Hataraku Maou-sama Volume 13 Chapter 4 Part 2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Rozen
  • Editor : Scraba

Jika pertanyaan ini memiliki jawaban, mungkin jawaban ini hampir sama dengan jawaban dari pernyataan perasaan Chiho.

Setidaknya, keadaan tidak terdesak untuk menjawab pernyataan ini ketika semua orang sudah menunggu di lantai atas.

“…..sejujurnya, aku masih…..”

“Tidak masalah jika kau belum bisa memberitahuku. Tapi setelah kau menemukan jawabannya, kau harus memberitahuku dulu, oke? ”

“…… aku mengerti, ini adalah janji.”

Jika Kaori ada di sini, dia pasti akan memarahi Chiho karena terlalu bodoh sudah membiarkan Maou terus menunda.

Namun, ini adalah batasan Chiho.

Selama negosiasi dengan Lailah berlangsung setelah ini, membuat keputusan yang salah akan membuat Maou berakhir dengan situasi yang sulit di antara hidup dan mati, jadi memintanya untuk menganalisa hubungan dengan manusia pada saat ini akan menambah beban kepadanya.

Chiho tidak ingin menjadi penyebab Maou stress.

“Ayo pergi. Lailah-san dan yang lainnya sudah menunggu di lantai atas. ”

“….iyaa”

Di arahkan oleh Chiho, perlahan Maou berjalan menuju tangga di samping ruangan utama.

Gerakan Maou yang ragu-ragu membuat Chiho sedikit merasa sedih yang tidak bisa ia hilangkan dan juga ada perasaan senang karena Maou serius memikirkan masalah yang dihadapinya. Dia dengan spontan meraih tangan Maou dari belakang, lalu menariknya sambil berlari ke arah depan.

“Chi-chan?”

“Jika kau tidak berjalan lebih cepat, Yusa-san dan yang lainnya akan marah.”

Dengan cepat mereka berlari menaiki tangga di mana langkah kaki mereka bergema, Chiho mengencangkan genggaman tangannya ke tangan Maou.

Saat memasuki musim dingin, udara menjadi sedikit kering, sibuk dengan pekerjaan sehari-hari, tangan Maou terasa sedikit kering dan dingin.

Perasaan yang sulit dijelaskan ini membuat Chiho teringat pada saat pertama kali dia menggandeng tangan Maou.

Pada saat itu, perasaan cinta Chiho yang baru mekar dari rasa kekagumannya baru saja bertambah kuat. Pada waktu itu, memegang tangannya membutuhkan keberanian yang paling besar yang pernah dia gunakan dalam hidupnya selama ini.

“bisakah aku…..menggenggam…..tanganmu?”

“seperti ini? baiklah”

Saat tangannya merasakan sentuhan tangan Maou, rasanya seperti jantungnya seakan ingin melompat keluar dari mulutnya.

Karena dia terlalu terkejut dan bahagia, Chiho tidak begitu ingat bagaimana rasanya memegang tangan Maou pada saat itu.

Namun, Chiho yakin bahwa genggaman hangat tangan Maou sama ketika dia menggenggam tangannya karena reflkes pada waktu itu.

Dia mengumpulkan banyak keyakinan seperti itu di dalam hatinya.

“ini mungkin akan memberimu sedikit tekanan!”

“eh?”

“Tapi selama aku bersama dengan Maou-san, dari pada naik lift, aku lebih suka perlahan menaiki tangga!”

“A-Apa maksudnya itu?”

“Tepat seperti yang aku katakan tadi.”

Dengan perasaannya yang sedang kacau, Maou mungkin tidak memahami apa maksud Chiho yang sebernarnya dalam kata-katanya itu.

Namun, seperti ini saja sudah cukup.

Chiho merasa bahwa kegelapan yang terpendam di dalam hatinya akhir-akhir ini mulai menghilang.

“Apa kalian sulit menemukan tangganya?”

Lailah menunggu dengan cemas di lantai tiga.

“Kami hanya tertahan di aula utama untuk sementara waktu. Maaf sudah membuat semua orang menunggu. ”

Chiho lebih dulu menjawabnya sebelum mereka menundukkan kepalanya untuk meminta maaf.

Lailah sepertinya tidak mencurigai penjelasan ini. 

“Seharusnya aku yang merasa tidak enak karena membuat kalian berdua menggunakan tangga. Lalu, aku tinggal di Kamar 306. ”

Dia mengubah topik dan menunjuk sebuah ruangan di ujung koridor.

“Aku sudah menceritakan semua ini sebelumnya …… tapi, ehm, jangan terlalu kaget.”

Kali ini, Lailah ingat apa yang mengganggunya akhirnya itu menyebabkan Chiho merasa tidak nyaman.

Chiho menuruti permintaan Maou dan mengamati dengan hati-hati, tetapi dia langsung berpikiran yang aneh-aneh; seperti ruangan yang terhubung ke dunia lain atau dia akan berakhir terbang ke dunia lain setelah membuka pintu.

Lailah mengambil kunci dari saku jaketnya dan memasukkannya ke lubang kunci, dan setelah mengambil nafas dalam-dalam, dia berbalik ke arah Nord dan Emi.

“Aku akan menunjukkan kalian kenangan yang tidak menyenangkan…… atau lebih seperti kenangan yang aneh.”

“”Huh?””

“Aku sangat menyesal! Inilah rumahku di Jepang! ”

Lailah membuka pintu seolah-olah dia sudah menyerah dan mendorong pintu sampai terbuka.

“I-Ini ……………?”

Kemudian, orang pertama yang berteriak, adalah suami Lailah, Nord.

“Ini benar-benar terlalu buruk … bagaimana bisa orang tidak merasa terkejut dengan ini?”

“Luar biasa …… ini bukan masalah tempat tinggal lagi.”

Maou dan Chiho mengobrol, mereka masih merasa terkejut.

“Bahkan Lucifer tidak seburuk ini.”

“Aku tidak punya hak untuk mengomentari hidup orang lain ~~ tapi ini ……”

Suzuno dan Emerada juga merasa sangat terganggu dengan hal ini.

“Yusa-san mengalami masalah dalam keluarganya beberapa waktu lalu, tapi itu luar biasa Nord belum mengatakan apapun mengenai perceraian.”

“Kudengar bahwa perbedaan dalam prinsip hidup adalah alasan umum untuk sebuah perceraian.”

Amane dan Gabriel bersikap seperti ini karena tidak ada hubungannya dengan mereka.

“Yummy!”

“Lezat.”

Acies dan Iron tidak memiliki pemikiran khusus meskipun mereka melihat adegan ini, dan seperti biasa mereka memperlihatkan nafsu makan mereka yang lahap setelah memesan sejumlah makanan yang banyak di Moz Burger di stasiun Nerima, memberikan Maou dan Amane lebih banyak masalah.

“Maou! Kentang goreng di sini lebih tebal dari kentang goreng di MgRonalds! ”

“….iyaa”

“Tapi burgernya lebih enak. Isinya jatuh mulu. ”

Anak-anak Sephirah yang melakukan apa pun yang mereka inginkan membuat Maou merasa pusing setelah dia memikirkan masa depan Alas=Ramus.

“Jadi begitu? Bisakah Maou menerima Lailah sekarang? ”

“Siapa yang akan menerima hal seperti itu?”

Setelah ditanyai oleh Gabriel yang sedang minum Soda Persik dari India, Maou menggelengkan kepalanya, kulitnya terlihat pucat.

Dia ingin tahu bagaimana kehidupan Lailah di Jepang, tetapi Maou tidak pernah menyangka akan seperti ini.

Bahkan topik perceraian yang dibicarakan Amane dan Gabriel terasa seperti lelucon.

“Apa …… apa ini ……”

Yang berbicara pertama kali adalah Emi.

“Sebenarnya ini karena ……”

Sesudah itu Nord juga mengeluh.

“…… Aku minta maaf, aku berusaha dengan keras, tapi aku cuma punya sedikit waktu.”

Lailah membuka pintu dan menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah.

“mama, ruangan ini terlalu gelap”

“Benar….”

“Uwah……”

“I-ini….”

“Ohh~~”

“…… Kelihatannya sempit.”

“A-apakah kita bisa tetap masuk?”

“ini buruk”

Rombongan ini mengutarakan pendapat mereka dengan nada terkejut, dan akhirnya, Acies mengucapkan kalimat––

“Ini benar-benar berantakan.”

–– semua orang juga sependapat.

Ini seharusnya merupakan rangkaian apartemen dengan ukuran sekitar 8 tatami dengan dapur dan kamar mandi, tapi di lihat dari bagian depan, sulit untuk membedakan antara area dapur dan juga sisa ruangan.

Di antara barang-barang yang memenuhi ruangan, 40% terdiri dari buku, 20% pakaian, 10% kotak kardus, dan kardus itu semuanya ditumpuk bersama-sama.

Mereka tidak disimpan, tetapi hanya ditumpuk saja.

Lemari, yang semula digunakan untuk menyimpan pakaian dan futon, terbuka lebar, dan sebuah tiang panjang keluar lalu tergantung dari lemari sampai ke ujung ruangan. Layaknya tirai, berbagai pakaian tergantung di atasnya menghalangi sinar matahari yang masuk ke ruangan.

Tidak ada rak buku di ruangan itu. Buku-buku itu tidak ditumpuk berdasarkan ukuran,tapi di panjang dari dinding hingga ke tengah ruangan dalam keadaan berdiri.

Ada sesuatu yang tampak seperti kain berbentuk sarang burung di tengah-tengah tumpukan buku itu, terlihat memenuhi tempat itu.

Di area yang menjadi batas antara dapur dan sisa ruangan, terdapat meja komputer yang mirip dengan yang digunakan oleh Urushihara, dan di atas meja ada layar komputer yang terlihat tua dari sudut pandang Emi.

“Aku sudah mencoba … untuk membersihkannya …”

“”Eh?””

Suami dan putrinya sama-sama menunjukkan ekspresi kaget.

“Ehm, beberapa hari itu aku tidak datang ke apartemen Sasazuka, aku sangat sibuk dengan urusan pekerjaan …”

“Kerja ……ngomong-ngomong, kau kerja apa ……”

“Ya, sebenarnya.”

Lailah berpaling ke arah Chiho, Lailah terlihat sulit untuk mengatakan ini.

“Eh?”

“Sebenarnya, aku seorang perawat. Dan aku lulus ujian masuk nasional. Ini bukan pekerjaan tetap, hanya pekerjaan paruh waktu, tapi belakangan ini aku berada di Cabang Rumah Sakit Tokyo di Universitas Saikai di bagian Kedokteran …… ”

Semua orang yang ada di sana terdiam sesaat––

“““Ehhhhhhhhhhhhhh?””

–– kemudian Emi, Chiho, Suzuno dan Maou berteriak pada saat yang bersamaan.

“Bukankah itu rumah sakit tempat Chiho-chan dan Lucifer dirawat?”

“Perawat, Lailah-san memiliki lisensi praktisi perawat?”

“Bukankah muncul di rumah sakit itu terlalu kebetulan?”

Emi, Chiho, dan Suzuno merasa bingung, dan bahkan Maou sulit untuk menyembunyikan rasa terkejutnya.

“Hei, Nord, apa kau tahu tentang ini?”

“T-Tidak, aku hanya mendengar bahwa dia melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan medis, dan tidak tahu pekerjaan apa tepatnya…… sekali lagi, tidak semudah itu untuk mendapatkan lisensi perawat, kan?”

“Ya. Aku tidak tahu detailnya bagaimana, tapi lisensi perawat itu seharusnya bukan sesuatu yang bisa diperoleh dalam satu tahun. ”

Kehidupan Lailah, yang memiliki begitu banyak kenyataan yang mengejutkan, membuat semua orang merasa terkejut.

“Ah, ehm, aku tidak bohong, oke? Hanya untuk lisensi kualifikasi perawat, aku membingkainya secara khusus dan menggantungnya karena aku takut menutupinya. Um, ehm, karena orang yang tidak terbiasa berjalan di sini mungkin akan jatuh, jadi aku akan membawanya dan menunjukkannya kepada semua orang. “

Sebuah ruangan di mana orang mungkin akan jatuh karena mereka tidak terbiasa berjalan di dalamnya, ruangan seperti apa itu? Mungkinkah ada beberapa perangkap yang terpasang di dalamnya untuk mengganngu perjalanan seseorang?

Lalu, Lailah melepas sepatunya dan memasuki ruangan.

“Ah, ow! Ah, aku-aku sepertinya terjebak oleh sesuatu …… ”

Setelah membuat beberapa suara dan berjuang keras melawan sesuatu, Lailah membawa keluar sebuah bingkai yang tipis.

“L-lihat!”

Di bagian dalam, tertulis nama sekolah keperawatan khusus, tanggal sertifikat kelulusan yang lebih dari sepuluh tahun yang lalu, serta sertifikat untuk lulus dari ujian terdaftar.

Nama yang tertulis di atas—

“Lailah Justina …… kau benar-benar menggunakan nama ini?”

Melihat nama belakang Justina tertulis di lisensi perawat, Emi kaget dan mengatakan itu.

“Iya. Aku orang asing yang di berikan kewarganegaraan. Pada awalnya, aku masuk ke sekolah khusus menggunakan visa pertukaran pelajar dan aku mengajukan permintaan untuk naturalisasi lima tahun kemudian. Berkat bantuan keluarga Shiba-san, aku di akui sebagai orang Inggris. ”

Namun, menggunakan nama aslinya begitu saja, apakah ini tidak akan menimbulkan masalah padahal dia berusaha menghilangkan jejak dari para pengejarnya dari Surga?

“Bukan berarti aku tidak pernah berpikir menggunakan nama orang Jepang. Namun, begitu aku berpikir tentang bagaimana mendapatkan kewarganegaraan akan membuat nama ini diakui sebagai ‘manusia’ yang tinggal di negara tertentu di dunia ini, aku ingin menggunakan nama asliku tanpa peduli dengan akibatnya. Aku berharap akan ada dunia di mana manusia akan menerima nama ini dan mangakuiku sebagai manusia. ”

Sepertinya Lailah memiliki keyakinan yang kuat, dan tidak mengganti namanya karena ini.

Ngomong-ngomong, hanya Emi, Suzuno, dan Emerada yang tahu ini, tapi semua orang merasa terkejut seperti dilempar bom tanpa mengetahui apapun tentang itu.

Karena Lailah hanya ingin menggunakan nama aslinya, yang mana nama belakangnya diambil dari nama Nord, digunakan untuk mendaftarkan dirinya kecatatan rumah tangga Jepang.

“Dengan begini, kalian semua bisa mengerti bahwa aku juga memiliki rekam jejak yang jelas di negara ini, kan?”

Emi merasa terganggu karena dia tidak tahu harus bagaimana menjawab pertannyaan Lailah.

Menggunakan metode yang lebih jelas dari yang di bayangkan Emi, Lailah telah tinggal di Jepang dengan jujur, dengan pendiriannya yang kuat.

Namun, di lihat dari keadaan ruangan, sepertinya Lailah sudah terbenam dalam tumpukan sampah.

“Ah, er-ehm, karena aku akan berkerja pada hari-hari tertentu, jika kalian membutuhkan bukti kalau aku bekerja di rumah sakit, selama semua orang bersedia mengunjungi rumah sakit pada hari itu, aku akan mencari cara untuk mengatur jadwalku! “

Mungkin dia menafsirkan perasaan aneh Emi sebagai rasa curiga, Lailah menambahkan ini dengan tergesa-gesa.

“Hei, jika kau masih merasa tidak nyaman, aku bisa mengambilkan Kartu Tanda Penduduk sekarang juga, tanda terima untuk tagihan listrik dan gas harusnya ada disuatu tempat di ruangan ini, dan, ehm ……”

Lailah mulai memfokuskan semua usahanya kepada Emi, berusaha keras agar Emi lebih mengerti tentang kehidupan dirinya.

“…… Ayah, apa pendapatmu?”

“Eh? Y-Yah. “

Agar Lailah ingat bahwa banyak orang yang hadir saat ini, Emi melemparkan topik pembicaraan kepada Nord.

Setelah itu, Nord dengan gugup menyentuh janggut di dagunya dan bertanya dengan helisah, “L-Lailah.”

“I-Iya…”

“Berdasarkan apa yang aku ingat …… kebiasaan hidupmu seharusnya tidak seburuk ini.”

“M-Maaf! Ehm, karena aku sibuk dengan banyak masalah yang berhubungan dengan rumah sakit dan Ente Isla, jadi aku hanya menggunakan tempat ini untuk tidur! ”

Kalimat ini bisa berarti perasaan kecewa atau kaget dari suami tercintanya yang menyebabkan Lailah meminta maaf berulang kali.

“Bolehkah aku mengatakan sesuatu ~~”

Pada saat ini, orang yang tidak terduga tiba-tiba berbicara.

“Kurasa ~~ Lailah memang tinggal di sini ~~”

“Em?”

Emerada mengangkat tangannya dengan gugup.

Melihat bahwa ada seseorang yang ingin membantunya, ekspresi Lailah langsung terlihat senang.

“Karena kamar asrama di Institut Manajemen Penyihir yang aku pinjamkan ke Lailah untuk tinggal sementara ~~ juga menjadi seperti ini setelah dia pergi ~~”

Namun, orang yang membatu itu seperti membawa bahan peledak dan menyalakannya di hadapan semua orang, menyebabkan senyum Lailah membeku untuk sejenak.

“I-Itu karena …… maaf, aku sudah menyebabkan masalah kepadamu sebelumnya …”

Sikap permintaan maaf Lailah yang jujur itu patut dihormati, tetapi karena dia tidak berani melihat ekspresi di wajah putrinya saat putrinya menatapnya, selama beberapa waktu, Lailah tidak mengangkat kepalanya.

“Setelah menerima bantuan dari Shiba-san dan perlahan-lahan membangun keyakinan untuk tinggal di sini …… selama ini, setelah tinggal di negara ini aku melihat para penduduknya penuh dengan kehidupan, aku tidak sengaja merasa puas …… membayangkan ini. “

“Meskipun ini adalah era di mana perekonomi terus menurun dan semuanya serba menurun.”

Maou menegur dengan perlahan. Lailah, mengeluarkan keringat dingin, menggelengkan kepalanya dengan ekspresi tegang.

“Aku sudah melihat negara di mana banyak anak yang kehilangan orang tua mereka dan akhirnya mengemis di jalanan, lalu mereka mengakhiri hidup mereka. Kondisi ekonomi memang buruk, tetapi masih banyak orang yang bekerja keras untuk membuat hari esok lebih baik dari hari ini, ini adalah negara yang penuh dengan hal positif. Selama semua orang melihat ke arah yang positif, dunia akan berbalik ke arah positif. Ini adalah hal yang sangat membahagiakan. ”

“Meski begitu, kau tidak bisa hidup dengan ruangan seperti ini.”

“Uu”

Putrinya menegurnya dengan kata-kata yang tajam dari luar area penglihatannya, menyebabkan Lailah menjadi tidak bisa berkata-kata.

“Lucifer juga seperti itu, pada dasarnya malaikat adalah sekelompok orang yang tidak disiplin dalam kebiasaan hidup mereka. Aku mulai sedikit peduli tentang kebiasaan hidup Sariel dan Gabriel. ”

“…… Aku benar-benar tidak bisa berkata apapun.”

Suara Lailah terdengar lebih keras.

“Tidak ada yang perlu dikatakan.”

Untuk alasan yang tidak diketahui, Gabriel mengatakan ini.

“huh….”

Mendengar suara nafas Emi, membuat Lailah terdiam.

Namun—

“…..Yusa-san”

Chiho melihat bahwa ekspresi wajah Emi menjadi tenang seketika.

“Apa kau pikir bahwa kau bisa mendapatkan kembali uangmu setelah pindah, jika kau menggunakan ruangan ini dengan berantakan? Apakah kau meremehkan kehidupan di apartemen?”

“Selama dindingnya tidak kotor atau rusak parah, Bibi Miki-T mungkin akan mengizinkannya.”

“Amane-san, itu bukan masalahnya. Karena dia menyewa apartemen milik orang lain, setidaknya kita harus menjaga kebersihannya. ”

“Ah ~ tapi sepertinya Maou-sama kadang datang ke tempatku untuk bekerja karena ruangan yang dia sewa ada lubang besar terbuka di dalamnya?”

“Amane-san, pria itu termasuk orang yang bersalah.”

“Hei! Itu bukan aku! Anakmu yang melakukan itu! Rasanya seperti kau telah melimpahkan kesalahan ini kepadaku? ”

Gabriel, yang terlibat di luar dugaan, menjelaskan dirinya dengan cara yang membingungkan.

“Bagaimanapun, mau itu Pahlawan atau Iblis sekalipun, mereka harus melakukan pekerjaan rumah ketika mereka pulang. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan ketika mengambil tindakan dengan sembunyi-sembunyi, tetapi aku tidak ingin mendengar kalimat itu dari seseorang yang bahkan tidak bisa mengatur kehidupannya sendiri. ”

“I-Itu ……”

Lailah terlihat menyesal, tetapi setelah melihat kejadian ini, siapa pun akan merasa bahwa perkataan Emi masuk akal dan tidak ada cara untuk Lailah membela diri.

“…… Hei, Emerada. Apa yang harus kita lakukan? Emi menemukan alasan untuk tidak mendengarkan Lailah. ”

“…… Aku mulai berharap dia bisa menyerah ~~”

Meskipun begitu, sepertinya dia tidak bisa menentukan sikap seperti apa yang harus dia gunakan untuk berinteraksi dengan Lailah, Emi mulai ragu-ragu, seperti dia telah menjadi orang yang sepenuhnya berbeda. Ini menyebabkan orang-orang di sekitarnya merasa sedikit kesal.

Khususnya bagi Emerada yang tinggal di rumah Emi ketika dia berada di Jepang, dia pasti telah melihat sisi lain Emi lebih dari orang lain.

Sepertinya semua orang mulai menyerah dan menunggu Emi selesai melihat keadaan ruangan yang berantakan sebagai alasannya––

“Jadi aku tidak berencana untuk mendengarkan omonganmu hari ini …… tapi setidaknya biarkan aku membersihkan kamar ini.”

––Emi memberikan sebuah saran yang mengejutkan, menyebabkan wajah Lailah menjadi pucat.

“…..Emilia”

Tanpa mempertimbangakn kebersihan, Emi mengatakan bahwa dia ingin masuk ke kamar Lailah.

“B-Benarkah?”

Emi memalingkan muka untuk menghindari pandangan Lailah dan berbicara dengan cepat.

“Aku hanya tidak ingin teman-temanku berpikir bahwa ibuku benar-benar jorok!”

“Emilia …… t-terima kasih …… terima kasih!”

Emi hanya secara tidak langsung memanggil Lailah sebagai ibunya, tetapi itu cukup untuk membuat Lailah menangis.

“Biar aku katakan ini dulu, kau masih punya hutang budi pada Emi. Memanfaatkan teman putrimu, kau benar-benar tidak tahu malu. ”

“B-baiklah …”

“Hal yang paling tidak termaafkan adalah bahwa walaupun kau tinggal di dekat sini, kau meninggalkan pekerjaan mengurus Acies kepada Suamimu, dan juga mengirim Alas=Ramus ke Villa Rosa Sasazuka tanpa berkata sepatah katapun, kau juga mengatakan bahwa tidak ada hubungannya dengan itu. Apakah kau tidak tau itu membuat kami kacau? ”

“Iya …… maaf.”

“Namun……”

Pada titik ini, Emi memelankan suaranya.

“Pemandangan kacau ini benar-benar melebihi perkiraanku, tetapi ini adalah pertama kalinya aku merasa bahwa kau ‘hidup’ di hadapanku. Ini adalah satu-satunya hal yang aku pelajari hari ini. ”

“Yusa-san….”

“Emilia….”

“Secara tidak langsung ~~”

Setelah Chiho, Suzuno, dan Emerada melihat bahwa Emi masih menunjukkan tanda-tanda kecil ingin lebih dekat dengan Lailah meskipun terdapat banyak alasan, mereka menarik napas lega.

“Yusa-san, biarkan aku membantu juga …”

Chiho ingin membantu, tetapi Emi menolaknya dengan sopan.

“Terima kasih. Tapi setelah melihat kekacauan ini, terlalu banyak orang hanya akan membuat kita saling menghalangi. Sebagai anggota keluarga, aku harus membersihkan masalah yang dibuat oleh anggota keluargaku sendiri. Semuanya…… untuk apa yang terjadi selama ini, aku benar-benar minta maaf. “

Permintaan maaf singkat Emi berisi niatnya untuk meminta maaf atas dirinya yang lemah selama beberapa waktu ini.

“Maou, bagaimana denganmu? Apakah kau memiliki hal lain untuk dikatakan? ”

Akhirnya, Emi berbalik ke arah Maou, yang ingin tahu tentang kehidupan Lailah, untuk lebih yakin.

“…… Karena kau tidak menentang hal ini, aku tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan. Apa pun yang kau lakukan setelah ini terserah padamu. Aku tidak akan mengubah pemikiranku hanya karena melihat ini. “

“Apakah begitu? Maaf tentang itu. “

Emi mengangkat tangannya sedikit lalu meminta maaf.

“…… Hei, ini waktunya pergi.”

“Eh? Kami sudah pergi? Untuk apa kita ke sini? ”

Tidak aneh bagi Acies untuk menanyakan ini, tapi sepertinya niat asli Maou dan yang lainnya hanya untuk melihat kehidupan Lailah.

Alasan mereka membawa Acies dan Iron bersama hanyalah demi pengamanan mereka.

“Hah? Apa ini? Ini seperti mensia-siakan usaha! ”

Tidak diketahui usaha apa yang Acies sia-siakan, tapi sepertinya dia tidak ingin untuk pergi begitu saja.

“huh …… kalau begitu mari kita cari tempat untuk makan.”

“Sekarang kau baru saja mengatakan apa yang ingin aku dengar!”

Hanya makanan yang bisa digunakan untuk menenangkan Acies ketika dia sedang bersikeras.

“Kau baru saja makan kari, tolong buat dirimu lebih terhormat.”

Maou merasakan aura berbahaya dari Acies yang bersemangat.

“Kalau begitu, Nord, kami akan kembali.”

“Eh?”

Ketika Maou mengatakan bahwa dia akan kembali, Nord tiba-tiba terdiam di tempatnya.

Di belakang Nord, Emi dengan cepat memulai proses beres-beres rumah Lailah.

“Kalau begitu, mari kita membuang semua hal yang berlebihan dan tidak bisa digunakan ini! ”

“Tunggu, Emilia! Itu adalah gaun bermotif babi yang aku beli selama perjalanan belanja pertamaku di negara ini, aku sangat menyukainya …… ”

“Omong kosong! Kalau itu sesuatu yang penting, maka cuci dan lipat dengan benar! Apartemen Maou sangat bersih, tidakkah kau merasa malu tentang itu? ”

Perdebatan tentang kebersihan terjadi sangat sengit antara ibu dan anaknya itu.

“H-Haruskah aku tinggal?”

“Tentu saja. Mereka adalah istri dan anakmu, kan? ”

“Uh, ehm, itu benar ……”

“Jaga istrimu dan juga anakmu itu ~~”

“Ehm, Emerada-san, itu ……”

“Ayah! Tolong pergi ke apotek yang kita lalui dalam perjalanan ke sini untuk membeli masker! Jika kita bernafas di tempat seperti ini, kita mungkin akan terkena asma! ”

“Hei, Yusa-chan memanggilmu.”

“T-Tolong lakukan yang terbaik ……”

“Kami akan membiarkan keluarga ini menjadi lebih dekat.”

“Beritahu pada Lailah bahwa aku akan mengurus sisanya.”

“Baiklah! Mari kita pergi makan!”

“Kita akan makan dimana….?”

“Ah, s-semuanya, tunggu dulu ……”

“Ayah! Tolong belikan kantong sampah, tali rafia, dan penjepit juga! ”

“Emilia, tolong tunggu sebentar! Aku akan mencucinya dengan benar! Dan itu adalah buku pelajaran! Kadang aku masih menggunakannya, jadi tolong jangan membuangnya! ”

Kaget, Nord mengamati Maou dan yang lainnya saat mereka bersiap untuk pulang.

“Sayang! Tolong aku!”

“Ayah! Kau tidak boleh merusaknya! ”

Di belakangnya terdengar teriakan ibu dan anak perempuan dari arah yang berlawanan.

“……Kakek.”

Karena dia merasa seseorang menarik celananya, Nord menunduk.

“Kedua wanita itu menakutkan.”

“I-iya”

Itu mungkin cuma imajinasinya saja, tapi Nord merasa bahwa Alas=Ramus meminta bantuan dengan ekspresi tegang di wajahnya, jadi dia harus membawanya––

“A-aku harus menguatkan diriku …”

Dan dengan keadaan yang sedih, mengambil keputusan.

 

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded