Overlord Volume 12 Chapter 2 part 1

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Scraba 
  • Editor : Entoma V. Zeta

Mencari Pertolongan

Gadis sendirian berjalan di jalanan Kingdom. Tidak ada yang menarik dari dia, tidak ada kecantikan untuk membuat orang memperhatikannya dua kali. Tetapi, dia masih menjadi pusat perhatian, meski dalam arti negatif.

Matanya yang hitam kecil penuh dengan kebencian menatap kedepan, memberi kesan bahwa dia terus-menerus melotot pada orang lain, sementara lingkaran hitam di sekitar matanya membuat orang berpikir bahwa dia adalah tipe wanita yang bergaul dengan penjahat di lorong yang kumuh.

Hal ini hanya ketika berjalan di antara orang banyak saja, tapi begitu sampai di gerbang kota dan tempat-tempat lainnya, dia akan mendapat pengawasan dan penyelidikan intensif dari pihak berwenang setempat.

Gadis itu, Neia Baraja, menatap langit. Pusat dari musim dingin yang telah berlalu, tapi musim semi sudah lama datang. Neia menghela napas lelah, lalu mengikuti indera tajam yang diwarisi dari orang tuanya dan berjalan menuju sebuah penginapan. Alasan mengapa dia harus begitu waspada bahkan di kota adalah karena dia merasakan perasaan dikucilkan yang kuat sejak dia memasuki kota ini.

Tentu, itu tak lebih dari imajinasi dari seorang gadis. Lagi pula, saat dia mengenakan jubah dengan tudung yang dimenutupi kepalanya, tidak ada cara untuk mengatakan apakah dia orang asing atau tidak. Tetapi, dia tidak salah menilai hawa kesuraman yang dia rasakan. Dia mengintip orang yang lewat dan melihat wajah mereka tertekan dan langkah kaki mereka berat. Sepertinya mereka merasakan musim dingin yang suram.

Dalam keadaan normal, dia mungkin mengira itu karena cuaca mendung. Tetapi, perasaan terjebak – atau mungkin kesedihan yang tidak diketahui – yang dia rasakan di sini, di ibukota Re-Estize Kingdom, seharusnya berasal dari hal lain. Mungkin itu karena mereka baru saja dikalahkan dalam peperangan.

Tetapi, dibandingkan dengan orang-orang di Holy Kingdom, mereka seharusnya lebih bahagia. Meskipun wilayah teluk bagian selatan dari Holy Kingdom masih relatif aman, namun daerah utara sekarang sudah seperti neraka. Bagi prajurit pembebasan – terbentuk dari sisa-sisa prajurit Holy Kingdom Utara – dan baginya, yang datang ke sini sebagai anggota rombongan duta besar, hal itu terasa kurang menyenangkan.

Semakin dia memikirkannya, semakin dia merasa murung, dan Neia menggapai pinggangnya, untuk menenangkan dirinya. Sensasi dingin dari baja mengalir di tangannya. Itu adalah pedang yang dibawanya, dihiasi dengan crest ordo ksatria Holy Kingdom, yang menjadi bukti identitasnya.

Biasanya, pedang paladin akan ditingkatkan dengan sedikit magic, tapi miliknya tidak. Itu karena ini adalah senjata dari jenis yang diberikan untuk prajurit yang sedang menjalani pelatihan. Setelah menyelesaikan latihannya dan proses Pensucian barulah secara resmi dia diangkat sebagai paladin, dan pedangnya akan diisi dengan magic.

Itulah salah satu ritual yang terkandung dalam pengenaan mantel paladin. Dan itu sedikit lebih tajam dari lempeng baja yang ditajamkan. Sampai dia resmi menjadi paladin, senjata yang dia pakai itu masih merupakan senjata pribadi yang akan menemaninya berlatih bertahun-tahun.

Orang lain tidak bisa menyalahkannya karena membiasakan mengelus-elus pedangnya saat dia merasa gelisah. Sensasi dari pedang kesayangannya menenangkan hati Neia, dan dia mendesah pelan.

Lalu dia membuka jubahnya dan mempercepat langkahnya. Kakinya tertahan setiap kali dia berpikir bahwa dia harus melaporkan kabar buruk. Tetapi, karena dia tidak menyukai hal-hal seperti itu sehingga dia harus bergerak cepat, untuk menyelesaikan ini sesegera mungkin.

Jika tidak, dia harus terus menahan perasaan tidak menyenangkan di hatinya. Akhirnya, penginapan di mana rombongan duta besar mereka tinggal muncul dihadapannya. Itu adalah penginapan yang sangat mencolok, dikatakan bahwa termasuk di antara lima besar di Kingdom. Wajar saja, harga yang dibebankan setinggi peringkatnya.

Saat memikirkan keadaan tragis dari tanah airnya, Holy Kingdom, dia tidak bisa tidak merasa bersalah atas bagaimana dia bergelimang dalam kemewahan seperti itu sementara orang-orang sebangsanya sedang menderita. Sebenarnya, komandan wanita dari rombongan duta besar menentang tinggal di sini justru karena perilaku mewahnya.

Dia merasa bahwa mereka harus mengurangi pengeluaran mereka dalam perjalanan ini dan menggunakan sisa uang di tempat lain. Tetapi, pendapatnya ditolak, karena saran dari seorang pria yang merupakan asisten komandan.

“Sebagai wakil dari Holy Kingdom, jika kita tidak menginap di penginapan yang tepat, orang-orang yang melihat kita mungkin berpikir bahwa Holy Kingdom adalah Kingdom yang akan segera bangkrut dan hancur. Oleh karena itu, kita harus tinggal dipenginapan yang bagus untuk menunjukkan bahwa negara kita masih kuat.”

Logika asisten komandan tidak terbantahkan. Tidak ada orang lain dalam kelompok yang bisa menyangkalnya. Tetapi, komandan mereka terbawa emosi dan tidak dapat menerima usulan itu, dan dia dengan keras kepala menolak untuk mengikutinya. Setelah perseteruan yang lama, akhirnya dia diyakinkan oleh semua anggota utusan lainnya untuk dengan enggan memilih penginapan ini.

Tetapi, semua orang mengerti bahwa dana mereka untuk perjalanan ini sangat terbatas, jadi mereka tidak dapat mengeluarkan biaya yang tidak perlu. Untuk menyelesaikan tugas mereka sesegera mungkin, bahkan Neia, seorang squire (pengawal), telah terikat untuk menjalankan misi. Tujuan kunjungan rombongan duta besar ke Kingdom tidak lain adalah untuk mendapatkan bantuan bagi Holy Kingdom.

Oleh karena itu, Neia dan anggota utusan lainnya berkeliling mencoba mengadakan pertemuan dengan para orang yang berpengaruh di Kingdom. Siapa pun bisa membuat janji, bahkan bagi seorang squire. Tidak ada masalah dengan pemikiran dari komandannya.

Tetapi, Neia adalah satu-satunya squire di antara utusan tersebut. Yang lainnya adalah paladin sejati. Bahkan jika dia membuat janji, apa yang akan dipikirkan pihak lain di masa depan ketika mereka mengetahui bahwa mereka mengunjungi Kingdom dengan paladin, tapi mereka hanya mengirim seorang squire kepada mereka? Tentunya mereka akan merasa tidak senang. Bahkan Neia pun tahu itu.

Tetapi, meski dia memprotesnya, perintah yang diturunkan kepadanya tidak berubah. Sebagai squire, hanya sedikit yang bisa dia katakan. Sepertinya, Neia belum menyerah karenanya. Jika itu adalah kegagalan atas dirinya sendiri, dia bisa dengan senang hati menerimanya. Tetapi, melakukan hal tersebut dapat menyebabkan Holy Kingdom yang terluka kehilangan lebih banyak bantuan dari Kingdom.

Neia tidak bisa begitu saja menghilangkan fakta bahwa kegagalannya bisa menyebabkan lebih banyak orang dari bangsanya akan menjadi korban,
” Ya saya mengerti.”
Tetapi, fakta bahwa seorang pengawal harus segera bergegas beraksi tanpa menunggu perintah hanya membuat sang komandan semakin tidak senang.

Dia sepertinya berpikir bahwa semuanya salah Neia. Untungnya, asisten komandan berhasil menyelesaikan semuanya, tetapi komandan utusan tersebut memiliki kesan buruk terhadap Neia sekarang. Neia dipilih untuk rombongan duta besar ini semata-mata karena indranya yang tajam, yang akan menjamin keselamatan mereka di daerah jalanan ini.

Dia ingin mereka tidak mengharapkannya untuk berkontribusi dalam hal lain. Tapi tidak seperti Aku bisa mengatakan itu … Neia menatap ke langit dan mendesah
“Haaah”.
Kemudian, dia melihat saat kabut putih yang dia hirup melayang perlahan di udara dan lenyap. Saat memikirkan sambutan tidak senang yang menunggunya di penginapan, perutnya mulai menegang.

Bangsawan yang harusnya Neia temui bukanlah orang yang sangat penting – dia tidak berperingkat tinggi di Kingdom – jadi karena tidak bisa membuat janji dengan dia bukanlah sebuah kemunduran yang besar, tapi meskipun demikian, komandannya akan memarahinya.

… Biasanya, jika kamu ingin bertemu dengan seseorang yang penting dengan segera, mereka masih memerlukan waktu untuk menyelidiki sejarah mu dan belajar lebih banyak tentangmu. Jadi secepatnya kamu akan bisa mengadakan pertemuan dalam waktu seminggu.

Menurut instruksi komandan kami, kami akan meninggalkan Ibu kota Royal Capital dalam beberapa hari … komandan kami, huh … Komandan mereka sekarang adalah orang yang muram. Dia tidak terlihat seperti bisa mengendalikan emosinya. Dulu, dia tidak seperti itu. Neia tahu itu. Dia adalah orang yang ramah … atau orang yang cuek, jika seseorang tidak bersikap sopan.

Tetapi, sejak pertempuran di mana mereka kehilangan Holy Queen, terjadi perubahan dramatis dalam kepribadiannya.
“… Pekerjaan yang tidak memuaskan, huh.”

Bagaimanpun tidak masuk akalnya teguran dari komandannya, semua yang bisa dia lakukan sebagai seorang squire adalah menundukkan kepalanya dan menerimanya dalam diam.

Meski begitu, hal ini tidak seberapa dibandingkan dengan bagaimana orang-orang yang masih hidup di Holy Kingdom sedang berjuang. Yang harus dia lakukan hanyalah menundukkan kepalanya dan menghadapi badai. Setelah menyelesaikannya – betapapun rapuh dan lemahnya
– Neia pun sampai di depan penginapan.

Dia menarik napas dalam-dalam, menarik kembali tudungnya, dan kemudian membuka pintu mewah penginapan itu. Seperti yang diharapkan dari sebuah penginapan kelas tinggi, dia tidak masuk ke ruang duduk, tapi sebuah ruangan kecil. Sepertinya sudah dirancang bagi para tamu untuk membersihkan kotoran dari alas kaki mereka.

Tetapi, tempat yang akan dia tuju ada di sebuah wilayah kelas atas, persis seperti penginapan ini, dan jalannya telah diaspal dengan batu. Tidak ada hujan, jadi tidak ada yang perlu dilepas. Karena itu, Neia kemudian membuka pintu di depannya.

Hembusan udara hangat membasahi tubuhnya. Setelah masuk, penjaga pintu menutuppintu setelahnya, ada bar di sebelah kanannya, dan tangga di sebelah kirinya. Di samping mereka ada sofa yang digunakan untuk menerima tamu. Tidak ada alat pemanas di dalam ruangan.

Tetapi, kenyataan bahwa masih ada perbedaan suhu meski ketidakhadiran mereka mungkin karena adanya magic item. Magic caster di Holy Kingdom pada umumnya adalah priest, dan sementara mereka bisa membuat beberapa magic item, beberapa dari magic item yang berharga dibuat untuk meningkatkan daya hidup.

Dalam hal ini, Kingdom lebih hebat dari Holy Kingdom. Kalau begitu, seberapa maju Empire, yang pernah disebut ayahnya? Meskipun dia mungkin tidak pernah memiliki kesempatan untuk kesana dalam hidupnya, Neia masih memiliki rasa kekaguman yang samar pada Empire.

Biasanya, seorang gadis desa hanya bisa melihat desa sepanjang hidupnya. Seorang warrior yang tidak berbakat seperti Neia mungkin menghabiskan seluruh hidupnya untuk melayani negaranya dan tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengunjungi negara lain. Kalau begitu, sepertinya kesempatan untuk bepergian ke luar negeri bagaikan lempeng perak yang redup di kegelapan awan yang suram (Sulit untuk terjadi).

Pikiran-pikiran ini melintas di kepala Neia saat dia menaiki tangga, menuju ruangan di lantai dua tempat utusan menginap. Orang-orang di penginapan itu sepertinya teringat wajah Neia, karena tidak ada yang menganggapnya sebagai orang asing dan menghentikannya.

Mengingat masalah biaya, hanya komandan dan asisten komandan yang seharusnya tinggal di sini; anggota lainnya harus tinggal di penginapan yang lebih murah. Tetapi, mengeluarkan sedikit biaya seperti itu mungkin membuat pihak lain berpikir bahwa tidak ada masa depan bagi Holy Kingdom.

Pada akhirnya, asisten komandan berhasil meyakinkan komandan mereka dari kebijaksanaan kata-katanya. Neia sampai di pintu kamar atasannya dan mengetuk pintu, lalu membuka sedikit. Di dalamnya ada paladin yang ditempatkan di dalam ruangan untuk keamanan. Orang yang mereka jaga adalah paladin terkuat di Holy Kingdom, yang juga komandan rombongan duta besar mereka. Dalam hal ini, akan lebih banyak pengikut daripada pelindung.

Dengan logika itu, bukankah lebih bijaksana jika dirinya ditinggal? Neia tahu lebih baik jika membiarkan mulutnya terbuka akan membuat dirinya bermasalah, jadi dia tidak akan pernah mengungkapkannya.

“Neia Baraja, melapor.” Saat pintu terbuka, dia masuk ke kamar. Di depannya ada sebuah ruangan besar. Ada meja panjang di tengah, tempat Kapten duduk.

Kapten Remedios Custodio dan Wakil Kapten Gustav Montanis keduanya duduk di sana. Dan dari tujuh belas anggota utusan mereka, lebih dari separuh dari mereka berdiri tegak di sepanjang dinding. Dia menyelinap mengintip dokumen yang ditumpuk di atas meja di depan mereka. Kebanyakan dari dokumen itu telah dicoret.

“Kapten. Neia Baraja ada di sini untuk menyampaikan laporannya.” Dia membusungkan dadanya, menyesuaikan postur tubuhnya, dan menyebutkan namanya.
“- Bagaimana tanggapan mereka?”
“Saya mohon maaf. Mereka menolak karena kekurangan waktu. Mereka bilang mereka paling tidak membutuhkan waktu dua minggu.”
“Chih.” Remedios mengeklik lidahnya. Perut Neia terasa sesak.

Apakah dia mengungkapkan ketidaksenangannya pada Neia, atau kepada para bangsawan yang telah menolaknya? Meski ada dua kemungkinan seperti itu, dia tidak berani mengklarifikasi hal yang menakutkan seperti itu.

“Benarkah. Terima kasih telah bepergian di tengah-tengah udara yang dingin. Kembali ke kamarmu dan istirahatlah. “
“Siap!” Neia mendengus lega pada perkataan Gustav. Sementara dia ingin segera pergi, Remedios memanggilnya dan menghentikannya.
“…Aku ingin bertanya sebelumnya, tapi apakah Kamu benar-benar mengatakan kepada mereka bahwa kita ingin segera membuka negosiasi?”
“–Ah? Mm! Iya! Saya mencoba bertanya kepada mereka, tapi sayangnya mereka bilang tidak…”
“Jadi bukan karena kegagalanmu, begitu?”

“Ah, itu, itu -” Itu tidak benar, dia ingin mengatakannya, tapi siapa yang berani mengatakannya? Selain itu, dia sudah tahu bahwa dia tidak akan bisa melepaskan diri dari teguran ini tidak peduli bagaimana dia menjawabnya.

“…Kapten. Bukan hanya seorang bangsawan yang dimintanya lalu menolak. Para bangsawan lainnya menolak permintaan pertemuan dengan cara yang sama. Di antara mereka ada beberapa bangsawan yang menunjukkan bahwa mereka tidak dapat memberikan bantuan kepada Holy Kingdom, tapi siapa yang ingin berbicara demikian.”Remedios melotot pada Gustav, yang tampaknya telah berbicara untuk menghentikan pembicaraan mereka.

Tidak ada kata-kata yang berlalu di antara mereka, tapi ketegangan terbentuk di udara.
“–Neia Baraja.”
“Ya!” Dia masih terus saja melototi Neia. Meskipun Neia merasa merendahkan bahunya dalam kekalahan, dia tidak mengungkapkannya secara langsung, malah menanggapi dengan nada malu-malu.

Gustav sekarang telah bergerak di antara mereka berdua, tapi Remedios menghiraukannya dan terus melotot pada Neia.

“Sementara kita membuang-buang waktu di sini, banyak dari orang-orang kita dibantai oleh para demihuman yang dipimpin oleh Jaldabaoth. Selain itu, empat kota besar telah jatuh, selain kota dan desa yang tak terhitung jumlahnya.”

Keempat kota tersebut masing-masing: ibu kota Hoburn, yang bertempat di Katedral Agung yang dianggap sebagai kuil tertinggi dari kepercayaan Holy Kingdom. Kota pelabuhan Rimun, yang terletak di sebelah barat ibukota. Kota benteng Kalinsha, yang paling dekat dengan tembok, dan yang pertama diserang oleh demihuman. Dan kemudian ada Poland, kota antara Kalinsha dan Hoburn.

Dengan kata lain, sebagian besar kota besar di utara sekarang berada di bawah kendali gerombolan demihuman Jaldabaoth.
“Dan mereka telah menangkap banyak tawanan, yang telah ditahan di kamp-kamp yang terbuat dari desa-desa dan kota-kota yang direbut. Hanya dengan menyaksikan makhluk yang di sana cukup untuk membuat orang merinding.”
“Ya!”

Kamp-kamp itu dikelilingi tembok, dan tidak ada seorangpun yang menyaksikan apa yang terjadi di dalam karena tidak ada yang berhasil menyusup ke dalamnya. Tetapi, rumornya mengatakan bahwa mereka dijaga oleh demihuman. Orang-orang yang telah menyelidiki sedekat mungkin mengatakan bahwa mereka bisa mendengar erangan dan jeritan kesakitan dari dalam.

Yang lebih meyakinkan adalah kenyataan bahwa tidak ada yang merasa Jaldabaoth, sebagai pemimpin Demon, akan memberikan perlakuan manusiawi kepada tahanan manusianya.

“Jadi mengetahui semua itu, kau masih kembali dengan hasil seperti ini? Apakah kau mencoba dengan sebaik mungkin? Biasanya kau punya sesuatu untuk ditunjukkan jika kau sudah melakukannya, bukan?”

“Ya! Saya mohon maaf sedalam-dalamnya!” Memang, dia benar. Remedios benar. Tetapi pikiran yang muncul di hati Neia menolak untuk menerimanya.

Dalam hal itu, apa gunanya Kapten ordo paladin Holy Kingdom jika dia gagal menyelamatkan tawanan mereka? Dia sangat ingin membalas dengan kata-kata itu. Tetapi, sebagai squire Holy Kingdom, dia tidak mungkin mengatakan hal seperti itu.

“Karena kamu merasa bersalah, rencana apa yang akan kamu lakukan? Apa yang bisa kamu lakukan untuk menunjukkan hasil yang konkret?” Neia bingung mendengar kata-kata itu.

Di hatinya, Neia hanyalah warga biasa Holy Kingdom. Dia tidak memiliki gelar mulia, kekuasaan atau kekayaan. Dia bahkan bukan seorang paladin, hanya seorang squire. Tidak ada yang Neia bisa lakukan, untuk menawarkan bangsawan Kingdom agar menarik mereka. Dalam hal ini, yang bisa dia lakukan hanyalah –
“Saya akan bekerja lebih keras.” – pikirnya.
Tetapi, tampaknya jawaban itu tidak sesuai dengan persetujuan Remedios.
“Saya bertanya bagaimana kamu ingin bekerja lebih keras. Usaha yang sia-sia adalah– “
“–Kapten.” Gustav menyela Remedios saat dia akan mulai mengatakan sesuatu.

“Mengapa tidak biarkan saja hal ini sekarang? Lagi pula, ini sudah saatnya kita memulai persiapan kita, bukan? Anggota Blue Rose yang terhormat akan segera hadir. Jika kita terlalu lama menyambut mereka, kita akan mengecewakan mereka, bukan?”

“Benar. Squire Baraja!!! bekerjalah lebih keras dan tunjukkan sesuatu padaku lain kali.” “Dimengerti!” Remedios membuat gerakan mengusir dengan tangannya.

Dengan kata lain, dia berkata cepat dan bergegaslah.
“Saya minta maaf, Kapten Remedios!” Meskipun dia lelah, Neia berteriak “baiklah!” dan gemetar karena sukacita saat dia meninggalkan ruangan. Tetapi, sekutunya yang sekarang berubah menjadi musuh yang paling mengerikan dalam sekejap.
“Kapten, bolehkah dia hadir saat Blue Rose tiba?” Kata-kata Gustav membuat penglihatan Neia berkobar sekilas. Tetapi, ini adalah topik yang melibatkannya, karena dia adalah seorang squire.

Remedios menatap ajudannya. Hal ini berbeda dengan saat dia menatap pada Neia. Matanya yang peduli membuatnya tampak seperti wanita yang telah berubah kepribadiannya, dan hampir membuatnya bingung.

“Benarkah? Jadi, kalau kamu bilang begitu … tapi kenapa?”
“Alasan utama untuk membawanya sebagai squire adalah karena dia memiliki indera yang luar biasa. Sepertinya ada hal-hal mungkin yang hanya bisa dia sadari.”

Banyak paladin dan squire telah tewas dalam pertempuran dengan Jaldabaoth, tetapi beberapa di antaranya selamat. Meski begitu, alasan dia dipilih untuk menemani kelompok mereka justru karena inderanya. Sementara paladin adalah pejuang yang sangat baik, mereka hanya sedikit berbeda dari rata-rata orang biasa dalam hal lain.

Dalam misi ini, mungkin akan butuh seseorang untuk bisa merasakan yang tak terlihat, melihat musuh pada jarak yang jauh, menyusup ke jalur pertahanan dan melakukan tugas lain, yang berarti bahwa akan ada kebutuhan untuk memiliki rekan yang mampu menguasai seperti skill pengintaian.

Dalam keadaan normal, seseorang akan memanggil petualang atau pemburu, tapi kebanyakan mereka sudah mati, dan sisanya telah melarikan diri ke selatan atau ke negara lain. Oleh karena itu, dengan kandidat yang tidak memenuhi syarat untuk dipilih, Neia pun terpilih. Walaupun dia tidak lebih hebat dari ayahnya, dia merasa bangga dengan fakta bahwa indranya lebih tajam daripada mereka yang hanya dilatih sebagai paladin.

Dia sangat senang karena bakatnya bisa melayani negaranya, tapi perasaan itu terus-menerus hilang. Sekarang, dia mulai membenci kenyataan bahwa dia telah terpilih.
“Benarkah? … Baiklah, jika kamu berpikir begitu, lakukanlah. Saya setuju.”
“Terima kasih banyak, Kapten.”

“…Squire Baraja. Seperti yang baru saja kami katakan, kamu akan tetap berada di sudut ruangan dan mendengarkan pembicaraan kami. Jika terjadi sesuatu, beritahu kami. …Sekarang kembali ke kamarmu dan segarkan dirimu sebelum kembali.”
“Siap!” Akhirnya, pikir Neia, tapi kemudian Gustav mengikutinya tepat saat dia pergi.

Setelah mereka meninggalkan ruangan, dia berbicara pelan kepadanya.
“Saya minta maaf tentang Kapten.” Neia berhenti, berbalik, dan kemudian dia menyuarakan keraguan yang selama ini tersimpan di hatinya.
“… Apakah saya melakukan sesuatu yang membuat Kapten marah? Maksud saya, saya pernah mendengar bahwa pertempuran di mana kita kehilangan kota mengubah dia sepenuhnya, jadi apa sebenarnya yang terjadi?”

“… Banyak paladin mati dalam pertempuran dengan Jaldabaoth, termasuk Holy Queen-sama dan saudari perempuan Kapten.” Aku tahu itu. Tapi apa? Hal yang sama juga terjadi pada Neia. Baik ayah dan ibunya sudah meninggal. Orang seperti ini hampir tidak biasa di seluruh Holy Kingdom. Tentu saja, dia sebenarnya tidak bisa mengatakannya.

“Tanpa ada tempat untuk melampiaskan kesedihan dan kemarahan yang dia rasakan dari itu, Kapten memilih untuk menempatkannya padamu. Aku pikir alasan mengapa dia tidak melakukannya pada kami paladin adalah karena kami berjuang dan menderita bersamanya.” Apa, Neia menggerutu dalam hatinya.

Dengan kata lain, semua ini karena Neia tidak ambil bagian dalam pertempuran itu. Ini tidak berbeda jauh. Setengah dari rekan-rekan Neia sesama squire telah melakukan perjalanan ke kota yang sama dan banyak dari mereka berakhir sebagai korban jiwa. Alasan mengapa Neia tidak berada di setengah itu adalah karena keberuntungannya, dan bukan karena pilihan yang dibuat Neia.

“Izinkan juga aku mengatakan ini: tolong tahanlah itu. Saat ini, Kapten adalah orang yang tak tergantikan untuk Holy Kingdom.”

“… Bahkan jika dia membawa kemarahannya pada orang lain dan membuat mereka merasakan waktu-waktu yang sulit, begitu?”
“Benar.” Gustav menatapnya dengan tatapan sedih di matanya.

Kemarahan melintas di sekujur tubuhnya. Dia ingin berteriak. Neia tahu wanita itu kuat, tapi tetap saja, Neia juga telah melakukan bagiannya untuk mengawalnya ke Kingdom dengan aman. Dia menyadari adanya demihuman dan dia lebih waspada daripada orang lain saat mereka berkemah di malam hari.

Neia memiliki peran dalam rombongan duta besar ke tempat tujuan mereka. Karena itulah, Neia tidak merasa dirinya kurang berharga dari wanita itu. Tetapi, Neia membatalkan perasaannya ketika sudah bergejolak. Dia harus menanggung ini demi orang-orang yang menderita di Holy Kingdom.

Membiarkan salah satu dari mereka bertengkar, akan memperpanjang ratapan orang-orang yang tak terhitung jumlahnya, merupakan tindakan terbodoh yang bisa dibayangkan. Selain itu, dia akan bebas dari tugas ini begitu dia kembali ke negara tersebut. Jadi, yang harus dia lakukan hanyalah menahannya beberapa saat lagi. Neia tersenyum dan mengangguk.

“Dimengert. Jika demi Holy Kingdom, saya akan menahannya dengan senyuman.”

Blue Rose tiba di penginapan tidak lama setelah Neia kembali dari kamar. Neia menunggu, di antara paladin yang berdiri tak bergerak di dekat dinding. Segera, pintu itu terbuka, dan sekelompok orang masuk. Meskipun mereka bukan orang yang sangat terkenal, reputasinya masih sangat baik di Holy Kingdom, dan itu membuat jantung Neia berdebar kencang.

Mereka adalah wanita-wanita yang telah naik ke puncak yang tidak dapat dirinya jangkau . Secara pribadi, dia ingin bertanya kepada mereka segala macam pertanyaan. Sepertinya, dia tidak bisa melakukan hal seperti itu.

Mereka adalah … salah satu dari tiga kelompok petualang peringkat Adamantite di Kingdom. Blue Rose … mereka mengagumkan … Sementara dia mendengar deskripsi dan nama mereka dari rumor, ini adalah pertama kalinya dia melihat mereka secara langsung.

Ada perbedaan yang cukup besar antara bagaimana dia membayangkan mereka dari cerita dan bagaimana mereka yang sebenarnya. Yang berdiri di depan mereka adalah komandan Blue Rose. Dia adalah seorang priest yang memiliki simbol suci Dewa Air, the wielder of the demonic blade (pengguna pedang Demon), Kilineyram – Lakyus Alvein Dale Aindra. Wajahnya yang indah itu sedemikian rupa sehingga bahkan sesama perempuan pun terpesona oleh mereka, dan sulit dipercaya bahwa dia adalah petualang kelas atas.

Jika dia mengenakan gaun, dia akan menjadi gambaran seorang putri pada umumnya seperti yang dibayangkan Neia. Wanita cantik itu berbicara dengan suara lembut yang sesuai dengan semua fantasi Neia tentang dirinya.

“Terima kasih atas undangannya. Kami adalah Blue Rose.”

Remedios, yang berdiri menyambut mereka, mengangguk sedikit untuk mengungkapkan rasa syukurnya.

“Saya tidak bisa cukup hanya dengan berterima kasih untuk dapat menerima undangan kami, anggota terhormat Blue Rose.”
“Kami adalah orang-orang yang merasa terhormat menerima undangan dari paladin yang mengenakan pedang suci dan memiliki skill yang sesuai, Remedios Custodio-sama.”

Pembicaraan mereka memperlihatkan cara bicara Remedios yang sederhana dan agak kaku lalu membedakannya dengan Lakyus. Cara berbicara yang alami. Sepertinya dia benar-benar putri bangsawan.

“Ah, sayalah yang seharusnya senang bertemu dengan pemegang pedang Demon seperti Anda sendiri. Ahem. Silahkan duduk. Orang-orang di sekitar kami semua adalah paladin Holy Kingdom. Akan baik jika kami semua bisa mendengarkan. Erm, jika ada waktu setelah itu, saya sangat ingin melihat pedang setan itu.”

“Dengan senang hati, dan kesempatan untuk menyaksikan pedang suci Anda akan menyenangkan saya yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.

“Selanjutnya, sebagai tuan rumah kami mempersilahkan duduk untuk semua orang.”

Anggota Blue Rose masing-masing duduk dengan cara mereka sendiri. Beberapa dari mereka sudah melipat tangan mereka dan meraih siku mereka. Dengan skill mereka, Neia bertanya-tanya apakah mereka selalu seperti itu atau apakah mereka telah mempelajarinya sepanjang jalan.

“Haruskah kami memperkenalkan diri?” Jawab sang kapten, mungkin untuk meringankan Remedios.

“Tidak, tidak perlu untuk itu. Berita tentang penaklukan Anda telah terdengar sampai Holy Kingdom. Ah, dan meskipun agak terlambat untuk ini, saya adalah wakil kapten ordo paladin, Gustav Montanis.”

Lakyus tersenyum lembut menanggapi jawaban Gustav.
“Benarkah. Alangkah baiknya jika berita itu sanjungan. “
“Ah–“

“–Iya. Kami tidak pernah mendengar apa-apa selain hal baik tentang Anda. Sebenarnya, sulit bagi saya untuk menyembunyikan kegembiraan saya atas penaklukan heroic Anda-.”
Sepertinya Remedios ingin mengatakan sesuatu, tapi Gustav telah menyela dia. Setelah itu, dia tersenyum kepada Lakyus seperti tidak ada masalah.

“Betapa menyenangkan. Meskipun saya ingin bertanya tentang rumor macam apa, kami berada di sini hari ini untuk menerima permintaan. Bukan niat kami untuk membuang waktu berharga klien kami. Karena itu, mari kita bahas secara khusus permintaan ini.”
“Mhm. Sebelum itu, saya ingin menanyakan nama gadis itu -“

Neia langsung ketakutan saat menyadari salah satu twin thieves (Pencuri Kembar) itu tertarik padanya.

Yang lainnya juga menatapnya dengan penuh minat. Mereka berdua sepertinya twin thieves yang dikenal sebagai Tia dan Tina. Meskipun menjadi anggota Blue Rose yang terkenal bahkan di Holy Kingdom, tidak ada rumor atau cerita tentang perbuatan mereka.

Mereka adalah sepasang individu misterius. Dan sekarang orang-orang itu menunjuk padanya. Dia merasa seperti dia tiba-tiba didorong ke atas panggung dari tempat duduk penonton. Pikiran seperti ini telintas dalam pikirannya.
“Gadis itu tidak memiliki tubuh warrior. Berbeda dengan otot tubuh kami. “
“Oi! Apa maksudnya itu!?” Orang yang sempat berbicara adalah Gagaran, pahlawan wanita yang tubuhnya seperti dinding tebal.
“Persis seperti yang saya katakan…. Dia bukan warrior, tidak peduli bagaimana kamu melihatnya. Sekarang ini dia adalah seorang pengawal kami.”
“Oi oi, kamu bisa melatih tubuhmu dengan experience (exp), kamu tahu kan.”
“Jadi kamu akan berubah begitu, Gagaran?” Wajah thieves membatu.
“Jangan kasar, aku merasa kasihan pada gadis itu.”
“Hei! Apakah aku atau kamu sudah penuh dengan kesombongan sejak kamu berlatih denganku ? Oi!”
“Tidak ada yang berubah. Hanya saja hal itu menyakitkan ketika kamu menangkapku dengan kekuatan mentalmu saat aku sedang tidur -“
“-Cukup ributnya kalian berdua … maafkan saya, begitulah keadaan kami.”
“Tidak apa-apa. Namanya Neia Baraja. Dia memiliki indera yang tajam, dan dia memberikan banyak kontribusi selama perjalanan kami di sini. “
“Saya mengerti.” Jawabannya datar dan tanpa emosi, tidak lucu sedikit pun.
“.. Mm. Nah, sepertinya itu salah kami, kami belum membuat kemajuan sama sekali. Jika tidak ada yang keberatan, haruskah kita mulai membahas masalah ini? Juga, tidak ada gunanya berbicara seperti bangsawan, kan? Mari kita lanjutkan, kalau begitu?”
“Evileye,” kata Lakyus dengan nada mencela.

Dia adalah arcane magic caster misterius Evileye. Balutan menutupi wajahnya seperti topeng, dia bisa menggunakan mantra yang kuat, tapi dia tidak pernah melepaskannya dalam kondisi apapun.

Dia memiliki tubuh yang sangat kurus – beberapa rumor mengatakan bahwa dia mungkin berasal dari spesies bertubuh kecil.
“Tidak, tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak ahli dalam hal rumit seperti ini. “
“Kapten… “

“… Kuku. Jadi, pemimpin pihak lain telah memberikan persetujuan mereka – bagaimana dengan kita? Selain itu, begitu mereka membayar biaya yang sesuai, mereka akan menjadi klien kita. Jangan repot-repot memikirkan urusan lain dan mempertanyakan soal uang. Tidakkah lebih baik menyelesaikan kesepakatan lebih cepat lebih baik?” Lakyus menghela napas, dan Evileye melanjutkan, tampaknya mencibir mereka.

“Baiklah, atasan kami juga telah memberi persetujuannya, jadi kami akan memastikan detailnya sebelum kami membicarakan pembayaran? Saya ingin Anda membicarakan tentang orang yang mengacaukan negara Anda, Jaldabaoth? “
“Anda tahu?”

“Oi oi, apa menurutmu kami tidak tahu apa yang dilakukan bangsawan? Kingdom juga memiliki saudagar. Ditambah, Guild petualang juga bertukar informasi. Kabarnya, bagaimana dengan itu? Mau berbagi apa yang kalian tahu juga? Terus terang, kami lebih senang mendapatkan informasi daripada uang.”

“Mm… bolehkah saya membicarakan hal ini dengan Gustav lebih dahulu?”

Evileye melambaikan tangan untuk menunjukkan bahwa mereka harus melanjutkan, dan kemudian Remedios dan Gustav bangkit dan memasuki ruangan sebelah – kamar tidur.

“Kalau begitu, bisakah kita menggunakan botol (Teko) ini?” Gagaran menunjuk ke botol air dan gelas di sekelilingnya saat dia berbicara dengan Neia.
Mengapa aku, Neia resah saat menjawab,

“Silahkan.” Dia ingin memuji dirinya sendiri karena nada sempurna dan tidak membiarkan suaranya bergetar. Setelah Gagaran menuangkan air untuk semua orang, Remedios dan Gustav kembali.

“Kami akan membayar biaya Anda, jadi bisakah Anda memberi tahu kami apa yang Anda ketahui?” Uwah, pikir Neia.

Entah kenapa, dia merasa Remedios, yang mengeluh tentang biaya tinggal di penginapan, tidak akan menyetujuinya. Sementara Gustav sempat mengatakan sesuatu padanya, Neia tidak tahu alasan apa yang dia gunakan untuk meyakinkannya.

“Baiklah, meski saya pikir kami bisa memberi tahu apa yang ingin anda ketahui jika Anda memberi tahu kami tentang keadaan sebenarnya Holy Kingdom sekarang.”

“Tolong biarkan kami membayar biaya yang telah ditentukan.” Gustav segera meletakkan sebuah kantong kecil di atas meja.

“Mm, oi.” Evileye menyentakkan dagunya ke salah satu Thieve (twin thieves). Menanggapi hal itu, dia dengan cepat mengulurkan tangan dan menyambar kantong itu, melemparkannya ke atas dan ke bawah dengan lembut di tangannya. Lalu dia menangkapnya dan mengangguk pada Evileye.

Dia mungkin mencoba untuk melihat apakah itu berisi sejumlah yang diharapkan dengan sensasi dari melemparkan dan menangkapnya.

“Baik. Lalu saya dan Evileye, akan menjelaskannya mewakili Blue Rose… Meskipun, seperti yang saya katakan tadi, agak tidak realistis jika Anda menuntut semua informasi yang kami miliki tentang Jaldabaoth. Mari kita mulai dengan membicarakan apa yang terjadi di negara kami. Tapi sebelum itu, saya ingin memverifikasi sesuatu dengan Anda. Jaldabaoth Anda terlihat seperti ini, kan?” Evileye mengambil pulpen dan kertas dari samping meja dan mulai menggambar dengan goresan cairan. Tetapi, gambaran yang dia hasilkan hanya bisa dianggap sebagai tulisan kekanak-kanakan (Amburadul/Jelek).

Remedios hendak mengatakan, “Bukan, bukan itu …”sebelum salah satu si kembar menyambar kertas itu dan merobeknya menjadi dua.

“Apa sih yang kamu lakukan!?” Sementara Evileye sangat marah, si kembar lainnya menyambar pulpen saat itu dan menarik dengan cepat selembar kertas baru, lalu menunjukkan Evileye hasil gambarannya.

Evileye bergumam, “Uguu …” dengan nada tidak puas. Sebenarnya, kualitasnya jauh lebih baik daripada gambarnya yang sebelumnya. Penampilannya sangat sulit digambarkan dengan kata-kata. Dia mengenakan pakaian asing dan mengenakan topeng aneh.

Setelah melihat foto itu, Remedios dengan marah mengepalkan tinjunya dan menggeram seperti binatang buas.
“Bajingan Itu.”

Setelah melihat ini, si kembar dan Evileye menghentikan perseteruan mereka dan berbalik menghadap Remdios.

“Baiklah, kami telah membuktikan satu hal, bahwa itu sama – Demon yang sama. Nah, jika demon seperti itu bisa muncul satu demi satu, kita akan berada dalam masalah. Terima kasih banyak, seperti yang mereka katakan. Sekarang–” Evileye kemudian mulai menceritakan kejadian yang telah terjadi di Royal Capital, dan Neia meringis di dalam hatinya.

Dia tahu Jaldabaoth kuat. Dan dia tahu bahwa prajurit demon dan demon bersisik itu ada, jadi dia tidak terkejut oleh mereka. Tapi kenyataan bahwa ada lima demon maid yang masing-masing dapat menghadapi semua tim petualang adamantite itu dengan hebat sehingga meningkatkan rasa putus asanya. Aku pikir tidak ada yang melihat demon maid di Holy Kingdom. Jadi apakah mereka kartu truf Jaldabaoth? Berpikir dia punya sesuatu seperti itu …

“- Lalu, berapa perkiraan Anda tingkat kesulitan Jaldabaoth?” Pertanyaan Gustav menyebabkan Blue Rose saling memandang, tetapi pada akhirnya Evileye masih berbicara mewakili semua orang.

“Biarkan aku menyelesaikan ini dulu, nilai ini hanyalah sebuah dugaan. Mungkin lebih tinggi, mungkin lebih rendah, jadi saya harap Anda mengingatnya. Kami memperkirakan kesulitan demon itu sekitar dua ratus.”

“Dua ratus…” Gustav tersentak. Neia juga hampir tersentak, tapi dia berhasil menahan dorongan itu. Beberapa paladin yang berdiri di dekat dinding tidak begitu berhasil. Remedios adalah satu-satunya yang tetap tenang, ekspresinya tidak berubah. Jika Neia mengingatnya dengan benar, kesulitan seratus monster bukanlah sesuatu yang bisa dikalahkan manusia.

“Persisnya seberapa kuat tingkat dua ratus?” Evileye sepertinya sedikit kesulitan untuk menjawab pertanyaan Remedios dengan sungguh-sungguh.

“Meskipun makhluk dengan kesulitan dua ratus tidak pernah muncul di dunia manusia sebelumnya… yah, Old Dragon kira-kira bernilai sekitar seratus.”

“Old Dragon … meskipun saya belum pernah melawannya, apakah itu sama dengan Dewa Penjaga Laut (Guardian Deity of the oceans)?” Dewa penjaga laut mengacu pada Naga Laut yang ada di laut. Ada dua tangan dan kaki dan ekor panjang yang tebal yang menggantikan sayapnya yang tidak berhias.

Itu lebih mirip Ular Laut daripada Naga, dan kecerdasannya sama atau melampaui manusia. Dewa Penjaga Laut adalah makhluk yang baik hati yang akan melindungi kapal jika mereka dipuja. Neia sangat beruntung bisa melihatnya sekali, dari kejauhan, saat mereka pergi ke Rimun untuk berlibur.

Naga itu telah mengangkat kepalanya tinggi di atas permukaan laut, dan terlihat cukup agung untuk mendapatkan gelar Dewa Penjaga. Sulit membayangkan manusia bisa mengendalikan makhluk seperti itu.

“Kapten Remedios. Jika kita menggunakan acuan mengalahkan Dewa Pelindung sebagai garis dasar … hm, jika ada seorang nelayan di sini dia mungkin akan memberikan kita tatapan busuk itu. Tetap saja, itu berarti dia dua kali lebih kuat dari Old Dragon.”

“Tepat. Kami telah menentukan bahwa dia lebih kuat dari Demon God yang dikalahkan oleh Tiga Belas Pahlawan. Artinya, kemunculannya di dunia manusia akan menjadi tragedi besar dan beberapa negara akan hancur. Begitulah kuatnya dia.”

“Meskipun, saya mendengar kabarnya bahwa ketika Jaldabaoth mendatangkan malapetaka di Kingdom, dia diusir oleh Momon-dono. Itu berarti Momon-dono pasti sama kuatnya kan?”

Remedios menelan ludah, lalu melanjutkan. “Atau apakah itu berarti – dia menggunakan beberapa jenis item spesial saat mengalahkan Jaldabaoth?” Saat itulah sikap Evileye berubah.

Neia tidak bisa melihat wajahnya, tapi dia merasa wajahnya memerah di bawah topeng miliknya.

“Aku tidak berpikir dia menggunakan item seperti itu. Tetapi, Momon-sama bertempur hebat saat berduel dengan Jaldabaoth. Saat itu aku melawan bawahan Jaldabaoth, jadi aku tidak melihat pertarungan penuhnya, tapi itu adalah pertempuran yang mengerikan. Itu adalah pertempuran yang dilakukan oleh pahlawan di antara pahlawan, juara di antara para juara.”

“Apa, begitu?” Itu yang bisa dikatakan Gustav untuk memeras kata-kata itu setelah dipecahkan oleh kehadiran Evileye saat dia membungkam dirinya sendiri.

“Tepat sekali! Ah, betapa menakjubkan pertempurannya. Momon-sama membelaku saat dia melawan Jaldabaoth, Anda tahu.”

“Jadi dia melawan Jaldabaoth – monster itu – dan mengusirnya? Benarkah?”

“Apa!? Apakah Anda berpikir apa yang aku lihat dengan kedua mataku sendiri adalah sebuah kebohongan!?” Evileye membalas pertanyaan Remedios dengan jawaban kasar. Gustav berusaha keras untuk menghilangkan suasana gelisah di udara.

“Ah, tidak, yang dimaksud Kapten adalah bahwa jika Darkness (Momon) bisa menyerang titik lemah Jaldabaoth, mungkin kita juga bisa melakukan sesuatu. Saya minta maaf karena tidak menjelaskannya.”

“Tidak, kami harus meminta maaf atas nada kekanak-kanakan yang dilakukan Evileye dengan klien.” Jawaban itu datang dari Lakyus. Apa ini, ketika dua pemain utama diusir dan pemain pendukung tiba mereka meneruskan dengan lancar percakapan di antara mereka sendiri.

“Mm … yah, anggap Jaldabaoth benar-benar memiliki titik lemah, tapi Momon-sama pasti menang dengan menyerangnya. Sulit membayangkan demon seperti itu akan membiarkan kelemahannya tidak dijaga.”

“Memang … mungkin dia menggunakan item atau bawahan untuk melindunginya.” Meskipun ini adalah pertama kalinya dia mendengar tentang demon maid, Jaldabaoth memiliki beberapa demon maid yang kuat. Setelah menanyai tawanan demihuman, mereka tahu setidaknya ada tiga di antaranya.

Ada demon yang memerintah padang gurun dimana para demihuman tinggal. Ada demon yang memerintah kota pelabuhan Rimun. Dan kemudian, ada demon bersisik yang memerintahkan prajurit demihuman tersebut.
“Baiklah, dapatkah Anda memberi tahu kami secara rinci tentang demon bersisik yang Anda sebutkan tadi?”
“Benar, dapatkah Anda memberi tahu kami kemampuan apa yang dimilikinya?”

“Baiklah, saya melawannya sebelumnya, jadi saya akan menggantikan Evileye dan menjelaskannya secara rinci.” Dia menggambarkan kemampuannya dan bagaimana mereka melawannya. Cerita Lakyus berakhir dengan Brain Unglaus – seorang pria di tingkat Gazef – membunuh demon itu.

“…Itu aneh. Jaldabaoth tidak melakukan gerakan apapun setelah menaklukkan ibukota Holy Kingdom, tapi demon bersisik telah memerintahkan prajurit demihuman di tempatnya. Bukankah dia sudah kalah?”

“Saya mengerti … bagaimanapun, kami pernah bertemu dengan rekan kami Brain ini sebelumnya, dan saya rasa dia tidak berbohong. Ini mungkin bukan demon yang unik, hanya saja berperingkat tinggi.”

“Dengan kata lain, Jaldabaoth bisa menyihir demon itu beberapa kali selama kondisi tertentu terpenuhi? Atau mungkin dia bisa memanggil demon yang sama berkali-kali?” Neia tidak bisa menggunakan sihir, tapi dia pernah mendengarnya selama pembelajarannya.

Ketika datang untuk pelajaran summon magic, memanggil banyak makhluk adalah hal yang sangat sulit. Dengan kata lain, ketika mantra memanggil aktif, melepaskan mantra pemanggil lain akan menyebabkan mantra pemanggilan sebelumnya berakhir. Monster yang dipanggil saat ini akan kembali ke asal mereka dan monster baru akan dipanggil menggantikan mereka.

Tetapi, orang-orang yang mampu menggunakan mantra pemanggil tingkat tinggi dapat secara bersamaan menyihir beberapa monster yang lebih lemah sekaligus, dari jenis yang akan dibangkitkan dengan mantra pemanggil tingkat rendah. Misalnya, seseorang bisa menggunakan mantra tingkat empat untuk memanggil banyak monster yang bisa dipanggil oleh mantra tingkat ketiga.

“Saya sama sekali tidak mengerti. Metode pemanggilan demonnya masih menjadi misteri. Meskipun dia rasanya seperti sedang memanggil mereka dengan mantra, dia tidak mungkin memanggil beberapa demon dari kekuatan semacam itu … tapi jika dia bisa, itu akan menimbulkan pertanyaan mengapa dia tidak melakukannya di Kingdom. Mungkin jika dia adalah seorang magic caster yang mengkhususkan diri dalam pemanggilan, dia bisa secara bersamaan memanggil banyak tiruan dari makhluk seperti itu …”

“Jadi, kalaupun kita berhasil mengalahkan semua demon bersisik, Jaldabaoth bisa segera memanggilnya kembali?”

“Benar sekali. Tetapi, itu mengacu pada situasi di mana Jaldabaoth menyihir mereka dengan magic. Jika dia menggunakan semacam kemampuan khusus untuk melakukannya, itu akan menjadi masalah lain.”
“Jadi Anda tidak tahu banyak tentang hal itu.”
“Maaf, saya tidak tahu. Kami tahu sedikit tentang dia.” Evileye terdengar sangat berkecil hati.”
“… Erm, aku sama sekali tidak mengerti?”
“… Aku akan menjelaskannya kepadamu nanti, Kapten.”
“Tidak, mulai klarifikasi sekarang. Aku belum bisa mengikuti pembicaraan dari sekarang.”

Dia adalah Kapten kami … orang yang bertanggung jawab atas kami semua …
“Begitulah, apakah maid serangga yang menjijikkan itu juga berasal dari Summon Jaldabaoth?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak ingin berpikir seperti itu …” Anggota Blue Rose mulai berdiskusi di antara mereka sendiri.
“Eh, bolehkah saya mengajukan pertanyaan?” Semua orang berpaling untuk melihat Neia setelah dia dengan gugup angkat bicara, dan tekanan yang luar biasa membuatnya menyesal melakukannya. Mungkin lebih baik bagi orang lain selain dia untuk melakukannya.

Tetapi, nasi sudah menjadi bubur, dan setelah menguatkan tekadnya, dia bertanya:
“Ini mungkin pertanyaan yang sangat mendasar, tapi dari mana asal Jaldabaoth? Apakah nama Jaldabaoth diturunkan dari masa lalu sebelumnya?”
“Itu tidak jelas. Kami telah mempelajari segala macam literatur, tapi kami belum bisa menemukan nama itu di dalamnya. Kami juga mencoba mencari petunjuk berdasarkan penampilannya, namun, kami juga belum dapat membuat kemajuan.”
“Mungkinkah itu sebuah alias? Mungkin dia menimbulkan masalah dengan nama yang berbeda di masa lalu?”

“Aku meragukan itu. Bagi demon – ini juga berlaku bagi malaikat – nama mereka adalah bagian yang sangat penting dari keberadaan mereka. Jika demon ingin muncul, ia harus mengukir namanya ke dunia. Oleh karena itu, mereka tidak bisa menggunakan nama palsu. Mencoba menunjukkan dengan menggunakan nama palsu bahkan bisa menyebabkan mereka menghilang saat itu juga.”

Neia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang demon dan angel, tapi jika magic caster berstatus adamantite mengatakannya, maka itulah yang seharusnya terjadi.

“Mengenai asal usulnya, jika dia berasal dari sisi lain benua ini, wajar bila tidak ada informasi tentang dia … tapi setelah berpikir begitu banyak, setiap kemungkinan sepertinya sama, dan karena itu tidak ada yang tahu di mana dia berasal.” Evileye mengangkat bahu.

“… Katakanlah. Bagaimana jika penampilan Jaldabaoth salah? Apakah Jaldabaoth yang Anda lihat adalah hanya Jaldabaoth yang di gambar itu? Bagaimana kalau dia menyamar?”

“Ho,” Evileye mencondongkan tubuh ke arah Remedios.
“Bisakah Anda menjelaskan lebih detail?”
“Kami berhasil menekan Jaldabaoth dalam bentuk itu dengan sangat buruk, dan kemudian dia mengungkapkan wujudnya yang sebenarnya …” Remedios memejamkan mata.
“Itu adalah kekalahan bagi kami.”
“Bisakah Anda lebih jelas?”
“Tidak apa-apa, kan, Gustav?”

“Ya, tidak ada keberatan di sini. Jika kita bisa belajar lebih banyak tentang dia dari penampilannya, menyembunyikan informasi itu akan menjadi berbahaya.”

“Sementara aku merasa mengungkapkannya secara jelas akan lebih baik ….” Remedios mulai bergumam dan menggerutu, lalu dia memberi tahu Evileye tentang penampilan Jaldabaoth.

Di tengah cerita, wajah Remedios berubah dalam kemarahan. Dia mungkin ingat pertempuran yang tidak diketahui siapa pun di sini.

“Begitukah, kami akan melanjutkan penyelidikan kami berdasarkan apa yang baru saja kami pelajari. Kami akan terus menginformasikan kalian hal yang kami temukan, jadi bisakah Anda memberi tahu kami jika Anda ingin tinggal di kota?”

“Kami belum memutuskannya. Bagaimanapun, apakah itu berarti Anda tidak tahu apa-apa tentang bentuknya?”
“–Lakyus, apa kamu ingat?” Lakyus menggelengkan kepalanya.
“Begitulah adanya. Maaf.”

“Saya mengerti. Kemudian, setelah kami mengambil keputusan, kami akan segera menghubungi Anda.”

“Tapi dalam kasus ini, kita harus mempertimbangkan skenario terburuk – kemungkinan bahwa penampilannya di Kingdom dimaksudkan untuk menciptakan kesan yang salah, jadi dia dengan sengaja menahan diri untuk tidak menunjukkan kekuatan sejatinya.”

“Dengan kata lain, negara kita adalah tujuan utama Jaldabaoth, dan bahwa dia punya rencana lain untuk Kingdom?”

“Mungkin. Jika Kingdom adalah prioritas utamanya, dia akan menunjukkan bentuk aslinya seperti yang dia lakukan di Holy Kingdom, bukan? Atau apakah karena dia dikejutkan oleh kekuatan Momon-sama, dan memilih untuk melindungi identitas aslinya daripada membiarkan rencananya hancur? Aku benar-benar tidak ingin berpikir begitu.”

Kata-kata Evileye menyebabkan ruangan itu dalam keheningan yang suram, sangat dalam sehingga bahkan suara napas yang samar terdengar sangat nyaring. Siapa yang akan bicara dulu? Dalam suasana tegang ini, Lakyus menunjukkan keberaniannya.

“Kalau begitu, izinkan saya mengatakannya lagi – kita berada di kapal (posisi/tempat) yang sama dengan Anda. Kami ingin tahu lebih banyak tentang Jaldabaoth. Terus terang, semua yang telah kami pelajari pada dasarnya adalah analisis dari pertemuan kami dengannya. Kami tidak memiliki dugaan tentang tujuan, identitas, atau kemampuan Jaldabaoth.”

“Mungkin kami bisa memanggil demon untuk belajar tentang Jaldabaoth … Tapi itu akan menodai jiwa … Dan bahkan jika kami memanggil demon tingkat rendah, kemungkinan besar mereka tidak akan tahu apa-apa tentang demon tingkat tinggi. Dalam hal ini, kami harus menghubungi Summoner (Pemanggil) yang ahli…”

“Masalahnya, kami tidak mengenal siapa pun yang pandai memanggil demon.” Evileye adalah orang pertama yang melengkapi kata-kata Lakyus, diikuti oleh salah satu si kembar. Tentunya tak seorang pun tahu, setidaknya tidak dalam keadaan biasa, pikir Neia.

Orang-orang jahatlah yang biasanya bisa meng summon (Memanggil) para demon, dan untungnya hanya sedikit dari mereka yang memiliki kekuatan lebih. Itu karena sepanjang waktu, mereka juga menghancurkan diri mereka sendiri atau mereka dibunuh oleh Death Squad. Tentu saja, mungkin ada beberapa yang ahli di bidang lain yang telah berhasil melewati celah itu, tapi orang-orang seperti itu biasanya bersembunyi di kegelapan, dan tidak akan bersosialisasi.

“Tetap saja, menunggu di sana untuk mati sangat membuat frustrasi. Jika lain kali monster itu datang ke Kingdom, aku ingin membuatnya menangis dengan kedua tanganku sendiri. Untuk melakukan itu, aku perlu belajar sebanyak mungkin tentang dia.”

“Juga, dia tidak memimpin demihuman di Kingdom. Jika dia merekrut para demihuman karena kegagalannya di Kingdom, maka kita harus lebih waspada terhadapnya.” Kata-kata itu diucapkan oleh Gagaran, dan kemudian salah satu kembaran yang lain.

“Itukah sebabnya Anda ingin tahu apa yang kami ketahui?” Semua orang di Blue Rose mengangguk. Lakyus menyimpulkan untuk mereka.
“Kami akan membayar jumlah yang sama dengan biaya yang seharusnya kami terima.”

“Kapten. Bolehkah saya menangani negosiasi yang akan datang?” Remedios segera menyetujui pertanyaan Gustav.
“- Uang yang telah dibayarkan, kami menginginkan bentuk balasan yang lainnya.”

“Apa itu? Sementara kami ingin melayani Anda, kami tidak dapat melakukan semuanya … Tetapi, jika Anda ingin melakukan kontak dengan bangsawan yang hebat, itu bisa diatur. “

“Apakah begitu? Terima kasih banyak. Tetapi, kami tidak memikirkan hal itu – bisakah Anda datang ke negara kami dan berjuang di samping kami?” Ruangan itu diam sekali lagi.

Itu berlangsung beberapa saat – tidak, mungkin lebih lama. Suara berikutnya yang mereka dengar adalah suara Lakyus yang bersandar di rambutnya.
“Saya mohon maaf, tapi kami tidak bisa menawarkan bentuk pembayaran itu.”

“… Kami mengumpulkan informasi agar kami tidak mati. Melakukan hal itu akan bertentangan dengan tujuan kami.” Mengangkat bahu, seolah mengatakan tidak ada yang bisa dilakukan mengenai hal itu.

“Kami tidak akan meminta Anda untuk melawan Jaldabaoth. Yang perlu Anda lakukan adalah menunggu di belakang dan membantu magic penyembuhan.”

“Ayo pergi, kami tidak punya banyak nyawa untuk melakukan itu.” Gagaran tidak mau repot-repot mengucapkan kata-katanya.

Itu benar. Bagian utara Holy Kingdom sekarang ditaklukkan oleh para demihuman Jaldabaoth, dan yang bisa mereka lakukan hanyalah meningkatkan pertahanan yang lemah. Banyak orang dipenjara di kamp, dan paladin yang tersisa bersembunyi di gua dan hidup sebagai pejuang perlawanan.

“Bukan, bukan itu masalahnya. Kami tepat waktu dalam menghentikan pergerakan maju demihuman.”

Mereka masih bertahan di selatan, di mana prajurit dan pasukan Jaldabaoth saling berhadapan satu sama lain, jadi dengan menyebutnya dengan titik kritis mungkin akurat. Bagi Neia, siapa yang tahu apa yang sedang terjadi, kata-kata Gustav terdengar lebih mirip kebohongan daripada kebenaran.

“Bisakah kalian datang, dan membantu untuk menangani masalah itu?”
“Kami menolak.”

Remedios menyampaikan pertanyaannya dari postur tubuh yang baik, dan Evileye dengan tegas menolaknya. Mengingat semua orang di Blue Rose tetap diam, paling tidak mereka semua sama dalam pendapatnya. Mereka pasti semua merasakan hal yang sama.

“… Terus terang … mungkin kami menghentikan mereka pada waktunya, tapi kami juga di ujung tanduk. Holy Kingdom hancur, tapi pasukan selatan masih utuh. Tetapi, mereka sendiri tidak akan cukup untuk mengalahkan Jaldabaoth.” Gustav menuang segelas air untuk dirinya, meminumnya, dan kemudian melanjutkan.

“Alasan mengapa kami belum sepenuhnya ditaklukkan adalah karena angkatan laut telah menekan tentara Jaldabaoth di garis pantai utara dan menahan mereka. Jika Jaldabaoth berhasil menemukan cara untuk mengatasi hal itu dan membawa pasukannya ke selatan, kami akan segera kalah.”

Tetapi, itulah pemikiran seorang pria dari utara, yang tahu kekuatan Jaldabaoth. Orang-orang di selatan mungkin akan memiliki rencana yang berbeda. Misalnya, mengusir Jaldabaoth dengan kekuatan mereka sendiri.

Meskipun sebagian alasannya adalah karena mereka tidak berbagi informasi mereka, itu juga karena permusuhan lama antara utara dan selatan. Sejak awal, para bangsawan di selatan selalu memprotes fakta bahwa seorang wanita – yang mendahului kakak laki-lakinya – akan dinobatkan sebagai Holy Queen untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Oleh karena itu, Holy Queen sebelumnya mengabaikan tuduhan yang tidak berdasar seperti “Holy Queen mengambil posisinya karena dia memiliki sesuatu hal yang terjadi dengan kuil, dan dia dibantu oleh Kylardos Custodio” yang berasal dari selatan, bertujuan untuk menghindari keretakan antara utara dan selatan.

Setelah itu, selatan tidak memunculkan masalah lebih jauh dan dengan demikian konfrontasi skala penuh dihindari, tapi itu hanya karena utara dan selatan telah berada dalam keseimbangan dalam kekuasaan. Kini setelah utara runtuh, selatan tidak memiliki alasan untuk menahan diri lagi.

Dengan demikian, selatan mulai tidak mempedulikan utara sekarang. Bahkan dalam menghadapi invasi Jaldabaoth, manusia masih saling dendam terhadap satu sama lain. Neia benar-benar menemukan hal yang menggelikan dari itu. Selain itu, ada isu perebutan kekuasaan untuk posisi Holy King berikutnya, dan membantu membuat Neia, orang biasa, menjadi lebih tidak bahagia.
“Itu sangat buruk.”

“Tepat. Angkatan laut memiliki kekuatan udara yang sangat sedikit, dan pertempuran mereka melawan demon terbang telah membuat korban yang mengerikan. Jika ini terus berlanjut, mereka tidak akan bisa menahan pasukan Jaldabaoth selamanya. Kami butuh kekuatan untuk memecahkan kebuntuan ini! Tolong, saya mohon, pinjamkan kekuatan kalian pada kami! Yang kami butuhkan hanya satu atau dua bulan! Kami bisa membayar apapun yang kalian mau! Saya mohon, tolong selamatkan Holy Kingdom.”

Saat Gustav menundukkan kepalanya pada mereka, Neia dan paladin lainnya membungkuk juga seraya berkata “Tolonglah!”. Ruangan itu sunyi sekali lagi, dan kemudian suara Lakyus menyebar melewatinya.

“Tolong angkat kepala kalian. Dan – saya mohon maaf, tapi kami tidak bisa pergi ke Holy Kingdom.”

“Kenapa!?” Neia menyentakkan kepalanya saat teriakan tiba-tiba dari Remedios. Dia melihat Remedios bangkit dari kursinya dan melotot pada Lakyus.

“Jaldabaoth tidak akan berhenti untuk menaklukkan Holy Kingdom! Dia akan mengumpulkan kekuatannya di sana dan kemudian menyerang Kingdom, Anda tahu itu! Jika Anda tidak mengalahkannya sekarang, dia akan menjadi lebih kuat lagi di masa depan! “
“Anda benar. Kemungkinan itu sangat tinggi.”

“Kalau Anda mengerti, mengapa Anda tidak membantu kami!? Dan bukan hanya Anda, ini juga para bangsawan negeri ini, negara kami! Tak satu pun dari Anda memahaminya! Bukankah sekarang saatnya untuk datang bersama-sama dan berjuang dalam satu barisan!?”

“… Alasan mengapa bangsawan negara ini tidak akan meminjamkan kekuatan kepada kalian agak berbeda dari kami sendiri. Apa yang Anda tahu tentang Sorcerous Kingdom?”

“Undead telah mengambil alih sebuah kota di Kingdom dan mendirikan sebuah negara di sekitarnya. Tempat itu sangat menakutkan. Semua warga Holy Kingdom rata-rata mengetahuinya”. Seperti yang Remedios katakan, Lakyus tersenyum pahit padanya.

“Itu benar, dan sangat akurat … tapi ada yang salah … meskipun undead ada dimana-mana, manusia di sana hidup dengan aman dan damai.”

“… Eh? Di sebuah negara yang didirikan oleh undead, yang membenci kehidupan?”

“Ada banyak jenis undead, dan Sorcerer King adalah penguasa undead. Memerintahkan undead di bawah perintahnya untuk tidak menyakiti manusia dan menegakkan perintah itu adalah hal sederhana baginya.” Evileye membuat suara tidak setuju.

“Evileye … Mm, toh, kami masih memiliki Sorcerous Kingdom sebelum kita berhadapan, jadi sulit bagi mereka untuk membantu negara anda. Juga, banyak orang tewas dalam pertempuran dengan Sorcerous Kingdom, yang akan memiliki konsekuensi serius di masa depan. Para bangsawan yang terlihat sangat kaya mungkin tidak sebaik yang Anda pikirkan.”

“Meskipun begitu, bukankah masalah Jaldabaoth yang harus diurus sesegera mungkin? Faktanya adalah, banyak orang menderita karena Jaldabaoth. Tapi Penyihir Sorcerrers kingdom tidak melakukan hal yang sama seperti Jaldabaoth kan?”

“… Berjuang di dua barisan sekaligus saat kamu kelelahan sangat berbahaya. Saya percaya saya tidak perlu mengatakannya kepada Anda, bukan?” Remedios menutup mulut.

“Bagaimanapun, kami juga sama. Dua dari kami terbunuh dalam pertempuran dengan Jaldabaoth dan saat mereka dibangkitkan dari kematian, mereka masih belum mendapatkan kembali kekuatan penuh mereka. Jika kami menyerang wilayah Jaldabaoth di negara bagian ini, kami semua mungkin akan terbunuh.”

“Bukankah Gustav mengatakan bahwa Anda tidak perlu melawan Jaldabaoth?”
“Apa!!!, dia benar-benar percaya itu …”

“Tia! Permisi. Ahem. Saya mohon maaf, tapi saya tidak berpikir semuanya akan berjalan seperti yang Anda bayangkan. Selama menyangkut risiko menghadapi Jaldabaoth, kami akan menolak pekerjaan ini. Kami perlu menjadi lebih kuat dari kami sekarang untuk mempersiapkan masa depan… Ini hanya sebuah dugaan, tapi kami perlu bersiap-siap jika Jaldabaoth memutuskan untuk menyerang Kingdom sekali lagi.”

Wajah-wajah setiap anggota Blue Rose tidak bergerak. Sepertinya mereka tidak bisa terpengaruh. Segera, Remedios berhasil memeras beberapa patah kata.
“Lalu siapa lagi yang bisa menyelamatkan negara kami?” Anggota Blue Rose saling pandang.
“Hanya ada satu orang,” jawab Evileye.

“Atau lebih tepatnya, dia orang yang harus Anda datangi untuk pertama kalinya, bukan?”
“…Siapa itu?”
” Tentu saja, Momon-sama. Momon-sama yang mengalahkan Jaldabaoth.”
“Ohhh! Apakah dia?!”
“Sebentar, Kapten Custodio … kalau saya tidak salah, dia …?”

“Anda pernah mendengarnya, ya? Ya, Momon-sama sekarang berada di Sorcerous Kingdom dan merupakan salah satu bawahan Sorcerer King. Karena itu, kemungkinan besar Anda harus meyakinkan Sorcerer King untuk membantu Anda.”
“Guh!” Remedios mendengus.

Neia mengerti bagaimana perasaannya. Setiap warga Holy Kingdom akan memiliki perasaan yang sangat rumit tentang bertanya sesuatu tentang undead. Mengingat dia, sebagai squire, merasa seperti itu, seberapa parahkah hal itu bagi kapten ordo paladin yang membawa pedang suci? Tetapi – Remedios menatap kuat anggota Blue Rose.

“… Jika itu cara terbaik untuk mengalahkan Jaldabaoth, maka ayo kita lakukan. Tidak, hanya itu yang bisa kita lakukan. Jika kita bisa, kita akan menaruh harapan kita pada Momon itu -“
“- Aku percaya dengan Momon-sama, Kapten.”
“Eh, erk! Bisakah kalian menulis surat untuk mengenalkan kami pada Momon-sama?”

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded