Overlord WN Chapter 13 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Translator : Kureshima Rio
Editor : Scraba

Kapten Prajurit dari Kingdom

 Ainz melihat Enri yang meninggalkan Desa. Dengan itu, semua yang harus dia lakukan sudah selesai.

Armor dan pedang yang rusak sudah diambil dan diletakkan ke dalam Infinity Haversack [Rangsel tanpa batas]. Tidak ada yang tersisa lagi. Apapun yang terjadi setelah ini. itu akan menjadi masalah Desa ini sendiri. Yang tersisa hanya orang yang meninggal dan terluka, tindakan pencegahan tidak akan diperlukan karena akan merepotkan. Tapi, apa yang akan dia lakukan kepada adiknya.

Sesuatu yang bagus dilakukan sampai kakaknya kembali, ia harus meninggalkan beberapa Monster untuk menjaga daerah disekitar sana. Ini akan lebih baik jika ia memberitahu dan berdiskusi dengan Demiurge. Bawahannya sangat cocok dengan tipe pekerjaan semacam ini.

Ainz memutuskan untuk mengatakan beberapa ucapan perpisahan kepada Kepala Desa, dan melihatnya berada ditengah Desa.

Disana, beberapa penduduk yang selamat sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu dengan ekspresi serius. Ainz merasa beberapa dari mereka sepertinya sudah membuat keputusan. Ainz berjalan mendekati, ia merasakan perasaan yang semakin kuat.

Suasananya berubah, dan menjadi tegang.

“……Apa terjadi sesuatu? Kepala Desa.”

“Orang-orang yang terlihat seperti prajurit sedang menuju kemari dengan Kuda…..”

“Begitu….”

Kepala Desa melihat Ainz dengan ekspresi memohon. Penduduk lainnya juga sama.

Ainz mengerti arti dari tindakan mereka. Dia mengangkat tangannya untuk menenangkan Penduduk Desa.

“Tolong serahkan ini kepadaku. Tolong kumpulkan orang yang tersisa kedalam rumah Kepala Desa. Kepala Desa dan aku akan berada diluar.”

Lonceng berbunyi dan Penduduk Desa berkumpul kedalam rumah Kepala Desa. Ainz memerintahkan Death Knight untuk berjaga disekitar.

Ainz mencoba tersenyum kepada Kepala Desa yang gugup. Tentu saja karena ada topeng, senyumannya jadi tidak terlihat.

“Jangan khawatir. Kali ini spesial, aku akan menyelamatkan kalian dengan gratis.”

Kepala Desa tersenyum masam. Tapi, rasa gemetarannya hanya sedikit berkurang. Dia mungkin lapar.

Tidak lama, beberapa pengendara kuda terlihat di tengah jalan mengearah ke Desa. Mereka menyusun formasi dan bergerak ketengah dengan tenang.

“Fumu…..”

Ainz merasakan firasat setelah melihat perlengkapan para Prajurit itu.

Prajurit sebelumnya memiliki logo Empire yang sesuai dengan perlengkapannya. Meskipun mereka mengenakan armor, perlengkapan armornya tidak cocok jika dibandingkan dengan prajurit sebelumnya. Disitu sangat besar perbedaannya karena mereka mengenakan armor kulit sementara prajurit sebelumnya mengenakan armor besi.

Beberapa dari mereka tidak memiliki helm. Namun kemiripan dari setiap orang yang menggunakan helm adalah wajah mereka yang terbuka.

Setiap dari mereka memegang beberapa senjata, pedang dengan desain yang biasa, serta membawa panah, tombak, dan bahkan maces/pemukul.

Jika kau mengatakannya dengan baik, mereka bisa dibilang kumpulan para veteran. Dari sisi lain, mereka juga tidak bisa disebut pedagang.

Tidak lama setelah itu, mereka semua sampai di tengah Desa. Total mereka 14 pengendara kuda.

Beberapa dari mereka siaga terhadap Death Knight. Mereka membentuk formasi yang sempurna dihadapan Ainz dan Kepala Desa, dan salah satu pengendara berjalan mengarah mereka.

Tidak ada kata-kata yang pas untuk mendeskripsikan kekuatan fisiknya. Tubuhnya terlihat seperti baja. Dia terlihat muda, sekitar 30 tahunan. Dengan wajahnya yang lawas, dia mungkin lebih tua dari yang diperkirakan.

Rambutnya dipangkas dengan rapi dan dia memancarkan perasaan yang berbahaya.

Pria itu merubah tatapannya dari Kepala Desa dan berhenti pada Death Knight. Setelah memastikan itu tidak bergerak, dia merubah pandangannya kepada Ainz.

Sepertinya udara mendidih karena tekanan yang mengancam ini. Tapi Ainz sepertinya tidak memperdulikannya dan tetap tenang. Dia menunjukan jiwa seorang professional.

Tentu saja, ini bukan karena Ainz tidak bisa merasakan tatapan intens yang mengarah kepadanya.

Aku tidak pernah merasakan ketakutan sejak mempunyai tubuh ini. Atau apa itu karena aku bisa menggunakan kemampuan ku seperti di Yggdrasil sehingga membuatku percaya diri?

“—-Saya, dari Re-Estize Kingdom, Kapten Prajurit Kingdom, Gazef. Mendapatkan perintah dari Raja untuk mengusir Prajurit dari Baharuth Empire yang membuat masalah disini, kami telah berpatroli di sekitar Desa.”

Suaranya lebih berat dari apa yang diperkirakannya, bergema dialun-alun. Sepertinya terjadi keributan di rumah Kepala Desa.

“Kapten Prajurit Kingdom….”

Ainz sedikit menunduk kearah Kepala desa dan membisikan dengan tenang ketelinganya.

“……Orang seperti apa dia?”

“Saya pernah mendengarnya dari pedagang. Posisinya didapat dari kemenangannya di turnamen Kingdom, orang yang diberi kedudukan Prajurit terbaik oleh Raja.”

“Hou……Apa itu benar?”

“Saya tidak tahu. Saya tidak tahu detailnya.”

Ainz melihat gerombolan prajurit itu, logo Kingdom terukir didada mereka. Itu sama sepertia apa yang Kepala Desa bilang. Tapi tetap, tidak banyak yang yakin.

“Kau pasti Kepala Desa.” pandangan Gazef dengan pelan pindah ke arah Kepala Desa “Saya ingin kau memberitahuku siapa orang yang berada disampingmu itu.”

“…….”

“Senang bertemu denganmu. Kapten Prajurit dari Kingdom. Aku Ainz Ooal Gown. Seorang Magic Caster yang datang menyelamatkan Desa ketika mereka diserang oleh para Prajurit.”

Sebelum Kepala Desa membalas, Ainz memperkenalkan dirinya sendiri secara formal. Diikuti dengan sedikit menunduk terhadap Kapten Prajurit. Sebagai balasan, Gazef menundukkan kepalanya.

“Saya tidak tahu lagi bagaimana harus berterima kasih karena telah menyelamatkan Desa ini.”

“Tidak tidak. Sebenarnya aku menyelamatkan Desa ini karena imbalan, jadi tidak perlu khawatir.”

“jika begitu, seperti apa orang yang menyerang Desa ini? Saya ingin mendengar tentang ini secara detail.”

“Aku tidak keberatan, gimana Kepala Desa?”

“Tidak, saya tidak keberatan sama sekali.”

“jika begitu ayo kita dengarkan.”

“Aku tidak keberatan tapi, itu akan lebih baik jika aku menjelaskan semuanya, tapi itu tidak bisa dibicarakan disini. Bisakah kita duduk dan bicara?”

“Fumu….boleh saja sih tapi…..”

“Beberapa dari Prajurit sudah terbunuh. Menurut pendapatku. Sepertinya mereka tidak akan menyerang kesini lagi. Aku perlu menegaskan hal ini.”

“Begitu.”

Sepertinya Gazef melakukan pemikiran yang dalam, tatapannya sekali lagi terpaku terhadap Death Knight. Apakah dia mencium jejak bau darah?

“Apa itu?”

“Seorang bawahan yang aku ciptakan.”

“Hou.”

Tatapan tajam Gazef mengamati setiap inci dari Ainz secara hati-hati.

“Dan topeng itu.”

“Sesuatu untuk menunjukan posisiku sebagai Magic Caster.”

“Bisakah kau melepaskannya?”

“Aku harus menolaknya. Ini—-“Dia menunjuk kearah Death Knight. “Akan berbahaya jika Monster ini Mengamuk.”

Kepala Desa membuat wajah yang khawatir layaknya dia tahu kekuatan dari Death Knight. Dan juga Gazef mendengar suara Penduduk dari dalam rumah Kepala Desa. Dia merasakan ekspresi mereka berubah dengan cepat, dan begitu dia menunduk.

“Begitu ya. Kalau begitu lebih baik tidak melepasnya.”

“Terima Kasih banyak.”

“Jadi—-“

“Sebelum itu. Aku minta maaf, karena Desa baru saja diserang oleh Prajurit Baharuth Empire, aku rasa para Penduduk itu takut karena melihat orang yang bersenjata. Dan aku yakin itu akan menenangkan mereka semua jika kau bisa meletakkan senjatamu ditengah Desa?”

“……Itu masuk akal. Namun, pedang ini sudah di anugrahkan kepada saya oleh Raja. Jadi saya tidak bisa melepaskannya terkecuali itu perintah Raja.”

“—-Ainz-sama.”

“Kepala Desa.”

Kepala Desa mengangguk kepada Ainz. Itu sesuatu yang tak terbantahkan.

“Aku benar-benar minta maaf untuk itu. Karena, memintamu untuk melepaskannya.”

“Tidak, Ainz-dono. Saya yakin bahwa pendapatmu itu sangatlah benar. Jika ini tidak diberikan oleh Raja, maka saya akan sangat senang untuk meletakannya. Sekarang, ayo kita duduk dan bicara tentang ini dengan detail.”

“Baiklah. Kalau begitu, mari kerumah saya.”

“Umu. Dan kalian semua bantulah disekitar Desa.”

“Ha!”

Para prajurit yang berbaris dibelakang menjawab setuju.

Setelah para Penduduk pergi, mereka bertiga yaitu Kepala Desa, Ainz dan Gazef masuk kedalam rumah untuk membicarakan insiden ini dengan detail.

Para Prajurit pergi bekerja atas inisiatif mereka sendiri, waktunya bagi mereka untuk menjadi sibuk. Sangat banyak hal yang harus dilakukan. Contohnya, 1 keluarga terbunuh. Sisa-sisa dari tragedi yang terjadi ketika peristiwa itu tidak boleh dibiarkan berlama-lama. Karena itu mereka perlu menggunakan minyak alkimia.

Melakukan pembongkaran juga diperlukan. Selanjutnya, semua keperluan yang ada didalam rumah itu dikeluarkan dulu. Perkerjaan itu membutuhkan cukup banyak tenaga.

Prajurit harus melepaskan armor mereka, sebelum menggunakan kemampuan individu mereka untuk mengeluarkan barang-barang berharga. Akan lebih cepat jika mereka membuang barang-barang itu. Tapi, semua barang itu akan di bagi-bagi kepada mereka yang selamat dan kepemilikannya akan berpindah tangan. Untuk itu, perlu hati-hati.

Mereka bekerja dengan tekun. Beberapa rumah memiliki barang-barang berharga yang perlu dipindahkan.

Kuburan baru perlu digali untuk melanjutkan pemakaman. Arwah jahat mungkin akan merasuki mayat jika dibiarkan begitu saja, membiarkan bangkitnya Undead.

Undead—-

Mereka adalah monster yang bergerak meski tubuh mereka yang sudah tidak bernyawa. Mereka umumnya muncul dimedan perang. Namun, mereka juga muncul di beberapa tempat terjadinya pembunuhan dan tubuhnya dibiarkan begitu saja. Zombie, Skeleton dan Ghoul adalah jenis yang paling dikenal dari mereka.

Melakukan pemakaman sangatlah penting untuk mencegah phenomena dari kebangkitan itu.

Di Desa mereka mempunyai tempat pemakaman mereka sendiri. Pertama mereka menggali lobang, dan tidak melakukan apa-apa tapi hanya meletakkan mayat didalamnya,

Semua orang sibuk dengan pekerjaannya, Death Knight yang berjaga-jaga disamping rumah Kepala Desa sedang dianalisa oleh tiga Prajurit.

“Pria ini besar sekali.”

Salah satu Prajurit menyentuh Death Knight. Kulit yang terpisah dari bagian besi dari armor itu sangat dingin untuk di sentuh

“Dari pembicaraan para Penduduk, pria ini membunuh banyak Prajurit Empire.”

“Wow. Serius? Tapi, karena dia besar, pergerakannya pasti lambat.”

“Itu benar.”

“Tapi, apa dia benar-benar bisa bergerak? Terlihat seperti tidak ada apa-apa melainkan mayat bagiku.”

“Tidak tahu juga. Ma~, sepertinya bagus untuk dijadikan tameng.”

Menunjuk kearah perisai yang besar di tangan kirinya, para Prajurit mulai tertawa. Karna kepercayaan diri mereka.

Kenyataannya, didalam Kingdom, 180 orang yang membentuk korps Prajurit Elite Kingdom adalah prajurit-prajurit terbaik. Mereka merupakan kelompok yang paling dipercaya oleh Raja. Kemampuan mereka memungkinkan mereka berhadapan satu lawan satu dengan prajurit Empire dan menang dengan mudah.

“Prajurit-sama, jika kau membuatnya marah kau mungkin akan mati.”

Seorang anak muda dari Desa itu bilang kemereka dari kejauhan. Ketiga Prajurit tu melihat satu sama lain dan tertawa.

“Haha, tidak apa-apa, kami adalah Prajurit elit dari Kingdom.”

“Jangan bicara dari jauh seperti itu, kemarilah. Bahkan jika makhluk ini mengamuk kami akan melindungimu.”

Api merah terlihat muncul dari salah satu rongga mata yang kosong dari Death Knight, menatap ke para Prajurit itu. Anak muda yang melihat itu langsung melarikan diri.

“Oi, ada apa bouzo*?”

[T/N : Bouzo, ini kata yang digunakan didalam bahasa jepang biasanya untuk memanggil seorang bocah.]

“Awa.”

Anak muda itu menunjuk kearah Death Knight dan Prajurit itu mengikuti arah tangan si anak. Disitu tidak ada cahaya merah. Hanya sebuah mayat yang tertidur.

“Apa yang terjadi?”

Para Prajurit itu melihat kearah si anak muda, yang sudah melarikan diri. Melihat anak muda itu yang memilih pergi dan bersembunyi dirumah, Prajurit itu tertawa.

“Ini benar-benar menakutkan. Mahluk besar ini.”

“Yup.”

“Namun Magic Caster yang bisa menggunakan Necromancy, salah satunya adalah dari 13 Pahlawan.”

“Apaan tu?”

“Tidak tahu ya?. Mereka adalah pahlawan yang mengagumkan dari masa lalu. Aku mendengar ini di kelas, tapi aku lupa nama mereka.”

“M-enarik. Tapi tidak mungkin pria yang bertopeng aneh itu seorang pahlawan.”

Sekali lagi, suara tawa mereka bertiga menyebar kesekitar. Tapi, Death Knight tetap tidak aktif. Itu memang sangat menakutkan.

===

“—-Begitu.”

Setelah meminum segelas air yang hangat, Gazef membuka mulutnya. Dia tetap diam dan kadang mengangguk kepada Ainz dan Kepala Desa pun selesai menjelaskan tentang kejadiannya.

“Sudah saya katakan sebelumnya tapi, Ainz-dono. Saya sangat berterima kasih padamu karena telah menyelamatkan Desa ini.”

“Tidak, aku sudah katakan sebelumnya, aku hanya mengharapkan imbalan.”

“Jika terlalu sopan seperti itu, rasanya menyakitkan bagi saya.” Gazef mengirimkan tatapan tajam terhadap Ainz, dan juga wajah Kepala Desa. “Bisakah kau membiarkan saya melihat armor yang Prajurit itu gunakan?”

“Tentu.”

Menyadari tatapan tajam Gazef, Ainz membuka Infinity Haversack-nya. Dia mengeluarkan sebuah armor, salah satu yang rusak. Ia menghadapkan bagian logonya dekat dengan Gazef jadi dia bisa menganalisanya. Gazef mengambil armor itu, tapi dia bingung bagaimana caranya sebuah armor bisa dikeluarkan dari tas sekecil itu. Tapi dia tidak terlalu memikirkannya.

“Kepala Desa, apa benar seperti ini?”

“Iya, tidak di ragukan lagi.”

Menunduk dengan muram, Gazef menerima armor itu dengan kedua tangannya. Dia menganalisa dengan dekat, membalikannya, dan juga memberi sedikit ketukan. Tidak lama setelah mendapatkan kesimpulan, ia meletakan armor itu dimeja.

“Ini benar-benar armor dari Empire.” Melihat dengan dekat dari desainnya, ia melanjutkan. “Tapi menggunakan ini tidak akan sepenuhnya melindungi tubuh.”

“Jadi?…..”

Kepala Desa tidak begitu paham arti dari perkataan itu, dia terlihat kebingungan.

“Ada kemungkinan Slane Theocracy yang berpura-pura sebagai Prajurit Empire.”

“Kenapa mereka melakukan itu?!”

“Untuk memperburuk hubungan antara Empire dan Kingdom. Tentu saja. Itu hal yang belum pasti.”

Ainz melihat sekilas kearah Gazef tapi tetap diam. Berdasarkan dari bahasa tubuh, dia ingin mengatakan sesuatu. Kepala Desa sangat terkejut dari perkataan itu. Kemudian, Gazef mulai berbicara dengan nada yang serius.

“…..apakah Death Knight yang membasmi para prajurit itu, Ainz-dono, berapa banyak yang kau punya?”

“Hanya satu ini.”

“Iya.”

Setelah mendengar jawaban Ainz, Gazef dengan pelan menutup matanya. Setelah beberapa detik terlewat, dia membuka matanya lagi.

“Saya tidak berpikir kalau jumlah mereka banyak tapi…..sepertinya itu hanya kesalahpahaman saya saja.”

“…….”

Ekspresi dibalik topeng itu tidak berubah. Tapi meski begitu—-

“Jika dugaan itu berasal dari orang terkuat dari Kingdom, maka itu normal.”

Ainz tersenyum dibalik topeng itu dan bicara seperti biasa. Gazef melihat ke Ainz sebentar, kemudian merubah pandangannya ke armor setelah kehilangan ketertarikannya.

“……Sekarang, maafkan saya tapi saya harus membawanya kembali bersama saya.”

“Aku tidak keberatan jika kau berniat untuk membelinya.”

Ainz dan Gazef saling menatap dengan tajam. Tentu saja, dikarenakan topeng mungkin saja asumsi itu salah.

“……Berapa harganya?”

“Armor ini sangat ringan. Pasti sudah terpasang sihir. Dan tentu saja harganya juga bertambah. Jadi seperti itulah.”

Suasana menjadi berat. Kepala desa nyaris tidak mampu mengatasinya dan dengan waspada mengamati kedua belah pihak.

“Saat ini, saya tidak membawa banyak uang, beberapa hari……Benar, Nazarick ya kan? Apakah kau tidak keberatan jika membawa kami kesana?”

“…….Itu akan bermasalah. Bahkan jika kau yang datang, mungkin saja aku tidak ada disana.”

“Bagaimana kalo kita ketemuan di Kota?”

“……Tidak buruk juga tapi….” Ainz melihat kelangit, berpendapat dan membuka mulutnya. “Aku harus kembali ke Nazarick dan mempersiapkan beberpa hal, jadi aku harus menolaknya.”

“Fumu….. Bagaimana kalau pembayarannya dalam bentuk yang berbeda?”

“Dalam bentuk seperti apa?”

“Karna itulah saya menanyakannya.”

Suasana semakin tegang.

Antara Ainz yang ingin menjual itu dengan harga yang tinggi dan Gazef yang menginginkan magical armor itu. Disitu ada sebuah konfik ketertarikan, angin dingin berhembus.

“Jadi….. bagaimana kalau seperti ini. Berduelah dengan Death Knightku.”

“Apa-?!”

Kepala Desa berteriak terkejut. Gazef yang tenang mengambil segelas air. Tidak, itu hanya untuk membasahi bibirnya.

“Aku ingin sekali mengetahui perbedaan kekuatan antara bawahanku dan orang yang dikenal sebagai yang terkuat di Kingdom.”

“Tapi, Ainz-dono!”

“—-Baiklah.”

Kepala Desa merasa khawatir tapi dia tetap menutup mulutnya, suara, terdengar seperti semangat, yang bergema di dalam ruangan.

“Apa.”

Kali ini yang mengeluarkan suara terkejut adalah Ainz. Setelah mendengar itu, Gazef menunjukan senyum seorang predator.

“Ada apa, Ainz-dono. Apa kau hanya berpura-pura? Kau terlihat terkejut?”

“T, Tidak, tapi, aku yakin bahwa Gazef-dono pasti akan terluka.”

“Saya tidak keberatan. Saya akan mengujinya langsung dengan bawahanmu.”

Ainz tergejut oleh jawaban Gazef. Ternyata masih memungkinkan mencapai kesepakatan dengan orang ini. Dia mungkin ingin mencari tahu seberapa jauh kemampuannya. Berdasarkan dari sarannya, mungkin Ainz lah yang akan mempelajari lebih banyak.

Karenanya, ini adalah kesempatan yang bagus.

Death Knight bukanlah bidak yang penting bagi Ainz. Dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan untuk memanggil Death Knight dengan harga untuk mempelajari tentang kekuatan dari orang terkuat di Kingdom, itu masih tergolong murah.

Disaksikan oleh para Prajurit dan Penduduk, kedua petarung, Death Knight dan Kapten Prajurit Gazef berdiri ditengah, dan berhadapan satu sama lain.

“Baiklah, sebagai janji kita, tidak peduli sisi mana yang menang, atau jika ada yang terluka dari pertarungan. Kedua belah pihak tidak boleh saling menuntut.”

Ainz mengajukan beberapa saran. Banyak Prajurit menyuarakan opini mereka tapi itu semua didiamkan oleh Kapten Prajurit.

Ainz mengambil flamberge dari Death Knight, dan menggantinya dengan boardsword yang diambil dari salah satu Prajurit. Melihat ini, Gazef menujukan ekspresi yang ingin mengatakan sesuatu tapi pada akhirnya tetap diam. Ainz melihat itu tapi tidak memperdulikannya. Ma~, apapun yang akan aku katakan itu akan menjadi sebuah alasan.

“Sekarang kedua belah pihak. Harap bersiap-siap.”

Apakah tidak apa-apa membiarkan suansana seperti ini sebelum bertarung? Ainz terlihat berkeringat seperti dia sedang berbicara dengan kedua petarung.

Death Knight yang memegang perisai dan boardsword. Sementara, Gazef memegang sepasang Bastardsword. Gazef tidaklah pendek, hanya saja perbedaan tinggi mereka sekitar 50cm. Tapi itu terlihat seperti anak kecil dan orang dewasa. Dari situ saja,  sangat terlihat perbedaan kekuatan mereka. Bisakan Gazef menang? Itu yang ada didalam pikiran para penonton.

—-Death Knigth. Dari pada menyerang. Lebih baik fokus pada pertahanan.

“Baiklah ayo dimulai.”

Death Knight maju dengan lambat sambil melakukan beberapa tusukan dengan pedangnya. Gazef menghidari itu dengan mudah. Ini adalah signal pembukaannya.

Saling beradu pedang sudah dimulai.

Badai dan sungai.

Yang mana yang akan menang?

Pertarungan mereka bisa dibilang seperti itu.

Pedang itu berkilau. Saat pedang-pedang itu beradu, itu seperti dua cahaya yang saling berbenturan satu sama lain.

Pedang dari kedua belah pihak meninggalkan jejak kekuatan Sihir yang melepaskan percikan api magis.

Suara logam yang saling beradu keluar dari setiap serangan .

Beberapa Prajurit mulai khawatir, sementara yang lain ketakutan, dan yang lainnya tertegun

Itu luar biasa. Tidak mungkin mereka bisa melindunginya. Itu adalah fakta bahwa tidak ada rasa permusuhan yang dapat menyelamatkan mereka. Suara seperti itu dapat terdengar dari para prajurit.

Mereka tidak pernah melihat pertarungan manusia terkuat. Sekarang, mereka bisa melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri. Para Prajurit itu tanpa sadar mengepalkan tinju mereka. Bahkan saat latihan, mereka tidak pernah melihat kekuatan sebenarnya dari Kapten Prajurit.

Tebasan keatas. Tapi pedang yang diarahkan kekepala musuh itu dapat dihindari. Death Knight hanya memundurkan kepalanya kebelakang dan pedangnya hanya mengenai helm dan armor.

Death Knight memiliki kemampuan khusus yang memungkinkan pedangnya melengkung seperti cambuk. Itu memblokir pedang Gazef dan terus menjalar melewati pedang untuk mengenai bahu Gazef.

Tidak mungkin untuk menghindarinya. Siapapun akan berpikir seperti itu. Tapi—-

—-Dia melepaskannya.

Semua orang terkejut. Gazef melepaskan pedangnya sendiri.

Sebelum pedang Death Knight mencapai bahunya, Gazef menangkap lagi pedang dengan kedua tangannya.

Adegannya terlihat seperti tarian pedang. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Itu tidak bisa dibayangkan.

Gazef mengayunkan pedangnya dan Death Knight menghindarinya. Selanjutnya, Death Knight mengayunkan pedangnya dan Gazef menghindarinya. Tidak meninggalkan celah untuk bernafas, pedang itu terus beradu.

Jika kau menyebutnya tarian pedang, semua orang pasti akan setuju. Jika hal itu sudah dipraktekkan sebelumnya itu mungkin saja mudah dilakukan. Dia ingin berpikir seperti itu.

Banyak serangan yang terjadi tapi tidak satu pun yang mengenai tubuh mereka.

Antara mereka berdua, siapa yang paling kuat? Banyak Prajurit yang merasa penasaran.

Apa yang mereka lakukan sekarang? Mereka hanya berpura-pura empat kali? Tidak, lima? Para Prajurit mencoba menjelaskan apa yang mereka liat tapi tidak bisa mengikuti pergerakan. Penduduk berhenti memikirkan tentang apapun setelah melihat sebuah pertarungan yang seperti itu.

Pedang Death Knight berhasil memotong helm Gazef. Gazef menudukan tubuhnya untuk menghindari serangan itu.

Beberapa helai rambut berterbangan diudara. Rambut pendeknya terpotong. Seberapa dekat Gazef dapat terkena serangan?

—-Pada momen itu.

Itu kelihatannya timing yang pas.

Dengan menghindari pedang itu sepertinya situasi berpihak ke Gazef. Sekarang pedang itu berayun sangat jauh, bahkan Death Knight dengan tangannya yang kuat tidak akan bisa mengembalikan pedang yang sudah diayunkan dari posisi awalnya itu.

Namun, lawannya adalah Undead.

Jika itu orang biasa sudah pasti urat-urat tangan mereka akan putus. Mengayunkan pedang kebelakang dan menebaskanya. Pedang yang biasanya bisa memotong manusia dengan mudah.

Angin berhembus melewati kepala Gazef

Menunduk—-Apa dia sudah memperdiksi itu? Gazef menghindari serangan dengan jongkok.

Dengan itu, pedang Gazef akan melukai kaki Death Knight, ketika akan menusuknya—-

Death Knight melompat. Dia langsung melompat kebelakang untuk menghindari pedang itu.

Itu seperti kucing. Itu terlihat anggun sekaligus ganas. Sangat ringan- terlihat elegan, dengan pelan mendarat di tanah.

Gazef dengan pelan berdiri, dan Death Knight sekali lagi mengayunkan pedangnya. Suara teriakan berdengung di tengah Desa.

“Fu!”

Gazef bernafas dalam-dalam, dan menghidarinya seperti kecepatan peluru.

Pedang itu melesat.

Suara yang membuatmu ingin menutup telinga. Suara itu berasal dari celah antara perisai besar dan bastardsword milik Gazef. Tubuh Death Knight menerima itu, dan kehilangan keseimbangannya untuk beberapa saat.

“Ooooo!!”

Gazef mengayunkan pedangnya ke arah perisai besar dengan berteriak. Death Knight memundurkan perisai besarnya dengan jengkel, dan mengayunkannya ke arah Gazef. Gazef yang melompat kebelakang, dan kembali.

Pergerakannya sangat lincah seolah-olah tidak memakai armor sama sekali.

Hembusan angin dari kecepatan yang tidak mungkin dari perisai besar itu menciptakan awan debu disekitarnya. Dan ketika itu, keduanya pun bergerak kedalam debu itu.

Suara dari besi.

Kedua orang yang keluar dari kepulan debu tidak terluka sama sekali. Gazef yang pertama mundur keluar. Apa dia terdorong? Atau itu keputusannya sendiri?

Pada titik ini, para penonton hanya terdiam.

Itu dapat dipahami, hati ini mengerti ketika pertarungan ini berada diluar batas manusia. Ainz melihat prajurit yang akan menarik nafas dan membuka lebar matanya, dan terlihat seperti mereka melupakan sesuatu. Tatapan Penduduk menunjukan mereka yang tidak begitu mengerti, kecuali fakta bahwa mereka sedang menyaksikan sesuatu yang menakjubkan.

Ditengah-tengah pertarungan yang mengagumkan, hanya Ainz yang menyaksikannya dengan mata dingin.

Hatinya bertanya-tanya apakah lawan sudah menunjukkan kekuatan penuhnya, akan membingungkan jika memang seperti itu. Dia mempertahankan ketenangannya berbeda dengan para penonton yang sangat riuh.

Tidak memperdulikan pendapat Ainz, pedang itu tetap beradu.

Para Prajurit dan Penduduk wajahnya memerah, dan menggenggam tangan mereka dengan kuat. Jika mereka salah timingnya bahkan sedikit saja mereka pasti akan mati, otak mereka bisa memahami itu.

Disitu ada sesuatu yang tidak akan pernah bisa mereka capai, keinginan untuk mencapai puncak tertinggi.

Suara dari besi yang beradu rang, rang, rang, rang—-

Kecepatan serangan pedang mereka berdua dari kedua sisi sudah melewati batas.

—-Pada akhirnya, pedang Gazef melesat dan menimbulkan luka diwajah Death Knight. Bagi orang yang menyaksikan, itu hanyalah tebasan keberuntungan.

Dan setelah itu suara Ainz bergema.

“—-Hentikan, sudah cukup.”

Suara keras dari teriakan dan tepuk tangan. Itu adalah pertarungan yang luar biasa. Sekelompok prajurit sedang merayakan kemenangan kapten mereka.

“……Seperti yang diharapkan dari orang terkuat di Kingdom. Gazef-sama.”

Dia bernafas dengan lelah dan wajanya berubah merah, Gazef tersenyum ke Ainz yang berada dibelakang kerumunan. Gazef menunjukan senyum yang mengerikan sambil berjalan kearah Ainz yang tidak terkejut sama sekali.

“Saya rasa kau sepertinya membiarkan saya menang, bukankah begitu Ainz-dono?”

Gazef mengambil handuknya untuk mengelap keringat. Hasrat membunuh yang keluar dari segenggam handuk.

“Tidak, sebenarnya, “Ainz mengambil langkah lebih dekat, dan berbicara pelan sehingga tidak seorangpun mendengarnya. “Jika aku menang, itu akan menimbulkan banyak masalah nantinya.”

“—-Hou.”

Suasana menjadi tegang. Dan Ainz melihatnya dengan tenang. Gazef mengelap keringatnya, dan metelakan kain itu di kantongnya.

“Saya akan menggingat itu.”

“Aku meninggalkan beberapa set armor didalam rumah Kepala Desa. Silahkan bawa itu bersamamu.”

Mengamati dari belakang Gazef yang pergi, Ainz sedikit tersenyum. Setidaknya aku mengetahui kekuatan dari Prajurit terkuat di Kingdom.

Mungkin akan lebih memahaminya jika dia sendiri yang bertarung. Namun, sepertinya Gazef akan melaporkan hal itu nantinya ke Raja. Dia bukan tipe manusia yang mengutamakan emosinya dari pengetahuan yang dia dapat. Dia pasti sangat loyal kepada Raja. Ini sudah terbukti ketika Gazef di tanya untuk melepaskan senjatanya tadi, dia menolaknya karna itu pedang yang di berikan kepadanya oleh Raja.

Tidak peduli seperti apa kelihatannya, transaksi ini tidak membutuhkan biaya.

Ainz yang sangat puas melihat ke arah Death Knight. Kapan monster ini akan menghilang? Itulah pertanyaan yang ada di kepalanya.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded