Hataraku Maou-sama Volume 13 Chapter 3 Part 6 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Rozen
  • Editor : Scraba

Jika Rika memberi tahu mereka bahwa Ashiya memiliki sihir iblis yang tersembunyi yang cukup untuk berubah ke wujud iblisnya, Emi dan Suzuno yang sedang tidak waspada akan langsung berisaga lagi di sekitar iblis.

Tidak ada untungnya membuat Maou dan yang lainnya menjadi musuh Emi dan yang lainnya.

Dia bukan orang yang seperti itu.

Ketika Chiho merasakan rasa kegelisahan yang tak dapat dijelaskan, Rika menghela nafas dengan kuat.

“Ah ~ aku sangat kenyang. Makanan di sini sangat lezat. Di usia ini, kita tidak bisa meremehkan sushi 100 yen. ”

“Ah, itu luar biasa ……”

“huh…….ah”

Setelah Rika menumpuk total 15 piring, ia menghembuskan nafas dengan berlebihan, lalu menyeduh tehnya lagi.

Pada awalny Chiho mungkin merasa sangat lapar, tetapi karena apa yang dikatakan Rika membuatnya kaget, dia hanya makan lima piring.

“Hey, Chiho-chan”

“iya?”

“lakukan yang terbaik”

“eh..”

“ugpuh….”

Rika mengambil piring keenam belas dari konveyor. Dia sudah terlihat sangat kenyang, tapi dia masih menginginkan salad seafood.

“E-erhm, Suzuki-san, apa kau memaksa dirimu untuk makan?”

“Aku masih ingin makan.”

“Eh?”

Saat dia berbicara, Rika mengambil piring ketujuh belas

Bagaimanapun, ini tampaknya bukan jumlah makanan yang biasa di makan Rika yang bertubuh ramping.

“Jika aku tidak melakukannya, aku tidak akan bisa menanggung ini. Chiho-chan harus menemaniku juga. Aku akan mentraktir hari ini. “

” Ah, tidak, bagaimana mungkin aku bisa melakukannya?”

“Kumohon. Hal seperti ini tidak bisa aku pinta kepada Emi untuk menemaniku. ”

Saat Rika memasukkan makanan ke mulutnya, dia mengambil piring kedelapan belas.

“Pada akhirnya, aku masih tidak mengerti. Bahkan jika Ashiya-san menerima perasaanku, aku pasti tidak akan bisa melakukan apa-apa. Ashiya-san punya masa depan yang ingin dia kejar, dan masa depan ini bukanlah sesuatu yang, aku hanya orang normal yang kebetulan dia temui di Jepang bisa digapai …… tapi …… ”

“Suzuki-san….”

Setelah menempatkan piring kedelapan belas di atas meja, Rika menundukkan kepalanya.

“Tapi, aneh …… meskipun tidak ada dasarnya sama sekali …….. aku selalu merasa bahwa Chiho-chan mungkin bisa mengejar masa depan yang Maou-san inginkan. Jika itu dimulai dari sekarang …… jika itu Chiho-chan yang masih bisa dengan bebas memilih masa depan …… ”

“Bebas memilih masa depanku …… eh?”

Chiho, tidak dapat menyimpulkan tujuan Rika, Chiho berdiri segera karena dia telah menyadari sesuatu.

“Aku mungkin terlihat seperti ini, tapi aku benar-benar terbebani dengan banyak hal.”

“Suzuki-san?”

“Maaf, sepertinya aku bekerja terlalu keras, tetapi setelah perutku kenyang, aku merasa, jauh lebih baik. Makanan di sini, benar-benar enak …… ”

“Ja-jangan menangis, Suzuki-san, bukan seperti itu, karena aku ……”

“Maaf, aku lebih tua darimu tapi aku menunjukkan sisi lemahku padamu , makan tanpa henti seperti ini karena aku habis di tolak, lalu menangis seperti ini, maaf. “

“ugh…..”

Chiho segera berdiri dari kursi yang berlawanan dan bergegas pindah ke sisi Rika.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa.”

Chiho memeluk erat bahu Rika.

“Maaf, Chiho-chan, aku, meski Chiho-chan, pasti juga mengalami keadaan yang sulit.”

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa.”

“Uuuu….uuuu”

Rika membungkuk sedikit ke arah Chiho dan berbicara dengan gigi bergetar,

“Itu akan lebih baik, jika dia bisa mengatakannya … secara langsung, bahwa dia tidak ingin melihatku lagi … dengan itu, aku akan bisa langsung menyerah…”

“…… Karena Ashiya-san adalah orang yang baik.”

“Dia terlalu baik …… karena dia bisa pergi sejauh mungkin, kenapa dia …… harus khawatir tentang keadaanku, aku jadi khawatir …”

“Serius, itu sangat cocok dengan kepribadian yang dimiliki Ashiya-san.”

“Aku menyukai dia …… bahkan sampai saat ini, aku masih menyukainya ……”

Chiho memeluk Rika sampai dia tenang.

Saat itu hampir jam 8 malam ketika dia mengucapkan selamat tinggal kepada Rika.

Ketika mereka berdua berpisah, Rika sudah tenang dan berjalan pulang setelah meminta maaf berulang kali kepada Chiho. Dari belakang sosoknya menghilang jauh ke dalam stasiun, seorang kakak yang biasanya dengan santai menggoda Chiho dan Emi sudah tidak terlihat lagi.

“Suzuki-san…”

Kaori menyarankan kepada Chiho untuk menghadapi perasaannya dengan berani dan menyelesaikannya.

Namun, Rika telah menghadapi perasaannya secara langsung, lalu menderita pukulan berat, dan masih belum bisa menyelesaikan perasaannya dengan baik.

Itu menakutkan.

Dia tidak merasakan hal ini pada saat dia menyatakan perasaanya, tetapi ketika dia ingin tau jawabannya, akankah ada perbedaan yang signifikan dalam hubungannya dengan Maou?

“apa yang harus aku lakukan?”

Jika Rika tidak mampu mengatasi perasaannya itu, apakah dia tidak akan datang ke Villa Sasazuka lagi mulai sekarang, atau tidak bertemu Ashiya lagi?

Rasanya itu sedikit salah.

Untuk seseorang yang berani menghadapi perasaan mereka, apakah mereka masih ingin tetap berada di sisi Ashiya bahkan jika mereka tidak bisa membentuk sebuah ikatan dengannya?

Bukankah orang itu akan hancur karena mereka tidak dapat menggapainya bahkan jika mereka tetap di sisinya?

Tidak peduli bagaimana Chiho memikirkannya, dia tidak dapat menemukan jawaban.

“Eh? Chiho? Apa yang kau lakukan jam segini?

“wah?”

Pada saat itu, seseorang memanggil Chiho dari belakang, dan membuatnya terkejut.

“A-Achies-chan”

Yang berdiri di sana adalah Acies = Ara, makan es cokelat meskipun cuacanya dingin dan membawa kantong plastik berisi camilan.

“Apakah kau pulang dari berkerja?”

“T-Tidak, aku kebetulan sehabis makan di luar, dan ingin pulang …”

“Makan? Sekarang? Bisakah aku ikut? ”

Chiho sudah mengatakan bahwa dia sudah makan, dan Acies, dengan sifat serakahnya, masih menanyakan ini. Chiho tersenyum dan terecengang, dengan sikap sedikit lega.

“Sayangnya, aku sudah kenyang. Dan jika Acies-chan pergi ke tempat lain sehabis ini, es itu akan mencair.”

Chiho menunjuk pada es yang dihisap Acies, dan Acies mengangguk seolah dia baru menyadarinya.

“hm, itu benar”

“Apakah Acies-chan pergi sendirian?”

Chiho mengamati sekelilingnya tetapi tidak melihat Maou, Nord atau Amane, orang-orang yang bertanggung jawab untuk mengawasinya.

“tidak, aku tidak sendirian.”

“eh?”

Chiho tidak melihat yang lainnya, namun Acies mengatakan dia tidak sendirian, dan itu menyebabkan Chiho terdiam.

“Aku keluar untuk makan malam dan bersiap untuk kembali ke rumah, tapi Amane dan Iron tersesat, jadi aku mencari mereka sejak tadi.”

“ugh!”

Chiho mengerti semua situasi ini, dia diam-diam mengeluarkan ponselnya, dan menelpon Amane, yang ada di dalam kontak nomer telpon di handphone nya.

“Oh, Chiho! Apakah kau menemukan Acies? “

Amane, yang mengangkat telponnya setelah satu kali berdering, dia menebak apa yang ingin di beritahukan oleh Chiho.

“iya, di loket tiket di depan Stasiun Sasazuka. Ya, baiklah, tidak masalah, aku akan menunggumu. ”

Chiho menjawab dengan senyuman yang masam dan menutup telepon setelah merencanakan dengan Amane bahwa dia akan menahan Acies sampai Amane datang.

“Maou seharusnya membelikanku ponsel, meskipun hanya untuk situasi seperti ini.”

“Ahahah….”

Tidak diketahui apakah Acies sadar bahwa dia tersesat, setelah Chiho mengakhiri panggilan, Acies menyatakan ini dalam pernyataan klasik sebagai ‘muka tebal’

“Lalu lagi, Chiho, apakah kau baru saja pergi bersama seseorang? sepertinya aku mencium bau Rika. ”.

Chiho terkejut sampai matanya terbuka lebar.

Dia baru saja bersama Rika, tapi dia tidak menyangka bahwa Acies akan menebak dari baunya.

“K-Kau benar-benar bisa mengetahui itu …… ah.”

Karena dia menjawab dengan sembarangan karena terlalu terkejut, Chiho mulai merasa cemas.

Acies mungkin tinggal di rumah Shiba di sebelah apartemen, tetapi dia sering pergi ke berbagai ruangan. Jika Acies bertemu Emi ketika Emi datang menjemput Alas=Ramus dan mengatakan bahwa Rika dan Chiho bersama, itu mungkin masuk akal.

Lagipula Rika pasti akan memberitahu Emi tentang apa yang telah terjadi hari ini, tetapi jika Acies memberi tahu Emi ini sebelum Rika bisa menenangkan perasaanya, mungkin Emi akan khawatir kepadanya.

“E-erhm, Acies-chan. Tentang Suzuki-san yang datang ke Sasazuka, bisakah kau merahasiakan hal itu? Kau tidak boleh memberitau Yusa-san bahkan kalau dia datang ke apartemen. ”

“eh? Kenapa?”

Bagaimana dia harus mengatakannya agar Achies-chan mengerti?

Bahkan jika Chiho memberi tahu Acies bahwa itu adalah rahasia, rasanya Acies akan mengatakan sesuatu seperti “Rika dan Chiho bertemu, tetapi ini adalah rahasia, jadi aku tidak bisa memberitahumu!” Karena itu, Chiho tidak bisa memberitahhu Achies kebenarannya .

Pada dasarnya, Acies tidak memiliki niat buruk, dia tidak bisa menjaga rahasia.

“B-Besok, kami akan mengunjungi rumah Lailah-san.”

Chiho memutar otaknya untuk memikirkan tentang penjelasan yang tidak akan menimbulkan masalah bahkan jika Acies memberitahu semuanya.

“Kerumah ibu? Oh ~ dia punya rumah. ”

Lailah mungkin seorang malaikat dengan identitas yang tidak jelas, tetapi memiliki rumah itu adalah hal yang biasa.

“Kalau begitu, erhm, Suzuki-san biasanya mencari Yusa-san untuk menceritakan masalahnya, tapi Yusa-san sibuk menangani masalah Lailah-san akhir-akhir ini, jadi Suzuki-san datang untuk menemuiku hari ini.”

Selama jangka waktu ini, Acies terus mengunyah es krim, dan mengangguk-angguk dengan gembira.

“Suzuki-san pasti akan menceritakan itu kepada Yusa-san secepatnya, jadi, tolong bantu aku merahasiakan ini untuk sementara.”

“Ya! Kalau seperti itu, mau bagaimana lagi! Aku akan membantumu menyimpan rahasia! “

“Ahaha …… aku mengandalkanmu.”

“Tapi berbicara tentang ini. Emi dan Rika mungkin seperti ini juga, tetapi jika ada sesuatu yang ingin kau katakan, akan lebih baik untuk mengatakannya lebih awal sehingga tidak akan ada penyesalan. Aku tahu bahwa kau memiliki alasan tersendiri, tetapi melihatmu seperti ini, terkadang aku merasa khawatir. ”

“Eh? Apa yang kau maksud?”

“Hm? Aku juga terpisah dengan kakak perempuanku untuk kurun waktu yang lama, jadi aku ingin mengatakan semuanya sebelum aku tidak dapat menyampaikannya, dan mencoba semua yang ingin aku makan! ”

“Sebelum kau tidak bisa menyampaikannya ……”

Bagian terakhir dari kalimat itu terdengar sedikit aneh, tetapi kalimat Acies ini memiliki arti yang sangat penting bagi situasi Chiho saat ini.

“Apakah Acies …… pernah mengalami situasi di mana kau tidak bisa menyampaikan apa yang ingin kau katakan?”

“Sedikit.”

Acies menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya untuk menunjukkan penghitungan yang tidak bisa dipahami Chiho.

“Huft, meski begitu, pada akhirnya aku masih bisa bersama dengan kakakku. Bahkan jika ada satu kesempatan yang hilang, bukan berarti tidak ada kesempatan kedua. Namun, sebelum kesempatan kedua datang, itu akan menjadi penantian yang sangat berat. ”

“…… Hm, aku mengerti.”

“Tepat! Jadi Chiho juga harus mengatakan apa yang seharusnya ingin kau katakan, dan makan apa yang seharusnya kau ingin makan! Kemarilah! Biarkan aku memberimu satu! “

“T-terima kasih”

Chiho tidak bisa mengikuti alur percakapan, tetapi Acies memberikan permen karet ke tangan Chiho.

“Ah! Sungguh nostalgia. Jadi mereka masih menjual ini!”

Dianggap sebagai camilan murah, di dalam kotak dengan gambar jeruk di atasnya adalah empat permen karet berbentuk bulat.

“Mi-chan bilang ukurannya lebih kecil dibandingkan dulu, apakah Chiho juga tahu tentang ini?”

“Ya, aku sangat menyukai rasa jeruk ini.”

Ketika Chiho masih muda, ada saat dimana dia menginginkan permen karet, dan permen karet pertamanya ketika dia meminta ibunya untuk membelikannya yang satu ini, dia tidak menduga akan mengingat hal itu pada saat ini.

Setelah itu, begitu ada kesempatan orang tuanya membelikan untuknya, dan dia senang membuat balon dari permen itu, di waktu yang tidak diketahui, dia mulai kehilangan ketertarikannya terhadap permen karet dan tidak memperhatikan hal itu lagi.

Sudah berapa lama sejak terakhir kalinya dia memakan permen karet oren ini yang menjadi favoritnya dulu?

“Tanpa disadari, aku juga berubah.”

Chiho tidak tahu apa ini pertumbuhan atau perubahan.

Hanya satu hal yang dia sangat yakin bahwa dia akan mengingatnya lagi yaitu kenangan ketia dia masih kecil, dan selama waktu yang berlalu sebelum kenangannya ini terkumpul, secara tidak sadar Chiho mengira ini adalah sesuatu dari masa lalu.

“Aku tidak mau terjebak pada masa lalu.”

“hmm?”

Chiho menggenggam kotak permenkaret dengan kuat, dan berkata dengan senyuman, “Terima kasih, Acies-chan. Aku sudah menjadi sedikit lebih baik.”

“Benarkah? Aku tidak begitu mengerti, tapi jika seperti itu, kau bisa mengambil beberapa lagi. Semakin banyak kau makan, semakin bersemangat kau nanti.”

“Eh? Ah, tidak perlu memberiku sebanyak itu!”

“Tidak perlu malu-malu tentang itu! Lagian ini bukan dari uangku!”

“itu membuatku ingin mengembalikannya! T-Terima kasih, itu sudah cukup!”

Acies berkata sesuatu yang buruk seperti yang Urushihara katakan, dan akhirnya, Chiho menerima 3 kotak permen karet, 2 kotak susu manis, dan 5 es coklat.

Karena di taruh di tas belanjaan, itu artinya ini semua sudah dibayar, sangat sulit untuk dibayangkan bahwa Maou memberi izin Acies untuk memiliki uang, Shiba dan Nord juga membantu membayarnya.

Hanya Chiho yang berpikir seperti itu, dia melihat Amane yang berjalan dengan cepat menuju mereka dari sisi lain stasiun sambil memegang tangan Iron.

“Chiho! Kau penyelamatku, apa kau sedang dalam perjalanan pulang?”

“Hai, Amane-san. Iya, aku habis makan malam dengan temanku hari ini……”

“Jadi begitu. Terima kasih atas bantuannya. Hei, Acies! Jangan bilang kau kesini sendirian? Eh, apa ini es krim dan cemilan?”

“Dia sepertinya membeli ini dengan menggunakan uang yang diberikan oleh seseorang.”

“Menghabiskannya dengan sangat mudah, jika bukan Nord atau Lailah, ini pasti bibi Miki-T!”

Chiho punya pendapat yang sama, berdasarkan permen karet itu, ini pasti Shiba.

“Tidak bisa dipercaya. Aku tidak pernah menyangka bahwa manager restoran all-you-can-eat itu akan keluar dan membuat kami berhenti untuk makan!”

(T/N : restoran all-you-can-eat : itu restoran yang kau bisa makan sepuasnya gitu kaya di Hanamasa atau Shabu-Q)

“O-oh….”

Dia sudah makan sampai manager restoran all-you-can-eat mengatakan dia untuk berhenti, dan masih ada kapasitas untuk melanjutkan makan es krim dan cemilan, itu membuat Chiho kagum terhadap Acies.

“Mungkin ini akan menjadi lebih baik jika kami datang ke toko memberimu hadiah jika kau bisa memakan banyak makanan disana.”

Amane benafas letih, tapi seperti apa rasanya jika mereka melakukan ini, Acies mungkin menyisakan sedikit makanan itu karna itu adalah kebiasaan buruknya, membuat dia tidak bisa memenuhi tujuannya.

“Pokoknya, kalian berdua sebaiknya kembali ke apartemen. Chiho, terima kasih banyak! Karna aku bisa membawa mereka berdua ini kembali, aku tidak bisa menemanimu pulang, tolong berhati-hati diperjalan pulang.”

“Sampai jumpa, Chiho.”

“Sampai jumpa, dadah.”

“Sampai jumpa semuanya. Acies, terima kasih!”

Sephirah yang terlihat dari kejauhan hilang seperti angin topan dan Chiho merasa lega ketika dia melihat bagian belakang mereka.

Chiho kasihan pada Amane, tapi melihat Acies dan Iron orang yang bahagia, Chiho mencoba membayangkan sudah berapa lama waktu yang terlewat sebelum mereka berdua bisa senyum dan tertawa bersama, menyampaikan maksud mereka satu sama lain.

Meskipun begitu dia tetap tidak bisa menyampaikan apa yang dia rasakan kepada yang lain, Chiho juga ingin melihat ini menjadi bagian dari masa lalu.

Dia tidak mau hanya berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa, membiarkan hal seperti ini menjadi kenangan di masa lalu dan akan diingat di masa depan.

“Kita lihat apa yang terjadi jika aku berkerja keras?”

Bagi Chiho, Rika adalah seorang kakak yang jenius.

Dengan kemauan yang kuat, Rika melakukan sesuatu yang selalu membuat Chiho merasa terganggu. Secara tidak sadar dia mengirim perasaannya menjadi bagian dari masa lalu.

“Dan lagi, apa yang harus aku lakukan tentang hal ini? Aku tidak membawa tasku…..”

Chiho bermasalah tentang bagaimana dia harus membawa cemilan ini pulang—-

“Chiho? Apa yang kau lakukan disini?”

“eh? Mamah?”

Ibunya, Riho, yang barusan keluar dari loket tiket, terlihat terkejut.

“Kau anak nakal, berkeliaran diluar pada jam segini, apa-apaan dengan semua cemilan itu?”

Sang ibu mengambil kotak susu manis itu dari anaknya dengan muka masam.

“Jadi Nostlagia. Ibu ingat pada waktu kau merengek hanya karna ingin susu manis. Jadi mereka masih mejualnya.”

“Eh? Apa? Ini bukankah permen karet?”

“Kau memang sangat serakah jadi kau telah menyusahkan kami karena kebanyakan permen.”

“Eh….. benarkah?”

“Jadi? Kau sudah makan malam? Kau tidak cuma memakan cemilan itu kan?”

“Iya, umm, temanku baru saja mengajakku untuk makan malam, jadi kami pergi makan di toko sushi itu.”

“Ya ampun, anak kecil yang dulu merasa sangat bahagia hanya karena menerima susu manis kini telah menjadi orang kaya yang pergi makan sushi sendiri. Ibu sangat menantikan kedatangan hari Ibu nanti.”

Chiho menunjukkan senyuman ambigunya, memasukan cemilan ke tas ibunya, dan perasaannya menjadi lebih baik, dia pulang ke rumah, dan berbicara dengan ibunya selama perjalanan.

“Ah, Emi! Kau sudah bekerja keras!”

“Acies? Kenapa kau ada diluar jam segini?”

Emi, yang baru saja pulang dari kerja, menanyakan ini dengan kaget setelah bertemu Acies, yang membawa tas belanja, di depan apartemen.

“Ketika Amane, Iron, dan aku pergi kembali sehabis makan malam, kami bertemu Chiho di stasiun dan berbicara cukup lama.”

“Dengan Chiho-chan, pada jam segini?”

Seharusnya Chiho tidak ada jadwal kerja hari ini, apa yang dia lakukan diluar di jam segini?

“Dimana kakakku hari ini?”

“Ditempat Bell. Karna Alsiel ingin pergi keluar sore ini karna ada urusan dan Maou bekerja hari ini.”

“Jadi begitu. Aku punya pertanyaan untuk dia, jadi bisakah aku pergi ketempat Suzuno sebentar?”

“Eh? Aku rasa itu tidak masalah….. tapi akan lebih baik kutanyakan dulu padanya.”

Dengan Acies mengikutin dari belakang Emi, mereka berdua pergi ke lantai atas.

Lampu didalam kamar 201 masih hidup, dan dia mendengar bisikan Ashiya dan Urushihara yang berbicara dari dalam, Emi menyimpulkan bahwa kencan antara Ashiya dan Rika sudah selesai dan dia mengangguk.

Emi tidak bisa mendapatkan informasi dari luar, tapi apa yang di katakan Rika di akhir, dan bagaimana reaksi Ashiya?

Dia dikeliling dengan rasa penasaran, tapi sekarang, Emi harus menjemput Alas=Ramus dulu.

“Bell, Alas=Ramus. Ini aku. Aku kembali.”

“apakah itu Emilia?”

“Mama! Selamat datang!”

Respon dari Suzuno dan Alas=Ramus seharusnya bisa terdengar dari sisi lain pintu.

“Bell, Acies mengatakan bahwa dia punya sesuatu untuk ditanyakan padamu, bisakah kau membiarkannya masuk?”

“Hm? Ada apa?”

Suzuno membukan pintu dengan perlahan,dan setelah melihat Acies berdiri di belakang Emi, dia mengajak mereka berdua untuk masuk.

“Apakah Acies pergi bekerja juga?”

“Tidak, onee-san. Aku pergi membeli cemilan yang belum bisa kau makan.”

“Cemilan. Aku mau!”

“Hei, Acies, ini mungkin terlambat, jangan sampai Alas=Ramus melihat cemilan itu.”

“Eh~ sudah terlambat mengatakan itu…..”

“Tidak, Alas=Ramus, kau hanya boleh makan cemilan besok.”

“Ahm”

Sejak Emi mendengar bahwa Acies and Iron memakan makanan MgRonalds dan mengahabiskan 5000 yen, dia menjadi gelisah mengenai diet Alas=Ramus.

Itu supaya Alas=Ramus tidak menjadi anak yang rakus seperti Acies dan Iron, Emi menjadi agak ketat akhir-akhir ini.

“Alas=Ramus. Ibumu berkata seperti itu karna dia tidak ingin gigimu berlubang. Kau harus mengerti dengan hal itu, oke?”

“Uuuu…… Acies itu lagi makan.”

Tidak terima penjelasan Suzuno, Alas=Ramus membuat ekspresi langka yaitu cemberut.

Sepertinya dia tidak terima bahwa Acies, sebagai adik perempuannya, bisa melakukannya, tetapi dia, sebagai kakak, tidak bisa.

Namun, ini tidak dapat di pungkiri karena masalah perbedaan dalam tingkat pertumbuhan, dan dia mungkin tidak mengerti bahkan jika mereka menjelaskan itu, jadi Emi mengangkat Alas Ramus ke pangkuannya, dan dia menenangkan Alas Ramus . Setelah itu, Emi bertanya pada Acies, “Lalu, apa yang ingin kau tanyakan pada Bell?”

“Sebenarnya, tidak hanya Suzuno, juga ada sesuatu yang mau aku tanyakan ke Emi.”

“Eh? Apa itu?”

“Aku mendengar bahwa kalian berdua akan pergi keluar besok, apa benar kalian akan pergi?”

“”Eh?””

Emi dan Suzuno keduanya kebingungan.

“Kau bilang pergi, emang kemana?”

“Eh? Kalian berdua tidak pergi?”

“Seperti yang aku katakan, emangnya kami mau pergi kemana?

Acies bertanya dengan heran seolah-olah dia merasa terkejut tentang hal itu, dan keduanya bingung ingin menjawab apa.

“Emi dan Suzuno akan pergi ke rumah Ibu kan? Itu yang aku dengar.”

“”Eh?””

‘Eh’ kali ini adalah terkejut dengan ‘Eh’.

“Karena Emi dan Suzuno keduanya akan pergi, maka Maou pasti akan pergi juga, kan? Dengan ini, Ashiya dan Lucifer akan pergi juga? ”

“Eh? T-Tunggu sebentar? Dari mana kau mendengar hal ini?”

 

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded