Overlord Vampire Princess of the Lost Country – Chapter 1 Part 1.1

Font Size :
Table of Content

Overlord : Vampire Princess of the Lost Country – A Strange Tale of the Absolute Ruler – Chapter 1 Part 1.1 Bahasa Indonesia

Translator : Scraba

Chapter 1: Pertemuan di Kota yang hilang

Tiba-tiba, Suzuki Satoru merenung.

Dia tidak tahu orang macam apa gadis bernama Keeno ini. Namun, dia jelas merupakan sumber informasi yang penting. Dia perlu membuatnya merasa santai sehingga dia akan lebih bersedia untuk berbicara.

Pertama-tama, dia bukan Player, itu tampak dari reaksinya, bisa dibilang dia penduduk dunia ini. Meskipun dia ingin memastikan itu secara langsung, dia tidak tahu bagaimana caranya.

Dan juga, dia tidak bisa memastikan apakah dia bisa dipercaya atau tidak. Dia mungkin saja akan mendapatkan informasi palsu darinya. Saat ini, dia harus mengambil langkah untuk mendapatkan kepercayaannya.

Dengan pemikiran itu didalam kepalanya, Suzuki Satoru mulai dengan menunjukkan senyum seorang pebisnis, tetapi kemudian dia menyadari bahwa dia tidak dapat melakukannya dalam keadaannya yang sekarang. Karena itu, ia berusaha berbicara dengan lembut. Walaupun suaranya tidak bisa dianggap manis, ia berusaha berbicara selembut mungkin.

“Ah … aku … meskipun tadi aku sudah memberitahukan namaku, tapi mari kita mulai perkenalan dari awal lagi. Aku Suzuki Satoru. ”

“Satoru … sama?”

Suzuki Satoru sontak melebarkan matanya – meskipun dalam tubuh saat ini, terlihat kobaran api dari rongga matanya . Dia tidak menyangka gadis itu akan langsung memanggil namanya. Gadis itu berbicara dengan akrab, Suzuki Satoru pun termenung. Dan dia memberitahukan namanya juga.

Aku lebih baik mengingatnya. Dia pasti sengaja menekankannya pada bagian itu.

“Gunakan -san saja. Kalau begitu … Namamu Keeno-san, benar? ”

Sekarang giliran gadis itu untuk melotot. Suzuki Satoru agak khawatir apakah dia mengatakan sesuatu yang tidak pantas.

Keeno Fasrith Inberun.

Keeno pasti namanya dan Inberun mungkin adalah nama keluarganya. Ataukah Fasrith-Inberun? Meskipun dia tidak yakin yang mana, raut wajah gadis itu yang terkejut mungkin karena gadis itu memanggil Satoru dengan namanya, tetapi Suzuki Satoru justru memanggilnya dengan nama belakangnya. Mungkin gadis itu mengira bahwa itu adalah penolakan dari niat baiknya.

Atau apakah itu karena dia menambahkan akhiran -san pada namanya, meskipun dia masih anak-anak?

“Ah, y-ya…”

“Kalau begitu, silahkan berdiri. Dan kemudian – berbicara di sini rasanya agak … bagaimana kau menyebutnya. Baiklah. Aku bisa menciptakan menara dengan sihir … tapi itu akan lebih tinggi dari bangunan di sekitarnya. Meskipun aku juga memiliki item dengan kemampuan yang sama … Kau tidak ingin terlihat mencolok, bukan? ”

Keeno baru saja berhasil berdiri dihadapan Suzuki Satoru yang menariknya, dan dia dengan canggung mengangguk.

Aku mengerti – Suzuki Satoru lalu menyipitkan matanya.

Itu artinya Keeno tahu tentang magic item. Apakah itu pengetahuan umum bagi penghuni dunia ini, atau hanya pengetahuan pribadi yang hanya dimiliki olehnya saja? Atau apakah dia seseorang yang memiliki hubungan dengan YGGDRASIL?

Tetap saja, dia merasa agak aneh ketika mencoba mencari sifat orang pada umumnya pada seorang gadis undead yang dia temui di kota yang penuh dengan Zombie.

Dan juga kenapa dia ingin menghindari perhatian – apakah itu karena ada undead dengan tingkat kecerdasan yang tinggi lainnya di kota ini selain Zombie, atau apakah karena ada makhluk yang bermusuhan dengannya di sekitar sini dan tempat ini tidak aman? Sepertinya begitu.

“Kalau begitu, jika kau tahu tempat yang lebih aman, bisakah kau membawaku ke sana?”

Tubuh Keeno gemetar.

Dia bisa mengerti bagaimana perasaannya.

Bagi Suzuki Satoru, ia tidak ingin menuntun seseorang yang mungkin saja adalah seorang PK – kalau begitu, sebagai seorang tengkorak yang mencurigakan – yang tiba-tiba mengajaknya ketempat perlindungannya yang aman, terasa agak aneh. Karena itu, dia harus mengambil langkah mundur dan mencari tempat di mana mereka dapat berbicara dengan tenang. Mungkinkah Keeno tidak memiliki tempat persembunyian cadangan?

Mudah untuk mengatakan “Kau tidak perlu khawatir”, tetapi karena dia tidak tahu apa yang telah dilalui oleh Keeno, dia tidak memiliki hak untuk mengatakan sesuatu seperti itu. Bahkan Suzuki Satoru tidak akan terus bermain YGGDRASIL jika dia tidak bertemu teman-temannya. Dengan kata lain, tindakan seseorang didasarkan pada pengalaman dan masa lalu mereka. Mungkin saja biasanya Keeno bukan orang yang terlalu waspada.

Suzuki berbicara kepadanya sebagai player YGGDRASIL yang berbicara kepada seorang pemula yang belum berpengalaman.

“Aku tidak ingin kau membawaku ke markas utamamu. Apakah kau tahu tempat lain yang kau anggap aman? Seperti misalnya, rumah-rumah terdekat atau semacamnya? ”

Sejujurnya, dia memang ingin tahu di mana markas utamanya. Tetapi Suzuki Satoru dipenuhi dengan kewajiban moral seorang veteran pengalaman yang memberi nasihat kepada seorang pemula, dan ia menyarankan alternatif dengan tulus.

Dan juga, Keeno mungkin saja bukan satu-satunya di markas itu. Atau apakah tempat itu sangat penting baginya sama seperti teman-teman Satoru? Suzuki Satoru sangat memahami perasaan seseorang yang tidak ingin membahayakan teman-temannya.

“Jika kau tidak dapat memutuskannya sendiri, maka aku tidak keberatan kau kembali setelah kau berbicara dengan teman-temanmu. Kalau begitu, aku akan menunggu didekat sini … di tempat yang tidak ada undeadnya. ”

Meskipun dia tidak ingin membiarkannya melarikan diri, dia juga tidak ingin menguntitnya dan mengorek informasi darinya. Membiarkan dia percaya padanya bukan hal yang buruk, Suzuki Satoru dengan murah hati menyatakan dalam hatinya sebagai rasa tanggung jawabnya sebagai Player tingkat tinggi yang dengan berani memberikan usulan.

Keeno berjalan dengan gaya yang malu-malu.

“Terima kasih banyak, Keeno-san.”

Bahu Keeno berkedut ketika dia mendengar Suzuki Satoru mengucapkan kata-kata itu dari belakangnya. Kemudian, dia buru-buru berbalik untuk menatapnya.

“Hm? Ada apa? ”

“Ah, tidak, ti-tidak apa-apa …”

Keeno bergumam pelan dan berjalan pergi.

Apa yang terjadi, Suzuki Satoru bertanya-tanya. Apakah dia merasa waspada, atau itu karena dia benar-benar menakutkan?

Faktanya, Keeno memata-matai mereka dari lorong sempit, meskipun dia sendiri adalah undead. Haruskah dia berasumsi bahwa mereka pernah menjadi musuh?

Kalau begitu, jenis undead macam apa dia?

Ada banyak sekali jenis undead – seingat Suzuki Satoru, sejauh yang diketahuinya – yang memiliki mata merah. Namun, sangat sedikit dari mereka terlihat rapi seperti Keeno. Meskipun kata-kata Vampire Bride muncul di benaknya, dia tidak merasa gadis itu adalah salah satu dari mereka.

Pada saat inilah Suzuki Satoru merasa dungu karena ketidaktahuannya.

Jika ini benar-benar dunia lain, maka sangat mungkin jika ada undead yang unik. Namun, dia tidak bisa mengatakan bahwa ini tidak ada hubungannya dengan YGGDRASIL. Kalau tidak, mustahil untuk menjelaskan mengapa Momonga dapat menggunakan skill dan mantra YGGDRASIL.

Suzuki Satoru mengabaikan pemikirannya lebih lanjut. Lagi pula, mengingat betapa sedikitnya informasi yang dimilikinya, sekeras apapun dia memikirkannya tidak akan memberikan jawaban.

Untungnya, mereka berdua tidak menemui Zombie saat mereka berjalan dalam diam selama beberapa menit. Keeno berhenti ketika dia mencapai sekitar tembok kota. Ada sebuah rumah kecil berlantai satu di sana, dengan tangga mengarah ke bawah. Bangunan di sepanjang jalan memiliki pintu jeruji.

Apa ini? Jika mengarah ke ruang bawah tanah, bukankah seharusnya berada di dalam sebuah bangunan? Apakah itu saluran air bawah tanah? Atau tidak, haruskah aku menyebutnya selokan?

Keeno menoleh.

“Ah, ini, tempatnya.”

Matanya tertunduk, seolah-olah dia malu menunjukkan betapa buruknya tempat tinggalnya.

Memang benar itu bukan tempat di mana seorang gadis seharusnya tinggal. Namun, tampaknya anak-anak pelarian di dunia Suzuki Satoru juga tinggal di tempat yang sama.

“Aku mengerti. Aku pernah mendengar jika perubahan suhu di bawah tanah jauh lebih ekstrem daripada di permukaan. Kau memilih tempat yang bagus. ”

Kebanyakan undead memiliki ketahanan yang sangat tinggi terhadap dingin, dan suhu yang rendah seharusnya tidak masalah bagi mereka. Oleh karena itu, Suzuki Satoru terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya membalas ucapan gadis itu.

“Apakah ada orang lain yang tinggal di sini selain dirimu?”

Keeno mengangguk dengan lembut sebagai jawaban atas pertanyaan Suzuki Satoru.

“Aku mengerti … kalau begitu tolong tunjukkan jalannya.”

Keeno mendorong jeruji ke samping. Dia tampaknya tidak menggunakan kekuatan undead, kemampuan atau mantra tertentu; itu memang tidak terkunci. Dan fakta bahwa dia tahu itu akan terbuka, juga bukti bahwa dia memperlakukan tempat ini sebagai markas operasinya.

Keeno terus menuruni tangga di depannya.

Meskipun cahaya bulan dengan cepat menghilang, itu tidak menyebabkan masalah bagi mereka berdua. Lagipula, semua undead memiliki kemampuan penglihatan dalam kegelapan (darkvision).

Mereka mencapai dasar tangga, dan sepertinya ini benar-benar selokan. Namun, Suzuki Satoru menyadari disepanjang jalan bahwa tidak ada bau kotoran di sini. Bahkan, tidak ada air yang mengalir sama sekali, hanya perasaan sedikit lembab di udara.

Mungkin ini karena telah berlalu sejak lama ketika penduduk kota ini menjadi undead. Meskipun air hujan sesekali masuk ke sini, namun limbah segar sama sekali belum melewati tempat ini.

Mungkin itulah sebabnya Keeno tidak memiliki bau kotoran meskipun markasnya terletak di selokan.

Sentakan emosi tiba-tiba mengalir melalui Suzuki Satoru.

Hujan asam dan bau busuk terjadi di era tempat tinggalnya. Namun, tubuh Keeno tidak membawa bau asam, itu artinya bahwa air hujan dunia ini masih murni dan bersih seperti di masa lalu.

“Mungkin Blue Planet-san akan merasa senang jika dia ada di sini.”

Keeno berbalik ketika dia mendengar Suzuki Satoru berbicara pada dirinya sendiri, dan dia menatapnya dengan ekspresi malu-malu di wajahnya.

“Maafkan aku, aku hanya berbicara pada diriku sendiri.”

“Ah, oh, saya, mengerti.”

Ketika kata-kata Keeno secara perlahan mulai lebih mudah untuk dimengerti, Suzuki Satoru dapat mendengar rasa takut yang terpendam didalam dirinya.

Padahal aku sudah begitu baik padanya sampai sekarang, Suzuki Satoru tiba-tiba mengeluh. Tentu saja, dia tidak melupakan efek dari penampilan skeleton-nya. Lagipula, kesan pertama sulit diubah.

Tepat saat dia mempertimbangkan apakah akan menutupi wajahnya atau tidak, mereka berdua akhirnya sampai ditujuan. Namun, itu bukan karena dia sudah berpikir terlalu lama, tapi karena memang tujuan mereka tidak jauh dari tempat mereka memasuki selokan.

Setelah memasuki selokan, mereka telah melakukan perjalanan sekitar 20 meter, berbelok kekiri, dan kemudian terus 20 meter sebelum tiba di depan pintu geser. Dia membuka pintu yang terlihat seperti terbuat dari logam, dan berderit.

“Ini, tempatnya.”

Suzuki Satoru mengikuti Keeno ke dalam ruangan.

Itu tidak terlalu luas. Ruangan ini mungkin telah digunakan untuk menyimpan alat-alat yang diperlukan untuk melakukan perbaikan saluran pembuangan, dan ada tumpukan kapak dan peralatan lainnya di sudut ruangan.

Apa yang ada didekatnya adalah sepotong kain yang agak kotor – bukan karena noda, tetapi karena dimakan usia – yang tergeletak di tanah.

Disana juga terdapat meja dan kursi biasa yang sudah dimakan usia.

Hanya itu yang dimiliki oleh ruangan ini. Tampaknya tempat ini tidak cocok sebagai tempat tinggal sama sekali. Bisa dibilang itu adalah ruangan yang tidak memiliki kemewahan atau barang-barang rumah tangga apapun.

Meskipun dia bisa mengerti bagaimana dia berpikir, mengingat bahwa dia adalah undead, Suzuki Satoru tidak akan pernah ingin tinggal di tempat yang sepi dan sunyi seperti ini terlalu lama. Tunggu dulu–

Tiba-tiba gelombang keakraban muncul dari dalam dirinya. Ketika dia memikirkannya, rumahnya di kehidupan nyata hampir mirip dengan ini.

Namun, hal di ruangan ini yang menarik perhatiannya adalah tumpukan buku dan gulungan. Buku-buku tersebut memiliki karakter yang Suzuki Satoru belum pernah lihat sebelumnya yang tertulis dipermukaanya, meskipun pada dasarnya hanya bahasa Jepang yang diketahuinya.

“Apakah kau membutuhkan lampu atau kursi?”

Dia mengeluarkan sebuah lampu bergaya barat dari inventory-nya dan menyalakannya, membuat cahaya putih mengalir ke sekitarnya.

Itu adalah magic item yang telah dialiri dengan [Continual Light].

Tentu saja, dia memiliki magic item dengan tingkat yang lebih tinggi untuk penerangan. Namun, Suzuki Satoru memutuskan bahwa tidak perlu memamerkan sesuatu yang bagus. Sekarang bukan saatnya untuk mengungkapkan kartu ditangannya. Dan juga, salah satu dari item-item tersebut dapat memancarkan cahaya seperti cahaya matahari, yang akan memberikan efek status negatif pada Vampir. Jika Keeno adalah seorang Vampir, maka dia mungkin menilai itu sebagai tindakan permusuhan. Karena itu, dia tidak bisa mengeluarkan itu dalam keadaan apa pun.

Cahaya lampu menerangi wajah Keeno, tapi dia sepertinya tidak terlalu terkejut. Namun, dia tidak bisa memastikan apakah itu karena dia telah melihat magic item seperti ini sebelumnya, atau apakah itu karena dia mengerti tentang mantra [Continual Light].

Setelah itu, Suzuki Satoru merapalkan mantra berikutnya [Create Greater item].

Mantra ini pada awalnya dimaksudkan untuk menghasilkan senjata, tetapi Suzuki Satoru memiliki dugaan bahwa didunia ini – dengan asumsi bahwa dia sekarang berada ditempat yang berbeda – maka kemungkinan mantra ini akan memiliki penggunaan yang lebih luas. Hasil mantra sesuai dengan apa yang diprediksinya.

Seperti yang dia duga, sepasang kursi logam hitam muncul.

Mata Keeno melebar seperti piring saat dia menyaksikan kejadian ajaib ini. Ekspresinya sangat mengejutkan. Suzuki Satoru berbicara kepada gadis itu dengan nada yang peduli.

“Ah – ini hanyalah beberapa item kecil yang aku buat dengan sihirku. Silakan duduk di atasnya seperti yang kau mau. ”

Keeno mencoba untuk menolak secara tidak langsung tetapi pada akhirnya dia duduk di atasnya. Beberapa saat setelah dia melakukan itu Suzuki Satoru mengambil tempat duduk, karena etika berbisnis adalah membiarkan kliennya duduk terlebih dahulu telah sepenuhnya tertanam pada dirinya.

Namun, dia menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan setelah duduk.

Sensasi logam di bawah pantatnya sangat tidak nyaman dijadikan sebagai tempat duduk, tetapi dia belum mempelajari mantra apa pun yang dapat menyulapnya menjadi bantal.

Sebelumnya, dia berpikir bahwa duduk sendirian terasa sangat kasar, itulah sebabnya dia mengeluarkan sepasang kursi. Ketika dia berpikir saat dia membujuknya untuk duduk di kursi keras yang dingin itu, dia merasa sangat malu sampai membuatnya ingin mencari lubang dan merangkak ke dalamnya.

Satu-satunya hal yang disyukurinya sekarang adalah dirinya yang belum mengatakan basa-basi tidak berguna seperti, ‘kursi di ruangan ini terlihat bagus ya’ atau semacamnya. Jika dia benar-benar mengatakan itu, mungkin saja akan menghancurkan hubungan yang dia bangun antara dirinya dan Keeno.

Suzuki Satoru dengan sigap mengeluarkan kain dari inventory-nya, yang terasa cukup lembut, dan mulai melipatnya ketika dia berbicara.

“Aku benar-benar minta maaf. Kursi ini benar-benar terlalu keras. Silakan gunakan ini sebagai bantal ”

Keeno menatap dengan kaget pada kain yang ditawarkan Suzuki Satoru, dan kemudian dia dengan cepat menggelengkan kepalanya.

“Eh, tapi, pakaian bagus seperti ini, tidak perlu. Saya, saya punya, selimut yang biasa saya gunakan. ”

“Tidak, tidak, tidak perlu terlalu sungkan begitu, ini hanya hal kecil.”

Kainnya mungkin terlihat mewah, tapi tetap saja. Itu adalah item yang tidak mengandung kristal data langka apapun.

Dengan begitu, percakapan hebat Suzuki Satoru dan Keeno yang saling canggung pun mencapai titiknya. Pada akhirnya, Keeno dengan malu-malu menerima niat baik Suzuki Satoru dan menanam kain yang dilipat tersebut ke pantat mungilnya.

“Sekarang, perbolehkan aku untuk langsung kepada intinya. Aku ingin kau memberitahuku apa yang terjadi pada kota ini sepengetahuanmu, Keeno-san. Tentu saja, aku tidak berniat untuk membuat hal ini menjadi interaksi sepihak. Aku akan menunjukkan bukti ketulusanku juga. Dengan kata lain, meskipun aku biasanya bertukar informasi dengan nilai yang sama dengan milikmu, aku dengan menyesal mengatakan bahwa aku hanya mengetahui sedikit tentang situasinya, jadi aku bermaksud untuk membayarmu dengan item magic atau sejumlah uang sebagai gantinya. Bolehkah aku tahu bagaimana pendapatmu tentang pertukarannya? ”

Keeno menggigit bibirnya, dan kemudian menatap Suzuki Satoru dengan apa yang tampak seperti kebencian di matanya.

Suzuki Satoru tidak bisa menahan keterkejutannya.

Dia tidak menyangka respon yang muncul darinya akan seperti itu .

Namun, sebelum dia bisa menanyakan alasannya, Keeno melihat kebawah tanah dan mulai berbicara dengan suara lemah dan gemetar.


Dibalik kelopak matanya yang tertutup rapat – melewati dua penghalang dari tirai dan sutra tipis yang berfungsi sebagai kanopi tempat tidurnya – dia bisa merasakan sinar matahari menyinari dirinya. “Selamat pagi, waktunya bangun” “Biarkan aku tidur sebentar lagi” – ucapan dari dua bagian dirinya yang saling berjuang untuk menguasai tubuhnya.

Tepat saat dia melayang dan akan memasuki mimipinya, pintu kamar terbuka dengan tenang dan seseorang masuk. Meskipun karpet tebal yang menutupi lantai meredam langkah kakinya, dia masih bisa merasakan seseorang bergerak melintasi ruangan.

Orang ini berjalan ke sisi tempat tidurnya, dan berhenti.

“Selamat pagi, Keeno-sama. Cuaca hari ini sangat cerah. ”

“Uuu, mmm, mhm …”

Matanya terbuka perlahan, dan senyum akrab dari seorang pelayan bernama Nastasha mulai terlihat.

Fakta bahwa dia diizinkan untuk berbicara dengan Keeno, putri dari negara ini, dengan namanya secara langsung itu karena dia adalah pelayan Keeno.

Nastasha adalah salah satu pelayan terpercaya, dan dia dikabarkan akan menjadi kepala pelayan berikutnya. Kemampuannya luar biasa dan dia bahkan juga memiliki kemampuan sihir yang cukup bagus; bisa dibilang semua dapat berjalan dengan lancar hingga sekarang adalah berkat dirinya.

Justru ayah Keeno lah yang mengizinkan dirinya untuk berada disisi putrinya. Namun, Keeno merasa bahwa dia mungkin tidak akan berakhir sebagai kepala pelayan, karena kemungkinan dia akan menjadi istri pertama dari bangsawan dan kemudian mengundurkan diri dari posisinya.

Melihat Keeno yang bangkit, Nastasha bergerak kearah jendela dan dengan sedikit tenaga membuka jendela tersebut. Seperti yang dia jelaskan sebelumnya, ruangan itu dipenuhi sinar matahari yang menyilaukan.

Setelah meninggalkan alam mimpi yang indah itu, dia merasa terbakar oleh cahaya dan dia terpaksa menutupnya kembali. Lalu, setelah matanya secara perlahan mulai terbiasa dengan sinar matahari melalui kelopak matanya, Keeno perlahan membukanya sekali lagi.

Sinar matahari yang hangat menyinari ruangan itu, seakan itu akan menjadi hari yang damai dan indah yang dipenuhi kehangatan.

“Baiklah, Keeno-sama. Saya akan segera menyiapkan air untuk anda.”

Ada baskom perak kosong di atas meja bundar kecil. Setelah Nastasha membaca mantra, baskom itu segera terisi dengan air bersih.

Nastasha baru saja merapalkan lifestyle spell tingkat pertama – atau biasa dikenal dengan mantra sehari-hari – yang dikenal dengan sebutan [Create Water]. Meskipun mantra tingkat nol juga dapat menciptakan air yang bisa diminum, air yang dibuat oleh mantra itu terasa manis.

Karena kedua mantra mengkonsumsi jumlah mana yang sama, tetapi air yang dibuat tidak digunakan untuk tujuan diminum. Tampaknya Nastasha merasakan hal yang sama juga.

Sebagai mantra tingkat pertama, air yang dihasilkan oleh [Create Water] tidak memiliki batas untuk mengisi sebuah baskom. Meskipun ada batas waktu untuk itu, volume air yang diciptakan – akan meningkat sesuai dengan kemampuan perapalnya – serta dapat dijeda selama beberapa kesempatan. Oleh karena itu, tidak akan ada tumpahan dan pemborosan jika dia merapalkan mantra itu kedalam baskom.

Kebetulan, Nastasha adalah seorang magic caster yang bisa menggunakan mantra hingga tingkat kedua. Pada hari-hari yang dingin, dia dapat menggunakan lifestyle spell tingkat kedua [Temperature Change] demi kenyamanan, atau dengan langsung memanaskan ruangan.

Keeno pernah membaca dari sebuah buku bahwa ada lifestyle spell tingkat ketiga yang disebut [Hot Spring]. Ternyata itu adalah tiruan dari mantra druid [Geyser]. Penulis buku itu mengatakan “Rasanya sangat nyaman” jadi Keeno ingin mencobanya.

Sayangnya, tidak ada pelayan di istana yang bisa merapalkan lifestyle spell tingkat tinggi. Karena itu Keeno hanya bisa membaca tentang efek [Hot Spring] dari buku-bukunya.

Meskipun di istana terdapat magic caster yang bisa menggunakan mantra tingkat ketiga, orang-orang seperti itu biasanya mempelajari mantra pertempuran dan tidak memiliki waktu untuk mempelajari lifestyle magic.

“Kalau begitu, aku akan mempelajarinya sendiri!” Keeno pernah memberi tahu orang-orang di sekitarnya – khususnya orang yang mengajarkannya sihir. Saat itu, Keeno lebih muda dari sekarang, pada usia ketika dia hampir tidak mampu merapalkan mantra tingkat pertama. Tidak terdengar aneh lagi jika ada seorang gadis muda seperti itu yang menyatakan bahwa dia ingin merapalkan mantra tingkat ketiga – yang biasanya didapat hanya dari bakat alami – lalu menganggap itu ucapan naif dari seorang anak-anak.

Begitulah yang terjadi, jika anak itu bukan Keeno.

Orang tua Keeno – ayahnya bisa merapalkan mantra tingkat keempat, sementara ibunya juga tidak kalah hebat dan dapat merapalkan mantra  hingga tingkat kelima – merupakan seorang magic caster jenius yang luar biasa berbakat. Dengan demikian, sebagai keturunan dari mereka berdua, semua orang yakin bahwa ucapannya bukanlah hal yang mustahil.

Oleh karena itu, dua jam setelah membuat pernyataan itu, dia dipanggil ke hadapan ayahnya dan mendapat teguran keras. Ada batasan berapa banyak mantra yang dapat dipelajari setiap orang, dan sebagai bangsawan, dia harus mempelajari mantra yang lebih berguna.

Keeno muda menjawab bahwa justru karena dia bangsawan maka dia seharusnya tidak mempelajari mantra pertarungan, pertahanan atau ramalan, dan sebaliknya justru mempelajari mantra yang akan membuat semua orang bahagia.

Namun, ayahnya mengatakan: “Negara kita ini bukan negara damai. Tidak ada yang tahu kapan hari-hari yang tenang dan damai ini akan berakhir dan seorang raja harus pergi ke medan perang. Karena itu, siapa pun yang berpotensi menjadi magic caster yang luar biasa nantinya harus mempelajari mantra yang lebih efektif dalam pertempuran. ”

Setelah mendengar jawaban ayahnya, Keeno terpaksa mengurungkan niatnya untuk mempelajari mantra [Hot Spring].

Kata-kata ayahnya beralasan, dan dia belum cukup umur untuk sepenuhnya memahami apa yang dimaksud ayahnya. Di satu sisi, ia tidak memiliki keberanian untuk melawan ayahnya yang keras, dan di sisi lain, ia tidak terlalu terobsesi dalam mengejar mata air panas.

Sebaliknya, itu karena ayahnya berbicara sebagai seorang raja, yang mengingatkannya pada kisah-kisah petualangan heroik yang pernah dibacakan Nastasha kepadanya. Ayahnya terdengar seperti mereka, dan itu meninggalkan kesan mendalam di hatinya.

To be continued~

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded