Overlord Vampire Princess of the Lost Country – Prologue Part 3

Font Size :
Table of Content

Overlord : Vampire Princess of the Lost Country – A Strange Tale of the Absolute Ruler – Prologue Part 3 Bahasa Indonesia

Translator : Scraba

Saat dia melihat pria itu pergi, Momonga membiarkan [Remote Viewing] melanjutkan perjalanannya,

Dia bertemu lebih dari sepuluh undead di jalan, dan mereka semua sama – yuriniggers.

Tetap saja, jumlah mereka ada banyak.

Beberapa dari mereka berjalan berputar-putar di dalam rumah mereka, dan yang lain berkeliaran di jalanan.

Itu tampak seperti seluruh kota berada di bawah kekuasaan undead.

Bisa dibilang, ini bukanlah hal yang aneh di YGGDRASIL. Sebenarnya, ada beberapa kota bawah tanah yang diperintah oleh undead. Di antara mereka termasuk lokasi yang bisa dialih fungsikan menjadi pangkalan setelah mengalahkan monster bos di dalamnya. Meskipun Momonga belum pernah ke tempat seperti itu sebelumnya, video-video tentang itu yang pernah diunggah menggambarkan keindahan kota surga.

Tidak lama kemudian, Momonga menyelesaikan penjelajahan di sekitarnya.

Apa yang dia pelajari adalah bahwa tidak ada undead lain di sini selain yuriniggers, dan bahwa seluruh area itu sudah menjadi puing-puing, tanpa ada yang selamat.

Momonga menghembuskan nafas “whew” – meskipun dia tidak tahu bagaimana tubuhnya yang kurus dan tanpa paru-paru bisa melakukannya – dan menghilangkan mantra [Remote Viewing] dan [Perfect Unknowable].

Dia khawatir tentang apa yang akan dia lakukan jika dia bertemu Player– terutama jika itu PK – disekitar sana, tetapi tampaknya dia telah menyia-nyiakan usahanya. Ditambah lagi, tergantung pada situasinya, bukan hal yang tidak mungkin jika dia akan mengangkat tangannya dan menyerah ketika melakukan kontak dengan pihak lain untuk mendapatkan informasi tentang mereka.

Setelah jeda beberapa saat, Momonga memastikan bahwa dia masih bisa berteleportasi secara normal, lalu meninggalkan rumah dan turun ke jalan.

Meskipun dia tidak berani untuk terlalu percaya pada kekuatannya, seharusnya tidak ada masalah jika dia bisa menggunakan mantra yang sama seperti biasanya. Tidak, bahkan jika situasinya memburuk, dia pasti masih bisa melarikan diri.

Jika memungkinkan, dia ingin mengukur kekuatannya dengan membunuh seorang yurinigger, tapi itu terlalu berbahaya.

Meskipun ini didasarkan pada pengetahuannya tentang YGGDRASIL, undead dengan tingkat kecerdasan yang rendah seperti yuriniggers akan menganggap Momonga sebagai salah satu dari mereka dan karenanya tidak memulai serangan terhadapnya. Namun, itu akan berbeda jika dia menyerang terlebih dahulu. Bahkan dia mungkin akan mendapat respon permusuhan dari semua yurinigger di sekitarnya secara berantai, sampai semua undead di seluruh kota menganggapnya sebagai target serangan mereka.

Sesuatu seperti itu yang hanya akan menguras kekuatannya dan meningkatkan jumlah musuhnya akan menjadi pilihan terakhir. Saat ini, ia harus memprioritaskan dalam mengumpulkan informasi.

Momonga meninggalkan rumah yang hancur.

Mengambil langkah pertamanya membutuhkan keberanian yang besar dan membuat jantungnya berdegup kencang – walaupun sebenarnya dia tidak punya jantung – tetapi yurinigger pertama yang dia temui tidak bereaksi kepadanya dengan permusuhan, dan berjalan menjauh dari Momonga seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dengan itu, beban luar biasa yang menimpa Momonga seperti terangkat darinya.

Dia menyelidiki jalanan sekitar, dan mencapai kesimpulan.

Pertama-tama, teknologi di sini tidak terlalu maju. Tidak ada tanda-tanda sama sekali dari peralatan listrik, dan teknik konstruksi modern tidak akan menampilkan semen dan batu bata yang bentuknya tidak merata seperti itu. Ada kemungkinan bahwa ada saluran listrik yang terkubur didalam tanah, tetapi melihat dari peradabannya hal seperti itu rasanya tidak mungkin. Ini juga pertama kalinya dia melihat tungku di luar YGGDRASIL.

Dan juga-

Apa ini YGGDRASIL? Tidak, ini terlalu berbeda. Tetapi mungkinkah itu benar-benar terjadi?

Secara bertahap, Momonga menyadari bahwa ini tidak mungkin berada di dalam game.

Namun, bagaimana dengan dirinya sendiri?

Pertama, bagaimana mungkin tubuh yang seluruhnya terdiri dari tulang dapat bergerak?

Dia tidak punya otot atau saraf.

Dia bergerak seolah-olah dirinya adalah makhluk itu sendiri, dan hal seperti itu hanya bisa muncul dalam game. Tidak, ketika dia memikirkannya, bagaimana dengan kekuatan – sesuatu yang disebut “sihir”?

Momonga berjalan menyusuri jalan utama. Basis pengetahuan yang ia bangun sampai saat ini pun hancur dan ia masih belum dapat membangunnya kembali.

“Bagaimanapun, yang bisa aku lakukan adalah terus mengumpulkan informasi.”

Mungkin karena ini adalah jalan utama, tetapi jumlah yuriniggers yang berkeliaran tiba-tiba meningkat.

Untuk menghindari menabrak yuriniggers, Momonga sekali lagi merapalkan [Fly] dan terus bergerak pada jarak yang cukup tinggi.

Tampaknya ini adalah jalan utama untuk kota ini, karena ketika dia melihat lurus ke depan dia bisa melihat gerbang kota yang terbuka lebar.

Di arah lain terdapat sebuah kastil yang tampak mewah. Mungkin itu karena dibangun secara berbeda, tetapi tampaknya tidak rusak parah seperti rumah yang hancur sebelumnya.

Aku mungkin akan melihat beberapa kerusakan akibat pelapukan jika melihatnya lebih dekat. Jika disini ada cuaca, maka akan lebih baik berasumsi bahwa kota ini sudah lama ditinggalkan … jangan bilang kalau orang-orang di dunia lain ini bahkan tidak dapat mengalahkan yuriniggers? Atau apakah ini seperti yang ada di film-film zombie dimana semua manusianya mati?

Mungkinkah mereka bahkan tidak bisa mengalahkan yuriniggers, undead paling lemah di YGGDRASIL? Atau apakah tempat ini berbeda dari YGGDRASIL karena para yurinigger di sini sangat kuat?

Dia harus menjawab dua pertanyaan ini sesegera mungkin.

Saat Momonga sedang merenungkan bencana yurinigger yang telah terjadi di kota ini dan bagaimana hal itu terjadi, kemudian Momonga mengeluarkan reaksi.

“Apa?”

Di antara banyak reaksi undead di sekitarnya, salah satu dari mereka perlahan menjauh darinya.

…Apa ini?

Momonga menyipitkan matanya.

Dia bisa merasakan tingkat kecerdasan tertentu dari tindakan itu, kualitas yang tidak dimiliki yuriniggers.

“Apakah itu Player? Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Kau adalah sumber informasiku! ”

Dia melayang dengan ringan ke udara. Mengingat orang ini sama sekali tidak ragu-ragu saat bergerak, dia seharusnya cukup akrab dengan tata ruang kota ini. Namun, medan tidak berarti apa-apa bagi seseorang yang bisa merapalkan [Fly].

Saat Momonga terbang lurus di udara, dia melihat bentuk seseorang.

Sosok kecil dalam jubah berkerudung itu berbalik beberapa kali – kearah Momonga berada – saat ia berlari menuruni gang-gang sempit.

Aku akan menggunakan undead domination – tidak, itu pilihan terakhir. Dan di samping itu, Aku mungkin saja tidak bisa mendominasinya.

Undead domination dianggap sebagai tindakan penyerangan. Jika sosok yang ada di hadapannya terhubung dengan para yuriniggers itu, sangat mungkin Momonga akan berakhir dengan melawan  semua yuriniggers yang ada di kota. Meskipun dia tidak perlu khawatir tentang itu, jika sosok itu adalah seorang Player, dia mungkin akan berakhir dengan membuat musuh yang lebih berbahaya.

Momonga mendarat di depan sosok itu. Sosok itu kebetulan melihat ke belakang dan bertabrakan dengan Momonga. Dampak tabrakannya sangat ringan, dan itu tidak ada artinya bagi Momonga. Tetapi sosok kecil itu tidak dapat menahan dampaknya dan jatuh dengan kedua pantatnya ketanah.

Dia samar-samar bisa melihat rambut pirang dibalik tudungnya.

“…Selamat malam. Malam ini benar-benar penuh bintang.. ”

“Eeee …”

Sosok itu tidak menjawab salam Momonga. Yang bisa dia dengar hanyalah nafas yang tiba-tiba.

Apakah mereka tidak dapat bicara, atau apakah mereka tidak mengerti bahasa Jepang? Tanpa memiliki informasi yang cukup untuk menarik kesimpulan, Momonga lanjut berbicara.

“Aku minta maaf untuk ini, tapi aku cukup bingung saat ini. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan kepadamu. Apakah boleh?”

Pihak lain mungkin adalah Player seperti Momonga, yang berarti bahwa usia mereka yang sebenarnya dan penampilannya mungkin tidak cocok. Dengan pertimbangan itu, Momonga mengajukan pertanyaan dengan sopan. Tentu saja, dia tidak lupa menundukkan kepalanya untuk menunjukkan bahwa dia sedang membuat salam.

Momonga menatap dengan pupilnya yang merah ke balik kerudung itu.

Apakah mereka berpakaian seperti anak kecil? Atau apakah dia  penghuni dunia ini? Lagipula dia tidak terlihat seperti NPC … hm?

Momonga secara tidak sadar mengingat Great Underground Tomb of Nazarick dan NPC yang telah berlutut di depannya. Apa yang terjadi pada mereka? Yang dia tahu, dia mungkin telah kehilangan tempat yang indah, yang dia bangun bersama teman-temannya.

Namun – Momonga menggelengkan kepalanya.

Saat ini, dia tidak memiliki waktu luang untuk merenungkan hal-hal seperti itu.

Momonga mengamati orang yang ada di hadapannya, berhati-hati agar tidak memandang mereka dengan cara kasar.

Dia adalah seorang gadis muda yang cantik, usianya mungkin lebih dari  10 tahun. Matanya, yang melebar karena terkejut, berwarna merah tua.

Apa yang dipikirkannya saat ini adalah jubah berkerudung itu, dilihat dari dekat, hanya sepotong kain yang diikat dengan tali. Tentunya hanya undead yang akan mengikat sesuatu dengan begitu ceroboh di leher mereka.

Pakaian dibalik jubah itu compang-camping dan sudah berubah warna disebabkan kotoran dan pasir. Itu tampak seperti pakaian wanita, tetapi lengannya yang longgar diikat dengan tali, dan sesuatu yang tadinya rok diikat ke dalam sesuatu yang tampak seperti sepasang celana. Itu benar-benar pakaian yang dirancang agar bermanfaat atau praktis daripada menarik.

Meskipun dia tidak tahu bagaimana tubuh kurusnya bisa mencium semacam bau, gadis ini tidak memiliki bau busuk sama sekali, seperti yuriniggers lainnya. Mungkin kurangnya bau badan meskipun pakaiannya berantakan karena undead tidak memiliki proses metabolisme.

“… Aku katakan lagi, aku memiliki beberapa hal yang ingin aku ketahui. Aku rasa itu tidak masalah kan? Ahhh, aku minta maaf, ”ucap Momonga sambil mengulurkan tangan kurus padanya. Namun, gadis yang duduk di tanah tidak menunjukkan tanda-tanda akan memegangnya. Apakah dia masih takut padanya?

“Kalau begitu, kau tidak keberatan jika aku bertanya, benar?”

Gadis itu mengangguk.

Momonga sedikit terkejut ketika dia melihat bahwa dia dapat berkomunikasi secara normal dengan bahasanya. Karena mereka dapat berinteraksi secara verbal, apa itu artinya dia adalah seorang Player?

“Pertama-tama, ya … Aku … Suzuki Satoru. Bolehkah aku menanyakan namamu? ”

Pupil merah itu tampaknya membentuk diri mereka menjadi lingkaran yang sempurna.

“… Ah, uu … ah … ah …”

Dia berbicara dengan suara yang sangat serak. Dia tidak bisa mengerti apa yang dikatakannya sama sekali.

Apakah itu bukan bahasa Jepang? Apa itu artinya dia penduduk dari dunia lain? Atau tidak, apakah dia seorang Player yang terlalu tenggelam dalam perannya didalam game? Aku tidak terlalu yakin.

Momonga – tidak, Suzuki Satoru membalasnya, dengan hati-hati mengeluarkan ucapannya, seperti seorang pebisnis.

“Aku dengan tulus meminta maaf. Sepertinya suaramu agak lembut. Bisakah aku merepotkanmu untuk mengulanginya?

“… Ah, uu … ah … ah …”

Bagaimanapun juga, itu sama seperti sebelumnya.

“Apakah namamu Ahuuahah? Nama yang aneh … hm? ”

Gadis itu menggelengkan kepalanya. Sekarang dia lebih yakin – dia pasti mampu memahami bahasa Jepang.

“Bukan? Kalau begitu, mungkinkah kau tidak bisa berbicara? ”

Dia menggelengkan kepalanya sekali lagi.

Gadis itu berusaha sebisa mungkin untuk menyuarakannya, tetapi Suzuki Satoru tidak dapat menguraikan makna dari tanggapannya.

“Kalau begitu, izinkan aku mengubah topiknya. Apakah kau seorang Player? ”

Ekspresi bingung muncul di wajah gadis itu.

“Jadi kau bukan Player? Aku mengerti. Kalau begitu, orang tuamu … ”

Namun ditengah-tengah itu, Suzuki Satoru tiba-tiba ingat bahwa dia adalah undead. Tidak mungkin dia memiliki orang tua. Namun, reaksi gadis itu agak aneh.

Dia menundukkan kepalanya, dan menggelengkannya.

Itu adalah tanggapan yang menunjukkan bahwa dia pernah memiliki orang tua, tetapi sekarang tidak lagi.

Apa yang harus aku lakukan?

Kalau begini, haruskah dia pamit dan pergi? Namun, dia adalah sumber informasi yang berharga. Itu akan sia-sia.

Suzuki Satoru memandangi gadis itu yang membuat suara-suara aneh dan jatuh ke dalam perenungan. Saat itu, dia mendengar suara yang sangat lembut.

“–Tidak –srith Inbe–”

Kata-kata yang diulanginya akhirnya menjadi cukup jelas untuk dipahami oleh Suzuki Satoru.

“Namaku Keeno Fasrith Inberun.”

Itulah nama gadis itu.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded