Overlord Volume 12 Chapter 2 part 2

Font Size :
Table of Content

  • Translator : Scraba 
  • Editor : Entoma V. Zeta

Mencari Pertolongan

Setelah pembicaraan dengan Blue Rose berakhir, utusan diplomatik dari Holy Kingdom dan Neia berangkat lebih awal dari Royal Capital. Karena mereka telah melihat bahwa tidak ada seorang pun di Kerajaan yang bersedia membantu Holy Kingdom, menyelidiki bentuk asli Jaldabaoth akan memerlukan waktu beberapa bulan, juga karena mereka tahu bahwa satu-satunya yang mampu mengalahkan Jaldabaoth adalah Momon.

Selain itu, merasakan warga Holy Kingdom yang menderita membuat mereka sangat ingin melakukan sesuatu untuk mereka. Mereka mengistirahatkan kuda mereka sedikit mungkin, kadang-kadang bahkan memberikan mantra pada kuda mereka, mereka menempuh perjalanan ke timur menyusuri jalan dengan kecepatan yang tidak dapat disandingkan pejalan kaki biasa.

Mereka melewati desa terakhir Kerajaan, dan sekarang mereka berada di daerah perbatasan antara Kerajaan dan Sorcerous Kingdom. Bukit yang sedikit menjulang perlahan menghalangi pandangan mereka, dan mereka bisa melihat sekilas hutan purba (Hutan Primer-Yang Pohonnya Sudah Tua) yang rapat. Tidak ada tanda manusia hidup di dalam, dan perasaan bahwa monster bisa melompat keluar kapan saja dapat diduga. Mungkin ini awalnya adalah wilayah Kerajaan, begitulah.

Kemungkinan diserang oleh monster sudah menurun. Itu bukan berarti telah hilang. Di daerah seperti ini, indera penglihatan dan penciuman Neia menajam, dia terus maju. Tidak ada tanda makhluk yang menunggu untuk menyergap di dekatnya. Juga tidak ada tanda binatang buas di jalan. Ada banyak lahan tandus yang terlihat di jalan. Jika mereka terus maju, mereka akan memasuki wilayah yang dulunya dikuasai Kerajaan, yang jalannya tampak telah diaspal.

Jalan yang beraspal lebih nyaman bagi pengunjung, tapi bagi Neia, tanah yang tandus tadi akan lebih mudah untuk menemukan jejak. Neia menatap tangannya. Dia tidak menyukai tangan ini. Bukannya dia membenci tangannya yang menguat karena latihan. Tapi karena tak berbakat. Dia mungkin telah mewarisi indra ayahnya yang tajam, tapi sayangnya, dia tidak menerima apapun dari ibunya. Ibu Neia adalah seorang paladin yang terkenal pada zamannya, dan dia memiliki kemampuan berpedang yang sangat baik.

Tetapi, sebagai putrinya, Neia tidak memiliki bakat untuk berpedang, tidak peduli berapa banyak dia berlatih. Seharusnya, teknik memanah yang diturunkan dari ayahnya membuat dia bisa menggunakan panah dengan baik bahkan tanpa latihan apapun. Faktanya, Neia beruntung mewarisi setengahnya saja. Tetapi, skill yang digunakan oleh paladin yang sangat dikagumi Neia hanya bisa digunakan untuk senjata jarak dekat.

Bagi Neia, yang ingin menjadi paladin, berbakat dengan senjata jarak jauh adalah kerugian. Sekali lagi, dia mencengkeram tali pengikat erat-erat. Dia menegakkan pinggangnya dan menyesuaikan posisinya di pelana. Dia telah menghabiskan waktu lama menunggang kuda setelah meninggalkan Royal Capital, dan pantat serta pahanya cukup nyeri sekarang.

Dia bisa saja meminta Paladin untuk menggunakan mantra penyembuhan tingkat rendah agar menyingkirkan rasa sakitnya. Tetapi, dia adalah seorang gadis, dan dia sedikit malu untuk meminta hal itu kepada mereka. Juga, hal itu masih belum pada tingkat dimana akan mempengaruhi kemampuannya untuk mengendalikan kudanya, sehingga membuatnya semakin sulit untuk meminta. … Aku hanya perlu mengoleskan obat setelah itu, seperti biasa.

Aku harus berterima kasih pada Ayah. Dulu, saat aku bilang pantatku sakit, dia akan berlari dengan ekspresi marah di wajahnya … apakah aku sudah berterima kasih padanya saat itu? … Hah. Neia memaksa dirinya untuk berhenti sebelum air matanya menetes. “–Ah, Kapten, saya bisa melihat jalan beraspal. Kita akan memasuki wilayah Sorcerous Kingdom.”

Jalan tanah tiba-tiba beralih menjadi bebatuan di tengah jalan. Rasanya aneh.

“Jadi, apakah kita akan sampai ke Sorcerous Kingdom? Atau akankah kita mendirikan kemah di malam hari?” Neia menatap ke langit.

“Saya pikir kita harus bisa sampai sebelum matahari terbenam jika tidak ada hal lain terjadi. Tetapi, kita mungkin jadi sasaran perampok. Apa yang harus kita lakukan?”

“Biarkan aku membicarakan ini.” Remedias menarik tali kekangnya dan kudanya melambat, lalu dia mulai berbicara dengan Gustav. Tetapi, ini seharusnya menjadi wilayah Sorcerous Kingdom dari sini … tapi di mana pasukan mereka? Juga tidak ada benteng. Ada benteng di sisi Kerajaan… Biasanya, akan ada benteng di perbatasan negara, tapi tidak ada di sini.

Karena Sorcerous Kingdom hanya satu kota, mungkinkah mereka memusatkan seluruh kekuatan mereka di dalam kota? Pandangan Neia berkeliling di sepanjang jalan beraspal. Lereng yang landai membentang di antara perbukitan. Di kejauhan, dia bisa melihat sebidang hutan musim dingin yang tandus. Dia ingat bagaimana dia pergi berkemah di musim dingin bersama ayahnya. Tak ada yang berbeda, tidak peduli kemana dia pergi.

Pemandangan di sini terasa seperti Holy Kingdom. … Hidup di dunia ini menyakitkan, ya. Kata-kata yang dengan sengaja digumamkan oleh ayahnya bergumam di hatinya seperti duri. Ayahnya memilih tinggal di kota karena ibunya. Jika ibunya tidak ada, dia pasti memilih tinggal di sebuah desa kecil dekat dengan hutan, hidup dari karunia alam.

Ketika masih kecil, dia merasa bahwa hidup dalam suasana alami menyakitkan. Tetapi, setelah melakukan perjalanan ini, dia bisa mengerti apa maksud ayahnya. Apakah itu tanda kedewasaan? Seharusnya dia bisa membicarakan hal yang berbeda dengannya sekarang.

Rasa sakit terlintas di hatinya saat memikirkan hal-hal ini. Tetapi, hanya sesaat. Itu karena di depan mereka – di sebelah timur sepanjang jalan – dia bisa melihat sesuatu yang samar di sepanjang jalur berbelok-belok karnea perbukitan. Mungkinkah itu api!? Neia menyipitkan mata, lalu melihat dengan hati-hati lagi. Ada sesuatu yang putih seperti asap di sana.

Tidak, itu bukan asap, tapi kabut. Dan-

“Maaf mengganggu Anda saat Anda berbicara! Ada seperti kabut di depan!”

“Jadi?” Setelah Neia melapor ke belakang, Remedios melepas helmnya. Ada ekspresi bingung di wajahnya.

“Neia Baraja. Apakah ada hal yang mengganggumu?”

“Iya. Menurut peta ini, tidak ada danau besar, Tetapi ada banyak kabut di depan. Saya yakin itu pasti kejadian yang tidak normal.”

Kumpulan kabut tebal itu, tampak terus menyebar, dan sepertinya akan sampai ke tempat Neia dan yang lainnya kapan saja. Ayahnya telah mengajarkan kepadanya segala bentuk dari fenomena alam, ketika dia merenungkan situasi berdasarkan pengetahuan itu, kemunculan kabut ini sungguh aneh.

“Squire Baraja. Mungkinkah itu semacam perubahan lingkungan khusus?” Pertanyaan itu datang dari Gustav, yang telah menyadari apa yang terjadi sebelum Remedios.

Perubahan lingkungan khusus yang dimaksud biasanya cenderung terjadi fenomena yang tidak biasa di daerah yang luas. Misalnya, mungkin ada tempat dimana ritual mantra berskala besar yang salah dan memenuhi area dengan gas busuk beracun, atau mungkin karena tempat di mana setahun sekali, sebuah gurun pasir mengalami badai pasir selama seminggu, atau mungkin tempat di mana hujan berwarna-warni turun pada waktu tertentu.

Dengan kata lain, dia bertanya apakah kabut ini adalah salah satu kejadian misterius itu. Tetapi, Neia belum mengumpulkan informasi tentang hal-hal semacam itu. Dia merasa bahwa dia mungkin akan dimarahi jika dia menjawab seperti itu, tapi dia tidak punya pilihan selain menjawab dengan jujur.

“Saya mohon maaf, tapi saya tidak punya informasi tentang kabut yang ada di hadapan kita.”

“Dengan kata lain, kamu gagal mengumpulkan informasi, begitu?” Pertanyaan lain yang sulit. Siapa yang bisa mengatakan bahwa mereka telah mengumpulkan cukup informasi?

“Kapten Remedios, saya berpendapat memutuskan apa yang harus dilakukan sekarang lebih penting.” Perseteruan mereka terhenti. Kabut semakin tebal sehingga kuda tidak bisa maju melewatinya.

Mengingat apa yang telah mereka pelajari sebelumnya, tidak ada tebing di dekat E-Rantel. Jika mereka maju perlahan, mereka harus bisa menghadapi apa pun yang muncul nanti. Tetapi, kabut yang terjadi begitu cepat, membuat mereka ragu untuk melewatinya, Meski mereka berjalan dengan lambat. Neia mencium kabut itu. Baunya seperti air.

Tidak ada masalah dengan hal itu yang dapat dikhawatirkannya. Tetapi, ada yang membuat dia merasa tidak nyaman.

“Kapten, mungkinkah kabut ini dihasilkan oleh monster? Ayah saya pernah mengatakan bahwa beberapa monster memiliki kemampuan magic untuk menghasilkan kabut, dan mereka akan bersembunyi di dalamnya untuk mengikuti mangsanya.”

“… semua orang, siapkan pedang kalian! Siapa pun yang masih di jalan, segera menjauhinya!”

Pengambilan keputusan yang cepat merupakan tanda keunggulan Remedios dalam pertempuran. Neia dan Paladin menggerakkan kuda mereka sesuai petunjuk dan meninggalkan jalan, lalu mereka berputar. Saat ini, kabut tebal tampak seperti akan menelan seluruh dunia.

Cukup tebal sehingga dia hampir tidak bisa melihat rekan-rekan di sampingnya, dan jarak pandangnya tidak sampai lima belas meter. Kegelisahan bergejolak di dadanya, dan dia membayangkan dia melihat sosok dalam aliran kabut. Akan lebih baik jika dia bisa mendeteksi sesuatu yang mendekati mereka dengan suara, tapi dia dikelilingi oleh knight berarmor.

Setiap gerakan yang mereka lakukan menyebabkan suara logam yang bergesek, dan menghambat pendengaran Neia. Dengan kondisi seperti ini, akan sangat sulit untuk mendeteksi apapun yang mendekati mereka. Dengan ingatan Neia, satu-satunya yang masih bisa diketahuinya dengan suara dalam kondisi seperti ini adalah ayahnya. Saat dia menyadari kehebatan ayahnya sekali lagi, dia dengan putus asa menutup telinganya untuk mendengarkan.

“Ini benar-benar kabut aneh, bahkan di laut tidak setebal ini.”

“Bukankah kita akan sampai di kota Sorcerous Kingdom? Apakah masih ada monster ini yang sampai batas kota? Atau apakah hal-hal aneh ini sesuai untuk perjalanan karena itu adalah Sorcerous Kingdom?”

“Saya tidak tahu … mungkinkah ini semacam mantra defensif yang digunakan oleh Sorcerous Kingdom?”

“Mari kita tidak membicarakan tentang magic, hanya membicarakannya membuat kepalaku sakit. Jika kamu melihat sesuatu, beri tahu Aku, dan buat agar mudah dimengerti. Jika itu monster, kita akan membunuhnya sehingga Sorcerous King berhutang budi dengan kita sebagai imbalan saat kita memintanya untuk mengirimkan Momon. Bagaimana?”

“Menurut Anda, apa yang akan terjadi? Meskipun mereka mengatakan membasmi monster di dalam perbatasan negara adalah tanggung jawab negara itu …”

Mungkin karena dia telah memusatkan seluruh energinya untuk mendengarkan dengan saksama, tapi dia bisa dengan jelas melihat isi pembicaraan antara Kapten dan Gustav.

Tetapi, jika dia menjauh, dia tidak yakin bisa mendengarnya. Apa yang akan ayahnya lakukan pada saat seperti ini? Aku tidak bisa terus mengandalkan seseorang yang tidak ada di sini! Aku harus berdiri di atas kedua kakiku sendiri! Tetapi faktanya tetap berada di sini hanya akan menghalangi kemampuannya. Kalau begitu, apakah lebih baik melihat apakah dia diizinkan bergerak sendiri melihat situasi sebenarnya. — Mungkin tidak.

Neia menolak keinginannya untuk berbicara. Bahkan jika dia tidak melakukannya, Kapten hampir tidak dekat dengannya. Jika dia meminta itu dan gagal, tidak ada yang tahu bagaimana dia akan dihukum. Dia tidak ingin dipermalukan. Juga, akan buruk jika Kapten berhenti mempercayai bimbinganku sebagai hasilnya. Neia berusaha keras membuat alasan di hatinya.

Tetapi, akan sangat buruk bagi perasaanya jika mereka menghadapi bahaya dan dia pikir, aku seharusnya mengambil pilihan yang lebih baik saat itu, tapi aku tetap diam. Meskipun sebagian dari pemikirannya, jika kami semua mati di sini, orang-orang yang menderita di Holy Kingdom harus menunggu lebih lama untuk selamat, tapi hinaan Remedios telah menusuk lubang yang tak terhitung jumlahnya di hati Neia, dan dia tidak dapat menahannya lagi. Saat itu, Neia melihat sesuatu dari sudut matanya yang tidak bisa diabaikan.

Di tengah kabut tebal , dia melihat sekilas gambaran kelam tentang sesuatu yang besar yang berasal dari Sorcerous Kingdom.

“Bisakah Anda memeriksa sesuatu di sana?” Neia berbicara dengan salah satu paladin yang berpasangan dengannya.

“…Tidak. Maaf, tapi kabutnya terlalu tebal dan saya tidak bisa melihat apapun. Apakah ada sesuatu di sana?” Dia mendengar paladin itu menggapai pinggangnya dan dengan lembut menarik pedangnya, lalu suara erat mencengkeram gagangnya.

“Ah, itu bukan apa-apa. Saya merasa melihat sesuatu, tapi mungkin saya keliru.”

“Benarkah? Tapi, jika kamu pikir ada sesuatu di sana, katakan saja kepada kami, tidak masalah apapun itu.”

“Baiklah, saya akan mengandalkan Anda ketika waktunya tiba, kalau begitu.” Setelah mengucapkan terima kasih dengan ekspresi serius pada wajahnya, Neia kembali ke depan.

Jika para wanita di dunia ini dibagi berdasarkan mereka yang cocok untuk tersenyum dan mereka yang tidak cocok tersenyum sama sekali, Neia akan masuk dalam kategori yang terakhir. Bahkan sepatah kata terima kasih dari dia ternyata lebih baik disampaikan dengan ekspresi serius dibanding dengan senyuman. Neia melanjutkan mempelajari kumpulan kabut.

Mungkin hanya Neia yang bisa melihatnya karena terlalu jauh, tapi dia yakin dia tidak salah. Mungkin berbicara dengan paladin telah mengembalikan semangatnya, Neia memutuskan untuk memberi tahu Kapten. Tetapi, dia masih berbicara dengan Gustav.

“Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?”

“Sangat berbahaya untuk bergerak dalam kabut. Kita tunggu sedikit lagi, dan jika tidak ada apapun, kita turun dari kuda dan istirahat. Kalau dipikir-pikir lagi, apakah ada monster yang mengeluarkan kabut di laut?”

“Tentu ada. Tetapi, tidak ada laut atau danau di dekat sini. Seperti kata Squire Baraja.”

“Mungkinkah dia membuat kesalahan atau mengabaikan beberapa informasi?”

“Dia tidak akan mengacaukan seperti itu. Terus terang, dia membawa kita selamat sepanjang perjalanan ke sini, kan? Ketika kita meninggalkan Holy Kingdom, para demihuman yang berpatroli di dekat tembok yang rusak juga tidak melihat kita. Kita tidak bisa melakukannya sendiri tanpa dia, kan?”

“Kita bisa menembus dengan paksa.” Sekali lagi, hati Neia merosot.

Berapa kali dia frustasi karena membawa mereka sampai sini? Kenangan muncul di benaknya, tentang bagaimana dia meminta mereka untuk tinggal di belakang sementara dia membimbing dirinya dalam hujan yang sangat dingin, merayap di tanah dan berlumpur untuk mencegah dirinya tidak terlihat oleh skill ranger tipe penyergap. Jika dia terlihat, Neia pasti mati.

Meski begitu, Neia terus melanjutkan tekadnya untuk mati, berpegang teguh pada kepercayaan bahwa dia melakukan ini untuk menyelamatkan orang-orang yang menderita. Itu benar, aku tidak bekerja keras untuk mendapatkan pujian atau apapun. Dia mencoba berbicara sendiri. Bahkan jika Kapten menolak untuk mengakui kontribusinya, orang lain pasti akan mengakui usahanya, bahkan jika mereka tidak mengatakannya. Ingin dipuji atau dihargai karena bekerja keras hanyalah keegoisan seorang manusia. Inilah artinya menjadi penyelamat umat manusia.

Merasakan sakit sendiri, membuat diri sebagai perisai, semua untuk menanggung rasa sakit dan penderitaan orang-orang adalah tugas paladin. Tentunya Kapten harus sama. Masih … bisakah dia mengecilkan suaranya? Tidak, mungkin mereka berdua mengira mereka berbicara cukup pelan. Mereka berdua masih berbicara. Setelah ditinggalkan, Neia berpikir bahwa mereka seharusnya tidak fokus berbicara dan terus mengawasi lingkungan sekitar.

Terutama Remedios, yang memiliki indera pendeteksi bahaya dan kemampuan bertarung seharusnya bisa merespon dengan lebih baik daripada orang lain. Neia menghilangkan rasa frustrasi di dalam hatinya, dan memusatkan perhatian pada bayangan di kabut.

Juga karena dia belum memperoleh kembali kekuatan yang dibutuhkan untuk memanggil mereka lagi, dan juga karena dia tidak ingin terus mendengarkan percakapan mereka. Kemudian – mungkin kabut itu telah terbelah oleh aliran angin – untuk beberapa saat, Neia dengan jelas melihat sekilas bayangan anjungan kapal. Eh? Tidak mungkin … apakah itu … sebuah kapal? Benar, Neia telah membedakan bentuk sebenarnya dari bayangan itu; sebuah kapal yang melayang di atas laut.

Selain itu, itu adalah kapal besar, mirip dengan kapal galleas. Itu kejadian yang sebentar, dan segera terselubung lagi oleh kabut tebal , meski dia tidak yakin bahwa dia benar-benar melihat sebuah kapal. Tentu saja, hal seperti itu tidak mungkin diterima oleh akal sehat. Informasi yang dia miliki tidak bisa dibuktikan, Gustav sendiri sudah mengatakan tidak ada danau di sekitarnya.

Tidak, kalaupun ada, hanya kemampuan sekelas remedios yang mampu membuat kapal layar besar di pedalaman danau. Jika ini adalah wilayah pesisir, mungkin saja mereka menggunakan kapal tua sebagai benteng atau memindahkannya ke lahan tandus untuk tujuan lain. Sebenarnya, ada beberapa contoh di Holy Kingdom. Tetapi, melakukan hal yang sama di pedalaman tidak mungkin untuk dilakukan.

Aku melihat sesuatu, bukan? Itulah cara terbaik untuk memikirkannya. Meski begitu, matanya menolak meninggalkan arah itu, mengamati berulang-ulang.

“… Jadi kamu memang melihat sesuatu, ya?” Menanggapi pertanyaan dari knight yang telah dia ajak bicara tadi, Neia terkejut

“Eh !?”

“Kamu baru saja mengamati arah itu, yang berarti kamu melihat sesuatu di sana, bukan?”

“Ah? Tidak, itu … “

Aku melihat bayangan yang tampak seperti kapal yang bagus. Jika dia benar-benar mengatakan itu, mereka mungkin mengira dia gila. Tentu saja, Neia akan melakukannya. Dalam hal ini, apa yang harus dia katakan?

“Tidak masalah jika kamu salah, tapi bisakah kamu memberi tahu saya jika kamu melihat sesuatu? Itu akan membantu jika ada sesuatu yang terjadi di sana.” Itu adalah pendapat yang sempurna. Dia melihat sekeliling. Semua orang mendengarkan pembicaraan Neia dengan paladin, semua mata menatap Neia. Keadaan kembali seperti biasa, dia tidak bisa hanya menggertak dengan mengatakan “Oh, aku melihat sesuatu”.

“..Ah, saya hanya merasa ada bayangan hitam besar di luar sana.”

“Apakah itu bayang-bayang monster yang besar?” Orang yang paling tidak diinginkan Neia memotong pertanyaannya. Sialan, jangan tanya aku, pikirnya, tapi jelas dia tidak bisa mengatakannya. Neia menghela napas beberapa puluh kali di dalam hatinya sebelum menjawab:

“Tidak, tidak seperti itu. Saya merasa ada bangunan atau sesuatu yang serupa.”

“… apakah kamu benar-benar melihatnya?”

“Saya tidak terlalu yakin, rasanya seperti itu. Tapi, Kemungkinan besar saya salah.”

“Sebuah bangunan? Sebuah benteng Sorcerous Kingdom atau sesuatu seperti itu?”

“Saya tidak tahu”.

Tetapi, faktanya adalah kami belum melihat apapun yang terlihat seperti benteng Sorcerous Kingdom di dekat jalan, atau di dekat desa. Hal itu tidak ada di perbatasan. Meskipun dia merasa bahwa itu adalah sebuah kapal, akan lebih meyakinkan untuk mengatakan bahwa itu adalah bangunan yang tampak seperti sebuah kapal daripada mengatakan bahwa dia telah melihat sebuah kapal.

“Aku mengerti … bagaimana menurutmu, Gustav?”

“Saya percaya padanya. Meskipun – kamu belum membuktikan bahwa itu adalah sebuah bangunan, kan?”

“Ya, itu hanya sesaat. Mungkin juga sesuatu yang beda.”

“Kapten Custodio, bagaimanapun, saya pikir menunggu di kabut adalah pilihan terbaik. Saya tidak berpikir benteng Sorcerous Kingdom akan mengizinkan orang asing untuk masuk.”

“Masuk akal. Ayo kita lakukan, kalau begitu. Semua orang, tetap waspada.” Dia dijawab oleh semua orang, juga Neia. Meskipun mereka tidak seperti waspada, perhatian semua orang terfokus pada satu hal. Karena semua orang ingin membuktikan apa yang telah dilihat Neia.

Kabut tebal terus mengaburkan semua penglihatan, dan ketika semua orang mulai kehilangan minat pada bangunan itu, sesuatu terjadi.

“-Apa !?” Neia dan knight di sebelah kanannya tersentak kaget. Sebuah bayangan bergerak dalam kabut tebal.

“A-apa? Apa itu?” Neia tidak bisa menjawab pertanyaan sang paladin. Mengatakan itu sebuah kapal adalah perkataan gila.

“Apakah bayangan itu … bergerak? Bukankah itu bangunan?” Pertanyaan Kapten sangat masuk akal. Tetapi, karena Neia tidak memberitahunya apa sebenarnya itu, semua yang bisa dia simpulkan itu tampak seperti bangunan.

“Ketika saya melihatnya, itu tampak seperti …”

“Tapi sekarang sudah bergerak, kan? Juga … bayangan itu tampak semakin gelap; apakah itu menuju jalan kita?” Benar, jika itu benar-benar sebuah kapal, maka bisa bergerak ke arah mereka.

Dengan kata lain, kapal itu adalah kapal yang bisa berlayar di darat. Bagaimana bisa … tidak mungkin … Pada akhirnya, bayangan mendekat melewati kabut, cukup dekat sampai bahkan orang-orang selain Neia bisa melihat seperti apa sebenarnya. Tak terbantahkan lagi itu adalah kapal, dan kapal itu bergerak seolah-olah sedang berlayar di atas ombak. Dayung yang besar berbaris panjang dan menonjol dari sisi-sisinya, mendayung seperti berada di air.

“Apakah kamu bercanda?” Kata-kata terkejut keluar dari mulut Remedios yang berbicara pada semua orang dalam kelompok tersebut.

“Apakah kapal-kapal Sorcerous Kingdom berjalan di darat? Negara pelosok yang memiliki semua macam hal yang mengejutkan …” Tidak, tidak, tidak seperti ini, Neia berkata dalam hatinya. Dia mungkin bukan satu-satunya yang berpikir seperti itu.

“Sebuah kapal yang berjalan melewati kabut … sepertinya saya ingat pernah mendengar tentang sesuatu seperti itu sebelumnya …”

“Aku berharap padamu, Gustav! Ayo, coba ingat, aku yakin kamu bisa melakukannya. Kamu mengajariku banyak hal dulu, aku yakin kamu bisa melakukannya. Benar, mau saya pijat kepalamu?”

“Tolong jangan lakukan itu. Lagi pula, saya bukan orang bijak atau apapun. Hanya karena Kapten kita tidak punya pendapat tentang itu, jadi mengharuskan saya mengingat hal itu atas namanya.”

“… Karena yang perlu aku lakukan hanyalah bertanya kepada Anda atau Kylardos.”

“Sepertinya kami telah memanjakanmu terlalu banyak. Begitu kita mengirim Jaldabaoth kembali ke neraka, saya akan memastikan kamu menebus semua waktu belajar yang kamu tinggalkan.”

“Ah, terimakasih, saya ingat sekarang. Itu adalah Kapal Hantu. Saya dengar beberapa pelaut membicarakannya, sebuah kapal yang muncul dari kabut. Kapal yang harusnya tenggelam, tapi berlayar lagi, dan kapal itu dikendalikan oleh undead.”

“Oh! Ya, saya pernah mendengar bahwa Kapal Hantu didahului oleh kabut tebal…. semua orang, bersiap! Jika itu Kapal Hantu, maka kita akan menghadapi undead! Itu musuh!” Bahkan para paladin tidak bisa menahan diri untuk tidak terguncang oleh perintah Kapten mereka.

“Tunggu! Tungu dulu, Kapten Custodio! Sorcerous Kingdom yang merupakan tujuan kita diperintah oleh raja undead, jadi bagaimana jika ini adalah salah satu kapal Sorcerous Kingdom?”

“Apa!? Dia membawa Kapal Hantu ke lahan tandus dan kemudian menggunakannya? … Apa ini?”

Wajar bila Remedios akan tercengang. Undead bisa mengendalikan undead lainnya. Tetapi, jenis undead apa yang bisa menempatkan Kapal Hantu, yang pada awalnya berlayar di laut, di bawah komando seseorang? Segera, kapal itu memperlihatkan dirinya secara keseluruhan. Seperti namanya, sebuah kapal hantu. Itu sudah rusak.

Ada lubang besar di sisi lambung kapal, dan papan dek melengkung ke atas di banyak tempat. Sangat besar, bahkan lebih besar dari kapal induk angkatan laut Holy Kingdom “Hammer of the Holy King”. Jika tidak reyot, akan menimbulkan kesan kekuatan yang luar biasa. Yang terakhir dari tiga tiangnya mengibarkan layar belakang, sementara yang lain memiliki layar persegi biasa.

Tetapi, semuanya robek dan compang-camping, dan tidak terlihat seperti bisa berfungsi untuk mendorong sebuah kapal. Ada kilauan yang tidak biasa pada haluan kapal yang menonjol keluar. Terlihat sangat mengesankan, seperti dipoles. Selain itu, lampunya menyala dengan cahaya magic yang redup, dan memberi kesan bahwa kapal itu membanggakan dirinya. Setelah itu, bagian yang paling menarik adalah panji yang berkibar di tiang utama kapal. Itu adalah simbol Sorcerous Kingdom. Kapal melayang satu meter dari tanah saat bergerak maju.

Segera, kapal melewati kelompok itu – yang terdiam di tempat oleh pemandangan aneh – dari sisi mereka. Tidak ada yang bisa bergerak, dan kemudian kabut mulai menipis. Apakah kapal itu mengeluarkan kabut saat berlayar? Tidak, jika memang begitu, maka kabutnya akan sangat tebal saat seseorang berada di dekat kapal, jadi mereka seharusnya tidak bisa melihat lambung kapal. Mungkin seperti semacam lapisan tersembunyi yang menyelimuti daerah sekitar kapal dengan kabut. Atau mungkin itu adalah kurungan untuk menjaga mangsanya agar tidak melarikan diri. Neia merasa takut dengan pemikirannya. Sorcerer King … seorang raja undead.

Dia mungkin musuh yang menakutkan untuk semua yang kami tahu. Ketika dia mendengar bahwa dia telah memanggil kambing raksasa yang tidak jelas bentuknya, dia membayangkan mereka sebagai domba yang menggemaskan, jadi mungkin Neia telah meremehkan Sorcerer King. Hal itu membuatnya tidak nyaman. Sama seperti bagaimana paladin memandang undead sebagai musuh, undead mungkin menganggap paladin sebagai musuh mereka juga.

Jika demikian, nasib kelompok mereka akan menjadi –

Meski begitu, mereka tidak punya pilihan kecuali meminta bantuannya, untuk bertemu dengan Momon, orang yang pernah bertempur dengan Jaldabaoth. Neia menyeka keringatnya dengan telapak tangannya.

“… Kabutnya hilang. Semua orang, ayo pergi.”

Raja undead yang memerintah makhluk aneh ini. Neia mengumpulkan tekadnya. Sorcerer King adalah undead, Tetapi dia mengizinkan manusia untuk hidup … Orang macam apa dia sebenarnya? Yah, aku tidak akan bisa melihat sisi dirinya, menjadi squire dan segalanya.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded