Overlord Gaiden : Vampir dari Kota yang Hancur Prolog

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Sukseskanlah “Ridho Ilahi.” Amin

Korektor: Anisha Dayu

Vampir dari Kota yang Hancur

Gadis itu berlari.

Tanpa menggunakan alas kaki dan hanya dibalut jubah upacara tipis, gadis ituharta terus berlari.

Ubin dan batu yang hancur tak mampu memperlambatnya. Meskipun pecahannya memiliki tepi yang tajam, pecahan-pecahan yang paling tajam bahkan tidak akan sanggup melukai kulitnya yang sekarang sudah kebal. Mungkin masih bisa, jika pecahan tersebut dibuat dari pedang yang ditempa dengan perak khusus … tetapi, di dunia ini, belum ditemukan metode pembuatan logam seperti itu.

Bahkan jika sesuatu dapat melukai kulitnya, darah tidak akan mengalir keluar dari tubuh yang tidak lagi memiliki sistem peredaran darah. Dan, tentu saja, sinyal dari otaknya tidak dapat lagi mengirimkan gelombang yang dapat merespons rasa sakit itu.

Rasa sakit fisik adalah sesuatu yang remeh dibandingkan dengan apa yang dapat ia rasakan sekarang.

Seharusnya berhasil, ini seharusnya berhasil, pikirnya. Dan memang, hal itu seharusnya berhasil. Ritualnya telah direncanakan dengan sangat sempurna, dia telah melakukan apa yang dia pikir merupakan langkah-langkah keamanan dengan peluang keberhasilan tertinggi, dan sebagai hasilnya, merasakan kekuatan melonjak naik dari dalam dirinya.

Mantra ritual seharusnya bekerja. Dia yakin akan hal itu.

Namun sekarang, dia berlari tanpa alas kaki melalui istana yang hancur, yang telah dipenuhi dengan penjagaan ekstra ketat kurang dari dua jam yang lalu.

Dia bahkan tidak menyadari bahwa dia bisa melihat dengan jelas ke dalam ruangan yang gelap, dengan atau tanpa lampu penerangan sebagai pencahayaannya.

Gadis itu sampai di ruang takhta. Ruangan yang cukup hancur, tapi tidak begitu parah dibandingkan ruangan lainnya, ruangan yang sangat dekat dengan ruang ritual, namun, ruangan itu kosong. Tidak, “kosong” bukanlah kata yang tepat untuk digunakan.

Ruangan dengan dekorasi mewah itu tidak pernah kosong. Ruangan itu diawasi sepanjang waktu oleh Four Knights penjaga istana, dilengkapi dengan perlengkapan terbaik yang bisa dibeli dengan uang.

Saat ini, mereka berempat terkapar di tanah, tidak bergerak.

Dengan kata lain, sama seperti orang-orang di ruangan yang baru saja ia tinggalkan.

“H-halo?” panggilnya, memegang erat seutas harapan bahwa ia akan mendapat balasan.

Keheningan memupus harapan-harapan itu seperti serat kaca yang sangat tipis.

Keputusasaan menyeruak dan menggantikan harapan kecil itu, menyelimutinya seperti jubah hitam dingin dan berkabut. Keadaan itu makin memburuk ketika gadis itu membuka pelindung kepala para knights, melihat mata mereka yang kosong dan mati—menatap udara dengan hampa.

Gadis itu sudah mengenal para pria ini hampir seumur hidupnya; mereka selalu menyapanya dan memberinya senyum hangat saat dia berpapasan dengan mereka di koridor, dan ketika ia tumbuh dewasa, ia menyaksikan bagaimana mereka naik pangkat satu persatu.

Mereka memang bukan keluarganya, namun kedekatan mereka dengannya sama seperti keluarga.

Dan sekarang mereka semua mati.

Gadis itu ingin menangis, namun tidak ada air mata yang menetes. Namun gadis itu bingung, terlalu bingung sampai ia tidak memikirkan hal itu lagi.

Ketika dia melanjutkan ke kamar tidur kerajaan, ia memikirkan fakta itu di kepalanya sekali lagi.

Kurang dari setahun yang lalu, makhluk-makhluk kuat yang dikenal sebagai Demon Gods muncul entah dari mana, dan mereka mulai merusak tanah manusia dengan cepat. Kota demi kota dihancurkan, dan bangsa-bangsa yang belum dihancurkan oleh Eight Greed Kings, dan invasi demihuman yang mengikuti setelahnya, dihancurkan oleh gerombolan demon-demon tingkat rendah yang muncul seiring dengan kebangkitan tuan mereka, atau yang telah di tarik keluar dari persembunyian mereka untuk mengikuti yang kuat

Beberapa negara berusaha menyerang Demon Gods secara terang-terangan. Dan hasilnya, mereka dilibas sampai habis oleh musuh yang memiliki kekuatan luar biasa besar. Faktanya, serangan dengan strategi yang buruk hanya akan melemahkan negara-negara itu, karena secara perlahan mereka mengorbankan para pahlawan dan juga harta berharga dalam menghadapi musuh yang tidak mungkin dapat dikalahkan.

Perlawanan yang sia-sia membuat bangsa-bangsa di dunia mencari alternatif lain. Beberapa dari mereka berlindung di dalam kota-kota dengan benteng yang tebal, alih-alih melindungi, kota-kota itu malah menarik perhatian sang Demon Gods. Ia menghancurkan benteng-benteng itu semudah ia memecahkan kulit telur, dan berpesta di atas kengerian para manusia. Beberapa dari manusia-manusia itu kemudian menyelamatkan diri melalui jalan-jalan rahasia, yang sering kali berujung di negara para demihuman, yang artinya bunuh diri.

Keputusasaan memaksa umat manusia untuk mengambil langkah-langkah kreatif demi bertahan hidup. Ada ras yang belajar untuk menjinakkan wyvern dan hidup di high crystal pillar di atas tanah dangan gerombolan demon yang mengerumuninya. Yang lain melarikan diri sampai ke dalam perut bumi, dan menjadi sesuatu … yang bukan manusia. Yang lain menghilang ke kedalaman hutan, berlayar melintasi danau, dan umumnya melarikan diri dari Demon Gods.

Namun, The Mage Kingdom of Anmar, telah memilih solusi yang sesuai dengan kekuatan mereka. Mereka telah menemukan sebuah Tome of Ancient Lore (Buku Pengetahuan Kuno), yang katanya mengandung mantra yang mampu membuat perapalnya dapat melakukan apa saja yang ia inginkan. Meskipun rune misterius sulit dipahami, janji yang terkandung di dalamnya cukup untuk membuat mereka terus mencoba dan memecahkan kode ritual yang diperlukan untuk merapalkan mantra tersebut.

Ritual itu membutuhkan hampir seratus pengorbanan magic caster yang mampu merapal sihir tingkat ketiga; suatu prestasi yang hanya dapat dilakukan oleh segelintir negara. Mereka akan menyalurkan kekuatan mereka melalui magic caster utama, yang kemudian akan dapat menggunakan energi yang terkumpul untuk “melakukan apa pun yang ia inginkan,” menurut buku tebal itu.

Dengan semua persiapan ritual yang telah selesai, yang tersisa hanyalah sang magic caster utama, yang baru saja sampai di kamar tidur ayahnya.

Ia mengetuk, tetapi tidak ada jawaban. Ketika rasa takut muncul di hatinya, gadis itu mendorong pintu, yang kemudian terbuka tanpa perlawanan.

Ruangan yang baru saja ia masuki dilengkapi dengan perabotan mewah, dekorasinya cocok untuk seorang raja. Tentu saja, bagaimanapun ini adalah kamar tidur sang raja.

Tetapi, gadis itu tidak peduli dengan kenyataan bahwa ruangan itu hampir tidak utuh, karena saat itu awan-awan bergeser, dan cahaya bulan menyinari ketakutan terburuknya.

Ayahnya, the Mage-King of Anmar, tergeletak tidak bergerak di lantai kamarnya. Gadis itu tidak perlu mengonfirmasi dada ayahnya yang tidak bergerak untuk mengetahui bahwa ia sudah mati.

Sang ayah tergeletak dengan lengan terentang ke arah balkon—kengerian memenuhi wajahnya yang kaku.

Sebagian kesadaran gadis itu menyuruhnya untuk segera lari. Bahkan, Ia tidak ingin mengetahui apa yang baru saja dilihatnya. Tapi, entah bagaimana, rasa ingin tahu yang mengerikan mendorongnya maju. Meskipun dia tahu, apa yang baru saja terjadi, dan bagaimana pikirannya dipenuhi dengan keinginan, itu semua sudah tak tertahankan untuk melihat apa yang telah terjadi.

Perlahan, selangkah demi selangkah, ia bergeser sedikit demi sedikit menuju balkon, dan apa yang dilihatnya membuatnya jatuh berlutut.

Kota Anmar adalah metropolis para magic caster. Semua penduduknya tahu paling tidak mantra tingkat nol, dalam istilah dunia ini, dan bagaimana kota itu diterangi oleh cahaya mantra mereka setiap malam telah membuat para wisatawan menjulukinya “Kota Berkilau”.

Namun, tidak ada tanda-tanda cahaya, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Sejauh mata memandang, kegelapan malam menelan kota itu.

Anmar tidak pernah segelap ini sebelumnya, tidak pernah, sejak kota ini didirikan.

Dan kemudian, ketika ia mengaitkan hal-hal yang terjadi saat ini, semuanya menjadi jelas di dalam benaknya.

Huruf-huruf rune pada sampul buku itu bertuliskan “Buku Kematian”.

Buku itu sangat berbahaya, namun karena tak memiliki jalan lain, mereka pun berusaha keras untuk menguraikan isinya. Bahkan sihir pengurai bahasa terbaik mereka hanya mampu memberitahukan bahwa buku itu berisi mantra-mantra yang mampu menyelaraskan energi seluruh bangsa, yang memungkinkan sang magic caster mewujudkan semua keinginannya.

Namun sekarang, melihat kota mati di depannya, gadis itu menyadari betapa salahnya mereka.

Sebagai permulaan, kata “menyelaraskan” salah. Kata yang dimaksud adalah “mengumpulkan”. Mantra itu akan mengumpulkan kekuatan suatu bangsa.

Mereka telah berasumsi bahwa “energi” mengacu pada mana, tetapi sebenarnya energi itu lebih seperti “energi utama”—singkatnya, energi kehidupan.

Tetapi efek mantra itu sangat akurat. Mantra-mantra itu akan membiarkan si perapal mewujudkan semua keinginannya. Bagaimanapun, dengan mengubahnya menjadi salah satu undead yang abadi, mereka akan memiliki semua waktu yang mereka butuhkah untuk mewujudkan keinginan apa pun yang mereka inginkan … pada akhirnya.

Namun, terlepas dari kesalahpahaman mengerikan tentang ritual dan efeknya, mantra [Death Spiral] bahkan telah berhasil melindungi the Mage-Kingdom of Anmar dari amukan Demon Gods.

Bagaimanapun, apa yang telah mati tidak akan pernah bisa mati.

Dan ketika kesadaran itu menimpanya, Keeno Fasris Inberun meratapi keputusasaannya dalam malam yang dingin dan tidak berperasaan.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded