Re:Zero Arc 4 Chapter 63 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

[Translator : Scraba]

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Suruh Mbak Google Baca”]

Rasa Empati ketika menuju kematian

Suara dari pecahan permata yang menusuk ke dalam daging terdengar secara beruntun, karena kabut fragmen yang berkilau  menyebar menimbulkan dampak yang menutupi aula.

Tombak yang tak terhitung jumlahnya melesat ke arah tubuh Elsa dari segala arah, dan dia akan tertusuk dengan jutaan lubang ditubuhnya.

“Kemenangan sudah dipastikan”. Tetapi bahkan saat dia melihat si pembunuh hancur di bawah kekuatan luar biasa sihir Beatrice, dia tidak bisa menahan perasaan tak menyenangkan yang muncul di dalam hatinya.

――Apa itu, apa yang sudah dia lupakan? Ada sesuatu yang tidak boleh dia lupakan.

Apa itu? Bahkan ketika dia mencoba untuk mengingatnya, aliran emosi membuatnya hilang.

Apa tujuan Elsa datang ke Mansion? Setelah menemukan tubuh Frederica, rasa malunya karena mencurigai Frederica telah membuat hatinya kacau. Dia tidak akan pernah menerima kematian Petra, dia juga tidak bisa menekan kecemasannya untuk memastikan keselamatan Rem yang ada di balik pintu itu. Semua emosi itu menjerit didalam dirinya. Dan Beatrice―― apa yang perlu dia katakan kepada Beatrice?

Apa itu? Subaru tidak dapat menemukan jawaban atas pertanyaan yang membingungkan hatinya.

[Subaru: ――――]

Dan begitulah, dia melewatkan kesempatan untuk mencegah apa yang seharusnya dia cegah.

[Subaru: ――egh, ah?]

Sebuah benda terbang keluar dari cahaya yang berkilau, dan menancap jauh ke dalam bahu kanan Subaru.

Melihat ke arah sumber rasa sakit, pikirannya menjadi panas saat dia melihat darah yang mengalir dari luka. Memekik dengan tenggorokannya seolah dicekik saat sesuatu mengenainya , jatuh ke lantai.

[Beatrice: Bagaimana mungkin …… !? Padahal itu sudah serangan telak!?]

Melihat Subaru yang terluka, Beatrice berteriak kaget.

Mendengar Beatrice menjerit membuatnya berpikir, hanya pada saat itulah dia ingat. Dia ingat itu. Benar. Itu adalah serangan telak. Tidak diragukan lagi. Tapi,

[Subaru: ELSAAAAAA !!]

[Elsa: Tidak perlu berteriak seperti itu, aku bisa mendengarmu dengan baik]

Dari kebenciannya, dan dipicu oleh rasa sakit, itu adalah jeritan yang sangat keras tidak seperti jeritan sebelumnya. Dan, sebagai jawaban, di tengah-tengah kristal yang berjatuhan di ujung lorong itu— suara yang memikat dan santai menjawabnya, tanpa adanya tanda-tanda dalam keadaan hidup dan mati seperti yang terjadi sebelumnya.

[Beatrice: Dia tidak terluka … bagaimana mungkin]

[Elsa: Jika aku telanjang, aku mungkin sudah mati karena itu]

Melihat Beatrice menggeleng tak percaya, Elsa menjawab dengan rambut kepangnya yang bergoyang. Dia tidak sedikit pun terlihat seperti baru saja menerima serangan langsung dari sihir Beatrice. Bahkan, dia muncul persis seperti yang dia lakukan sebelumnya.

Kecuali, hanya ada satu perbedaan. Dia telah melepaskan jubah berbulu nya, dan sekarang hanya mengenakan pakaian hitam.

[Subaru: Jubahnya yang dapat menghapuskan sihir!]

[Elsa: Ini sudah kedua kalinya kau melihatnya. Sayang sekali kau agak terlambat untuk memberi tahu gadis itu tentang hal itu]

[Subaru: Sial ……!]

Tidak ada satu kata pun yang bisa mengekspresikan penyesalannya karena kemarahan mendidih dibalik rasa sakitnya.

Jubah Elsa memiliki kemampuan untuk menghapuskan satu serangan sihir. ――Itu adalah sesuatu yang dia saksikan sendiri selama pertarungan mereka di dalam Ibukota.

Fakta bahwa serangan Beatrice datang dengan tiba-tiba, dikombinasikan dengan kurangnya koordinasi sebelumnya, semua telah menyebabkan kesalahan yang tidak dapat di toleransi.

[Beatrice: Sekarang aku tahu trik mu, itu tidak terlalu mengejutkan]

[Elsa: ――Luar biasa. Oh, sungguh luar biasa. Kekuatan yang luar biasa, dan juga sangat menggemaskan. Tidak seperti gadis yang hanya tahu merengek dan menangis, aku sangat menantikan untuk merasakan kehangatan isi p3rutmu.]

Aura Beatrice semakin intensif ketika Elsa memutar-mutar pisau Kukri yang ada di tangannya sambil tersenyum. Dari ucapannya, sekaligus senyumnya yang sadis — sudah jelas siapa yang dimaksud “gadis yang merengek” itu. Dan sesaat dia menyadari, kemarahan Subaru yang mulai membara.

[Subaru: Kau tidak berhak berbicara tentang Petra seperti itu―― !!]

Pisau lempar yang menancap di bahu kanannya—ujungnya yang bengkok membuatnya sulit untuk di lepaskan. Namun, rasa kesal karena benda yang menancap di dalam dagingnya, Subaru mencabutnya dalam satu gerakan.
Rasa sakit yang intens mengaburkan pandangannya, dan dia bisa merasakan lengan kanannya yang sulit untuk digerakkan. Dan kemudian, mengabaikan lukanya, Subaru melemparkan pisau yang dilepaskannya itu kembali ke Elsa.

Meskipun dia telah melemparkannya dengan sekuat tenaga, tetap saja itu lemparan yang sembarangan tanpa pelatihan sebelumnya.
Fakta bahwa pisau itu dapat melayang lurus ke arah Elsa merupakan keajaiban, dan itu juga berlaku untuk kecepatannya. Tetapi jelas bahwa serangan semacam itu tidak akan berpengaruh pada seorang pembunuh dengan kelincahan di luar pemahaman manusia.

[Elsa: Aku mengagumi semangatmu, tetapi jika ini adalah semua y――]

[Subaru: Aku tidak akan memaafkanmu! SHAMAC―― !!]

[Elsa: ―― !?]

Saat Elsa bersiap untuk serangan yang sedang di lancarkan, Shamac yang ketiga keluar dari tenggorokan Subaru yang gemetar.
Menyedot sisa-sisa dari tubuhnya yang sudah kehabisan Mana karena penggunaan yang pertama dan kedua, Subaru mengeluarkan kekuatan kehidupannya karena dia yang tidak berpengalaman sebagai bayaran untuk penggunaannya.
Darah keluar dari matanya dan juga mengalir dari hidungnya. Dan kemudian, jeritan dari jiwanya pun terjawab.

Kegelapan menyebar melalui pusat lorong, menutupi ruang antara dia dan Elsa. Pisau yang dilemparkan Subaru terbang menuju gumpalan asap. Menyerang menembus kegelapan yang menutupi, arahnya tetap menuju Elsa―― arah serangan pisau itu tak dapat terlihat.

[Subaru: Kumohon kena――!]

[Elsa: Kau mengejutkanku, tetapi itu tidak sulit untuk menghindarinya]

Elsa mengucapkan keluhan saat dia menundukkan tubuhnya untuk menghindari serangan.
Shamac Subaru gagal mencapai dia, dan dengan demikian memungkinkan dia untuk menghindar di saat-saat terakhir.
Terbang keluar dari kepulan asap, pisau kecil itu luput dari sasarannya dan terus menuju ujung aula. Dan, seperti itulah, serangan Subaru berakhir sia-sia ―― atau begitulah tampaknya, ketika,

[Subaru: Beako !!]

[Beatrice: Jangan panggil aku dengan tiba-tiba begitu――!]

Jika hanya Subaru yang ada disana, mungkin serangan itu hanya akan berakhir di sana.
Tapi ada dua orang yang berdiri melawan Elsa ―― dan gadis yang lain telah menggunakan waktu yang Subaru berikan untuk menyelesaikan mantra berikutnya.

[Beatrice: Sekarang izinkan aku untuk menunjukkan kepadamu. ――Bagaimana sihir Kegelapan yang sesungguhnya]

“Ap――”

Apakah itu Subaru atau Elsa yang mencoba mengatakan itu?
Bahkan itu tidak mungkin untuk diceritakan setelah tindakan Beatrice selanjutnya.
Sambil menggenggam tangan mungilnya di depan dada, Beatrice menggumamkan sesuatu di bawah napasnya. Dan, dengan satu kalimat, tempat itu berubah.

[Beatrice: ――Ul Shamac]

――Dalam skala yang sangat berbeda dari sihir kegelapan tiruan milik Subaru, “Kegelapan” sesungguhnya menyelimuti Mansion.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

Ketika dia sadar, Subaru dikelilingi oleh kegelapan yang pekat.

[Subaru: ――――?]

Sebenarnya, dia belum pasti sadar atau tidak.
Dimana dia? Apakah dia sedang berdiri atau duduk? Dia tidak bisa mengatakannya.
Atas, bawah, kiri, kanan, bahkan depan atau belakang pun tidak jelas. Apakah dia menghirup atau mengembuskan napas? Apakah darahnya masih mengalir? Apakah jantungnya masih berdetak? Apakah dia hidup? Atau dia sudah mati?
Dia tidak bisa mengerti apa-apa. Dia tidak bisa menjawab semua itu. Jika dia berada di dalam Shamacnya sendiri, masih akan ada sensasi di telapak kakinya, dan dia setidaknya bisa merasakan gerakan tubuhnya sendiri. Bahkan jika semua indranya mati, masih akan ada kesadaran batin yang tajam untuk menggantikannya.

Namun tidak ketika di dalam kegelapan ini.
Di sini, dia seolah larut dalam bayangan, dan dia tidak tahu kondisi dirinya sendiri walaupun sudah mencoba.
Apakah dia masih dalam bentuk manusia? Dia tidak begitu yakin. Dia tidak bisa merasakan keberadaan tangannya, sehingga dia bahkan tidak bisa menyentuhnya sendiri untuk memastikan. Bahkan jika dia ingin memeriksa di mana dia berada, dia tidak akan tahu bagaimana cara memberitahu kakinya untuk berjalan. Apa artinya berjalan? Apa artinya memeriksa?
――Terlebih lagi, siapa dia sebenarnya?

Tempat di mana dia berada dan tempat di mana orang lain berada mulai buram.
Tempat di mana dia berhenti dan tempat dimana dunia berada mulai buram.

Bahkan kekuatan untuk berpikir pun mulai menghilang. Luntur. Lenyap.
Dan begitulah, dan begitulah, dan begitulah――

Akhir sudah datang.
Akhir sudah.
Akhir.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

[???: …… Sudah saatnya kau bangun]

Dengan suara dan tamparan kecil di pipinya, Subaru mulai tersadar.
Dia membuka matanya, dan membukanya perlahan karena kecerahan yang menyilaukan menusuk penglihatannya. Mendengar ini, rasa sakit karena ditampar juga membuatnya makin sadar. Kiri dan kemudian kanan, satu kali di setiap sisinya.

[Subaru: Hei, kau tidak harus terus memukulku!]

[Beatrice: Hanya ingin memastikan kau bangun. Untuk yang kedua kalinya, aku tidak tahu mengapa, tapi itu mungkin refleks dariku]

Beatrice memandangnya sekilas lalu memberinya jawaban yang sedikit menghina, dan baru kemudian Subaru menyadari bahwa dia terbaring di lantai.
Bangkit, dia memeriksa tubuhnya hanya untuk memastikan. Rasa sakit yang tajam terasa di bahu kanannya. Secara tidak sengaja melihat ke arah sumbernya, itu memberitahunya bahwa dirinya sedang terluka dan darah mengalir dari luka itu.

[Subaru: Aaghh, sakit …… tidak bisakah kau menyimpan sedikit Shamac itu untukku?]

[Beatrice: Bukannya aku tidak bisa, tapi itu hanya akan membuatmu melupakan lukanya untuk sementara, meski lukanya masih ada. Terus bergerak tanpa benar-benar menyembuhkannya biasanya menyebabkan kematian karena kehilangan darah]

Mendengarkan Beatrice mengatakan kemungkinan mengerikan itu, Subaru menekan tangan di atas luka dan menatap tajam kearah lukanya, mengatakan [Lebih penting lagi ……], seolah-olah telah mengingat sesuatu,

[Subaru: Apa yang terjadi pada Elsa? Karena kau terlihat sangat santai tentang itu … apa kau membuatnya mundur?]

[Beatrice: Apa yang kau bicarakan?]

[Subaru: Apa maksudmu apa yang aku bicarakan? Jika dia masih ada, kita tidak bisa berlama-lama seperti ini. Maksudku, tentu, Shamacmu jauh lebih kuat daripada milikku, tapi jika hanya dengan itu ……]

[Beatrice: Jika kau benar-benar buta, maka aku merasa kasihan padamu]

Subaru dengan cemas mengerutkan alisnya pada ucapan Beatrice yang membingungkan.
Beatrice mungkin tampak optimis, tapi itu karena dia tidak mengenal Elsa dan tidak merasa takut. Jika dia tahu kekejaman pembunuh itu, dia mungkin sama berhati-hatinya dengan Subaru.

Membaca pikiran yang tertulis di wajah Subaru, kali ini, Beatrice mendesah seolah-olah dia benar-benar membuatnya bingung.
Melihat Subaru semakin bingung, Beatrice mengambil satu langkah ke samping,

[Beatrice: Jika kau masih tidak mengerti, lihat saja sendiri]

[Subaru: ――u, oah?]

Adegan itu muncul di hadapannya saat Beatrice melangkah kesamping dan membuka pandangan yang ada dihadapannya. Melihatnya, dia mengerang tanpa sadar.

[Beatrice: Kau bertanya apa yang terjadi pada lawan kita yang menakutkan?]

Mendengarkan pujian Beatrice yang membanggakan sebuah kemenangan, Subaru tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun sebagai balasan.

Karena, di belakangnya – tergantung tubuh yang tertusuk oleh tombak ungu, tertancap di dinding koridor, adalah mayat Elsa dengan tombak permata yang menusuk jantungnya seperti kematian vampire.
Mayat ―― ya, tidak diragukan lagi. Itu mayat.

[Subaru: Dia …… mati?]

[Beatrice: Ada lubang di dadanya, dan dengan banyak luka seperti itu, jika dia masih hidup … dia jelas bukan manusia]

Dengan menggelengkan kepalanya, terbebani oleh kelelahan, Subaru berdiri.
Saat dia berdiri, dia dikejutkan oleh sakit kepala yang kuat saat tubuhnya terhuyung-huyung. Tapi ada sebuah tangan yang di ulurkan padanya dan dengan lembut menopangnya untuk tidak jatuh.

[Subaru: M-maaf ……]

[Beatrice: Tidak apa-apa ……]

Beatrice berbalik, dan tidak memandangnya. Subaru menyerahkan sebagian beratnya ke telapak tangannya, dia melangkahkan kakinya dengan sulit ke arah tubuh Elsa.
Kepala Elsa menggantung lemas, dan sebagian kepangannya terpotong oleh tombak. Melihat siku dan lututnya menempel di dinding, pemandangan yang brutal itu membuatnya ingin mengalihkan pandangannya. Tapi dia tetap bergerak lebih dekat, cukup dekat untuk merasakan napasnya, jadi dia bisa memeriksa sendiri apakah si pembunuh benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya atau tidak.

Dia tidak bernapas. Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh tubuhnya yang tak bergerak. Itu masih hangat, tetapi tidak memiliki respon yang unik dari seorang makhluk hidup. Dia menyentuh lehernya, tetapi tidak ada denyut nadi sedikit pun.
Dan, yang terpenting, meski dekat dengan Subaru yang tak berdaya, dia tidak berusaha untuk menyerang.

[Subaru: A-apa dia … benar-benar mati ……?]

[Beatrice: Berapa kali kau akan menanyakan itu]

[Subaru: Mengetahui kemampuannya … Aku tidak bisa tenang begitu saja, kau tahu …… Sulit untuk percaya … kita benar-benar melakukannya ……]

Berdiri di depan mayat Elsa yang tidak bernyawa, Subaru menatap dengan cara bodoh pada kemenangan tak berujung mereka.
Dia selalu menganggapnya sebagai musuh yang harus dia kalahkan, tetapi dia tidak pernah mengira Beatrice akan mengalahkannya sendirian. Hingga kini, dia berpikir bahwa itu tidak mungkin tanpa bantuan Garfiel.

[Subaru: Bahkan Puck dan Emilia bersama-sama tidak mampu mengalahkannya …]

[Beatrice: …… Jika Nii-cha serius, dia pasti bukan tandingannya. Dan Betty, dalam keadaan sempurna ini, tidak mungkin kalah dengan manusia seperti dia]

Jika Puck serius ―― itu mungkin berarti berubah menjadi raksasa singa itu. Memang, jika dia telah berubah menjadi sesuatu yang dapat membekukan dunia hanya dengan keberadaannya, bahkan Elsa tidak akan memiliki kesempatan. Selain itu, tampaknya Beatrice adalah roh yang memiliki kekuatan yang sama.
Hidup selama empat ratus tahun ―― ada terlalu banyak pengalaman di antara mereka.

[Subaru: Be, benar. Rem!]

Sekarang setelah memastikan kematian Elsa, Subaru tiba-tiba tersentak dan kembali ke kamar tidur. Bahkan sekarang, tubuh Frederica masih berada di pintu.
Dengan hati-hati menurunkan tubuhnya yang kaku, Subaru meletakkan tangannya di gagang pintu berlumuran darah. Dia menarik nafas, dan mengumpulkan keberanian untuk melihat ke dalam.
Kemudian,

[Subaru: ――Rem]

Gadis itu tidak menanggapi panggilannya.
Tapi, berbaring di tempat tidur, dia bisa melihat bahwa Rem sedang tidur, napas yang pelan tidak terpengaruh oleh pembantaian yang terjadi di luar.

Elsa tidak pernah menginjakkan kaki di ruangan ini.
Tidak diragukan lagi, itu adalah bukti bahwa dalam menjaga ruangan ini dengan hidupnya, kegigihan Frederica bahkan lebih besar daripada kebejatan pembunuh itu.

[Subaru: …… Aku sangat menyesal telah mencurigaimu… Frederica …]

Mengusap dahi gadis cantik yang tidur, Subaru sekali lagi meminta maaf kepada wanita yang terbaring di lorong.
Meskipun, jiwanya sudah meninggalkan dunia ini, dan ucapan Subaru tidak akan pernah sampai padanya.

[Beatrice: Jadi, bagaimana sekarang?]

[Subaru: Kita tidak bisa begitu saja meninggalkan Rem di sini. Frederica, dan Petra …… kita hanya bisa meminta penduduk desa Arlam untuk mengurus mereka]

[Beatrice: Kau tidak akan melakukannya sendiri? Itu juga akan membuat gadis itu lebih bahagia]

[Subaru: Jika aku dalam posisi di mana aku bisa mengurus Rem sendiri, aku akan melakukannya. Tapi, aku tidak bisa. Aku …… harus membawamu ke Tempat Suci.]

Berputar dari samping tempat tidur Rem, Subaru memandang Beatrice yang berada di pintu. Gadis itu mendengus pelan,

[Beatrice: Dan apa yang memberimu ide itu? Percakapan kita mungkin telah terganggu, tetapi masih ada masalah yang harus diselesaikan di antara kita]

[Subaru: Aku tahu. Maka jawabanku adalah ini: ――Aku tidak akan pernah setuju untuk membunuhmu, dan aku akan menyeretmu keluar dari Mansion ini jika perlu. Itu sudah diputuskan]

[Beatrice: Arogan sekali. Kau akan mengabaikan ucapan Betty dalam masalah ini, dan hanya melakukan kemauanmu sendiri. ――Kau pikir siapa dirimu, membuat pernyataan yang menggelikan seperti itu]

[Subaru: Jika apa yang kau katakan padaku adalah apa yang benar-benar kau inginkan … maka aku akan mempertimbangkannya]

[Beatrice: ――Apa maksudnya itu]

Suara Beatrice tenang, tapi dia mengeluarkan aura yang mengintimidasi ketika berbicara. Subaru merasa merinding di sekujur tubuhnya, tetapi dia dengan cepat menggelengkan kepalanya.

[Subaru: Aku juga tidak tahu detailnya. Tapi aku merasa masih ada banyak hal lagi yang harus di pikirkan]

[Beatrice: ――Jangan]

[Subaru: Aku masih bingung tentang hubunganmu dengan Tempat Suci. Eksperimen apa yang Echidona lakukan padamu? …… Jujur saja, aku tidak tahu apa-apa tapi, ada perasaan buruk tentang ini]

[Beatrice: Bisakah kau berhenti mengungkit-ngungkitnya?]

[Subaru: Aku tidak akan berhenti. …… Selain diriku, siapa lagi yang akan membantumu? Kau hanya menutup diri di ruangan itu …]

Seakan tenggorokannya tersumbat, Beatrice kehilangan kata-katanya.
Melihat ini, Subaru mengangkat Rem dari tempat tidur. Dia akan membawanya ke desa Arlam, dan begitu Rem di letakkan di sana, dia akan pergi ke Tempat Suci bersama Beatrice.
Jika dia mau membantunya dengan Pintu Penyebrangan, itu akan menghemat banyak waktu, tapi dia tidak bisa memaksanya. Kalau sudah begitu, akan memakan waktu setengah hari melakukan perjalanan dari Patrasche.

[Subaru: Bahkan jika kau tidak akan datang ke Tempat Suci bersamaku, aku akan menanyakan Roswaal dan Lewes-san tentang dirimu. Jika memungkinkan, aku akan langsung menanyakan padanya]

Selama Subaru benar-benar memiliki hasrat dalam hatinya untuk “Tahu”, Penyihir Keserakahan akan menjawab panggilannya.
Kali ini, dia sudah memiliki lebih banyak informasi daripada sebelumnya, bersama dengan beberapa teori juga. Dengan semua pertanyaan baru yang menyertainya, dia yakin bahwa dia akan diterima di Benteng Impian.
Dan ketika saatnya tiba, dia akan membongkar rahasia dari Tempat Suci yang telah dirahasiakan semua orang.

[Subaru: Cepat atau lambat, itu hanya masalah waktu. Meskipun aku dapat memahami kenapa kau ingin menundanya sebisamu]

[Beatrice: Sudah berapa lama kau berencana untuk terus bermain dengan orang-orang ……!]

[Subaru: Bermain? Aku tidak seperti itu …]

[Beatrice: Kau diam-diam menindas orang-orang dengan alasan tidak ingin di tindas, dan bahkan saat kau melemparkan mereka ke dalam kekacauan, dan kau mengucapkan omong kosong yang egois ini. Ada batasnya leluconmu yang dapat aku toleransi. Dua orang mati, dan kau hanya pergi begitu saja seperti tidak ada yang terjadi?]

[Subaru: ――――I]

Pada akhirnya karena ucapan Beatrice, ekspresi dari rasa sakit yang tak tertahankan muncul di wajah Subaru.
Melihat ini, Beatrice sedikit ragu, bertanya-tanya apakah dia sudah keterlaluan. Namun keraguan itu segera digantikan oleh ekspresi ketidakpedulian yang palsu.

[Subaru: Petra dan Frederica …… setelah aku menyerahkan Rem kepada penduduk desa, aku pasti akan benar-benar menangisi mereka. Dan dengan Petra, Aku … bukan berarti aku hanya diam saja]

Dia menyadari juga bahwa ini hanya alasan, tetapi, berbalik sehingga Beatrice tidak dapat melihat wajahnya, Subaru mulai berjalan.

Ucapan Beatrice telah menembus langsung ke dalam hatinya.

Kematian Petra dan Frederica memperkuat tekad Subaru untuk mengatur ulang dunia ini. Bahkan dengan kekalahan Elsa, kemenangan itu datang dengan harga yang terlalu mahal. Itu terlalu menyakitkan baginya.
Di sinilah dia, seseorang yang mengatakan Beatrice “Jangan mati”, namun, apa haknya untuk mengatakan itu? Kau tidak bisa, tetapi aku bisa – itu benar-benar egois.

[Subaru: Apakah kau akan datang ke Tempat Suci bersamaku atau tidak, mari kita selesaikan semuanya di Mansion terlebih dahulu. Kemudian kita bisa memutuskannya setelah itu]

Melewati Beatrice yang berada di ambang pintu, dia terus menyusuri lorong. Beatrice memandang tanpa suara, tetapi dengan tenang menunjukkan bahwa dia akan mengikutinya.
Karena dia dilarang membunuh dirinya sendiri, Beatrice membutuhkan orang lain untuk mengakhiri hidupnya. Dia tidak bisa memaksa tangannya, dan meskipun dia telah menetapkan tekadnya, dia hanya bisa mengikuti di belakangnya.
Sungguh pria yang kejam, dengan sadar bertindak seperti ini. Pikiran itu membuat Subaru merasa bersalah.

[Subaru: ――oa?]

Sementara berkubang dalam kebencian akan dirinya sendiri, tiba-tiba, Subaru mengerang.
Alasannya adalah terbentur. Seolah tangan mendorongnya mundur, Subaru terhuyung karena terbentur dengan Rem di pelukannya.
Berputar setelah mengambil beberapa langkah untuk mendapatkan kembali keseimbangannya, dia melihat bahwa itu karena Beatrice. Apakah itu balas dendam atas apa yang dia katakan sebelumnya? Tapi sepertinya dia mengerutkan alisnya dan ingin memprotes――

[Beatrice: ――a]

Gadis itu menangis pelan, dengan sinar redup yang keluar dari dadanya.

[Subaru: ――e?]

Pisau yang menusuk dari punggungnya menonjol dari dadanya, perlahan-lahan membentuk luka vertikal dari bagian atas tulang rusuknya hingga ke pinggangnya.
Tubuh kecil Beatrice bergidik karena gerakan pisau.
Dan Subaru hanya menyaksikan dalam ketakutan.

[Beatrice: …… itu]

Dengan lembut, bibir Beatrice menggumamkan sesuatu.
Dia mengangkat wajahnya untuk melihat Subaru yang ketakutan.
Ekspresinya, dan emosi di matanya, semua tampaknya menceritakan banyak kisah,

[Beatrice: Akhirnya ……]

[Subaru: Tunggu …..]

[Beatrice: ―――― a]

Bahkan Subaru sendiri tidak tahu apa yang ingin dia katakan.
Dan sebelum emosinya dapat terbentuk, suara Beatrice seketika menjadi pelan.
Dengan suara terakhir itu, tubuh Beatrice memudar menjadi gumpalan cahaya samar, dan, dalam sekejap mata, tersebar menjadi partikel cahaya keemasan.

Tubuhnya yang halus, rambut keritingnya yang berwarna krem, wajahnya yang menawan dan tidak sopan, serta pakaiannya yang lebar dan rumit, namun sempurna, semuanya lenyap――

[???: ――Ya ampun, itu mengecewakan. Ini pertama kalinya aku memotong perut roh, dan itu hilang begitu saja]

Satu langkah di belakang tempat Beatrice menghilang, berdiri seorang wanita memegang senjatanya untuk membunuh di tangan.
Subaru bisa tahu dia hanya dari suaranya saja. Sejak awal, dia yakin, tetapi pikirannya menolak untuk memikirkan apa yang seharusnya tidak mungkin. Tapi, dalam beberapa detik setelah melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, dia mulai sadar dengan menggertakkan giginya.
Karenanya sebuah gigi retak. Mencicipi darah, menatapnya, Subaru pun berteriak.

[Subaru: ――ELSAAAA !!]

[Elsa: Oh, tapi apa yang bisa kau lakukan?]

Bagian belakang pisau Kukri menghantam bagian kepalanya yang sedang menjerit.
Dampak tumpul itu langsung terasa di kepalanya saat kekuatan tak terhentikan membanting tubuh Subaru ke dinding. Satu-satunya perlawanan yang bisa dikerahkannya adalah menjaga Rem agar tidak terbang dari pelukannya.
Darah yang mengalir dari celah yang menghantam kepalanya, pandangannya menjadi gelap dan tubuhnya tidak merespon keinginannya untuk bertarung. Namun, meskipun demikian, Subaru dapat melihat Elsa dalam pandangannya, melemparkan pisau Kukri yang ada di kedua tangannya.

[Subaru: B..Bag …… bagaimana mungkin kau masih hidup? Aku sudah memeriksanya, aku memeriksanya dan kau sudah mati ……!]

[Elsa: Mmhmm, itu benar. Aku sudah mati. Jika aku dibakar hingga menjadi abu saat itu, aku mungkin tidak akan berada di sini sekarang]

Elsa tanpa sadar menjawab Subaru yang sedang menggigil ketakutan.
Tertusuk dan tertancap di dinding, Elsa tentu mati. Dia sudah mati. Dia yakin akan hal itu. Tapi apa yang dia lakukan di sini? Atau, apakah dia sedang berada dalam mimpi buruk di mana Elsa juga memiliki klon seperti Lewes?

Tapi ada darah yang menetes dari tubuh Elsa, dan lubang yang ada di dadanya hanya dibalut oleh potongan kain yang di robek dari jubahnya.
Melihat luka dari pertempuran kelam yang mengotori tubuhnya, tidak diragukan lagi bahwa ini adalah orang yang sama seperti sebelumnya. Satu-satunya pertanyaan adalah apakah dia hidup atau mati.

[Subaru: Kau tidak …… abadi, atau semacamnya kan ……?]

[Elsa: Itu tidak mungkin. Aku hanya bertahan hidup sedikit lebih lama daripada yang lain. Ngomong-ngomong, gadis itu benar-benar luar biasa. Aku dapat menghitung dengan jari berapa kali aku telah menerima banyak kerusakan pada tubuhku ini]

[Subaru: ……. Kebetulan sekali. Aku juga bisa menghitung dengan jari berapa kali kau menyiksaku sampai mati.

Pernyataan Subaru mungkin mengejek, tetapi itu jelas bukan lelucon. Namun, tampaknya dia menerimanya begitu saja, Elsa hanya tersenyum. Kemudian, sambil memegang kepangnya yang terpotong sebagian, Elsa dengan tenang menatap Subaru,

[Elsa: Gadis yang ada disini, aku tidak pernah mendengar tentang dia]

[Subaru: …… Kalaug begitu bagaimana kalau kau pura-pura tidak melihatnya dan membiarkannya saja?]

Memahami makna di balik kata-katanya, Subaru mengajukan usul ini kepada Elsa. Bahkan jika tidak ada harapan agar Elsa dapat mendengarkannya, setidaknya akan memberinya sedikit waktu bagi tubuhnya untuk dapat bergerak. Itu adalah percakapan yang bodoh, tetapi dia butuh waktu.

[Elsa: Dia jelas bukan bagian dari rencanaku, jadi kurasa itu tidak akan menjadi masalah ……. gadis roh, pelayan bertubuh besar… dan pelayan kecil itu hanya semacam bonus]

Ada tiga target. Beatrice, Frederica, dan Petra.
Bahkan dengan kesadarannya yang samar, Subaru menajamkan telinganya agar tidak melewatkan satu detail pun. Fakta bahwa Rem tidak ditandai sebagai target itu berarti bahwa siapa pun yang menyewa Elsa telah melupakan keberadaan Rem. Dia sebelumnya berpikir bahwa Frederica lah yang melakukannya, tetapi kematiannya membuatnya menghilangkan pemikiran itu.

[Subaru: Kalau dipikir-pikir, kau pasti berbohong]

[Elsa: Berbohong?]

[Subaru: Tentang Frederica. ――Ketika di Perpustakaan Terlarang, kau berbicara seolah kau hanya membunuh Petra, tapi bagaimana kau menjelaskan itu?]

Subaru menunjuk ke arah Frederica, terbaring di sisi lorong. Mengikuti tatapannya, dengan [Aah], Elsa mengangguk seolah mengerti. Kemudian, dia kembali melihat Subaru,

[Elsa: Kematiannya tidaklah indah]

Dia membuat komentar remeh ini.
Definisi keindahan bagi pembunuh bukanlah sesuatu yang ingin dia pahami. Tapi setelah mengambil nyawa seseorang, apakah hanya itu yang dia katakan? Emosi bergejolak di dalam dirinya, tapi dia tahu itu tidak berarti apa-apa di hadapan Elsa dan pisau Kukri di tangannya.
Selama dia ingin membalas dendam, tubuhnya belum cukup pulih untuk melakukan serangan balik.
Seperti itulah, tergeletak di lantai di hadapan pisau pembunuh Elsa, hasilnya sudah dapat dipastikan.

――Jadi, hanya sejauh itu, huh.

Mengakui “Kematian” -nya yang akan datang, Subaru berusaha mencari informasi yang telah dia kumpulkan dalam putaran kematian ini melalui pikirannya, di samping misteri baru, yang membingungkan. Dan kemudian, dia saling bertukar tatap dengan Beatrice, dan ekspresi terakhir yang dia lihat di wajahnya.

Mengapa gadis yang terus mengatakan kepada Subaru “Aku ingin mati” dan “Tolong bunuh aku” terus mendesaknya? Seketika menyadari bahwa Elsa masih hidup, dia mendorong Subaru untuk pergi. Tapi apa maksudnya ketika dia melakukan itu? Subaru tidak cukup bodoh untuk tidak menyadarinya.

[Elsa: Aku tidak suka tatapanmu itu]

[Subaru: Hah? ――Gbha !?]

Setelah mengucapkan itu, pisaunya yang tipis sekali lagi menyerang ke arah wajahnya.
Tulang pipi kirinya hancur, dan beberapa gigi yang hancur juga ikut jatuh ke lantai. Roboh, serangan berikutnya menghantam dari sisi yang berlawanan. Rasa sakit yang intens melesat di bagian bawah mata kanannya, dan, dalam sekejap mata, telinga kirinya terpotong.
Kemudian, beralih di antara bagian pisau dan gagangnya secara bergantian, Elsa menyayat, menghancurkan, dan menyiksa tubuh Subaru. Menghiraukannya karena “Kematian” yang akan datang, hal yang telah dipahaminya, dia memberinya rasa sakit yang amat menyakitkan saat darah dan jeritan keluar dari mulutnya tanpa henti.

[Elsa: Berjuang sampai saat-saat terakhir hidupmu. Kalau tidak, apa gunanya hidup?]

[Subaru: …… aku tidak mau mendengarkan itu darimu]

Sebuah serangan. Bagian kepalanya terbuka, dan dia merasakan bayangan dari isi kepalanya yang bertaburan saat dia pingsan.
Kesadarannya semakin memudar karena serangan yang kuat itu, dan Subaru bisa merasakan tubuhnya yang terus ditarik ke dalam dunia yang beku itu.

Dan, disitulah dia mati.
Bahkan jika dia kehilangan kesadaran sekarang, dia tidak akan merasakan dirinya yang jatuh pingsan di hadapan Pemburu Usus.
Inilah akhirnya. Kali ini, sampai disitulah yang dapat dia lakukan.

Lain kali, dia tidak akan gagal lagi. Lain kali, pasti.
Ekspresi terakhir wajahmu. Aku tidak akan melupakannya, tidak akan pernah.

[Subaru: ――Beatrice]

Di saat-saat terakhirnya, gadis yang mengatakan kepadanya “Bunuh aku”, meneteskan air matanya.
Dengan bayangan itu yang terlintas dalam pikirannya, kesadaran Subaru perlahan-lahan menghilang, dalam kegelapan, menuju ketiadaan.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded