilang bahwa aku adalah pengaruh buruk bagi Alas=Ramus. Biarpun begitu, Alas=Ramus merasa senang karena hal ini, dan itu akan menjadi lebih mudah bagi Emi”

“Oh….begitu.”

“Hei, sikap macam apa itu …… ya? Mengapa kita membahas tentang ini? ”

Lailah menunjukkan rasa ketidaktertarikanya, dan Maou tersadar karena ini.

“Kita berbicara tentang bagaimana sulitnya membuatku dan Emilia untuk berdamai.”

“Ah, itu benar, itu benar.”

Maou telah memahami situasinya, tetapi dia tetap diam setelah kehilangan momentumnya.

Untuk menghindari pembicaraan yg lebih buruk, dan untuk menghentikan noda pada saputangan putih di hatinya agar tidak menyebar lebih jauh, ketika Emi berpikir bahwa sudah waktunya untuk muncul––

“Kau mengerti Emilia dengan baik, huh.”

— Kalimat Lailah menyebabkan Emi terdiam di tempatnya.

“……Hah? Apa yang kau bicarakan……”

“Apa yang disukai Emilia, apa yang dia benci, apa yang biasanya dia pikirkan, kau telah membicarakan tentang semuanya. Itu karena kau telah mengamati Emilia dengan baik, bukan? ”

“…ugh..”

Emi menarik napas, dan merasakan wajahnya memanas pada saat bersamaan.

Emi tidak bisa menyembunyikan kebingungan yang dirasakannya, dan dia duduk di tanah dan tetap bersembunyi

“Apa yang salah denganku, sekarang …”

“Kau mengatakan sesuatu yang bisa disalahpahami …”

“Hanya ada kau dan aku di sini, siapa lagi yang berada di sini yang akan salah paham? Ketika kau bertarung dengan Gabriel sebelumnya, kau juga mempertimbangkan perasaan Emilia dan mengkhawatirkannya, kan? ”

“Jangan membicarakan tentang kejadian waktu itu.”

Suara Maou sedikit samar. Dia mungkin memegang kepalanya sendiri dan merasa terganggu karenanya.

“Tidak perlu merasa malu.”

“Aku tidak merasa malu. Dan daripada mengatakan bahwa aku mengamatinya dari dekat, itu lebih seperti aku tidak punya pilihan selain melakukannya! Tanpa mempertimbangkan kejadian baru-baru ini, itu normal bagiku untuk dibunuh olehnya kapan saja. Jika saja aku tidak memperhatikan setiap gerakannya, kepalaku mungkin sudah hilang. ”

“Tapi, kau masih mengamatinya, kan?”

“Jangan paksakan percakapan ini ke arah itu!”

“Kalau begitu, karenanya, kau tidak memperhatikan Chiho, yang telah memberikanmu suasana yang nyaman.”

“………….”

“eh….”

Lailah menyebutkan nama Chiho pada saat yang tidak terduga, menyebabkan Maou terdiam. Emi juga membelalakkan matanya karena terkejut.

Maou tidak memperhatikan Chiho?

“Kau terdiam hanya karena mendengar ini, jujur sekali.”

“…… Bukankah kau yang bilang padaku bahwa apapun yang aku pikirkan hanyalah sebuah alasan?”

“Itu benar.”

Emi merasa seolah Lailah menunjukkan senyum masamnya.

“Bahkan jika aku ingin membuat alasan, tidak ada artinya untuk memberitahumu. Jika aku tidak menjelaskannya dengan benar kepada Ashiya dan Suzuno, atau bahkan Chi-chan, aku tidak akan dapat masuk kembali ke rumah. Selain itu, diusir dari rumah merupakan hal yang buruk, mengapa aku harus menunggu sampai Emi kembali untuk dapat kembali masuk ke dalam rumah? ”

“Bisa jadi karena timing yang pas, atau karena alasan lain. Apapun itu, kau tidak bisa pergi ke rumah Chiho-san dan mengganggunya, kan? ”

“Jika aku melakukan hal yang bodoh, itu mungkin akan membuat orang tua Chi-chan berpikir buruk tentangnya.”

“Kau bisa berpikir dengan sangat baik tentang hal ini, jadi kenapa kau menjadi ceroboh ketika berada pada situasi yang mudah dimengerti?”

“Tentang hal itu, mungkin seperti apa yang Suzuno, Ashiya, dan kau katakan, aku mencari alasan dan berbohong padanya.”

“Mungkin”

“Hahhhhhhh, kembalilah segera, Emi … kalau tidak aku mungkin akan kedinginan.”

Maou dan Lailah mengakhiri percakapan mereka dan apartemen diselimuti keheningan.

Pada akhirnya, setelah menguping di dalam dinginnya malam selama beberapa waktu, semua yang Emi ketahui adalah bahwa sebelum dia kembali, Maou sepertinya kurang memperhatikan Chiho, dan dia diusir dari rumah.

Di sisi lain, Lailah telah membuktikan bahwa dibandingkan dengan Chiho, Maou tampaknya lebih memahami Emi.

Karena itu, Maou membuat Chiho merasa tidak senang.

“…… Apa, apakah itu hal yang baik atau hal buruk karena aku telah mengetahui hal ini?”

Kurang lebih Emi sudah memahami situasinya

Dan karena dia mengerti ini, Emi merasa cemas.

Emi tidak tahu apa yang dikatakan Maou, mungkin kata-kata dan tindakannya menyebabkan Chiho berpikir seperti itu.

Namun, satu hal yang pasti.

Chiho merasa cemburu dengan apa yang terjadi diantara Maou dan Emi.

“A-apa yang harus aku lakukan ……”

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded