Overlord Vampire Princess of the Lost Country – Chapter 2 Part 1.2

Font Size :
Table of Content

Overlord : Vampire Princess of the Lost Country – A Strange Tale of the Absolute Ruler – Chapter 2 Part 1.2 Bahasa Indonesia

Translator : Scraba

[Message] itu bilang bohong? … Jangan bilang kalau Keno sudah terkena mantra musuh? Tapi dia undead, bukan? Seharusnya dia tidak terpengaruh oleh efek pencucian pikiran. Tidak, itu hanya pengetahuanku tentang YGGDRASIL. Apakah undead di dunia ini rentan  terhadap efek mental? Aku tidak mengerti! Apakah Keno bersekutu dengan musuh selama ini? Tetapi dia adalah orang yang menemukan tempat persembunyian itu, jangan bilang bahwa itu semua ulah musuh juga … apa yang harus aku lakukan?

Buku panduan PK tidak menyebutkan situasi seperti ini, dan Suzuki Satoru tidak memiliki informasi yang cukup untuk kembali.

Haruskah aku melupakan semuanya dan lari, pikir Suzuki Satoru. Dia telah mengamati lingkungan sekitar Keno dari udara selama tujuh menit penuh dan tidak ada yang berubah.

Karena bosan mendengarkan suara angin, Suzuki Satoru berbicara pelan.

“… Tidak ada tanda-tanda gerakan sama sekali.”

Penantian yang sia-sia itu telah menghilangkan kegembiraan karena akan terlibat dalam pertempuran hidup atau mati.

Tidak, ini mungkin juga jebakan musuh. Waktu tidak ada artinya bagi kami para undead … dengan kata lain, menunggu memang beban yang sulit, tapi itu bukan masalah yang besar. Musuh pasti sedang menungguku dengan gelisah dan bergegas keluar!

Sebuah suara di dalam hatinya berkata, “Mungkin itu masalahnya” dan Suzuki Satoru mengabaikan rencananya untuk melarikan diri. Sebaliknya, dia terus menunggu.

–Sudah sepuluh menit berlalu.

…Ini aneh. Pasti ada yang salah. Ngomong-ngomong, aku akan mulai dengan mendapatkan yurinigger Anjing … ah. Itu berarti yurinigger Anjing beserta cash itemnya akan hilang … Aku juga tidak bisa menemukan item itu. Urgh …

Dia juga tidak bisa mengirimkan sesuatu kepada Keno.

Dia tidak bisa memanggil atau menciptakan undead.

Aku perlu mempertimbangkan bahwa musuh menghindari kami dan pergi ke selokan, lalu meletakkan undead yang kuat di sana. Jika aku membasmi undead itu sekarang, aku khawatir nantinya apakah musuh akan melakukan penyergapan.

Saat dia memikirkan itu, dia mengalihkan perhatiannya ke yurinigger Anjing yang dia panggil dengan mana yang berlebihan. Anjing itu sudah kembali ke sekitar gerbang istana untuk siaga.

Lalu, haruskah aku mengirimkannya ke Keno dan menuntunnya?

Mungkin musuh tidak menyerang karena mereka menemukan Suzuki Satoru di udara. Karena itu, jika Suzuki Satoru pergi, musuh mungkin memutuskan untuk mengambil tindakan.

Setelah mempertimbangkan hal itu, Suzuki Satoru merapalkan [Greater Teleportation] lagi dan berteleportasi ke halaman rumah tidak jauh dari posisi Keno. Setelah memastikan bahwa dia tidak terlihat dari istana, dia memerintahkan yurinigger Anjing untuk bergerak menuju Keno.

Tampaknya Keno menggunakan [Invisibility], karena yurinigger Anjing tidak bisa melihatnya. Namun, ketika yurinigger Anjing membasahi daerah yang telah dilihatnya dari udara, Keno tiba-tiba muncul.

Yurinigger Anjing menarik-narik ujung pakaian Keno.

Keno tampaknya mengerti artinya dan mulai berlari di belakang yurinigger Anjing yang memimpin jalan.

Setelah akhirnya muncul dari persembunyiannya, Suzuki Satoru dapat melihat Keno ketika yurinigger Anjing membawanya. Namun, dia tidak boleh lengah. Undead dengan kemampuan thief tingkat tinggi bukan hal yang umum, tetapi mereka ada. Seseorang seperti itu mungkin akan meluncurkan serangan diam-diam.

“Satoru-sama! Anda baik-baik saja! ”

Itu masih jauh dari waktu yang telah ditentukan, dan gadis itu mungkin sangat khawatir. Keno tampak sangat gembira, tetapi sekarang bukan saatnya untuk bahagia.

“Kemari!”

Suzuki Satoru melompat keluar dan meraih tangan Keno. Tidak ada waktu untuk menjelaskan segalanya kepada Keno yang terkejut. Suzuki Satoru segera merapalkan [Greater Teleportation], membawa Keno dan yurinigger Anjing ke markas mereka di selokan.

Dia memeriksa sekelilingnya setelah tiba, kemudian memperhatkan pintu masuk. Tidak ada tanda-tanda bahwa pintu itu telah dibuka. Eyeball Corpse yang mengambang di udara juga tidak apa-apa. Sekarang dia yakin kalau itu aman.

“Whew.”

Baru ketika dia kembali ke sini lah Suzuki Satoru membiarkan dirinya menarik napas lega. Setelah itu, dia ingat bahwa dia harus menjelaskan banyak hal kepada Keno.

Setelah menghilangkan (dispelling) yurinigger Anjing dan mengambil cash item, Suzuki Satoru memulai penjelasannya. Poin utamanya adalah bahwa ia telah memusnahkan undead yang sedang dibicarakan Keno, tetapi musuh terlalu lemah, jadi mungkin saja itu adalah tubuh tiruan atau semacamnya. Karena itu, ia memilih untuk mundur.

“Tidak, saya pikir bukan itu masalahnya. Apa anda tidak berpikir bahwa Anda mengalahkannya dengan mudah karena Anda adalah seorang magic caster yang sangat kuat, Satoru-sama? ”

“Jika itu adalah Overlord seperti diriku, maka dia tidak akan tumbang begitu mudah.

“Perbedaan antara kekuatan saya dan musuh terlalu besar, jadi informasi yang bisa saya katakan adalah dia sangat kuat. Apa mungkin karena itu? ”

“Aku juga mempertimbangkan itu … kalau begitu, aku akan memeriksanya lagi.”

Itu sangat berbahaya, tetapi itu juga satu-satunya jalan.

Suzuki Satoru bisa merasakan undead, tetapi dia tidak bisa merasakan kekuatan mereka. Karena itu, ia tidak punya pilihan selain untuk memastikannya sendiri.

“Terima kasih banyak.”

“Pencarian mungkin memakan waktu satu atau dua jam, jadi kau harus menunggu di sini.”

Setelah memerintahkan Eyeball Corpse untuk melindungi Keno, Suzuki Satoru berteleportasi ke wilayah bangsawan itu lagi. Dia mengamati bagian dalam istana dari sana, tetapi tidak ada keributan atau tanda-tanda bahwa tingkat siaga telah meningkat.

Dia memanggil undead yang kuat dengan [Summon Undead 10] dan mengirimnya ke istana. Namun, tidak ada pertempuran yang terjadi. Jadi, Suzuki Satoru menguatkan tekadnya dan mengikuti di belakangnya.

Dia menelusuri kembali jalur yang dilalui yurinigger Anjing ke ruang tahta.

Dalam perjalanan ke sana, dia tidak menemukan undead lain selain yuriniggers.

Pintu ke ruang tahta tetap terbuka. Jubah dan perlengkapan undead yang baru saja dimusnahkannya tersebar di tanah.

Tidak mungkin … jangan bilang kalau dia terlalu lemah? –Ah, ini buruk, aku membuat kesalahan. Atau mungkin itu benar-benar tiruannya dan yang asli segera melarikan diri begitu dia menyadari bahwa dia tidak bisa mengalahkanku. Itu mungkin saja. Jika aku tahu hal ini sejak awal, akankah segalanya berjalan lebih baik ika aku melakukan pembukaan dengan [Dimensional Lock] atau mantra lain yang mengendalikan medan perang daripada sihir serangan?

Aku membuat langkah yang buruk, dia mengeluh ketika dia mengarahkan undead yang ada di sampingnya ke dalam ruangan. Tidak ada reaksi undead dari dalam, tetapi dia tidak bisa menghilangkan kemungkinan bahwa ada penjaga di dalam yang bukan undead.

Setelah melihat bahwa bawahannya tidak diserang, Suzuki Satoru melangkah di depan ruangan dan mengintip ke dalam.

Dari sekian banyak meja di dalam, kebanyakan dipindahkan dari ruangan lain. Terdapat tumpukan buku diatasnya, membuatnya terlihat seperti miniatur gunung. Perkamen dan kertas berserakan di lantai, dan itu semua dipenuhi dengan karakter yang Suzuki Satoru tidak ketahui.

Itu tampak seperti ruangan seorang terpelajar, atau seorang birokrat yang banyak menangani urusan administrasi.

“Semua informasi ada di sini … tetapi tidak ada orang di sini?”

Suzuki Satoru memasukkan semua item yang ada dilantai ke dalam inventory-nya. Meskipun dia ingin menyelidiki semua itu segera, dia harus terus mencari undead yang kuat sebagai prioritas utamanya.

Suzuki Satoru sudah beberapa kali berkeliling didalam istana.

Dua jam kemudian, dia melipat tangannya dan mulai berpikir.

Aku tidak dapat menemukannya di mana pun! Dia melarikan diri … Aku agak meragukannya. Akan masuk akal jika dia kabur sendirian, tetapi mustahil untuk melarikan diri dengan semua bawahannya di bawah pengawasanku. Yang lebih penting lagi, dia meninggalkan semua dokumen seperti ini di sini. Selain itu, tidak ada tanda-tanda bahwa ada ruangan lain yang digunakan … pada akhirnya aku hanya dapat menyimpulkan bahwa pihak lawan terlalu lemah.

Suzuki Satoru melampiaskan amarahnya sepanjang waktu dan sel-sel otaknya seperti hangus. Bisa dibilang bahwa ini adalah kegagalan yang ditimbulkan oleh pertempuran tanpa membuat rencana cadangan yang tepat sebelumnya.

Jika Punitto-san mendengar tentang ini, dia pasti akan mengomeliku sepanjang hari seperti “Semuanya berjalan baik karena kau sedang beruntung saja” dan semacamnya. “

Tetapi faktanya, semua mungkin berjalan dengan buruk jika musuh tidak begitu lemah. Tempat ini berbeda dari game. Mungkin saja kau hanya memiliki satu nyawa – lagipula, aku tidak tahu bagaimana mekanika kebangkitan bekerja – oleh karena itu, aku perlu lebih berhati-hati.

Setelah menegaskan kembali pikirannya, Suzuki Satoru berangkat ke tempat Keno.

“Hahhh, yuriniggers tetap saja yuriniggers … karena kupikir mengembalikan mereka ke keadaan normal bukanlah hal yang mudah. Tetap saja, itu sebabnya hal ini prioritas … tetapi dalam keadaan sebenarnya, dapatkah kau benar-benar mengembalikannya? ”

Suzuki Satoru mengambil tongkat yang baru saja dipungutnya dari inventory-nya. Dia mencarinya, lalu mengembalikannya dan berteleportasi.

Suzuki Satoru kembali ke istana dengan Keno di belakangnya. Kali ini, ia berencana untuk mencari dibagian dalam dengan lebih hati-hati. Dia meminjamkan Keno item yang bisa merapalkan [Fly] dan mereka berdua menggunakan [Fly] untuk melihat-lihat bagian dalam istana. Yang dilakukan Keno hanyalah untuk melihat apakah ada sesuatu yang berbeda tentang istana dibandingkan dengan ketika dia tinggal di dalamnya. Meski begitu, memeriksa istana sebesar itu memakan banyak waktu.

Pada akhirnya, mereka tidak menemukan sesuatu yang istimewa. Keno telah mengunci orang tuanya di ruangan ibunya. Meskipun mereka undead, tubuh mereka tetap utuh. Tampaknya sang undead tidak tertarik pada apa pun selain mengubah ruang tahta menjadi laboratorium penelitian.

Karena itu, mereka kembali ke dalam selokan untuk sementara waktu. Setelah mana Keno pulih, mereka merapalkan [Fly] lagi dan menuju ke ruang tahta untuk investigasi lebih mendalam.

Matahari terbenam, dan malam perlahan muncul menutupi langit senja.

Ruang tahta terbagi menjadi tiga ruangan. Ruangan pertama dipenuhi tumpukan buku, yang kedua dipenuhi dengan harta yang dikumpulkan dari seluruh kota, dan ruang terakhir adalah lab sang undead. Itu berisi beberapa cairan misterius dan bau busuk yang tidak akan hilang.

Setelah meminta pendapat Keno tentang masalah ini, Suzuki Satoru memutuskan untuk memasukkan semua item ke dalam inventory-nya selama tidak melebihi kapasitas beratnya, dan kemudian dia memindahkannya ke ruangan lain secara acak.

Keno awalnya ingin kembali ke kamarnya sendiri, tetapi Suzuki Satoru melarangnya. Jika mereka akan melakukan itu, mereka tidak perlu menggunakan [Fly] saat melakukan penyelidikan mereka.

Setelah itu, mereka memutuskan untuk pindah ke ruangan yang dulunya digunakan oleh pelayan. Ketika Suzuki Satoru pertama kali menjelajahinya, dia dan panggilannya bergerak kedalam ruangan, tetapi yang mereka dapat hanya debu.

“Ada banyak sekali debu …”

Suzuki Satoru telah siap secara mental untuk ini, dan yang bisa dia lakukan hanyalah mengangkat bahu pada ratapan Keno.

“Yah, sudah lama sejak seseorang tinggal di sini.”

Lantainya tebal oleh debu, yang menandakan bahwa tidak ada yang menginjakkan kaki di sini untuk waktu yang lama. Karena itu, mereka berdua tidak terlalu memikirkannya setelah melihat keadaan itu sekilas.

Keno adalah yang pertama masuk ke ruangan itu. Dia berjalan melewati ruangan dan membuka jendela.

Angin yang berhembus kencang mengeluarkan banyak debu. Jika ada makhluk hidup yang memerlukan nafas hadir disini, mereka mungkin sudah terbatuk-batuk. Namun, keduanya adalah undead, yang tidak memiliki kebutuhan seperti itu, dan yang paling bisa dilakukan oleh kumpalan debu hanyalah sedikit mengganggu mereka.

“Bolehkah saya membersihkan ruangan ini?”

Kau tidak perlu meminta izinku untuk itu, pikir Suzuki Satoru, dan kemudian dia menjawab.

“Aku tidak keberatan. Namun, bagaimana menurutmu jika membersihkan debunya dengan cara ini? ”

Suzuki Satoru mengeluarkan gulungan. Sebagai orang yang kikir, dia adalah tipe yang tidak akan menggunakan item dengan mudahnya. Namun, ini hanya item level rendah dan dia memiliki banyak pengganti yang lebih baik dari itu, jadi itu tidak masalah baginya.

Gulungan itu berisi mantra [Summon Monster 1st].

Gulungan ini bisa memanggil Lesser Air Elemental level rendah. Tidak perlu berbicara dengan itu; seolah-olah itu memiliki hubungan mental dengan pemanggilnya, yang bisa memberi perintah dengan dorongan mental.

Air Elemental mulai berputar, dan dengan cepat meniup debu di dalam ruangan ke luar.

“Keno-san, gulungan ini berisi mantra yang sama. Kenapa kau tidak mencoba memanggil Water Elemental dengan itu? ”

Suzuki Satoru menyerahkan gulungan itu kepadanya dan Keno merapalkan mantra, memanggil Lesser Water Elemental, seperti yang telah dikatakannya.

“Terima kasih, Satoru-sama.”

“Tidak perlu begitu formal. Jangan terlalu dibawa hati. Elemental yang dipanggil oleh gulungan tingkat pertama hanya mampu bertahan untuk waktu yang singkat. Harap perhatikan prioritasmu saat membersihkan ruangan. ”

“Baik!”

“Dan juga, kau boleh menghilangkan mantra [Fly] sekarang.”

“Oke!”

Meskipun tidak ada perubahan besar dalam situasi ini, bisa mendapatkan kembali rumahnya membuat Keno tampak lebih bahagia, dan dia mengangguk. Ketika ia mengamati perubahan yang nyata pada Keno, Suzuki Satoru merenungkannya dengan ketenangan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.

Dia memberi Keno gulungan itu karena suatu alasan.

Meskipun dia telah melakukan banyak percobaan setelah datang ke dunia ini, ini adalah pertama kalinya dia benar-benar menggunakan item sekali pakai seperti gulungan.

Aku mengerti… jadi gulungan YGGDRASIL dapat digunakan oleh penduduk dunia ini. Lalu bagaimana dengan sebaliknya? Aku juga ingin mengujinya. Dan juga, Elemental yang dipanggil oleh gulungan itu tidak bertahan lama – sepertinya dia tidak merasa aneh dengan itu. Jadi pengetahuanku tentang gulungan di YGGDRASIL juga berlaku untuk dunia ini … bukankah begitu?

Meskipun dia bertanya pada Keno tentang hal-hal seperti itu sebelumnya, dia sudah membuktikannya sekarang. Bukan karena dia tidak percaya padanya, tapi karena melihat berarti percaya.

Seperti yang dia katakan, kedua Elemental segera menghilang, tetapi pada saat itu ruangan sudah cukup bersih.

“Kemana kita akan melihat selanjutnya?”

“Aku ingin memulai dari kumpulan perkamen ini.”

Mengapa undead itu datang ke sini?

Siapa sebenarnya undead itu?

Apa yang ada di balik semua ini.

Dan yang paling penting – apakah benar-benar ada cara untuk memulihkan orang-orang yang telah berubah menjadi yuriniggers?

Pertanyaan-pertanyaan di hatinya itulah yang mendorongnya, memberinya harapan untuk dapat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, itulah sebabnya dia ingin berada di sana.

Ketika Keno yang baru saja pulih dari firasatnya hendak membuka perkamen yang sudah digulung, Suzuki Satoru menghentikannya.

“Apakah ada masalah, Satoru-sama?”

“Izinkan aku untuk mengingatkanmu, apa kau sudah memeriksa apakah itu mengandung jebakan atau tidak? Apa ada kemungkinan itu mengandung semacam jebakan sihir?”

“–Eh?”

“Ada beberapa perangkap disamarkan menjadi gulungan. Ketika orang mencoba menggunakannya, mereka meledak atau semacamnya. ”

“Apa, apakah hal seperti itu benar-benar ada?”

“Huh, maksudmu itu semua tidak ada?”

Mereka berdua saling memandang.

“Ah, er, Satoru-sama, apakah anda punya solusi?”

“Aku tidak pandai melucuti perangkap. Aku pikir akan lebih baik membiarkan salah satu dari ciptaanku membukanya. ”

Mengatakan demikian, Suzuki Satoru menciptakan Death Knight.

Dia menyuruh Death Knight pergi ke luar ruangan dan membukanya dari kejauhan. Namun, masalahnya adalah perkamen biasa juga akan terbakar jika terjadi ledakan, jadi dia harus mengambil masing-masing bagian secara terpisah untuk memeriksa apakah itu semua aman.

Setelah mengulangi proses dengan semua perkamen, mereka beralih ke buku.

Meskipun Death Knight mengulangi tindakan itu, Keno juga memeriksa perkamen yang telah dinyatakan aman.

Namun, wajah Keno terdiam membeku.

“Maaf, Satoru-sama. Saya tidak mengerti kata-kata ini … ”

“Ah…”

Dia telah mendengar sebelumnya bahwa ada banyak bahasa di dunia ini. Suzuki Satoru berdiri di belakang Keno dan memandangi perkamen itu. Wow, aku tidak percaya kalau itu dalam bahasa Jepang – tapi hal yang diharapkannya tidak terjadi.

“Kalau begitu–” Suzuki Satoru mengeluarkan kacamata berlensa satu dari inventory-nya. “Aku akan meminjamkan ini padamu. Item ini memungkinkanmu untuk menerjemahkan bahasa. ”

Suzuki Satoru tidak menggunakannya sendiri karena dia merasa tidak akan dapat memahami isi dari sebuah penelitian.

Sebagai orang dewasa yang baik, dia harus memeriksa apakah isinya mengandung hal yang tidak cocok untuk anak-anak atau tidak, tetapi ini masih lebih baik daripada melihatnya dan berkata, “Ini terlalu rumit, aku tidak memahaminya,” dan kemudian menyerahkannya pada Keno.

Keno tampaknya tidak menyadari bahwa Suzuki Satoru merendahkan hatinya dan berterima kasih padanya. Kemudian, dia mengenakan kacamata berlensa dan mulai membaca.

Tampaknya kacamata berlensa itu efektif, karena Keno mulai membaca isi perkamen dengan teliti ..

Dia membaca dalam diam, meraih perkamen berikutnya setelah menyelesaikan yang pertama. Agar tidak mengganggu Keno, Suzuki Satoru agak menjauh.

Tidak ada yang dia, sebagai orang yang tidak pernah menganggap sihir sebagai bidang pelajaran, bisa memahami isinya. Dari waktu ke waktu, Keno akan menyebutkan pertanyaan tentang prinsip-prinsip sihir – bagi Suzuki Satoru itu benar-benar membingungkan. Dia juga tidak berpura-pura pandai; hanya menjawab dengan sederhana, “Aku tidak tahu.”

Meskipun sebenarnya Suzuki Satoru tidak tahu apa-apa, Keno tampaknya tidak mempercayai itu.

Bagaimanapun, fakta kekuatannya yang luar biasa didapat dari sebuah display, dan juga ada beberapa kelas yang mengendalikan sihir dengan perasaan mereka daripada berteori. Gadis itu pasti menganggap Satoru salah satu dari magic caster berbasis perasaan itu.

Ketika dia melihat tubuh kecil Keno, yang terkubur di tumpukan buku-buku itu, Suzuki Satoru mulai menata item-item yang dia temukan di lantai sebelumnya.

Pada saat yang sama, dia menggunakan mantranya untuk melihat sihir macam apa yang ditanamkan kedalam item-item itu. Yang pertama dia selidiki adalah sebuah tongkat.

Setelah melihat sihir yang terkandung di dalamnya, dia memanggil Keno, meskipun merasa sedikit malu.

“Permisi, bisakah kau kemari dan melihat item ini?”

“Ah! Baik!”

Keno buru-buru berbalik. ”

“Mengenai ite–”

“–Ah!”

Keno berdiri dari duduknya dan berlari ke arah item-item itu dan mengambilnya.

“Ini dia! Selama kita punya ini! ”

Ekspresi kegembiraan pada Keno sepertinya akan kembali normal dari waktu ke waktu, tetapi secara tidak sadar digantikan oleh kegembiraan baru lagi.

“Apakah ini item kebangkitan yang kau sebutkan sebelumnya?”

Kegaduhan di dalam hatinya telah dipastikan; ini adalah item yang ditinggalkan oleh undead itu ketika dia menyerbu istana.

Ini adalah salah satu harta kerajaan, bersama dengan Mask of Irubia Hordan (Topeng Irubia Hordan), Robe of the First Invern (Jubah Invern Pertama), dan Gauntlet of the Griffin Lord (Sarung Tangan Dewa Griffin).

Itu adalah tongkat yang transparan, diukir dari kristal raksasa oleh pengrajin.

Namanya adalah Lost White.

Jika apa yang dia katakan kemarin benar, maka Suzuki Satoru yakin bahwa mantra yang terkandung di dalamnya adalah divine spell tingkat kelima [Raise Dead]. Tetapi menurut investigasinya barusan, efek mantra sedikit berbeda. Atau lebih tepatnya, itu terlihat seperti tongkat, yang seharusnya dapat digunakan sebagai tongkat, tetapi pada dasarnya, itu sesuatu yang sepenuhnya berbeda.

Rasanya agak memalukan menggunakan itu begitu saja.

Namun, meskipun Suzuki Satoru juga memiliki item kebangkitan yang mengandung mantra tingkat tinggi, ia tidak punya niat untuk mengeluarkannya sampai kemarin.

Salah satu alasannya adalah karena dia tidak yakin apakah sihir kebangkitan mengikuti mekanisme yang sama di dunia ini. Tetapi tidak menghilangkan kenyataan bahwa dia sudah menutupinya.

Suzuki Satoru tidak begitu sensitif untuk berkata jujur dan berterus terang tentang hal itu. Meskipun, Momonga sekarang tidak memiliki kulit sama sekali sih.

[Note : thick-skinned saya artikan “sensitif”, ini mungkin idiom dalam bahasa inggris, tapi kalimat selanjutnya dibuat untuk menyinggung idiom sebelumnya. Jadi silahkan cerna sendiri]

 

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded