Re:Zero Arc 4 Chapter 69 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

[Translator : Scraba]

Pembohong

Merasakan sensasi tanah yang keras, dan dingin seperti biasa, kesadaran Subaru mulai kembali.

Sambil berbaring tengkurap, dia membuka matanya dan mencoba untuk berdiri sambil meludahkan kotoran dan kerikil dari mulutnya. Dia melihat kesekeliling, dan menyadari bahwa dirinya berada dalam kegelapan yang sangat kelam.

――Dia berada diruang Ujian didalam Makam.

Dari tempat yang sama saat kematiannya, dunia Subaru dimulai lagi.
Meskipun sebagian dari dirinya merasa lega telah berhasil kembali, membayangkan pemandangan yang mencekik ketika mengulangi neraka yang sama di dunia ini mencengkram hatinya dan seolah tidak ingin lepas.
Sambil menggelengkan kepalanya, Subaru menolak kemungkinan buruk dari kematiannya.
Kemudian, sambil berdiri dan membersihkan kotoran dari pakaiannya, dia mengamati sekeliling area itu, dia melihat Emilia, terbaring di sudut ruangan.

[Subaru: ……]

Tapi, tepat sebelum dia bisa memanggil dan berlari ke sisinya, Subaru merasa ragu.
Apa yang terlintas dalam pikirannya adalah saat-saat kematiannya dipangkuan Emilia, dia tidak sadar bahwa ketika kematiannya, dia telah berciuman dengan Emilia.

Dengan bingung, Subaru menyentuh satu jari ke bibirnya dan merasa aneh dengan sensasi kering dibibirnya.
Di saat-saat terakhir itu, wajah Subaru sangat berantakan ketika dia membatukkan darah dari mulutnya. Dia tidak mungkin mengerti apa yang dipikirkan Emilia ketika dia menciumnya, tapi sayangnya hal itu tidak dapat diingat Subaru .

Bahkan ketika dia berada diambang kematian, meskipun dia bisa mengingat semua hal itu, pada kenyataannya tidak ada rasa dan emosi dari momen itu yang dibawanya kedunia ini.
Itu adalah ciuman pertama Subaru, ciuman pertama yang dilakukannya bersama Emilia. Namun, karena dihalangi oleh sesuatu yang disebut kematian, hal itu tidak meninggalkan kesan yang berarti.

[Subaru: ――――]

Namun, keraguan Subaru bukanlah karena penyesalan itu.
Firasatnya terhadap ciuman itu bukanlah penyebabnya, tetapi karena besarnya bahaya yang ada di sekitar Emilia. ――Cara dia melekat pada Subaru, sangat tidak nyata.

Bersamaan dengan Puck yang menolak untuk menunjukkan dirinya, Emilia semakin putus asa oleh tekanan dari penduduk desa dan penduduk Tempat Suci. Dan ketika orang terakhir yang mendukungnya, Subaru, meninggalkannya, dan ketika itulah hati Emilia hancur.
Jika hasilnya membuat Emilia jatuh dalam keadaan semacam itu, lalu apa yang terjadi pada Emilia hingga sekarang?

[Subaru: …………]

Subaru meninggalkan Tempat Suci dan pergi ke Mansion sudah empat kali. Dari semua waktu itu, yang terakhir adalah satu-satunya di mana ia berhasil kembali kesisi Emilia — lalu apa yang terjadi dengan Emilia saat mengalami putaran kematian lainnya?
Di tiga putaran kematian lainnya, Kelinci akan menyerang Tempat Suci.
Bahkan jika Emilia berhasil menjaga dirinya tetap tenang, bisa dibayangkan hasilnya mengingat keganasan Mabeast. Tapi, apa yang terjadi dalam pikirannya saat itu?

[Subaru: Tidak ada gunanya bertanya …… jika seperti itu terus setiap kali putaran kematian, aku tidak punya pilihan selain tetap berada di sini ……]

Tidak sedikitpun mereka yakin dengan situasi seperti itu.
Dia bisa menyerahkan semuanya kepada masa depan dan menghiraukan apa yang terjadi dihadapannya, tapi itu tidak ada gunanya.
Untuk mencapai masa depan yang sempurna, Subaru harus terus mengasumsikan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

Berasumsi bahwa dunia akan selalu mempersiapkan baginya takdir yang paling kejam dan paling tidak masuk akal.
Dalam hal ini, masalah mengenai Emilia, Beatrice, Elsa, dan Roswaal pasti akan diatur dalam situasi sesulit mungkin.

[Subaru: Apa yang harus aku lakukan adalah ……]

Selamatkan Emilia dari keterpurukan, selamatkan orang-orang di Tempat Suci dari Great Rabbit, dan selamatkan teman-temannya yang ada di Mansion dari kekejaman Elsa. ――Tidak diragukan lagi, itu akan menjadi jalan yang penuh bahaya.

―― Apa itu benar-benar bisa dilakukan?
Di dalam dirinya, sisi pengecut Subaru bertanya, sambil mempersiapkan rute pelarian, alasan, dan perlindungan.

―― Bukan masalah bisa atau tidak bisa, intinya adalah tindakan.
Subaru menghina sisi kelemahan itu di dalam dirinya, dan menyatakan tekadnya untuk tidak mengkhianati sumpahnya.

Yang harus dia lakukan adalah mencoba lagi sebanyak mungkin untuk menyingkirkan semua rintangan, memastikan kondisi kemenangan, mengatur rencana, dan menentukan timing yang pas.
Bahkan jika hati Subaru lelah oleh setiap kegagalan, bahkan jika itu harus melalui semua hal yang tidak pernah ingin dia saksikan, selama itu membuatnya lebih dekat untuk meraih masa depan yang sempurna, maka dia tidak keberatan.
Itulah kenapa――

[Subaru: ――Emilia. Apa kau baik baik saja?]

Meraih tubuh gadis itu, Subaru mengguncang bahu gadis yang sedang terbaring dan cantik itu.
Kelopak mata Emilia bergerak karena sentuhan Subaru, saat kesadarannya dibawa keluar dari dunia Ujian dan kembali ke dunia nyata.

Matanya terbuka, mencerminkan Subaru melalui dua permata yang indah itu. Lalu, air mata menggenang, menolak masa lalunya sambil memeluk Subaru.
Melihat Emilia yang memeluknya, Subaru membalas pelukannya sambil menegaskan kembali janji yang telah dia buat.

―― Dia akan melindungi Emilia sampai akhir, serta menyelamatkan semua orang yang dapat diselamatkan.
Karena tidak ada seorang pun kecuali Natsuki Subaru yang bisa melakukan ini.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

Dia mulai menyusun potongan-potongan informasi yang didapat dari kematian sebelumnya.

Yang paling penting di antara itu, adalah tentang Roswaal L. Mathers.
Roswaal yang mati tepat di depan matanya, telah mengakhiri hidupnya, menjadi santapan bagi Great Rabbit.

Roswaal tahu tentang kemampuan Mengulang dengan Kematian miliki Subaru.
Bahkan jika dia tidak tahu bahwa “Kematian” adalah pemicu dari kemampuan itu, dia menyadari kemampuan Subaru untuk “Memutar Ulang”.
Meskipun Subaru tidak yakin apakah Roswaal telah mengetahui hal itu setelah kedatangannya di Tempat Suci, atau dia sudah tahu dari awal, kemungkinan besar, itu tertulis dalam Kitab Roswaal.

Subaru belum dapat mengambil Kitab milik Roswaal di putaran kematian sebelumnya.
Jika Kitab diselipkan dijubah Roswaal, maka itu pasti dimakan oleh kelinci bersamaan dengan tubuhnya. Tetapi bahkan jika Roswaal telah meninggalkannya di kediaman itu, Subaru tidak bisa pergi kesana untuk memeriksanya.
Jadi, Subaru tidak pernah melihat apa yang tercatat di dalam Kitab itu.

――Atau apa tujuan sebenarnya Roswaal.

Jika Roswaal hanya bertindak sesuai dengan isi Kitab, lalu kenapa pada akhirnya dia menyerah dan memilih untuk mati? ―― Mungkin jawabannya ada di dalam Kitab itu sendiri.
Kemungkinan besar, Roswaal akan mematuhi apa yang ada di Kitabnya bahkan jika itu mengorbankan nyawanya sendiri.

Subaru tidak tahu apa yang ditulis didalam kitab itu, tapi pasti ada petunjuk, petunjuk yang mengarahkan masa depan yang diinginkan pemiliknya, seperti yang ada didalam Kitab milik Petelgeuse.
Ketika sesuatu menyimpang dari Kitab Pemuja Penyihir, Petelgeuse akan menggunakan penilaiannya sendiri untuk membuat kesimpulan dalam rentang yang wajar sampai hasilnya cocok dengan yang tercatat.
Tapi itu sangat berbeda dalam kasus Roswaal.

Bertindak karena mengetahui kemungkinan dapat “Memutar Ulang” Dunia, ketika masa depan berbeda dari apa yang tertulis, dia akan menyerahkan hidupnya agar dia tidak menanggung waktu yang akan berlalu karena kesalahan.

Ketika kenyataan berbeda dari yang tertulis, Petelgeuse memilih untuk membuat keputusan sendiri.
Bahkan, karena menolak adanya penyimpangan sekecil apa pun, Roswaal bersikeras bahwa kenyataan lah yang harus mengikuti perintah itu.

Meskipun mereka adalah musuh yang berbahaya karena kepemilikan Kitab, dan bahkan jika isi Kitab mereka sebagian besar sama, tindakan mereka hampir sepenuhnya bertentangan.
Mempertimbangkan cara mereka bergantung pada Kitab, Subaru merasa bahwa Roswaal lebih menyesatkan diantara mereka berdua.

―― Masalahnya terletak pada isi Kitab Roswaal.

Jika hasil dari serangan di Tempat Suci dan Mansion semuanya tercatat didalam kitab, maka tragedi itu hanya akan terulang lagi dan lagi sampai keinginan Roswaal terpenuhi.
Bahkan hujan salju di Tempat Suci dapat dikaitkan dengan keinginan Roswaal untuk menyesuaikan dengan ramalan Kitab. Artinya, salju itu mungkin bagian dari setiap putaran kematian.
Satu-satunya alasan Subaru belum menemukannya sampai sekarang adalah karena itu selalu dimulai ketika dia tengah melakukan perjalanan ke Mansion, dan dia tidak pernah kembali untuk melihatnya.

Roswaal telah menyebabkan hujan salju di Tempat Suci untuk mengisolasi Emilia.

Tapi apa gunanya melakukan itu?
Bahkan tanpa melakukan metode yang merepotkan seperti itu, tekanan yang tak tertahankan dari semua pihak seharusnya sudah cukup untuk membuatnya tertekan. Dengan rasa tanggung jawabnya, dan karena sangat sadar akan harapan orang-orang di sekitarnya, Emilia hanya bisa menahan ketidaknyamanan dan ketidakberdayaannya dan terus menantang Ujian.
Saat Subaru tidak lagi berada di sisinya, dia akan kehilangan arah dan jatuh dalam keadaan ditinggalkan.

Kecuali, jika itu semua tujuan Roswaal dari awal?
Tetapi jika Emilia berhenti bertindak demi “Orang lain”, Tempat Suci tidak akan pernah dibebaskan. Dan tanpa membebaskan Tempat Suci, tidak akan ada jalan keluar ketika Great Rabbit menyerang.
Ada terlalu banyak tempat di mana tindakan dan sikap Roswaal terhadap Emilia bertentangan.

Terlebih lagi, ucapan disaat-saat terakhir Roswaal, beberapa saat sebelum ia disantap oleh Great Rabbit.

――Singkirkan semuanya kecuali yang paling penting bagi dirimu.

Itulah yang diucapkan Roswaal.
Jika kau melakukan itu, kau juga bisa menjadi sepertiku.

Tidak peduli apakah Subaru ingin menjadi seperti Roswaal atau tidak, implikasi yang mendasari kata-kata itu adalah bahwa Roswaal telah meninggalkan segalanya kecuali yang paling penting baginya, dan begitulah hingga Subaru berakhir disini.
Sebenarnya, itu adalah tekad agar dia bisa melepaskan hidupnya – tidak diragukan lagi.

Jika semuanya mengikuti apa yang tertulis dalam Kitab: Emilia didesak hingga terisolasi, dan peristiwa berkembang tepat seperti yang dimaksudkan Roswaal, apakah dia benar-benar mendapatkan hal itu yang mana dia rela meninggalkan semuanya hanya demi itu?
Atau, mungkin pertanyaan yang lebih tepatnya seperti ini: kenapa Roswaal memberi tahu Subaru semua itu?

Bagaimanapun juga――

[Subaru: Jika kau menyuruhku untuk melepaskan … tidak mungkin aku bisa melakukan itu]

Emilia sosok yang penting.
Tapi, tak perlu dikatakan lagi, bahwa ada orang-orang yang ingin Subaru lindungi dan tetap di sisinya, terlalu banyak untuk dihitung.

Di dunia Subaru yang sempit, bahkan kehilangan satu bagian saja akan membuat dunia ini tidak berwarna.
Serakah dan egois itulah dia, tidak mungkin dia dapat menerima itu.
Karenanya, dia tidak pernah bisa mengikuti saran Roswaal.

[Subaru: Roswaal …… Aku tidak akan pernah menjadi sepertimu]

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

Subaru menghibur Emilia yang menangis sampai dia tertidur, dan membawanya keluar dari Makam.

Seperti biasa, ketika semua orang terkejut melihat Emilia dan mengetahui bahwa dia telah gagal dalam Ujian, Subaru membawanya ke rumah Lewes untuk menidurkannya.
Sepanjang jalan, sosok Garfiel yang berpura-pura senang ketika itu membuat suasana hampir menyakitkan untuk saksikan, dan Subaru bisa melihat Lewes menatap tajam kearahnya, meskipun dia tidak mengatakan apa pun.

Dia mengabaikan itu untuk sekarang karena masih ada sesuatu yang harus dia konfirmasi.
Adapun yang terakhir, itu karena Subaru sedikit mengerti arti di balik tatapannya.

[Garfiel: Oy, bisa bicara ikut sebentar]

Setelah mempercayakan Emilia yang tertidur kepada Ram, Garfiel memanggil Subaru sementara semua orang pergi untuk bermalam. Karena sudah menduga hal ini, Subaru menjawab [Ya] saat dia mengikuti di belakang sosok yang membungkuk, menuju ke hutan di sekitar Tempat Suci.
Subaru tidak yakin apakah Garfiel membawanya ke tempat yang sama seperti terakhir kali, tetapi dia tahu bahwa ekspresi Garfiel sama persis seperti saat itu.

Dengan mata yang berkobar, Garfiel menatap kearah Subaru.
Berbeda sekali dengan sikapnya ketika mereka meninggalkan Makam, permusuhannya sekarang terlihat jelas.

Tentu, pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya adalah—

[Garfiel: Apa y……]

[Subaru: “Apa yang kau lihat didalam Makam” ……?]

Tampak tonjolan urat yang muncul dari dahi Garfiel ketika dijawab oleh Subaru saat matanya melebar ketika dia mendengar kata-kata persis seperti yang ingin dia katakan.
Seakan sudah menyadari hal itu sebelumnya, reaksi yang ditunjukkan Garfiel terlihat kekanak-kanakan. Itu agak aneh.

Dengan segera menggelengkan kepalanya pada Subaru dan menatap tajam kearahnya, Garfiel membunyikan giginya seolah untuk menenangkan diri.

[Garfiel: Menyeramkan, tapi jika kau sudah tahu, itu akan lebih cepat. Jangan mencoba menyembunyikannya, jawab jujur. Kau tidak ingin aku melukaimu kan.]

[Subaru: Benar. Tapi aku orang yang sibuk, ada banyak hal yang ingin aku pastikan. ――Jika aku menjawab pertanyaanmu… sebagai gantinya, maukah kau menjawab beberapa pertanyaan dariku?]

[Garfiel: Kau pikir dirimu dalam posisi dapat bernegoisasi? Aku berada dalam posisi dapat memakanmu, dan kau harus berhati-hati, jangan sampai aku memakanmu. “Buat menyerah kakaknya sebelum adiknya”, seperti yang orang katakan]

[Subaru: Dari semua pengibaratan yang kau buat … mungkin itu yang paling suram, kau tahu]

Membalas ucapannya sambil mengangkat bahu, Subaru menatapnya dan mereka jatuh ke dalam keheningan.
Garfiel tampak seperti tidak sabar, tetapi dia tidak menekan Subaru untuk cepat-cepat berbicara. Sementara Subaru mengambil napas dalam-dalam, dan memutuskan cara terbaik untuk menjawab.

[Subaru: Di dalam, aku mengikuti Ujian [Trial]. Aku melihat masa laluku]

[Garfiel: ――! Jadi kau punya kualifikasi untuk itu …… tch. Kemudian, bagaimana hasilnya ……]

[Subaru: Gagal. Tidak semudah itu, menerima atau menolak masa lalumu. …… sama seperti Emilia, aku takut]

Memberikan setengah kebenaran dan setengah kebohongan, Subaru mencoba untuk mengukur reaksi Garfiel.
Wajah Garfiel memucat ketika dia mendengar bahwa Subaru telah melakukan Ujian, tetapi setelah mengetahui bahwa Subaru gagal, bahunya merosot karena lega.

[Subaru: Yah, kau pasti sangat senang tentang itu]

[Garfiel: Apa yang kau ……?]

[Subaru: Aku hanya berpikir, kau terlihat senang ketika mendengar bahwa Emilia gagal, dan Tempat Suci tidak jadi dibebaskan]

Mendengarkan kata-kata Subaru, Garfiel menatap tajam kearahnya dan mendengus seolah mulai mengerti. Sedikit merendahkan tubuhnya, dia melotot kearah Subaru.

[Garfiel: Dasar brengsek, Ujian apa yang telah kau …… lewati, apa yang saja yang kau ketahui?]

[Subaru: Tentang penciptaan Tempat Suci, dan beberapa hal tentang latar belakangnya juga. Termasuk, tentang dirimu dan Lewes-san, kurasa]

[Garfiel: ――! Kau tahu…… tentang ……]

“Masa laluku?”, Garfiel hendak mengatakan itu, ketika Subaru memotongnya dengan menggelengkan kepalanya.

[Subaru: Tidak yakin dengan apa yang kau lihat dimasa lalumu, tapi aku tidak tahu sebanyak itu. Meskipun, aku tahu kenapa kau tetap diam karena telah melakukan Ujian]

[Garfiel: …… Kau sudah tahu sebanyak itu …]

[Subaru: Itu juga bagian dari spekulasi. Kau dapat membalasnya dengan marah “Itu cuma akal-akalanmu!”, Jika kau mau]

Di dunia ini, Subaru dan Garfiel baru saling kenal selama satu hari.
Sebagian besar informasi yang dia kumpulkan dari interaksinya dengan Garfiel adalah hal-hal yang seharusnya belum dia dengar. Hal yang sama berlaku untuk informasi tentang Lewes Meyer yang asli, yang tertidur di Tempat Eksperimen.

Dengan demikian, Subaru berusaha melewati ini dengan memanfaatkan Ujian [Trials] dan keberadaan Echidona.
Untuk saat ini, dia berpikir bahwa tidak ada lagi yang bisa dia dapatkan dari percakapannya bersama Garfiel.

Jadi dia berharap percakapan ini akan berakhir.
Tapi――

[Subaru: ――Katakan, kenapa kau tidak melakukan Ujian [Trials] lagi?]

[Garfiel: ――――]

Di depan Garfiel yang diam, Subaru menanyakannya pertanyaan ini.
Mendengar ini, Garfiel menundukkan kepalanya agar tidak membiarkan Subaru melihat ekspresinya.
Lengannya menjuntai di kedua sisi tubuhnya, karena posturnya yang waspada telah menghilang dan melemaskan tubuhnya.
Dari situ, Subaru menilai bahwa tidak akan ada serangan mendadak yang akan datang.

[Subaru: Kau tahu, aku merasa bahwa tindakanmu itu tidak konsisten. Pertama kau mendorong Emilia untuk membebaskan Tempat Suci, dan kemudian kau terlihat lega ketika dia gagal. Tetapi, jika kau benar-benar mencoba menghalangi Tempat Suci dari pembebasan, kau melakukannya setengah-setengah]

Jika dia benar-benar berniat dan mengabaikan hal lainnya, Garfiel bisa berubah menjadi binatang buas lalu membunuh Subaru dan Emilia.
Secara alami, hubungannya dengan para pengungsi dan faksi Roswaal akan menurun, tetapi jika tujuan Garfiel benar-benar menghalangi pembebasan Tempat Suci, maka metode itu akan cepat dan dapat diandalkan.
Namun, Garfiel tidak mengambil tindakan apa pun hingga saat ini ―― hingga Subaru bertindak melebihi batas dengan meminta para pengungsi melarikan diri dari Tempat Suci.

―― Masih ada beberapa rahasia di dalam pikiran Garfiel yang tidak diketahui Subaru.

[Subaru: Aku berharap kau bisa membantuku]

[Garfiel: ――Jangan mengatakan omong kosong bodoh seperti itu]

Mendengar Subaru mengatakan ini, Garfiel berhenti sejenak sebelum berteriak padanya.
Melihat ke atas dan menggelengkan kepalanya, semangat yang seperti biasanya telah menghilang dari ekspresi Garfiel.

[Garfiel: Seperti yang kau bilang, tujuan kami berbeda. Aku tidak akan menghalangimu, tetapi aku juga tidak akan membantumu. Netral. Ya, lebih baik netral]

[Subaru: Kau sadar posisi itu tidak cocok denganmu?]

[Garfiel: Ini bukan masalah cocok atau tidaknya. Aku hanya melakukan karena itulah yang seharusnya aku lakukan]

Kesal karena mengatakan sesuatu yang biasanya tidak akan dia katakan, Garfiel menendang ke tanah, membuat debu berterbangan saat dia membalikkan punggungnya kearah Subaru.

[Garfiel: Jika si Setengah Penyihir itu berhasil melewati Ujian, itu tidak masalah bagiku. Setelah kau berada di sini, satu-satunya caramu keluar adalah dengan melewati Ujian. Aku sadar akan hal itu. ――Tapi apakah aku akan meninggalkan Tempat Suci setelah dibebaskan ‘itu masalah lain lagi]

[Subaru: …………]

[Garfiel: Jika kau ingin pergi, maka keluarlah. Tapi jangan coba-coba untuk kembali. Jangan mencampuri urusan kami lagi. Kau harus mengingat itu, dan aku tidak akan melakukan apapun’]

[Subaru: Bahkan jika aku mengatakan bahwa kami butuh bantuanmu diluar?]

[Garfiel: …… Hal yang aku inginkan, tidak satupun dari kalian dapat memberikannya. Pembicaraannya cukup sampai disini. Jangan mencoba melakukan hal-hal yang tidak perlu sekarang]

Meskipun dia menolak untuk mendengarkan Subaru, Garfiel mengatakan padanya ucapan yang rasional seperti itu.
Garfiel telah menunjukkan penolakan kuatnya dalam semua percakapan mereka hingga saat ini, tetapi hanya kali ini, dia tidak kehilangan ketenangannya.
Apa bedanya, dan apa artinya itu?

[Subaru: Ada banyak hal yang harus aku pikirkan …… tapi]

Memegang rambut hitamnya dengan tangan, Subaru menyisihkan pemikiran yang terlalu rumit itu untuk saat ini.
Semampu mungkin menyederhanakan, mengatur, dan menyusun itu semua untuk mendapatkan jawaban,

[Subaru: Tidak mungkin aku bisa menyelesaikan semua ini sendirian]

Jika dia kebingungan, Natsuki Subaru hanya akan terperangkap dalam putaran kematian. Untuk memastikan itu tidak terjadi, yang perlu dia lakukan sekarang adalah,

[Subaru: Kurasa sudah saatnya mengandalkanmu lagi ……]

Pemikiran Subaru beralih ke satu-satunya orang di dunia yang bisa dia temui sebagai sekutunya.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

Seolah-olah didorong oleh emosi yang tak tertahankan, langkah Subaru semakin cepat.

Setelah berpisah dengan Garfiel, Subaru yang berjalan perlahan mulai berlari.
Dengan napas terengah-engah, alis yang berkeringat, dan mata yang gemetar, Subaru berlari.
Satu-satunya tujuannya, area yang diterangi oleh cahaya bulan, yaitu bagian dalam Makam.

Ini terjadi setelah percakapan mereka sebelumnya.
Setelah menyatakan bahwa dia tidak akan mengganggu tindakan Subaru, Garfiel tidak menghentikannya.
Tidak ada alasan untuk menghentikannya yang mencoba masuk ke dalam Makam sekali lagi.

Sesampai di pintu masuk, Subaru berhenti untuk mengelap keringat dengan lengannya.
Menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, Subaru memaksa dirinya untuk maju kearah kegelapan Makam.
Karena ada sesuatu yang harus dia lakukan―― Benteng Impian yang ada didalamnya merupakan alam Echidona.

[Subaru: Jika kau benar-benar berharap di dalam hatimu …… “Aku ingin tahu”]

Maka kau akan dibawa masuk. Itulah yang dikatakan Penyihir berambut putih itu.
Berharap pada hal itu dan menaruh keyakinannya pada kata-katanya, Subaru datang ke sini.

Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan, untuk dibicarakan, untuk mengakhiri penderitaan, dan untuk mencari jawaban bersama dengannya.
Hal-hal yang hanya bisa dia ungkapkan kepada sang Penyihir Keserakahan, sehingga dia bisa menunjukkan jalan keluar terbaik.

Apa yang perlu dia lakukan, dan apa yang ingin dia lakukan sekarang hanya satu.
Semua yang tersisa adalah mencari cara untuk mewujudkannya, sebuah cara selain melakukannya sendirian.

[Subaru: ――――]

Bukan berarti dia tidak malu untuk pergi ke Benteng Echidona, menyerahkan semua keraguan dan kekhawatirannya, dan memaksakan semua kehendaknya.
Dan bukan berarti juga dia tidak takut bahwa mengungkapkan segalanya kepada Echidona akan melanggar larangan dan akan menenggelamkan Tempat Suci dalam bayang-bayang Envy.

Namun, meski begitu, Subaru sangat berharap.

Berharap bahwa petunjuk yang akan diberikan sang Penyihir mungkin menjadi kunci untuk menembus kebuntuan nasib ini.

[Subaru: Sekarang …… aku harus memenuhi semua persyaratan]

Dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
Dan bertekad untuk menggunakan segala cara bila diperlukan.

Jika Subaru tidak dapat membuat penyihir Keserakahan bersedia, lalu siapa lagi?

Sudah tak terhitung jumlahnya ketika dia menyerahkan hidupnya. Dan dia juga akan menyerahkan harga dirinya, jika itu yang diperlukan untuk menyelesaikan ini.
Karena itulah Natsuki Subaru yang menyedihkan, tidak berguna, dan bodoh ini bisa mengaturnya.

[Subaru: Aku mengandalkanmu, Echidona ……!]

Subaru menenangkan nafasnya, dan perlahan mengumpulkan keberanian untuk masuk ke dalam Makam.
Berjalan kedalam ruang persegi empat yang telah menerimanya sekali lagi sebagai penantang malam ini, dia mengamati ruangan itu, dan melangkah menuju pusatnya.

[Subaru: Aku harus menerima ritual apa yang akan diperlukan, tapi ……]

Kedua kalinya Subaru diundang ke dalam dunia mimpi, selain dari keputusasaannya menginginkan jawaban, dia berada diposisi yang sama setelah putaran kematiannya. Tampaknya tidak ada persembahan khusus yang diperlukan.

Sekarang, Subaru berlutut, mengepalkan tangannya, dan menutup mata.
Dia membayangkan sosok Penyihir Putih dalam pikirannya, memanggil dengan setiap emosi yang ada dalam dirinya, seolah menceritakan masa depan dan keinginannya yang putus asa untuk memanggilnya.

[Subaru: ――――]

Dan begitulah, waktu pun terus berlalu ketika Subaru menunggu dalam diam.
Dia bisa merasakan udara dingin Makam yang membelai kulitnya saat keringat dingin terbentuk di alisnya.

Dia membutuhkannya. Keputusasaan.
Dia merindukannya. Dengan sungguh-sungguh.

Jika dia sangat menginginkan itu, sangat merindukan hal itu, tapi masih belum bisa menjangkaunya――
――Mungkin sang Keserakahan terlalu besar bagi sebuah ketamakan manusia belaka.

[Subaru: ――u?]

Tepat sebelum rasa takut ini bisa meresap, Subaru merasakan ilusi cahaya putih merayap dari kegelapan di balik kelopak matanya. ――Atau mungkin, itu bukan ilusi.

[Subaru: ――――]

Cahaya putih menyerang penglihatannya dan perlahan, mengikis dunia yang gelap.
Sebelum dia tahu itu, tubuhnya yang berlutut telah rebah kesamping, dan dia bisa merasakan kesadarannya yang ditarik ke dunia lain.

――Dia pun dipanggil ke Benteng Mimpi.

Benteng di mana Echidona sedang menunggu, kali ini, dia bertekad untuk mengadakan percakapan yang akan membuatnya benar-benar memahami masa depan.

Pikiran itu memenuhi kesadarannya yang masih samar, dan juga—

{――Kesaksian, sebuah hadiah yang tidak diinginkan}

Saat kesadarannya mulai lenyap, dia pikir dia mendengar suara itu.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

Sensasi seperti pingsan karena mabuk membuat Subaru mengigil.

Dia tidak tahu apa yang terjadi.
Dia bangun dengan tiba-tiba seperti ketika chanel televisi yang tiba-tiba ditukar.

Seolah telah melompat ke chanel dengan genre yang berbeda, rasanya seperti seluruh kesadarannya telah bertukar.
Itu hampir mengingatkannya pada sensasi setelah Mengulang dengan Kematian.

Perbedaan antara keadaan yang menyedihkan di dunia tempat ia mati sebelumnya, dan tempatnya Mengulang dengan Kematian selalu mengukir rasa keganjilan dalam pikiran, tubuh, dan jiwanya.

{――――}

Ketika dia mencoba berbicara, Subaru menyadari bahwa dia tidak bisa mengeluarkan suara.
Dia mencoba memegang tenggorokannya, dan ketika itulah, dia terlambat menyadari bahwa dia tidak bisa merasakan tangan maupun tenggorokannya.

{――――?}

Baik itu anggota tubuh, mata, atau mulutnya, tidak ada sama sekali.
Yang ada hanya kesadarannya, mengambang di angkasa, mengamati dunia dari atas seolah dirinya tidak lebih dari sekedar pengamat.

Itu tidak normal, seperti sensasi tanpa memiliki tubuh yang sedang berada di dalam mimpi.
Tapi, dia merasa bahwa ini bukan pertama kalinya dia seperti ini. Mungkinkah dia bermimpi ?

Dengan pikiran-pikiran di kepalanya, Natsuki Subaru mencoba untuk merobek kesadarannya dari pemandangan yang ada di depan matanya.
Tapi itu tidak mungkin.
Bagi Subaru yang tidak memiliki tubuh, tidak dapat memalingkan kepalanya, bahkan menutup matanya pun tidak bisa.

Yang bisa dia lakukan hanyalah menyaksikan ketika adegan yang ada di depan matanya dengan paksa masuk kedalam kepalanya.

[???: ――ohong]

Suara itu sunyi, dan serak.
Dan sangat pelan sehingga dia hampir tidak bisa mengerti apa yang dikatakannya.
Tapi,

{――――}

Tapi secara intuisi dia memahaminya.
Dengan hanya kesadarannya, Subaru lewat intuisinya mengerti bahwa “Ini buruk”.

Itu adalah suara yang tidak boleh dia dengar.
Suara yang tidak boleh dia kenali.
Ucapan yang tidak boleh dia ketahui.

Namun, terlepas dari apa yang kesadarannya katakan, pemandangan yang membakar pikirannya tidak berubah. Itu tidak akan hilang. Tapi terus mendesak, dan mengukir “Dampak” kepada Subaru.

[???: Pembohong …… pembohong, pembohong pembohong pembohong pembohong …… hk]

Bisikan yang terus diulang itu, kata yang sebelumnya tidak dapat dia dengar mulai terdengar jelas, seolah tidak mau berhenti, dan diselingi dengan isak tangis.
Pemandangan yang memilukan. Telinganya penuh dengan kesedihan yang putus asa. Melihat itu dengan matanya dan mendengar itu dengan telinganya pastilah penderitaan terbesar di dunia ini.

{――――}

Kenapa dia di sini?
Kenapa dia melihat ini?
Kegagalannya. Kesalahannya. Kesalahannya dalam menilai. Dia tidak seharusnya melihat ini. Dia tidak seharusnya tahu. Dia seharusnya tidak pernah tahu.

――Jika aku tidak mengatakan, “Bukan seperti itu”, aku……

[Emilia: Pembohong … pembohong! Subaru …… kau pembohong! Kau pembohong–!!]

Tergeletak di lantai, dengan air mata yang mengalir deras dari matanya yang seperti permata, Emilia berteriak.
Seperti tuduhan pengkhianatan, menolak mimpi buruk yang ada dihadapannya, mengacak-acak rambutnya seperti anak kecil, Emilia menjerit seperti jatuh dalam kegilaan.

―― Sementara itu, di samping Rem yang sedang tertidur, terdapat mayat Subaru dengan pisau kecil yang tert4ncap di tengg0rokannya terbaring di depan Emilia yang sedang menangis.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded