Overlord Vampire Princess of the Lost Country – Chapter 1 Part 1.2

Font Size :
Table of Content

Overlord : Vampire Princess of the Lost Country – A Strange Tale of the Absolute Ruler – Chapter 1 Part 1.2 Bahasa Indonesia

Translator : Scraba

Sejak hari itu, Keeno membuat permohonan yang dirahasiakannya dari orang lain, bahwa suatu hari dia akan menjadi kuat, seperti para pahlawan yang ada didalam buku cerita – atau seperti ayahnya – dan bertarung dengan gagah berani untuk rakyatnya.

Gadis yang memegang impian di dalam hatinya itu turun dari tempat tidurnya, berjalan ke sisi Nastasha, dan mulai mencuci wajahnya. Percikan air menghujani tubuhnya juga, tapi dia tidak mempedulikan itu.

Air yang suhunya sudah disesuaikan itu – diciptakan oleh [Create Water], yang mana suhunya dapat diatur secara bebas sesuai dengan kehendak perapalnya – menyapu kantuk yang dirasakan Keeno.

Keeno menggunakan handuk yang diberikan Nastasha untuk membersihkan wajahnya dan mulai menyikat giginya. Kemudian dia berkumur dengan air digelasnya dan meludahkannya ke baskom.

Setelah menyaksikan Keeno melakukan semua ini, Nastasha merapalkan [Destruction Water].

Air di baskom, serta air yang terciprat darinya, lenyap seolah semua itu hanya ilusi.

Mantra tingkat pertama ini bukanlah lifestyle magic, tetapi salah satu dari empat sistem besar – juga dikenal sebagai elemental traditions – dan juga dapat digunakan dalam pertarungan.

Damagenya sedikit lemah jika digunakan terhadap makhluk hidup daripada mantra lain dari tingkat yang sama. Namun, itu bisa memberikan damage yang signifikan terhadap Elemen Air dan makhluk lain yang selaras dengan elemen air. Versi tingkat ketiga dari tingkat yang lebih tinggi juga dapat memberi pengaruh terhadap Slime hingga batas tertentu. Mantra tingkat keempatnya [Dehydration] dapat memberikan damage besar bagi semua makhluk hidup.

Dan versi awal dari mantra ini biasanya digunakan untuk menghilangkan air dengan cara seperti ini.

Setelah berkumur, Keeno berjalan ke cermin ganti yang kira-kira setinggi dirinya dan dengan cepat berganti dengan pakaian yang telah diberikan Nastasha padanya.

Meskipun beberapa bangsawan membiarkan bawahan mereka memakaikan pakaian mereka, tapi keluarga Keeno bersikeras agar mereka dapat memakainya sendiri. Itu adalah aturan keluarga untuk membantu mereka ketika mempersiapkan diri untuk pertempuran, sehingga mereka dapat mengenakan armor mereka sendiri – tidak peduli apakah itu full plate armor yang membutuhkan bantuan dari pengawal sekalipun.

Namun, dia tidak mempermasalahkan jika orang lain menyisir rambutnya saat dia berganti pakaian. Setelah membasahi rambutnya yang kusut dengan [Create Water], Nastasha menekan rambutnya dengan handuk yang dibasahi. Setelah Nastasha melepaskan handuknya, rambutnya sudah terlihat lurus.

Dan begitulah, Keadaan Keeno Fasrith Inberun – putri tunggal Raja Fasrith.

Gambaran akrab dari dirinya yang dilihatnya di cermin adalah seorang gadis dengan mata yang memantulkan semua warna pelangi.

Mata pelangi ini tidaklah unik bagi Keeno. Pelayan yang menatap Keeno sambil melakukan pemeriksaan terakhir, Nastasha, juga memilikinya. Itu disebut Mata Pelangi, dan merupakan hal lumrah di kerajaan dengan penduduk Mata Pelangi (the Rainbow-Eyed People) . Sebaliknya, justru orang yang tidak memiliki mata tersebutlah yang langka.

“Kalau begitu, silakan lanjut ke ruang makan, Keeno-sama.”

“… Apakah mereka berdua ada di sana hari ini?”

“Benar. Keduanya sedang menunggu anda, Keeno-sama. ”

Bagi Keeno, waktu makan adalah saat-saat yang menyenangkan, tetapi juga saat-saat yang memberatkannya.

–Karena dia bisa melihat ayahnya saat itu.

Ayahnya sangat sering keluar karena suatu urusan – baik itu di Ibukota Kerajaan dan kota-kota lain – karena keinginannya untuk bekerja. Bahkan putrinya, Keeno, akan memiliki banyak sekali waktu luang di mana dia tidak akan bertemu dengan ayahnya sama sekali. Karena itu, dia merasa sangat senang ketika bertemu ayahnya. Namun, ayah Keeno sangat keras padanya, jadi dia biasanya hanya dimarahi setiap kali mereka bertemu, yang mana membuatnya gelisah.

Dengan kata lain, dia tidak bisa lari dari itu.

Mengikuti Nastasha di belakangnya, Keeno berjalan ke ruang makan.

Seperti yang Nastasha katakan, dia, orang tuanya sedang menunggunya di ruang makan. Tentu saja, pelayan mereka juga hadir disana. Khususnya, kepala pelayan dan asisten kepala pelayan berdiri di belakang ayah dan ibunya.

Ibu Keeno memiliki ekspresi yang hangat dan lembut di wajahnya – sejujurnya, kepribadiannya hampir sama, dan Keeno punya sedikit kenangan ketika dimarahi oleh ibunya – dan dia juga seorang magic caster kelas atas di negeri ini, meskipun sulit untuk tahu hanya dari penampilannya.

Sebaliknya, Ayahnya justru adalah kebalikannya.

Orang-orang bermata pelangi cenderung memiliki tubuh ramping dan berbakat dalam keempat Elemental traditions, yang akan mengarahkan mereka untuk memasuki profesi penggunaan sihir yang tepat. Karena itu, mereka lebih fokus pada kemampuan merapal mantera daripada kemampuan fisik, dan cenderung kurang berotot. Namun, pengecualian untuk ayah Keeno. Bukan hanya seorang Fire Elementalist yang kuat, dia memiliki tubuh yang kuat yang mewujudkan ungkapan “Si Brengsek Berotot”, dan alisnya sangat berkerut yang cocok dengan wajah tegasnya.

Apakah dia sedang makan atau tidak, dia selalu mengenakan sarung tangan di lengan kirinya yang memiliki bentuk menyerupai cakar Griffin.

Itu adalah harta nasional yang dikenal sebagai Gauntlet of the Griffin Lord (Sarung Tangan Dewa Griffin). Itu adalah magic item yang bisa memanggil Dewa Griffin selama 24 jam dalam kurun waktu seminggu. Karena Griffin Lord yang dipanggil dapat dipanggil kembali dalam kurun waktu seminggu bahkan jika itu terbunuh, sepanjang sejarah generasi raja, mereka hanya memanggil Griffin Lord untuk digunakan sebagai garda depan. Namun, ayah Keeno adalah satu-satunya yang tidak menggunakannya dengan cara itu.

“Selamat pagi, Ayah, Ibu.”

“Selamat pagi, Keeno.”

Berbeda dengan sapaan lembut ibunya, ayahnya hanya mengernyitkan alisnya dan mengangguk dengan kasar, tapi memang seperti itulah dia. Sebaliknya, jika dia tersenyum seperti ibunya, Keeno malah akan bingung.

Nastasha menarik kursi ke belakang agar Keeno dapat duduk, setelah sarapan disajikan.

Kerajaan ini memiliki industri susu yang berkembang pesat, sampai-sampai ibu kota kerajaan tidak menginginkan keju segar lagi. Dari sebuah catatan ditemukan fakta bahwa setiap meja makan dikerajaan akan memiliki setidaknya tiga jenis keju yang berbeda. Selain itu, ada krim asam, minuman yang terbuat dari susu campuran dan jus segar dari empat buah yang berbeda, dan seterusnya. Serta ada irisan tebal daging babi yang dipanggang secara merata. Piring-piring yang tergeletak diisi dengan roti putih disertai dengan mentega emas yang indah.

Keeno – bersama dengan ayah dan ibunya, yang sedang makan – melihat cincin yang ada di tangan kanannya, tetapi permata blue safir yang diletakkan di dalamnya tidak berubah warna.

Makan adalah tempat yang penuh etiket. Karena hal itu telah ditanamkan ke dalam dirinya sejak dini, itu sudah lama menjadi bagian dari dirinya.

Ketika mereka makan dalam keheningan, ayahnya meletakkan garpunya di atas meja dengan suara dentingan yang pelan. Dia melirik dan melihat bahwa ayahnya telah mengambil serbetnya untuk membersihkan mulutnya.

“Kalau begitu, Annie. Sampai sejauh mana kemampuan sihirnya meningkat? ”

Annie adalah nama ibu Keeno. Dia dipanggil Annie Fasrith Inberun.

Annie meletakkan garpu dan menyeka mulutnya juga.

“Suamiku, rasanya saat ini anak kita sudah mendekati tingkat kedua. Mungkin saja dia akan segera mampu menggunakan dasar-dasarnya. ”

“Aku sudah mendengarnya dua minggu yang lalu. Dengan kata lain, tidak ada peningkatan, apakah aku salah? Keeno, bagaimana menurutmu? Apakah kau merasa lebih kuat dari sebelumnya? ”

Keeno menelan makanannya, lalu meletakkan garpunya dan menyeka mulutnya seperti ibunya. Selama waktu itu, dia berpikir tentang bagaimana menjawab pertanyaan ayahnya, tetapi kenyataannya dia tidak merasa jauh berbeda antara sekarang dan dua minggu yang lalu. Sepertinya tidak ada yang bisa merasakan seberapa jauh diri mereka tumbuh setiap hari tanpa mengukurnya.

Memang benar bahwa dia telah merasakan sesuatu yang aneh ketika dia pertama kali mampu merapalkan mantra tingkat pertama. Rasanya seperti roda gigi yang menyatu di dalam tubuhnya. Namun, sekarang belum ada tanda-tanda seperti sebelumnya.

Karena itu, dia hanya bisa menjawab dengan jujur.

“Saya tidak yakin.”

“Aku mengerti. Kejujuran adalah hal yang bijak, namun hal itu saja tidak cukup. Kau adalah anak pertamaku. Di masa depan, adik-adikmu akan lahir, dan kau harus menjadi teladan bagi mereka. ”

“Rajaku … dia masih muda–”

“–Diam.”

Ayahnya dengan dingin menyela kritik ibunya yang akan datang.

“Semuda apapun dia, dia tetaplah bangsawan.”

Raja menatap dengan tajam saat menoleh padanya. Ketakutan, Keeno menatap ibunya dengan tatapan memohon.

“Dia hanya seorang gadis–”

“Lebih dari seorang gadis biasa, dia adalah seorang putri, dia adalah bangsawan. Meskipun tidak perlu mengalahkan orang lain, bertahan akan menjadi hal yang sulit nantinya. Lagipula, kau adalah magic caster yang lebih hebat daripada aku. ”

Ayahnya menoleh kearah tempat yang kosong dan berbatuk. “Itulah sebabnya kita menikah, bukan,” gumamnya. Kemudian, dia menatap Keeno lagi dengan mata yang dingin.

“Untuk alasan itulah, aku menyerahkan anak ini kepadamu agar kau dapat mengajarinya, tetapi kau terlalu lembek padanya. Pertempuran langsung adalah bentuk pelatihan terbaik. Meskipun dia masih anak-anak dan belum dewasa, tentu dia harus memulai pelatihan dengan senjata, bukan? Itu merupakan hal yang penting juga untuk melihat apakah dia berbakat di bidang itu atau tidak. ”

Memang benar bahwa ayah Keeno lebih lemah daripada ibunya sebagai seorang magic caster. Namun, mengingat ayahnya mampu bertarung dengan tombak, dia adalah petarung yang lebih baik.

“Saya menentang itu. Menurut apa yang saya lihat, saya tidak berpikir anak ini seperti Anda – yang berbakat dengan senjata. Sampai dia membangunkan kedekatan dengan salah satu dari empat kekuatan besar, kita harus terus melatihnya sebagai magic caster. Lebih penting lagi, saya melarangnya untuk mengambil bagian dalam hal yang berbahaya seperti pertarungan langsung. ”

“Dulu–”

“–Sekarang semuanya sudah berbeda. Daripada belajar menulis dengan kedua tangan– ”

“- Lebih cepat belajar melakukannya dengan satu tangan, aku tahu itu yang ingin kau katakan. Namun, kita tidak tahu apa bakatnya. Tidakkah kau pikir akan lebih baik membiarkannya mencoba segalanya? Aku merasa bahwa akan lebih baik untuk membantu anak ini mempersiapkan masa depannya. ”

“Saya setuju tentang hal itu. Namun, saya merasa kita harus menunggu sampai setidaknya dia mencapai tingkat kedua terlebih dahulu. Jika Anda ingin dia mempelajari ilmu bela diri, maka setidaknya harus menunggu hingga tubuhnya sepenuhnya berkembang terlebih dahulu. ”

Mereka berdua saling menatap, tak satu pun dari mereka yang mengalah.

Beberapa saat kemudian, ayahnya memalingkan muka.

“Aku mengerti. Aku akan serahkan semuanya padamu. ”

“Saya sangat berterima kasih, Rajaku.”

“–Keeno.”

Keeno melompat ketika dia mendengar suara keras ayahnya. Ayahnya menyadari itu, tetapi mengabaikannya dan mulai berbicara.

“Sebagai keluarga kerajaan di kerajaan ini, kita menikmati kehidupan mewah, dan kesetiaan banyak orang. Dan semua itu karena kita telah melakukan tugas kita sebagai keluarga bangsawan. Karena itu kau harus belajar dan menyerap segalanya dan memanfaatkannya dengan baik. Memang benar kalau kerajaan kita damai sekarang. Tapi siapa yang tahu, kita mungkin saja akan diserbu suatu hari nanti. Karena itu kita membutuhkan negeri yang kaya dan pasukan yang kuat. ”

“… Saya tidak ingin menyerang orang lain.”

Wajah ayahnya sedikit berubah.

Apakah dia marah, atau dia tertawa, atau mungkin sedih? Itu adalah ekspresi bernuansa yang sulit terlihat. Namun, tidak ada kekerasan dalam apa yang dia katakan selanjutnya.

“Tidak perlu menyerang orang lain. Prajurit yang kuat adalah kekuatan untuk mencegah. Namun, mengintimidasi tanpa pertimbangan akan menyebabkan konflik. Itu merupakan tugas seorang pemimpin untuk mendapatkan informasi tentang kerajaan-kerajaan lain, mencapai keseimbangan, dan mencari cara untuk menambah kekuatan kerajaannya. Apakah kau pikir kekuatan militer itu tidak perlu? ”

“Tidak.”

Keeno menggelengkan kepalanya.

Di antara banyak ras – Ras Mata Pelangi (Rainbow-Eyes) inilah yang membuat 90% dari perbandingan ini – sebuah kerajaan dengan 5 juta orang tidaklah terlalu besar. Namun, itu hanya karena kerajaan-kerjaan disekitarnya memiliki ukuran yang sama sehingga keseimbangan dapat dicapai. Dalam setengah abad terakhir, tidak ada perang berskala besar dikerajaan-kerajaan terdekat juga. Namun, itu artinya tidak ada perang penaklukan. Ketika monster dengan kekuatan yang besar menunjukkan dirinya, saat itulah nasib suatu negeri akan diputuskan – dan tergantung pada keadaannya, aliansi mungkin perlu dibentuk.

Sebagai contoh, ada lebih dari 50.000 korban ketika Behemoth muncul, dan ingatan mereka tentang itu masih tersimpan rapat di hati setiap orang. Keeno tahu betul betapa pentingnya mengumpulkan yang terkuat untuk menghadapi lawan seperti itu.

“Kau tidak perlu melakukan semuanya sendiri. Kumpulkan orang-orang yang kau percayai dan pinjam kekuatan mereka. Aku bukanlah raja yang kuat di antara banyak raja yang ada dalam sejarah, tetapi aku memiliki orang-orang yang aku percayai. ”

Bahkan jika seseorang melihat sejarah keluarga kerajaan, hanya ada segelintir orang yang sebanding dengan ayahnya -, yang dipuji-puji sebagai orang yang berada diranah pahlawan  – dalam generasi pertamanya.

“Karena itu, mengumpulkan dan mencari kekuatan yang terletak pada arah yang berbeda dari milikmu mungkin merupakan cara yang benar. Tapi apa artinya itu? Mungkin mempelajari mantra yang membuat semua orang senang menjadi salah satu cara untuk melakukannya. Namun, ini adalah saran dari ayahmu. Kau tidak dapat mengabaikan kekuatanmu sendiri. Orang merasa nyaman di bawah perlindungan yang kuat. Menjadi anggota keluarga kerajaan, adalah bentuk kekuatan yang menarik massa kepadamu. Secara alami, kekuatan seperti itu menunjukkan adanya daya tarik, kekayaan, dan otoritas. Tetapi jika kau membawanya kearah yang lebih ekstrim, maka kekuatan pribadi seorang raja adalah kekuatan yang paling mudah dipahami – dan itu dapat lebih menjamin keamanan dirimu. Bagaimanapun, daya tarik, kekayaan, dan otoritas kadang-kadang bisa gagal untuk menjamin keselamatan semua orang. ”

“Baik, Ayah,” jawab Keeno.

“Bagus” jawab Raja sambil mengambil garpunya lagi. Dengan kata lain, dia akan melanjutkan makannya. Ibunya juga cepat-cepat mengikuti dan Keeno mulai makan lagi juga.

Setelah selesai, pelayan menyajikan tiga minuman berwarna ungu. Ini adalah teh ungu dengan sedikit susu yang ditambahkan didalamnya. Dan juga disertai biskuit dengan sedikit gula.

Mereka bertiga melihat cincin mereka dan kemudian menyantapnya.

Keeno – yang memiliki lidah sensitif – menghirup teh yang sudah dingin. Baru saat itulah dia menyadari dua orang menatapnya.

Apakah dia melanggar etika makan? Keeno tidak tahu apa yang sedang terjadi. Namun, hal semacam ini terjadi dari waktu ke waktu. Keeno akan makan dalam diam dan mereka akan menatapnya. Itu lebih sering terjadi pada ayahnya, yang jarang dia temui.

Dia mencoba melirik ke atas untuk melihatnya, tetapi ayahnya tidak terlihat marah. Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Keeno memiringkan kepalanya – atau setidaknya dia melakukannya di dalam hatinya – dan meminum teh ungu. Dia membiarkan teh menyapu rasa manis biskuit yang tertinggal di mulutnya. Namun, minum terlalu banyak akan terlihat rakus. Dia tidak boleh salah dalam menilai keseimbangan antara teh dan biskuit.

Keeno fokus memakan biskuit dan teh ke dalam mulutnya secara berurutan, dan tatapan ayahnya meninggalkannya.

“–Jadi apa lagi yang kau rencanakan untuk Keeno hari ini?”

“Setelah makan ini, kami akan belajar tentang sihir diruanganku sampai jam makan siang. Setelah itu, Balen-sensei akan mengajarnya seperti biasa. ”

“Aku mengerti. Kalau begitu, biarkan aku melihat bagaimana kau mengajarinya hari ini. Aku cukup tertarik dengan proses pelajaran Keeno. ”

Keeno tidak bisa menahan diri untuk terkejut

Ini mungkin pertama kalinya ayahnya benar-benar ingin melihatnya belajar.

“..Hehe.”

Ibunya tersenyum, dan kerutan di antara alis ayahnya semakin dalam.

“Apanya yang lucu?”

“Aku penasaran kenapa anda mengatakan sesuatu seperti itu tiba-tiba. Heh … ”

“Aku hanya memikirkannya begitu saja. Tidak ada alasan lain. ”

“Baiklah, baiklah. Hehe … saya akan menunggu kedatangan anda, Rajaku. ”

“Tidak perlu menungguku. Aku tidak ingin mengganggu pelajaran Keeno. ”

“Saya tahu. Namun, saya masih berpikir bahwa yang terbaik adalah memilih pelamar untuk Keeno terlebih dahulu. Agak terlambat untuk seorang putri … bahkan untuk pewaris bangsawan. Saya ingat ketika masa itu saya berusia delapan tahun. ”

“Tidak. Saat itu kau berusia sembilan tahun. ”

“Ara, benarkah begitu? Saya tidak percaya Anda masih mengingatnya. ”

Ibunya tersenyum, sementara ayahnya mengerutkan kening. ”

“Ahem! Aku tahu apa yang ingin kau katakan. Namun, Keeno adalah satu-satunya anak dari garis keturunan kita. Kita tidak bisa ceroboh tentang ini. Bukankah lebih baik kita menunggu sedikit lebih lama lagi? ”

“Jika kita tidak mulai memikirkan hal ini sejak dini, semua kandidat yang bagus akan menemukan pasangan mereka saat itu. Kemudian anak kita akan menjadi perawan tua yang tak seorang pun mau menikahinya. ”

“Jangan bicara tentang pernikahan dan perawan tua… Sedikit lebih dewasa lagi seharusnya tidak menjadi masalah, bukan? Aku akan mempertimbangkan hal itu dengan hati-hati. Mengerti? Itu saja untuk hari ini. ”

“Iya, iya, iya…”

Anda harus bekerja keras untuk hal ini, dia mendengar ibunya berbisik. Ayahnya mengerutkan alisnya, memandang kesekeliling pelayan, dan kemudian meraih makanan penutup.

Setelah hidangan penutup selesai, Keeno kembali ke kamarnya, di mana dia mengambil berbagai buku pelajaran sebelum menuju ke ruangan ibunya.

Dia mengetuk pintu kamar ibunya, dan orang yang menjawab adalah pelayan pribadi ibunya, yang merupakan asisten kepala pelayan dan pelayan nomor dua di istana.

Dia memasuki ruangan dan memulai pelajarannya dengan ibunya.

Terlepas dari tradisi sihir mana yang dipelajarinya, hal terpenting ketika seseorang memulai adalah untuk merasakannya. Sebagian besar orang yang telah belajar menggunakan sihir telah melakukannya melalui perasaan melakukan kontak dengan dunia. Siapa pun yang tidak memiliki pengalaman itu tidak akan bisa merapalkan mantra. Namun, tidak ada guru yang bisa mengajarkan bagian ini kepada murid mereka dengan cukup detail, dan begitu banyak orang yang terhambat dibagian ini.

Namun, Keeno sudah melewati rintangan itu. Karena itulah, dia perlu belajar tentang apa yang perlu dia ketahui demi profesi masa depannya.

Ibu Keeno adalah seorang Wizard, dan karena itu ia fokus pada peningkatan kemampuan perapalan arcane magic-nya, sementara Keeno memiliki bakat sebagai sorcerer, jadi pelajaran yang ia terima berfokus pada peningkatan kemampuan sihirnya.

[Note : Saya bingung ketika mengartikan kata Wizard dan Sorcerer ini. Jika ada saran antara kedua kata ini, silahkan berikan pada komen dibawah]

Dibandingkan dengan Wizard, Sorcerers lebih mengandalkan perasaan. Oleh karena itu, pelatihan Keeno berfokus pada menutup matanya dan menggunakan hatinya untuk merasakan gelombang yang dipancarkan ibunya saat mengucapkan mantra.

Dia tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu sejak pelajaran dimulai.

– Tiba-tiba, Keeno merasakan sesuatu.

Sulit untuk menggambarkan sensasi itu dengan kata-kata. Namun, itu lebih kuat daripada ibunya, seperti gelombang besar, sesuatu yang tidak dapat di deskripsikan.

Ini adalah sensasi yang belum pernah dia alami sebelumnya, dan Keeno mau tidak mau membuka matanya.

Dia melihat ibunya, yang terkejut oleh putrinya yang tiba-tiba membuka matanya. Dan pada saat itu–

Rasa sakit menusuk Keeno.

Itu adalah penderitaan yang belum pernah dia alami sebelumnya, sesuatu yang tidak masuk akal baginya.

Keeno jatuh ke lantai di tengah rasa sakit, seolah-olah ada sesuatu yang robek dari dirinya.

Sangat menyakitkan hingga membuatnya tidak sanggup berbicara. Keeno tidak bisa percaya ada hal yang sesakit ini di dunia ini.

Dia menangis kesakitan. Dalam pandangannya yang redup karena air mata, dia bisa melihat kedua pelayan itu juga ikut terjatuh ketanah, wajah mereka mengalami perubahan karena rasa sakit dan penderitaan. Di samping itu, ibunya juga mengalami hal yang sama.

Wajah ibunya berubah kesakitan dan dahinya licin karena keringat. Tapi meski begitu–

“[Reinforce Armor]”

Ibunya merapalkan mantra pada Keeno.

Namun, itu tidak memberi pengaruh apa pun terhadap  rasa sakit yang dirasakannya. Itu tidak berkurang sedikit pun. Ibunya pasti menyadari itu dari ekspresi di wajah Keeno.

“[Anti-Evil Protection]”

Keeno menggertakkan giginya melawan rasa sakit dan berusaha untuk tidak mengerang, dan dia merasakan ibunya merapalkan mantra padanya lagi. Namun, itu tidak meredakan penderitaan yang menyiksanya.

“Ro….h? Atau daging? [Undead Form] ”

Sebagai tingkat tinggi dari [Mind of Undeath], mantra ini dapat secara singkat memberikan targetnya berbagai sifat undead, baik yang menguntungkan maupun yang tidak. Mantra ini sekarang mulai berlaku untuk Keeno, tetapi meski begitu, itu tidak menghilangkan rasa sakitnya.

“Ooog! Kumohon, gadis … ini saja! ”

Ibunya menggigit bibirnya – darah merah segar mengalir keluar dari bibirnya – lalu meraih lengan Keeno. Tentunya Keeno akan merintih disebabkan rasa sakit karena ibunya telah menggunakan terlalu banyak kekuatan. Tapi penderitaan diseluruh tubuh yang dia alami terlalu kuat dan Keeno sama sekali tidak merasakan sakit di lengannya.

Ibunya berjalan seolah-olah dia menyeret Keeno – tidak, dia benar-benar menyeret Keeno ke pintu. Tidak. Tidak tepat mengatakan bahwa dia sedang berjalan. Ibunya merangkak, dengan putus asa merangkak ke depan.

“Uwaaaaahhhhh!”

Dia mendengar raungan kesakitan. Sumber suara yang begitu dalam yang belum pernah dia dengar sebelumnya berasal dari Nastasha. Itu benar-benar berbeda dari suaranya yang biasanya tenang dan elegan. Nastasha berguling-guling dilantai dan telah mencapai pintu.

“Uuuooooohhh!”

Dia meraung dengan nada yang kasar dan parau, lalu berdiri untuk bersandar di pintu, meraih gagang pintu dan mendorongnya hingga perlahan terbuka. Namun, setelah melakukan semua itu, Nastasha merintih pelan dan terkulai.

Dia tidak bergerak setelah itu, seolah-olah dia pingsan karena rasa sakit, atau seolah-olah dia sudah mati.

Ibunya maju ke arah celah kecil yang telah dibuka oleh Nastasha dengan mengorbankan dirinya. Rasa sakit yang mengalir melalui Keeno sudah cukup untuk membuat seorang pria pingsan atau bahkan mati, dan itu sangat dahsyat bahkan kekuatan untuk menjerit atau menangis pun menghilang. Namun ibunya menahan rasa sakit itu sambil tetap berusaha untuk membawanya dan kabur.

Meskipun entah berapa lama waktu yang dibutuhkan hanya untuk bergerak beberapa meter saja, ibunya tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah.

Pintu terbuka perlahan dari sisi berlawanan, dan kemudian berhenti ketika menabrak kepala Nastasha.

Ibunya meraih tangan Keeno dan memegangnya erat-erat.

Mungkin ibunya mengira bahwa dalang di balik tindakan yang tidak dapat dipahami ini menunjukkan diri mereka, tetapi bukan itu yang terjadi.

Orang yang muncul di hadapannya adalah ayahnya.

Dia terlihat lebih tua hanya dalam sekejap. Dia menggunakan tombaknya sebagai tongkat saat dia bergerak di depan mereka berdua.

“Raja … ku…”

“Kee – baiklah …?”

Ayahnya tampak seperti sedang menderita juga. Meski begitu, dia berhasil datang jauh-jauh ke sini karena kekuatannya di luar batas manusia biasa.

“Lewati … kota ini. Gunakan … teleportasi … ”

“Dimenger … ti…”

Kata-kata ayahnya terputus-putus saat ia menahan rasa sakit yang luar biasa. Tapi ibu Keeno tampaknya sangat memahami makna ucapan ayahnya.

Keputusasaan di wajah ibunya berubah menjadi teror. Bukan hanya karena rasa sakit yang menimpanya. Mantra tingkat tinggi membutuhkan fokus yang lebih besar. Secara alami, seorang penyihir yang bisa merapalkan mantra tingkat tinggi biasanya akan mengembangkan kekuatan konsentrasi yang sama kuatnya. Itu tidak akan menjadi masalah dalam keadaan normal. Tetapi ada saat-saat di mana mereka perlu fokus bahkan dalam keadaan tertentu seperti ini.

Mungkin itu karena rasa sakit atau karena dia perlu memfokuskan diri untuk merapalkan mantra, keringat mengucur di dahi ibunya. Lalu–

Mantra itu tidak berhasil.

“Ooogh. Bukan … gagal. Ini – diganggu! ”

“Apa–”

Dalam pandangan kabur Keeno, dia melihat wajah ayahnya yang berubah menjadi bingung ketika dia melupakan rasa sakitnya. Setelah itu, mereka berdua bergerak kearah Keeno seolah-olah mereka sedang mencoba menindihnya.

Itu berat.

Tapi Keeno mengerti perasaan pasangan itu.

Keeno bisa merasakan betapa kuatnya mereka mencintainya, dan air mata yang mengalir dari matanya tidak berasal dari rasa sakit.

Tetapi penderitaan itu tidak berubah. Seolah rasa sakit itu mengabaikan cinta mereka, menyiksa Keeno dengan penderitaan yang sama seperti sebelumnya.

Itu sangat menyakitkan hingga dia kehilangan inderanya untuk beberapa saat.

Dia bahkan tidak bisa merasakan beban tubuh mereka padanya. Dia telah kehilangan semua sensasi di tubuhnya. Yang tersisa hanyalah rasa sakit yang terus meningkat.

Dia seharusnya mati.

Mengapa–

Kenapa harus–

Apa–

Siapa–

Yang melakukan hal mengerikan –

Pertanyaan terus muncul didalam benaknya, tetapi sama seperti gelembung – semua itu meledak. Pada saat yang sama, kesadarannya juga – tepat pada saat itu, Keeno tiba-tiba merasakan dirinya melakukan kontak dengan sesuatu yang besar. Rasanya sangat mirip seperti saat dia merapalkan mantra, tapi itu tidak sama.

Sensasi itu juga sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Namun, Keeno bisa merasakan ayahnya, ibunya, Nastasha, dan semua orang yang bekerja di Istana.

Hanya itu.

Dan begitulah, Keeno pun akhirnya pingsan.

Pada saat dia sadar, dia tidak tahu sudah berapa lama waktu telah berlalu.

Rasa sakit dari sebelumnya telah hilang, seolah-olah semua itu hanyalah kebohongan. Bahkan dirinya mengira jika dia hanya bermimpi.

Keeno tiba-tiba berpikir; bagaimana kabar ibu dan ayah?

Dia menggeser penglihatannya dan langsung melihat mereka.

Ibu dan ayahnya ada di sana. Keduanya berdiri di kamar.

“Ib–”

Keeno hanya berhasil mengucapkan setengah dari kata itu. Setengahnya lagi menyangkut di tenggorokannya dan menolak untuk diucapkan.

Itu karena dia melihat keanehan pada ayah dan ibunya serta kedua pelayan itu. Tetapi teror yang muncul didalam dirinya segera padam.

Keeno menggagalkan perubahan yang sangat tidak menyenangkan dalam suasana hatinya dan menatap wajah mereka berempat.

Itu bukan karena demensia. Mereka berempat tertatih-tatih saat bergerak, seolah-olah mereka kehilangan akal sehat. Cara mereka melakukannya sangat mirip seperti undead yang diketahui Keeno selama pelajarannya.

Keeno menyentuh wajahnya.

– Itu dingin.

Dia memeriksa denyut nadinya.

–Tidak ada.

Dia mengira mungkin saja dia memeriksa ditempat yang salah dan menggeser jari di pergelangan tangannya, tetapi di mana pun dia memeriksanya, dia tidak dapat menemukan denyut nadi.

Karena panik, Keeno melihat sekeliling ruangan dan menemukan cermin rias. Dia menatap dirinya sendiri. Sepintas sepertinya tidak ada yang berubah. Namun ada satu bidang yang sangat berbeda.

Itu adalah mata merahnya.

 

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded