Overlord Vampire Princess of the Lost Country – Chapter 3 Part 2

Font Size :
Table of Content

Overlord : Vampire Princess of the Lost Country – Five Years of Preparation – Chapter 3 Part 2 Bahasa Indonesia

Translator : Scraba

Suzuki Satoru dan Keno menaiki kereta tertutup melanjutkan perjalanan.

Ini bukan kereta tertutup yang mereka “beli” dari kampung halaman Keno di Inveria, tetapi sesuatu yang mereka beli sekitar setahun yang lalu. Kebetulan, ini adalah kereta yang keempat; yang pertama telah dihancurkan, yang kedua telah terbakar dalam sebuah serangan, dan yang ketiga telah ditinggalkan.

Dua orang yang ada di kursi kemudi – Suzuki Satoru dengan tali kekang di tangannya, dan Keno di sampingnya dengan buku tebal tentang sihir di pangkuannya – berbincang-bincang tentang tidak adanya hal istimewa seperti biasanya sementara mereka berjalan melintasi dataran yang tenang.

Rambut Keno, yang turun ke leher beningnya yang ramping, bergoyang tertiup angin.

Meskipun dia sudah meminta Suzuki Satoru memotong rambutnya, dia merasa bahwa akan lebih baik baginya untuk mengenakan kerudung. Itu karena dia tidak yakin apakah bau kotoran dan debu di air akan meresap ke dalam rambutnya.

Namun, dia tidak akan mengatakan itu dengan keras.

Keno berada di usia yang sulit sekarang.

Jika Suzuki Satoru menggendongnya, dia akan berkata “Hmph ~” dan menggembungkan pipinya. Suasana hati Keno membaik ketika dia tidak memperlakukannya seperti anak kecil, jadi Satoru juga berusaha untuk tidak berbicara seperti itu.

Dia sudah menyendiri selama 40 tahun, dan mereka berdua telah bersama selama lima tahun. Pola pikirnya seharusnya tumbuh lebih dewasa. Namun, tampaknya dia tidak tumbuh sama sekali.

Dia memegang kendali kereta, dengan menampar pantat kuda.

Tindakan itu sama sekali tidak ada artinya. Kuda yang menarik kereta itu adalah Golem yang sama yang telah menarik kereta mereka sebelumnya. Tapi itu semua adalah bagian dari akting. Mereka berdua telah melakukan banyak akting selama perjalanan mereka.

Memang benar bahwa mereka berdua adalah undead dan mereka memiliki Kuda Golem. Tak satu pun dari mereka yang membutuhkan tidur dan mereka semua bisa melihat dalam gelap. Namun, mereka tetap mendirikan tenda di malam hari untuk menghindari kecurigaan.Tentu saja, mereka tidak memerlukan tidur, jadi mereka berdua biasanya berbincang di tenda sampai fajar tiba.

Meskipun usia Keno yang sebenarnya melebihi Suzuki Satoru, dia tidak memiliki banyak pengalaman hidup karena dia tidak pernah meninggalkan kota. Dia adalah pewaris berusia sepuluh tahun yang tidak pernah meninggalkan kampung halamannya.

Itu artinya dia dengan cepat kehabisan bahan pembicaraan dan hanya bisa membahas tentang pengetahuannya yang sudah dia pelajari sebelumnya.

Di sisi lain, cerita Suzuki Satoru diterima dengan sangat baik oleh Keno. Bukan kisahnya tentang dunia nyata tempat Suzuki Satoru hidup – melainkan dunia yang diselimuti lapisan awan tebal – kisah-kisah YGGDRASIL.

Bagi seorang gadis yang hidup di dunia pedang dan sihir, petualangan Suzuki Satoru di YGGDRASIL adalah sesuatu yang akan membuat matanya bersinar dalam kegembiraan.

Pada awalnya, ada beberapa hal yang membuat Keno cemberut. Cerita-cerita itu tampak terlalu dibuat-buat dan konyol baginya. Tapi Suzuki Satoru punya bukti. Meskipun itu bukan catatan lengkap, album foto Suzuki Satoru berisi gambar dari hal-hal yang ia bicarakan.

Keno, yang tidak tahu foto apa itu, tampaknya menganggap itu sebagai gambar yang sangat indah. Tetapi setelah melihat foto – Satoru dan dirinya sendiri – dia menerima bahwa mereka adalah gambaran nyata dari pemandangan itu.

Semuanya sudah terbukti dengan jelas sejak itu.

Mereka membuktikan bahwa petualangan yang memenuhi Keno dengan ketakutan adalah peristiwa yang sudah dialami Suzuki Satoru. Dengan kata lain, petualangan para magic caster hebat seperti Suzuki Satoru benar adanya.

Kekaguman di mata Keno segera berubah menjadi rasa hormat, yang mana disadari oleh Suzuki Satoru. Itu sangat meningkatkan suasana hatinya dan dia mulai berbicara dengan semangat. Tak lama, Keno mulai memahami petualangan Ainz Ooal Gown.

Begitulah cara mereka menghabiskan waktu selama lima tahun belakangan.

Dan hari ini, cerita yang sama berakhir ketika gerobak bergoyang.

“Jadi semua orang dari Ainz Ooal Gown menciptakan legenda. Kau sungguh luar biasa, Satoru. ”

“Fufu, tidak ada yang hebat, Keno. Dengan anggota yang seperti itu, melakukan pencapaian itu adalah hal kecil. Ini foto waktu itu. ”

Suzuki Satoru melepaskan kendali dan memberikan perintah verbal kepada Kuda Golem.

Dia menggunakan tangannya yang tidak memegang tali kuda untuk mengeluarkan album fotonya dan membalik-baliknya, lalu bergumam, “Di mana ya?” Dia menemukan foto sewaktu mereka mengalahkan Fire Giant Lord Surtr  dan menunjukkannya padanya.

“Wow!” Keno berseru kagum. “Kau sungguh luar biasa … Sulit dipercaya kalau kau benar-benar berhasil mengalahkan raksasa yang besar seperti itu… Mm, tidak. Itu mungkin karena semua orang di Ainz Ooal Gown. Lagipula, siapa sih yang sanggup mengalahkan Giant Lord pemegang tongkat api yang begitu kuat seperti itu? ”

“Ya … itu mungkin benar.”

Setelah mengambil kembali dan menyimpan foto itu, dia mencoba mengingat sudah berapa kali mereka mengalahkan Surtr.

Melakukan itu sebenarnya tidak terlalu sulit karena ketahanannya terhadap elemen sangat kuat, tetapi Suzuki Satoru tidak ingin mengatakannya dan menghancurkan imajinasi gadis itu, sehingga mengecewakannya. Karena itu, Suzuki Satoru hanya diam dan tersenyum.

“Itu sudah pasti! Kau dan teman-temanmu sungguh luar biasa, Satoru! ”Semangatnya meningkat, Suzuki Satoru juga ikut merasakan kegembiraan Keno.

“Benar sekali! Aku rasa juga begitu! Cara mereka berhasil menghindari kematian dan bertahan setelah monster itu melemparkan pedangnya dan mengeluarkan Laevatein benar-benar dilakukan dengan sangat baik. ”
“Yup! Mereka semua sangat mengagumkan! Mereka menang karena dirimu, Satoru! ”

“Apa kau pikir begitu? Ha ha ha!”

Suzuki Satoru tertawa, dalam suasana hati yang sangat baik.

“Apakah kau dan teman-temanmu benar-benar melakukan semua petualangan yang luar biasa itu berulang kali, Satoru?”

“Benar sekali. Dan juga, bukankah kita sedang melakukan petualangan hebat kita juga? “Keno tersenyum pahit.

“Benarkah? Tapi ini tidak terasa seperti petualangan yang istimewa sama sekali. ”

“Bukankah semuanya tergantung pada cara pandangmu? Sudah lima tahun sejak kita berangkat dari kerajaanmu.

Bukankah kita sudah berpergian ke berbagai negeri dan melihat banyak misteri? Bertarung bukanlah segalanya, kau tahu. ”

Menikmati hal yang tidak diketahui.

Melakukan perjalanan dan menggunakan matamu sendiri untuk melihat dunia ini – bukankah itu petualangan sejati yang dicari di YGGDRASIL? Sekarang, dia bisa mengerti bagaimana perasaan para World Searchers (Penjelajah Dunia).

Tentu saja, tidak ada yang salah dengan bertempur bersama dengan teman-temanmu dan menikmati game. Tapi Suzuki Satoru dengan yakin mengatakan bahwa perjalanannya dengan Keno adalah perjalanan yang harus mereka berdua lalui.

“Aku — rasa. Seven-Scorched Plain dan Clear Lake keduanya sangat menakjubkan. ”

“Secara pribadi, Seven-Scorched Plain agak menjijikkan bagiku, tapi Clear Lake begitu indah. Itu tampak seperti kaca. ”

“Ya. Luar biasa! ”

Mereka berdua terus mengenang pemandangan indah itu saat mereka melanjutkan perjalanan.

“Kalau saja aku bisa melihat pemandangan itu lagi.”

“Kita bisa pergi kesana lagi jika kita tidak mendapatkan hasil apa-apa. Lagipula, umur kita tidak ada batasnya. ”

“Benar juga,” jawab Keno.

“Dan juga … kau sudah lebih kuat dari sebelumnya, Keno. Ingin mencoba menghadapi musuh yang kuat? ”

Perjalanan dan pertempuran, kedua hal tersebut saling berkaitan erat. Ini bukan masalah keamanan; ketika seseorang pergi ke daerah yang dihuni oleh monster, dia akan dianggap sebagai mangsa dan juga ada kemungkinan bertemu musuh yang kuat ketika mengunjungi tempat-tempat yang indah. Konon, Suzuki Satoru hanya bertemu satu lawan yang dia anggap kuat. Namun, ada banyak musuh yang akan membunuh Keno secara instan seandainya dia sendirian.

Suzuki Satoru bertanggung jawab atas pertempuran sementara Keno akan menangani pekerjaan otaknya, tetapi tetap penting juga bagi Keno untuk cukup tangguh ketika menerima serangan dari makhluk yang kuat.

“Tidak, tidak usah pikirkan aku… ah! Aku tahu kau memikirkanku, Satoru, dan aku merasa senang! Dan kau juga meminjamkanku beberapa item menakjubkan! Apa namanya? Ah, pelatihan, sepertinya itu tidak berhasil, kan? Maksudku, aku benar-benar tidak suka menggunakan tongkat dan memukuli Naga yang sekarat dengan semua anggota tubuhnya yang sudah terpotong-potong… Aku tidak membicarakan rencanamu, tetapi lebih kepada caramu yang terus mengabaikan permintaannya akan belas kasihan. , er, yeah, itu agak menyayat hati – tidak, tidak seperti itu. Tentu saja aku tahu kau juga tidak menyukai hal semacam itu, dan kau hanya melakukannya karena diriku. Dan aku tidak ingin pakaian yang kau pinjamkan padaku kotor. Aku hanya berpikir mungkin saja nanti akan ada cara lain. ”

(Note: Kata “pelatihan” diatas berasal dari kata “grinding”, saya tidak tahu maksud sebenarnya. Tapi sepertinya ini semacam latihan, jadi saya gunakan kata “pelatihan”)

Keno berhasil memaksa semua kata-kata itu keluar dengan tergesa-gesa.

Tampaknya dia tidak menyukai pengalamannya ketika berlatih dengan Naga. Lagipula, menyuruh seorang gadis melakukan hal semacam itu agak tidak manusiawi, Suzuki Satoru merasa menyesal.

Mungkin aku harus mencari lawan yang bisa dia serang tanpa memperdulikannya. Pencuri dan orang lain yang tidak layak mendapat belas kasihan dikesampingkan dulu karena mereka dapat berbicara. Mungkin beberapa makhluk yang tidak bisa berbicara atau objek yang mungkin lebih baik.

  Suzuki Satoru kemudian mulai mempertimbangkan berbagai monster. Secara pribadi, serangga raksasa dan sejenisnya tampak seperti kandidat yang baik.

“Aku mengerti, Keno. Lain kali aku akan merencanakannya dengan lebih baik ketika kita berlatih. ”

Dia tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Keno merespons dengan ekspresi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Itu adalah penampilan langka yang hanya bisa Satoru lihat setahun sekali. Tidak, ketika mereka pertama kali berangkat, dia merasa seperti telah melihatnya lebih sering dari itu, tetapi dia tidak begitu yakin tentang kejadian lima tahun yang lalu.

“Umu. Karena itu, aku tidak tahu bagaimana nilai karmamu berubah. Namun, karena milikku negatif, aku harap milikmu akan menjadi positif untuk mengimbanginya. Karena itu, akan lebih baik untuk membantai lawan dengan nilai karma negatif. ”

“Ah, eh? Tidak, itu, eh … Satoru, mari kita bicarakan itu nanti. Lihat, kita sudah bisa melihat kota. Itu benar-benar terlihat menonjol. ”

“Ahhh, benar juga.”

Suzuki Satoru dapat melihat kota di depannya. Dia sudah mendengar rumornya kalau itu adalah kota yang cukup besar. “Besar” dalam hal ini tidak merujuk pada luasnya, tetapi dalam arti harfiah; bangunan fisik dan tembok kota sangat besar. Dikatakan juga kalau terdapat batu-batu besar di kedua sisi gerbang. Tingginya sekitar 150 meter. Batu-batu yang diletakkan di kedua sisi itu telah menjadi bagian dari tembok kota.
Tembok kota belum dapat dibangun karena letaknya di sebelah bebatuan itu. Sebaliknya, Giants yang tinggal di dekatnya mengirimkan bebatuan itu dari rumah mereka sebagai tanda persahabatan. Setelah itu, berkat hubungan persahabatan dengan para raksasa itu, setiap bagian kota – seperti katakanlah, bangunan, tata kota, dan sebagainya – berukuran besar sehingga raksasa tidak perlu khawatir lagi, atau setidaknya itulah apa yang Suzuki Satoru dengar.

Berapa banyak Giants yang dibutuhkan untuk mengirimnya, dan bagaimana mereka melakukannya?

Ketika Suzuki Satoru memikirkan hal ini dengan rasa penasaran yang semakin besar, dia menunjukkan kepada Keno yang berkerudung bahwa dia harus mengganti cincin yang dia pakai.

Sebagai seorang Vampir, Keno menderita penalti untuk semua tindakan di bawah sinar matahari. Namun, dia berhasil meniadakan itu dengan mengenakan cincin anti-sinar matahari. Dia berpikir untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang lain. Bahkan mengenakan tudung tidak akan meniadakan penalti dan dia masih akan merasa lelah, namun akan merepotkan nantinya jika dia tidak bisa menahannya.

Dia telah meminjamkan empat cincin ke Keno: “cincin yang mengurangi penalti terhadap paparan sinar matahari,” “cincin penangkal terhadap kontrol undead dan pemusnah undead” sehingga Suzuki Satoru sekalipun tidak bisa mendominasinya, “cincin penangkal divination magic,” dan “cincin imunitas terhadap ikatan dan hambatan gerakan lainnya.” Dia akan memberi yang lain tergantung pada situasinya.

Kali ini, dia akan mengenakan “cincin penangkal terhadap kontrol undead dan pemusnah undead,” dan “cincin penangkal divination magic,” yang keduanya sangat penting ketika memasuki kota.

Sebaliknya, Suzuki Satoru tidak berusaha menyembunyikan wajah tengkoraknya. Lagi pula, dia telah berlatih memasuki kota-kota dengan wajah terbuka selama lima tahun perjalanannya ini. Dan, dia telah diberitahu bahwa akan lebih baik untuk menunjukkan wajah aslinya ketika mencoba memasuki kota. Jika dia berterus terang dan tidak berusaha menyembunyikan diri, akan lebih mudah untuk menggertak musuhnya.

Dia telah mencoba menggunakan ilusi untuk menyamarkan dirinya sebelumnya, tetapi setelah insiden yang tidak mengenakan dia tidak lagi bergantung pada hal itu.

“Omong-omong, Satoru.”

“Hm?”

“Kenapa kita kembali ketempat ini?”

Kampung halaman Keno hanya sedikit lebih jauh dari tempat ini. Satoru tidak membawanya ke sini selama lima tahun terakhir.

“Hm? Kita sudah menjelajahi dunia, bukankah kita belum pernah kesini? Bukankah lebih baik untuk mendaki gunung-gunung yang hampir tidak bisa kita lihat di kejauhan? ”

“Aku mengerti.”

Tampaknya Keno tidak terlalu percaya pada penjelasan itu, mengingat nadanya. Suzuki Satoru tahu bahwa mereka telah menghabiskan waktu lima tahun bepergian bersama. Namun, dia tidak berniat memberi tahu Keno alasan untuk datang ke kota ini.

Kereta yang ditarik Kuda Golem membawa mereka berdua ke gerbang utama tanpa melambat. Mungkin mereka datang diwaktu yang tepat, tetapi tidak ada seorang pun di sana kecuali Suzuki Satoru dan teman-temannya.

Penjaga gerbang berkumpul, dan ada bahaya dari atas sana. Semua orang sudah menyiapkan tombaknya. Dia melirik ke dinding dan melihat para pemanah berkumpul di sana. Dengan kata lain, mereka semua waspada terhadap Suzuki Satoru.

“Berhenti!”
Suara keras memanggil mereka. Tampaknya suara itu berasal dari kapten penjaga. Suzuki Satoru dengan acuh mengabaikan peringatannya dan menjawab dengan nada cerah, ceria.

“Yo, cuaca yang bagus sekali.”

Kebingungan segera menyebar ke seluruh penjaga, tetapi mereka segera melanjutkan sikap tegas mereka.

“Apa yang kau lakukan di sini, undead !?”

“Undead? Dimana?”

Suzuki Satoru melihat sekeliling, seolah sengaja.

“Omong kosong apa yang kau—”

“—Apa kau salah mengira kalau aku ini adalah undead!?”

Dia menyela teriakan prajurit itu dan berteriak kembali pada mereka.

“Aku bukan undead! Aku adalah Satoru si Oldbone! ”

“Old … bone?”

Para prajurit saling memandang dan kemudian mereka menggelengkan kepala. Dia bisa mendengar mereka bertanya satu sama lain,

“Apakah kau pernah mendengar tentang mereka sebelumnya?”

“Ini pertama kalinya aku mendengar itu.”

“Tidakkah menurutmu sangat tidak sopan mengira salah satu dari Oldbones yang agung sebagai undead? Itu adalah penghinaan besar bagi bangsa kami! ”

Penjaga gerbang saling memandang lagi. Kapten – itulah namanya untuk sekarang – menjawab dengan nada yang sangat bingung. Namun, dia tidak menunjukkan tanda-tanda menurunkan senjatanya. Namun, itu hal yang wajar.

“Maksudmu, kau bukan undead?”

“Sudah kubilang, bukan? Aku adalah Satoru, seorang Oldbone yang agung! ”

“Tidak, ah, maafkan saya. Maafkan ketidaktahuan saya, tetapi saya belum pernah mendengar nama Oldbone sebelumnya. ”

“Apa!? Kau bahkan tidak tahu tentang Oldbones yang hebat dan perkasa? Ngomong-ngomong kota macam apa ini … ”

Penjaga gerbang yang bermartabat secara alami tersinggung karena diberlakukan seperti orang udik. Meskipun mereka tidak senang dengan ini, tampaknya mereka perlahan mulai mengerti.

Ada banyak ras di dunia ini. Selain humanoids, ada juga banyak demihumans dan heteromorph dengan penampilan aneh. Mendiskriminasi anggota ras itu mungkin menimbulkan kemarahan bangsa mereka. Jika itu mengarahkan mereka menuju perang, itu bisa mengakibatkan pembataian satu pihak. Bahkan, beberapa negeri telah hancur karena hal seperti itu.

Karena alasan itu, penjaga gerbang telah diminta untuk menanggapi situasi dengan tepat. Semakin banyak spesies yang melakukan kontak dengan suatu kerajaan, semakin intensif penjaga negara tersebut akan dilatih.

Dengan kata lain, mereka tidak akan bertindak gegabah jika mereka mengira dia bukan undead tetapi bagian dari ras Oldbone.

Setelah itu, mengambil keuntungan dari kebingungan mereka dan menguasai situasi akan menjadi kuncinya.

“Sepertinya aku perlu memberi tahu kalian orang udik yang bodoh tentang kebesaran kami para Oldbones. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku Satoru, berasal dari Greatokyo, ibukota besar Oldbones. Aku datang ke sini … untuk menemukan sesuatu yang bernilai, meskipun aku tidak berpikir ada sesuatu yang hebat di sini yang akan menarik perhatianku. ”

“…. Apakah anda seorang pedagang?”

“Benar. Karena itu, aku tidak akan membeli apa pun jika tidak ada yang menarik perhatianku. ”

“Kami harus memeriksa barang bawaanmu terlebih dulu, tapi sebelum itu, kami benar-benar perlu, eh … apa namanya … ah … memeriksa anda. Anda mengerti kan? Jika Anda melakukannya, maka … harap tunggu di sana. Saya akan pergi memanggil priest. ”

Nada bicara Kapten berangsur-angsur mulai melemah terhadap Suzuki Satoru.

 

“Aku mengerti. Meskipun aku bingung primitif macam apa yang salah mengira kalau Oldbones adalah undead, untung saja kami sangat murah hati. ”

“Dan gadis di sana itu?”

“Dia adalah temanku, dan juga seorang Oldbone.”

“Hah?”

Kapten memandang Keno dengan kaget, dan kemudian mulai membandingkannya dengan Satoru. Dia bisa mendengar gumaman pertanyaannya seperti, “Gadis ini seorang Oldbones?” Dan, “Bukankah mereka ini berbeda?”

“Sangat mirip, bukan?”

“… Ah, um.”

Kapten itu melihat ke bawah karena rasa malu.

Segera, Suzuki Satoru bisa melihat seorang prajurit membawa seorang priest. Dia adalah pria gemuk yang terlihat seperti berlari sedikit saja akan membuatnya kehabisan nafas.

Setelah dia tiba, sang priest menyeka keringatnya dengan sapu tangan dan terengah-engah, seolah-olah dia berjuang untuk bernafas.

Kapten berkata, “Permisi sebentar,” dan pergi ke pendeta.

“Priest-dono, terima kasih sudah repot-repot untuk datang jauh-jauh ke sini.”

“Apa yang kau katakan, Kapten-dono? Ini adalah tugas kita. Tapi, aku harap kau tidak tergesa-gesa seperti ini lain kali. Aku tidak ingin diseret di hadapan takhta para dewa sebelum aku tiba di sini. ”

Napas sang priest itu seperti isak tangis ketika dia menjawab.

Mereka berdua telah melakukan yang terbaik untuk menenangkan diri, dan meskipun agak jauh, Suzuki Satoru masih dapat mendengar mereka.

“Saya heran, bukankah ada kuda di kuil?”

“Apa yang kau katakan, Kapten-dono? Apa kau tidak merasa kasihan dengan kuda yang aku kendarai?”

“Priest-dono … mungkin lebih baik bagimu untuk belajar menunggangi kuda.”
“Itu membuat pantat dan pahaku sakit, jadi aku akan senang jika kau tidak memikirkannya!” Pastor berkata sambil mengabaikan jawaban si Kapten, “Tetapi anda kan punya sihir penyembuhan,” dan memandang Suzuki Satoru. “Baiklah, aku akan melakukan apa yang harus aku lakukan di sini. Turn unde—”

“Tidak, orang-orang itu mengaku sebagai Oldbones. Mereka sepertinya bukan undead.”

“Hah? Oldbones? … Tapi mereka tampak seperti undead bagiku.”

“Apakah begitu? Namun, akan sangat merepotkan nantinya jika mereka benar-benar bukan undead…”

“Hm – baiklah. Lagipula, akan sangat buruk sekali jika aku mengusir orang-orang yang mungkin akan menyumbang ke kuil kami, dan siapa yang tahu bagaimana para atasan akan mengecamku nantinya. Jika aku akhirnya menjadi priest di desa maka – ahem! ”

“Tidak, bukan itu masalahnya, Priest-dono.”

“Tidak, itu masalahnya, Kapten-dono. Tempat ini terletak di dalam wilayah Marquis. Bahkan jika dia memberikan kita otonomi, kita akan tetap menderita jika kita bertindak sendiri, tanpa memperhatikan kepentingan kerajaan ini. Selain itu, insiden itu akan lebih parah jika kita menyinggung seseorang yang kebetulan adalah anggota berpangkat tinggi dari ras lain. Kapten-dono, aku percaya kau tidak ingin namamu  dicatat dalam sejarah sebagai orang bodoh yang memulai perang yang menyebabkan kehancuran negerinya, bukan? Aku, tentu saja, tidak mau. Selain itu, jika hal seperti itu terjadi, nanti akan menyebabkan segala macam masalah bagi orang lain juga! ”

“… Jadi kau mengerti. Karena itu, bisakah saya merepotkanmu untuk memeriksa apakah mereka benar-benar undead atau tidak? ”

“Ini sangat merepotkan, jadi bisakah kau membiarkan mereka pergi begitu saja? Suruh beberapa prajurit mengawasi mereka sambil berpura-pura menjadi pendamping atau semacamnya. ”

Mereka berdua saling bertukar pandang, dan pada akhirnya, pastor itu menggerakkan bahunya dengan kekalahan.

“Baik, baik, aku mengerti.”
Ketika pastor itu menggerutu karena harus merapalkan mantra secara gratis, ia berjalan ke Suzuki Satoru dan kemudian menyapanya dengan senyum ceria.

“Salam, para tamu Oldbone yang terhormat. Saya adalah seorang pelayan kuil di kota ini. Meskipun saya mempercayai kata-kata anda, saya perlu merapalkan mantra untuk menghilangkan keraguan orang lain. Saya harap Anda tidak keberatan. ”

Fakta bahwa dia bahkan tidak menyebutkan namanya menunjukkan dengan tepat betapa putus asanya dia untuk menghindari masalah. Bisa dikatakan itu persis seperti yang direncanakan Suzuki Satoru.

“Aku mengerti. Silakan lanjutkan, pendeta-dono. ”

“「 Detect Undead」- Begitu. Memang, dia bukanlah undead, Kapten-dono, karena tidak ada reaksi terhadapnya. Dan juga – yeeart! ”

Priest itu mengangkat tangannya. Suzuki merasakan kekuatan aneh mendorongnya. Itu mungkin semacam kemampuan pemusnah undead. Namun, itu sama sekali tidak efektif pada Suzuki Satoru dan Keno. Meskipun perbedaan level mereka adalah penyebabnya, alasan utamanya adalah berkat item sihir mereka.

“Seperti yang kupikirkan, tidak ada reaksi. Pria ini bukanlah undead. ”

“Benarkah?”

“Sudah kubilang, bukan? Aku ini Satoru si Oldbones. Memperlakukan seperti undead membuatku frustasi. ”

Dia melihat para penjaga di sekitarnya menurunkan tombak mereka. Mereka masih mengelilinginya, tetapi tidak ada lagi suasana tegang.

“Itu artinya aku sudah memenuhi tugasku, bukan? Ahh, mana ada  undead yang tenang dan ramah seperti itu? Aku sudah berpikir bahwa dia tidak mungkin seorang undead sebelum datang ke sini, “kata priest itu sambil melirik semua penjaga.

“Namun kalian masih memanggilku kesini. Aku rasa ini hanya cara kalian mencoba untuk memanfaatkanku! ”

Sang Priest itu mengakhiri dengan nada bercanda. Kapten memandangi anak buahnya dan menjawab dengan cara yang sama ringannya.

“Bagus sekali, kita sudah membuat Priest-dono lari ke sini! Saya selalu merasa ada masalah dengan ukuran tubuhnya. Teruslah buat dia berlari seperti ini lagi kedepannya! ”

Kapten dan pastor itu tertawa. Itu adalah jenis tawa yang terdengar seperti sedang mengertakkan gigi, seolah-olah mereka sedang memikirkan hal lain.

Mereka berdua berhenti, seolah-olah mereka berdua sudah puas tertawa. Pastor itu membelakangi Suzuki Satoru dan menuju ke kota, sementara Kapten berdiri di depan Suzuki Satoru sekali lagi.

“Maafkan saya, Satoru-dono, pedagang Oldbone. Nah sekarang – izinkan kami untuk memeriksa barang bawaan anda.”

“Tentu saja. Namun, aku hampir tidak memilikinya, karena aku datang untuk melakukan pembelian. ”

Suzuki Satoru dan Keno pun turun, lalu sekelompok orang yang tampak sedikit berbeda dari penjaga gerbang menaiki kereta. Mereka adalah penilai, yang bertugas memeriksa barang dan memungut bea.

90% dari isi kereta adalah biji-bijian – meskipun jumlahnya 90% berdasarkan volume, itu hanya sepersepuluh dari berat gerobak yang dimuat. Bahkan jika seseorang menghitung berdasarkan volumenya, pajak jumlah biji-bijian ini akan sangat ringan.

Suzuki Satoru dan Keno menjalani pemeriksaan singkat, untuk memastikan mereka tidak membawa barang selundupan. Saat itu, karyawan yang memeriksa kereta pun kembali. Salah satunya memegang peti kecil.

“Bisakah anda membuka peti ini?”

“Tentu.”

Suzuki Satoru membukanya dan kilauan emas pun menyebar. Kotak itu berisi 500 keping emas. Ada juga tas kulit di dalamnya dengan sejumlah batu permata. Ini adalah jumlah yang besar, tetapi itu adalah jumlah yang biasa-biasa saja bagi seorang pedagang yang dari jauh.

Karyawan itu menggulung lengan bajunya dan meraih lengannya untuk memeriksa bagian dalam peti itu.

“—Tidak ada apa pun di dalam. Dan tidak ada ruang tersembunyi didalam kereta. Satu-satunya hal yang aneh adalah kuda itu bukan makhluk hidup. ”

“Itu adalah Kuda Golem.”

“… Bisakah Oldbones benar-benar mengendalikan hal seperti itu?”

“Tentu saja. Mereka adalah Kuda Golem yang tidak memerlukan makan, minum, atau buang kotoran. Mereka tidak gemetar di hadapan monster yang menakutkan sekalipun. Bukankah itu membuat mereka sempurna untuk transportasi? … kalian bahkan tidak memiliki ini, itulah kenapa kalian udik. ”

Suzuki Satoru kemudian membuat penggalian pada mereka, seolah-olah dia ingin orang-orang itu berhenti melakukan pemeriksaannya. Ini juga merupakan bagian dari rencananya, dan dia meminta maaf dari dalam hatinya kepada mereka.

Setelah karyawan mendengar ini, mereka berkumpul untuk berdiskusi. Mereka mungkin berbicara tentang berapa banyak pajak Kuda Golem, karena tidak ada aturan untuk itu. Setelah pembicaraan singkat, mereka memutuskan untuk mengenakan pajak yang sama dengan kuda lainnya dan mendiskusikan sisanya dengan Marquis nanti.

Setelah membayar tol untuk Suzuki Satoru, Keno, kuda, dan gandum, mereka menerima izin untuk memasuki kota.

Kapten berbicara kepada Suzuki Satoru ketika dia mengambil kendali dan bersiap untuk mendesak kudanya.

“Er, ya. Saya harus mengatakan ini. Tuan pedagang Oldbones … Saya akan katakan yang sejujurnya. Akan lebih baik untuk tidak memperlihatkan wajah anda di kota ini. ”

“Kenapa begitu … Ahh, apakah itu karena kau pikir orang akan mengira aku ini undead? Mereka akan bingung melihatku dengan— “

“Ahhh, aku mengerti, aku mengerti.”

Kapten melambaikan tangan pada Suzuki Satoru sambil mengangkat nada suaranya, dengan cara yang sangat jengkel.

“… Kasus kekeliruan dalam mengenali identitas memang sangat buruk. Bisa dibilang … meskipun sangat alami bagi kita untuk membenci undead, tampaknya reaksimu sedikit berlebihan, apakah terjadi sesuatu? ”

“Ahhh, memang benar. Namun, itu sudah lebih dari 20 tahun yang lalu. Banyak undead yang pernah menyerbu negeri ini, dan dikenal sebagai Bencana Undead. Insiden itu menyebabkan banyak kerusakan, dan meskipun kota ini tidak secara langsung terkena dampaknya, kami masih memiliki orang-orang yang kehilangan keluarga dan teman di sini. – Apakah anda mengerti?”

“Bencana Undead, katamu?”

 

Tampaknya ada kaitan dengan insiden di kerajaan Keno yang telah mengubah orang-orangnya menjadi Zombie.

Insiden itu tidak hanya terjadi di kerajaan Keno. Zombifikasi telah mempengaruhi segalanya dalam radius 250 kilometer. Kesimpulan yang diambil Suzuki Satoru selama bertahun-tahun penyelidikannya adalah bahwa itu telah menyebabkan runtuhnya empat kerajaan.

Namun, negeri ini jauh dari sana, dan terdapat kerajaan lain di antara mereka.

Dan juga, Zombi di kota itu hanya berkeliaran disekitar sana. Mengapa mereka bisa sampai ke kerajaan ini?

Mungkin terlalu dini untuk menarik kesimpulan.

“Dan itu belum semuanya. Jika Anda menuju barat laut dari sini dan menuju kerajaan berikutnya, Anda akan dapat melihat undead dengan jumlah yang sama atau lebih. Sepertinya terlalu banyak dari mereka yang harus dihadapi. ”

Itu di arah yang berlawanan dari mana Suzuki Satoru dan Keno berasal, arah kerajaan Keno.

“Hm—” Suzuki Satoru mengajukan pertanyaan. “Aku merasa pasti ada alasan mengapa semua makhluk undead itu muncul. Apakah ada semacam perang hebat? Sudah umum mayat-mayat yang tersisa di medan perang untuk mulai bergerak. ”

Kapten menggelengkan kepalanya.

“Saya tidak yakin tentang itu. Yang saya tahu adalah undead itu tiba-tiba muncul. Ada rumor yang mengatakan bahwa itu disebabkan oleh mantra yang lepas kendali … meskipun itu hanya rumor. Saya mendengar kerajaan-kerajaan tetangga telah mengerahkan pasukan mereka di sepanjang perbatasan untuk mempertahankan diri dari serangan undead. ”

Suzuki Satoru berpikir setelah pria itu menjawab. Kepemimpinan kerajaan ini masih cukup cerdas, karena mereka belum mengambil kesempatan ini untuk menyerang kerajaan tetangga mereka yang sedang menahan pasukan undead untuk mereka. Tidak, undead adalah musuh bagi mereka semua, jadi kemungkinan besar mereka akan mengirim pasukan mereka sendiri untuk membantu kerajaan tetangga.

“Bagaimanapun, itu sebabnya kami sangat berhati-hati terhadap undead. Jadi saya harap Anda tidak akan melakukan apa pun untuk membuat orang lain salah paham dengan Anda. ”

“Baiklah … ah, maafkan aku,” Suzuki Satoru batuk ringan. “Aku mengerti apa yang kau maksud. Kalau begitu, aku akan menutupi wajahku dengan topeng … tapi bisakah kau membantuku? ”

“Apa itu?”

“Jika ada penginapan kelas atas yang akan kamu rekomendasikan, bisakah aku sedikit merepotkanmu untuk mengirim seorang pria untuk membantuku menjalankan tugas? Beri tahu mereka bahwa pedagang Oldbones akan datang untuk menginap ditempat mereka.

Itu akan menghindari banyak masalah. Bagaimanapun, sebagian besar penginapan tidak menerima tamu yang mencurigakan yang menggunakan topeng. ”

Wajah Kapten itu sedikit kusut. Dia mungkin tidak ingin penjaga gerbang menjadi pelari demi seorang pedagang belaka.

“Jika kau membantuku, itu akan meningkatkan opini kami Oldbones tentang kota ini, kau tahu.”

“… Ah, kalau begitu baiklah. Mau bagaimana lagi. Saya akan mengabulkannya sebagai permintaan maaf karena mengira Anda salah satu undead. Oi! ”Serunya kepada penjaga di dekatnya. “Kau, pergilah ke Canopy Inn.”

Setelah menerima perintahnya, tentara itu berlari keluar.

Setelah mendengar Kapten memberitahunya untuk pergi ke penginapan, Suzuki Satoru mengeluarkan kantong kulit dan menyerahkan koin emas kepada Kapten.

“Aku sangat berterimakasih. Pergi beli minuman untuk anak buahmu. ”

“Saya mengerti. Kalian Oldbones tentu berbeda dari undead. Jaga dirimu, nona ke – maksudku, Nyonya. ”

“Terima kasih.”

Keno – yang selama ini diam – mengangguk kepadanya, dan kereta itu melewati gerbang kota.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded