Hataraku Maou-sama Volume 13 Chapter 3 Part 1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Rozen
  • Editor : Scraba

Gadis SMA, Menemukan Tambatan Hatinya

Bel yang menandakan jam istirahat makan siang berdering. Di dalam kelas yang dipenuhi dengan suasana kebebasan, hanya ada satu orang yang duduk di meja yang tidak bergerak sama sekali seolah-olah terpaku disana. Ketika suara lonceng berhenti, dia hampir jatuh dari atas meja dengan pelan sehingga menyerupai time lapse dalam potographi, lalu dia berhenti bergerak.

“Hei, Yoshiya”

“Hah”

“Apa kau mendengar sesuatu?”

Tokairin Kaori, dari kelas 2-A Sasahata High School, berbisik dan duduk di dekat kursi Emura Yoshiya, dia adalah teman masa kecilnya, teman sekelas, serta anggota klub yang sama.

“Bagaimana, tentang Sasaki?”

Yoshiya tau apa yang Kaori ingin tanyakan, dan menjawabnya dengan menggelengkan kepala. Teman sekelas mereka, sesama anggota klub, dan teman yang mereka kenal sejak mereka masuk sekolah menengah – Sasaki Chiho –– sepertinya tidak bersemangat sejak pagi.

Dia terlihat bimbang pada saat dia dipanggil di kelas. Ketika kelas telah usai, dia terlihat bersedih diatas meja. Mereka merasa khawatir, Kaori meminta Chiho menceritakan apa yang telah terjadi, tapi dia membalasnya dengan senyum yang terpaksa––

“Maaf sudah membuat kalian khawatir. Aku cuma lupa membawa dompet, ponsel, kartu rencana masa depan, alat tulis, dan dua buku catatan yang tertinggal di rumah, jadi aku sungguh baik-baik saja. ”

Karena mereka mengenal Chiho dengan baik, setelah mendengar alasan yang diberikan Chiho pasti akan membuat mereka merasa bahwa ada sesuatu yang dia sembunyikan.

Itu tidak masalah kalau dia cuma melupakan kartu rencana masa depan dan alat tulisnya, tetapi jika Chiho benar-benar lupa membawa yang lainnya juga, orang lain akan mulai khawatir kepadanya.

“Jika kau belum mendengar apapun tentangnya, bagaimana mungkin aku bisa tahu ?”

“Itu benar. Tapi dia sepertinya tidak berencana untuk makan …… ”

“Kalau itu karena dia lupa membawa dompetnya, kita berdua bisa meminjamkan uang padanya, tapi bukankah Sasaki biasanya makan bento?”

“Dia tidak makan bento setiap hari.”

Mereka memang teman baik, tetapi selain kegiatan di klub, Yoshiya jarang bersama dengan Kaori dan Chiho saat di sekolah.

Pada saat ini, para perempuan memiliki kelompok sendiri dan laki-laki juga memiliki kelompok sendiri.

Chiho biasanya makan siang bersama Kaori, dan mereka berdua kadang pergi ke kantin untuk makan bersama dengan teman sekelas mereka yang lain, tetapi biasanya Chiho 70% akan makan bento dan 30% dia akan pergi ke kantin.

“Bento …… bento ya ……?”

“Apa itu?”

“Hm ~ itu bukan urusanmu.”

“Hei, apa maksudmu bukan urusanku?”

Kaori mulai mengawali pembicaraan, namun Yoshiya mengakhiri pembicaraan itu, dan menyebabkan dia kecewa.

“Aku adalah seorang ketua klub. Aku harus menunjukan perhatianku pada saat ada salah satu anggota klub yang sedang depresi. ”

Chiho, Kaori dan Yoshiya mereka adalah siswa tahun kedua dari klub memanah di SMA Sasahata, dan setelah siswa tahun ketiga mengundurkan diri, Emura Yoshiya menjadi ketua klub, itu membuat terkejut semua orang di sekolah.

Chiho adalah orang yang bisa diandalkan dan memiliki kemampuan, Kaori orang yang mudah bergaul dan peduli juniornya. Ketika semua orang berpikir bahwa salah satu dari mereka yang akan menjadi ketua klub berikutnya, secara tidak terduga Yoshiya terpilih menjadi ketua klub.

Alasannya hanya karena Yoshiya telah mengajak juniornya di SMP bergabung ke dalam klub, yang membuat klub memanah SMA Sasahata memenuhi syarat jumlah anggota untuk berpartisipasi dalam kompetisi memanah campuran.

Mengingat bahwa ada empat orang siswa tahun pertama dan siswi yang tersisa adalah junior dari Yoshiya, Kaori menyarankan, “Kalau begitu, kita punya Yoshiya, yang memiliki pengaruh besar, menjadi ketua. Kami berdua akan membantumu sebagai wakil ketua. ”

Chiho juga setuju, ini adalah sesuatu yang terjadi di musim panas

Selama Kompetisi di kota Tokyo pada saat musim panas, Chiho dan yang lainnya tersingkir di perempatfinal dalam pertandingan grup dan kompetisi individu, tetapi dalam kompetisi grup, dengan Chiho sebagai Oomae (pesaing pertama– Maju), dan Kaori sebagai Ochi ( Pesaing kelima –– Umum), mereka menang sampai perempat final, jadi mereka telah mendapatkan hasil yang memuaskan.

Kemudian, Kaori berpikir bahwa bento Chicho mulai terlihat berbeda pada saat musim panas itu.

Menurut pendapat Kaori, bento Chiho sekarang terlihat lebih mewah.

Dilihat dari setelah kompetisi musim panas berakhir, kotak bento Chicho ukurannya menjadi lebih besar, dan isinya bukan makanan beku, isinya adalah makanan yang dibuat dengan penuh usaha.

“Hmmm”

“Tokairin”

“Uh ~ sepertinya aku sama sekali tidak tahu mengenai hal ini. Sebelum kegiatan klub dimulai, aku akan mencari cara untuk menghiburnya. ”

“Baiklah kalau begitu? Aku akan menyerahkan itu padamu! ”

Kaori berkata bahwa dia akan menanganinya, dan Yoshiya menyerahkan semuanya kepada Kaori

Para junior juga menyadari bahwa segala sesuatunya akan lebih mudah jika mereka menyerahkannya kepada Chiho atau Kaori untuk ditangani, tetapi tanpa mempertimbangkan ini, apabila ada kejadian yang buruk, Yoshiya tanpa mempertimbangkan apapun; bisa membuat semuanya menjadi lebih baik, dan sosok yang bersedia melakukan segalanya akan membuat pengaruh yang besar dalam klub.

Dibandingkan dengan masalah yang dialaminya pada awal musim semi ketika memikirkan masa depannya, Yoshiya tampaknya sudah menemukan jati dirinya dan dia telah memperoleh kembali keceriaanya seperti biasa.

Meskipun dia telah dipengaruhi oleh sikap dan tindakan dari Chiho, menurut pendapat Kaori, akan lebih sulit untuk menangani Yoshiya jika dia tidak bertindak seperti ini.

Pada saat yang sama, Chiho, yang tetap diam dan menolak mengatakan sepatah katapun, ini menjadi lebih sulit ditangani dari pada masalah Yoshiya kemarin.

Jika mereka tidak bisa membuat Chiho mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dan mengembalikan lagi semangatnya, itu akan membuat semua orang khawatir.

“Sasachi ~ apa kau sedang tidak enak badan hari ini? Sepertinya kau belum makan. ”

Kaori duduk di kursi kosong di depan Chiho dan berbicara padanya saat dia hampir jatuh dari atas meja.

Lalu—

“…… Tidak, aku sangat lapar.”

Chiho menjawab dengan penuh semangat dan terlihat lebih bersemangat dari apa yang Kaori bayangkan.

“Aku mengerti. Kita tidak akan dapat kursi jika pergi ke kantin sekarang, jadi kenapa kita tidak makan di sini saja? Tadi kau bilang kau lupa membawa uang, tetapi aku tidak habis pikir kau sampai lupa membawa bentomu juga.”

“Aku lupa membawanya”

“Hei!”

Kaori tidak bisa menahan tertawanya

“Kalau begitu, Yoshiya akan mentraktirmu makan nasi kari atau udon di kantin. Dua makanan itu, seharusnya masih tersedia. ”

Kantin SMA Sasahata sama seperti kanti sekolah pada umumnya, persaingan untuk membeli makan siang sangat sengit, tetapi itu sudah ada di bawah peraturan sekolah , hanya nasi kari dan udon memiliki lebih banyak persediaan, jadi masih akan ada sisa saat keadaan dalam persaingan membeli makanan sudah mulai tenang. Harganya juga murah hanya 200 yen. Harga itu sudah di tetapkan oleh pihak sekolah sehingga harga tersebut terjangkau bagi murid.

“….”

Chiho merasa bingung, dan dia sedikit ragu

“Itu adalah makanan yang tidak ingin kumakan hari ini. Maaf.”

“nasi kari dan udon?”

“iyaa”

“Bagaimana bisa kau tidak menyukai nasi kari dan udon?”

“…… Aku punya beberapa masalah dengan makanan itu.”

“nasi kari dan udon?”

“iyaa”

“Apakah identitas sebenarnya Sasachi adalah peri soba, sehingga kau menolak untuk menerima sekte jahat dari nasi kari dan udon?”

“Aku orang yang menyukai udon.”

“Sebenarnya itu akan menyebabkan masalah pada ketua kelompokmu sendiri!”

Mereka berdua melanjutkan percakapan yang sudah mulai keluar jalur, dan setelah beberapa saat, Kaori menghela nafas, dan menyesuaikan posisi duduknya lalu melihat sekelilingnya.

Yoshiya tampaknya telah pergi dengan teman laki-lakinya ke kantin, jadi dia tidak terlihat di manapun, kelompok yang sedang makan bento tampaknya fokus mengobrol dengan yang lainnya.

Meskipun begitu, dia masih melihat sekelilingnya,lalu Kaori berbisik kepada Chiho, “Apa kau ditinggalkan?”

“T-Tidak!”

“ugoh!”

“Itu menyakitkan! Pu! “

Chiho mengangkat kepalanya, dan bagian belakang kepala Chiho mengenai wajah Kaori ketika Kaori sedang berbicara di samping telinga Chiho. Lalu wajah Chiho kemudian memantul kembali ke meja dan bagian hidungnya menghantam meja.

Kaori tersungkur ke belakang karena dampak benturan dengan Chiho, dan hampir jatuh dari kursinya. Kemudian—

“Aku merasa sedikit menyesal.”

“Akulah yang seharusnya minta maaf.”

Kemudian Kaori dan Chiho pergi ke UKS bersama.

Gadis-gadis SMA, yang berada di puncak masa muda mereka, mimisan karena saling terbentur di kelas, itu terlihat memalukan.

Setelah mendapat perawatan dari perawat sekolah dan beristirahat sebentar, setelah mimisan mereka berhenti, mereka berdua meninggalkan UKS, dan berjalan di lorong yang tampak gelap karena masih siang diluar.

“lalu?”

“…… Apakah aku harus menceritakannya?”

“Jika kau tidak cerita apapun, maka kita akan makan nasi kari atau udon.”

“Augh…”

“Apa ada yang salah? Mungkinkah nasi kari dan udon itu bukan makanan, dan kau benar-benar tidak menyukai keduanya? ”

Kaori tersenyum dengan gaya yang kacau

“Ini dapat dianggap sebagai hal yang sama, namun itu juga bukan hal yang sama, daripada mengatakan aku tidak menyukainya, itu lebih seperti aku tidak ingin memakannya saat ini”

“Huh, bagaimanapun, mari kita pergi keluar.”

Kaori membawa Chiho ke halaman sekolah.

Beberapa siswa laki-laki yang tidak dikenal sedang bermain sepak bola dengan memakai baju seragam mereka yang sudah berkeringat padahal cuaca hari ini lagi dingin.

Mereka terdiri dari orang yang banyak, dan melihat bagaimana ujung celana mereka sangat rusak karena gesekan, mereka mungkin sering melakukan kegiatan itu.

Kaori dan Chiho bersandar di dinding di pojok gedung sekolah, menunggu kesempatan untuk berbicara.

“Karena kau mau mengikutiku ke sini, apa itu berarti kau mau memberitahuku apa yang terjadi?”

“Jika aku tidak melakukannya, kau mungkin tidak akan mundur untuk membuatku berbicara”

Mencoba untuk mencari tempat di dalam gedung sekolah di mana tidak ada orang pada saat jam istirahat makan siang itu sulit.

Di ujung tangga yang mengarah ke atap biasanya kosong, tetapi tempat itu juga bagus untuk beristirahat sambil menghindari guru, itu juga tempat untuk bermain kartu dan permainan lainnya, jadi persaingan untuk memperebutkan tempat sangat tinggi. Dalam ruang praktikum, laboratorium sains, ruang musik, dan ruang kelas khusus lainnya, siswa yang ikut klub tersebut menggunakannya sebagai tempat mereka berkumpul dan siswa yang memiliki minat yang sama berkumpul disana juga.

Oleh sebab itu, dalam cuaca yang seperti ini, akan lebih mudah untuk mencari tempat yang tidak ada orang sama sekali.

“huhh ….. aku harus mulai darimana ……”

“Lalu? Siapa yang membuatmu seperti ini? Senior dari tempat kerjamu? “

“Kao-chan? aku belum mengatakan apapun ……! ”

Chiho terlihat gelisah dia tidak tau dari mana harus memulai menjelaskannya, dan Kaori langsung ingin tau inti masalah yang terjadi, itu menyebabkan Chiho terkejut sampai melompat ketakutan.

Chiho menyadari bahwa dia tidak akan bisa mengelak tentang apa pun yang dia tanyakan, setelah dia mengatakan itu, Chiho berjongkok dan memeluk kedua lututnya.

Kaori dan Yoshiya pergi ke MgRonalds di depan Stasiun Hatagaya di mana Chiho sering bekerja, Chiho juga bilang ‘senior di tempat kerjanya’ kepada mereka sebelumnya.

Namun, Chiho jarang memperlihatkan kepada Kaori bahwa dirinya bekerja, jadi dia tidak berharap Kaori untuk menyimpulkan kejadian ini dengan tepat.

“Sasachi sangat mudah dimengerti untuk hal yang seperti ini. Berdasarkan informasi yang kudapatkan saat ini, aku berkesimpulan bahwa kau pasti telah gagal mengakui perasaanmu pada saat sedang makan nasi kari atau udon.” 

“situasi macam apa itu?”

Chiho terlihat ingin mengeluh, tapi setelah melihat semua yang terjadi hingga saat ini, dia tau bahwa mungkin situasi yang seperti itu mungkin akan terjadi.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded