Re:Zero Arc 4 Chapter 70 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

[Translator : Scraba]

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Suruh Mbak Google Baca”]

Apa yang ada setelah Neraka

――Apa yang dia saksikan?

{――――}

Dengan mengeluarkan teriakan yang memekakkan telinga, Emilia meneriakan nama Subaru.
Tubuh Subaru bersandar lemas ke tempat tidur, matanya yang terbuka lebar terlihat lesu.
Yah, itu wajar. Dengan tenggorokannya yang ditusuk oleh belati, dan dengan banyaknya kehilangan darah, tidak mungkin dia masih hidup.

Tidak selamanya kau mendapat kesempatan untuk melihat mayatmu sendiri.
Itu adalah sensasi yang gila, seolah dia telah melepaskan diri dari mayatnya seperti hantu dan membuatnya menyaksikan tontonan itu.
Bahkan jika sebagian besar perasaan itu salah, bagian dasarnya tidak.

―― Apa yang disaksikan Subaru adalah salah satu adegan setelah kematiannya.

{――――}

Perabotan kamar, orang-orang yang hadir di sana, dan sosok bersimbah darah dari dirinya yang telah mati.
Melihat itu berada ditempat yang sama, Subaru menyadari persis apa yang sedang ditunjukkan di sini.

Itu adalah hasil dari tindakannya yang ceroboh setelah mengalahkan Sin Archbishop, Petelgeuse Romanée-Conti, dan menyelamatkan Emilia, ketika dia pertama kali mengetahui tentang hilangnya Rem.

Setelah mengalahkan Paus Putih, mengusir Sloth, dan menyelamatkan Emilia serta Penduduk Desa Arlam, Subaru berada di puncak kegembiraan dan seketika itu juga dia terjatuh dari puncaknya, setelah mengetahui bahwa Rem telah hilang.
Dia telah mencarinya dengan kereta sampai ke Ibukota ―― dan dia menemukan Rem tertidur di Mansion Crusch Karsten, dan, begitu dia tahu bahwa Rem tidak sadarkan diri dan tidak ada satupun orang yang mengingatnya, Subaru segera melakukan bunuh diri dengan menik4m pisau melalui tenggor0kannya sendiri.

Itu tindakan yang spontan, tanpa berpikir dua kali.
Dia melakukannya hanya untuk menolak kenyataan yang ada di depan matanya, untuk meminta kepada kemampuan Mengulang dengan Kematian agar diberikan kesempatan untuk mencoba kembali ke masa lalu dan mengambil apa yang telah hilang.

――Tapi, tindakan yang ceroboh itu tidak berhasil, dan tempat dia kembali setelah bunuh diri adalah tepat sebelum dia menikam lehernya, setelah dia menemukan kembali Rem yang tertidur.

Savepoint dari Mengulang dengan Kematiannya telah diperbarui.
Penentuan waktu yang kejam itu telah mencuri satu-satunya cara Subaru untuk mengembalikan Rem, dan sekali lagi menceburkannya kedalam nereka.
Setelah itu, ketika dia menguatkan tekadnya dan membuat sumpah untuk mengembalikan Rem dan hingga sekarang dia masih bertahan, tapi—

{Subaru: Bukan … salahku … Ini … bukan salahku. Aku tidak tahu …… Aku belum pernah melihat ini}

Dia belum pernah melihat adegan ini sebelumnya.
Yah tentu saja. Subaru sudah mati ketika itu.
Meskipun dia memiliki sarana untuk kembali setelah kehilangan nyawanya, dia tidak pernah tahu apa yang terjadi pada dunia setelah kematiannya. Atau lebih tepatnya, tidak mungkin dia mengetahuinya.

Tapi, hingga sekarang dia tidak pernah mempertimbangkan hal itu.
Mengalami kematian, memutar ulang dunia, lalu melanjutkan perjuangan didunia yang berbeda untuk menghadapi rintangan, tetapi didunia sebelumnya tidak memberinya informasi apapun “Setelah” dia mati, dan hidup kembali ke titik save point.
Menilai bahwa dunia ini hanyalah checkpoint semata-mata hanya untuk menuju masa depan yang diinginkannya, dan setelah memutuskan untuk memanfaatkan Mengulang dengan Kematian sepenuhnya, dia bahkan menganggap dunia sekarang ini tidak lebih dari sebuah savepoint.
Tapi sekarang ―― itu runtuh.

{Subaru: Hentikan. Hentikan hentikan hentikanhentikanhentikanhentikanhentikanhentikan tolong hentikan!}

Menolak adegan yang ada didepan matanya, Subaru berterikan dengan suara yang serak.
Tapi, tanpa memiliki tenggorokan untuk mengeluarkan suara, tanpa memiliki mata untuk mengalihkan pandangannya, dan tanpa adanya telinga yang bisa dia tutup, dunia itu terus mengukir dampak ke dalam kesadaran Subaru.
――Sebagai hukuman atas perbuatan ceroboh yang dia lakukan.

[???: Emilia-sama, apa――!]

Mendengar ratapan Emilia, sosok karakter baru melangkah masuk kedalam adegan yang menghebohkan itu.
Seorang lelaki tua, mengenakan pakaian kepala pelayan yang masih baru dengan tubuhnya yang berotot, sambil melangkah tanpa menunjukkan luka-lukanya – itu adalah Wilhelm.
Masuk ke dalam ruangan, lelaki tua itu tanpa sadar terdiam melihat pemandangan yang ada di hadapannya.

――Bahkan bagi sang Pedang Iblis Wilhelm juga dapat membuat wajah tercengang seperti itu.

Subaru seperti terpukul karena tidak menyangka melihat ekspresi Wilhelm secara langsung.
Itu terlalu jauh dari ekspresi Wilhelm yang biasanya, karena tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat melihat mayat Subaru.

[Wilhelm: Apa yang sebenarnya terjadi …… tidak, sekarang bukan saatnya …… Subaru-dono!]

Tetapi kebingungan Wilhelm hanya berlangsung sesaat.
Menggelengkan kepala untuk memfokuskan terhadap keadaaan didepannya, dia bergegas ke sisi Subaru yang tergeletak. Emilia terus menempel pada tubuh yang sudah tidak bernyawa itu, tanpa menyadari Wilhelm yang mendekat.

[Emilia: Subaru …… Subaru kau …… pembohong …… kau bilang … kita akan bersama ……]

[Wilhelm: Emilia-sama, maafkan saya tapi–!]

Sementara Emilia memaki pengkhianatan Subaru seperti mengutuk, Wilhelm mendorongnya ke samping untuk mencapai mayat Subaru. Dengan tubuh lemas yang sudah tidak bernyawa, ia jatuh ke lantai, tetapi Wilhelm segera berbalik dari perhatiannya yang sesaat ke arah Emilia untuk menyambut Subaru, yang digenangi oleh darahnya sendiri yang masih segar.

[Wilhelm: ――――]

Ekspresinya muram, Wilhelm menanggalkan jaketnya dan menggunakannya untuk menutupi tenggorokan Subaru ketika dia tanpa ragu sedikitpun menarik belati yang ada ditengg0rokan Subaru. Darah menyembur keluar, menodai wajah Wilhelm, namun dia tidak berkedip, dia langsung menyumbat lukanya.
Pendarahan berhenti, setelah itu Wilhelm memompa dada Subaru yang sudah tidak bernafas, mencoba untuk menghidupkan kembali jantungnya.

[Wilhelm: Ferris! Felix! Kemarilah!! Keadaan darurat! Cepat !!]

Berteriak didalam ruangan, Wilhelm menutup luka Subaru saat dia melanjutkan upaya untuk menyadarkan Subaru. Namun, darah yang hilang terlalu banyak. Bibir dan wajahnya sudah pucat, dan siapa pun bisa melihat bahwa nyawa Natsuki Subaru sudah tidak ada lagi.
Tapi tetap saja, Wilhelm tampaknya tidak ingin menyerah.

[Ferris: Paman Wil ’, apa yang kau teriakkan ab ―― hk!]

[Wilhelm: Felix, cepat! Pisau itu melubangi tenggor0kannya! Kita tidak boleh membuang waktu sedetikpun!]

[Ferris: ――――!]

Bergegas karena panggilan itu, Ferris segera mengangguk pada perintah Wilhelm, menyelimuti tangannya dengan aura bergelombang biru saat dia mengirim sihir penyembuhan ke tubuh Subaru yang tergeletak.
Menatap mayatnya sendiri, Subaru melihat keseriusan di wajah Ferris yang selalu tidak pernah dilihatnya sebelumnya.

{Subaru: Sudah … cukup …… tidak ada gunanya. Itu tidak akan berhasil. Kalian tidak bisa menyelamatkannya lagi ……}

Apa pun yang mereka lakukan akan sia-sia sekarang.
Dalam ingatan Subaru, dia tidak akan terselamatkan dalam bunuh diri ini.
Ketika itu Natsuki Subaru secara spontan menusukkan sebilah pisau ke tenggor0kannya karena menolak kenyataan, meninggalkan luka yang tak dapat disembuhkan di hati orang-orang disekitarnya, sementara dia sendiri menghilang tanpa merasakan pilu yang teman-temannya alami.
Itulah faktanya. Upaya putus asa kedua orang itu sia-sia.

[Wilhelm: Kau tidak boleh mati! Aku tidak akan membiarkanmu mati! Jika aku kehilangan harga diriku karena ini, aku tidak dapat lagi hidup dengan rasa malu ……!]

[Ferris: Kenapa dia harus melakukan hal bodoh ini sekarang …… tch]

Wilhelm berteriak, menekan lukanya, dan Ferris menggumamkan keluhan gelisah ini sambil merapalkan sihir penyembuhan.
Adegan ini, dan riak emosi mereka, terus menusuk hati Subaru.
Tetapi meskipun upaya mereka yang sia-sia –

[Ferris ――――]

[Wilhelm: Felix! Kenapa!? Kenapa kau berhenti menyembuhkannya !? Jika terus seperti ini ……]

[Ferris: Sudah berakhir, Paman Wil. ――Jiwa-Nya sudah tidak ada di sini lagi]

Wilhelm mendekat, tapi Ferris mendorongnya. Didekat sarung Pedang Iblisnya, dia mengambil sapu tangan dari sakunya dan menghapus luka Subaru. Luka itu sudah tertutup sempurna, dan itu sudah tidak bisa dikatakan sebuah luka lagi. Tubuh Subaru telah dipulihkan ke keadaan yang sama seperti beberapa menit yang lalu.

Kecuali, jumlah darah yang telah hilang maupun jiwa yang telah tiada tidaklah kembali.

Melihat ke bawah pada wajah Subaru yang pucat dan tak bernyawa dengan luka yang diseka, Wilhelm menggelengkan kepalanya,

[Wilhelm: Kenapa …… kenapa kau melakukan ini! Kenapa kau … begitu entengnya …… Subaru-dono, kau ……!]

Tinjunya menghantam lantai dengan suara retakan yang keras.
Darah yang mengalir membasahi lantai yang retak saat kepalan Wilhelm tergores bersamaan dengan lantai. Tinjunya meneteskan darah, Wilhelm menggigit bibirnya seolah menahan kesedihan yang tak tertahankan.

Tepat di seberang Wilhelm yang sedang emosi, Ferris hanya menatap Subaru dengan ekspresi sedih. Telinga kucingnya terkulai saat dia menatap ekspresi tak berdaya Subaru,

[Ferris: …… Dasar lemah, pengecut. Kau baru saja meninggalkan semua orang yang penting bagimu ……. memberikan semua rasa sakit dan penderitaan kepada orang lain …… apa kau puas nyow?]

Terlalu berat untuk dihina, dan terlalu baik untuk dikutuk.
Kerumitan emosi yang tersembunyi dalam suara Ferris terlalu jauh melampaui apa yang bisa dipahami oleh pikiran Subaru.
Tapi itu jelas dari reaksi Wilhelm dan Ferris,

―― Bahwa Subaru telah melakukan sesuatu yang buruk bagi mereka berdua.

[Emilia: ――――]

Pikiran Subaru benar-benar berhenti sekarang.
Apa yang dia lihat?

Dia tahu. Dia sudah tahu apa yang dia lihat
Dia dipaksa untuk menjadi saksi atas dosanya sendiri.

[Wilhelm: ――Emilia-sama?]

Wilhelm tiba-tiba memanggil namanya.
Nada suaranya yang heran itu karena Emilia tiba-tiba berhenti menangis, dan tubuhnya yang roboh itu tidak lagi bergerak.
Menyadari perubahan ini, ekspresi Wilhelm berubah. Kehilangan yang baru saja dia rasakan, seberapa kuat pukulan itu bagi Emilia? Dia mengeluarkan ekspresi itu karena menyadari hal ini.

Orang tua itu menutup matanya dengan erat, dan berdiri.
Kemudian, dia berjalan ke arah Emilia yang terbaring, dan mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri.

[Wilhelm: Saya harus minta maaf atas tindakan saya, Emilia-sama. Tapi itu akan berbahaya bagi kesehatan anda jika terus seperti ini. Tolong, jaga kesehatan ……]

[Emilia: ―― dia bilang padaku]

[Wilhelm: Emilia-sama?]

[Emilia: Meskipun dia bilang dia mencintaiku ……!]

Berbaring miring di lantai, memeluk lututnya, Emilia meringkuk seperti bola dan menjerit.
“Kau seperti anak kecil”, tidak ada seorang pun di sini yang berani menegurnya begitu. Wilhelm mengubah ekspresi seolah menahan rasa sakitnya, dan bahkan Ferris berbalik, tidak tahan menyaksikan kesedihan Emilia.

[Ferris: Eh?]

Kebingungan, mata dan mulut Ferris terbuka lebar saat suara yang bisu keluar dari tenggorokannya.
Seakan dibimbing oleh suara itu, Wilhelm mengikuti tatapan Ferris, dan tercengang.

[Wilhelm: ――――]

――Dihadapan mata mereka, tubuh Subaru yang diduga sudah mati itu pun duduk.

{Subaru: ―――― !?}

Dihadapkan dengan pemandangan yang tidak dapat dimengerti ini, bahkan kesadaran Subaru pun juga ikut terkejut.
Tubuh yang bangkit menggerakan setiap anggota tubuhnya dengan gerakan kaku seperti boneka ketika berdiri dengan kepalanya yang miring kesamping, matanya perlahan terbuka.
Tatapannya yang sayu, matanya yang berkilau, menatap keseluruh ruangan.

[Wilhelm: feli ……]

[Ferris: Tidak Mungkin! Tubuhnya padahal sudah mati! Bahkan penyembuhan sudah gagal!]

Wilhelm memanggil Ferris seolah menempel pada untaian harapan terakhir, tetapi Ferris menyelanya, meneriakkan kembali pikirannya.
Mendengar ini, Wilhelm segera memutuskan tindakan selanjutnya.
Yaitu–

[Wilhelm: Subaru-dono, maafkan aku――!]

Bahkan tanpa adanya pedang tidak akan mengurangi kemampuan si Pedang Iblis.
Wilhelm berjongkok untuk mengambil jaket yang ada di lantai, memilinnya bersamaan dengan darah Subaru yang melekat disana, dan menggunakan seluruh tubuhnya untuk menerjang ke depan seperti tombak.
Dengan bergerak pada kecepatan itu ditambah dengan berat darah, ujungnya menembus udara seperti tombak dari kain. Teknik yang disebut Cloth-Spear, Wilhelm dengan cepat menghantam kearah Subaru yang sedang bangkit.
Sasarannya sudah tepat, dan ujung jaket itu seperti akan menembus langsung ke wajah Subaru――

[Wilhelm: ――n!]

Dan ketika itu, aliran bayangan yang muncul dari kaki Subaru menelan kain runcing itu, membatalkan serangan Wilhelm.
Melihat bayangan yang muncul dengan tiba-tiba, Wilhelm langsung menarik lengannya―― tetapi tidak sepenuhnya bisa menghindari dampaknya. Tiga jari di tangan kanannya terpotong, terkena bersamaan dengan jaket.

Melompat mundur, meneteskan darah, Wilhelm mendecakkan lidahnya saat dia menjaga jarak dari Subaru yang sekarang sedang berdiri.

[Wilhelm: Felix! Bawa Emilia-sama pergi dari sini, sekarang! Aku akan mencoba mengulur waktu!]

[Ferris: Kau tidak punya pedang …… tapi aku punya pisau belati!]

Berguling ke sudut ruangan, Ferris melemparkan belati kearah Wilhelm. Menangkap dengan tangan kirinya, Wilhelm menarik belati dari sarungnya dengan pergelangan tangan sebelahnya dan bergumam [Senjata pendek saja sudah cukup],

[Wilhelm: Keluar lah dari Mansion, ikuti instruksi Crusch-sama ―― tidak, itu tidak akan berhasil sekarang. Felix, gunakan pertimbanganmu sendiri. Bawa para Ksatria ke sini]

[Felix: Bukankah itu akan sulit bagimu, Paman Wil?]

[Wilhelm: Ini sesuatu yang hampir sama pada tingkat Paus Putih, atau bahkan …… apa yang sebenarnya telah hidup di dalam diri Subaru-dono ……]

Mengukur kekuatan lawannya, Wilhelm menahan napas saat butiran keringat muncul di kulitnya.
Di hadapan si Pedang Iblis yang waspada, lengan Subaru tetap menggantung di sisi tubuhnya saat tatapannya melihat ke sana kemari, sementara bagian atas tubuhnya bergoyang dari sisi ke sisi.

Itu tidak masuk akal sama sekali. Dan kemungkinan, dia bahkan tidak sadar.
Yang menjadi pertanyaan adalah meskipun dalam keadaan ini, apakah ia memiliki kesadaran yang cukup untuk mempertahankan dirinya?

Dengan waswas, Wilhelm terus melototi Subaru yang berubah.
Sementara itu, ketika menyaksikan semua ini, kesadaran Subaru terperangkap dalam badai kebingungan.

Situasinya jelas berubah dari sebelumnya.
Dipaksa untuk menyaksikan dosanya sementara hatinya hancur dan tercabik-cabik, Subaru sekarang mengawasi perkembangan dunia yang absurd setelah kematiannya.

Apa-apaan semua ini?
Apa itu benar-benar terjadi? Jika tidak, lalu apa artinya semua ini? Kenapa sekarang kesadarannya berada disini?

Dia tidak bisa mengerti semua itu. Tidak ada yang masuk akal sama sekali, tapi …

[Wilhelm: Felix! Bawa Emilia-sama――!]

[Ferris: Baiklah! Emilia-sama, ayo kita……!?]

Menjawab desakan Wilhelm dengan bergegas, Ferris melintasi ruangan dan dengan kasar menarik Emilia yang terjatuh. Tapi terdapat sesuatu yang langsung mengejutkan Ferris.

Alasannya, adalah,

[???: ―― Beraninya kau membuat Lia menangis]

Mengeluarkan nafas putih, sosok kecil muncul di tengah ruangan.
Dengan bulu yang berwarna abu-abu, dan ekor yang sama panjang dengan tubuhnya, meskipun ukurannya bisa muat di tangan seseorang, tekanan yang diberikannya bisa dengan mudah membuat sebuah kesalahan kecil menjadi besar, binatang yang ganas.

Sosoknya yang sudah lama tidak muncul, Great Spirit yang mungil melayang di tengah ruangan, menatap Subaru. Ekspresinya serius, itu tidak disangka, dan kata-katanya penuh dengan penghinaan.

[Puck: Sebagai kaki tangan dari penjahat yang memiliki tubuh itu, kau pantas mendapatkan sepuluh ribu kematian – Penyihir]

Ruangan yang sempit dibanjiri oleh niat membunuh yang dingin. Menghembuskan napas putih, wajah Wilhelm menjadi kaku saat dia menyaksikan Puck dengan niat seperti itu lalu membentuk tombak es.

[Wilhelm: Roh …… itu artinya, Emilia-sama …]

[Puck: Lia tidak sadarkan diri. Sesuai dengan kontrak, aku yang akan memutuskan tindakanku sendiri sekarang. Penyihir tidak akan diampuni. Aku akan melindungi Lia. ―― Orang yang membuat Lia menangis, aku tidak akan memaafkan pria ini]

[Wilhelm: Tunggu! Bertarung di sini sekarang hanya akan-]

[Puck: Sumpahnya telah rusak, dan hati Lia sudah membeku. ――Sekarang, sudah saatnya aku mengakhiri ini]

Mengabaikan protes Wilhelm, niat membunuh Puck terus meningkat.
Kabut putih memenuhi ruangan, semua mulai membeku, menandai awal kematian dari segalanya. Dunia yang bahkan dapat membekukan nafas sekalipun, rasa permusuhan Puck diarahkan pada Subaru seorang.

Kepala Subaru miring kesamping, menatap Puck untuk pertama kalinya.
Hampa, mata yang kosong menatap Puck yang sedang mengambang, namun tiba-tiba, kelopak matanya bergerak.
Kemudian,

[Puck: ――――]

Dia terkekeh.

Mayat Subaru memutar wajahnya, dan tertawa saat melihat Puck.
Penuh kebencian, sudah tidak dikenali, seringai mengejek.

{Subaru: ―――― berhenti}

Melihat ini, kesadaran Subaru menyerukan untuk berhenti sebelum malapetaka terjadi.
Tapi seruannya tidak didengar.

Puck mengangkat kaki kecilnya, dan ketika dia menurunkannya, ia memunculkan es di dalam ruangan, sudah dipastikan itu akan menelan mayat Subaru. Bayangan melonjak dari bawah Subaru untuk memukul balik serangan, dengan gejolak Mana yang merusak ruangan sempit itu, dengan cepat Wilhelm dan Ferris menghindar dari gejolak pertarungan itu―― terlalu menakutkan dan suara keras dari es yang membeku, mendengar suara itu, seolah dunia diliputi oleh warna putih dan hitam dari keputusasaan, disaksikan di hadapan mata Subaru, telah mengubur segalanya.

{Subaru: ―――― !!}

Lalu tiba-tiba, seolah kekuatan itu telah hilang, dunia kehilangan warnanya.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

[Subaru: ―――― Pffu]

Rasa sakit di wajahnya ketika menghantam tanah mendorong kesadaran Subaru untuk terbangun.

Rahangnya menghantam lantai yang lembab, mengeluarkan air mata karena rasa sakit yang menyengat saat dia menggelengkan kepalanya.
Dan, segera mengangkat wajahnya, dia dengan cepat mengamati sekitar. ――Tidak ada yang mati

[Subaru: Aku-aku … di dalam Makam ……]

Udara dingin dan ruang gelap, kelembapan lantai dan aroma jamur dan bau busuk — dia pasti berada di dalam Makam.
Setelah mengkonfirmasi hal ini, Subaru membuka dan menutup tangannya untuk memeriksa bahwa tidak ada yang salah dengan anggota tubuhnya. Nafasnya yang gemetar mulai membaik, saat ia menghembuskan nafas panjang dari paru-parunya untuk memaksa dirinya tenang.
Tapi rasa gemetar dari tubuhnya tidak mau hilang.

[Subaru: Sebuah mimpi …… banyak hal yang tidak disangka. Tapi,……]

Apa-apaan itu tadi?
Setelah dipaksa menyaksikan hal seperti itu, Subaru mulai menilai situasinya.
Pertama-tama, tidak diragukan lagi, itu adalah “Kejadian Setelah Kematian Subaru”.

Jeritan Emilia saat melihat mayat Subaru, Wilhelm dan Ferris berusaha mati-matian untuk menyelamatkannya―― dan yang terakhir adalah mimpi buruk, pertarungannya.
Bagian pertama mengukir bekas luka di hati Subaru, sementara bagian kedua menenggelamkan dirinya dalam kebingungan dan tak dapat dipahami.

[Subaru: Uu, ghu――]

Sambil mengingatnya, Subaru membungkuk, memegang pinggangnya yang dipenuhi rasa sakit sementara isi perutnya terbuang ke lantai.
Itu disebut muntahan, tetapi dia belum makan malam ini. Apa yang keluar adalah cairan kuning dan beberapa teh yang diminumnya beberapa jam sebelumnya.
Dia mengulang gerakan muntah ini dengan mengencangkan perutnya karena rasa sakit yang menuntut tubuhnya.

Saat mengulangi ini, lagi dan lagi, Subaru mulai menyadari keadaan situasinya.

Di dalam Makam, jika dia tidak dipanggil ke Benteng Mimpi Echidona, maka hanya ada satu tempat bagi kesadarannya yang terpisah dibawa.

[Subaru: Apa mungkin … itu adalah Ujian [Trials]? …… Bukan masa lalu … tapi Ujian yang kedua ……!?]

Setelah melewati Ujian yang pertama, di mana dia harus menghadapi masa lalunya, Ujian kedua telah dimulai.
Menyadari kemungkinan ini, Subaru berdiri di sana, tertegun.

Memang, bagi Subaru, sudah beberapa hari sejak dia lulus Ujian pertama. Tapi itu hanya untuk jiwa yang sebelumnya, sedangkan untuk tubuh dan untuk dunia sekarang ini, itu terjadi beberapa waktu yang lalu. Dengan kata lain, dia seharusnya tidak memenuhi syarat untuk melakukan Ujian kedua.

Jika Ujian dimulai, maka ada yang tidak beres. Dan yang lebih penting, menurut Echidona,

[Subaru: Dia bilang itu tidak akan sama menyakitkannya dengan Ujian menghadapi masa laluku ……]

――Jika apa yang dilihat Subaru benar-benar merupakan bagian dari Ujian, maka bahkan hanya untuk menggores permukaannya saja, dia sudah merasa seperti akan menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

Adegan itu, bagi Subaru, bahkan lebih buruk dari Neraka.
Subaru telah melihat Neraka berkali-kali sebelumnya. Dia sadar akan hal itu.
Jika itu berarti meraih masa depan yang sesempurna mungkin, maka dia siap untuk menyaksikan sebanyak mungkin Neraka.

――Tapi, untuk masuk lebih dalam dari Neraka, menyadari dunia yang bahkan lebih buruk dari Neraka, itu…

{Menyaksikan, sesuatu yang seharusnya tidak terjadi}

[Subaru: ―――― Kn!?]

Dalam menghadapi pengalaman mengerikan itu, dia bingung untuk tetap bertahan atau mundur, Subaru mendengar bisikan di telinganya.
Ketika tubuhnya menegang karena shock―― sensasi dari kesadarannya yang memudar tiba-tiba muncul.

Menahan tubuhnya yang akan jatuh dengan lengan, tetapi itu tidak dapat menopang dirinya, dia pun pingsan dengan bahu jatuh kelantai.
Dia mencoba mengangkat wajahnya yang sedang berupaya untuk tetap sadar, tetapi baik kelopak mata maupun lehernya tidak bisa menahan kekuatan tak terlihat itu dan saat itupun dia langsung terseret ke jurang yang dalam.

――Ujian, lubang neraka terdalam, sekali lagi menyambut Subaru.

{――――}

Ketika dia membuka matanya, Subaru menyadari dirinya berada di padang rumput, tempat di mana pedang Julius telah memot0ng tengg0rokannya―― dan dia pun dipaksa untuk menyaksikan dosa-dosanya sekali lagi.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded