Re:Zero Arc 4 Chapter 67 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

[Translator : Scraba]

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Suruh Mbak Google Baca”]

Ahli Sihir

“Tidak dapat dimengerti” adalah satu-satunya yang dapat dipikirkan oleh Subaru saat dia menyaksikan adegan yang terjadi di depan matanya.

Ram terbaring digenangi darah, dan, di atasnya, adalah tubuh Garfiel yang kepalanya sudah terpenggal. Berdiri di samping mayat mereka yang sedang berhimpitan, orang yang telah melakukan semua ini dengan tangan kosongnya, Roswaal, menyeka darah dari pakaiannya.
Setelah menyaksikan kejadian yang mengerikan ini, untuk sesaat, Subaru tidak dapat percaya bahwa semua itu dilakukan Roswaal.

Roswaal L. Mathers adalah Perwakilan Penyihir Istana Kerajaan Lugnica, yang bisa mengendalikan sihir tingkat ekstrim sesuka hatinya, dan memiliki kekuatan tempur yang luar biasa, atau begitulah yang Subaru tahu.
Itu adalah hal yang dia dengar. Dan justru karena dia mendengar ini, Subaru tidak pernah membayangkan bahwa Roswaal bisa bertarung dengan hebat tanpa menggunakan sihirnya.

[Roswaal: “Penyihir lemah dalam pertempuran jarak dekat” itulah yang kau pikirkan bukan. Siapa pun yang pernah bertarung denganku, pasti juga akan berpikiran seperti itu. …… Seperti apa yang terjadi pada orang-orang bodoh yang keras kepala ini, kau bisa lihat dengan jela~~ s]

Subaru menghirup napas dengan gemetar ketika Roswaal sedang menebak dengan sempurna apa yang dipikirkannya.
Sementara Roswaal mengelap setitik darah yang memercik ke wajahnya dengan jari, terlihat dari wajahnya yang dipenuhi mek-up kilas senyumnya. ――Kejam, itu adalah kata yang paling tepat.

[Subaru: Kena,pa ……]

[Roswaal: Mm ~~ mm?]

[Subaru: Kenapa kau membunuh mereka …… membunuh Ram? Garfiel … jika itu membunuh Garfiel bisa dipahami …… tapi …]

[Roswaal: Jika kita berbicara berdua saja, Garfiel akan ka~~bur. Sementara untuk Ram, aku akui bahwa apa yang aku lakukan tidak dapat dimaafkan. Tapi aku tidak cukup kuat untuk dapat melawan Garfiel satu lawan satu. Aku hanya bisa membunuhnya ketika dia sedang lengah]

Meskipun “Membunuhnya ketika sedang lengah” berarti menusuk Ram bersama Garfiel sekaligus.
Entah bagaimana, ketika dia mendengarkan penjelasan santai Roswaal tentang mengapa dia membunuh mereka, emosi Subaru mulai mereda, dan pikirannya mulai kembali tenang seperti biasa.
Itu adalah jawaban yang menggelikan untuk situasi yang menggelikan. Dan jika Subaru membiarkan dirinya dipermainkan, menyerah hanya akan memberi Roswaal apa yang diinginkannya.

[Subaru: …………]

[Roswaal: Hm ~~ mm, itu tidak diduga. Kupikir kau akan marah dengan apa yang aku katakan?]

[Subaru: Yah, kemarahan itu memang berputar-putar dan mulai kembali tenang. …… Bukan berarti aku tidak marah. Itu normal. Itu normal]

[Roswaal: I~~tu benar. Meskipun itu sikap yang mengagumkan, Pemuda bernama Natsuki Subaru yang aku tahu pasti akan meraung, marah dengan emosinya yang sekarang, begitulah seharusnya. Bukan~~kah kau juga berpikir begitu, Natsuki Subaru-kun?]

Satu-satunya Pupil mata berwarna kuning Roswaal menatap tajam kearah mata Subaru.
Banyak orang yang tahu bahwa Roswaal kerap menutup satu mata dan menatap dengan mata kuningnya yang berkilau kearah targetnya, seperti sekarang.
Dan menyadari bahwa dirinya tercermin dalam mata yang berkilau dan kuning itu membuatnya seperti tidak akan berakhir.

[Subaru: Aku sadar betapa bodohnya diriku yang sebelumnya, tapi bukan berarti aku tidak akan pernah tumbuh dewasa. Itu bukan hal yang mudah untuk diatasi, setidaknya aku tahu itu ……]

[Roswaal: Tidak ~~ tidak, bukan itu maksud~ku, Subaru-kun Subaru-kun. Natsuki Subaru-ku ~~ n]

Roswaal mengelus rambut birunya dengan tangan kirinya yang tidak berdarah saat dia memanasi Subaru dengan sebutan yang menyebalkan itu.
Tetapi bahkan ketika sebutan yang menjijikkan itu mendorong sensasi yang tak terlukiskan ke dalam dadanya, Subaru tidak mundur. Sebaliknya, dia melangkah maju, melotot kearah wajah badut Rosswal.

[Subaru: Apa yang ingin kau coba katakan?]

[Roswaal: Apa yang kucoba katakan … jika kau bertanya begitu, kalau begitu aku akan menjawab : ――Selamat, dan selamat datang. Aku sudah menunggu. Untukmu akhirnya berdiri di sini dihadapanku]

Subaru merasa dingin seperti ujung jari yang basah merayap punggungnya.
Di depannya, dengan setiap ucapannya, Roswaal menatapnya dengan ekspresi gembira. Sikap itu, kegembiraan itu, semua memberi Subaru rasa jijik yang tidak bisa dimengerti.
Roswaal tidak tampak seperti sedang mengejeknya, tetapi sepertinya benar-benar senang terhadap Subaru. Satu-satunya masalah adalah sifat kegembiraan yang tak bisa dijelaskan dan ucapannya.

[Subaru: Kau sudah menunggu …… bagiku untuk berdiri di sini?]

[Roswaal: Lebih tepatnya bukan diruangan ini. Itu kurang tepat. Aku yakin kau paham bukan itu yang aku maksud. Lagipula, kau satu-satunya orang yang mampu untuk mengerti ~itu]

[Subaru: Aku satu-satunya … yang mampu mengerti?]

Sedikit demi sedikit, seolah potongan-potongan itu mulai dimengertinya. Perlahan tapi pasti, meskipun ragu ketika menghubungkannya, gambaran akhir mulai terbentuk.
Saat dia memahami arti, “Tidak mungkin”, pikiran itu menembus kepalanya.

[Roswaal: Ap~a kau menge~rti, Subaru-kun? Kenapa, ketika kau baru saja menyaksikan dua kematian di depan matamu, kau bisa tetap begitu tenang dan mencegah dirimu jatuh ke dalam kemarahan yang tak terkendali? …… Bahkan, aku yakin kau mengerti alasannya]

[Subaru: ――――]

[Roswaal: Kematian mereka tidak memberi dampak besar bagimu. Kau terkejut melihat mereka mati. Bahkan mungkin ada sedikit kemarahan. Tapi, kau tidak merasakan kesedihan. Dan itulah alasan kau tidak marah terhadapku, atau memukulku dengan tinjumu]

Mendengar Roswaal membaca pikirannya seperti buku, Subaru mulai membuka mulutnya untuk menolak, tetapi menutupnya lagi, tidak bisa mengatakan apa-apa.

“Apa yang kau tahu !?” “Kau pikir aku tidak peduli dengan kematian mereka !?” “Bagaimana bisa kau membunuh Ram dan Garfiel, kau monster!”

Banyak sekali ucapan-ucapan yang muncul dalam pikirannya.
Sebenarnya, dorongan untuk membiarkan emosinya meledak telah melonjak berkali-kali di dalam dirinya, ucapan itu hampir akan diucapkannya, tapi itu menghilang dan memudar.

Dia sangat marah. Dia terkejut. Dia dalam kesedihan, atau setidaknya begitulah seharusnya.
Namun meski begitu, Subaru tidak memiliki kata-kata untuk menyanggah Roswaal, karena――

[Roswaal: ――Karena itu semua bisa dipulihkan. Bukankah itu yang ada dalam pikiran~mu?]

[Subaru: Apa yang… kau..]

Rasa yang membuatnya menggigil membekukan tenggorokannya, mencengkeram jantungnya.
Itu bukan kiasan, dia benar-benar merasakan ilusi sesuatu yang melekat di jantungnya, begitu hebat hingga membuatnya syok.

Mengangkat kepalanya, Subaru secara naluri memandang kesekeliling ruangan, takut tangan hitam itu mungkin muncul untuk menghukum atas pelanggarannya. Ini akan menjadi hukuman pertamanya karena menolak Witch of Envy. Kengerian apa yang akan dibawa bayangan itu? Hanya memikirkan itu saja mencengkram jantungnya dengan rasa sakit seperti itu akan hancur.
Tapi,

[Subaru: …… itu, tidak datang]

[Roswaal: Aku tidak tahu apa yang sedang kau khawatirkan, tapi …… Aa ~~ ah, aku yakin itu pasti ada hubungannya dengan Ko ~~ ntrakmu kan? Aku ~ Mengerti. Itu akan menjelaskan keganjilan atas ucapanmu dan tindakanmu hingga sekarang. Aku rasa aku mengerti]

[Subaru: Memahami ……. tidak, sebelum itu …!]

Melihat Roswaal memegang dagunya saat dia mengangguk, wajah Subaru memucat saat bibirnya gemetar.
Pernyataan Roswaal barusan tidak diragukan lagi tepat mengenai Subaru, dan fakta bahwa hal itu terjadi berarti ――

[Subaru: Kau …… tahu tentang diriku ……!?]

[Roswaal: Sejauh itu tidak menyimpang dari apa yang tertulis, ya. ――Kau memiliki kekuatan untuk memulai kembali. B~ukankah itu benar?]

===

Tanpa sedikitpun keraguan, Roswaal mengakui pengetahuannya tentang “Pengembalian Dengan Kematian”.

Subaru mencoba untuk tenang dan segera menyadari bahaya situasinya.
Kondisinya sekarang persis sama dengan di pesta teh Echidona.
Jika dia membiarkan Roswaal terus berbicara tentang “Pengembalian Dengan Kematian”seperti ini, bencana ketika Tempat Suci dilalap oleh bayang-bayang akan terulang.
Bahkan, dia tidak akan terkejut jika sang Penyihir merenggut nyawanya saat ini juga.

Menarik napas ke dalam perutnya dan melepaskannya dengan embusan yang dalam, Subaru menyadari bahwa waktu belum berhenti.
Artinya, sang Penyihir tidak menggenggam jantungnya sebagai hukuman. Bisa jadi hal ini adalah pengecualian, selama itu tidak dapat dihindari, membuatnya lebih aman.
Sementara kemungkinan lainnya ――

[Roswaal: ―― “Keheningan berarti sebuah pengakuan”, aku pensaran siapa yang mengata~kan itu]

Berusaha agar pikirannya tidak termakan ucapan itu, Subaru memaksa pikirannya untuk berputar pada kecepatan yang luar biasa, tetapi Roswaal, yang tampaknya lelah menunggu, mengintrupsinya dengan kata-kata itu.
Pengakuan ini mungkin memiliki arti yang agak besar bagi Roswaal juga.
Melihat Subaru mengabaikannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Roswaal mengerutkan alisnya dalam arti ketidaksenangannya.

[Roswaal: Jadi, fakta bahwa dirimu tidak menyang~~kal pernyataan yang tidak masuk akal itu mengartikan bahwa itu benar]

[Subaru: Aku――]

Roswaal: Oo ~~ ho, itu bagus. Dan bisa dibilang, mungkin ada beberapa konsekuensi buruk yang terjadi jika kau mengonfirmasi kebenarannya. Itulah kenapa kau tidak pernah bisa mengatakannya dengan keras, bukan~kah begitu? Meskipun…]

Menghentikan Subaru ketika akan bicara, Roswaal melanjutkan pembicaraannya ketika suara Subaru berhenti bicara.
Melihat Subaru menggigit bibirnya, Roswaal melontarkan pandangannya dengan senyum menjijikan,

[Roswaal: Mungkinkah, kau juga takut dengan apa yang mereka pikirkan tentang dirimu jika kau mengatakan~nya?]

[Subaru: ―――― gh]

[Roswaal: Itu Waj~ar. Bagaimana~pun, kekuatan untuk memutar ulang dunia adalah hal yang keterlaluan dan itu menakutkan. Mampu mengubah waktu adalah puncak tertinggi dari Sihir Kegelapan. Bahkan Beatrice, dengan menghabiskan seluruh kekuatannya, hanya bisa membawanya ke sebuah ruangan kecil. Tetapi untuk memutar kembali itu adalah hal yang mustahil]

Tidak dapat menyanggah hal itu saat dia mendengarkan Roswaal membaca ketakutannya yang sedang didesak, ekspresi Subaru berubah ketika dia tiba-tiba mendengar nama Beatrice.
Dengan pisau Elsa yang menancap ke punggungnya, ekspresi terakhir di wajahnya saat dia lenyap masih ada dalam pikirannya.

[Roswaal: ―― Dilihat dari reaksimu, itu terlihat bahwa Beatrice telah memenuhi peran~nya …]

[Subaru: Perannya …… apa yang akan kau …… tapi, ya]

Ketika percakapan berpindah dari “Pengembalian Dengan Kematian”, Subaru mengambil kesempatan itu untuk mengendalikan pikirannya yang tidak tenang dan menekannya dengan keras.
Apakah pria juga tahu tentang tangisan kesepian Beatrice?

[Subaru: Kau tahu bagaimana dia menderita … bukan? Terikat ke Mansion itu, berpegang teguh pada janji yang dibuat dalam kontrak kuno …… membiarkan dirinya sendirian, meringkuk di sudut ruangan, kau tahu semua itu, bukan?!]

[Roswaal: T~entu saja aku tahu. Beatrice dan aku punya kno ~~ wn satu sama lain untuk waktu yang sangat lama. Sejak aku lahir, sebenarnya. Ada kesepian di hatinya, saya sudah tahu cara ini]

[Subaru: Lalu ……!]

[Roswaal: Mengapa saya tidak melakukan apa-apa? Aku dan Beatrice sudah kenal cukup lama. Tidak ada seorang pun yang bisa membebaskannya dari kesedihan selain dirinya sendiri, aku yakin kau mengerti itu?]

Saat Subaru hampir berteriak, dia dibungkam kembali oleh alasan Roswaal yang tak terbantahkan.

Subaru bisa saja meneriakkan tuduhannya kepada Roswaal hanya agar dia bisa mendengar serpihan-serpihan kesedihan Beatrice. Meskipun dia bisa, itu sama sekali tidak berarti.

Beatrice sudah mati, dan tidak ada yang bisa menyembuhkan kesedihan hatinya.
Hanya Subaru, yang memiliki sarana untuk mengulang dunia, bisa berada di saat-saat terakhirnya sebanyak yang diperlukan. Tapi bagaimana cara dia menyembuhkan kesedihan 400 tahunnya?
Empat ratus tahun―― bahkan Subaru tidak dapat kembali sejauh itu.

Melihat Subaru terdiam, Roswaal sedikit menggelengkan kepalanya.
Lalu dia berkata,

[Roswaal: Aku iri padanya]

[Subaru: ――Iri, padanya?]

Subaru mengulangi, dengan suaranya yang pelan. Tapi, tanpa menjawab, [Ya …], Roswaal hanya mengangguk, dan melanjutkan,

[Roswaal: Betapa membuatku iri. Beatrice memenuhi harapan yang sudah lama diinginkannya, dan menghilang. Kenyataan bahwa kau di sini itu artinya benar, bukan?]

[Subaru: Harapan …… yang diinginkan? Dia …… mati… seperti itu … .. dan kau mengatakan padaku bahwa itu harapan yang telah lama diinginkannya !? Apa kau serius !?]

[Roswaal: Itu adalah keinginan Beatrice, bukan? Apa hak kita untuk mengkritik apa yang orang lain yakini? Baik dirimu, maupun aku, tidak punya hak untuk itu]

Ucapannya masuk akal, dan logika yang sempurna. Memang benar, bahwa mereka tidak punya hak.
Subaru dan Beatrice mungkin tidak terlalu akrab. Dia tidak pernah mengerti keinginannya, dan dia bahkan tidak pernah berpikir untuk memenuhinya.
Tapi, meski begitu, apa itu benar-benar apa yang diinginkan Beatrice?

――Jika benar, lalu kenapa dia melindungi Subaru di saat-saat terakhir?

[Roswaal: Keinginan yang telah lama dinanti Beatrice telah terpenuhi. Untuk itu, aku benar-benar iri padanya. ――Sepertinya tidak lama lagi aku juga akan memenuhi harapanku]

[Subaru: ――――]

Ada sesuatu yang aneh tentang cara dia mengutarakannya.
Subaru tidak tahu di mana, atau kenapa.
Tapi itu pasti dibagian itu.

[Subaru: Dan apa …… harapanmu ……?]

[Roswaal: Aku tidak bisa mengatakannya. Kontrakku melarangku untuk mengatakannya, dan hanya seba~tas itu yang bisa aku katakan. Apa yang aku katakan kepadamu sudah mencapai batas dari apa yang dapat diperbolehkan oleh kontrak. Tap~i, aku bisa memberitahumu ini]

[Subaru: ――――]

[Roswaal: Agar keinginanku terpenuhi, aku selalu, selalu, selalu, selalu mengabdikan diriku sepenuhnya. Tidak satu tindakan pun yang aku lakukan tanpa tujuan, dan tidak ada satupun tindakan yang aku sesali]

Roswaal tanpa malu menyatakan tanpa sedikitpun penyesalan.
Tertegun oleh keberaniannya, kemarahan mulai mendidih didalam dada Subaru.
Itu adalah kemarahan yang menyesakkan, yang merupakan akumulasi dari semua emosi yang muncul dalam dirinya. Tapi, meskipun begitu, dia masih bisa mengendalikan dirinya.

[Subaru: Apa itu diperlukan ……? Membunuh Ram dan Garfiel, mengubur Tempat Suci dengan salju, semuanya ……. Kau bilang bahwa itu perlu ……?]

[Roswaal: Hmm, untuk yang sebelumnya…… tidak, itu akan mengganggu percakapan ini. Tetapi untuk pertanyaan yang terakhir itu, jawabanku ‘ya~.]

[Subaru: Untuk apa !! ??]

Menampakkan giginya, Subaru mengayunkan lengannya, dan berteriak.

[Subaru: Kenapa kau melakukan ini !? Membuat salju menghujani Tempat Suci, menyengsarakan orang-orang seperti itu adalah lelucon yang menyakitkan …… apa yang kau coba capai !? Apa gunanya melakukan itu !? Kenapa kau tidak keluar dan mengatakannya! Roswaal !!]

[Roswaal: Itu juga, diperlu~kan. ――Untuk mengisolasi Emilia-sama]

[Subaru: ――Ap … a?]

[Roswaal: Aku akan mengatakannya lagi. Salju turun dan penduduk menderita. Emilia-sama terisolasi, dan jatuh ke dalam keadaan pikiran yang tidak stabil. Bukankah itu yang terjadi?]

Roswaal berbicara seolah dia telah melihatnya sendiri. Memang, kondisi Emilia di dalam Makam persis seperti yang dikatakan oleh Roswaal. Tapi Subaru tidak berniat mengakui itu.
Lebih penting lagi, pernyataan Roswaal barusan adalah hal yang paling tidak manusiawi yang pernah didengar Subaru.
[Roswaal: Tempat Suci adalah sebuah tanah yang sangat dekat dengan sang Penyihir, dan Emilia-sama menjalani Ujian untuk membebaskannya. Pada saat seperti itu, jika bencana alam menimpa Tempat Suci …… apa yang akan dipikirkan orang-orang tentang Emilia-sama?]

[Subaru: Apa …..]

[Roswaal: Di sinilah juga diperlukannya peran Garfiel. Jika ada orang yang meragukan Emilia-sama, dialah orangnya dan orang yang akan dengan keras menyatakan itu. Dengan volume suaranya, siapa pun akan mulai berpikir hal yang sama. ―― Yaitu, Emilia-sama adalah penyebab bencana ini]

Analisis Roswaal sangat tepat, dan Garfiel baru saja menari di telapak tangannya. Sejak saat Subaru kembali ke Tempat Suci, sudah jelas bahwa Garfiel yakin bahwa Emilia lah yang telah menyebabkan badai salju itu.
Meskipun ada orang lain yang bisa melakukannya, tanah ini, dan dunia ini, memilih untuk mengarahkan semua permusuhannya terhadap Emilia.
Semua ini karena iblis yang bernama “prasangka” yang menyengsarakan Emilia sejak awal.

[Roswaal: Dan apa yang terjadi setelah Emilia-sama diisolasi? Meskipun penampilannya begitu, Emilia-sama sebenarnya orang yang sangat lemah. Tidak mengherankan jika dia ingin mempercayakan segalanya kepada seseorang yang bersedia menerimanya. Dan jika orang itu dapat mendukungnya dengan seluruh hati dan jiwa mereka, maka aku akan puas]

[Subaru: Tunggu …… tunggu …… tunggu tunggu tunggu tunggu tungg …… u]

Subaru mengulurkan tangannya, meminta Roswaal untuk berhenti.
Dia merasa bahwa dia telah mendengar sesuatu yang keterlaluan barusan.
Seperti dia baru saja diberitahu fakta yang tidak masuk akal dan mustahil.
Seperti sesuatu yang tidak boleh dia dengar yaitu――

[Roswaal: Kau tidak bisa menolak jika Emilia-sama bergantung padamu. Tentu saja tidak, karena kau mencintainya. Jika Emilia-sama mu tercinta mempercayakan segalanya kepadamu, tidak mungkin kau dapat menolaknya]

[Subaru: Itu――]

Tidak akan pernah terjadi.
Setidaknya begitulah.
Tapi faktanya, dalam lingkaran ini, Subaru berhasil mencegah dirinya tenggelam dalam pelukan Emilia. Dia telah menahan itu, dan meninggalkannya untuk datang ke sini.

Bukan karena dia menolak godaan bisikan Emilia yang penuh kasih.
Tapi itu karena dia tahu bahwa dia tidak benar-benar serius, dan tindakannya itu hanyalah-

[Roswaal: “Bukan itu masalahnya.” Apa itu yang ingin kau bilang? Aku hanya bisa mengatakan itu sangat disayangkan. Aku kira kau hanya berpikir berlebihan kali ini.]

Roswaal mengambil satu langkah diam menuju Subaru yang kebingungan.
Mendengar suara cipratan dari kakinya yang melangkah ke dalam genangan darah, tubuh Subaru dengan spontan tak mampu bergerak.
Sebuah erangan keluar dari tenggorokannya,

[Subaru: Apa kau, akan membunuhku――?]

[Roswaal: Membunuhmu sekarang akan menjadi ide yang buruk. Akan bermasalah untukku jika kau mati. Karena, dalam beberapa keadaan, aku membutuhkanmu untuk memutar ulang dunia]

[Subaru: Hh――?]

Untuk sesaat, ucapan Roswaal saat dia mendekat, membuat Subaru diam.
Tapi dia segera menyadari perbedaan dalam pemahamannya.

Roswaal tahu bahwa Subaru dapat “Memutar ulang” waktu, tetapi dia tidak tahu bahwa itu harus melalui “Mengulang Dengan Kematian” dengan “Kematian” yang bertindak sebagai pemicu.
Dengan demikian, niatnya adalah untuk menyudutkan Subaru sehingga dia akan dengan rela memilih untuk “Memutar Ulang”. Meskipun, itu mungkin akan melibatkan lebih banyak penderitaan daripada jika dia langsung terbunuh.
Jika Roswaal tidak berniat membunuh Subaru, maka masih ada kesempatan.

[Subaru: ――Semuanya! Masuk sekarang !!]

Mengangkat tangannya, Subaru meneriakkan perintah.
Begitu Roswaal terkejut, pintu dan jendela kamar, serta kamar-kamar di ruang tamu yang berdekatan, serentak hancur. Dan terbang melalui udara yang dingin, adalah bayangan kecil, kurus, berjumlah dua puluh— masing-masing mereka adalah gadis kecil dengan rambut merah muda.

===

Melihat gadis-gadis yang bermiripan itu berbaris, Roswaal mengalihkan pandangannya ke arah Subaru,

[Roswaal: Aku pikir otoritas komando telah dipindahkan kembali ke Garfiel?]

[Subaru: Lagipula, kami berkeliaran ke tempat yang kemungkinan adalah markas milik dalang semua itu. ――Tentu saja kami harus menyusun semua itu terlebih dahulu]

―― Pertukaran terjadi setelah argumennya dengan Garfiel di luar Makam.
Setelah membujuk Garfiel untuk terus berjalan, Subaru pergi ke ruang kristal dan memindahkan otoritas komando kembali ke dirinya.
Kemudian, ia memerintahkan para replika Lewes untuk mengelilingi gedung tempat Roswaal memulihkan diri dan bersiap untuk masuk ke dalam jika terjadi keadaan darurat.

Rem, yang sementara waktu menjadi sandera Garfiel, dipercayakan kepada salah satu Lewes yang mewakili saat ini, yang membawanya ke Katedral, di mana sisa penduduk dan penduduk desa Arlam berlindung.
Dia telah mengambil semua langkah ini dengan asumsi bahwa Roswaal adalah pelakunya.
――Meskipun, tentu saja, Subaru tidak pernah mengira bahwa Roswaal akan membunuh Garfiel dan Ram.

[Roswaal: Jadi, apa yang ingin kau lakukan, sekarang setelah kau mengepungku?]

[Subaru: Fakta bahwa kau sekuat itu bahkan dengan tangan kosong membuatku terkejut, tetapi kau kalah jumlah. Jika satu orang Garfiel dalam bentuk perubahan saja bisa memberimu masalah, kau mungkin akan mengalami kesulitan ketika kau dikerumuni ……]

Alasan Roswaal menusuk Ram bersamaan dengan Garfiel adalah karena dia tidak percaya diri menghadapi Garfiel dalam pertempuran langsung. Dan tidak perlu ditanyakan lagi bahwa Roswaal jauh lebih kuat dari Subaru――

[Subaru: Dua puluh dari mereka seharusnya cukup untuk mengatasimu. Kami akan mengalahkanmu, menjatuhkanmu, dan memastikan kau akan mengungkapkan semua yang masih kau sembunyikan]

[Roswaal: Kau harus tahu betapa pentingnya menegakkan syarat-syarat kontrak seseorang, terikat dengan seseorang yang sama sepertimu?]

[Subaru: Sayang sekali, milikku agak berpihak pada diriku tanpa harus diriku mengatakan sesuatu dan hanya akan menghukumku setiap kali aku melanggarnya. Kali ini belum tiba, jadi aku masih dalam batas aman!]

Dengan lebih dari dua puluh orang yang mengepung di dalam, rumah kecil itu penuh sesak.
Mematuhi sinyal Subaru, para replika Lewes yang tanpa emosi melesat ke arah Roswaal seperti lautan wajah.

Menangani serangan mereka dengan tangan kosong, Roswaal hanya bisa menangani dua hal sekaligus.
Manipulasi terhadap cuaca di luar membuat keruntuhan bagi dirinya sendiri. Tidak dapat menggunakan sihirnya, Roswaal hanya akan diserbu oleh jumlah mereka.
Subaru berpikir ketika itu sudah dekat, kemenangan sudah pasti.
Namun,

[Roswaal: ―― Aku mungkin kalah jumlah]

[Subaru: ――――]

[Roswaal: Tapi ketika lawanmu adalah seorang penyihir, mencoba untuk mengalahkannya dengan jumlah sudah jelas keputusan yang bodoh~.]

Ketika ucapannya selesai, nyala api yang ganas menyapu seluruh ruangan, dan setiap replika Lewes Meyer yang masuk dalam area serangan hangus hingga ke inti tubuh mereka.

Dalam sekejap, tubuh kecil mereka sedang menyerang terbakar dari ujung kepala hingga ujung kaki oleh dinding api, berubah menjadi abu.

Semua ini, di mata Subaru, tidak lebih dari gelombang panas dan cahaya yang sesaat melintas diruangan itu.

[Subaru: Bagaimana mungkin kau … masih dapat menggunakan sihir ……?]

[Roswaal: Aku tidak akan bisa menggunakan sihir jika diriku masih mengendalikan cuaca. Sayangnya, aku sudah kehilangan alasan untuk mempertahankan hujan salju ini. Jadi aku sudah lama menghentikannya. Maaf, seharusnya aku bilang padamu sebelumnya]

[Subaru: Wh―― gh, kha]

Di saat Subaru kebingungan, Roswaal dengan sekejap tiba didepannya dan mencekik tenggorokan Subaru. Dia tidak tahu bagaiman pergelangan tangan yang ramping itu memiliki kekuatan semacam itu, tetapi dia merasakan kakinya yang sudah tidak menyentuh tanah saat Roswaal mengangkatnya dan menggeliat diudara.

[Subaru: Kgh――!]

Menerjang mundur melalui jendela kaca yang setengah hancur dan keluar dari bangunan itu, Subaru mendarat di salju, berguling sampai dia berhenti di dinding.
Meludahkan campuran lumpur dan salju dari mulutnya, dia mengangkat wajahnya.
Sosok Lewes yang tersisa dengan pelan mengikuti Roswaal keluar dari bangunan. Karena mereka tidak diberi perintah lebih lanjut, mereka tampak bingung tentang apa yang harus dilakukan.
Tapi Subaru sama bingungnya tentang apa yang harus dikatakan pada mereka.

[Roswaal: Bahkan setelah semua ini, kau masih tidak memutar ulang waktu … Atau, mungkin kau sudah melakukannya? Kalau dipikir-pikir, apa yang terjadi pada ingatanku ketika dunia telah diputar ulang masih menjadi misteri bagiku. Sekarang, ini cukup sulit]

Berjalan kearah Subaru, Roswaal memiringkan kepalanya.
Melihat wajah badut itu di tengah-tengah rasa sakit yang menyesakkan, sebuah pertanyaan tiba-tiba keluar dari mulut Subaru.

[Subaru: Ros … waal …… kau terus memintaku untuk memutar ulang waktu, terus dan terus, tapi ……]

[Roswaal: Mm? Ada hal penting yang ingin kau katakan? Mari kudengar, mari kudengar]

[Subaru: Kau salah satu masalah bagiku disini. Melakukan semua ini dengan asumsi bahwa seseorang memiliki kemampuan untuk memutar ulang dunia … Kau pasti akan membuang pikiran yang seperti itu …… kecuali, kau benar-benar memiliki …]

Cara untuk tetap membawa ingatanmu?
Mungkinkah Roswaal juga memiliki kemampuan untuk membaca ingatan dari dunia sebelumnya, seperti Echidona di Benteng Impiannya?
Jika tidak, maka keinginannya yang buta untuk memutar ulang dunia sangat tidak dapat dimengerti.

[Subaru: Jika tidak … tidak apa-apa. Tapi, jika kau memilikinya … mungkin kau dan aku … bisa ……]

Mungkin dapat berkolaborasi.
Tujuan Roswaal masih misteri dan tidak dapat diketahui, dan dia telah melakukan banyak hal yang tak dapat dimaafkan.
Subaru tidak akan pernah memaafkannya karena membunuh Ram dan Garfiel atau cara dia menyudutkan Emilia. Tetapi Subaru tidak dalam posisi dapat melawan kekuatan Roswaal karena emosi. Sebaliknya, dia sangat membutuhkannya.
Kau harus siap memakan racun―― atau begitulah kata pepatah, asumsikan bahwa itu berlaku di sini, Subaru bahkan juga siap untuk menjilat piring.

[Roswaal: ―― Sayangnya, tidak be~gitu]

Tapi harapan tipis Subaru telah hancur oleh penolakan Roswaal.
Roswaal berpaling dari tatapan Subaru, dan menunjuk ke arah ujung tatapannya,

[Roswaal: Goa]

Sebuah nyala api kecil menyala, menata sudut hutan tempat yang baru saja Rosswal tunjuk
Subaru berkedip pada tindakan yang tiba-tiba dan menghancurkan itu, ketika dia mendengar, di tengah-tengah suara kayu yang berderak, terdapat suara lain.
――Itu suara yang kecil, hewan kecil yang mati.

[Subaru: ――Tidak, mungkin]

[Roswaal: Aku~~mengerti. …… Jadi beginilah akhirnya]

Sambil melompat lalu berdiri, wajah Subaru memucat saat dia mengamati sekelilingnya. Bersamaan dengan itu, Roswaal mengubah posturnya, dan dengan beberapa suara retakan dari jarinya, aroma daging yang terbakar dan suara yang nyaring, jeritan yang memekakkan telinga menjalari seluruh area di Tempat Suci.
Kemudian, ketika mayat hangus mendarat di depan matanya dengan suara yang menghantam tanah, Subaru sangat mengerti.

[Subaru: Great .. Rabbit…… !!]

Itu adalah salah satu Great Rabbit.
Ketika mereka mulai berhamburan keluar dari hutan, Roswaal membakar mereka satu demi satu dengan sihirnya. Dan bahkan saat mereka datang berbondong-bondong, mereka tetap menjadi mangsa Roswaal.

Tidak peduli seberapa besar jumlah mereka terus bertambah, mereka tidak dapat melawan Roswaal. Menyaksikan ini, teror mencengkeram jantung Subaru dan seakan tidak akan melepaskannya.

Setiap kali dia menutup matanya, ingatan ketika dimakan oleh gigi yang tajam akan bangkit dari pikirannya.
Rasa kehilangan, pengalaman yang melibatkan jari, tubuh, dan 0rgan-0rgan yang dic4bik-cabik yang tidak dapat dijelaskan.
Subaru bisa mendengar jiwanya menjerit melihat kemunculan Mabeast.

[Subaru: Tapi ini hanya hari kelima …… harusnya masih ada setengah hari lagi!]

[Roswaal: Ini salju]

[Subaru: Salju―― !?]

[Roswaal: Di mana ada sihir yang cukup kuat untuk memanipulasi cuaca, secara alami, atmosfer akan dipenuhi oleh Mana. Belum lagi semua orang di Tempat Suci berkumpul di dalam Katedral dikarenakan salju. Bagi Mabeast terdekat, ini adalah tempat makan yang sangat menggiurkan.]

[Kalau begitu …….], Subaru merasa ngeri melihat pengamatan Roswaal yang tenang.
Berdasarkan logikanya, satu-satunya tempat paling berbahaya di Tempat Suci selama serangan Great Rabbits adalah—

[Subaru: Th-the Cathedral! Kita harus cepat ke Katedral ……!]

[Roswaal: Sudah terlambat. Saat mereka datang untuk beberapa dari kami di sini, itu berarti bahwa massa tanpa mangsa sudah bergerak. ――Tidak ada ~~ tersisa satu]

[Subaru: Tapi! Disitu ……!]

Rem berada.
Setelah mempercayakannya pada Lewes, disitulah Rem dibawa. Bersamaan dengan penduduk Tempat Suci dan para pengungsi dari desa Arlam, akan ada lebih dari seratus orang di Katedral.
Dengan semua orang berkumpul di sana, dia bahkan tidak ingin memikirkan apa yang akan terjadi.

[Subaru: Roswaal! Gencatan senjata! Pokoknya, ayo ke Katedral! Kita akan mengumpulkan yang selamat, cari mereka dimanapun ……]

Subaru bergegas kearah Roswaal, meraih kerahnya dan berteriak.
Tapi Roswaal dengan lembut mendorong lengan Subaru,

[Roswaal: Lari? Kemana? Ada Penghalang. Orang-orang di Tempat Suci tidak dapat melarikan diri]

[Subaru: I-itu ……]

[Roswaal: Tidak ada waktu lagi, Subaru-kun. Penduduk Tempat Suci tidak dapat meninggalkan tempat kecuali Ujian itu diselesaikan. Artinya, keinginanmu tidak akan terpenuhi]

Roboh, Subaru jatuh ke salju.
Sambil mengacak-acak dirinya, para Lewes mengerumuni Subaru yang terjatuh, menunggu instruksi berikutnya dalam adegan yang terlihat agak lucu.
Dan pada saat itulah, Subaru menyadarinya.

Bahwa Roswaal, yang telah membakar bagian-bagian Mabeasts yang mendekat saat mereka mengaitkan sampai sekarang, telah berhenti melakukan itu.

[Subaru: R-Roswaal! Jika kau berhenti …… kecuali … itu artinya kau kehabisan Mana ……]

[Roswaal: Tidak ~~ tidak, bukan itu? Karena, bisa dibilang, Mana-ku tidak akan habis-habis. Itu tidak akan habis dengan mudah. …… Apa yang sudah habis adalah alasanku untuk hidup]

Sedikit demi sedikit, bola yang berbulu perlahan keluar dari hutan.
Meninggalkan jejak kecil di salju murni yang seputih bulu mereka, mereka semakin dekat.

[Subaru: B-bahkan jika aku bisa memutar ulang … hal semacam ini …… setidaknya kita harus membicarakannya dulu! Kau mungkin berpikir dirimu baik-baik saja dengan menyerahkan semuanya ke percobaan berikutnya, tapi ……]

[Roswaal: Seperti~nya kau salah paham, Subaru-kun]

[Subaru: Hah?]

[Roswaal: Bahkan jika kau bisa memutar ulang, aku tidak bisa. Diriku yang kau temui setelah kau memutar ulang tidak akan menjadi diriku yang sekarang. Itu adalah tujuanku. ――Tapi itu ti~dak apa-apa]

Subaru terpaku karena ucapan Roswaal.
“Pemutaran ulang tidak akan mempengaruhinya”, Roswaal mengakuinya sendiri. Artinya, Roswaal hanya tahu bahwa Subaru adalah seseorang yang berpotensi memiliki “Kembali Dengan Kematian”, dan kematiannya di sini merupakan akhir dari ingatan Roswaal.
Dia telah menerimanya, dan tetap meminta Subaru untuk memutar ulang, meskipun dia tidak akan ada lagi setelah Subaru memutar ulang.
Cara berpikir itu adalah benar,

[Subaru: Itu…. bukan yang manusia pikiran ……]

Tidak seperti Subaru, yang ingatannya akan terus berlanjut,
Roswaal tidak akan, dan kematiannya akan menjadi akhir.
Manusia macam apa yang akan menerimanya begitu saja, dan tahu bahwa itu sebuah akhir?

[Roswaal: Hari itu akan datang ketika kau akan melampauiku, Subaru-kun]

[Subaru: Ro …… s]

[Roswaal: Dengar baik-baik, Subaru-kun. –Ini penting. Sesuatu yang sangat, sangat penting bagimu: Singkirkan semuanya kecuali itu. Lepaskan segalanya kecuali itu, dan pikirkan hanya untuk melindungi hal terpenting bagimu sampai akhir]

[Subaru: ――――]

[Roswaal: Jika kau melakukan itu――]

Roswaal mengangkat jarinya seolah ingin mengajarinya.
Seekor kelinci di dekatnya segera melompat dan mengunyah pergelangan tangannya yang terangkat. Darah berserakan, dan lengan kanan Roswaal tergigit hingga pergelangan tangannya, sementara yang lainnya menggigit bagian siku, bahu, dan seluruh tubuhnya robek dengan suara gigitan yang dapat didengar.

[Subaru: ROSWAAAAL !!]

[Roswaal: ――Kau juga, bisa menjadi seperti diriku]

Tubuh kelinci dengan mulutnya yang terbuka lebar menutupi senyuman badut Rosswal.
Segerombolan kelinci putih sepenuhnya menutupi tubuh Roswaal. Dia jatuh ke samping, tidak memberikan perlawanan ketika kelinci itu m3lahap dagingnya. Dil4hap. Dil4hap.
Darah bercipratan, d4ging yang berhamburan, dan salju yang putih berubah merah. Kemudian bahkan salju merah itu dengan rakus dihisap oleh kelinci tanpa meninggalkan setetes pun.

Subaru menyaksikan dengan diam, ketika Roswaal tidak menjadi Roswaal lagi.
Menyaksikan, karena keberadaan Roswaal dimakan dan terhapus dari dunia ini.

――Dia terus menyaksikan.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded