Re:Zero Arc 4 Chapter 68 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

[Translator : Scraba]

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Suruh Mbak Google Baca”]

Rasa Dingin dari Kematian

――Di dunia tempat segalanya terlihat gila, Subaru mati-matian berlari.

[Subaru: ――]

Dia sudah gila.
Dia sudah gila sudah gila sudah gila sudah gila sudah gila sudah gila sudah gila sudah gila sudah gila sudah gila sudah gila sudah gila.

Kata-kata itu terus diulang dan diulang dalam pikirannya.
Yang terbayang ketika dia mengulangi ucapan itu adalah saat-saat terakhir kematian Roswaal, yang dibunuh oleh taring dari Great Rabbit.
Tidak ada perlawanan, sehingga dengan mudah menerima kematiannya, tanpa sedikitpun meraung kesakitan ketika d4gingnya tercab1k-cabik, Roswaal membiarkan dirinya berakhir.

――Sudah tidak waras.
Kalau sudah begitu, apalagi namanya kalau bukan tidak waras dan gila?

Selama tujuannya dapat tercapai di Dunia Paralel ini, dia tidak keberatan mati―― Jika ini adalah Game, Subaru sudah membiarkan karakter penting mati begitu saja.
Tapi itulah kenyataan.
Bagaimana mungkin ada seseorang yang mempercayakan hidupnya hanya kepada seorang pengganti ?
Roswaal dimakan oleh kelinci di hadapan Subaru. Dan kesadarannya tidak akan bisa melihat Subaru yang sekarang berada disana.
Dia mungkin mengharapkan kemampuan Mengulang dengan Kematian, sama seperti Subaru, tetapi beban setiap orang itu tidak ada yang sama.
Karena, berbeda dengan Subaru, Roswaal tidak dapat meminta kembali harga yang sudah dibayarkannya.

[Subaru: ――uo, ogh]

Mengingat gambaran mengerikan dari kematian Roswaal saat dia berlari, Subaru didorong oleh rasa ingin muntah.
Asam lambungnya naik, mencapai tenggorokan. Tetapi dia tidak bisa menyisakan waktunya untuk muntah ketika dia berlari melintasi Tempat Suci untuk mencari orang yang selamat.

――Sekali lagi, neraka terbentang dihadapan Subaru.

Salju berhenti turun di Tempat Suci, tetapi angin kencang masih tetap ada.
Sambil mengangkat wajahnya, gemetaran karena rasa dingin saat dia menatap sekelilingnya, dia bisa mendengar suara binatang yang ada disekitar, bercampur dengan suara angin.

Gertakan gigi, gertakan gigi, suara gertakan gigi yang mengelilingi Tempat Suci seolah menyuarakan ancaman mereka terhadap mangsanya.
Great Rabbit berkeliaran di Tempat Suci untuk mencari makanan.
Seberapa mengerikan rasa lapar yang menyerang mereka?

Ketika mereka gagal menemukan mangsa, seolah tidak ingin membiarkan mulut mereka kosong, mereka akan menahan rasa lapar dengan memakan teman-teman mereka sendiri. Monster yang benar-benar keji.
Sedikit demi sedikit, suara gemertakan gigi dan jeritan kematian karena kanibalisme yang mereka lakukan dan membuat Subaru kehilangan akalnya.

[Subaru: ――Uwa!]

Sambil mencoba untuk menyingkirkan suara mengerikan itu dari pikirannya, seekor kelinci dengan rahang terbuka lebar melesat keatas kepala Subaru. Menggigit dengan kejam saat kelinci itu melompat keatas dan jatuh kesalju. Setelah kehilangan mangsanya, kelinci itu berbalik diiringi suara yang terdengar mengancam.
Dan segera setelah itu, klon Lewes yang berada di samping Subaru menginjak tubuh kelinci itu dengan tumitnya.
Diiringi suara daging yang tergencet dan tulang yang remuk, kelinci itu mengeluarkan isi p3rut dari mulutnya, dan mati.

Menghembuskan nafas, tanpa memperhatikan mayat kelinci itu, Subaru mulai berlari kembali ketika klon Lewes bergerak di sampingnya.
Tidak jauh di belakang mereka, kelinci lainnya datang ketempat mayat kelinci sebelumnya yang sudah mati. Mendengar suara mayat yang dilahap dalam sekejap, peringatan kematian yang ada dalam diri Subaru berbunyi semakin kencang.

Enam klon Lewes tetap berada di sisi Subaru.
Kesebelas orang ada di tempat kematian Roswaal telah memangkas separuh jumlah mereka.
Dengan perintah untuk “Melindungi Subaru”, beberapa dari mereka telah berbalik untuk menghadapi kelinci, sementara yang lainnya menggunakan tubuh mereka untuk melindunginya sebelum berubah menjadi Mana.

Alasan ia memerintahkan klon untuk melindunginya dengan hidup mereka karena, Subaru sudah menyerah untuk mencoba menjelaskannya.
Saat ini, satu-satunya yang ada dalam pikirannya adalah keselamatan Rem yang sedang berada di Katedral dan Emilia yang berada di dalam Makam, sementara yang lainnya sudah tidak terpikirkan olehnya.
Itulah satu-satunya hal yang dapat menjelaskan tindakannya saat ini, dan untuk terus menjaga kewarasannya.

[Subaru: …. Katedral……!]

Menghindari jalan yang dipenuhi kelinci dengan berlarian diantara salju, Subaru mengambil jalan memutar di sekitar Tempat Suci untuk mencapai pusat desa dan Katedral.
Di desa tempat yang minim cahaya, Subaru segera melihat Katedral.
Tapi.

――Sejak berada di tengah-tengah dunia putih ini, hanya Katedral yang diselimuti oleh nyala api.

[Subaru: ――K,enapa?]

Jatuh berlutut diatas salju, Subaru bergumam dengan suara yang serak.
Mendengar suara kobaran api yang bercampur dengan suara kayu yang hancur saat Subaru melihat kelinci melompat ke dalam api seperti ngengat, berniat untuk memakan mangsa mereka namun mereka sendiri terbakar hingga hangus.

Jika mereka begitu gigih untuk masuk kedalam Katedral itu artinya masih ada sesuatu yang dapat memuaskan rasa lapar mereka di dalam.
Dan jika ada orang didalam kobaran api itu, itu artinya――

[Subaru: ――]

――Mereka tidak mungkin hidup, daripada dimakan oleh kelinci, mereka memilih untuk bunuh diri. Subaru tidak mampu memahami perasaan ini. Dia tidak mampu, tetapi,

[Subaru: Meski su….dah bertahan hingga akhir ……]

“Aku harap kau berjuang sampai akhir tanpa menyerah begitu saja pada kematian.” Tapi, itu pemikiran yang tidak berperasaan.

Baik Roswaal dan orang-orang di Tempat Suci telah menyia-nyiakan hidup mereka.
Ketika hampir melupakan bahwa dia sendiri lah yang paling bersalah atas semua itu, Subaru menutupi wajahnya saat air mata mengalir dari matanya.

Baik Roswaal maupun Subaru telah memberikan cukup harapan bagi para penghuni Tempat Suci dan para pengungsi Arlam untuk bertahan sampai akhir.
Jika saja Subaru berhasil membangun kepercayaan terhadap mereka, tentunya, mereka tidak akan menyerah sampai detik-detik terakhir.
―― Sekali lagi, semuanya salah Subaru, dan kejahatan yang dilakukan Subaru.

[Subaru: Tapi… bahkan jika cuma Rem saja……]

… yang selamat? Membeda-bedakan nyawa seseorang adalah puncak kesombongan dan keangkuhan.
Lewat batin, Subaru memanggil klon yang telah dia perintahkan untuk membawa Rem ke Katedral sebelumnya―― kepribadian Lewes saat ini. Tapi, dia tidak menemukan reaksi yang menunjukkan bahwa klon Lewes telah mendengarnya.

――Rem berada di dalam Katedral yang terbakar itu.
Atau, bahkan jika mereka melarikan diri, Subaru tidak begitu naif untuk berpikir bahwa Lewes bisa melindungi Rem dari Great Rabbit sendirian.

Dia menggeretakkan gerahamnya dengan keras. Ada rasa darah.
Dengan rasa darah dimulutnya, dan rasa tidak enak yang menyelimuti mulutnya, Subaru menguatkan tekad. ―― Dia seharusnya sadar bahwa dunia ini sudah berakhir sejak awal, dan dia berakhir disini hanya karena menolak menerima semuanya begitu saja.
Tapi sekarang, sudah waktunya untuk menyerah.

[Subaru: ――]

Dia bisa mendengar suara monster yang kelaparan itu mendekat.
Karena kelinci-kelinci itu, yang tidak lagi memiliki keinginan untuk melahap mangsa yang ada di Katedral yang terbakar, telah memperhatikan kehadiran Subaru dan klon Lewes yang mengelilinginya.

Berdiri, membersihkan salju ditubuhnya, Subaru menghembuskan nafas.
Dia tidak menyadari sensasi air mata yang mengalir di pipinya. Jadi, dia tidak menghapusnya.

[Subaru: Emilia ……]

Dunia ini telah berakhir.
Dan kalaupun tidak, Subaru akan pastikan bahwa itu akan berakhir.

Di dunia tempat dimana dia ingin bersama seseorang, hidup bersama, dan untuk menyelamatkan mereka, telah hilang— setidaknya, disaat-saat terakhir, ia ingin berada di sisi gadis yang dicintainya.

[Subaru: Gunakan nyawa kalian … untuk melindungiku. ――Setelah aku mencapai makam… kalian bebas melakukan apa pun yang kalian inginkan]

Subaru dengan santai memerintahkan ke enam klon yang tersisa. Dia mengambil langkah pertama, lalu langkah berikutnya, hingga menjauh dari gerombolan kelinci, sampai dia berlari.
Merasakan niat mangsanya untuk melarikan diri, kelinci itu berteriak namun tak terdengar saat mereka memburu Subaru, meneteskan air liur dari mulut mereka.

[Lewes: ――]

Dua klon Lewes menerjang kearah tubuh Great Rabbit tepat saat kelinci itu akan melompat.
Itu diikuti dengan suara kematian dan tubuh kelinci yang remuk, sampai mereka berdua dikelilingi oleh kawanan yang terus bertambah banyak.
Dalam sekejap, mereka berdua benar-benar ditutupi oleh bulu putih dan tenggelam dalam kerumunan – terluka parah, tubuh kecil mereka berubah menjadi aliran cahaya biru.

Dan, dengan serangan terakhir mereka, mereka mengenai kelinci yang sedang makan dengan ledakan Mana, menerangi langit malam di Tempat Suci dengan pancaran cahaya.
Merasakan ledakan cahaya dari klon Lewes dikulitnya, Subaru menggelengkan kepala untuk mengabaikannya, mengertakkan giginya, dan berlari menuju Makam.
――Dan terus berlari.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

Pada saat Subaru tiba di Makam, tubuhnya tidak lagi merasakan dingin.

Salju membuat pandangannya kabur, dan rasanya seperti bulu matanya membeku, tetapi, menghembuskan nafas yang putih dari mulutnya yang menggigil, Subaru sepertinya tidak peduli.
Satu-satunya hal yang bisa dipikirkan olehnya adalah seorang gadis.

Dengan langkah kakinya yang bergema di koridor berubin batu, Subaru masuk kedalam.
Di ruang Ujian, terdapat seorang gadis yang telah ditidurkan sebelumnya, sedang menunggunya.

[???: ――Subaru?]

Ketika dia mencapai ruang terbuka, terdengar suara yang memanggil namanya.
Seolah langkah kakinya terpikat oleh suara itu, dia pun memasuki ruangan. Dan, setelah melihatnya, orang yang memanggil namanya mengeluarkan suara yang penuh kegembiraan.

[Emilia: Jadi itu kau, Subaru! Gees, kemana saja kau pergi? Aku sangat mengkhawatirkanmu]

Emilia berlari ke arahnya dengan cepat lalu memegang tangan Subaru.
Dengan cemberut, dia menekan tangan Subaru ke dadanya, mengirim kehangatan tubuhnya yang lembut saat dia menadah ke atas,

[Emilia: …… apa kau lelah?]

[Subaru: ya …… mungkin, hanya sedikit …… lelah]

[Emilia: Ehehee, aku mengerti. Kalau…begitu…]

Emilia tertawa genit mendengar jawaban Subaru yang jujur, pipinya memerah.
Kemudian, masih memegang tangannya, Subaru tiba-tiba duduk. Melipat kakinya dan duduk di sisinya, dia menarik lebih dekat Subaru yang setengah jongkok,

[Emilia: Kemarilah, Subaru]

[Subaru: …… bantal ..pangkuan?]

[Emilia: Ya. Subaru, kau suka tidur dipangkuanku, bukan? Itulah yang kau ceritakan padaku. Aku ingat itu, kau tahu. Ayo~disini]

Dia memberi isyarat dengan menepuk pangkuannya, dan ketika itu keduanya tersenyum dan juga malu pada saat yang sama. Dengan patuh, Subaru duduk dan merebahkan kepalanya di paha Emilia yang lembut.
Saat rambut pendeknya menggesek kulit halus itu, Emilia mengeluarkan suara [Mn ~] yang menimbulkan hasrat, tetapi segera setelah itu dia mengelus kepalanya dengan santai.

[Emilia: Sudah berapa kali, aku memberi bantal pangkuan untuk Subaru?]

[Subaru: aku kurang tahu …… sepertinya ini yang ketiga… entah kenapa, itu selalu membuatku nyaman ketika aku merasa lelah]

[Emilia: Kau tahu, Subaru, itu terasa menyenangkan ketika mengelus rambut dan pipimu … Seperti~ini, sekgesek~~]

Menarik poni Subaru dan menyentuh pipinya dengan jari, Emilia dengan gembira bermain-main dengan kepala Subaru.
Mengetahui bahwa itu adalah ekspresi dari kasih sayangnya, dia tidak merasakan sedikitpun dorongan untuk menjauhkan tangan itu dari kepalanya.
Di dunia yang telah berakhir ―― untuk saat ini, dia hanya ingin tenggelam dalam cinta Emilia.

―― Karena dia sudah mengorbankan banyak darah.

Melihat keadaan Subaru saat ini mungkin akan membuat orang normal ingin berpaling.
Punggungnya telah digores oleh taring, dan seseorang mungkin bisa melihat tulang jika dia mengangkat pakaiannya. Banyak darah yang mengalir dari pahanya yang telah hancur, dan di tangan kanannya, yang digunakannya untuk mengusir kelinci yang menyerang, hanya ibu jarinya yang masih utuh.
Mungkin itu karena kegigihannya membuat dirinya masih bisa tetap tersadar. Bahkan, bersamaan dengan udara yang dingin secara ironis membuat tubuhnya semakin lemah.

[Emilia: Subaru, bukankah tubuhmu terasa lebih ringan?]

[Subaru: Aku mencoba diet dengan mengurangi darah…. itu …… sepertinya mengurangi berat badanku, dan menjadi lebih ringan … er … semacam… itulah ……]

[Emilia: Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, tetapi kau melakukan sesuatu yang gila untuk orang lain lagi, bukan? Kau tipe orang yang seperti itu, Subaru. Aku tahu itu, tapi …… aku masih sangat khawatir]

[Subaru: ………]

[Emilia: Sebenarnya, aku hanya ingin kau melakukan itu … untukku. Tapi, aku tahu itu egois, dan aku tidak ingin melihat Subaru berpura-pura tidak peduli dengan orang lain hanya karena diriku. …… Meskipun begitu, tetap saja aku egois … maaf]

Ucapan beruntun Emilia semakin samar.
Tidak seperti diluar yang dingin, interior Makam mempertahankan tingkat kehangatannya. Sayangnya tubuh Subaru masihlah pada tingkat normal, sehingga darahnya terus mengalir keluar.

Darah segar mewarnai lantai itu menjadi merah, dan semakin banyak karena darah keluar dari mulut Subaru saat dia terbatuk.
Bercak darah berceceran menodai pipi putih Emilia. Tapi—

[Emilia: Katakan, Subaru, apa kau mendengarku? Ada sangat, sangat banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadamu, dan yang ingin kutanya padamu. Jadi, kumohon. Tetap bersamaku. Dengarkan suaraku. Dan biarkan aku mendengarmu, ok?]

Emilia tampaknya menghiraukan bercak darah di pipinya.
Atau lebih tepatnya, dia bahkan tidak memperhatikan itu. Matanya yang berkilau menatap Subaru- tetapi tampaknya dia tidak menerima kenyataan.

Sejak saat Subaru keluar dari Mansion, dia sudah penuh dengan tanda-tanda penyiksaan dari Elsa. Diseret ke Makam oleh Garfiel memperburuk penampilannya yang menyedihkan.
Tetapi Emilia menghiraukan luka Subaru, atau bahkan tidak mengkhawatirkannya.
Bahkan sekarang, dengan sebagian anggota tubuhnya yang hilang, dimakan oleh kelinci, dia tidak bereaksi sama sekali.

Saat ini, Emilia tidak melihat pada kenyataan.
Dan mungkin, itu juga sama dengan Subaru.

[Subaru: ――――]

Dia seharusnya memperingatkan Emilia tentang bahaya dan membawanya pergi menjauh dari sini.
Great Rabbit sudah menguasai segalanya yang ada di luar Makam, dan mereka dapat masuk kedalam Makam kapan saja. Ketika mereka melakukannya, Emilia tidak akan memiliki peluang.
Sama seperti Roswaal, dan penduduk desa yang memilih mati dalam api, Emilia tidak akan lolos dari kematian yang kejam dan mengerikan.
Tapi, meskipun mengetahui hal ini, Subaru tidak memperingatkannya.

Karena, dalam saat-saat kematiannya―― dia tidak dapat melepaskan diri dari keinginan egoisnya untuk mati di sisi Emilia.

Ucapan Roswaal dan kematiannya yang mengerikan, rasa bersalah atas kematian Garfiel dan Ram, rasa kehancuran karena kehilangan Petra dan Frederica, serta rasa ketidakberdayaan dan ketidakmampuannya untuk menyelamatkan Rem dan Emilia, semuanya menusuk hati Subaru.
Rasa sakit, atau bahkan teror kematian, tidak ada lagi yang penting.

――Saat ini, semua yang dia inginkan adalah menghilang dari dunia ini.

Keinginan Subaru yang egois akan terpenuhi.
Dunia mulai menjadi samar, meskipun sedikit demi sedikit, kesadaran dan jiwanya menghilang dari dunia ini.

Tubuhnya teruntai, dan sensasi terakhir dari tubuhnya pun menghilang.
Yang tersisa, hanyalah, Emilia, yang tampaknya tidak menyadari kepergian Subaru.

[Subaru: ――――]

Jadi, apakah dia akan meninggalkan Emilia begitu saja?
Ketika dia adalah satu-satunya yang bisa dia andalkan, ketika dia kehilangan orang lain yang bisa dia andalkan, apakah Subaru akan meninggalkannya juga?

[Subaru: a――]

Sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang. Sudah terlambat untuk melakukan apa pun.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kehidupannya pun menghilang.

Emilia sepertinya tidak menyadari itu, tetapi hanya memiringkan kepalanya kearah Subaru, yang telah diam.
Kemudian, dia tersenyum, dan mendekatkan wajahnya—

[Emilia: Subaru――]

[Subaru: ――――]

Dia memegang Subaru yang diam, dan mencium bibirnya. 

―― Ciuman pertama Subaru adalah rasa dingin dari Kematian.

 

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded