Re:Zero Arc 4 Chapter 65 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

[Translator : Scraba]

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Suruh Mbak Google Baca”]

Gairah Didalam Salju

Dengan paksa menyeretnya ke tempat Makam, dia dilempar di depan pintu masuk.
Semacam salju atau es, Subaru meludahkan sesuatu seperti serbat yang berkumpul di mulutnya. Bisa dilihat kulitnya yang terbuka dan sensitif yang merasakan di antara rasa sakit dan mati rasa, dia menoleh ke belakang,

[Subaru: Itu…… perlakuan yang agak kasar]

[Garfiel: Kepalaku tidak cukup pintar untuk bersikap sopan terhadapmu. Bersyukurlah aku hanya bersikap kasar padamu. ‘Apa kau ingin aku bersikap kasar pada gadismu juga?]

Menghirup nafas yang putih dan menatap Subaru di tanah, Garfiel menunjuk kearah Rem, yang masih dalam pelukannya.
Seorang sandera. Subaru tidak yakin apakah itu yang dimaksud Garfiel, tapi itu pasti ancaman sempurna untuk memaksa Subaru.

[Subaru: Jangan sampai kau …… melakukan sesuatu yang aneh pada Rem]

[Garfiel: Selama kau melakukan apa yang aku minta, aku tidak akan melakukannya]

Subaru berbicara pelan ketika dirinya didorong dan sekarang berada ditanah yang tertutup salju. Berdiri di sampingnya adalah replika Lewes yang membantu membawanya ke sini, menatap kosong padanya.
Seperti biasa, dia mengenakan jubah lusuh, yang tampak akan membuatnya masuk angin.

[Subaru: Tidak bisakah kau memberi gadis itu pakaian lagi? … Dia terlihat sangat kedinginan, aku tidak tahan melihatnya.]

[Garfiel: Bukankah kau tahu itu kan? Dari awal mereka tidak dapat merasakannya. Jika kau mencoba mengulur waktu, aku tidak punya alasan untuk melayanimu]

[Subaru: Aw jangan mengatakan itu. Bahkan aku tahu mengulur waktu tidak akan memperbaiki situasi sama sekali]

Penglihatannya dibutakan oleh badai salju, Subaru mengikuti saran Garfiel dan berbalik ke arah Makam.
Di tengah dunia yang putih, dia bisa samar-samar dapat melihat reruntuhan itu yang mulai terbuka. Bahkan dalam fenomena alam yang mengamuk ini, makam Echidona tetap terlihat tenang, dan dengan menakutkan menunggu penantang berikutnya.
Dan Emilia ada didalamnya.

[Subaru: Sudah berapa lama Emilia ada di sana?]

[Garfiel: Dia pergi ketika malam terakhir, sudah dua hari dari sekarang. Jujur saja, aku tidak peduli selama dia tidak mati]

[Subaru: Dari posisimu, aku bisa membayangkan bagaimana situasinya… Jadi kau tidak mencoba masuk dan membawanya sendiri?]

[Garfiel: Aku tidak bisa masuk kedalam makam. Itu adalah bagian dari kontrak]

Jawaban itu cukup untuk menggambarkan posisi Garfiel sekarang.
Subaru tidak yakin sejauh mana penduduk Tempat Suci tahu tentang ini, tetapi Garfiel pasti dapat masuk ke dalam Makam. Dia bertemu dengan Echidona, dan diberikan kekuatan oleh Penyihir Keserakahan, serta kualifikasi untuk memegang otoritas komando atas klon-klon Lewes.
Tapi mengapa ia merahasiakannya dan menunda pembebasan tempat suci itu dari Subaru.

[Subaru: Setelah aku masuk ke dalam dan bertanya pada Echidona sendiri …… aku akan mencari tahunya sendiri]

[Garfiel: Cukup ocehannya. Aku bilang masuklah ke sana. Seret Setengah Penyihir itu dan buat dia berhenti mengeluarkan semua salju ini. Kalau tidak, aku terpaksa akan melakukan sesuatu yang tidak ingin aku lakukan]

Garfiel sedikit mengangkat Rem yang ada di lengannya dan mengeluarkan senyum mengancam. Senyum itu sama sekali tidak cocok untuknya, tetapi Subaru mengenal Garfiel sebagai orang yang melakukan ancamannya. Terlepas dari apa niat yang sebenarnya, selama itu dapat melindungi Tempat Suci, bahkan dia tidak akan keberatan mengarahkan cakarnya pada seorang gadis dengan wajah yang mirip seperti gadis yang dia cintai.

[Subaru: Jangan lakukan apa pun pada Rem. ――Itu syarat dariku]

[Garfiel: …… Pergi saja]

Ditiup oleh angin dingin, Subaru berharap permintaannya dapat dipenuhi, dan mulai berjalan menuju Makam. Di belakangnya, Garfiel memperhatikannya ketika dia pergi.
Motif yang sebenarnya masih belum diketahui, tetapi Subaru ingat bahwa ada sesuatu yang lupa dia katakan padanya.

Dia lupa memberi tahu Garfiel tentang kematian kakaknya, Frederica.
Satu-satunya reaksi yang dapat terpikirkan olehnya adalah sebuah ketidaksenangan dan kemarahan yang akan muncul dikepalanya.

Saat ini, apakah dia masih waras? Jika dia masih waras, lalu bagaimana caranya?
Dia membiarkan Petra mati, dia mencurigai Frederica yang tidak bersalah, dan dia kembali ke Tempat Suci untuk menemukan itu. Hubungannya dengan Garfiel buruk, dan dia tidak tahu apakah yang lain yang berada di Tempat Suci itu selamat.

Terus melanjutkan dalam keadaan mengerikan ini, bagaimana mungkin dia masih waras?
Dia tidak boleh berhenti berpikir. Dia tidak boleh menyerah. Dia harus melihat ke depan, melihat ke atas, memahami masa depan yang layak digenggam, dan menanggung setiap beban yang harus dia tanggung.
Jika tidak, apa yang akan Subaru――

[Subaru: ――――]

Suara langkahnya yang goyah menimpa lantai kering makam itu.
Tidak seperti di luar, di sini, dia hampir tidak bisa merasakan jangkauan dingin yang sedang mengamuk. Seolah-olah dingin telah dilarang memasuki ketempat ini, tapi itu hanya ilusi, dan kenyataannya, dingin itu hanya berkurang.
Saat Subaru melangkah ke dalam Makam, mekanisme yang dirancang untuk menyambut mereka pun teraktifkan, dan lampu yang redup di koridor gelap itu menyala.

Lampu redup yang menerangi dinding seolah mengundang Subaru kedalam, dan, dengan sensasi dari semua darah di tubuhnya yang membeku, Subaru menggerakkan anggota tubuhnya untuk terus berjalan masuk ke dalam.
Dan, pada akhirnya setelah melewati jalan yang panjang, dia tiba di sebuah ruangan.

Ruang tempat ujian pertama berlangsung, tempat di mana mereka menghadapi masa lalu mereka.
Akhirnya sampai disini,

[Emilia: ――Subaru?]

Seperti sepasang cincin perak, Subaru disambut oleh suara lembut yang sudah lama ditunggu-tunggunya.

Subaru mendengar namanya di kegelapan dan melihat sosok yang ada tepat di depannya.
Tepat saat matanya mulai dapat melihat dari kegelapan reruntuhan, rambutnya yang panjang dan perak dan matanya yang seperti permata menggenangi penglihatan Subaru, dan Subaru secara spontan juga memanggil namanya.

[Subaru: Emilia]

[Emilia: Ya. Ya, Subaru. ……Ini aku]

Mengucapkan empat suku kata yang singkat dan mendengar jawabannya, Subaru merasakan tubuhnya seperti akan roboh.
Ini mungkin tampak seperti reaksi yang berlebihan, tapi seperti itulah berat dari emosinya yang sedang meluap.

Lelah, letih, dan rasa kehilangan.
Semua sensasi ini menyengsarakan Subaru, namun, hanya ketika dia berdiri di depan Emilia, dengan berlutut membuat keluar semua emosi yang dia sendiri larang untuk mengingatnya.

Tubuhnya condong ke depan, hampir jatuh, tetapi dua lengan yang terulur dan dia menangkapnya.
Sentuhan mereka lembut dan hangat. Dia mendongak, dan melihat wajahnya yang cantik dan menawan itu menatap balik padanya.

Untuk sesaat, dia menahan napasnya, dan lupa di mana dia sedang berada.
Saat ini, dia hanya beristirahat di pelukan Emilia yang lembut.

[Subaru: ah, m-, maaf …… aku tiba-tiba merasa lemah ……]

[Emilia: Tidak apa-apa. Aku tidak mencurigaimu melakukannya dengan sengaja. Tetapi bahkan jika itu sengaja, aku masih akan memelukmu]

Memotong alasan Subaru, Emilia sedikit menghiburnya.
Daripada menegurnya, dia menghiburnya dengan lembut. Untuk ini, Subaru menghela napas lega – tetapi baru saat itulah dia menyadari sesuatu yang aneh tentang Emilia.

Emilia terlihat sama seperti biasanya.
Lembut, tenang, sedikit menyendiri, penuh kasih sayang, dan imut dengan pesona yang agak kekanak-kanakan―― tidak ada yang berubah.

Dia adalah Emilia yang sama, sama seperti biasanya dari hari-hari damai yang mereka habiskan di Rumah Roswaal.
Dan bukan Emilia yang terbebani dengan tugas untuk mengatasi Ujian.

[Subaru: E-Emilia …… saat aku pergi, uh ……]

―― Apa terjadi sesuatu yang merubah pikiranmu?

Subaru dengan hati-hati memilih kata-katanya, berniat mengajukan pertanyaan itu.
Tapi sebelum kata-kata itu keluar dari mulutnya, dia dengan pelan bergumam,

[Emilia: ――kesepian]

[Subaru: …… huh?]

Karena gagal menangkap bisikan Emilia, Subaru mengeluarkan ekspresi bingung dan memintanya untuk mengulanginya.
Dia bisa melihat wajahnya yang cantik dan rambutnya yang perak hanya dengan mengarahkan wajahnya. Menatap matanya dari jarak yang cukup dekat hingga dapat merasakan napasnya, kali ini, Subaru tidak akan melewatkan satu kata pun.
Bertemu dengan tatapannya, Emilia melanjutkan,

[Emilia: Aku sangat kesepian, Subaru. ――Ketika kau meninggalkanku]

[Subaru: ah …… tidak, itu …… bukan seperti itu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu ……]

[Emilia: ――――]

[Subaru: Aku pikir aku telah meninggalkan surat …… disana aku menjelaskan ada sesuatu yang harus aku lakukan. Jadi aku tidak bisa bersamamu untuk sementara waktu. Aku minta maaf karena harus meninggalkan sisimu dan membuatmu merasa seperti itu, dan aku bahkan gagal total terhadap sesuatu yang seharusnya aku lakukan, dan ……]

[Emilia: Pff..huhu]

Berada di bawah tatapan Emilia, Subaru dengan panik mencoba menjelaskan situasinya. Tetapi sebelum dia bisa menyelesaikannya, seolah dia tidak bisa menahannya lebih lama lagi, Emilia tertawa terbahak-bahak.
Ketika dia melihat ini, seketika itu Subaru meragukan apa yang dilihatnya.

Mereka sedang mengobrol, dan dalam situasi yang mengerikan, mengapa Emilia malah tertawa keras?
Apa yang lucu? Selain itu, Emilia tidak pernah menjadi gadis yang melakukan hal ini sebelumnya.

[Emilia: Bahkan jika kau tidak berusaha keras untuk menjelaskannya, aku tidak akan marah padamu. Ya ampun Subaru, bahkan wajahmu berubah menjadi hijau …… pf-huhu]

[Subaru: E-Emilia ……?]

[Emilia: Tidak apa-apa, Subaru. Kau telah meninggalkan surat untukku. Setelah berpikir kau benar-benar sangat sulit, menuliskannya untukku. Aku merasa sangat kesepian, dan aku pikir aku akan menangis, tapi …… aku terus membaca surat itu lagi dan lagi]

Merangkai kata-kata manis itu dengan bibirnya, Emilia tersenyum semakin dalam.
Melalui senyuman yang indah dan mempesona itu, bisikan manisnya mencengkeram hati Subaru. Mendengarkan dia berbicara tentang betapa dia sangat menghargai suratnya dan bagaimana surat itu menjadi dorongan baginya, Subaru merasa hatinya sangat panas hingga hampir meledak.

Tapi, yang membuat kesadarannya terhanyut oleh gairah yang membara adalah firasat memuakkan yang ada di dadanya.
Ada sesuatu yang salah. Ada yang aneh. Firasat yang dia rasakan sejak awal tidak pernah membohonginya.

Apa itu? Ada yang tidak beres. Walaupun saat ini Emilia terlihat sangat menggemaskan.
Meskipun Emilia menjawabnya dengan sangat manis.

[Subaru: Emilia …… bagaimana Ujiannya?]

[Emilia: Ujian ……]

[Subaru: Ya, Ujian. Itu sebabnya kau masuk ke sini, kan? Aku minta maaf membuatmu harus menanggungnya sendirian. Aku ingin meminta maaf, tetapi aku juga ingin tahu apa yang terjadi. Bahkan jika kau gagal, aku tidak akan peduli, tapi fakta bahwa kau seperti ini memberitahuku ……]

[Emilia: Gagal. Aku telah gagal, kau tahu? Ini adalah Ujian yang pertama, dan aku tidak dapat mengatasi masa laluku. Aku telah mengecewakanmu dan membuatmu khawatir, aku minta maaf]

[Subaru: a ……]

Subaru menyesal membiarkan erangan itu keluar dari tenggorokannya.
Bagi Emilia, suara itu pasti terdengar seperti kekecewaan. Dalam hal ini, itu sama saja bertentangan dari kata-katanya, tepat setelah dia meyakinkannya “Aku tidak akan keberatan”.
Pikiran itu membuatnya sangat menyesal, ketika tiba-tiba, dia merasakan sentuhan lembut dan halus di kepalanya.
Emilia menyelipkan jari-jarinya ke rambut hitam yang pendek milik Subaru, dan dengan lembut mengusap kepalanya dengan telapak tangannya.

Tidak dapat memahami arti dari gerakannya, Subaru berkedip seolah linglung. Emilia tersenyum ketika dia melihat ekspresi terkejutnya, dan pipinya pun memerah.

[Emilia: Subaru, kau selalu ingin menyentuh rambutku, kan? Jadi, aku ingin sekali-kali melakukannya juga untukmu. Hehe, Subaru sangat rentan sekarang ya …]

[Subaru: Em … ilia ……?]

[Emilia: Jika kau benar-benar meninggalkanku, dan pergi begitu saja, apa yang harus aku lakukan … lagi, dan lagi, dan lagi, pikiran itu terus berputar-putar di kepalaku. Aku benar-benar sangat, takut. Lalu, ketika aku melihatmu kembali kepadaku, aku benar-benar merasa bahagia]

Meskipun dia baru saja mengatakan kepadanya bahwa dia gagal dalam Ujiannya, saat ini, satu-satunya hal yang tercermin dalam mata Emilia adalah Subaru. Matanya yang hangat, dan basah, tertuju pada Subaru.
Sudah berapa lama Subaru merindukan hari ketika Emilia akan menatapnya dengan cara ini.
Dan sudah berapa lama dia merindukan Emilia yang memanggil namanya dengan begitu hangat, dan menatapnya dengan mata penuh gairah dan penuh air mata.

Semua yang dia lakukan sampai sekarang adalah untuk merasakan hasrat seperti saat ini.
Dan itulah sebabnya――

[Emilia: Subaru. Apakah kau akan selalu bersamaku? Selalu bersamaku? Karena, selama kau bersamaku, aku tidak akan membutuhkan yang lain――]

Subaru tidak pernah membayangkan hari itu akan tiba ketika Emilia mengungkapkan kata-kata kasih sayang yang buta itu, itu juga membuatnya takut.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

Memegang Subaru di pelukannya, Emilia melanjutkan dengan bisikan penuh kasihnya.

[Emilia: Awalnya, ketika aku mendengar bahwa Subaru telah pergi, hatiku terasa sangat sakit. Aku sangat takut. Aku bingung apakah itu karena aku tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar … atau Subaru sudah lelah denganku. Setiap kali aku memikirkan itu, aku sangat takut, aku tidak bisa menghentikan tubuhku yang gemetar ……]

[Subaru: ――――]

[Emilia: Tapi kemudian, aku menemukan suratmu, dan aku tahu bahwa itu adalah kata-kata Subaru, dan rasa takut itu lenyap. Subaru sangat menakjubkan. Meskipun beberapa saat yang lalu aku masih takut, kau menyapu perasaan itu dalam sekejap …… ya, kau selalu membantuku seperti ini, Subaru]

[Subaru: ――――]

[Emilia: Isi suratmu membuatku sangat senang. Kau menulis banyak hal sehingga membuatku tidak khawatir lagi. Dan butuh waktu lama untuk membacanya. Kau meluangkan waktu untuk menuliskannya demi diriku, dan sepanjang waktu itu kau memikirkanku, itu membuatku sangat senang]

[Subaru: ――――]

[Emilia: Dalam surat itu, kau bilang kau sangat mencintaiku. Ketika kau mengatakannya di kereta naga, aku sangat senang, sungguh sangat senang sehingga aku ingin menangis …… dan ketika aku membacanya di surat itu, aku merasa seperti aku benar-benar akan menangis juga. Dan kemudian, aku berpikir, aku telah menerima sesuatu yang begitu besar dan berharga …… dan aku baru saja menyadarinya]

[Subaru: ――――]

[Emilia: Jadi ketika aku melihat Subaru kembali, aku tidak bisa menahan diri lagi. Diriku yang kecil yang berada di bagian terdalam hatiku mentangisi nama Subaru. Kemudian, aku ingin menjangkau, menyentuhmu, dan aku tidak dapat menahan diri ……]

[Subaru: ――――]

[Emilia: Katakan, Subaru. Maaf untuk semuanya hingga sekarang. Aku telah melakukan banyak hal yang kejam kepadamu. Bahkan ketika aku tahu apa yang kau rasakan tentang diriku, aku membuat dirimu menahannya. Itu sangat kejam bagiku, aku menyadari itu sekarang]

[Subaru: ――――]
[Emilia: Itu pasti menyakitkan, menahan semua perasaan itu di dalam dirimu. Aku pasti sangat egois ketika membuatmu berusaha dengan keras. Meskipun aku ingin memikirkanmu …… untuk mengerti dirimu, pada akhirnya aku tidak bisa mengerti sama sekali]

[Subaru: ――――]

[Emilia: Tapi sekarang berbeda. Aku selalu memikirkan tentang Subaru. Semua yang kupikirkan adalah dirimu. Sama seperti dirimu memikirkanku …… um, memberitahuku bahwa kau mencintaiku, dan bahwa kau selalu memikirkanku …… sekarang, mungkin aku …… merasakan hal yang sama tentangmu juga]

[Subaru: ――――]

[Emilia: Aku minta maaf. Itu tidak adil sekarang. Bahkan ketika kau takut dan tidak tahu apa yang aku pikirkan, kau masih mengatakannya kepadaku]

[Subaru: ――――]

[Emilia: Jadi, aku akan … mengatakannya dengan benar. –Aku ingin memberitahumu bahwa…]

[Subaru: ――――]

[Emilia: Kau tahu, Subaru. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Aku terus memikirkan dirimu, aku selalu memikirkanmu, dan diriku juga ingin selalu bersamamu]

[Subaru: ――――]

[Emilia: Subaru, jika kau merasakan hal yang sama tentangku …… aku akan sangat senang ……]

[Subaru: ――――]

[Emilia: Ehehe. Mn, mn …… mencintaimu. Subaru …… Aku benar-benar mencintaimu]

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded