Overlord Vampire Princess of the Lost Country – Chapter 2 Part 2.2

Font Size :
Table of Content

Overlord : Vampire Princess of the Lost Country – A Strange Tale of the Absolute Ruler – Chapter 2 Part 2.2 Bahasa Indonesia

Translator : Scraba

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Suruh Mbak Google Baca”]

Dia kembali berbicara dengan sopan pada beberapa titik. Satoru pikir kau tidak perlu terlalu formal, loh. Lalu dia menjawab:

“Aku yakin kau mengerti bahwa kita akan segera meninggalkan tempat ini. Setelah itu, seseorang mungkin akan datang ke sini untuk mengambil semua benda yang ada di istana ini atau untuk menghancurkan segala yang ada di dalamnya. ”

Saat ini, dia masih tidak yakin mengapa orang-orang di kota ini menjadi undead. Mungkin ada semacam wabah yang membuat orang-orang menjadi undead. Jika itu masalahnya, orang-orang yang datang ke sini mungkin berpikir bahwa membakar semua yang ada disini akan menjadi cara terbaik untuk menghadapi wabahnya.

Meskipun Keno sudah memikirkan itu sejak lama, sebenarnya mendengar Suzuki Satoru mengatakan itu membuat wajah Keno kaget.

“Kau pasti tidak ingin diserang oleh undead, bukan? Maka mungkin saja mereka memutuskan bahwa semua undead di kota harus di musn … “Tepat ketika dia akan mengatakan “musnahkan”, Suzuki Satoru tiba-tiba menyadari bahwa kalimatnya terlalu provokatif, jadi dia mengubah kata-katanya. “… Harus disingkirkan. Bukankah normalnya begitu? Lagipula, bagi makhluk hidup, melakukan hal itu akan menghilangkan ancaman apakah undead di kota ini akan menyerang mereka atau tidak. ”

“… Mm … saya mengerti maksud anda.”

“Karena itu … karena kau telah memutuskan untuk pergi, aku ingin kau secara mental siap untuk ini. Lagi pula, hari ini mungkin menjadi yang terakhir kalinya kau melihat kota ini. Untuk alasan itu, Keno, meskipun ada batasan barang yang dapat kau bawa, kau harus memastikan bahwa dirimu tidak akan menyesali pilihan yang kau buat. Saat ini, aku tidak yakin apakah ingatan undead akan memudar atau tidak, tetapi bahkan jika itu terjadi, kau harus mengingat fakta bahwa kau mungkin saja melupakan ini semua, dan kau harus menjaga dengan baik hal-hal yang ingin kau lindungi . Selama kau mempertahankannya… mm, itu akan menjadi salah satu kenanganmu yang tak akan terlupakan. ”

Suzuki Satoru mengambil sebuah foto.

Itu adalah foto kenangan yang diambil ketika Great Underground Tomb of Nazarick masih disebut makam bawah tanah – dengan kata lain, ketika pertama kali ditaklukkan.

Apa yang dia ambil adalah foto anggota dari seluruh member.

“Ya, itu tidak akan pernah dilupakan.”

“Apa itu?”

“Ini teman-temanku. Ini adalah foto yang kami ambil bersama. “Suzuki Satoru tidak bisa menahan senyum ketika dia mendengar pertanyaan Keno. “Oh ya, jika kita punya waktu selama perjalanan kita, aku akan bercerita tentang petualangan yang aku lakukan bersama teman-temanku.”

“Tentu saja!”

Suzuki Satoru tertawa kecil ketika mendengar jawabannya yang ceria.

“Baiklah! Kalau begitu, kumpulkan sesuatu yang ingin kau pertahankan sebagai kenangan, Keno … sayangnya, tubuhmu mungkin tidak akan tumbuh lagi sekarang setelah kau menjadi undead, kecuali jika kau adalah undead khusus yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Karena itu, kau pasti bisa mengenakan pakaianmu yang sekarang untuk waktu yang lama.

“Tentu saja! …Hah? Tetapi haruskah saya merasa senang tentang ini? ”

“Bukankah memiliki tubuh remaja selamanya adalah impian semua wanita?”

“Saya akan senang kalau bisa tumbuh sedikit lebih …”

“Begitukah?”

“Apa itu salah?”

Sebagai seorang pria, Suzuki Satoru tidak begitu mengerti. Itu artinya, Keno mungkin menolak pendapatnya untuk terlihat seperti anak kecil dan tidak pernah tumbuh lagi.

“Baiklah, kalau begitu kenapa kau tidak mulai dengan memilih pakaian?”

“Baik! Akan saya lakukan!”

Karena, aku tidak berpikir kalau seorang putri tidak punya pakaian yang cocok untuk bepergian. Kalau aku, yah, kurasa jelas tidak punya.

Di YGGDRASIL, sangat wajar bagi orang-orang untuk berpergian dengan bersenjata dan armor, tetapi dibandingkan pakaian Keno  dan undead yang telah dilihatnya di kota – dengan kata lain, pakaian warga biasa – jubahnya terlalu menonjol. Karena itu, ia perlu berganti pakaian yang lebih baik guna berbaur dengan kota biasa, tetapi ia tidak memiliki pakaian biasa yang sederhana.

Bahkan jika dia melakukannya, itu akan menjadi perlengkapan yang lemah dengan kapasitas data yang rendah. Mungkin sangat berbahaya begitu dia bertarung.

Dengan kata lain, dia membutuhkan sesuatu dengan pertahanan dan ketangguhan yang baik, sambil tetap terlihat biasa. Dan dengan Keno sekaligus, dia akan membutuhkan dua set pakaian itu.

Setelah memeriksa jumlah HP Keno dengan [Life Essence], bisa dibilang kalau itu sangat rendah. Dia bahkan mungkin saja terbunuh oleh splash damage (damage percikan) dari mantra efek area.

Karena itu, aku tidak ingin bertarung dalam pertempuran skala besar sehingga menyebabkan dia terjebak di dalamnya …

Sayangnya, Suzuki Satoru tidak berbakat dalam divination magic, dan bahkan jika ia bisa mengatasi musuh yang cukup kuat dengan sihir, ia tidak yakin dapat melindungi 100% terhadap serangan diam-diam musuh.

Mungkin akan lebih baik untuk langsung memberikan item yang bisa mengatasi itu. Namun, jika dia memberinya item tingkat tinggi dan membuat orang lain menargetkannya, itu akan menjadi akhir yang sebaliknya.

Ada terlalu banyak hal yang perlu aku pikirkan. Mungkin aku harus menyiapkan dua set peralatan, satu untuk ketika kami mendekati kota dan satu untuk ketika kami sedang berpergian … tidak, jika aku tidak salah sepertinya aku punya jubah berganti perlengkapan dengan cepat … lupakan saja, aku tidak akan memikirkan itu untuk saat ini.

“Ayo pergi ke kamarmu, Keno.”

“Baiklah … er, tapi … hal semacam ini, ah, tidak, eh, mungkin saya harus bertanya. Saya takut menyinggung Anda, tapi Anda laki-laki, bukan, Satoru-san? ”

“Tentu saja. Memang, sulit untuk melihatnya, sih. ”

Aku jelas berbicara dengan suara Suzuki Satoru, kenapa kau menanyakan pertanyaan aneh seperti itu tiba-tiba? Apakah ada wanita di dunia ini dengan suara seperti ini?

“Ah, mungkin ini agak kasar bagi penyelamat saya, tapi kamar saya selalu dilarang untuk dimasuki semua orang kecuali ayah saya – ahem, itu aturan yang sudah ditetapkan.”

Oh? Suzuki Satoru agak terkejut.

Dia mungkin seorang anak kecil, tetapi dia tetaplah seorang putri dari sebuah kerajaan, dan tampaknya aturan-aturan ini cukup ketat.

“Aku mengerti. Yah, karena aturan adalah aturan. Aku hanya akan menunggu di luar, kalau begitu … kau bisa menanganinya sendiri, kan, Keno? ”

Dia memikirkan undead dalam seragam pelayan yang ada di dalam istana. Pasti ada pelayan yang membantu Keno dengan tugas sehari-harinya.

“Um, tidak masalah … oh ya, sebagai penyelamat saya, wajar saja bagi saya untuk mengundang anda ke kamar saya. Tidak, silakan masuk ke dalam … atau apakah anda tidak menyukainya?”

Keno menarik jubah Suzuki Satoru ketika dia menanyakan pertanyaan itu kepadanya.

“Ah, tidak, aku tidak punya alasan untuk menolak.”

Dia cuma bilang kalau dia tidak akan memasuki kamar Keno karena dia mengatakan tidak ada orang asing diizinkan masuk ke dalamnya. Sebenarnya, Suzuki Satoru tidak keberatan masuk ataupun menunggu diluar.

Dia menggunakan [Fly] untuk mencapai kamar Keno dan mengikutinya ke dalam untuk melihatnya. Itu jauh lebih mewah dari kamar Suzuki Satoru, tapi itu masih bisa dibandingkan dengan kamar Momonga.

Namun, begitu dia membuka lemari kacanya, dia menemukan banyak gaun di dalamnya. Itu benar-benar terlihat seperti kamar seorang putri. Namun, warna dan dekorasi mereka jauh lebih sederhana daripada YGGDRASIL; atau lebih tepatnya, pakaian YGGDRASIL jauh lebih mewah.

Keno mengobrak-abrik pakaian – meskipun beberapa pakaian sudah berubah warna – dan kemudian dia menoleh ke belakang ke arah Suzuki Satoru untuk mengajukan pertanyaan kepadanya.

“Yang mana menurut anda yang lebih cocok?”

Siapa yang pernah bilang kalau pertanyaan, “mana yang paling kamu suka?” yang keluar dari mulut seorang wanita adalah salah satu pertanyaan tersulit di dunia? Apa itu Touch Me?

Suzuki Satoru sangat ingin mengatakan, “Aku memiliki selera yang buruk, tolong jangan tanya aku.” Tapi Keno bertanya kepadanya karena dia mempercayainya, dan dia harus menjawabnya dengan serius.

“Meski kupikir semuanya cocok untukmu, mengambil semuanya akan sangat merepotkan. Misalnya, jika ada organisasi di balik undead itu, mereka mungkin mengirim bantuan, yang akan mengekspos keberadaanmu. Dan kita akan melakukan perjalanan, jadi aku tidak berpikir kalau ada orang yang akan berjalan dengan pakaian seperti itu, kan? ”

“Jadi begitu – tidak, benarkah?”

Dia tidak tahu praktik umum dunia ini, sehingga yang bisa dikatakan Suzuki Satoru adalah “kemungkinan besar begitu.” Namun, Satoru merasa itu mungkin tidak jauh dari kebenaran.

“Dan juga, kau tidak bisa berkeliling dengan pakaian anggota keluarga kerajaan jika kau ingin menyamarkan diri – oh ya, Keno. Maaf, tapi ada masalah. Apakah orang-orang di kota lain, atau mungkin kerajaan lain, mengenal wajahmu? ”

“Saya tidak yakin. Mungkin seseorang memiliki kesan terhadap saya, uh, sepertinya. Para bangsawan dari kerajaan lain seharusnya mengenal saya. Saya ingat pernah bertegur sapa sekali. ”

“Begitukah … kau mungkin harus berhati-hati, sudah cukup lama sejak kau menjadi undead. Dalam hal ini, rasanya tidak mungkin kau akan bertemu orang-orang seperti itu. Baiklah, kita akan pergi dengan itu. Terlepas dari apakah kau harus mengenakan gaun saat bepergian atau tidak, seharusnya kau mengumpulkan kenang-kenangan yang ingin kau simpan. Bagaimanapun, jika kita kembali setelah beberapa tahun dan tidak ada yang menganggu tempat ini, kita akan bisa membawa semuanya. Untuk saat ini, pilih saja beberapa pakaian yang paling kau sukai lalu kita pergi. ”

Lagipula, mereka tidak bisa mengawasi tempat ini selama bertahun-tahun.

Keno butuh waktu – sedikit lebih lama dari perkiraan Suzuki Satoru – untuk memilih empat pakaian, dan kemudian dia mulai merapikan hal-hal kecil di kamarnya.

Karena memindahkan apa pun akan meninggalkan jejak dan memberi petunjuk kepada orang bahwa pernah ada sesuatu di sini, ia memutuskan untuk menggeser segala sesuatu di sekitarnya untuk menutupi tanda-tanda itu.

“Hanya itu yang perlu kau bawa? Kalau begitu, kita akan menempatkan orang tua dan pelayanmu di sebuah ruangan di selokan. Dengan begitu, mereka mungkin bisa lepas dari perhatian siapa pun yang datang ke kota ini. ”

“Benar … sepertinya itu … cara terbaik.”

“Jika kau tahu cara lain untuk menghindari orang luar menemukan tempat persembunyian mereka, kita bisa mengikuti saranmu.”

Keno menggelengkan kepalanya.

Kalau tidak ada lagi yang harus disampaikan. Mereka harus melakukannya.

“Kalau begitu, Satoru-san.”

“Hm?”

“Karena kita akan pergi, bisakah anda membantu saya memotong rambut?”

“Eh?”

Perubahan topik yang mengejutkan membuat Suzuki Satoru merespons dengan canggung.

“Um, seperti ini, tolong lihat ini.” Setelah menggunakan [Fly], Keno meluncur ke salah satu sisi ruangan dan dengan gesit mengambil sebuah buku dari rak. “Ini adalah Buku 3 of the Chronicles of the Prince of Phenia (3 Kronik Pangeran Phenia). Dalam buku ini, ketika sang putri memulai perjalanan, dia memotong rambutnya yang panjang. ”

Keno tampak agak malu, tetapi matanya berbinar-binar.

“Ahem. Baiklah, aku tidak keberatan … ”

Saat Suzuki Satoru bertanya-tanya apakah tidak masalah memotong rambutnya dengan alasan itu, Keno kembali ke hadapan Suzuki Satoru dengan gunting.

“Kalau begitu, tolong lakukan dengan segala hormat!”

“Aku, ah … Aku belum pernah memotong rambut siapa pun sebelumnya, jadi biarkan aku berterus-terang, aku tidak percaya diri sama sekali bisa memberimu potongan rambut yang cantik. Mungkin jika aku memiliki gunting rambut, aku bisa melakukannya dengan lebih baik… Tapi sebelum itu, aku memiliki sesuatu yang ingin aku sampaikan kepadamu. ”

Suzuki Satoru mengambil gunting, mengambil seikat rambut Keno dan memotong sebagian. Rambut yang terpotong mendarat di tangan Suzuki Satoru, yang mana menua dan rusak seolah-olah beberapa ratus tahun telah berlalu, lalu menjadi kepulan abu, lenyap seperti yang dilakukan undead ketika mereka dimusnahkan.

“Keno, aku akan memantraimu. Jangan menolaknya, oke? ”

“Eh? Baik. Seharusnya tidak masalah. ”

Dia mengembalikan gunting padanya, dan sambil masih memegang seikat rambut Keno, dia merapalkan offensive spell [Ray of Negative Energy]. Meskipun energi negatif merusak makhluk hidup, sebaliknya itu akan menyembuhkan undead.

Setelah menerima mantra “serangan”, rambut Keno – tepatnya, rambut yang dipegang oleh Suzuki Satoru, yang sudah dipotong – kembali seperti semula.

Begitulah adanya.

Pada saat seseorang menjadi undead, penampilan mereka tidak dapat diubah. Jika begitu, apa yang akan terjadi pada orang-orang yang kehilangan anggota badan atau cacat ketika mereka menjadi undead? Pertanyaan itu terlintas di benaknya, tetapi dia tidak bisa memikirkan jawaban dan itu akan sia-sia, jadi dia membuang pemikiran itu dari benaknya.

“Keno, kupikir memotong rambutmu dapat memberikan damage (kerusakan) padamu.”

“Ehhh? Benarkah!?”

Setidaknya Satoru bisa menyelamatkan dirinya dari kesulitan memangkas rambut.

“Jadi, bahkan jika hasilnya kacau, aku bisa memulainya lagi dan lagi … Sepertinya aku hanya akan melakukan pekerjaan dengan asal-asalan kali ini.”

“Asal-asalan!?”

Suzuki Satoru mengabaikan teriakan kaget Keno dan menggunakan [Life Essence], lalu memotong rambut panjang Keno hingga sebahu.

“Tidak apa-apa. Damage-nya (Kerusakannya) sudah diminimalisir, masih dalam batas baik-baik saja. ”

“Eh? Ehhhhhh !? ”

Baru setelah dia merasakan rambut di belakangnya terpotong dia berhasil tenang.

“Satoru-san! Ketika anda mengatakan kalau anda akan memotongnya asal-asalan, saya sangat terkejut! ”

Setelah mendengar suara omelan Keno (“Eh? Kalau begitu, haruskah aku minta maaf?”) Suzuki Satoru mulai serius mempertimbangkan masalah ini. Tidak ada hal baik yang akan datang jika dia menghancurkan hubungannya dengan teman seperjalanan.

“Itu salahku, Keno.”

“Ah, tidak, tidak apa-apa, ahem … Sekarang sudah tidak apa…”

Lalu kenapa kau begitu ingin menyalahkanku barusan, Suzuki Satoru nyaris mengatakan itu.

Keno hanya anak kecil … huh? Anak kecil? Jangan bilang kalau dia wanita dewasa?

Suzuki tiba-tiba mulai memikirkan hal itu … tetapi pada akhirnya dia memutuskan untuk melupakannya saja. Bagaimanapun, dia sudah memangkas rambut Keno hingga sebahu. Kemudian, ia menggunakan sisir yang ia pinjam – jujur saja, ia sama sekali tidak percaya diri – untuk menyisir rambutnya.

“Sudah selesai. Atau lebih tepatnya… kupikir sudah selesai. ”

Keno berjalan di depan cermin ganti, tetapi ditutupi debu dan tidak bisa menampilkan sosok Keno. Tepat ketika dia hendak menyeka cermin, tangannya berhenti ketika dia ingat alasan mengapa dia mempertahankan mantra [Fly]. Kemudian, dia berbalik ke Suzuki Satoru.

“Bagaimana kelihatannya?”

“Cocok sekali denganmu. Mm, kau terlihat lebih menarik, ”jawab Suzuki Satoru,

“Benarkah? Itu membuat saya senang.”

Keno memberinya senyum menawan.

Dia tampak bersemangat. Suzuki Satoru tidak tahu mana yang cantik dan mana yang tidak maupun tentang gaya rambut wanita dan sejenisnya. Sepertinya, apa yang dia katakan hanya agar semuanya aman saja.

“S-sekarang, mari kita lanjutkan ke langkah berikutnya.”

Setelah membawa orang tua Keno dan seorang pelayan ke sebuah ruangan di selokan yang menjadi markas Keno, ia mengunci pintu dengan rantai yang sudah berkarat agar tidak terbuka.

Meskipun undead yang tidak memiliki kecerdasan seperti yuriniggers tidak bisa membuka pintu itu sendiri, namun akan lebih baik memberi penghalang untuk berjaga-jaga.

Keno memiliki perasaan campur aduk ketika dia melihat kearah pintu ruangan itu, dan Suzuki Satoru berbicara kepadanya.

“Kalau begitu… bagaimana kau akan bepergian, Keno?”

“Hah?”

“Kita ini undead. Kita tidak bisa lelah, kita tidak memerlukan makan, dan kita juga tidak memerlukan tidur. Kita bisa keluar sekarang tanpa membawa apa pun. Tetapi ketika itu terjadi, orang akan curiga ketika kita memasuki desa atau perkotaan. Karenanya, aku ingin melakukan sesuatu sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.”

“Seperti misalnya, dengan menyeret banyak barang bawaan?”

“Bukankah itu akan membuat orang curiga?”

Sebenarnya, Suzuki Satoru tidak tahu bagaimana orang-orang di dunia ini ketika berpergian. Karenanya, ia tidak tahu bagaimana cara menghindari kecurigaan.

Keno memalingkan kepalanya dan berkata dia tidak tahu.

“Kalau begitu, mana yang kau sukai, antara naik kereta atau berjalan kaki?”

“Saya tidak masalah dengan keduanya. Lagipula, kita tidak akan lelah. Ah, tapi saya berjalan sangat lambat, jadi …: ”

“Tidak apa-apa, jangan khawatir. Aku akan menyesuaikan kecepatanku denganmu, Keno. ”

Justru karena mereka undead, tidak bisakah mereka berlari dengan kecepatan penuh sepanjang waktu? Namun, melihat orang dewasa berlarian dengan seorang gadis kecil di sisinya akan meninggalkan kesan buruk pada orang lain.

“Kalau begitu, kita akan naik kereta… ”

“Tapi bagaimana dengan kudanya … hm – bagaimana kita bisa mendapatkannya?”

“Ah – itu benar. Kalau kuda … ”

Suzuki Satoru memandang ke luar jendela. Dia tidak bisa melihat adanya tanda-tanda kuda, yang bisa dia lihat hanya yuriniggers. Bahkan jika ada kuda, yang ada pasti yuriniggers Kuda, dan orang-orang di kota tidak akan membiarkan yurinigger kuda yang menarik kereta melintasi kota .. Sudah pasti mereka tidak menerimanya. Tiba-tiba, Suzuki Satoru punya ide.

“Jangan khawatir. Aku akan melakukan sesuatu tentang kudanya. Santai saja dan serahkan padaku. Masalahnya adalah kereta. Gerobak tertutup, gerobak barang, gerobak kotak, yang mana yang akan kita pakai untuk perjalanan kita?

“Hah?”

“Apakah kita akan menjadi seorang putri dan pengikutnya sang magic caster? Kalau begitu, kerajaan kita seharusnya memiliki semacam gerobak berbentuk labu. Itu mungkin skenario terbaik untuk kita. ”

Suzuki Satoru mengatakannya dengan nada sedikit bercanda, namun Keno dengan gugup berkata:

“… Bagaimana dengan magic caster yang murah hati dan sang pengikutnya?”

“…. Untuk jaga-jaga, aku ingin bertanya, apakah aku menjadi magic caster yang murah hati dan kau adalah pengikutnya?”

“Benar.”

“Kalau begitu saranmu ditolak.”

Suzuki Satoru tidak berpikir dia bisa memanfaatkan Keno sepenuhnya sebagai pengikutnya ketika mereka tampil didepan umum. “Kalau begitu,” kata Keno, lalu dia berpikir. Setelah itu, tanpa sadar dia berbicara.

“Bagaimana dengan teman?

“Teman, huh… jadi kita teman seperjalanan … baiklah, latar belakang kita adalah teman?”

Setelah mempertimbangkan perbedaan usia mereka, banyak orang mungkin akan merasa aneh bahwa mereka adalah teman. Namun, Suzuki Satoru tidak merasa seperti itu. Dia sering melihat anak-anak yang baru lulus sekolah dasar bekerja bersamanya, dan sangat sulit untuk mengetahui usia seseorang berdasarkan penampilan mereka di YGGDRASIL.

Faktanya, pemimpin guild dari saingan guild Ainz Ooal Gown adalah seorang anak kecil di kehidupan nyatanya. Dan di sisi lain, ada juga player yang terlihat seperti anak-anak, tetapi usianya sebenarnya dua kali lebih tua dari Suzuki Satoru. Ketika dia mendengar mereka berbicara tentang cucu mereka, Suzuki Satoru terdiam dalam kebingungan. Dia masih bernostalgia ketika hari-hari itu.

Bagi Suzuki Satoru, tidak aneh memperlakukan Keno sebagai temannya.

Tentu saja, Suzuki Satoru tahu bahwa Keno lebih lemah daripada dia, jadi mereka berdua ibarat pelindung dan beban. Namun, itu sangat umum di YGGDRASIL bagi player berpengalaman untuk bekerja sama dengan player pemula untuk meningkatkan level mereka, serta ber-party dengan pengrajin dari anggota guild yang bukan tipe petarung.

Nigel Note :

Note 1: The JP text says that there are two maids here, but there should only be one here, given later events.

Note 2: The JP text says protector and guardian, which basically mean the same thing and turn the sentence into nonsense. It’s very likely that there was a text error in the JP and so it was translated as protector and protectee/charge.

Note 3: Keno pauses a lot not because she stammers, but because she keeps switching between keigo and normal nip. This subtle shift cannot be conveyed in chink (or English).

“Tetap saja, kita membutuhkan penjelasan yang akan meyakinkan orang-orang bahwa kita adalah teman ketika memasuki kota. Aku kira kita bisa meluangkan waktu untuk memikirkannya selama perjalanan. ”

“Baiklah … meskipun, ketika anda menyebut kereta berbentuk labu, apakah maksud anda jenis labu yang bisa dimakan? Apakah itu kereta yang bisa digunakan sebagai cadangan darurat saat kita lapar? ”

“Ah, tidak, hanya bentuknya saja seperti itu …”

Suzuki Satoru merasa bahwa menjelaskan secara lisan akan merepotkan, jadi dia mencari-cari didalam inventory-nya.

“Kalau tidak salah aku punya …”

Dia mengeluarkan album foto yang diambil bersama teman-temannya.

Suzuki Satoru membaliknya dengan cepat.

Kenangan yang ada pada gambar-gambar itu membuat Suzuki Satoru ber-nostalgia. Meskipun sebagian dari dirinya ingin terus menatap itu, dia memaksa dirinya untuk tidak melakukannya dan terus membalik halamannya.

Foto yang ia cari tidak ada di album ini. Suzuki Satoru beralih ke yang lain, dan kemudian yang ketiga.

“Yang ini. Keno, lihat gambar ini. Kereta yang ada didekat teman wanitaku ini. ”

Keno mendesak dari samping, dan kemudian rahangnya menganga.

“Slime yang memakai gaun … seorang wanita? Apakah dia seorang Putri Slime ? ”

Di atas kereta adalah seorang putri dengan gaun putih, memegang perisai tinggi- Bukubukuchagama. Itu adalah gambar untuk memperingati selesainya kereta kami, tetapi Bukubukuchagama akhirnya menjadi subjek didalam foto. Itu juga menunjukkan yang mana dari mereka yang memiliki penampilan lebih mencolok.

“Hahaha, aku akan memberitahumu tentang perjalanan kami selama ini. Sekarang, sedikit dibagian bawahnya adalah kereta labu. Aku mendengar kalau bentuknya diimpikan oleh banyak gadis. Itu sebabnya dia sangat senang. ”

Meskipun, adiknya pernah bilang, “Kau tidak bisa memanggilnya gadis lagi di usia itu …”

“…” Keno melihat ke bagian atas, ia tampak terganggu.

“Maksud anda, seperti mimpi buruk?”

“Hahahaha … tunggu, apa?” Suzuki Satoru bingung.

Dia tertawa karena kegembiraan, tetapi Suzuki Satoru merasakan ketidaknyamanan saat kegembiraannya hilang.

Jangan bilang kalau penekanan emosional undead tidak hanya berlaku untuk emosi negatif … tidak, kalau dipikir-pikir, sepertinya begitu. Tidak memerlukan makan atau minum bukan hal yang buruk, tapi itu artinya kau tidak bisa makan makanan kesukaanmu. Ada poin bagus dan buruknya …

“Apa yang salah? Satoru-san? ”

Mungkin karena kekhawatirannya tiba-tiba padam, Suzuki Satoru menjawab pertanyaan Keno dengan lembut, “Tidak apa-apa.”

Meski begitu, itu tidak sepenuhnya menekan rasa senangku. Seharusnya ada cara untuk hidup sambil mencari kesenangan.

“Benar, kalau begitu ayo kita mulai mencari kereta. Idealnya, kita membutuhkan kereta untuk perjalanan jangka panjang, jenis yang tidak membuat orang curiga saat kita menggunakannya.

“Benar!”

“Keno, ketika kau mengatakan kepadaku untuk tidak mengambil milik orang lain, bukankah itu artinya mengambil kereta mereka merupakan hal yang buruk?”

Keno memikirkannya sejenak, lalu menjawab:

“Itu tidak apa-apa karena kita membayarnya.”

Lalu, Keno mengangkat ranselnya.

“Aku mengerti … Kalau begitu, bisakah aku meminjam uang darimu, Keno?”

“Huh?”

“Seperti yang aku beritahukan sebelumnya, aku memiliki cukup banyak uang. Namun, semuanya adalah koin emas yang tidak beredar di seluruh kerajaan ini. Tampaknya berbahaya untuk mencoba dan membayar menggunakan itu. ”

“Begitukah? Kalau begitu, jika Anda merasa seperti itu, maka saya dapat meminjamkan – tidak, saya dapat … memberi Anda beberapa. ”

“Tidak, tidak boleh begitu, Keno. Uang itu adalah warisan dari orang tuamu. Kau tidak boleh menyerahkannya kepada orang lain. ”

“Sa-saya mengerti.”

“Meskipun kau mungkin tidak menyetujuinya dalam situasi ini, itu juga termasuk peninggalan leluhurmu. Kau tidak boleh boros menggunakannya, oke? ”

“Saya mengerti.”

Keno mungkin mengatakan itu, tetapi ekspresinya menunjukkan bahwa dia tidak mengerti. Mungkin karena Suzuki Satoru menatap tajam padanya.

“… Karena itu, bisakah aku meminjam uangmu? Aku akan membayarnya sampai aku dapat menjual permata yang aku miliki. ”

“Baik!”

“Bagus. Kalau begitu kita akan menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli kereta. Kita ini teman, jadi kita akan membagi sisanya dalam jumlah yang sama. ”

“Tentu saja!”

“Bagus! Kalau begitu mari kita cari kereta! ”

“Tentu!”

Suzuki Satoru membalas Keno dengan jawaban yang penuh energik, dan mereka berdua pun berkeliling.

Selama perjalanan, Suzuki Satoru menempatkan koin emas dari dunia ini yang telah dipinjamnya dari Keno ke dimensi sakunya.

Meskipun itu disimpan di lokasi yang terpisah dari koin YGGDRASIL, namun tampaknya itu tidak dihitung kedalam limit beratnya. Jika itu dihitung, maka dia tidak akan bisa menyimpan apa pun dalam inventory-nya. Itu adalah keputusan desain yang sangat rasional untuk sebuah game, tapi sekarang ia berada di dunia nyata.

Ini sangat berguna, tapi rasanya seperti tidak nyata … apakah aku benar-benar tidak didalam game?

Meskipun tubuh undeadnya telah mengkonfirmasi kepada Suzuki Satoru bahwa dia tidak berada didalam game, inventory-nya yang begitu serba guna membuatnya merasa seperti masih didalam game. Rasanya tidak menyenangkan, seolah game itu menimpa dunia nyata.

Pada akhirnya, bagaimanapun, Suzuki Satoru tidak akan mendapatkan jawaban tidak peduli seberapa keras dia berpikir.

Yang lebih penting lagi–

Masih banyak hal lain yang perlu dipertimbangkan.

Mereka telah menemukan beberapa kereta, tetapi semuanya sudah sangat usang karena usianya dan kereta-kereta itu seperti akan hancur jika seseorang mencoba menggunakannya. Dia tidak ingin membuang-buang waktu, tetapi mencari sendirian akan berbahaya, jadi dia membawa Keno bersamanya dalam pencariannya.

Setelah cukup lama waktu berlalu, mereka akhirnya menemukan sebuah kereta tertutup yang masih layak pakai di sebuah gudang kecil di sebelah rumah besar. Yang aneh adalah bahwa gudang ini memiliki semacam penjara di ruang bawah tanahnya, dan ada banyak yurinigger wanita di dalam penjara. Itu adalah misteri yang tak terpecahkan, tetapi Suzuki Satoru berpura-pura tidak melihatnya. Bagaimanapun, tidak peduli apa yang ingin dia lakukan sekarang, semua sudah terlambat.

Suzuki Satoru mendorong kereta dengan kekuatan supernya untuk menguji kereta. Kereta itu berderit, tetapi gandarnya tidak terasa seperti akan hancur. Tampaknya kereta sudah di mantrai dibagian-bagian pentingnya.

Tapi tidak semuanya dimantrai. Kenapa demikian?

Tetap saja, tidak ada gunanya memikirkan hal-hal seperti itu. Suzuki Satoru menciptakan [Gate] di depan kereta dan mulai mendorongnya. Keno bergerak ke sisi Suzuki Satoru dan membantu mendorongnya. Gagasan untuk memanggil Lord Griffin (Dewa Griffin) muncul dikepalanya, tetapi Satoru memintanya untuk menyimpan kekuatannya.

Meskipun sulit untuk mengatakan apakah kekuatan Keno dapat membantu atau tidak, keduanya mendorong kereta ke luar dari kota. Dia membiarkan [Gate] tetap terbuka, lalu mengambil baju penjaga sebelumnya, yang masih berkeliaran di sekitar sana, menariknya, lalu mendorongnya melewati [Gate] sebelum mengakhiri mantra.

“Sekarang, aku akan menyiapkan pengganti untuk kuda.”

Apa yang diambil Suzuki Satoru adalah patung kuda yang anggun dengan kaki depannya terangkat. Dia meletakkan Patung Hewan: Kuda perang di tanah, dan langsung berubah menjadi kuda yang perkasa.

“Wow! Itu kuda yang luar biasa! Kami bahkan tidak punya yang sehebat ini dikerajaan! Anda luar biasa, Satoru-san! ”

Hingga sekarang mungkin itu adalah senyum pertama yang cocok dengan usianya. Setelah melihat reaksi jujurnya, Suzuki Satoru tertawa kecil.

Suzuki Satoru memerintahkan kuda golem untuk bergerak ke depan kereta, tempat ia akan mengikatkannya ke gerobak dengan tali.

Satoru duduk di kursi kemudi dan memerintahkan kuda untuk maju, dan kuda golem pun menurutinya.

Setelah itu Suzuki Satoru merasa lega.

Kelegaan ini karena kuda yang dimunculkan dari item dapat digunakan untuk menarik kereta.

Suzuki Satoru belum pernah menunggangi kuda atau bahkan menyentuh kuda sebelumnya, jadi dia seharusnya tidak dapat membuat kuda biasa di dunia ini untuk menarik kereta. Tapi untungnya, masalah itu telah terpecahkan. Suzuki Satoru hanya bisa kagum oleh pemikirannya yang cepat.

“Sekarang, Keno, ayo kita pergi ke kota tetangga terlebih dahulu dan melihat bagaimana keadaan di sana. Lalu, kita akan memecahkan misteri perubahan undead suatu hari nanti dan menemukan cara untuk menyelamatkan semua orang! ”

“Baik! Saya mengandalkan anda, Satoru-san! “

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded