Overlord LN Volume 13 Chapter 4 Part 6 END Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Scraba 

Sang Penyelamat Bangsa

Ketika seseorang turun ke sana, alasan kemenangan mereka memang tidak ada sejak awal. Atau lebih tepatnya, pertempuran itu hanya membuang-buang waktu.

Yang bisa mereka lakukan sekarang adalah mengakhiri ini dengan meminimalisir korban dan melarikan diri ke tempat yang aman. Namun, itu bukan hal yang benar untuk dilakukan.

Kelemahan adalah dosa.

Menjadi sangat lemah adalah dosa sehingga mereka tidak dapat menyelamatkan siapa pun. Itulah mengapa mereka berlatih keras sampai saat ini.

Dia tidak bisa membiarkan ini berakhir dengan dirinya sebagai orang yang berdosa.

Jika itu terjadi, dia tidak akan bisa menemui sosok keadilan yang absolut itu lagi, Yang Mulia Ainz Ooal Gown.

Neia siap mempertaruhkan nyawanya untuk apa yang akan terjadi, dan dia tanpa sadar menyebutkan apa yang ada di dalam hatinya.

“Mereka semua Ogre.”

Dia berteriak lebih keras dari yang dia kira. Tidak ada yang tahu apakah orang-orang di sekitar Neia telah terpengaruh oleh suasana hatinya, atau apakah mereka telah memikirkan hal yang sama dengan Neia sejak awal, tetapi apa pun alasannya, mereka semua menundukkan kepala mereka.

Inilah akhirnya.

Mimpi bodoh untuk membebaskan Holy Kingdom dan membantu orang-orang telah berakhir.

Kalau dipikir-pikir, mereka sudah berani untuk memimpikan hal itu karena kekuatan Sorcerer King. Tapi mereka berakhir seperti ini ketika mereka hanya mengandalkan diri mereka sendiri.

Neia tahu bahwa sekarang bukan waktunya untuk tertawa, tapi dia melakukannya. Kemudian wajahnya berubah serius, dan dia melihat ke arah CZ.

“… Bisakah kau pergi?”

“… Bagaimana denganmu, Neia?”

Neia membusungkan dadanya.

“Aku tidak bisa lari! Aku adalah orang yang menyaksikan perbuatan Yang Mulia yang membantu orang lain, dan orang yang mendapatkan keuntungan darinya. Aku tidak bisa membiarkan diriku berakhir sebagai orang yang lemah – sebagai orang yang berdosa. “

Neia melihat orang-orang di sekitarnya yang mengangkat kepala mereka.

“Kami tidak akan lari dari bajingan itu!”

Mereka tampak seperti prajurit yang sesungguhnya.

Itu adalah wajah orang-orang yang siap untuk mati. Betapa dia ingin menunjukkan mereka dihadapan Sorcerer King.

“Tapi … kau … tidak, kalian berbeda … Itulah kenapa kami ingin mempercayakan keinginan kami padamu. Aku tahu itu pasti aneh untuk berterima kasih pada Yang Mulia melalui dirimu, tetapi sebagai salah satu bawahannya … Tolong lakukan itu untuk kami. Tolong temukan Yang Mulia, CZ. Kau dapat memerintahkan mereka yang masih berada di Kalinsha semaumu. Kumohon…”

“…Baiklah.”

Neia menghela nafas lega setelah melihat CZ yang setuju.

Namun, ungkapan itu segera berubah menjadi penolakan.

“… Aku tidak perlu pergi.”

“Apa, apa artinya itu?”

“…Lihat.”

CZ menunjuk pada objek yang sedang mendekat – bala bantuan demihuman yang datang dari arah Kalinsha. Mereka terdiri dari banyak ras, bahkan Orc dan Zern. Neia memandangi bendera-bendera yang dibawa oleh bala bantuan demihuman itu dalam barisan yang rapi. Itu adalah—

“Eh?”

Neia sangat terkejut membuat dirinya berseru seperti itu.

Dia meragukan apa yang dilihatnya dan melihatnya lagi beberapa kali, tetapi apa yang dia lihat tetap sama.

“…Lihat? Tidak perlu untuk pergi. “

Neia tahu bahwa bendera itu pertanda baik.

Itu adalah bendera dari Sorcerous Kingdom.

Teriakan terkejut dari rekan-rekannya membuktikan bahwa apa yang Neia lihat bukanlah ilusi.

“Bukankah itu bendera Sorcerous Kingdom? Bukankah anda mengatakan tentang itu sebelumnya kepada kami, Baraja-sama? “

“Apakah bala bantuan itu dari Sorcerous Kingdom? Baraja-sama memang mengatakan sesuatu tentang demihuman di Sorcerous Kingdom. ”

Sekarang perang sedang berlangsung. Pada saat ini, tak terhitung jumlahnya orang yang saling membunuh, dan Jaldabaoth juga ikut membunuh.

Namun, Neia melupakan semua itu ketika dia berusaha mati-matian untuk memahami apa yang sedang terjadi.

Apa yang terjadi selanjutnya mengejutkan semua orang.

Pasukan demihuman membagi pasukannya menjadi dua, seolah mereka telah dilatih berulang kali untuk melakukan itu. Mereka membuat jalan di tengah untuk seorang undead agar melangkah maju.

Dia adalah seorang magic caster dengan jubah hitam, mengendarai kuda perang kerangka.

Itu adalah sosok pahlawan yang dipuja oleh Neia, yang dilihatnya bahkan dalam mimpinya.

“Itu, Yang Mulia … apakah ini sungguhan …”

Neia tidak dapat dengan yakin mengatakan apakah dia sedang bermimpi atau menyaksikan kenyataan.

Namun, makhluk yang dilihatnya tak bergerak, dan itu tidak mungkin mimpi.

Emosinya yang meledak di dalam dirinya, sampai-sampai dia bahkan tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya.

Air matanya yang hangat mengaburkan pandangannya. Dia bahkan tidak berpikir untuk menghapusnya.

CZ melambaikan tangan ke Sorcerer King. Dia tampaknya telah memperhatikan hal ini, dan mengarahkan kudanya ke arah rombongan CZ.

Sorcerer King ada di depan mereka.

Apa yang harus dia katakan kepadanya? Haruskah dia meminta maaf karena tidak mencarinya? Apakah dia akan dimaafkan jika dia melakukan itu? Sementara Neia mencari kalimat yang tepat untuk mengatakannya, Sorcerer King telah tiba disana dan dengan cepat turun dari kudanya.

“… Umu. Kebetulan sekali, bertemu denganmu di sini. Nona Baraja. Apakah kau berpikir aku sudah mati? “

“Yang, Yang Mulia!”

Neia tidak bisa menghentikan air matanya yang mengalir.

“Saya percaya selama ini, karena CZ-sempai memberitahu saya. Saya berpikir Anda pasti baik-baik saja, … dan semua itu ternyata benar! “

“Ah … um. Ah … hm. Mm Aku mengerti. Itu membuatku senang. Uh … sempai? “

Tampaknya Sorcerer King juga merasa senang dengan pertemuan ini, karena sepertinya dia kehabisan kata-kata.

“… Jangan menangis.”

CZ mengusapkan sapu tangannya ke wajah Neia dan menggosoknya dengan paksa.

“… Ada ingus lagi. Benar-benar menjijikan. “

“Oh… sepertinya kau cukup dekat dengan CZ, Nona Baraja. Ini membuatku senang. ”

“Itu semua berkat Yang Mulia! Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan tanpa CZ-sempai! Terima kasih banyak!”

Hati Neia telah bergejolak seperti itu sehingga dia tidak tahu apa yang baru saja dia katakan.

“Aku mengerti … Itu cukup mengejutkan bagiku … CZ, bagaimana bisa?”

“… Saya menyukai Neia. Wajahnya sangat enak. “

“Tolong jangan mengatakan itu enak,” kata Neia sambil mengusap matanya, setelah berhenti menangis. Dengan lekas, dia membersihkan sisa air matanya. “Yang Mulia, saya punya banyak hal yang ingin saya tanyakan pada Anda, tetapi yang paling penting adalah… apakah Anda merasa tidak senang dengan kelalaian kami untuk menyelamatkan anda? Jika ya, maka saya bertanggung jawab penuh– ”

“—Nona Baraja,” Sorcerer King mengangkat tangannya untuk mencegahnya melanjutkan ucapannya. “Kenapa kau mengatakan itu? Tidak ada satupun dari kalian yang membuatku tidak senang. ”

Mata Neia bergelinang air mata lagi. Dia juga tidak sendirian – semua orang di sekelilingnya yang telah mendengar kata-kata yang baik dari Sorcerer King juga ikut menangis. Ada beberapa orang yang menahan air mata mereka yang akhirnya juga ikut menangis tersedu-sedu.

Sorcerer King sedikit menggerakan bahunya.

“… Ah, semuanya, jangan menangis. Yang lebih penting lagi, kalian pasti memiliki sesuatu yang ingin kalian tanyakan, bukan? Banyak hal lainnya? Kenapa tidak bertanya? “

“Ah iya.”

Setelah CZ menyeka air matanya lagi – dia tampaknya menyimpan sapu tangan bernoda ingus itu – Neia bertanya kepada Sorcerer King.

“Apakah, apakah mereka pasukan demihuman dari Sorcerous Kingdom?”

Meskipun dia tidak melihat satupun undead diantara mereka, para demihuman ini mungkin hanya pasukan pembuka saja.

“Tidak … tidak, kau bisa mengatakan itu, aku percaya? Ketika aku jatuh ke Bukit Abelion, aku mengambil alih daerah itu untuk menjadi bagian dari Sorcerous Kingdom. Karena itu, kau bisa menyebut mereka kekuatan Sorcerous Kingdom, bukan? ”

Neia terdiam.

Dia luar biasa.

Apalagi kalau bukan kata “luar biasa”?

Perbukitan itu dipenuhi dengan demihuman, dan mereka seharusnya diperintah oleh bawahan  Jaldabaoth. Namun dia telah mengatasinya hanya dengan kekuatannya sendiri dan menaklukkan perbukitan itu. Siapa lagi yang bisa melakukan ini selain Sorcerer King?

Neia sangat gembira sehingga dia mengatakan “sasuga”.
[T/N: Sasuga, karena versi englishnya menggunakan kata Sasugasmed, yang artinya “seperti yang diharapkan” tapi saya tetap menggunakan kata “sasuga” karena mengikuti versi englishnya]

“Jadi, aku membutuhkan sedikit waktu untuk mengumpulkan orang-orang yang menderita di bawah kendali Jaldabaoth dan memimpin mereka kesini sebagai pasukan. Semua ini untuk menyelesaikan masalah dengan Jaldabaoth – sepertinya kami tepat waktu. ”

Tidak ada ekspresi pada wajah tengkorak Sorcerer King, tetapi Neia bisa merasakan bahwa dia tersenyum anggun.

“Saya! Saya tidak pernah meragukan Yang Mulia! “

Beldran berlari kearah Sorcerer King, wajahnya dibasahi oleh air mata.

“Oh! Itu Dia! “

Tiba-tiba, Beldran berlutut. Tidak, dia tidak sendirian. Semua orang di sekitar Neia – semua orang termasuk rombongannya – berkumpul dan bersujud di hadapannya.

“Sasuga Ainz-sama”!

“Benar-benar luar biasa, Yang Mulia!”

Bahkan Sorcerer King terkejut oleh pujian itu.

“Oh, ahh … hm … ngomong-ngomong, aku punya pertanyaan untukmu juga, Nona Baraja … siapa mereka?”

“Mereka adalah orang-orang yang berterima kasih atas kebaikan Yang Mulia dan yang ingin membalasnya kepada Anda!”

“Benar! Kami telah diselamatkan oleh Yang Mulia! “

“Benar! Kami adalah orang-orang yang ingin membayar hutang kami kepada Yang Mulia. Jadi, ketika Baraja-sama memanggil, kamipun menjawab! ”

“Bukan hanya kami! Masih banyak lagi orang yang ingin membalas kebaikan yang telah Yang Mulia tunjukkan pada kami! ”

“Oh … itu membuatku sangat senang … tapi, apa semua orang seperti ini?”

“Benar! Tepat sekali! Semua orang berterima kasih kepada anda! ”

“Aku … aku mengerti … Terima kasih, semuanya.”

Ucapan terima kasih Sorercer King membuat semua orang merasa pilihan mereka telah tepat untuk mengucapkan terima kasih, sehingga mereka menangis dengan air mata yang mengalir sampai tenggorokan mereka.

“… Apakah ini air mata atas rasa terima kasih untukku?”

“Benar! Tepat sekali!”

“Dan kau mengumpulkan mereka semua, Nona Baraja… sepertinya kau sudah dewasa ketika aku tidak memperhatikanmu.”

“Terima kasih banyak, Yang Mulia!”

Neia hanya tersenyum setelah dipuji oleh Sorcerer King.

“Ah, sekarang … Nona Baraja, tolong minta mereka untuk bangkit. Aku datang kemari untuk menggantikan penampilanku sebelumnya yang tidak enak dilihat … apa yang terjadi pada Jaldabaoth? ”

“Ah! Ya! Jaldabaoth– ”

Api tiba-tiba meletus, seolah mereka telah menunggu saat itu. Neia gemetaran ketika dia memikirkan banyaknya jumlah pasukan Holy Kingdom yang tewas dalam kobaran api.

“..Aku mengerti. Maka tidak perlu bertanya. Sepertinya waktu untuk bertarung dengannya lagi telah tiba. CZ! “

“… Ya, Ainz-sama.”

“Aku akan menangani itu. Kau akan melindungi orang-orang di sini. Jangan lupa minta mereka menyiapkan sambutan yang pantas untuk kemenanganku, oke? ”

Suara sorakan “ohhhhh!” Bangkit dari kerumunan itu.

“Dengarkan baik-baik! Aku salah perhitungan dalam pertempuran sebelumnya. Aku kalah jumlah dan jumlah Mana yang sedikit. Namun, situasinya sekarang berbeda. Jaldabaoth tidak dapat memanggil banyak iblis lagi dalam waktu singkat. Selain itu, sekarang aku sepenuhnya telah pulih. Tidak ada alasan lagi bagiku untuk kalah! Yang perlu kalian lakukan adalah menunggu kedatanganku disini yang akan kembali dengan kemenangan! ”

Orang-orang bersorak ketika Sorcerer King mengumumkan kemenangan mutlaknya.
Dia mengembangkan jubahnya dan pergi menuju area tak berpenghuni. Semua orang melangkah ke samping, memberikan jalan untuknya, seolah terguncang oleh aura kekuasaannya yang luar biasa.

“Yang Mulia!”

Sorcerer King berbalik untuk melihat Neia.

“Menanglah!”

“Tentu saja!”

Sorcerer maju sekali lagi. Meskipun sosoknya seperti menyusut, Neia tidak merasa sendirian atau takut. Itu adalah rasa aman seorang anak ketika dipegang oleh orang tuanya. Bukan hanya Neia. Yang lainnya juga merasakan hal yang sama.

“… Kita menang.”

Dari samping Neia, CZ mengumumkan kemenangan Sorcerer King dengan keyakinan pada suaranya. Neia juga setuju dengannya.

Segera – segumpal api pun naik. Itu diikuti oleh sebuah kegelapan yang terbang didekatnya.

Sama seperti sebelumnya, api dan bayangan saling berbenturan.

Pada saat ini, medan perang itu terdiam.

Kedua belah pihak menurunkan pedang mereka dan melihat ke pertempuran yang ada di langit.

Benar.

Semua orang tahu itu di hati mereka.

Pemenang pertempuran itu akan memiliki hak untuk mengakhiri semuanya.

Mereka tidak lagi berada di alam di mana manusia biasa bisa ikut campur dalam pertempuran itu. Itu adalah pertempuran para dewa.

Cahaya.

Kegelapan.

Api.

Petir.

Meteor.

Segala macam fenomena yang tak dapat dipahami–

– Saling berbenturan dengan kekuatan yang luar biasa.

Dan kemudian–

Neia merasa gembira.

Itu karena mata Neia yang tajam telah melihat api itu telah mati, dan kegelapan itu perlahan turun.

Pertempuran ini secara mengejutkan berlangsung dengan cepat dibandingkan dengan yang sebelumnya. Seolah-olah untuk membuktikan bahwa dengan Mana yang telah pulih dan tanpa adanya Maid Demon yang menghalangi jalannya, Sorcerer King bisa menang dengan mudah.

“CZ-sempai!”

“… Seperti yang aku katakan padamu, kouhai.”
[T/N : Kouhai, artinya junior]

CZ yang tampak seperti itu merupakan hal yang wajar, dan Neia meraih tangannya dan menggerakkannya dengan penuh semangat. Namun, itu tidak cukup untuk menenangkan hatinya. Neia dengan erat memeluk tubuh CZ yang kecil dan tangan yang ada di belakang terus menepuk punggungnya.

Ketika semua orang menyaksikan kemenangannya, merekapun meledak dalam sorak-sorai yang bergemuruh.

Sorcerer King perlahan turun dan mendarat ditanah.

Setelah itu, Sorcerer King mengangkat kedua lengannya, dan mengeluarkan sorak-sorai yang lebih hebat dari sebelumnya.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded