Hataraku Maou-sama Volume 13 Chapter 2 Part 4 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Rozen
  • Editor : Scraba

Tak dapat dipungkiri bahwa Chiho memang merasa seperti itu.

Bahkan jika Emi mulai ragu karena Lailah yang tiba-tiba muncul pada saat keributan yang ditimbulkan Iron, dia baru saja memanfaatkan kebaikan Maou dengan alasan kegagalan dan sebagainya.

“Tunggu, aku tidak bisa langsung mengambil kesimpulan. Aku harus bertanya pada Bell tentang situasinya terlebih dahulu, dan meminta maaf kepada Chiho karena membuatnya salah paham …… ”

Jika itu di masa lalu, Emi mungkin akan mengatakan bahwa dia hanya memanfaatkan Maou. Namun, sekarang berbeda.
Dia sangat membutuhkan Maou.

Dia membiarkan dirinya diperlakukan seperti itu, dia membiarkannya melakukan itu terus-menerus dan Chiho menyadarinya.

“B-Bagaimana aku menjelaskan situasi seperti itu? Setelah menghabiskan waktu yang lama dengan orang yang jahat, lalu, uh, itu kan nama sebuah kota di suatu negara …… ”

Emi memasukan tanganya ke dalam tas untuk mengambil smartphone nya yang bergetar.

Ujung jarinya kering dan layarnya tidak bisa merespon dengan baik.

“Ah!”

Tangan Emi tergelincir dan dia menjatuhkan Smartphonenya ke aspal.

Maou dan Lailah sepertinya tidak mendengar suara itu, tetapi Emi tidak mampu menaha keraguan di hatinya.

Jika dia terus diam di sini, pikirannya akan terasa kacau.

Dia bekerja terlalu lama hari ini, lalu ngobrol hal serius dengan Rika, itu pasti karena otaknya terlalu lelah.

Jika Emi tidak berpikir demikian, dia tidak akan bisa berdiri sekali lagi.

Setelah mengambil Smartphone dengan gerakan yang lambat, Emi berjalan menjauh dari dinding dengan gemetaran dan berjalan menuju pintu masuk apartemen.

Kemudian—

“Ah! Emi! Akhirnya kau pulang! “

“Eh? Ah, E-Emilia, selamat datang kembali …… kya! ”

“Kau dari mana?! Kenapa kau pulang dari arah situ ?! ”

Maou mendorong Lailah menjauh, yang memiliki ekspresi kaku karena tidak tahu bagaimana bersikap di depan Emi, dan bergegas menuruni tangga.

“…… Apa yang kalian berdua lakukan di sini?”

Emi tidak menjawab pertanyaan Maou, lalu Emi berbicara dengan keras dan mengajukan pertanyaan balasan

“Uh, melakukan apa, sebelum kau kembali, aku tidak bisa masuk ke dalam! Pergi dan cari Suzuno cepat! Aku akan mati membeku kalau begini terus! Ashiya! Suzuno! Emi sudah pulang! Dia sudah pulang, jadi tolong biarkan aku masuk! ”

“Ah! Tunggu sebentar……!”

Maou meraih tangan Emi, dan menariknya menaiki tangga begitu saja.

Setelah melewati Lailah yang kebingungan, Emi pun naik keatas koridor.

Ashiya dan Suzuno mengintip dengan bersamaan, melihat keluar dari Ruang 201 dan Ruang 202 mereka masing-masing melotot pada Maou yang membuat banyak keributan, dan mereka berdua masuk ke ruang 201 sambil menggigil.

Maou bersikap kasar karna telah menarik Emi tanpa memberikan penjelasan, tetapi kenyataan bahwa Emi tidak menolak selama dia ditarik yang menyebabkan orang di dalam ruangan itu sendiri merasa terganggu, terguncang, dan tercengang.

Suzuno menatap Maou dengan perasaan tidak senang dan hanya setelah dia masuk ke Kamar 201, dia benar-benar berpaling ke arah Emi dan berkata, “Alas=Ramus sudah tidur, jadi jangan berisik. Dan Lailah seharusnya berada di luar, apakah kau sudah berbicara dengannya? ”

“…… Ah, ya. Bell, aku kembali …… ”

Emi menanggapi Suzuno tanpa menjawab pertanyaan itu.

“Hm? O-oh. Selamat datang kembali. Kalau begitu, jika kalian berdua telah selesai berbicara, aku ingin membicarakan sesuatu dengan kau tentang Chiho-dono. Aku minta maaf, melakukan ini meskipun kau sudah sangat lelah, aku akan menyeduh teh, tolong tunggu sebentar …… ”

“Emilia? Erhm, maafkan aku, datang untuk mencarimu ketika kau baru pulang kerja dan merasa lelah, maaf, erhm, aku punya sesuatu untuk ditanyakan padamu … .. Bell-san, aku minta maaf, aku belum selesai. ”

Pada saat ini, Lailah melihat dari teras di koridor untuk mencari tahu apa yang sedang mereka berdua lakukan.

“Apa yang salah, apakah kalian berdua belum selesai berbicara?”

“” Ini bukan saatnya membicarakan hal itu. “”

Suara ibu dan anak saling tumpang tindih secara kebetulan.

“Hm? Apa yang salah?”

“Ah, itu bukan apa-apa. Erhm, ada apa dengan Chiho-chan …… ”

“Dalam hal ini, Lailah yang pertama dulu. Lailah, tolong selesaikan bicaranya. ”

“Y-ya. Sebenarnya, Emilia …… Emilia? ”

Meskipun Suzuno dan Lailah berbicara padanya, Emi masih kelihatannya terganggu. Mereka berdua kebingungan, tapi masih terus berbicara.

“Aku dengar kok.”

“A-aku mengerti. Sebenarnya, erhm, besok lusa, Maou dan Chiho-san akan datang ke rumahku …… di Tokyo …… aku harap kau juga ikut. ”

“……Rumah? Maou dan Chiho-chan? “

“I-itu benar. Aku mendengar bahwa kau, Maou dan Chiho-san selesai bekerja pada malam hari, jadi silakan datang … erhm, mari minta ayahmu untuk datang juga. Apakah, apakah itu tidak masalah. Jika kau tidak keberatan, Emerada-san dan Bell-san juga boleh datang. ”

“Aku mengerti…”

Lailah berbicara dengan gelisah, dan Emi menjawab dengan tidak jelas, itu membuatnya sulit untuk mengatakan apakah dia mengerti atau tidak.

“Mengenai Alsiel-san dan Lucifer, mereka tidak punya kegiatan, tetapi mereka sepertinya tidak mau datang …… erhm, berhubungan dengan hal-hal yang tidak jelas atau yang telah terjadi hingga saat ini, aku akan menjelaskannya dengan benar, dan aku punya sesuatu untuk diberikan kepadamu juga …… ”

Bukankah Ashiya punya rencana besok lusa?

Informasi yang Emi terima dari apa yang dikatakan Lailah jelas berbeda dari topik utama.

Sehari setelah teman baiknya mengatakan bahwa dia menyukai Ashiya dan akan menyampaikan kemenangannya setelah memahami segalanya.

Ashiya akan tinggal di apartemen, dan tidak ada rencana kemana-mana.

Perasaan Rika.

Perasaan Chiho.

Perasaannya sendiri.

Hati manusia yang terlihat tetapi sebenarnya tidak terlihat sama sekali.

Itu adalah halangan yang cukup besar untuk mengubah hidup mereka, tetapi itu tidak akan berdampak apa pun pada dunia. Hampir kehilangan dirinya dalam luapan perasaan yang berlalu sejak dahulu––

“Lakukan sesukamu. Aku tidak tertarik.”

Ketika Emi sadar, dia sudah menjawab seperti itu.

“Eh…”

“Emilia, apa kau baik-baik saja?”

Tanggapan Emi menyebabkan Lailah menjadi tidak bisa berkata-kata sepertinya dia terkejut, dan Suzuno juga terkejut dan memastikanya lagi.

“Tidak banyak yang akan berubah bahkan jika aku pergi, apa yang kau ingin aku lakukan itu tidak akan berubah, kan?”

“T-Tapi aku ingin menunjukkan kepadamu kejujuranku. Aku telah bertindak semauku dan sulit untuk ditemukan, tetapi aku akan membuktikan kepada kalian semua bahwa aku tidak akan melakukannya lagi … ”

“Tidak apa-apa asalkan kau memiliki niat untuk melakukannya. Jika Maou dan Chiho-chan bisa mengakui ini, tidak ada yang buruk tentang itu. Namun, bagiku, bahkan setelah melihat tempat dimana kau tinggal, aku tidak akan mendapatkan sesuatu yang baik dari itu. ”

“M-mungkin kau benar tentang itu ……”

“Kehidupan Maou seperti ini, dan kehidupan Sariel dan Gabriel di sini tidak berbeda dari orang Jepang yang biasa. Kau juga seperti itu, kan? Kalau begitu, aku tidak mau seenaknya pergi dan menyaksikan . Aku minta maaf karena harus membuatmu menungguku dalam cuaca dingin ini, tetapi aku tidak akan pergi begiitu saja, selamat malam. ”

“E-Emilia!”

“Lailah, maafkan aku.”

Suzuno melihat bahwa Emi telah membuat keputusannya dan kelihatanya dia tidak ragu sedikitpun, sehingga ia menghalangi jalan Lailah, membiarkan Emi masuk ruangan.

Setelah Lailah mendengar jawabannya dia pun menghilang dari balik pintu ketika pintu itu tertutup, Suzuno berlutut di sebelah Alas = Ramus yang sedang tidur di sudut kasur Suzuno, dan berbicara dengan lembut kepada Emi yang sedang membelai rambut putrinya dengan lembut.

“Emilia …… apa kau baik-baik saja?”

“Barusan itu, apakah itu hal penting yang Bell sebutkan melalui telepon?”

“Y-ya. Erhm, karena Maou mengatakan bahwa dia tidak ingin pergi ke rumah Lailah kalau tidak ada Emilia, dia meminta Lailah untuk secara pribadi mengundang Emilia …… ”

Suzuno berbicara tentang tujuan Maou sebenarnya.

“Apakah begitu? Aku jadi merasa tidak enak pada Maou. Jarang baginya menunjukkan perhatian kepadaku. “

“Uh, hm?”

Emi tidak berprasangka buruk pada Lailah, tetapi merasa kasihan pada Maou. Suzuno merasa bahwa itu agak aneh, tapi dia menyadari bahwa itu bukan ide yang baik untuk terus membicarakan tentang Lailah, jadi dia menaikkan suaranya sedikit dan mengganti topik.

“L-Lalu. Bagaimana bisa Maou terkurung di luar? Aku sebenarnya berencana menguncinya di luar sepanjang malam, tetapi Alsiel terus menginginkan agar aku berkompromi sampai Emilia kembali, jadi aku tidak punya pilihan selain setuju. Aku sebenarnya ingin bertemu dengan Chiho-dono malam ini …… ”

“Maou pasti akan lebih menyayangi Chiho-chan dari pada aku, kau tahu.”

“Maou sialan itu, benar-benar memanfaatkan niat baik Chiho-dono, menjadikan Chiho-dono untuk … apa?”

“Maou tidak terlalu menganggapku.”

“E-Emilia?” Suzuno bertanya dengan tiba-tiba

“Apakah Maou mengatakan sesuatu? Atau apakah kau bertemu Chiho-dono di suatu tempat ……? ”

“Tidak keduanya.”

Emi terus membelai rambut Alas = Ramus rambut dengan tenang.

“Sebenarnya, Maou itu baik kepada siapa pun. Dia bahkan melihatku sebagai teman meskipun aku ingin membunuhnya. Dia baru saja menjadi lebih peduli kepadaku akhir-akhir ini karena aku terseret dalam masalah dan merubah suasana. Bagi Maou, Aku tidak pantas di ‘istimewakan’ karena itu.

“Emilia …… apakah ada sesuatu yang terjadi?”

“Buktinya, Maou bersikap baik kepada Lailah juga, kan? Dia terus mengeluh tentang Lailah, tapi dia dengan sabar menunggu Lailah memikirkan metode yang cocok. Dia bahkan memikirkan kondisi negosiasi sehingga Lailah dan aku bisa berdamai. ”

Alas=Ramus, yang ditepuk, berguling dan menjauh dari tangan Emi. Tangan Emi terhenti sejenak.

“Hei, Bell. Satu-satunya yang paling disayangi Maou ….. dan ingin berinteraksi dengan dia, adalah Chiho-chan. Menurutmu apa yang harus kulakukan agar Chiho-chan bisa mengerti ini? ”

“I-itu ……”

Suzuno terdiam sejenak.

“Apakah Maou harus mengambil tindakannya sendiri?”

“I-itu, kalau tentang itu, Alsiel dan aku tadi sudah memberikan masukan pada Maou ……”

“Itu benar. Pikirkan hal itu dengan hati-hati, Maou tampaknya sangat menyayangi Chiho-chan, tetapi sebaliknya Maou lah yang disayangi sebenarnya. ”

“Y-ya, jadi ……”

“Jadi aku harap Maou menghargai itu.”

“Eh?”

“……Tidak untuk hari ini. Karena aku baru saja selesai membicarakan banyak topik yang rumit, aku juga mulai memikirkan hal-hal yang aneh. ”

Emi menurunkan tangannya dan menghela nafas.

“Hei, Bell. Aku seharusnya tidak mengatakan hal seperti ini, tetapi aku merasa benar-benar perlu meluapkan emosiku kepada seseorang. Ini juga demi membagi perasaanku, kuharap kau bisa menyimpan rahasia setelah mendengarkan semuanya. ”

“I-iya.”

Suzuno menjawab dengan lirih sambil berdiri.

“Ketika Lailah mengundangku ke rumahnya, apa kau tahu apa yang pertama aku pikirkan?”

Suzuno tidak bisa menjawab.

Karena tidak peduli seberapa banyak dia memikirkannya, itu sepertinya bukan jawaban yang tepat.

Dan apa yang dikatakan Emi selanjutnya benar-benar diluar ekspektasi Suzuno.

“Maou, bahkan belum pergi ke rumah musuhnya ……. rumah dari Pahlawan Emilia. Tapi dia ingin pergi ke rumah Lailah, bukankah kau pikir itu sebuah lelucon? ”

“Emilia …… bisakah kau …”

“…… Hei, dengan ini, apakah kau bisa mengerti betapa kacaunya pikiranku sekarang?”

Emi melihat ke arah Suzuno dengan wajah yang lesu.

“Aku tidak mengerti. Aku sudah serius memikirkan berbagai macam kemungkinan, dan aku juga tidak mencoba menyembunyikan atau mengnyingkirkan apapun. Hal ini jelas berbeda. Walaupun demikian, meski aku memiliki prasangka seperti itu. Pria itu tidak pernah datang ke rumahku. Dengan kondisi batinku yang seperti ini, aku benar-benar tidak bisa mendiskusikan apapun denganmu. Aku yang sekarang hanya akan mengganggu Chiho-chan yang akan bertemu dengannya. Jadi sebaiknya besok lusa aku tidak akan pergi. Jika aku pergi kesana dalam keadaan seperti ini, rasanya aku akan berakhir dengan mendengarkan apa yang Lailah katakan dan sedikit demi sedikit mulai menghindari Chiho-chan dan Maou…. Bagaimanapun aku terlihat aneh, kan?”

“…… Kau sama sekali tidak aneh.”

Suzuno duduk di depan Emi dan memeluk bahunya erat-erat.

“Baik itu Emilia atau aku, perubahan di lingkungan sekitar kita terlalu banyak, dan semua ini terjadi dalam kurun waktu yang singkat setelah kita datang ke negara ini. Kita harus menyesuaikan keadaan. ”

“Bell….?”

“Kita perlu menyesuaikan dengan keadaan”

Suzuno dengan mengulangi kalimat ini di telinga Emi denga perlahan.

“Chiho-dono juga menangis setelah memikirkan tentangmu Emilia. Dia marah pada dirinya sendiri karena merasa cemburu atas hal-hal kecil seperti itu, karena tidak mampu menahan perasaannya, dan bahkan meminta maaf karena merasa cemburu pada saat menangis. Kita semua lupa bahwa di lingkungan sekitar Chiho-dono juga, mengalami perubahan besar juga terjadi dalam waktu singkat. Ini karena kekuatan kemauan yang dimiliki oleh Chiho-dono. ”

Dan alasan Chiho untuk mempertahankan kekuatan kemauanya adalah sesuatu yang tidak bisa dengan mudah dimengerti oleh Emi dan Suzuno.

Keyakinan dalam hati Chicho yang membuatnya bertahan.

Bergantung pada kemauan itu, Chiho menjalani hidupnya bersama dengan penduduk yang memiliki kekuatan luar biasa dari dunia lain.

Chiho berusaha membuat semua orang berbagi pikiran mereka satu sama lain, menghargai bagian-bagian yang tidak mereka miliki bersama, berusaha sebaik mungkin untuk tidak menjadi beban, dan berharap dia bisa terus berteman dengan Emi, Ashiya, Urushihara, dan Suzuno , ini semua yang ada dalam pikirannya.

Pondasi dari semua ini adalah keyakinannya terhadap perasaannya pada Maou.

“Semua orang masih belum terbiasa dengan perubahan ini. Sesungguhnya, ada dinding yang dikenal sebagai dunia lain dan kekuatan antara kita dan Chiho-dono, dan hanya Chiho-dono yang bisa melihat dinding itu. Dan dia adalah orang yang bisa memindahkannya …… ”

“Apa itu Maou ……? Serius …… lelucon macam apa itu. ”

“Setelah dinding itu dipindahkan, Chiho-dono dan kita bisa berdiri di tempat yang sama. Dan selama ini, hanya Chiho-dono yang memegang ‘keyakinan’ terhadap perasaannya sendiri. “

Suzuno memalingkan muka dari Emi.

“Aku akan mengucapkan selamat pada Chiho-dono.”

“Lalu apakah ada ‘keyakinan’ lain di tempat itu?”

“Pada saat itu ……” Suzuno berkata sambil tersenyum, “kita pasti akan menjadi teman sejati tanpa ada hambatan di antara kita.”

Dengan punggungnya bersandar di dinding kamar Suzuno, Lailah duduk di lantai koridor.

“Emilia……”

Dia bergumam pelan seolah dia sedang merintih, dan pada saat itu, pintu di koridor terbuka.

“Apakah itu tidak bagus?”

Nord Justina bertanya pada Lailah dengan cemas.

“Aku tahu dengan jelas di hatiku bahwa aku tidak bisa terburu-buru.”

Lailah menunduk dan menghela nafas.

“Tetapi apa yang telah aku lakukan dengan hidupku selama ini? Aku telah hidup selama beberapa ribu tahun, tetapi bahkan aku tidak tahu cara yang baik untuk berdamai dengan putriku. ”

“Jika saja ada seseorang yang tahu bagaimana caranya orang tua untuk berkomunikasi dengan anak-anak mereka dengan mudah … ….”

Nord berlutut dihadapan Lailah, memegang tangannya dan menariknya untuk berdiri.

“…… Maka orang itu pasti akan membuat sejarah bagi umat manusia.”

Munculah sebuah senyuman pada ekspresi Nord yang biasanya keras, dan ayah dari seorang anak perempuan membuat istrinya tersenyum.

“Pasti akan ada kesempatan di masa depan. Karena kalian berdua masih hidup, dan telah berhasil bersatu kembali di dunia yang damai ini. ”

“……Ya.”

Lailah mengangguk, dan Nord menariknya, mereka berdua meninggalkan koridor lantai dua.

“Hidup tidak bisa diprediksi. Aku tidak pernah menduga bahwa aku akan tinggal di apartemen yang sama dengan Maou pada saat ini. Mengingat bahwa semua ini bisa terjadi, aku merasa bahwa suatu saat seorang ibu dan seorang putri yang keras kepala dengan pendapat mereka sendiri, bisa berdamai satu samalain dengan sendirinya suatu saat nanti. ”

“Pada saat itu, kau harus ada di sana. Karena kita bertiga adalah satu keluarga. ”

“Ya. Itu Benar …… baiklah, mari kita masuk ke dalam. Diluar dingin.”

“Hai sayang.”

“Hmm?”

Suami dan istri saling berhadapan dan mengobrol di tengah tangga.

“Aku benar-benar merasa cemas sekarang. Rasanya seperti ini adalah kesempatan terakhirku. Jika aku melewatkan kesempatan ini, aku tidak akan percaya diri untuk berkeliaran selama beberapa ratus tahun lagi. ”

“Jika Emilia dan kau bisa terus hidup sambil mempertahankan penampilan masa muda kalian, maka aku pikir itu baik-baik saja.”

“Aku tidak mau itu. Ini tidak berarti aku sudah lelah hidup, tetapi aku ingin menjadi ‘manusia’. Dan kuharap Emilia dapat mempertahankan identitasnya sebagai ‘manusia’. Aku ingin menjadi seperti keluarga yang tak terhitung jumlahnya yang ada di dunia ini, di alam semesta ini, hidup sambil menyayangi setiap hari, lalu mati. Selain menghabiskan hidupku bersamamu dan Emilia, aku tidak bisa membayangkan hidup dengan cara lain. ”

“….Kalau begitu sekarang adalah waktunya untuk bersabar dan menunggu”

Sang suami memegang tangan istrinya dan berjalan menuruni tangga dengan hati-hati.

“Akan lebih baik jika aku bisa membantu … pada saat seperti ini, aku benar-benar benci kalau aku hanya manusia biasa. Kalau saja aku memiliki kekuatan untuk melindungi kalian berdua. ”

“Itu karena kau yang membuatku menjadi seperti ‘ manusia ’. Bagiku, ini sudah merupakan hadiah yang luar biasa. ”

Sang istri mencium pipi suaminya, dan mengatakan ini sambil senyum.

“Terima kasih sayang. Dengan ini, aku besok bisa berkerja keras tanpa menyerah. ”

“Yeah.”

“dan…”

“hmm…”

“Erhm … jangan, terkejut saat melihat rumahku, oke?”

“Hm? Apa yang salah? Mungkinkah kau tinggal di rumah yang sangat mewah? ”

“Tidak, itu bukan karena alasan semacam itu …… lagi pula, aku akan bekerja keras sehingga kalian semua bisa datang ke tempatku lusa nanti.”

“Aku tidak begitu mengerti, tapi aku menantikannya.”

Percakapan antara suami dan istri lenyap di dalam Kamar 101, dan tak lama setelah itu, lampu-lampu apartemen padam sepenuhnya. Pada saat suasana hening di Sasazuka pada malam itu, waktu sudah menunjukan pukul 2 pagi.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded