Re:Zero Arc 4 Chapter 64 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

[Translator : Scraba]

Dunia yang Jatuh Terpisah

Hal pertama yang dirasakan Subaru ketika dia sadar adalah rasa sakit yang tak tertahankan di sekujur tubuhnya.

Wajah, dan segala sesuatu yang berada diatas lehernya didera rasa sakit yang luar biasa. Pipi kirinya, area di sekitar mata kanannya, gerahamnya, gigi depannya, telinga kirinya – terlalu banyak untuk disebutkan, tidak ada area yang tak tersentuh oleh rasa sakit.
Dia menggerakkan lidahnya, dan menyadari bahwa dia telah kehilangan dua gigi geraham, satu gigi depan, dan salah satu gigi taringnya. Dan ketika dia membuka matanya untuk mengamati sekelilingnya, dia menyadari bahwa mata kanannya sangat bengkak sehingga tidak bisa lagi terbuka.

[Subaru: In, gha ……]

Ketika dia mencoba berbicara, mulutnya hanya mengeluarkan suara aneh karena gigi yang hilang dan darah menggenang di mulutnya.
Setiap nafasnya memberikan rasa dingin ke dalam saraf yang terbuka di bawah giginya, dan meskipun ia mencoba bernapas melalui lubang hidungnya, darah yang kering menghambat nafasnya. Terengah-engah, dia memuntahkan darah di mulutnya,

[Subaru: Tidak mungkin …… aku … tidak mati?]

Saat dia menggerakkan tubuhnya yang terluka parah, Subaru menyadari bahwa dia selamat dari kematian.
Melihat dengan satu matanya, Subaru menyadari dirinya terbaring di koridor yang gelap. Tidak ada yang terlihat. Dia mulai mengingat apa yang terjadi sebelum dia pingsan, dan,

[Subaru: Di mana … Elsa ……]

Tidak disini.
Setidaknya, mata Subaru tidak melihatnya.
Sebagai seorang wanita yang mengintai dalam kegelapan untuk membunuh, bahkan jika dia berada dalam jarak pandangnya, Elsa mungkin bisa menjaga dirinya agar tidak terlihat, tetapi – dia tidak memiliki alasan untuk melakukannya.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan Elsa. Dia telah pergi. Setidaknya, tanpa membunuh Subaru.

[Subaru: Kenapa ….. tidak, yang lebih penting ……]

Setiap gerakan mulutnya membuat darah segar mengalir keluar. Dengan kesal meludahkannya, Subaru menggelengkan kepalanya. Dia mencoba menggerakkan setiap bagian tubuhnya untuk memeriksa area mana yang sakit dan mana yang tidak bisa digerakkan――
――Waktu dia merasakan sebuah kehangatan, suara nafas yang berada di pelukannya.

[Subaru: ――Rem]

Gadis cantik berambut biru. Gadis yang memberikan dia kekuatan bahkan saat dia tertidur.
Dalam pelukannya, jantung Rem berdetak pelan. Suara nafasnya yang pelan dan pendek, dirinya yang tenang, denyut nadinya yang masih ada, dan kulitnya yang memerah — adalah bukti bahwa dia masih hidup.

[Subaru: ――――]

Dipenuhi oleh berbagai macam emosi, dia menggenggam erat dirinya.
Memanfaatkan keadaan itu, dia memegang tubuhnya yang halus saat dia menikmati kehangatannya, seolah-olah untuk melihat bukti melalui kulitnya bahwa dia masih hidup.

[Subaru: Kenapa … dia pergi … tanpa membunuhku atau Rem ……?]

Memegang tubuh Rem, Subaru bicara mengenai kepergian Elsa yang tidak dapat dijelaskan.
Dia membunuh Petra, dia membunuh Frederica, dan bahkan Beatrice dimusnahkan olehnya. Namun, pembunuh itu pergi tanpa membunuh Subaru dan Rem ketika mereka berada tepat di depannya.
Memang, sebelum kehilangan kesadaran, Subaru memohon untuk membiarkan Rem hidup, dan dapat dikatakan bahwa Elsa menerima permintaannya. Tapi apakah dia benar-benar percaya pada kata-katanya?
Dia ragu jika dia dapat memahami pikiran seorang psikopat seperti seorang Pemburu Usus, tetapi alasannya untuk membiarkan Rem mungkin hanya sesederhana itu.

[Subaru: Kalau begitu …… kenapa dia membiarkanku hidup ……?]

Dia pasti akan dibunuh, itulah yang dia pikirkan.
Setidaknya, Elsa telah mengayunkan pedangnya kearah Subaru dengan niat yang jelas untuk menyakiti. Rasa sakit dari setiap tulang yang hancur dan setiap otot yang digores memberi tahunya bahwa itulah masalahnya.
Namun, mengapa dia membiarkannya hidup?

[Subaru: Bagaimanapun … sekarang ……]

Tidak dapat mengerti, Subaru menggelengkan kepalanya, dan memaksa tubuhnya yang sakit untuk mengangkat Rem ke lengannya.
Memegang Rem dengan lembut di lengannya, Subaru melihat ke arah ujung lorong―― dan, melihat mayat Frederica, tergeletak di sana seolah telah ditinggalkan, dia memutuskan apa yang harus dia lakukan.

――Sebelum itu, dia akan mengubur Frederica dan Petra.

[Subaru: Meskipun benar-benar tidak ada tanda bahwa dunia ini akan berakhir ……]

Sebuah tindakan sentimental, irasional, dan malapetaka, dia bergumam dengan ejekan.

Subaru sudah memutuskan bahwa dia akan mengatur ulang dunia ini dengan kematiannya.
Terlalu banyak yang hilang. Dan terlepas dari apa yang dia dapatkan, dia gagal melindungi bahkan satu hal yang dia coba lindungi. Subaru kehilangan segalanya, sama seperti saat-saat sebelumnya, atau bahkan lebih. Subaru tidak lagi memiliki keberanian untuk hidup di dunia di mana begitu banyak kehilangan.
Jika kematiannya bisa membawa mereka kembali, maka dia tidak akan ragu sedetik pun.

Dunia ini adalah dunia yang akan berakhir.
Apakah itu kematian Petra, Frederica, atau Beatrice, semua itu dapat diulangi.
Janji-Nya kepada Petra, permintaan maafnya kepada Frederica, dan jawaban terakhirnya terhadap penderitaan Beatrice, itu semua bisa terpenuhi di dunia berikutnya.

Setelah membuat keputusan itu, tidak ada gunanya berduka atas kematian mereka.
Karena kesedihan apa pun yang tersisa dari dunia yang hilang ini tidak akan ada lagi di ingatan orang lain, dan hanya akan ditanggung dan menjadi milik Subaru sendirian.

――Tapi, jika dia benar-benar memiliki tekad seperti itu, Natsuki Subaru pasti akan berhasil di dunia berikutnya.

[Subaru: Putuskan, tekad, kemampuan …… aku selalu kekurangan dalam segala hal. Kenapa aku selalu lemah sekali … huh, Rem?]

Gadis yang dipegangnya tidak menjawab.
Tapi, entah itu meratapi ketidakberdayaannya sendiri, atau mengungkapkan kelemahannya, sekarang, satu-satunya tempat di mana Subaru bisa melakukan itu adalah di depan gadis yang sedang tidur ini.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

―― Sekitar lima belas menit setelah memutuskan untuk menguburkan Petra dan Frederica ketika dia melihatnya.

[Subaru: Apa … itu?]

Melihat objek yang duduk di depannya, Subaru mengeluarkan erangan bodoh ini di tenggorokannya.
Tapi siapa yang bisa menyalahkannya? Karena betapa aneh dan tidak bisa dimengertinya objek yang ada di depannya.

Sepotong daging merah muda — akan menggambarkannya.
Bentuknya seperti bola lumpur yang bulatnya tidak beraturan yang mungkin dibuat oleh anak-anak, tetapi itu daging. Itu seharusnya sudah tepat untuk menyampaikan keanehannya, dan juga alasan kebingungan Subaru.

[Subaru: Itu besar――]

Sederhananya, sebongkah daging itu sangat besar.
Itu cukup besar baginya untuk harus memandang ke atas, dan dia bisa merasakan berat dari massanya yang padat hanya dengan melihat. Baik warna dan tekstur mengingatkannya pada daging babi segar atau unggas yang mungkin ditemukan di penjual daging.

Sejauh yang dia bisa lihat, ada sekitar dua belas dari mereka. Setiap mereka memiliki ukuran yang persis sama dan dengan mencolok berserakan di daerah itu.

[Subaru: Apa … sebenarnya …… itu ?]

Bingung dan tanpa memiliki jawaban, Subaru mengulangi pertanyaan yang sama berulang kali.
Kemudian, saat dia melihat sekeliling,

[Subaru: Kemana semua penduduk desa pergi?]

Berdiri di pusat desa Arlam yang sepi, dikelilingi oleh gumpalan daging, Subaru dengan bodoh bergumam pada dirinya sendiri.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

――Subaru datang ke desa Arlam berharap menemukan bantuan untuk mengubur Petra dan Frederica, dan, yang lebih penting adalah, untuk menginformasikan kepada keluarga Petra tentang kematiannya.

Dia siap dipukuli, dan dicaci.
Sama seperti kembali ke Mansion, bahkan di sini, Subaru masih bisa menghindari rasa sakit itu. Dia bisa menyembunyikan kebenaran atas kematian Petra, dan mengatur ulang dunia ini tanpa sepengetahuan penduduk desa.
Jika dia melakukan itu, Subaru akan menyembunyikan tanggung jawabnya atas kematian Petra jauh di dalam hatinya yang akan membuatnya dihantui oleh rasa bersalah, dan itu mungkin sebuah rahmat baginya.
Tapi, apakah dia bisa memaafkan dirinya sendiri karena melakukan itu, itu adalah hal yang tidak mungkin.

[Subaru: Pada akhirnya, itu hanya memuaskan diri sendiri]

Jadi dia memutuskan untuk memberi tahu keluarga Petra sebelum mengubur keduanya.
Di sisi lain, dia tidak tahu bagaimana seharusnya dia berduka atas kematian Beatrice. Roh tidak meninggalkan fisik tubuh ketika mati. Tidak menyisakan apapun, lenyap karena kematiannya telah membuat kematiannya tampak hampir tidak nyata bagi Subaru.
Siapa tahu, mungkin―― dia tidak bisa menahan diri untuk berpegang pada pikiran seperti itu.

Dengan pemikiran itu dikepalanya, Subaru berjalan menuju desa Arlam.
Dia membawa Rem bersamanya, bermaksud meminta seseorang untuk merawatnya saat dia pergi ke pemakaman.
Dan kemudian, ketika dia tiba, ketika mencari-cari penduduk desa, dia malah menemukan gumpalan daging itu.

[Subaru: ――Tak ada … tidak seorang pun di sini]

Meletakkan sementara Rem di bawah atap salah satu rumah, dan berjalan mengelilingi desa, itulah kesimpulan yang Subaru ambil.
Keringat di dahinya telah meluruhkan darah yang telah mengering, mewarnai wajah Subaru menjadi merah, menunjukkan penampilan yang buruk. Jika penduduk desa melihat Subaru sekarang, dia pasti akan disambut dengan jeritan ketakutan.
Tapi, tidak dapat menemukan seorang pun warga desa untuk menjerit ketika melihat wajahnya, Subaru duduk di samping Rem yang sedang tidur, kebingungan.

――Ketika dia menyadari bahwa Elsa telah menghilang dari Mansion, bukan berarti dia tidak memikirkan hal itu.

Elsa tidak membelalak ketika dia membunuh orang di Ibukota. Jadi, mungkin tidak puas dengan orang-orang yang ada di Mansion, dia juga memutuskan untuk menghunuskan pisaunya kepada seluruh penduduk desa.
Subaru telah merenungkan berbagai penjelasan dalam perjalanannya ke desa Arlam, dan kemungkinan itu hanyalah bagian dari kegelisahannya. Tapi apa yang menyapanya ketika dia tiba, diluar bayangannya.

Jangankan penduduk desa, hanya ada bongkahan daging yang tersebar.
Secara alami, jauh di dalam benaknya, Subaru telah membayangkan hal terburuk, tapi dia tanpa sadar mengabaikannya.

[Subaru: Tidak ada seorang pun di sini … maka tidak ada gunanya berlama-lama di sini …… lebih baik bergegas dan … mengubur mereka]

Mengatakan itu, Subaru mengangkat Rem ke dalam pelukannya dan meninggalkan desa.
Gumpalan besar, daging yang besar dan tak bergerak tetap seperti itu. Subaru tidak merasakan sedikit pun nuraninya, lalu meninggalkan mereka di sana. Dia akan lebih suka jika mereka tidak berlama-lama di ingatan terdalamnya.
Rasanya seperti kepalanya akan meledak.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

Mengubur Petra dan Frederica ternyata menjadi urusan sederhana yang tak terduga.

Mempersiapkan diri mereka agar dapat dimakamkan, dia membersihkan kulit mereka yang berlumuran darah dengan kain. Sedangkan untuk pakaian, dia telah menggantinya dengan yang baru sebagai permintaan maafnya. Tentu saja, tidak ada niatan lain dalam melakukannya.
Ketika dia melewati tangan-tangan wanita yang dingin dan kaku itu melalui lengan baju mereka, dia ingin menjerit, tetapi bagian belakang matanya mengering, menjebak hatinya kedalam emosi yang tak dapat dijelaskan.

[Subaru: …… setidaknya, pergilah dengan tenang]

Subaru dengan pelan mengucapkan doa agar mereka beristirahat saat dia membaringkan mereka ditanah.
Tak perlu dibilang, Subaru tidak tahu apa-apa tentang do,a didunia ini, atau tentang tata cara pemakaman dunia aslinya. Semua anggota keluarganya masih hidup, jadi dia tidak pernah menghadiri pemakaman, dan dia tidak pernah tertarik pada upacara sekuler orang Jepang.
Dia menyesali itu sekarang.
―― Fakta bahwa dia bahkan tidak tahu kata-kata yang tepat untuk dipanjatkan, membuatnya penuh dengan penyesalan.

[Subaru: Dan aku telah memaksamu juga. Terima kasih sudah membantuku]

Mengatakan ini, Subaru mengulurkan tangannya, dan ground dragon hitam menggerakkan moncongnya ke jari-jari Subaru.
Dengan kakinya yang kotor karena tanah galian, Patrasche menyentuh dengan lebih dekat kearah Subaru seolah-olah peduli padanya.
Setelah menemukan Patrasche aman di kandang kuda, Subaru meminta bantuannya untuk memakamkan Petra dan Frederica. Naga pintar itu dengan cepat mengerti permintaan Subaru yang canggung, dan, bersama Subaru, yang menggunakan alat yang mirip dengan sekop, dia menggali lubang untuk Frederica yang bertubuh tinggi.

Bahkan dengan kaki-kakinya yang kuat yang dapat berlari melampaui angin dilapisi oleh lumpur, itu tidak mengurangi kecantikan dan keindahan ground dragon yang hitam itu. Dan Subaru sekali lagi teringat rasa terima kasihnya yang luar biasa karena keberadaan Patrasche.

Kuburan Petra digali oleh Subaru. Meskipun tubuhnya kecil, dia tidak ingin dia merasa sesak, hingga akhirnya dia merobek kulit tangannya karena menggunakan alat penggali itu.
Meletakkannya diatas tanah, dan melihat sosok Petra yang menjauh dari pandangan, akhirnya, air mata yang tak tertahankan lagi mengalir keluar, dan Subaru tidak menyeka air mata itu.
Dia memberikan Frederica penguburan yang sama, dan setelah menempatkan penanda sederhana di atas kuburan mereka, pemakaman pun berakhir.

Setelah menyelesaikan salah satu tugasnya, di mana dia seharusnya merasakan beban terlepas dari pundaknya, beratnya malah bertambah berat.

[Subaru: …… Tidak ada gunanya tetap disini]

Dia dengan pelan bergumam.
Tirai telah jatuh di atas tragedi yang tak dapat dicegah di Mansion.
Mengukir setiap detail ke dalam ingatannya, dia memastikan dia tidak akan pernah melupakan penyesalannya setelah dia mengalami dua perpisahan sekaligus.
Itu adalah penyesalan yang terukir ke dalam jiwanya, yang pasti akan dia singkirkan dalam kesempatan berikutnya.
Setelah dia menyelesaikan ini, dapatkah dia benar-benar bertanggung jawab atas kematian mereka.

[Subaru: Setelah kita memeriksa apa yang perlu kita periksa, mari kembali ke Tempat Suci. ――Kita tidak bisa meninggalkan Rem di sini, jadi dia juga akan ikut]

Matahari juga sudah mulai terbenam.
Di dunia yang mulai gelap, Subaru menyadari bahwa itu sudah mendekati malam ketiga. Setelah dia memeriksa apa yang perlu dia periksa, jika dia berangkat dari Mansion keesokan paginya, dia akan tiba ke Tempat Suci sebelum malam keempat.
Itu akan menyisakan satu setengah hari sampai hari keenam yang ditakdirkan. Dan ini juga akan menjadi pertama kalinya Subaru melakukan perjalanan kembali ke Tempat Suci dari Mansion.

Mempertahankan Mansion, dan menerobos Tempat Suci.
Karena ada dua rintangan yang tak terelakkan, dia perlu mengembalikan poin pengalaman yang diperlukan sebelum dia bisa mengambil putaran kematian terakhir.
Apa yang akan berubah di Tempat Suci sementara Subaru pergi?
Semuanya mungkin akan berjalan sama seperti waktu Garfiel menghajar Subaru dan memenjarakannya. Dalam hal ini, Otto dan Ram mungkin hanya mengambil tindakan untuk membebaskan para pengungsi Arlam pada malam kelima.

[Subaru: Seharusnya sebelum itu terjadi …… huh]

Cara dia meninggalkan Garfiel adalah alasan lain yang perlu diperhatikannya.
Setelah secara paksa memblokir pengejarannya menggunakan Leweses sebagai tameng, sulit untuk membayangkan betapa marahnya Garfiel.
Selain itu, dia harus memberi tahu Garfiel tentang kematian kakaknya. Bagaimana dia mencurigainya sebagai mata-mata, dan bagaimana dia gagal melakukan apa pun untuk menyelamatkannya.
Dia harus pasrah akan kemarahan Garfiel, dan menerima apapun yang akan terjadi.

[Subaru: Kembali ke Tempat Suci, lalu. ――Aku merindukan Emilia]

Berpikir atas semua insiden yang tak terhitung jumlahnya yang mengganggu pikirannya, Subaru tanpa sadar mengucapkan pikiran jujur ini.
Atau mungkin, itu lebih tepat disebut rengekan.
Tetapi, pada saat ini, itulah yang benar-benar dia inginkan.

Dia ingin melihat wajah Emilia. Dan menyentuhnya.
Dia ingin merasakan realitas keberadaan Emilia, dan untuk menyembuhkan hatinya yang hampir remuk.
Pikiran itu adalah sebuah bukti betapa lelahnya Subaru.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

――Saat itulah mereka memasuki hutan di sekitar Tempat Suci karena Subaru memperhatikan bahwa ada sesuatu yang aneh.

Menaiki Patrasche, dia memegang Rem yang tertidur di dadanya. Itu adalah postur yang sangat tidak seimbang dan genting, tetapi untungnya, Rem tidak bergerak, dan Patrasche mampu dengan sempurna menutupi ketidakmampuan tuannya saat mereka bergerak.
Tentu saja, mereka tidak bisa berlari dengan kecepatan penuh seperti yang mereka lakukan dalam perjalanan ke Mansion, dan butuh waktu tujuh belas jam untuk melewati kembali jalur yang sama. Dan sekarang, sudah mendekati malam keempat.
Dia telah merencanakan untuk menghabiskan satu setengah hari di Tempat Suci, tapi itu tampaknya berkurang menjadi satu hari.

Itu adalah penggunaan waktu yang diperlukan. Dan tentu saja, dia tidak berniat menyalahkan Patrasche.
Tetapi jika ada satu hal yang Subaru gagal perhitungkan,

[Subaru: Serius, ini tidak lucu …… Apa yang terjadi di sini ……!?]

Setengah jalan di sepanjang jalan menuju Tempat Suci, melewati hutan tempat Pembatas berdiri – mereka mulai merasakan dingin yang menusuk menyelimuti dunia.
Daun hijau pepohonan berhamburan dengan embun beku, dan permukaan dahannya dilapisi oleh warna putih. Genangan-genangan air yang ada di tanah telah membeku, dan ada lembaran-lembaran es tipis setiap kali dia melihat.

Suhunya sangat dingin – bahkan lebih dingin daripada musim dingin yang luar biasa. Subaru memegang erat tubuh Rem saat dia melihat, mengeluarkan nafas dengan kabut putih.
Seperti biasa, hutan tidak memiliki tanda-tanda kehidupan binatang, tetapi sekarang, bahkan kekuatan kehidupan pepohonan telah melemah. Fakta bahwa hutan sudah seperti itu membuktikan bahwa itu bukan fenomena alam biasa.

[Subaru: Semua yang ada didepan membeku dan putih ……. Aku punya firasat buruk tentang ini, Patrasche]

[Patrasche: ――――]

[Subaru: Hei … Patrasche?]

Karena kesal dengan perasaan tak menyenangkan di dadanya, dia ingin memberi tahu Patrasche untuk bergerak cepat, tetapi Patrasche tidak merespon.
Mengerutkan alisnya saat dia melihat ke arah naga kesayangannya itu, dia melihat bahwa kakinya berhenti, dan dia bernapas seperti sedang kesakitan dan tidak beraturan.

[Subaru: Patrasche !?]

Subaru buru-buru menarik kendali untuk menghentikannya. Dia melompat turun dari pelana, dan mengulurkan tangannya ke lehernya. Tekstur keras dari sisik lehernya terasa sama seperti biasanya, namun itu sangat dingin. Dan, saat itulah dia menyadarinya.

[Subaru: Apakah Ground Dragon rentan terhadap dingin ……? Mereka terlihat seperti reptil, aku bingung bagaimana mereka menghadapi musim dingin?]

Kebanyakan reptil seperti kadal dan ular berhibernasi selama musim dingin. Karena mereka terlihat sangat mirip secara visual, mungkin beberapa sifat reptil juga ada pada Ground Dragon.
Dalam hal ini, memaksa Patrasche untuk terus bergerak menuju dingin hanyalah bunuh diri.
Jika apa yang Subaru bayangkan adalah benar, maka semakin dekat mereka ke pusat Tempat Suci, semakin parah pula kedinginannya.

[Subaru: Terlalu berat bagimu untuk ikut denganku …… kurasa. Dari kelihatannya, Ground Dragon yang tinggal di Tempat Suci mungkin dalam bahaya juga]

Subaru mengelus tubuh Patrasche yang menggigil dengan tangannya. Mungkin itu tidak lebih dari menghiburnya, tetapi Patrasche menyandarkan tubuhnya ke telapak tangan Subaru seolah untuk merasakan sensasi kehangatannya.
Tanpa dia, tidak diragukan lagi akan membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai Tempat Suci ―― tetapi jika dia pergi bersamanya, dia mungkin akan mati dalam perjalanan ke sana.

[Subaru: Patrasche .. aku minta maaf, tapi aku harus meninggalkanmu di luar hutan …… atau benar juga, bisakah kau kembali ke Mansion?]

Mendengar keputusan Subaru, Patrasche mendengus sedih.
Tapi dia cukup pintar untuk memahami kekhawatiran Subaru, serta keadaan tubuhnya sendiri dan kondisi hutan yang ada di depannya. Setelah beberapa ucapan yang menghibur dari Subaru, dia menundukkan kepalanya dan mematuhinya.
Setelah menggosok kepalanya dengan penuh perasaan, Subaru mengambil beberapa barang dan pakaian dari barang bawaan yang dibawa Patrasche, dan mengenakan sebanyak yang dia bisa untuk mencegah hawa dingin. Dia melakukan hal yang sama untuk Rem, dan setelah mengamankan barang ditubuh Patrasche, dia mengangkat Rem.

[Subaru: Jalan menuju Tempat Suci adalah … lurus ke depan …… benar?]

[Patrasche: ――――]

[Subaru: Jangan memandangku dengan cemas begitu … Aku malah lebih mengkhawatirkan dirimu, kau tahu. Kau pasti lelah … maaf telah membuatmu mengalami hal ini. Ini semua karena kecerobohanku, maaf]

Kepala Subaru terkulai kebawah, dan Patrasche mengeluarkan suara meringkik pelan seolah berkata “Tidak perlu meminta maaf”. Kemudian, Patrasche mulai melangkah ke tepi hutan, sementara Subaru terus melihatnya sampai dia tidak terlihat lagi.

Patrasche tidak melihat ke belakang sekalipun ketika dia pergi. Mungkin, itu karena dia terlalu sombong untuk membiarkan Subaru melihat rasa keberatannya, dan, pada saat yang sama, itu akan lebih menghargai Subaru dan mengurangi rasa bersalahnya.
Terus dan terus, Subaru mengakui semua yang telah dilakukan oleh naga kesayangannya untuknya.

[Subaru: Patrasche seharusnya tidak kesulitan menemukan jalan keluar dari hutan. …… Sebenarnya, aku lebih khawatir tentang tujuan ini … omong kosong]

Memindahkan Rem dalam pelukannya, Subaru berjalan terus dengan suara embun beku di bawah kakinya.
Nafasnya yang berhembus berubah menjadi putih, dan giginya akan berdetak jika dia membiarkan dirinya merasakan hawa dingin. Maju, maju, dia menuju ke Tempat Suci.

[Subaru: Apa yang sebenarnya terjadi … Emilia ……?]

Dia memanggil nama gadis yang seharusnya berada di pusat dingin yang membeku ini.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

Dia memaksakan kakinya yang membeku terus maju kedepan, menghirup denga pelan melalui bibir yang sudah lupa bagaimana caranya menggigil. Melakukan yang terbaik untuk menjaga kelopak matanya tetap terbuka, Subaru berhasil mempertahankan penglihatannya yang kabur saat dia melaju melewati hutan.

――Sebuah cuaca dingin yang ekstrim menyelimuti Tempat Suci jauh melebihi perkiraan naif Subaru.

Dengan setiap langkah yang membuatnya lebih dekat, dia bisa merasakan suhu tubuhnya menurun.
Dia sudah lama kehilangan sensasi kulitnya, dan satu-satunya yang menggerakkan tubuhnya adalah rasa tanggung jawab kepada mereka yang telah mati, dan keinginan untuk bergerak maju,

[Subaru: ――――]

Dalam pelukannya, Rem memancarkan tanda-tanda kehidupannya yang stabil, tidak memberikan tanda-tanda bahwa cuaca yang ada diluar telah mempengaruhinya.

Terus lurus ke depan, dia maju menuju Tempat Suci.
Dia tidak bisa mengatakan hanya dengan melihat apakah dia berada di jalan yang benar atau tidak. Tapi dia hanya bisa percaya bahwa dia semakin dekat dengan pusat rasa dingin saat dia berjalan.

Salju telah menumpuk dikakinya, dan sebelum dia tahu itu, hutan telah benar-benar berubah menjadi pemandangan musim dingin.
Itu adalah kekuatan yang mampu mengubah sifat alami dunia―― dan Subaru tahu apa yang mungkin menyebabkan itu.

[Subaru: ――――]

Gemetar, dia membuka mulutnya yang beku sementara darah mengalir keluar dari kulit tipisnya yang robek saat dia terengah-engah. Dia menyentuh kehangatan darahnya dengan ujung lidahnya, dan yakin bahwa tubuhnya belum membeku.

Dia bisa terus berjalan. Dia masih bisa melakukannya.
Dia belum mempelajari apapun. Jika dia berhenti di sini, dia tidak akan bisa mengatakan pada dirinya sendiri untuk apa pengorbanan itu.
Dan sebagainya,

[Subaru: ――a]

Tiba-tiba, menyadari sesuatu memasuki pandangannya yang putih, Subaru menghentikan langkahnya.
Menggosok matanya yang setengah terbuka, Subaru menajamkan tatapannya untuk melihat sesuatu yang telah memasuki pandangannya. Perlahan-lahan membayangkan bentuknya, ia melihat bahwa itu adalah seseorang- –orang yang dikenalnya.

[Subaru: Lewes … san?]

[Lewes: ――――]

Terhadap panggilan Subaru, gadis itu hanya menanggapi dengan tatapan diam.
Mengamati reaksi ini, Subaru segera menyadari bahwa gadis ini bukan “Lewes”, tetapi merupakan replika “Lewes Meyer”.
Dan itu, jika dia adalah seorang replika, maka Subaru pasti memiliki otoritas atas dirinya.

[Subaru: Itu bagus .. kau di sini …… tolong … antar aku ke Tempat Suci ……]

[???: Dia tidak akan mendengarkan permintaanmu, kau tahu?]

Terengah-engah dengan nafas yang putih dan gemetar, Subaru memanggil gadis replika, tapi suara lain memotong di antara mereka.
Dia mendongak, dan segera melihat seseorang mendarat di salju di sebelah gadis itu. Melihat sosok itu yang mendarat ke dalam salju dengan suara keras, Subaru melihat bahwa itu adalah seorang pemuda.
Pendek, dengan rambut pirang, dan tatapannya yang tajam, seluruh tubuhnya memancarkan permusuhan yang akan membunuh.

[Subaru: Garfiel]

[Garfiel: Yo, kau punya keberanian untuk kembali? Harus aku katakan, aku terkesan. “Lyin’ Bittoon membungkuk lebih baik daripada kebanyakan orang “seperti yang mereka katakan]

Tanpa melupakan petunjuk yang tidak bisa dimengerti, Garfiel mendecak dengan taringnya kearah Subaru.
Tapi saat dia dengan jijik memandangi Subaru yang terengah-engah, mata Garfiel tiba-tiba terbelalak kaget ketika dia melihat Rem dalam pelukan Subaru.

[Garfiel: Huh ……? Apa yang dilakukan Ram …….. tunggu, itu bukan Ram. Hah? Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa gadis itu……]

[Subaru: Aku akan menjelaskan, tapi apa yang kau mengerti sedikit salah … Ini Rem. Adik kandung Ram]

[Garfiel: Aku tidak pernah mendengar tentang Ram yang memiliki seorang adik perempuan …… tapi aku tidak dapat mengatakan kau benar-benar berbohong, oy]

Menghadapi seseorang yang tampak persis seperti gadis yang ditaksirnya, rasa permusuhan Garfiel agak berkurang. Melihat bagaimana Garfiel tidak membunuhnya, Subaru memutuskan bahwa dia masih berakal sehat, dan memutuskan untuk menunda membuat rencana pelarian untuk saat ini.
Kemudian, Subaru berbalik ke replika Lewes dengan tenang berdiri di samping Garfiel,

[Subaru: Kau bilang gadis itu tidak akan mendengarkanku lagi … apa maksudmu?]

[Garfiel: …… Bukankah itu cukup sederhana? Segera setelah kau meninggalkan tempat suci, aku pergi ke tempat-tempat eksperimen dan memberikan otoritas komando kepada diriku sendiri. Pernahkah kau mengingat beberapa kenangan yang tidak menyenangkan bagimu?

[Subaru: Benarkah? Kau hanya perlu menepuk-nepuk dan otoritas komando akan ditransfer?]

[Garfiel: Benar, sederhananya hanya menyentuh saja. Begitulah caramu mendapatkannya, bukan?]

“Itu”, merupakan kristal yang menyegel Lewes Meyer asli di dalamnya. Jika menyentuhnya adalah cara Subaru menerima otoritas komando, maka itu wajar kalau Garfiel mengambil kembali dengan cara yang sama.
Bagaimanapun,

[Subaru: Kau benar-benar sangat perhatian untuk datang jauh-jauh ke sini untuk menjemputku]

[Garfiel: Aku datang kemari bukan untuk mendengar omong kosongmu. Coba lihat apa yang terjadi dan kau tahu bahwa sudah banyak waktu yang terbuang dalam percakapan ini, yah?]

[Subaru: Ya, kau benar. …… Aku akan langsung saja dan bertanya, kalau begitu…]

Subaru mengangguk pada jawaban Garfiel, lalu menghirup nafas dengan sedikit menggelengkan kepalanya, dan berkata,

[Subaru: ――Emilia yang melakukan ini … bukan?]

[Garfiel: Tidak tahu bego. Selain itu, dia tidak keluar dari Makam]

[Subaru: Dia belum keluar dari Makam?]

Subaru mengerutkan alisnya pada jawaban yang tak terduga. Melihat ini, Garfiel mendecakkan lidahnya dan menendang sepotong salju besar dengan kakinya,

[Garfiel: Setengah penyihir itu telah bertindak aneh sejak hari pertama. Aku pikir dia sudah tenang, tetapi kemudian dia mengurung diri di dalam Makam. Pada saat kami menyadarinya, seluruh Tempat suci ditutupi es. ―― Sama seperti Hutan Elior]

[Subaru: Kau tahu tentang rumah Emilia …… !?]

[Garfiel: Kau pikir aku belum mendengarnya? Roswaal memang bajingan sialan, tapi dia masih menjawab pertanyaan saat dibutuhkan. Itu sebabnya aku tidak mempercayai Emilia-sama sedikit pun]

Mendengarkan Garfiel mengucapkan ini, ekspresi Subaru menjadi suram. Namun, sebelum dia bisa bereaksi, Garfiel sudah menutup jarak diantara mereka dan sekarang berdiri tepat di depan matanya.

[Garfiel: Ekspresi itu sangat menyedihkan]

[Subaru: Apa !?]

Sebuah telapak tangan mendorong ke arah dada Subaru, dan dia pun jatuh kebelakang.
Dia buru-buru mencoba untuk melindungi Rem dengan tangannya, tetapi tangannya tidak memegang apa-apa. Untuk alasan itu,

[Suabru: Apa y … Rem――!]

[Garfiel: Apa, kau mau kembali? Oyoy, kau bajingan yang tamak. Aku pikir Emilia-sama adalah gadis impianmu]

Setelah menyerang Subaru yang terluka, Garfiel mendengus dengan hidungnya.
Di sana, di tangan Garfiel, adalah tubuh Rem yang telah diambilnya dari Subaru.
Dengan panik memaksa tubuhnya yang tidak mampu bergerak, Subaru mencoba meraih Garfiel, tetapi Garfiel melompat dari jangkauannya.

[Subaru: Apa yang akan kau lakukan pada Rem ……!]

[Garfiel: Aku tidak akan menyakitinya atau siapa pun. Itu salah. Aku orang yang rasional, kau tahu. Aku benci dengan orang tidak punya akal sehat]

Saat dia mengatakan ini, tatapan Garfiel saat dia melihat ke bawah pada Rem memang tidak membawa permusuhan.
Setidaknya, sifat Garfiel tidak cukup jahat baginya untuk menyakiti seseorang yang tampak seperti gadis yang dicintainya.
“Lalu mengapa”, Subaru hampir ingin bertanya, tapi Garfiel memukulnya.

[Garfiel: Masuk ke dalam Makam. ――Dan bawa si setengah-penyihir itu keluar untukku]

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded