Re:Zero Arc 4 Chapter 66 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

[Translator : Scraba]

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Suruh Mbak Google Baca”]

Gundukan salju merah

――Melihat Subaru keluar dari Makam sendirian, rasa permusuhan dari Garfiel melonjak seolah menusuk kulitnya.

Dinginnya sangat berbeda saat berada diluar makam.
Berlawanan dengan kehangatan yang agak terisolasi yang ada di dalam, dinginnya Tempat Suci menyedot semua stamina dan kehangatan dari tubuh seseorang hanya dalam hitungan detik.
Badai salju yang tak berujung, dan tabir putih yang menyilaukan. Nafas yang dihembuskannya membeku ketika nafas itu keluar dari mulutnya, dan getaran yang mendorong ke dalam inti tubuhnya hampir tak tertahankan.

Sambil memeluk bahunya sendiri, Subaru bergidik di depan tatapan Garfiel.
Dan, dengan mengeluarkan suara dari taringnya yang terbuka, perhatian Garfiel beralih ke koridor kosong di belakang Subaru,

[Garfiel: Sepertinya tidak ada orang dibelakangmu, oy]

[Subaru: Ya, dia tidak datang. Emilia ada di dalam, sedang tertidur sekarang]

[Garfiel: Tertidur? Hah?]

[Subaru: Dia lelah. Selama dua hari berturut-turut, dia baru saja bangun dari Ujiannya, berulang kali. Itu membuatnya lelah, baik tubuh maupun jiwanya. Dan dia belum makan. Begitulah dirinya … memaksakan diri seperti ini]

Lagi dan lagi, memaksa dirinya untuk menantang Ujian tanpa berpikir akan gagal, Subaru bisa membayangkan rasa frustrasi dan kekecewaan Emilia.
Tentu saja, itu mungkin sama dengan rasa ketidakberdayaan yang dirasakan Subaru.

[Subaru: ――――]

Jauh di dalam Makam, dalam penangguhannya menghadapi ujian, Emilia tertidur pulas.
Ingatan dari panasnya tubuh Emilia dan pelukan hangat mereka yang berlangsung lama saat dia membisikkan cinta buta ke telinganya sekaligus membuat darah Subaru mendidih dengan cinta dan kerinduan, dan membuatnya tersiksa dengan penyesalan sedemikian rupa hingga dia merasa ingin mati.

Dia ingat pipi Emilia yang memerah, suaranya terdengar dengan gairah saat dia mengatakan semua kata yang ingin dia dengar, dan keseluruhan emosinya menggoda dia untuk tenggelam di dalamnya.
Apakah sebagian dari dirinya membiarkan semua itu menghilang dan tenggelam dalam kebejatan kecil itu di samping Emilia? Tidak ada yang tahu.

Setelah menolak godaan Emilia yang bahkan akan membawa Dewa sekalipun bertekuk lutut, Subaru pun keluar dari Makam.
Meninggalkan Emilia saat dia tertidur, dia tidak berniat memberitahunya tentang apa yang terjadi di luar. Dan dia tidak akan membawanya masuk kedalam jangkauan kejahatan Garfiel.

Tapi, berbeda dengan tekad Subaru yang tenang, kemarahan Garfiel tidak menunjukkan tanda-tanda menghilang.
Dia menendang salju di bawah kakinya dan mengeluarkan suara dari taring putihnya,

[Garfiel: Kau tidak jadi menyeret si setengah penyihir itu. Salju tidak terlihat seperti akan berhenti. Kau masuk tidak membawa suvenir apa pun dan tidak membawa apa pun juga ketika kembali kecuali wajah busukmu itu. Kau pikir apa yang telah kau lakukan, ah?]

[Subaru: ――Emilia, dia … bilang dia mencintaiku]

[Garfiel: …… …… ………… .. Hah?]

Tanggapan aneh Subaru mungkin tidak sesuai pada tempatnya saat ini. Untuk sesaat, Garfiel tampak seolah-olah dia tidak mengerti apa yang baru saja dia dengar. Tapi wajahnya dengan cepat berubah ketika dia memutuskan bahwa dia sedang dipermainkan.

[Garfiel: Sepertinya si setengah penyihir bukan satu-satunya yang tidak melihat situasinya disini, hah !? Lihatlah di mana kita berada, dan kau masih mengatakan omong kosong denganku, oy !? Oyoy! AAH !?]

Kemarahan yang membara dari Garfiel mulai menguapkan salju yang mencair di kulitnya. Dan pemandangan tubuh Garfiel yang mulai membesar bukanlah sebuah ilusi, tetapi awal dari perubahannya dari manusia menjadi harimau raksasa.

Subaru tidak takut saat dia melihat itu.
Dengan ekspresi yang sama seperti ketika dia mengucapkan kata-kata sebelumnya, Subaru terus menatapnya dengan tatapan kosong.
Dan dia mengulangnya di depan Garfiel yang sedang marah,

[Subaru: Emilia, mengatakan bahwa dia mencintaiku, dan yang dia butuhkan adalah aku]

[Garfiel: ――Dasar brengsek’…]

[Subaru: Dengan wajah manisnya, suaranya yang penuh kekuatan, gerakannya yang kaku, pada jarak yang begitu dekat hingga membuatku meleleh, hampir bersentuhan, dalam jangkauan pernapasan satu sama lain …… itulah yang dia katakan padaku]

[Garfiel: Jadi memangnya kenapa !? Sudah jelas ketika kau berada di sini si Setengah Penyihir sialan itu terpaku padamu. Jika kau ingin merayakannya karena telah bersatunya kalian berdua, aku akan mencincang kalian ――]

Suara geraman dari binatang buas mulai bercampur dengan umpatan yang sedang dilontarkannya ketika perubahan Garfiel dipercepat dengan kemarahannya. Siap menerkam setiap saat, Garfiel mengarahkan kata-katanya kearah Subaru.
Dan itu adalah yang terakhir.

[Subaru: …… bagaimana mungkin itu bisa terjadi]

[Garfiel: Hah? Aku kurang mendengarmu, bisa kau ulang lagi ……]

[Subaru: ―― Bagaimana mungkin Emilia mengatakan padaku bahwa dia mencintaiku !! ??]

[Garfiel: ―――― hk]

Subaru membalikkan wajahnya dan berteriak.
Bahkan Garfiel terdiam di hadapan sesuatu yang dibanjiri emosi ini. Sambil melototi Garfiel yang berkedip, membawa ekspresi menyakitkan, Subaru membiarkan hatinya bergejolak.

Kata-kata yang mereka saling bicarakan di Makam, kehangatan dari sentuhan mereka, dan kepastian cinta mereka―― dia membuang semuanya.
Apakah itu menyakitkan? Tentu saja itu menyakitkan. Namun, dalam ingatan yang tak dapat hilang itu, tidak ada sedikit pun arti sejati.
Betapa menyenangkannya, jika Subaru cukup bodoh untuk tertipu oleh harapan palsu itu.
Tapi itu adalah ketidakberuntungan Natsuki Subaru yang tidak mampu menjadi bodoh karena hal seperti itu.

[Subaru: Bagaimana dia bisa mengatakannya. Bagaimana Emilia bisa mengatakan padaku bahwa dia mencintaiku …… tidak ingin berpisah dariku, menawarkan segalanya untukku, dan memberitahuku bahwa dia tidak membutuhkan apa pun kecuali aku …… yang tidak akan pernah terjadi]

[Garfiel: Apa yang sedang kau ucapkan, oy?]

[Subaru: Dia tidak akan pernah bersandar padaku seperti ini, dan memberitahuku bahwa perasaannya untukku adalah segalanya baginya. Tak pernah. ――Jika Puck ada di sini, tidak mungkin dia masih tetap merasa senang terhadapku ……]

Dia tidak bisa mengatakan betapa putus asanya dia ketika berharap dia bisa berada ditempat pertama di hati Emilia.
Tetapi Subaru tidak terlalu sombong untuk percaya bahwa dia hampir cukup layak untuk mendapatkan tempat itu di hatinya, dan setidaknya begitulah yang dia pikirkan.
Yang paling diandalkan Emilia, yang akan berada disisinya sampai akhir, pastilah Puck.

Sekarang Puck tidak akan muncul di hadapannya, dia hanya beralih ke Subaru sebagai pelabuhan kedua dari ketergantungannya, tidak lebih.
Pengakuannya tentang cinta, kehangatan dari ujung jarinya, dan nafasnya yang gemetar, Subaru tidak ingin percaya bahwa itu semua bohong.
Dia tidak ingin―― tetapi dia tahu bahwa itu semua tidak nyata.

Mengangkat kepalanya, Subaru melotot kearah Garfiel.
Kemarahan Garfiel sepertinya telah mendingin, tapi kali ini, Subaru lah yang memamerkan taringnya,

[Subaru: Siapa yang menyudutkannya sampai dia tidak punya pilihan selain bergantung pada pria tak berguna sepertiku? Siapa yang membuatnya berpikir bahwa dia harus terus berjuang … tanpa peduli berapa kali hatinya telah hancur, lagi dan lagi! Siapa!?]

[Garfiel: Itu semua yang diperlukan, bukan! Itu adalah pilihan yang kau buat sendiri! Persetan, kau mencoba menyangkut pautkan aku …… dan orang yang ada di Tempat Suci, HAH !?]

Garfiel membalas atas tuduhan Subaru.
Tapi, mendengarkan jawaban Garfiel yang membentak dengan keras, Subaru hanya menggelengkan kepalanya.

Siapa yang menyudutkan Emilia?
Dia sudah tahu jawabannya tanpa harus bertanya.

[Subaru: Tidak diragukan lagi itu salah siapa …… itu salahku]

[Garfiel: ――Hah !?]

[Subaru: Itu salahku. Itu salahku hingga membuat Emilia tersudutkan. Itu salahku, itu salahmu, dan salah kalian semua]

[Garfiel: …… cukup dengan omong kosongmu. Jika dia tidak sanggup menahan beban dan berada didalam gua, bukankah itu batas kemampuannya !? Jika hatinya begitu lemah dan dia memiliki tujuan yang tinggi, bukankah itu hanya membuat dia semakin bodoh dengan dirinya sendiri!]

[Subaru: Ya. Kau benar. Emilia terlalu lembut, jadi dia hanya menerima tekanan saja. Jadi dia tidak pernah membebani orang lain, sampai membuat dirinya sendiri hancur. ――Bahkan meskipun itulah yang seharusnya aku lakukan]

Menerima kemarahan Garfiel, Subaru merasa hatinya semakin dingin sama seperti salju putih di sekitarnya.
“Meskipun itulah yang harus aku lakukan”, dia merasa ingin menjelaskannya.

[Subaru: Ya. Itulah yang harusnya aku lakukan. Itu sebabnya aku di sini …… dan meskipun aku yang mengatakan ini, apa yang aku lakukan ……]

[Garfiel: Persetan, dengan ucapanmu, oy. …… Tidak, lupakan. Lupakan saja. Tidak ada akhir dari omong kosongmu, ya. “Rasa haus seseorang tidak akan pernah terpuaskan”. Jika kau tidak melakukannya, maka ……]

[Subaru: Kau akan pergi ke Makam dan membawa Emilia keluar sendiri ……? Kau pikir kau benar-benar bisa melakukannya?]

[Garfiel: …… Persetan dengan semua itu]

Garfiel menggumamkan gertakan kecil. Meskipun itu dimaksudkan untuk mengintimidasi Subaru, itu hanya berfungsi untuk mengkonfirmasi dugaan tak berdasar Subaru.

[Subaru: Garfiel, aku sudah tahu kau adalah Pengikut Keserakahan. Aku tahu itulah satu-satunya cara kau dapat diberikan otoritas komando atas para Lewes]

[Garfiel: ――――]

[Subaru: Jadi tidak terelakkan lagi, bahwa menjadi Pengikut Keserakahan, kau pasti berada di dalam Makam. …… Atau, lebih tepatnya, kau telah menjalankan Ujian (The Trials)]

[Garfiel: ――Kau…]

[Subaru: Kau menantang Ujian (The Trials), begitulah. Meskipun aku tidak tahu mengapa kau begitu bersikeras untuk merahasiakannya. Apakah karena penduduk Tempat Suci dilarang memasuki Makam? Jika tidak …… itu juga berlaku bagi Lewes, siapa yang memasuki Makam untuk menyelamatkanmu?]

[Garfiel: ―――― gh]

Warna kulit Garfiel berubah.
Lagi pula, keluarga adalah hal sensitif bagi Garfiel. Melihat ekspresinya berubah seperti mengalami kesakitan yang mendalam, Subaru terus merangkai dugaannya saat dia berbicara.

[Subaru: Frederica memberitahuku tentang bagaimana kau masuk ke dalam Makam. Dan aku mendengar bahwa Lewes juga ikut masuk]

[Garfiel: Si Pengadu sialan itu ……! Kabur saja tidak cukup baginya, sampai membuatnya menjadi penjilat bagi bajingan di luar sana…… tch]

[Subaru: Apa, apakah itu sesuatu yang buruk jika seseorang tertentu mendapatkan informasi dari orang lain? Kalau dipikir-pikir, siapa yang membuat kontrak dengan para penduduk? Apakah itu Penyihir Echidona yang menciptakan Tempat Suci ini? Jika demikian, maka selama ini apakah para penduduk di Tempat Suci telah melakukan kontrak dengan kematian?]

[Garfiel: Jangan sampai kau――!]

“――bicara lebih jauh lagi”, Garfiel menendang ketanah dengan kakinya, menjadi satu dengan angin saat ia terbang ke arah Subaru.
Mengarahkan cakarnya yang dapat merusak baja secara langsung ke wajah Subaru――

[Subaru: ――Yang membuat salju ini semua adalah Roswaal]

[Garfiel: ――――]

Mendengar Subaru mengarah pada inti permasalahannya, cakar Garfiel berhenti beberapa inci dari wajah Subaru.
Melihat ekspresi kebodohan yang muncul diwajah Garfiel, Subaru mengangguk.

[Subaru: Bukan Emilia. Tanpa Puck di sini, Emilia tidak bisa melakukan ini sendirian. Bahkan jika, dari satu juta berbanding satu kemungkinannya, bahwa Emilia lah yang menyebabkan ini, tidak mungkin gadis itu bisa menyembunyikannya dariku dengan sempurna.]

[Garfiel: Itu …… hanya harapanmu saja……]

[Subaru: Kau benar, tapi aku hanya bisa percaya. Gadis itu, bahkan jika dia benar-benar membuang dirinya sendiri, dia bukan tipe wanita yang akan membuat amukan dan menyakiti semua orang di sekitarnya …… Aku percaya itu]

Mungkin itu kesimpulan yang dia dapat setelah melalui proses pemilahan.
Tapi itu jelas bukan kesimpulan tanpa dasar.

[Subaru: Yang mengikat kalian semua ke Tempat Suci … adalah Roswaal, bukan?]

[Garfiel: Kau tahu itu dari Frederica juga?]

[Subaru: Tentu saja tidak …… hanya aku yang memilah semua informasi dan bukti, dan memiliki cukup prasangka dan kesan buruk tentang pria itu untuk tidak menolak membuat tuduhan palsu. ――Tapi sepertinya aku benar]

[Garfiel: ――――]

Ketika Garfiel terdiam, Subaru menghembuskan napas putih.
―― Itu membuatnya lelah mengetahui bahwa orang yang dicurigai sebagai dalangnya adalah benar-benar dalangnya. Namun, bahkan jika dia tahu bahwa Roswaal adalah orang yang bersekongkol di balik layar, dia masih tidak tahu mengapa dia akan mengawasi kontrak yang telah menjebak penduduk Tempat Suci di sini, dan mengapa dia menyiksa mereka dengan salju ini. Tidak peduli seberapa banyak yang Subaru pikirkan, dia tidak dapat menemukan jawaban yang masuk akal.

Dalam hal itu,

[Subaru: Dugaan kita hanya membuat beberapa gambaran di wajahnya yang sombong]

Mendengarkan Subaru menggumamkan ini penuh dengan tekad, Garfiel menjatuhkan tangannya.
Dan Subaru bisa tahu bahwa wajah Garfiel tergambarkan dengan emosi yang sama seperti wajahnya sendiri.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

[Roswaal: ――Se~~pertinya, kalian ber~~duaa terlihat ma~~rah]

Berbaring di tempat tidur di kediamannya, Roswaal menyapa Subaru dan Garfiel dengan kata-kata ini, dengan riang tersenyum dalam rias wajah badutnya seperti biasa.

[Subaru: Ya. Aku sangat kesal sekarang. Dan orang yang disini juga ingin melompat kearahmu saat ini, kau tahu? Jadi kau harus berhati-hati dengan ucapanmu.]

Berdiri di sana menghalangi pintu, Subaru merentangkan lengannya dan menyikut dagunya, menunjuk orang yang ada di sampingnya. Yang ada disana adalah Garfiel, yang sedang menggeram.
Suara nafas binatangnya adalah bukti bahwa ia menggunakan rasionalitas terakhirnya untuk mempertahankan bentuk manusianya. Meskipun mereka berada di dalam ruangan, kedinginan telah menembus dinding bata dan masuk ke dalam. Subaru dan Roswaal mengeluarkan nafas putih, meskipun hanya Garfiel yang mengeluarkan warna merah karena nafasnya yang panas.

[Roswaal: Ini adalah pasangan yang tidak menarik, bukan? Aku yakin dan ingat ketika itu Garfiel mengatakan sesuatu tentang mero~~ bek Subaru menjadi dua ketika dia kembali?]

[Garfiel: Banyak hal berubah. Aku harus menunda untuk memutuskan siapa yang akan di hancurkan sampai aku mengetahui apa yang benar atau tidak]

[Subaru: Jangan mengatakan hal menakutkan seperti itu dengan santai. Roswaal juga, kau tidak boleh menerima pernyataan menakutkan semacam itu seperti layaknya hal biasa, kau tahu]

Percakapan Subaru dengan Garfiel ketika dia meninggalkan Tempat Suci untuk pergi ke Mansion telah meninggalkan rasa benci yang mendalam. Tidak dapat melupakan penghinaan itu, kebencian Garfiel terhadap Roswaal dan Emilia tidak terlalu sulit untuk dipahami.

Melihat Subaru mengerutkan alisnya, Roswaal menggelengkan kepalanya dengan [No ~ no ~~ o], saat dia memutar mata kuningnya antara Subaru dan Garfiel,

[Roswaal: Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Subaru-kun]

[Subaru: Sepertinya aku sangat dibenci. Aku merasa tersakiti, Ros-chi. Apa kau tidak akan melakukan apa-apa bahkan jika Garfiel memakanku?]

[Roswaal: A ~ aya aya, sekarang bukankah itu masalah yang kau hadapi sendiri? Jika Subaru-kun langsung berhadapan dengan Garfiel, aku tidak begitu yakin bahwa Garfiel akan keluar sebagai pemenang?]

[Subaru: Kau pikir aku punya kesempatan menang? Jika kau mendengar tentang pertempuranku, kau akan gemetar, kau tahu]

Sejak dipanggil ke Dunia Paralel ini, Subaru selalu saja menerima kerusakan <Damage>, dengan hanya sedikit kemenangan tempur.
Dia berhasil mengalahkan trio aneh disebuah gang, membunuh beberapa Wolgarms, dan menghabisi Petelgeuse yang sekarat, tapi hanya itu saja.

[Subaru: Sebenarnya, itu jauh lebih baik daripada yang aku kira … tetapi jika aku diadu dengan Garfiel yang sedang kesal, aku tidak akan dapat bertahan bahkan dua detik sebelum aku berubah menjadi kubus daging. Setidaknya aku tahu itu]

[Roswaal: Aku penasaran. Mungkin, dalam kondisi yang tepat, kau bisa melakukan pertarungan yang menarik, aku pikir]

Menyipitkan matanya, Roswaal memandang Subaru ke atas dan ke bawah saat dia berbicara. Sayangnya, tidak peduli bagaimana Subaru mencoba merenungkan kata-kata itu, dia sepertinya tidak setuju.
Subaru mengangkat bahu dan memutuskan untuk mengesampingkan pernyataan Roswaal untuk saat ini, dan pada saat yang sama orang disebelahnya, Garfiel menginjak kakinya, menghancurkan lantai yang ada di bawahnya.

[Garfiel: Semua omong kosong itu tidak penting sekarang! Bukankah ada sesuatu yang lebih penting di sini, hah !? Apakah kalian berdua sedang bermimpi?]

Meninggalkan jejak yang dalam di tengah lantai, Garfiel memamerkan taringnya dan berteriak pada Subaru dan Roswaal.
Dia tampaknya tidak terlalu menyukai pertandingan sparring kecil mereka sebelum mereka membahas topik utamanya. Tapi sekali lagi, itu juga bukan hal yang sesuai dengan Subaru.
Mengikuti perintah Garfiel, Subaru memberikan satu anggukan, dan,

[Subaru: Kaulah yang membuat diluar bersalju, bukankah begitu, Roswaal]

Dia langsung ke inti pembicaraan.

[Roswaal: ――――]

Mendengar pertanyaan Subaru, Roswaal menutup mulutnya.
Subaru mengikutinya, dan diam-diam menunggu jawaban Roswaal. Ruangan itu hening, karena satu-satunya suara yang terdengar adalah deru angin beku di luar jendela, suara ritmik dari jarum jam, dan bunyi gertakan gigi Garfiel.

[Roswaal: Subaru-kun]

[Subaru: Ya?]

[Roswaal: ――Apakah kau mendengar itu dariku?]

[Subaru: ――――]

Pertanyaan macam apa itu?
Subaru telah menjalankan beberapa simulasi di kepalanya tentang tanggapan apa yang akan Roswaal berikan.
Mungkin tertawa keras seperti [Aha, kau mengetahuinya], atau yang menyedihkan [Sungguh lucu sekali ……, di mana buktinya!]. Kemungkinan besar begitu, atau mungkin dia akan mengelak [Aku tidak mengerti apa yang sedang kau ka ~~ takan], atau hal lain semacam itu.

Tetapi jawaban Roswaal benar-benar berbeda dari apa pun yang Subaru bayangkan.

[Subaru: Apa? Kami baru sampai di sini, bagaimana mungkin kau yang memberitahu kami? Apa kau sedang kebingungan?]

[Roswaal: Hm ~ mm …… Begitukah. Begitukah. Begitu~~ kah. …… Sayang sekali]

Meskipun mampu memahami makna kata-katanya, Subaru hanya memandang Roswaal dengan ekspresi tidak mengerti. Setelah mengucapkan itu, Roswaal menundukkan pandangannya, dan sedikit menghela nafas.
Sisi wajah pucatnya bahkan tampak lebih hampa daripada biasanya. Dan Subaru bisa melihat bahwa itu bukan akibat dari luka-lukanya, tetapi merupakan cerminan dari keadaan hatinya.

[Roswaal: ――Da~~lam hal ini. Aku salah bicara, aku salah bicara. Aku mengatakan sesuatu yang aneh barusan]

Mengangkat wajahnya lagi, Roswaal mengungkapkan senyuman samar seolah menarik kembali apa yang baru saja dia katakan.
Entah bagaimana, Subaru hanya merasa ada sesuatu yang hilang dari senyuman bercat merah itu.
Tapi, tanpa memperhatikan perubahan halus Roswaal, Garfiel melangkah maju,

[Garfiel: Kau tidak menyangkalnya, ya?]

[Roswaal: Apa kau tidak berpikir bahwa jika aku melontarkan banyak alasan ketika aku sudah dicurigai, itu hanya akan terdengar seperti aku sedang berbohong? Tapi di sisi lain, tingkah lakuku yang lama tidak memberiku kepercayaan dari kalian ber~~dua]

[Garfiel: Jadi kau menyadarinya? Kalau begitu kau mungkin bisa menebak apa yang akan aku lakukan selanjutnya …… yeah !?]

Menghembuskan nafas tajam, Garfiel langsung mendekatinya dari beberapa langkah menjadi nol.
Mendekati tempat tidur, Garfiel mengulurkan tangannya untuk memegang Roswaal di tenggorokannya. Gerakan sepersekian detik terjadi begitu cepat sehingga Subaru bahkan tidak punya waktu untuk memanggil untuk menghentikannya.
Tapi,

[Garfiel: ――Kau]

[???: Aku tidak akan memaafkan sebuah penghinaan terhadap Roswaal-sama, Garf]

Terbang keluar dari kamar yang berdekatan, Ram menangkap Garfiel dengan tubuh dan pergelangan tangannya.
Dengan tangan kanan yang memegang dadanya, Garfiel melirik Ram dengan geraman.
Subaru terkejut karena dia tidak menyadari kehadiran Ram di rumah itu sampai sekarang, tetapi, dengan helaan nafas lega, dia setidaknya bersyukur bahwa dia berhasil mencegah pertumpahan darah yang tidak perlu.
Kemudian–

[Roswaal: Ram. Kau benar-benar pelayan yang luar biasa]

[Ram: Ya, Roswaal-sama――]

Subaru tidak dapat menemukan sesuatu yang aneh tentang percakapan mereka.
Ram menempatkan dirinya dalam bahaya untuk melindungi tuannya, dan Roswaal memujinya. Seharusnya tidak ada yang salah dengan ini. Ram hanya menjalankan tugasnya.
Jadi di mana masalahnya? Subaru mendongak, mengerutkan alisnya, dan bertanya-tanya.

Berdiri di dekat pintu, Subaru bisa melihat punggung Garfiel di depan matanya, dan sosok Ram yang lembut di depannya. Di dekat mereka, adalah tempat tidur yang Roswaal gunakan untuk penyembuhannya, tetapi,
――Sejak kapan Roswaal berdiri?

[Subaru: ――――]

Itu pasti terjadi dalam sekejap.
Dalam waktu yang dibutuhkan Subaru untuk berkedip, Roswaal telah berdiri dari tempat tidurnya, dan berjalan ditengah-tengah, antara Ram dan Garfiel.
Dan,

[Subaru: ――――]

Apa-apaan itu?
Sesuatu yang mencuat dari punggung Garfiel adalah apa yang tampak seperti lengan manusia.
Menembus dari depan dadanya ke tengah punggungnya, itu memiliki lima jari yang menggeliat, dan Subaru yakin itu adalah tangan kanan seseorang.

[Garfiel: Hhg, bh …… h]

Di depan matanya, tubuh Garfiel mengejang.
Sedikit demi sedikit, darah merah menodai bagian belakang jaketnya saat kakinya menjuntai dari badannya. Tanpa ada sesuatu yang menopang tubuhnya, Garfiel berlutut ketika lengan itu hilang dari punggungnya.
Dan, setelah kehilangan sumbatannya, sejumlah besar darah langsung menyembur dari lubang itu.

[Garfiel: ――Hh]

Garfiel pingsan ke lantai. Ram dan Roswaal, menatapnya.
Dan sesuatu yang mencuat dari dada Ram, adalah,

[Ram: ros ……]

[Roswaal: Kau benar-benar pelayan yang luar biasa]

Ram mencoba memanggil namanya dengan suara lemah, tetapi Roswaal dengan pelan menyela.
Dia dengan lembut mengelus dengan tangan kirinya pada rambut berwarna pink milik Ram, sementara Ram sepertinya menerima itu dengan rona muka lembut pada ekspresinya yang mulai kehilangan kesadaran.
――Dari sudut senyumnya, jejak darah segar mengalir keluar.

Tapi itu wajar saja.
Karena dadanya telah ditembus dari belakang.

Lengan itu ditarik keluar.
Dan tubuh Ram yang halus, tidak mampu menahan dan tetap berdiri bahkan dengan kekuatan sekecil apa pun, dan dia pun jatuh ke lantai.
Tapi apa yang menyambutnya adalah Garfiel yang sedang berdarah parah.
Dia menangkap Ram yang runtuh ke dalam pelukannya, dan mencoba mengangkatnya,

[Garfiel: Gh …… Ros …… ch. r, a …… Ram, Ram, Ram, RAM RAM RAM RAM RAM !!]

Sesaat kebencian mendominasi hatinya menenggelamkannya kedalam kehampaan karena melihat seseorang yang dicintainya.
Berulang kali, Garfiel meneriakkan nama gadis itu yang ada di tangannya, mengaum dengan dipenuhi darah saat dia memancarkan cahaya biru dari tangannya.
Subaru tahu bahwa cahaya yang terang berasal dari penyaluran sihir penyembuhan.
Meskipun bukan spesialisasi Garfiel, dia masih mampu untuk menggunakannya.

Saat ini, meskipun luka fatal menembus dadanya, Garfiel terus menuangkan segalanya kedalam tubuh Ram untuk menyembuhkan Ram yang ada dalam pelukannya.
Ketika dia melakukannya, dengan setiap detak jantungnya, tubuhnya berdenyut dan berubah.
Bulu menutupi kulitnya yang terbuka, taringnya mulai tumbuh, dan matanya langsung menyempit menjadi kecil. Otot-ototnya membengkak karena ukurannya, karena bajunya robek disebabkan ukuran tubuhnya yang luar biasa.
Dia berubah menjadi harimau yang tak memiliki akal, dan naluri binatangnya untuk melindungi dirinya sendiri bertentangan dengan keinginan rasional manusia untuk menyelamatkan nyawa orang yang dicintainya.
Tapi,

[Garfiel: ――――]

[Roswaal: Akan merepotkan jika kau diizinkan untuk berubah]

Sedikit memiringkan kepalanya, dengan kata-kata ini Roswaal menendangkan kakinya ke arah Garfiel.
Kakinya yang panjang dan menendang menciptakan angin, dan menghantam langsung ke kepala Garfiel ―― dengan suara yang seperti cangkang telur yang retak, kepala Garfiel meledak menjadi semprotan merah.

Tubuh Garfiel kehilangan segalanya dari leher hingga ke atas. Darah menyembur seperti air mancur dari tunggul lehernya yang terputus, memenuhi ruangan dengan bau darah ketika mayatnya jatuh di atas Ram.
Di bawahnya, senyum samar pada ekspresi Ram tetap tidak berubah.
Sihir penyembuhan Garfiel tidak berpengaruh. Nadi Ram sudah berhenti berdenyut saat Roswaal menarik lengannya dari lobang didadanya yang hancur.
Garfiel hanya gagal memperhatikannya saat dia mencoba untuk menyelamatkannya.

[Roswaal: B~~ ahkan diriku pun mengalami kesulitan dalam menggunakan sihir sambil mempertahankan mantra interferensi cuaca sebesar ini. ――Bagi seorang penyihir istana, itu benar-benar penampilan yang tidak enak dilihat]

Dengan kasar mengelap kakinya yang berdarah dengan sprei yang ada di dekatnya, setelah membunuh Ram dan Garfiel dengan tangan kosong, Roswaal menoleh kearah Subaru yang tak bisa bergerak.
Dan, dengan nada dan sikap yang sangat berbeda dari biasanya, dia berbicara.

[Roswaal: Sekarang ―― bisakah kita memulai pembicaraan kita? Natsuki Subaru-kun]

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded