Hataraku Maou-sama Volume 13 Chapter 3 Part 7 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Rozen
  • Editor : Scraba

Dengan panik Emi bertanya, dan Acies menjawabnya dengan tenang, “Baru saja, Chiho memberi tahuku ‘Kami akan pergi ke rumah Lailah besok? Jadi aku pikir Emi dan yang lain akan pergi juga.”

Jika Chiho ada disana, dia pasti akan jongkok sambil memegang kepalanya.

Chiho memang meminta Acies untuk merahasiakan hal yang berkaitan dengan Rika, tetapi dia tidak memintanya untuk tidak membicarakan hal-hal lain. Dan wajar bagi Acies untuk berpikir bahwa Emi dan Suzuno termasuk dalam ‘kami’ yang disebutkan oleh Chiho karena behubungan dekat. Adapun Ashiya dan Urushihara, yang semula musuh dengan Emi dan yang lainnya, ini berada di luar pemahaman Acies.

Namun, dari sudut pandang Emi, dia tidak pernah memberi tahu Chiho bahwa dia tidak akan datang, dan tidak membuat perjanjian dengan Chiho, jadi setelah Acies bicara seperti ini, tentu saja dia akan merasa bingung.

“K-Kami tidak pergi.”

“Eh? benarkah? Suzuno tidak akan pergi juga?”

“I-Iya. Aku tidak ada rencana untuk pergi……”

Dari sudut pandang Emi dan Suzuno, mereka tidak mengerti bagaimana mengambil kesimpulan ini. Bagainmanapun, mereka berdua tidak berencana untuk datang ke rumah Lailah.

“Eh. Kalau begitu, ‘kami’ yang dimaksud oleh Chiho, hanya mengacu kepada Maou, Alciel, dan Lucifer? ”

“Jika kau berbicara mengenai besok, aku tidak mendengar apapun tentang Alciel dan Lucifer yang akan pergi.”

“Eh? jadi hanya Maou, Chiho, dan aku yang pergi besok?”

Alasan Acies menambahkan dirinya karena dia tidak bisa berada jauh dari Maou.

“Aku pikir ayahku juga akan pergi.”

“Ayah, Maou, Chiho, dan aku pergi ke rumah Ibu … rasanya seperti kami akan kehabisan topik pembicaraan, dan menyebabkan suasana menjadi canggung.”

Tidak disangka bahwa Acies akan khawatir tentang hal semacam ini, tetapi memang benar bahwa sulit untuk membayangkan orang seperti mereka memiliki sesuatu yang umum untuk dibicarakan.

“…… Bagaimanapun, aku minta maaf, tapi kami tidak berencana pergi ke rumah Lailah. Jika kau merasa itu canggung, maka kau bisa sembunyi saja di dalam Maou? ”

“Itu benar. Tapi karena itu adalah kesempatan langka untuk pergi, jadi melakukan hal itu sepertinya tidak baik. ”

Karena usulan dari Emi menyebabkan Achies sedikit tidak senang—

“Acies, apa kau akan berangkat ?”

––Alas = Ramus secara sensitif memilih istilah ‘berangkat’ dan bereaksi.

“iya. Aku akan pergi ke rumah Ibu bersama Maou dan Chiho. ”

“Papa dan Chi nee-chan……”

“”Ugh.””

Alas = Ramus yang duduk di pangkuan Emi, mulai mengeluarkan aura berbahaya, dan Emi dan Suzuno menunjukkan ekspresi membatu pada saat yang bersamaan.

“Mama!”

“A-Ada apa, Alas=Ra……”

“Aku mau berangkat juga!”

Melihat ekspresi dan suara Alas Ramus yang kuat, dan tangan menggenggam erat, Emi berbicara dengan panik, “Ber, berangkat? O-oh ya. Kalau begitu ayo pergi ke taman di seberang jalan bersama dengan Emerada onee-san …… ”

“Tidak! Aku mau pergi dengan Papa!”

Saran Emi yang terdengar samar itu tidak berpengaruh pada Alas=Ramus.

“Biarkan mama memberitahumu, Papa akan berangkat karena, uh, erhm, pekerjaan penting? Kau tidak boleh mengganggunya …… ”

“Lalu kenapa Acies boleh pergi, dan aku tidak boleh ?!”

“I-Itu karena, Acies lebih tua darimu ……”

“Tidak! Aku adalah kakaknya! ”

“I-Itu benar ……”

Mungkin itu adalah reaksi dari camilan barusan, Alas=Ramus, dalam situasi tidak biasa, tidak terima dengan kata-kata dari Emi.

“Kami tidak pergi untuk bekerja, apa kau tahu?”

Selain itu, Acies mengatakan ini dengan ekspresi bingung, dan Suzuno menjadi panik.

“Acies! Emilia tidak sedang membicarakan ini sekarang! ”

“Suzuno, berbohong itu tidak bagus. Kadang itu bisa dilakukan untuk mendidik anak, tetapi kau membuat kesalahan kalau berpikir anak-anak tidak mengerti kebohongan itu. ”

“Kenapa kau mengatakan hal yang masuk akal pada saat-saat seperti ini ?!”

“……Mama, berbohong?”

“A-A-A-Alas=Ramus, mama tidak bohong. Mama tidak bohong! Papa memang akan berangkat untuk bekerja. Tapi…..”

“Papa, Chi nee-chan, dan Mama mempunyai pekerjaan yang sama! Kenapa bukan Mama yang pergi?!”

Mungkin menggunakan istilah bekerja disaat ini kurang tepat, Alas=Ramus sudah terbiasa dengan ini dan tidak akan membiarkannya pergi.

Pada titik ini, Emi ingat bahwa Alas Ramus kadang menjadi lebih pintar secara mendadak selama pertempuran, dan karena dia tidak tahu sudah berapa kali dia berbohong kepada Alas = Ramus, Emi menjadi panik.

“Jadi aku bilang, erhm, ini adalah pekerjaan yang berbeda dari yang biasanya.”

“Yah, itu tidak akan bekerja.”

“Acies! Tolong pikirkan keadaan saat ini!”

“Uh, maaf, sebenarnya aku ada di pihak onee-san.”

“Aku mau pergi! Pergi dengan Papa—!”

“Tunggu, Alas = Ramus, diamlah! Sudah terlambat sekarang …… ”

“Ee———–Uwahhhhhhhhh! Aku mau pergggggiiii!”

Pada saat ini, sudah tidak ada cara untuk mengendalikan situasi ini. Perasaan Alas=Ramus mulai merasakan rasa marah yang belum pernah dia alami sebelumnya, dan mulai menangis dengan kuat.

“E-Emilia! Cepat lakukan sesuatu! A-Aku tidak pernah berhadapan dengan situasi seperti ini sebelumnya!”

“Aku juga! T-Tolong, Alas=Ramus, dengarkan dengan baik……”

“Aku—mau—pergi—juga!”

“Ah~sungguh, Kakak yang menggemaskan.”

Hanya Acies yang menggendong Alas = Ramus yang menangis dengan keras dan mengusap pipinya.

“Apa, ada sesuatu yang terjadi?”

“Hei, berisik, apa yang terjadi?”

“Apa yang terjadi, apa Alas=Ramus melukai dirinya sendiri?”

“kalian semua hanya memperburuk situasi, jangan kesini!”

“Eeeeeeeuwahhhhhhhhhhhhh!”

Selain itu, mungkin mereka mendengar Alas Ramus sedang menangis, suara Maou, Urushihara, dan Ashiya bisa terdengar dari koridor di luar. Alas = Ramus tiba-tiba sadar, lalu melompat turun dari pelukan Acies dan bergegas ingin ke koridor. Melihat ini, Emi dan Suzuno hanya bisa berlutut ke lantai dan menghela nafas putus asa.

“Pa—pa—! Aku mau pergi jugaaaaaaa!”

“A-Ada apa ini, apa yang terjadi? Alas=Ramus menangis seperti ini, hei, Emi, apa yang kau lakukan?! Suzuno, buka pintunya! Jangan khawatir, Alas=Ramus! Papa disini!”

Alas=Ramus menggedor pintu dari dalam kamar sambil menangis, membuat Maou menjadi benar-benar panik.

“Aku buka pintunya.”

Dikekacauan ini, hanya Acies yang berjalan keluar dengan tenang sambil membuka kunci pintu tanpa izin pemilik kamar. Setelah itu, dengan ingus dan air mata, Alas=Ramus berjalan menuju Maou yang menunggu diluar.

“Aku mau pergi jugaaaa, kalau cuma yang pergi Acies itu curanggg!”

Maou berpikir situasi disini sangat aneh, lalu berbalik kearah Emi dan Suzuno untuk meminta penjelasan. Namun, mereka berdua shock dan tidak merespon sama sekali, Maou semakin bingung.

“Maou, apa kau akan pergi kerumah Ibu besok?”

“Eh? Oh, maksudmu rumah Lailah?”

“Kakak juga mau pergi.”

“Huh? Apa Cuma karna hal ini dia menangis?”

“Uwaahhhhhh……. uuu…… uu……”

“Sekarang,Tenang, Tenanglah…… hei, Emi.”

“……………………… Ada apa?”

Setelah 10 detik, Emi merespon dengan lembut tanpa melihat kearahnya.

“Kau tidak berencana pergi?”

“………………………….. Yeah.”

Pada akhirnya, selain Suzuno, Emi tidak memberi tahu siapapun bahwa dia menolak undangan dari Lailah.

Pada akhirnya di tidak pernah berharap kebenaran ini akan terekspose dengan cara seperti ini.

“Hey, hey…..”

Maou mengerutkan keningnya, dan melihat kearah Alas=Ramus dan Emi.

“Apakah kau pikir situasi ini bisa diselesaikan dengan mengatakan bahwa kau tidak mau pergi?”

“…… Tidak bisakah aku menyerahkannya kepadamu dan Chiho-chan sehingga aku bisa tinggal di suatu tempat dan tidak bertemu dengan Lailah?”

“Apa kau bodoh?”

Maou menendang Emi yang merasa perjungannya sia-sia.

“Lailah hanya bilang bahwa dia hanya ingin bertemu dengan kita di Shinjuku, jadi tidak satupun dari kita yang tahu mau kemana. Jika jaraknya betambah dan itu akan membuat kau dan Alas=Ramus bersama kembali, bagaimana kau bisa menjelaskan ini?”

“……….Uuu.”

Menolak untuk menyerah, Emi menghela nafas. Jujur, dia masih tidak ingin memahami lebih banyak hal tentang Lailah.

Jika dia memahami banyak hal tentang Lailah, kemarahan Emi terhadap Ibunya akan berkurang secara perlahan, sama seperti saat dia bersama Maou.

Bahkan jika dia tidak lagi marah dengan Lailah, Emi tidak bisa berpikir bahwa mereka berdua bisa seperti ibu dan dan anak pada umunya.

Dia merasa ketakutkan.

Karna memahami Lailah lebih dalam, dia tidak tahu bagaimana hubungan dia dengan Lailah kedepannya nanti.

Selain itu, perbedaan antara Emi dan Chiho sehubungan dengan pemahaman mereka mengenai pemikiran Mao belum terpecahkan.

Namun, Maou dengan tenangnya memotong keraguan yang ada di hati Emi.

“Jika kau tidak mau melakukannya, aku tidak akan memaksamu, namun permintaan Alas=Ramus tidak begitu aneh. Jika kau tidak bisa, itu akan membuat hubunganmu dengannya menjadi seperti kau dan Lailah, aku tidak peduli. ”

“……Ugh!”

Alas=Ramus jarang merasa marah.

Alas=Rasmus biasanya patuh dan bisa mengerti kalau itu adalah perbuatan yang jelek.

Jadi jika Alas=Ramus tahu bahwa Emi tidak mau pergi, bisa di katakan bahwa kedepannya Alas=Ramus memiliki ketidakpercayaan kepada Emi.

Selain itu, Emi menolak permintaan Lailah karena dia tidak ingin menghadapi perasaan bingungnya secara langsung, sebuah penolakan yang berasal dari perasaan pesimisnya.

Lailah sidikit demi sedikit mulai mengerti dengan situasi mereka dan mulai berkompromi, Emi mengerti dengan ini.

Emi tidak memiliki alasan yang kuat untuk tidak pergi, dan meskipun Alas = Ramus tidak mengerti situasi, dia pasti tidak akan mengalah karena dia merasakan keraguan dalam hati Emi.

“Sepertinya pilihan kita hanya menyerah!”

“…….”

Mungkin Acies melakukannya dengan sengaja karena dia tahu ini?

Emi mungkin berpikir begitu, tetapi tidak ada cara untuk memastikannya.

Emi mengangkat kepalanya seolah-olah dia sudah menyerah––

“Mama……”

“Emi.”

––Dan ke wajah Alas = Ramus yang sembab karena menangis dan ekspresi serius Maou.

“……………aku mengerti. Aku akan pergi.”

Emi memaksakan diri untuk pergi. Dia telah pasrah.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded