Overlord Vampire Princess of the Lost Country – Chapter 1 Part 2

Font Size :
Table of Content

Overlord : Vampire Princess of the Lost Country – A Strange Tale of the Absolute Ruler – Chapter 1 Part 2 Bahasa Indonesia

Translator : Scraba

 

“Ini adalah kisahku – bukan, kisah Undead Bermata Merah, Keno Fasris Invern. Atau setidaknya, hari ketika kisahnya dimulai.”

Keeno sudah berbicara dengan jelas di beberapa titik, dan itu adalah kesimpulan yang dia dapat. Ucapannya yang kacau ketika pertama kali mereka bertemu disebabkan dirinya yang sudah lama tidak berbicara. Itu artinya, sebagai salah satu undead, meskipun tubuhnya memiliki pemulihan yang cepat namun, tidak untuk nada bicaranya.

“Jadi begitu” jawab Suzuki Satoru, dan kemudian Keno terus menceritakan setelah apa yang terjadi sejak hari itu.

Setelah menyadari bahwa bukan hanya orang-orang di ruangan itu, tetapi juga seluruh Istana, dan seluruh kota yang telah menjadi tempat yang dilupakan, dengan kata lain – Keeno, ada dua pilihan yang bisa dia lakukan.

Yang pertama adalah meninggalkan kota ini dan meminta bantuan orang lain untuk menyelamatkan rakyatnya.

Dan yang kedua adalah tetap tinggal di sini dan menunggu bantuan dari kota-kota lain tiba.

Jelas, Keno telah memilih untuk tetap tinggal.

Undead pada dasarnya adalah makhluk yang membenci kehidupan, namun tidak untuk Keeno.

Bagaimana jika aku diposisinya dan meminta bantuan orang yang masih hidup? Jika mereka melihat Keeno, tidak diragukan lagi mereka akan menyerangnya dengan niat membunuh. Kemudian ditambah fakta bahwa setelah peristiwa perubahannya menjadi undead, Keeno tidak bisa begitu saja meninggalkan keluarganya dan pergi.

Dan yang lebih penting lagi, Keeno ini lemah dan tidak bisa menahan serangan monster dan binatang buas, sehingga kemungkinan dia dapat mencapai kota terdekat pun rendah. Selain itu, dia berpegang pada benang harapan yang samar dengan harapan kota-kota lain akan datang untuk menyelidikinya, mengingat bahwa ini adalah ibukota kerajaan.

Namun – tidak ada satupun yang datang.

Setelah satu, tidak, setelah dua tahun, dia belum melihat siapa pun di sekitar gerbang kota.

Mungkin fenomena perubahan undead yang aneh ini telah menyebar ke kota-kota terdekat atau bahkan mempengaruhi seluruh kerajaan. Ketika pikiran itu muncul di benaknya, Keeno mulai berusaha dengan sungguh-sungguh, dan sementara dia menunggu untuk diselamatkan, dia mempelajari penduduk undead di kerajaannya untuk memahami fenomena perubahan undead ini, sehingga dia dapat membantu agar semua orang dapat pulih.

Dia juga sempat berpikir, “Apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya seorang anak-anak” tetapi Keno tidak punya pilihan.

Keno sesekali memberanikan diri untuk keluar dari istana untuk membawa kembali berbagai buku, yang akan dia pelajari. Pada saat yang sama, dia melatih dirinya untuk menggunakan mantra yang lebih ampuh. Sebagai salah satu undead, yang tidak memerlukan istirahat, Keno benar-benar bisa bekerja sepanjang malam dalam upayanya.

Bertahun-tahun berlalu, atau bahkan mungkin sudah beberapa dekade – sudah cukup lama bahkan perasaannya akan waktu sudah hilang. Tampaknya Keno hidup sendiri, mencari cara untuk mengembalikan semua orang seperti semula.

Selama waktu ini, Keno telah melihat burung-burung bermigrasi yang mana belum berubah menjadi yuriniggers, membuatnya yakin bahwa masih ada makhluk hidup di luar sana. Namun, ketika dia mengamati gerbang kota, semua yang dia lihat hanyalah bangkai hewan yang telah diserang oleh yuriniggers, dan pada akhirnya dia tidak bertemu dengan satupun manusia yang masih hidup.

Setelah mendengar kisah Keno, Suzuki Satoru akhirnya menyadari mengapa ada perbedaan besar antara cara Keno berbicara dan penampilannya yang muda.

Ketika dia memikirkannya dengan tenang, itu adalah situasi yang bisa dimengerti. Karena dia adalah undead, wajar saja kalau ada perbedaan antara usianya yang sebenarnya dan penampilannya. Dengan kata lain, tubuhnya mungkin tidak berubah, tetapi pikirannya tumbuh. Mustahil untuk sepenuhnya menghapus rasa takut dan emosi lainnya dari hati seseorang, dan karenanya, dalam kurun waktu yang panjang itu, pikirannya secara bertahap juga berubah.

Karena itu, bukankah tidak sopan memperlakukannya seperti seorang anak-anak, pikir Suzuki Satoru. Aku hanya akan menunggu sampai dia membuat pilihannya, ia menyimpulkan. Dari pengalaman hidupnya hingga saat ini telah memberitahukan bahwa lebih baik memperlakukan wanita dengan cara muda daripada tua.

Dan kemudian, kisahnya pun berakhir.

Keno, yang telah melakukan penelitiannya di Istana, sekarang tinggal di dalam selokan.

Itu karena – dia melarikan diri.

Pada saat itu, dia merasakan undead yang kuat muncul di luar kota, yang lebih kuat bahkan dari dirinya atau bahkan orang tuanya, dan kemudian undead itu memasuki kota. Dia sama sekali tidak yakin pada kemampuannya untuk menang dalam pertempuran dengan undead itu, jadi dia mengambil semua barang yang bisa dia bawa dan lari dari istana ke tempat ini.

Dan kemudian, hari ini.

Tepat ketika dia berencana keluar untuk mengambil beberapa literatur yang berhubungan dengan sihir dari istana, dia tiba-tiba melihat undead yang sangat kuat berada di udara – Suzuki Satoru – dan begitulah hingga akhirnya masuk dalam keadaan seperti sekarang ini.

“Aku mengerti…”

Dia sekarang mengerti kondisinya saat ini dan keadaan kota. Namun, dia masih tidak mengerti kenapa dirinya muncul di sini, atau kenapa gadis itu dan kota ini berakhir seperti ini.

Namun, sepertinya penyebab keadaan ini bukanlah karena tanggapan atas kedatangan Suzuki Satoru. Seperti perkiraannya, akan lebih baik untuk berpikir bahwa mungkin ada beberapa alasan – meskipun tidak jelas – bahwa Suzuki Satoru telah dibawa ke dunia lain ini.

Ngomong-ngomong…

Suzuki Satoru menatap Keeno, undead itu memiliki bentuk seperti gadis kecil.

Aku benar-benar beruntung bisa bertemu seseorang yang tahu tentang dunia ini. Dia sempat ragu jika gadis itu undead.

Dia telah menyebutkan dalam ceritanya, tapi itu setelah dia bertanya secara rinci, dia mengetahui bahwa undead pada umumnya dibenci oleh orang-orang yang masih hidup, dan tidak aneh kalau mereka dimusnahkan jika tertangkap. Karena itu, akan sangat sulit baginya untuk mendapatkan bantuan. Itu artinya Keno adalah orang yang sangat penting.

Memang benar bahwa Suzuki Satoru sangat ingin mengetahui informasi tentang mantan teman-temannya dan Great underground Tomb of Nazarick. Namun, Keno tidak mengetahui apa-apa tentang mereka. Dengan kata lain, itu membuat nilai gadis ini sedikit berkurang. Lagi pula, sudah dapat ditebak bahwa dia tidak akan tahu tentang mereka. Lebih masuk akal untuk berpikir jika Suzuki Satoru sendirilah yang datang ke sini dan semua yang lain telah lenyap bersamaan dengan game.

Jika memungkinkan, aku ingin mendapatkan kepercayaannya dan mempelajari lebih banyak tentang dunia ini. Paling tidak, aku ingin mengisi kekosongan antara apa yang aku ketahui dan bagaimana dunia ini bekerja … yang mungkin membutuhkan waktu lama. Membawanya ke dunia luar akan mempersingkat waktu, dan aku juga bisa mendapatkan pengalaman dan pengetahuan … tapi bagaimana caranya agar membuat dia berhutang budi padaku sedemikian rupa?

Ketika Suzuki Satoru pusing karena masalah itu –

“–Semua orang, semua orang sangatlah penting bagi saya.”

Keno berlutut di depan Suzuki Satoru dan kemudian menundukkan kepalanya dengan rendah, dan telapak tangannya ditanah.

“Tolong, saya mohon. Tolong ubah semua orang kembali seperti semula. ”

“–Eh?”

Apa maksud semua ini?

Tidak, meski kau bilang begitu – begitulah reaksi pertama Suzuki Satoru.

Dalam game YGGDRASIL, Momonga adalah seorang undead arcane magic caster. Seharusnya dia memiliki kekuatan yang sama di dunia yang tidak bisa dipahami ini juga.

Namun, dia tidak memiliki kemampuan untuk memulihkan undead.

Jika orang-orang di kota ini berubah menjadi yuriniggers disebabkan  status negatif, maka mungkin dengan membunuh dan kemudian membangkitkan mereka dengan sihir dapat berhasil.

Meskipun cara seperti itu tidak berlaku didalam game, tapi taktik seperti itu tampaknya ada didalam game lain; yaitu, membunuh seseorang yang telah memperoleh status penderitaan yang tidak dapat disembuhkan – dengan kata lain, mereka akan diserang hingga mati dan kemudian dibangkitkan, yang akan menghilangkan efek status negatif.

Namun, dengan tidak adanya keadaan seperti itu, dan itu tidak ada dalam daftar mantra Suzuki Satoru sebuah kemampuan yang dapat memulihkan orang-orang yang telah menjadi undead. Ini mungkin terdengar aneh, tetapi bahkan item dan mantra kebangkitan yang dapat digunakan pada undead yang HP-nya telah mencapai titik 0 pun tidak dapat mengembalikan mereka ke keadaan mereka sebelum menjadi undead.

Namun, mungkin item race-change (Perubahan Ras) memiliki peluang di sini. Sayangnya, begitu seseorang menjadi undead, sebagian besar item perubahan ras tidak akan dapat mengubah status undead seseorang. Kalaupun bisa, satu-satunya hal yang dapat melakukan hal semacam itu adalah World-Class Item (Item kelas dunia).

Jika orang tersebut adalah Player, akan lebih cepat dengan menghapus karakternya dan memulai dengan karakter baru.

Meskipun aku tidak mempunyainya dan tidak akan menggunakannya bahkan jika aku memilikinya, mungkin “Seeds of the World Tree (Benih Pohon Dunia)” dapat memungkinkan bahkan undead sekalipun untuk  mengubah ras mereka – tentu saja itu dengan asumsi, bahwa World Class Item memiliki efek yang sama di sini sama seperti ketika didalam Game. Atau apakah dengan menggunakan [Wish Upon A Star] dapat mengubah sebagian dari mereka, bahkan jika tidak semuanya?

Bagaimanapun, Suzuki Satoru tidak berniat mengeluarkan kartu as-nya yang terbatas.

Ketika Suzuki Satoru terus berpikir, Keno juga melanjutkan omongannya, seolah-olah dia menangis darah.

“Kenapa, kenapa anda melakukan ini pada kami? Saya tidak dapat memahaminya. Mungkin ini semua salah saya. Saya akan membayar dosa-dosa saya, jadi tolong ampuni mereka semua! ”

“–Hm?” Dia telah mendengar sesuatu yang tidak bisa dia abaikan. “Aku melakukan ini padamu?”

Apakah Suzuki Satoru mengubah semua orang di kota menjadi undead tanpa menyadarinya? Tidak, dia belum pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya, bahkan di YGGDRASIL sekalipun.

Bingung, Suzuki Satoru terdiam karena syok. Keno mengangkat kepalanya sedikit dan mengintip kearah Suzuki Satoru.

“…Sebentar. Sebenarnya, aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Apakah aku yang melakukan sesuatu seperti itu? ”

“–Hah?”

Sama seperti yang Suzuki Satoru lakukan barusan, Keno membuat suara bingung.

“Hah?”

“Hah?”

Keduanya saling memandang.

Gadis itu terdiam, seolah-olah kekuatan pada dirinya menghilang. Satoru menunggu sebentar, tetapi dia tidak terlihat seperti akan  menjawabnya. Karena itu, Suzuki Satoru memutuskan untuk bicara duluan. Tetap saja, dia tidak bisa mengatakan dirinya adalah penduduk dunia lain atau semacamnya. Oleh karena itu, dia mengubah ceritanya di mana dia melakukan percobaan sebuah sihir dan tiba-tiba dipindahkan ke udara di atas kota.

“Jadi, jika kau sudah lama tinggal di kota ini, aku yakin itu artinya semua ini tidak ada hubungannya denganku?”

“Ah, uh, jadi itu bukan karena kekuatan anda, Satoru-sama?”

“Kekuatan, maksudmu mengubah semua orang di kota ini menjadi undead? Tidak, aku tidak tahu apa-apa tentang itu – ah, aku benar-benar tidak tahu. Kalau begitu, bisakah giliranku untuk bertanya padamu? Apakah kau memiliki bukti atau dasar bahwa akulah penyebab semua ini? ”

Sebenarnya, ingatan Suzuki Satoru baru saja terbangun. Jika tubuhnya secara tidak sadar menghancurkan lingkungan sekitarnya sampai saat itu, dia tidak dapat menyangkalnya.

“…”

Ekspresinya perlahan berubah, dari kaget menjadi terluka.

Seperti anak kecil, dia tidak bisa menyembunyikan perubahan ekspresinya. Meskipun dia telah hidup begitu lama – kata-kata Suzuki Satoru tetap saja – memberikan dampak padanya – meskipun tubuh undead dapat menekan emosional.

“A-ah, ketika saya sendirian di kota, undead yang sangat kuat muncul … Saya merasa takut lalu kabur.”

Itu adalah undead yang Keno sebutkan tadi, alasan mengapa dia memindahkan markasnya dari Istana ke tempat ini. Dia belum mendengar detail tentang undead ini–

“–Ahhh, begitu, jadi undead itu sangat mirip denganku … dan apakah hanya itu?”

“Iya.”

Suara Keno, sangat samar seolah-olah akan menghilang, dikombinasikan dengan ekspresi memahami di wajahnya dan itu mengangkat beban besar dari hati Suzuki Satoru.

Bukan karena Momonga –  pikiran Suzuki Satoru lah – yang telah melakukan ini. Itu membuatnya semakin yakin bahwa dia pasti muncul di dunia ini ketika saat itu. Pada saat yang sama, Suzuki Satoru cukup terkejut melihat Keno yang mempercayai apa yang dikatakannya.

Tentu saja, Suzuki Satoru sangat terbuka dan jujur padanya dengan harapan mendapatkan kepercayaannya. Namun, gadis itulah yang akan membuat keputusan akhir untuk percaya padanya atau tidak. Dengan kata lain, dia percaya kata-kata undead yang baru saja dia temui.

Jika gadis itu menaruh kepercayaan yang besar padanya, maka dia harus melakukan hal yang sama untuknya. Itu perlu untuk membangun hubungan yang sehat diantara mereka berdua.

“A-ah, apakah anda marah? Saya minta maaf – Saya mohon maaf karena salah sangka, Satoru-sama! ”

“Ahh, tidak apa-apa. Jangan khawatir tentang itu. Omong-omong – apakah kau yakin undead itu adalah dalang di balik perubahan seisi kota menjadi undead? ”

“Tidak, saya tidak begitu yakin. Tapi saya pikir pasti ada hubungannya, kalau tidak, makhluk itu tidak akan muncul di kota penuh undead seperti ini. ”

“Aku mengerti, itu memang masuk akal.”

Meskipun dia secara lisan setuju dengannya, Suzuki Satoru masih memiliki keraguan di hatinya.

Dugaan itu penuh dengan celah.

Mungkin lebih masuk akal jika undead itu muncul begitu saja. Tapi Keeno hampir kehilangan akal sehatnya pada saat undead itu muncul – dan kejadiannya sudah bertahun-tahun. Bukankah itu artinya, mungkin saja hal ini tidak ada hubungannya sama sekali?

Dan juga, mengenai alasan kedatangannya, alasan yang paling mungkin adalah karena ingin tinggal di sini, bukankah begitu? Sebagai undead, dia mungkin tidak akan diserang oleh undead yang tingkatnya lebih rendah, dan makhluk hidup pasti menghindari wilayah ini. Jika seseorang mengesampingkan masalah penyerangan undead, bukankah tempat seperti ini adalah lingkungan hidup paling nyaman bagi setiap undead?

Namun, dia tidak berniat memberi tahu Keno tentang teori-teori itu.

Tidak mungkin dia tidak menyadari sesuatu yang bahkan Suzuki Satoru duga.

Sangat mungkin kalau gadis itu masih ingin percaya bahwa undead tersebut adalah dalang di balik semua ini. Itulah sebabnya dia meminta maaf kepada Suzuki Satoru karena kesalahpahamannya.

Dia masih ingin mempercayai bahwa ada cara untuk menyelamatkan semua orang.

Suzuki Satoru melihat-lihat tumpukan buku yang ada di ruangan itu. Buku-buku itu ternoda, yang merupakan tanda kerja kerasnya. Namun, dia mungkin berpegang teguh pada keyakinan seperti itu karena dia mengerti bahwa dia tidak bisa menyelamatkan mereka, atau karena penelitiannya tidak menunjukkan padanya cara untuk melakukannya.

Narasinya tentang apa yang terjadi hari itu sangat rinci.

Paruh pertama ceritanya, penjelasannya tentang peristiwa hari itu, sangat spesifik dan ia telah dengan jelas menggambarkan situasinya, bahkan sampai memasukkan perasaannya sendiri pada saat itu. Sebaliknya, bagian akhir dari ceritanya – setelah ia menjadi undead – tampak tercampur aduk. Mungkin baginya, ada sedikit perubahan setelah kejadian itu, jadi ada sedikit bagian dirinya yang diceritakan.

Tapi, tentu saja semua itu berbeda.

Terakhir kali dia menjadi manusia adalah saat sarapan.

Itu adalah kenangan paling indah yang dia miliki, itulah sebabnya dia bisa berbicara panjang lebar dan mendetail.

Suzuki Satoru membelai Staff of Ainz Ooal Gown. Dia mendengar Keno terkesiap kaget, tapi dia menghiraukannya.

Dia merasakan dingin yang keras.

Ya, begitulah adanya.

Dia bisa mengerti bagaimana perasaan Keno.

Keno merasakan hal yang sama tentang kota yang berisi orang tuanya dan orang-orang yang telah membantu membesarkannya sama seperti Suzuki Satoru dengan guild Ainz Ooal Gown. Jika ada seseorang yang dapat membantu Suzuki Satoru kembali ke masa-masa yang gemilang itu, ia akan dengan senang hati bersujud di hadapan mereka dan memohon bantuan mereka.

Perasaan yang muncul dalam diri Satoru disebut rasa bersalah.

Singkatnya dia salah karena terlalu berharap dari Suzuki Satoru.

Namun–

“Ahh, ya,” kata Suzuki Satoru sambil memegang tongkatnya. “–Keno-san.”

Dia melihat bahu Keno berkedut, tetapi Suzuki Satoru mengabaikannya dan terus berbicara.

“Jika membunuh undead itu akan mengembalikan orang-orang di kota seperti sediakala, maka aku dengan senang hati akan membantumu.”

Teori Suzuki Satoru sebelumnya didasarkan pada pengetahuannya tentang YGGDRASIL. Jika undead itu benar-benar pelakunya, maka mungkin saja dapat mengembalikan orang-orang dengan mengalahkannya atau menggunakan cara lain.

Jika semua manusia di kota telah berubah menjadi undead, bukankah kita tidak bisa menyimpulkan dengan bertanya “siapa yang bisa melakukan ini?”

“Jika itu seperti yang kau yakini, Keno-san, dan lawannya adalah seseorang yang dapat mengubah seluruh kota menjadi undead, maka mereka mungkin bukan lawan yang mudah. Untuk alasan itu, aku merasa bahwa menangkap mereka dalam keadaan utuh akan sulit, tetapi memusnahkan mereka masih mungkin dilakukan. ”

Ketika Suzuki Satoru memberi tahu Keno, dia secara mental mencaci dirinya sendiri, Kau ini seorang dermawan apa?

Paling-paling, undead yang mirip dengan Suzuki Satoru adalah Overlord ™. Jika semua pengetahuan YGGDRASIL-nya dapat diterapkan, ia mungkin bisa memikirkan cara untuk menghadapinya. Namun, sangat mungkin jika rata-rata Overlord didunia ini musuh dengan level 1000+.

Dengan kata lain, sepertinya tidak mungkin lawan ini akan melebihi perkiraan Suzuki Satoru.

Alasan untuk itu adalah karena cara Keno menggambarkan orang tuanya. Ayahnya, yang dibicarakannya dalam cerita, mampu merapalkan mantra tingkat keempat, sementara ibunya, mampu merapalkan mantra tingkat kelima, yang dianggap jenius. Dari sudut pandang itu, ada sedikit perubahan dengan YGGDRASIL, atau lebih tepatnya, ada lebih banyak kelemahan di sini daripada di YGGDRASIL.

Dengan kata lain, apakah dia bisa mengalahkan mereka atau tidak masih perlu dilihat.

Dia mengarahkan celaan pada dirinya sendiri karena kata-kata bodoh yang dia katakan sendiri setelah dia menyamakan pengalaman didalam game dengan pengalaman pertempuran kehidupan nyata, di samping kurangnya pengetahuan.

Jika mungkin, dia ingin membawa Keno pergi dari kota ini untuk sementara waktu dan melakukan kontak dengan orang-orang di dunia ini yang akrab dengan undead, untuk mendapatkan sebanyak mungkin informasi tentang musuh-musuhnya sebelum menyiapkan strategi sempurna yang dapat digunakan untuk menantang lawannya.

Pertama-tama, dia tidak tahu kekuatan lawannya. Mungkin Keno hanya melihat satu undead, tetapi ada kemungkinan undead itu terus meningkatkan kekuatan bertarungnya di dalam kota setelah kejadian itu.

Dalam hal itu, prioritas utamanya adalah untuk mengumpulkan informasi, dan kemudian – dia perlu menghabiskan banyak waktu dan upaya untuk persiapan.

Namun, dia tidak berpikir Keno akan menerima gagasan itu. Tentunya seorang gadis yang menolak untuk meninggalkan kota yang penuh dengan undead menakutkan tidak akan menerima begitu saja dan membalas “ayok keluar” dari pihak yang tidak dikenalnya dengan mudah. Namun, itu patut dicoba.

“Namun, aku ingin kau memikirkan ini dengan hati-hati. Apakah tidak masalah untuk membunuhnya? Mungkin saja, bahkan jika kau membunuh undead itu, penduduk kota tidak kembali normal, bukan? ”

Keno menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan buku dari tumpukan literatur.

Buku-buku yang ditumpuk di atasnya runtuh dan jatuh, tetapi dia membawanya kembali tanpa memperdulikan itu dan membuka sebuah halaman lalu menunjukkannya pada Suzuki Satoru.

Apa yang ada dalam pikirannya – ini bukan bahasa Jepang.

Ketika Suzuki Satoru mencari-cari magic item, Keno menunjuk ke sebuah bagian di buku dan membacanya.

“Bagian ini mengatakan bahwa membangkitkan undead yang mati membutuhkan mantra kebangkitan yang sangat kuat, dan bahkan setelah kebangkitan, mereka tetap menjadi undead. Tetapi jika master undead dimusnahkan, ada kemungkinan bahwa korbannya dapat dipulihkan, jika mereka beruntung. Itulah yang tertulis di sini. ”

Sebagian besar, ini sama dengan YGGDRASIL. Namun, agar karakter YGGDRASIL yang telah menjadi undead agar dapat menjadi manusia lagi, mereka membutuhkan World Class Item (Item Kelas Dunia), meskipun didunia ini tidak begitu. Semakin dia menyadari perbedaan antara kedua dunia, semakin pentingnya posisi Keno.

Sial, pikir Suzuki Satoru.

Jika Keno menjawab, “Mungkin mereka tidak akan kembali seperti semula”, Suzuki Satoru dapat mengarahkan percakapan “Kalau begitu jangan kita bunuh dulu dan cari cara lain.” Karena kita tidak punya cukup informasi, kenapa kita tidak meninggalkan kota ini untuk sementara dan pergi ke luar untuk mengumpulkan informasi? ” Begitulah cara dia merencanakannya.

Rencananya kacau. Tapi mau bagaimana lagi.

Kalau begitu, dia harus membunuhnya.

Memusnahkan undead itu.

Tentu saja–

–Itu jika aku sanggup

“Aku mengerti. Kalau begitu – ahhh, ya, tapi ada syarat. ”

“Baik.”

“Syaratnya adalah – Aku ingin mengetahui segala macam hal. Aku ingin tahu semua yang kau ketahui. ”

Raut wajah Keno sepertinya mengatakan “huh?”

“Apakah tidak masalah dengan itu?”

“Iya. Aku merasa bahwa pengetahuan yang kau simpan sampai sekarang sangat berharga. ”

Suzuki Satoru mengalihkan pandangannya dari buku yang dipegang Keno ke tumpukan buku lain di ruangan ini. Yang dia inginkan adalah informasi dasar tentang dunia ini, tetapi Keno mungkin akan terganggu jika dia berkata berlebihan. Oleh karena itu, dia pura-pura bersikap agar membuat wanita itu secara keliru percaya bahwa dia sedang mencari pengetahuan tentang sihir. Mengingat reaksi Keeno, dia telah sepenuhnya menerima itu.

“B-baiklah, tapi semua pengetahuan itu tidak dapat menyelamatkan semua orang loh?”

“Tidak apa-apa. Walaupun begitu, itu tetap berharga bagiku. ”

‘Terima kasih’, Keno bergumam, dan membungkuk padanya.

“Dan juga – uang atau magic item yang bisa kau berikan juga akan membantu,” kata Suzuki Satoru sambil dengan santai menghasilkan koin emas YGGDRASIL. “Bisakah aku menggunakan uang ini di negeri ini?”

Keno mengambil koin itu dan memutarnya berulang-ulang di tangannya sebelum mengembalikannya ke Suzuki Satoru.

“Ya, bisa. Atau setidaknya mungkin bisa. Meskipun saya tidak tahu persis berapa nilainya tanpa memeriksa kadar emasnya … ”

“Aku mengerti. Kalau begitu, aku akan sangat senang jika mendapatkan koin emas yang dapat digunakan di wilayah sekitarnya juga. ”

“Saya, Keno Fasris Invern, dengan ini bersumpah kepada anda bahwa saya akan membayar anda dengan apa pun yang anda inginkan, Satoru-sama.”

Suzuki Satoru menarik napas dengan pelan.

Begitulah sikap Keno yang anggun, sikapnya sebagai seorang putri menjadikannya lebih unggul bahkan dari pengusaha paling sukses yang diketahui Suzuki Satoru.

“Kalau begitu, aku sangat berterima kasih. Dengan demikian kesepakatan kita telah terbentuk. Baiklah, kalau begitu–”

Untuk mempelajari cara menggunakan kekuatannya, dia perlu mempelajari bagaimana sihir YGGDRASIL berinteraksi dengan sihir di dunia ini. ”

“Ngomong-ngomong, Keno-san. Aku harus bilang padamu bahwa aku bisa merapalkan mantra tingkat kesepuluh. ”

“–Saya mengerti.”

Keno tersenyum dengan agak tertekan.

Kenapa, kenapa dia tersenyum seperti itu? … Bukankah kau akan dianggap jenius jika bisa merapalkan mantra tingkat kelima? Aku bahkan dua kali lipatnya, loh! Mengapa kau begitu tenang – apakah itu karena dia undead?

Setelah menjadi undead, Suzuki Satoru telah mengalami bagaimana emosinya dapat ditekan begitu mereka mencapai ambang tertentu. Apakah hal yang sama berlaku untuk Keno juga?

Jangan bilang kalau mantra tingkat kesepuluh tidak berarti apa-apa? Bagaimana jika tingkatannya dimulai dari 10 dan semakin kuat jika angkanya semakin kecil? Tunggu, bukankah itu akan membuatku menjadi magic caster tingkat pertama?

“Ah … apakah ada mantra tingkat ketiga yang disebut [Fireball]?”

“Hah? Iya ada. Memang ada mantra seperti itu, meskipun saya tidak tahu bagaimana menggunakannya. ”

“Orang tuamu bisa merapalkan mantra tingkat keempat dan kelima, jadi mereka pasti bisa menggunakannya, kan?”

“Ibu mungkin tidak mempelajarinya, tetapi ayah bisa menggunakannya.”

“Aku mengerti. Kebetulan, mantra [Lightning] juga dari tingkat ketiga, bukan? ”

Keno menunjukkan bahwa itu benar.

Jadi sepertinya mantra di dunia ini menempati tingkat yang sama dengan YGGDRASIL. Dengan kata lain, pengetahuan Suzuki Satoru tentang sihir dapat diterapkan secara langsung.

Ini adalah berita bagus, tetapi dia harus memastikannya secara langsung.

“Kalau begitu, Keno-san, bisakah kau menggunakan salah satu mantramu – bagaimana dengan ini, bisakah kau menggunakan mantra tingkat pertamamu padaku? Akan bagus jika menggunakan mantra serangan. ”

“Ehhhh !?”

Ketika dia melihat mata Keeno yang melebar, dia menyadari bahwa dia belum menjelaskannya dengan cukup detail.

“Ahhh. Aku ingin melihat apakah kekuatanku berfungsi seperti biasa. Aku ingin menggunakan mantra seranganmu sebagai uji coba, Keno-san. ”

Bagaimanapun, akan menyusahkan nantinya, jika mantra-mantra itu memiliki nama dan tingkatan yang sama tetapi dalam efek dan kekuatan destruktif yang jauh berbeda.

“Eh, ah, begitu. Saya mengerti.”

Keeno mengumpulkan tekadnya dan berdiri, lalu menghadap Suzuki Satoru.

Sikapnya yang tanpa ragu memberi Suzuki Satoru ketegangan. Tentunya sebagian besar orang akan merasa bimbang sejenak atau bahkan terganggu, bukankah begitu?

Apakah itu sifat undead juga? Saat dia merenungkan pertanyaan itu, Keno merapalkan mantranya. Panah dari [Magic Arrows] mendekatinya dengan efek khusus yang sama seperti di YGGDRASIL. Dan kemudian – semua itu lenyap begitu menyentuh tubuh Suzuki Satoru.

“Ehhhh !?” Keno berseru kaget.

Suzuki Satoru – tidak, Momonga memiliki kemampuan yang dikenal sebagai High-Tier Magic Immunity. Itu adalah kekuatan yang membatalkan semua mantra tingkat keenam dan di bawahnya. Meskipun begitu, mantra tingkat pertama benar-benar tidak berguna.

“Sepertinya kekuatan yang melindungiku berfungsi tanpa masalah. Kalau begitu, coba lagi. Kali ini, aku akan menurunkan pertahananku. ”

Dia menonaktifkan skill pasif. Untuk beberapa alasan dia merasa seperti telanjang dihadapan laras pistol.

Seorang anggota guild pernah mengatakan bahwa dia merasa takut ketika melihat senjata diarahkan padanya bahkan dengan menggunakan rompi anti peluru. Dia bisa mengerti bagaimana perasaan mereka sekarang. Meskipun emosi yang kuat dari undead akan ditekan, tampaknya emosi yang tidak mencapai ambang batas tidak akan ditekan.

“Saya mengerti,” kata Keno, dan sekali lagi, dia mengarahkan mantranya pada Satoru tanpa ragu-ragu.

“[Magic Arrow]”

Ledakan cahaya meluncur lagi dan mengenai titik mati Satoru.

Itu tidak sakit. Tidak, ada sesuatu yang mungkin merupakan rasa sakit, tetapi sebenarnya menyebutnya rasa sakit agak kurang tepat.

Apakah indranya telah tumpul karena dia undead? Tetapi ketika dia memikirkannya, dia ingin mengejek bagaimana tubuh yang hanya terbuat dari tulang tanpa daging, saraf atau bahkan kulit, bisa merasakan rasa sakit pada awalnya. Pada titik itu, bagaimana mungkin tubuh tanpa pita suara atau paru-paru bisa berbicara?

Itu hal yang sama bagi Keno, yang tidak bernafas. Begitulah cara kerjanya, dan dia tidak punya pilihan selain menerimanya.

Dia mengintip ke arahnya, dan pada akhirnya, wajah Keno – bahkan setelah menyerang Suzuki Satoru dua kali – terlihat tenang. Tentu saja, ekspresi gadis itu seperti mengatakan bahwa dia telah menduga semua ini.

Ada apa dengan dia …

Bagaimana mungkin dia menyerang penolongnya, Suzuki Satoru, tanpa ragu-ragu sama sekali? Apakah itu karena dia adalah seorang psikopat, atau karena dia adalah undead, atau apakah itu memang hal lumrah didunia ini? Berbagai kemungkinan yang tak terhitung jumlahnya menyapu pikiran Satoru.

Jangan bilang … dia merasa itu adalah kesempatan untuk membunuhku? Atau tidak, apakah itu karena dia berpikir, jika aku mati, maka hanya sebatas itulah kemampuanku, sesuatu yang kejam seperti itu?

Masalah apakah dia cukup kuat atau tidak untuk menjadi kolaboratornya pasti sangat penting bagi Keno. Itu sebabnya dia bisa menyerangnya tanpa ragu-ragu sama sekali.

Meski begitu, aku adalah sekutunya … jadi aku pikir seharusnya dia sedikit ragu … baiklah.

Dari sekian banyak pikiran, tidak ada yang memberinya jawaban. Untuk saat ini, dia hanya perlu menganggapnya sebagai gadis kecil yang menyeramkan. Dia tidak bisa membiarkan dirinya terjebak oleh penampilan muda dan wajahnya yang cantik. Dia adalah seorang gadis yang memiliki sesuatu yang berbahaya di dalam dirinya.

Bagaimanapun, dia sekarang tahu bahwa terlibat dalam pertempuran tanpa melakukan percobaan adalah hal yang sangat berbahaya. Jika dunia ini berbeda dari YGGDRASIL dan kematian adalah akhir dari segalanya, maka dia perlu tahu bagaimana rasanya menerima damage – untuk merasakan sakit. Ketakutan akan rasa sakit dalam pertempuran mungkin menyebabkan dia kalah dalam pertarungan yang bisa dimenangkannya.

“Keno-san, kau bilang kalau dulu kau bisa menggunakan mantra tingkat kedua, tapi bagaimana dengan sekarang? Apakah kau masih pada tingkat kedua? ”

“Ya … saya fokus pada memperluas pengetahuan saya daripada meningkatkan kemampuan perapalan, jadi …”

“Aku mengerti. Itu artinya…”

Meskipun tingkat level dan kemampuan Keno belum diketahui, tidak peduli bagaimana dia mencoba menyerang dengan mantra tingkat kedua yang dia punya, dia tidak akan bisa membuat Satoru merasakan sakit jika dibandingkan dengan mantra serangan yang digunakan oleh lawannya – yang diperkirakan pada tingkat Overlord. Gadis itu benar-benar tidak berguna untuk tujuan itu.

“Kalau begitu, aku minta maaf, tapi aku masih ingin melanjutkan tesku. Aku perlu menggunakan mantra serangan yang berpusat pada diriku sendiri. Oleh karena itu, dapatkah kau memberi tahuku tempat yang aman untuk melakukannya? ”

Mantra Suzuki Satoru sendiri seharusnya dapat memberikan damage padanya. Selain itu, ada satu hal yang harus dia klarifikasi.

Itu untuk melihat apakah friendly fire (menyerang tim sendiri) berlaku. Gaya bertarungnya akan berubah tergantung pada jawabannya ya atau tidak. Sesuatu seperti cara menggunakan mantra efek area dan sebagainya.

“Maksud anda, ruang terbuka? Seberapa besar yang dibutuhkan? Ruang terbesar yang saya tahu di selokan adalah … ya, sekitar 50 meter. ”

“50 meter, huh …”

Dia harus menghindari mantra dengan knockback efek area dan mantra yang sangat berpengaruh pada dinding dan benda lainnya. Hanya dengan demikian ukuran seperti itu dianggap memadai.

Akan lebih bijaksana untuk berteleportasi ke luar kota dan melakukan tesnya. Namun, dia tidak mengira situasi akan berakhir seperti ini, jadi dia tidak menghafal tujuan teleportasi yang ada di luar kota.

Di YGGDRASIL, seseorang akan meninggalkan penanda, tetapi di dunia ini tampaknya hanya perlu mengingat lokasinya.

Bagaimana keadaan didalam kepala Satoru setelah mengetahui hal ini? Omong-omong, apakah tubuhnya sekarang mempunyai otak ? Ketika ia mulai merenungkan kerunyaman ini, Satoru menggelengkan kepalanya dan menyingkirkan topik tak berguna ini dari benaknya sebelum menjawab Keno.

“Hmm. Aku mengerti. Bisakah kau membawaku ke sana? ”

Tempat kemana dia dibawa memang cukup luas. Itu mungkin pusat tangki pengumpul pembuangan limbah yang mengalir melalui saluran utama dan cabang saluran pembuangan. Namun, itu kosong sekarang, kecuali tanda-tanda yang tersisa dari beberapa dekade yang lalu.

Dia mengaktifkan kemampuannya untuk memeriksa keberadaan para yuriniggers.

Akan merepotkan jika ada tikus-tikus zombie atau sejenisnya berada di sekitarnya. Jika mereka terperangkap didalam area tes, ia mungkin akan berakhir dengan memanggil semua yuriniggers yang ada di kota.

Kebetulan, tidak ada yang namanya yuriniggers slime. Meskipun setiap ras bisa diubah menjadi yuriniggers atau skeleton, ada beberapa pengecualian. Ras tanpa memiliki tulang tidak dapat diubah menjadi Zombie ataupun Skeleton. Begitulah cara kerjanya di YGGDRASIL, dan setelah memastikannya dengan Keno, sepertinya hal yang sama juga berlaku didunia ini.

Setelah menyelesaikan pengecekannya, dia melirik Keno, yang tetap berada di tempat yang lebih tinggi.

Dia tidak menunjukkan tanda-tanda melarikan diri. Apakah itu karena dia mempercayainya, atau karena dia merasa dirinya berguna, atau karena dia merasa tidak ada gunanya melarikan diri?

–Kalau begitu, mari kita mulai.

“[Call Greater Thunder]!”

Mantra tingkat kesembilan ini adalah mantra petir terhebat dalam single target. Meskipun mantra tipe api juga akan bekerja dengan baik, dia agak takut pada api – itu adalah salah satu kelemahannya – itulah sebabnya dia memilih mantra ini sebagai gantinya. Tentu saja, dia bisa menggunakan sesuatu yang lebih lemah, seperti mantra tingkat kelima atau sekelasnya, tetapi dia telah memilih mantra tingkat tinggi karena dia ingin tahu berapa banyak kerusakan yang dapat diberikan mantra tingkat sembilan padanya, serta seberapa sakit itu.

Dan juga, ini adalah salah satu mantra yang biasa digunakan Overlord, dan dia juga ingin melihat apakah dia bisa mengarahkan mantra single target terhadap dirinya sendiri.

Pilar petir yang tebal menjorok ke bawah, menerangi bagian dalam selokan dengan cahaya yang menyilaukan.

Dan kemudian – ketika dia merasakan sakit, Suzuki Satoru juga menyadari bahwa rasa sakit ini tidak dapat ditahan.

Tampaknya rasa sakitnya juga ikut ditekan. Apakah itu efek dari perubahan undeadnya juga?

Suzuki Satoru tidak bisa menahan tawa.

Meskipun mendapatkan tubuh undead sedikit mengejutkan bagi Suzuki Satoru, tapi berkat tubuh itulah sehingga dia mampu mengeluarkan kemampuan penuhnya.

Jika dia masih memiliki tubuh berdaging yang bisa merasakan sakit secara normal, pasti Suzuki Satoru akan lebih takut ketika bertempur, dan bahkan mungkin dia memilih untuk menghindari pertempuran.

Setelah itu, Suzuki Satoru mengeluarkan gulungan dari  inventory-nya. Dia harus memeriksa apakah dia bisa menggunakan gulungan secara normal atau tidak.

Dia melepaskan kekuatan yang terkandung di dalam gulungan itu, dan nyala api menyerbu ke atas.

Itu adalah [Napalm].

Terdapat sambaran petir yang mampu membelah langit.

Itu diikuti oleh nyala api yang membakar langit.

Gelombang kegembiraan dan ketakutan menyapu Keno Fasris Invern.

Kata-kata “magic caster” atau “undead” tidak lagi cukup untuk menggambarkan ini. Ini adalah kekuatan yang hanya bisa digunakan oleh makhluk yang unggul dari keduanya. Dengan kata lain, sihir ini berasal dari para dewa, atau makhluk serupa, Keno sangat meyakini itu.

Keluarga kerajaan Invern mengikuti kepercayaan mereka terhadap Na Bel yang memiliki penganut di kerajaan-kerajaan sekitarnya. Itu adalah panteon yang dipimpin oleh dewa matahari Bei Niala yang memegang permata di tangannya, dan dewi bulan Lu Kinis, yang memegang tongkat berhias permata.

[Note: Panteon : https://id.wikipedia.org/wiki/Panteon]

Namun, pada akhirnya, itu bukan kepercayaan yang lahir dari pengabdian batin mereka, tetapi karena itu adalah agama mayoritas di kerajaan. Orang-orang selain Rainbow-Eyed tinggal di kerajaan ini juga, dan memiliki keyakinan Na Bel, sebagai agama kerajaan, digunakan untuk memperkuat ikatan antara berbagai etnis. Bahkan lebih jauh lagi mereka menggunakan agama untuk membangun ikatan dengan kerajaan-kerajaan di sekitarnya.

Ketika itu, Keno masih muda dan tidak tahu hal semacam itu, jadi dia percaya pada para dewa dengan sepenuh hati.

Namun, pada hari itu, dan setiap harinya, para dewa tidak pernah datang menyelamatkan mereka. Karena itu, Keno tidak lagi percaya pada para dewa. Namun, berbeda lagi jika menyangkut kekuatan mereka.

Keberadaan para divine magic caster membuktikan keberadaan kekuatan para dewa. Oleh karena itu, Keno telah melakukan penelitian untuk meminjam, merebut atau mencuri kekuatan para dewa, untuk mencoba dan mengembalikan semua orang ke keadaan normal. Namun, tak satupun percobaannya yang membuahkan hasil – mungkin dia tidak berbakat di bidang itu – dan karenanya dia menghentikan penelitiannya terhadap hal itu.

Setelah meninggalkan penelitian itu dan bertahun-tahun bekerja, ketika dia mengembalikan buku-buku yang dia pinjam dari sebuah kuil, Keno menyaksikan undead memasuki kota.

Itu adalah undead skeleton, dengan sedikit daging ditubuhnya, dan baik jubah yang dipakainya maupun tongkat sihir yang digunakannya terlihat seperti magic item yang kuat. Itu memancarkan aura kekuatan yang hanya ditemukan di antara makhluk-makhluk yang kuat, dan tampaknya lebih kuat daripada ayah Keno.

Keno segera melarikan diri dengan beberapa buku di tangannya.

Setelah sampai di tempat yang aman, dia mulai menyesali apa yang telah dia lakukan. Kenapa dia tidak mencoba bernegosiasi dan meminta untuk menyelamatkan negerinya?

Penyesalannya tidak memudar sejak hari itu. Tentunya tidak akan terlambat untuk mencobanya sekarang, bukan? Lebih dari sekali, pikiran itu membuat dadanya terasa seperti akan meledak.

Tapi kemudian, hari ini telah tiba.

Pada saat itu, ketika dia melihat sosok itu mengambang di langit malam, Keno sekali lagi melarikan diri.

Bahkan dari kejauhan, dia bisa tahu jubah megahnya dipenuhi dengan kekuatan magis. Dan kemudian, pakaian-pakaian yang tidak mungkin dibuat oleh tangan manusia terlihat ciut oleh tongkat emas itu. Kehadirannya semata-mata meniup penyesalan dan tekad pahit dalam hatinya, sampai tidak ada yang tersisa.

Keno percaya bahwa dia – Suzuki Satoru – memiliki kekuatan luar biasa. Karena itu, ketika dia memintanya untuk merapalkan mantra, dia melakukannya tanpa ragu-ragu. Dia percaya bahwa mantra lemahnya tidak mungkin bisa melukainya sedikit pun – dan memang, begitulah yang terjadi.

“Ayah. Ibu, Nastasha. Mungkin ada cara untuk menyelamatkan kalian semua. ”

Waktu Keno sampai sekarang telah sia-sia.

Dia telah mempelajari segala macam sihir dari berbagai buku dan melakukan penelitian, memanfaatkan sepenuhnya tubuh yang tidak tidur untuk melanjutkan pembelajarannya. Meskipun dia belajar sendiri, dia seharusnya memiliki lebih banyak pengetahuan daripada magic caster biasa.

Mungkin Keno Fasris Invern tidak akan bisa menyelamatkan semua orang sendirian, tidak peduli seberapa keras dia berusaha di kota ini.

Tetapi jika pria hebat itu bisa menyelamatkan semua orang, maka sebagai satu-satunya anggota kerajaan ini yang masih hidup, dia akan menyetujui setiap permintaan yang dibuatnya, bahkan jika membunuh dirinya sekalipun.

Tetap saja, aku pikir aku tidak memiliki sesuatu yang layak untuk dipersembahkan kepadanya … apakah dia meminta pengetahuan karena dia kasihan padaku ? Aku tidak mengerti. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah percaya.

Keno Fasris Invern mempertaruhkan segala yang ia punya pada undead yang kuat itu.

Dia tidak tahu apakah ini akan berakhir dengan kemenangan atau tragedi, atau apakah ini akan menjadi kisah heroik yang belum pernah ada di dunia. Bagaimanapun, bab baru pun dimulai dalam kisah Keno.

 

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded