Overlord Twitter Side Story Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Twitter Side Story

Translator : Enchan

Twitter Side Story

Momonga duduk di atas takhtanya, melihat ke sekeliling ruangan dengan sedikit tatapan kepuasan, dan rasa malu. Dia memperhatikan para maid dan Sebas berdiri di sudut ruangan. Mereka kliatan kesepian, berdiri sendiri seperti itu.

Setelah memastikan bahwa dia bisa memberikan perintah yang terlintas dalam pikirannya, Momonga mengingat format perintah yang telah diprogram sejak lama, dan memberi isyarat ringan dengan satu tangan, yang bergerak dari atas ke bawah.

“Berlutut.”

Albedo, Sebas, dan keenam maid secara bersamaan menekukan satu lutut mereka hingga menyentuh tanah dan membungkuk kepada tuan mereka. Momonga mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam hologramnya .

[23:55:48]

Sudah hampir waktunya.

Jika dia mencoba memanggil Game Master sekarang, mereka mungkin terlalu sibuk menyalakan kembang api daripada merespons Momonga.

Momonga menyandarkan punggungnya ke takhta, dan dengan tatapan malas dia menatap langit- langit.

Karena Nazarick telah dicap sebagai Dungeon yang paling sulit dalam game ini, beberapa orang mungkin berpikir untuk menantang mereka pada hari terakhir game berjalan.
Ketika itu terjadi, dia bermaksud berada di sana untuk menemui mereka dan menerima tantangan terakhir mereka sebagai guildmaster.

Momonga telah mengirim mail ke semua teman lamanya, tapi hanya segelintir saja yang datang.

Dia ada di sini sedang menunggu teman lamanya, sebagai Seorang guildmaster dia harus menyambut anggotanya.

“Peninggalan masa lalu, ya-”

Momonga merenung.

Dia merasa hampa sekarang. Tetap saja, itu menyenangkan.

Dia menggerakkan matanya, menghitung bendera besar yang tergantung di langit-langit.

Secara keseluruhan ada 41 dari mereka, jumlah yang sama seperti anggota guildnya, dan masing- masing memiliki simbol unik yang merupakan ciri khas dari anggotanya. Momonga menunjuk ke arah salah satu dari mereka dengan jarinya, tapi kemudian dia berhenti di tengah jalan.

“-Aku tidak bisa menyia-nyiakan waktuku untuk berdiam diri di sini!”

Momonga berpikir bagaimana dia bersiap untuk merayakan akhir dia bermain dengan cara yang mencolok. Namun, pada akhirnya tidak ada yang datang. Alasannya cukup jelas – setiap orang memprioritaskan kehidupan nyata mereka dari pada sebuah game. Itu adalah kesimpulan yang masuk akal, tapi pada saat bersamaan momonga juga merasa sangat kesepian . Karena itu, ia memutuskan untuk membatalkan rencananya malam ini.

Dengan suara gata , Momonga bangkit dan berdiri.

Tidak ada waktu lagi.

Momonga mengangkat tangan kanannya, dan menyalurkan kekuatannya ke cincin di jari manis kanannya.

Dia menyentuh Cincin Ainz Ooal Gown, dan melihat-lihat daftar tujuan teleport yang muncul. Yang pertama muncul adalah kamarnya sendiri, Momonga bertanya-tanya mengapa juga dia memasukkannya ke Urutan yang pertama. Dengan sedikit Kesal, Momonga mulai mencari di seluruh tujuan yang tersisa dengan menscrollnya.

“Itu dia!”

Seruannya dipenuhi nada kegembiraan. Dia menandai tujuan yang diinginkannya – yaitu permukaan – dan memilihnya.

Dia di teleport ke sebuah ruangan yang lebih besar dalam sekejap.

Ada meja batu yang panjang dan tipis – atau setidaknya dulu itu ada – di kedua sisinya. Lantainya sudah dipoles sampai seperti marmer putih. Di belakangnya, sebuah tangga turun terus ke bawah, mengarah ke sepasang dua pintu besar yang membuka jalan ke lantai pertama Great Underground Tomb of Nazarick .

Tempat ini paling dekat dengan permukaan yang bisa di tuju cincin yaitu ke Central MausoleumGreat Underground Tomb of Nazarick .

“Aku perlu buru-buru!”
Momonga tergesa-gesa saat mengatakan itu.

Dia melirik waktu di tangan kirinya-

[23:58:03]

-Tidak ada banyak yang waktu tersisa.

Rasanya seperti bel kereta yang berbunyi dan pintu kereta yang mendesis bersiap untuk menutup.

Seperti seorang salaryman yang bergegas dengan kecepatan penuh menuruni tangga untuk naik kereta, Guildmaster Momonga mengeluarkan mantra ‘Flight’, dan meluncur keluar dari Great Underground Tomb of Nazarick ke dalam rawa-rawa luas yang mengelilinginya.

Sangat sulit untuk bergerak lincah saat terbang. Rasanya seperti semacam permainan dogfighting udara. Namun, setelah pengalaman yang panjang dengan penerbangan, mudah sekali mengendalikan gerakan seseorang melalui udara. Dengan demikian, tidak perlu untuk berkonsentrasi saat terbang. Namun, seseorang tidak akan bisa bergerak tanpa menggunakan konsol dalam game.

Rawa-rawa berkabut mulai terlihat. Dia bisa melihat bayangan monster di kabut. Karena itu adalah hari terakhir YGGDRASIL, semua monster itu dinonaktifkan. Akibatnya, mereka tidak bisa menyerang Momonga, dan Momonga juga tidak bisa menyerang mereka.

Itulah sebabnya, aku pikir penyusup mungkin datang. Hari ini, mereka bisa melewati area GurenberaSwamps tanpa mengeluarkan daya apapun.

Namun, akhirnya tidak ada yang datang.

Momonga menyipitkan matanya – meskipun ekspresinya tidak berubah – lalu dia mendarat di tempat tujuan yang dipilihnya, sebuah pulau mengapung di tengah rawa.

Momonga menarik sebuah tongkat kecil dengan tombol-push di ujungnya dari ruang sakunya.

“Ayo pergi!”

Seakan menegur dirinya sendiri, Momonga menekan tombolnya dengan kuat.

Pada saat itu, tabung silindris di tanah di bawahnya meluncurkan serangkaian bola yang bersinar ke udara sekaligus.

Ini adalah kembang api yang murah.

Sebagai persiapan untuk menghadapi momen ini, Momonga telah membeli 5000 Butir kembang api dan meletakkannya di pulau ini.

Karena mereka Dijejerkan sangat dekat, kembang api yang ditembakan tampak seperti satu kelompok besar saat mereka melayang ke langit.

Aslinya, dia ingin menonton ini bersama dengan anggota guild yang ikut dengannya. Namun, saat ini tidak ada seorang pun di sampingnya.

“… aku perlu bangun jam 4 …”

Momonga menggumamkan hal itu pada dirinya sendiri saat menyaksikan kembang api yang meluncur di ikuti asap putih.
Dan kemudian, ada ledakan besar. Ini bukan lagi kembang api. Itu tampak lebih mirip mantra super- tier ‘Fallen Down’ beraksi.

Cahaya putih cemerlang berkobar dalam pancaran besar yang membungkus Momonga.

Ah…

Dia tidak menganggap ini adalah game DMMO terakhir yang akan dia mainkan. Momonga, tidak, orang yang biasa di panggil Suzuki Satoru tidak pernah memainkan game lain seperti ini selain YGGDRASIL. Namun, ia masih berharap untuk kedepannya. Tiba-tiba, ia merasa berkeinginan untuk tinggal di sini dan tidak kembali ke dunia nyata.

Tetapi tetap saja-

Kurasa rasanya enak seperti ini untuk saat ini, dengan cahaya yang mengelilingiku.

Realitas dilanjutkan beberapa detik kemudian. Beberapa saat itu adalah inkarnasi kegembiraanSuzuki Satoru.

Sepertinya dia telah menutup matanya dari kecerahan. Momonga dengan panik membukanya.

Ini Aneh.

Karena otaknya langsung terhubung dengan Megacon, dia bisa menutup matanya di permainan. Momonga khawatir. Dia pikir dia mungkin telah kehilangan penglihatannya.

“Ada apa ini?” Gumam Momonga pada dirinya sendiri

Pemandangan tak terduga terentang di bawah kakinya.

Momonga mengambang di langit, tapi itu bisa dimengerti. Lagi pula, dia telah melemparkan mantra penerbangan pada dirinya sendiri beberapa waktu yang lalu.

Namun, tanah di bawah kakinya bukan lagi rawa.

Melainkan, Itu adalah reruntuhan.

Bukan hanya satu atau dua bangunan yang rusak. Apakah itu sebuah desa yang ditinggalkan? Tidak, ini lebih besar. Itu tampak seperti seluruh kota telah dirusak dan menjadi seperti reruntuhan.

“Hah?”

Dengan kepanikan yang tak terduga, Momonga dengan tenang memeriksa waktu di tangan kirinya.

[0:03:45, 46, 47]

“Hah ?!”

Momonga mengamati sekelilingnya lagi dan lagi. Langit tertutup awan tebal dan gelap, dan kalau di lihat ini benar-benar tengah malam . Di bawah kakinya ada reruntuhan kota yang hancur.

“Apa ini?”
Sudah lewat tengah malam. Dia menganggap bahwa waktu yang ditunjukkan oleh jam sistem telah rusak.

“Apakah mereka menunda shutdown server?”

Kemungkinan yang tak terhitung jumlahnya muncul di kepalanya, tapi itu masih jauh dari kesimpulan yang pasti. Namun, kemungkinan yang paling mungkin adalah bahwa mereka telah menunda shutdown server.

Jika memang begitu, dia mungkin bisa meminta penjelasan ke GM. Dengan terburu-buru Momonga mengaktifkan fungsi panggilan GM yang belum pernah dia gunakan sampai saat ini – dan kemudian tangannya terhenti.

Konsolnya tidak muncul.

“Apa yang …?”

Dia tidak bisa merasakan apapun.

Seolah-olah dia telah terputus dari sistem ini sepenuhnya.

“…Apa-apaan ini?”

Saat dia mengatakan ini, dia merasa harus turun sebelum melanjutkan pemikirannya. Penggunaan mantra ‘Flight’ membutuhkan sebuah konsol untuk mengendalikan gerakan seseorang, tapi Momonga menyadari bahwa ia tidak dapat menemukannya, dan juga tidak membutuhkannya lagi.

Momonga perlahan turun dari ketinggian yang tinggi dan mendarat dengan mudah di tanah.

Momonga menatap tangannya, dan tidak melihat apapun kecuali tulang belulang.Dia sangat sadar bahwa ini adalah tangannya sendiri.

“Apa, apa yang terjadi ?!”

Tadi, Momonga terbang dengan sangat terampil. Dia bergerak di udara hampir tanpa sadar, seperti dia menggerakkan tangan kanannya. Dia menyadari bahwa dia telah mengendalikan mantra ‘Flight’ dengan pikirannya.

Ini adalah situasi yang sangat aneh.

Namun, meski mendapati dirinya berada dalam situasi aneh seperti ini, dia merasa sangat tenang, dan hanya sedikit takut.

Dia tiba-tiba teringat kata-kata salah satu rekannya.

Ketidaksabaran adalah benih kekalahan, sementara pemikiran yang konstan, tenang dan beralasan adalah sebuah kebutuhan. Tenangkan hatimu dan perbesar visimu. Ambillah segala sesuatu dalam pikiranmu dan Kamu bisa mengubah situasi disekitar.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari tahu di mana dia berada.

Kalau saja ada orang lain di sini…

Dia menggunakan mantra ‘Flight’ untuk mengamati sekelilingnya dari udara. Jadi, ada banyak sekali rumah rusak di sekelilingnya.
Dia punya firasat buruk tentang ini. Seolah-olah dia bisa merasakan sesuatu yang mengintipnya dari celah sempit di antara rumah-rumah yang hancur itu.

Berada di area terbuka akan memberinya garis pandang yang jelas ke wilayah sekitar dia, tapi pada saat bersamaan dia benar-benar terpapar jelas pada lawan yang mengincarnya.

Momonga menganggap bahwa seseorang mungkin akan mencoba mePK-nya dalam keadaan aneh ini. Karena itu, sampai misteri itu terurai, akan lebih baik melakukan perjalanan secara diam-diam.

Karena itulah, dia memulai langkah pertama menuju hal itu.

‘Complete Invisibility’.

Momonga merapalkan mantra. Itu adalah mantra yang jauh lebih unggul dari ‘ Invisibility ‘. Dia sama sekali tidak terlihat oleh siapapun kecuali mereka yang menggunakan magic khusus untuk melihatnya.

Setelah itu, Momonga mempertimbangkan untuk menggunakan skill yang dia andalkan saat dia bermain Yggdrasil. Meski memiliki banyak kelebihan, ternyata tidak begitu bermanfaat bila digunakan oleh makhluk hidup yang tak terlihat. Tetap saja, ini akan berguna sebagai umpan, karena dia tidak dapat memastikan bahwa pertemuannya dengan makhluk lain akan bersahabat.

Apa aku harus menyembunyikan wajahku? Mungkin … tapi kan, bukankah itu akan menimbulkan kecurigaan terhadap siapa saja yang menyembunyikan wajah mereka di YGGDRASIL? Oh, hampir-

Setelah itu, Momonga mengaktifkan salah satu skill pasifnya. Itu adalah skill yang bisa mendeteksi mayat hidup.

Sepertinya dia khawatir apakah skill itu bisa bekerja atau tidak, saat diaktifkan. Pada saat itu, Firasat buruk Momonga ternyata benar.

Momonga jongkok di dinding di dekatnya. Tepatnya, dia bergerak sendiri menuju dinding itu sehingga dia bisa sembunyi dari reaksi Undead terdekat yang dia rasakan.

Apa? Reaksi Undead tersebut datang dari samping, pergerakannya acak? Dari mana dia datang?

Momonga menempel erat ke dinding dan tidak bergerak sama sekali di sana. Reaksi Undead tidak memberitahu apapun tentang kekuatan lawannya. bahkan Undead peringkat tinggi pun masih bisa melihat meski menggunakan ‘Complete Invisibility’.

Dia punya dua pilihan.

Salah satunya adalah menjauh dari sini, atau lebih tepatnya, dari menjauh dari reaksi Undead tersebut. Yang lainnya adalah memeriksa tingkat Undead dan melihat apakah dia bisa mengatasinya.

Namun, tidak ada jaminan bahwa dia bisa menemukan tempat yang aman jika dia pindah dari sini. Kalau begitu, lebih aman tinggal lebih lama di sini, di mana dia bisa melacak Undead itu.

Selain itu, Momonga juga Undead, dan jika lawannya berada pada tingkat yang lebih rendah dari dia, dia tidak perlu khawatir melawannya.

Tak apa, selama tidak ada yang lain lagi selain Undead di luar sana …

Momonga mencoba mengingat kembali perasaan yang dimilikinya saat menggunakan ‘Flight’. kepercayaan dirinya meningkat.
Aku bisa melakukan itu. Entah kenapa, aku juga yakin bisa menggunakan serangan magic tanpa masalah. … Ini Buruk, aku merasa seperti bukan diriku lagi – Bukan, Pertanyaan itu akan kubahas nanti. Bagaimanapun, selama aku bisa ‘Teleport’ aku punya cara untuk melarikan diri, bahkan jika itu hanya teleportasi lurus ke arah langit.

Momonga melihat ke sekeliling di sekitarnya, memastikan untuk mencari tempat yang tepat untuk pengamatannya. Dalam keberuntungannya, dia menemukan sebuah rumah hancur di dekatnya dengan dinding yang ukurannya tepat untuk menyembunyikannya.

Momonga berlari ke arahnya, masuk melalui celah celah di salah satu dinding.

Langit-langitnya roboh dan ada jenazah di dekat kakinya, namun keempat dinding rumah itu masih kokoh.

Momonga berpikir tentang perapalan mantra, ia mencatat bahwa tingkat teknologi di sini tampak sangat rendah.

Rumah tersebut bukan terbuat dari beton yang bertumpuk. Paling tidak, itulah kesimpulan yang didapatnya setelah melihat puing-puing kayu di kakinya.

“Seperti yang kupikir … apakah ini YGGDRASIL?”

Apa yang dilihatnya sekarang tidak menyerupai apapun yang pernah ia lihat di dunia nyata. Namun, itu masih menyisakan banyak pertanyaan di benaknya.

Momonga menyimpan pertanyaan itu untuk sementara dan melemparkan mantra lain.

” Distant Vision “. ”
Dia mengambil kendali sensor scrying dan mengarahkannya ke udara. Skenario terburuknya adalah jika lawannya adalah Undead yang bisa melihat melalui invisibility, dan dia harus berdoa agar lawannya tidak memiliki suatu cara untuk menghalangi dan melakukan serangan balik terhadap sihir pengumpul-informasi ini.

“Apa ini…”

Itu sama sekali tidak seperti yang pernah dia gunakan di YGGDRASIL.

Di YGGDRASIL, mantra ‘Distant Vision’ akan menampilkan apa yang dilihatnya di layar datar dan magis. Layar itu bisa diperluas atau diperkecil sesuka hati.

Sekarang, sebagai gantinya, bidang penglihatan sensor scrying itu tumpang tindih dengan fungsinya sendiri.

Ini Aneh. Namun, hal itu tidak menimbulkan masalah dalam penggunaannya. Dia mengendalikannya secara alami dan bebas, dan kemampuan sensorik yang lebih luas tampak seperti bagian darinya.

Momonga mengabaikan sedikit kepanikan yang ia rasakan dan mengarahkan ‘Distant Vision’ ke arah undead untuk menempatkan undead tersebut ke depan.

Itu adalah ‘Zombie’. Namanya biru, yang berarti bahwa itu adalah lawan yang lemah bagi Momonga. Setelah selesai dengannya, Momonga terus mencari Undead lain di sekitarnya.

Momonga mengakhiri mantra ‘Distant Vision’ dengan suara “whew”, seolah dia sudah menyerah. Bagaimanapun, mempertahankan ‘Total Invisibility’ sangat menguras mananya.

Dia ingin memastikan kekuatannya sendiri. Jika mantra-mantranya sama kuatnya dengan saat diYGGDRASIL, dia tidak akan memiliki masalah di sini.
Jika dia bisa, dia ingin menhancurkan Zombie itu untuk menguji kekuatannya, tapi itu terlalu berisiko untuk membunuh semua Undead di wilayah tersebut.

Karena Momonga juga termasuk ras undead seperti zombie, ada kemungkinan besar mereka tidak akan menyerangnya. Dengan demikian, dia bisa fokus mengumpulkan informasi, dan tidak membela dirinya sendiri.

Setelah memutuskan tindakannya, Momonga pindah untuk menyelidiki kota yang hancur itu.

Dari penyelidikannya, dia menegaskan bahwa tingkat teknologi di tempat ini rendah. Ini mirip dengan set film, lengkap dengan mesin modern. Tidak ada kabel atau pipa yang terkubur di tanah, meski terlihat seperti ini. ini adalah tempat yang masih memiliki peradaban.

Ini adalah pertama kalinya dia melihat tungku pembakaran kayu di luar Yggdrasil.

“-Apakah ini YGGDRASIL? Ah, tidak, ini terlalu berbeda. ”

Perlahan, Momonga mulai menyadari kebenarannya.

Dia jelas tidak berada dalam sebuah game. Namun, jika memang begitu, bagaimana dengan dirinya sendiri? Tubuhnya adalah kerangka, namun ia masih bisa bergerak.

Perasaan sehat yang ia rasakan selama bertahun-tahun ini tiba-tiba hancur, dan logika baru tentang keadaannya saat ini harus tenggelam ke dalam diri Momonga. Dia maju ke jalan utama, dan saat dia melihat ke bawah, dia melihat apa yang seharusnya merupakan gerbang tempat masuk, yang sekarang sudah menjadi tumpukan puing puing.

“Tetap saja, apa yang terjadi di sini? Jika ada ledakan, tidak mungkin itu akan memporak poranda seluruh kota sampai seperti ini. Apakah angin topan lewat sini atau di suatu tempat? ”
Saat Momonga merenungkan apa yang terjadi pada kota ini, dia tiba-tiba tersentak.

“Apa?”

Ada reaksi mayat hidup di kejauhan.

“…Ini adalah…”

Itu tidak bergerak perlahan, seperti zombie. Itu seperti melarikan diri darinya dengan kecepatan tinggi.

Mata Momonga menyipit.

Ini bukan zombie. Apapun itu, dia cerdas.

“Aku tidak akan membiarkan Kau melarikan diri, Informan.”

Tubuhnya melayang ringan ke udara, dan kemudian melonjak maju dengan kecepatan tinggi. Lawannya bergerak dalam pola zig-zag, yang menunjukkan keakrabannya dengan tata letak kota. Namun, kecepatan penerbangan Momonga lebih dari sekadar untuk keuntungan itu.

Momonga yang satu satunya dibebani lawannya, yang akhirnya berhasil melihatnya dengan sekilas. Ia mengenakan tudung dan mantel, dan dari tubuh kecilnya ia menoleh ke belakang berkali-kali saat melewati gang-gang sempit kota.

Akhirnya, Momonga berhasil menyusulnya dan turun di depan figure itu. Karena ia melihat kebelakang pada saat momonga mendarat tepat di depannya, yang kemudian ia menabraknya.
Figure pendek itu memantulkan Momonga dan jatuh ke pantatnya dengan suara dosun . Tudungnya bergeser, dan dia bisa melihat rambut keemasan di baliknya.

“…Selamat malam. sepertinya, Malam ini mendung. ”

“…”

figure pendek itu tidak membalas sapaannya, hanya terengah-engah saat dia mencoba menarik napas.

“Aku punya beberapa hal yang ingin aku tanyakan kepadamu. Maukah kau menjawab pertanyaanku? ”

Di bawah tudungnya, Momonga melihat matanya yang berwarna merah tua.

Seorang anak? tikus jalanan … tidak, baunya tidak busuk. Jadi, dia Undead, aku rasa dia tidak banyak berbau … dan dilihat dari manapun, dia terlalu rapi untuk itu.

“… Aku akan mengatakannya lagi. Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu. Apakah kau tidak keberatan menjawabnya? ”

Anak itu menganggukkan kepala dengan penuh semangat.

“… aku … Suzuki Satoru. Siapa namamu?”

Pupil merah tuanya melebar berbentuk lingkaran.

“… a, u … a … a”
Suaranya nyaris tidak terdengar, dan dia sama sekali tidak bisa mengerti kata-katanya.

Apakah dia bukan orang Jepang? Apakah anak itu bukan pemain?

“Namamu?”

“… a, u … a … a”

Dia merasa sedikit bodoh saat menyadari bahwa dia mungkin orang asing, dan itu mungkin namanya.

“AuAa? Itu nama yang aneh … bukan? ”

Anak itu menggelengkan kepalanya.

“Itu bukan namamu? Lalu, apakah itu berarti Kau tidak bisa memberitahu namamu? ”

Sekali lagi, dia menggelengkan kepalanya.

Anak itu berusaha keras untuk berbicara, tapi Momonga tidak mengerti kata-katanya.

“Dimana orangtuamu…”

Saat dia mengatakan itu, Momonga ingat bahwa dia adalah Undead, dia tidak akan memiliki orang tua. Meski begitu, reaksi anak itu agak aneh.
Anak itu menundukan kepalanya, lalu mengguncangnya.

Dia sepertinya berkata, “mereka sudah pergi”.

Seharusnya aku memikirkan bagaimana cara mengucapkan selamat tinggal, pikir Momonga sambil memandangi anak yang berbicara dengan pengucapan aneh. Tiba-tiba, dia berbicara lagi dengan suara yang sangat kecil, tapi kali ini, dia bisa memahaminya,

“-anda-asrith Inberun.”

Saat dia mengulangi dirinya sendiri, Momonga akhirnya bisa mengerti apa yang dia katakan.

“Namaku Kino Fasrith Inberun.”

Itulah namanya

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded