Re:Zero Arc 4 Chapter 71.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

[Translator : Scraba]

Di hadapan may4t yang kepal4nya h4ncur, seorang gadis muda berlutut.

Setelah jatuh dari ketinggian seperti itu, tidak mungkin tubuh manusia dapat bertahan dari benturan tanpa hancur. Rambut hitamnya, bersamaan dengan isi kep4lanya, berceceran di tanah, mekar seperti bunga kematian yang merah.

{――――}

Sensasi dari kesadarannya yang tiba-tiba beralih tempat tidak mengejutkan lagi.
Dia sudah menduga ini saat kesadarannya dipisah dengan paksa.
Tapi apa yang tidak dia duga adalah pemandangan yang akan disajikan kepadanya ketika kesadarannya terbangun—

[???: Mengucapkan omong kosong, hingga akhir…… tidak ada … yang bisa ……]

Mati karena jatuh, tubuh Subaru tergeletak di tanah. Berdiri di sampingnya, orang yang mengucapkan itu, dia adalah seorang gadis dengan rambut berwarna merah ―― Ram.
Penampilan Ram yang biasanya sempurna terlihat kebingungan, dan kesedihan serta robekan yang dapat terlihat di ujung seragam pelayannya. Wajahnya, yang selalu terlihat tanpa ekspresi, sekarang terlihat emosi dan marah.

Itu bukan karena kesedihan atas kematian Subaru―― itu lebih tepat dikatakan kemarahan.
Ram dengan kasar menggaruk kepalanya, dan berbalik.

[Ram: Jadi, apakah ini semua sesuai dengan apa yang anda rencanakan, Beatrice-sama? Anda menghalangi saya supaya dia bisa ……]

[Beatrice: ――――]

Tepat saat dia mulai melontarkan tuduhannya, wajah Ram berubah kaku saat dia berhenti di tengah kalimatnya.
Karena apa yang terpantul dari matanya yang berwarna merah muda, adalah Beatrice yang sedang berlutut di samping mayat Subaru. Tidak mau mengotori gaunnya, gadis itu hanya duduk di sana di tanah―― sementara Ram menatapnya dengan ragu, melihatnya seperti ini.

[Ram: Beatrice-sama ……]

[Beatrice: ――kenapa]

Dia dengan lembut bergumam.
Tidak peduli dengan keberadaan Ram, Beatrice dengan sepenuh hati terus menatap Subaru yang mati.
Air mata mengalir dari sudut mata birunya, bahkan Subaru bisa melihatnya.

――Beatrice menangis.
Saat kematian Subaru.

Fakta itu seperti menancapkan pisau rasa bersalah ke dalam hati Subaru.
Merasakan kedalaman dari matanya yang tidak ada karena memanas disebabkan rasa sakit dihatinya, dia ingin berlari kearahnya, gadis mungil itu, dan mengatakan sesuatu, atau apa saja kepadanya.

Namun dia tidak memiliki kaki, tangan, dan mulut untuk melakukannya.

[Beatrice: Kau … bukan, orang itu …… aku tahu itu …… tapi ……]

Wajahnya yang tanpa ekspresi, Beatrice berbicara pelan seakan bingung sementara tetesan air mata terus mengalir.
Dihadapan sosok yang hatinya sedang hancur itu, Ram menyerah untuk mencoba mengatakan lebih jauh. Dia menghela nafas, dan mengalihkan tatapan sinisnya ke tubuh Subaru, dan kepalanya, menadah keatas dengan sudut yang berlebihan.

[Ram: Omong kosong … Mencintai kami– kau benar-benar tidak bisa diselamatkan]

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

{Menyaksikan, Keberadaan yang tidak seharusnya}

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

Seolah udara membeku, putih, kabut dingin menyelimuti dunia.

Hutan yang membeku hancur karena hembusan angin, dan, tidak dapat mempertahankan keberadaan mereka di lingkungan yang minim dengan Mana ini, semuanya berubah menjadi serpihan.
Pepohonan, jalan, makhluk hidup, dan dunia, semua berubah menjadi putih, disapu oleh badai dari partikel kristal, karena Akhir Yang Putih perlahan melahap bumi.

{――――}

Kali ini, Subaru menyaksikan akhir dunia.
Mencerminkan kehampaan yang dipenuhi warna putih yang merupakan kesadarannya, dunia menunggu dalam dingin dan penuh harapan.
Kecuali,

[???: ――Jadi, akhirnya kau datang]

Suara yang suram, menggetarkan atmosfer saat dia bicara, merupakan salah satu perjanjian.
Dengan cepat, mengikuti arah dentuman yang memekakkan telinga itu, disebabkan gempa yang terjadi karena makhluk besar yang terjatuh hingga memberi bekas pada area itu. Pohon-pohon tersentak dan roboh, hancur berkeping-keping bagaikan bongkahan es ketika hutan itu dibuat rata dengan tanah.

Salah satu yang meratakan hutan beku itu adalah makhluk berkaki empat, mirip seperti kucing yang dilapisi bulu abu-abu.

Setengah dari gigi monster itu rusak, sementara kabut putih keluar dari celah taringnya yang seperti pedang. Roboh kesamping, mata emasnya yang berkilau berbalik untuk melihat sesuatu yang ada didepannya.
Dan, dengan gemetar,

[Binatang: Sungguh memalukan…… aku tahu ini akan terjadi, tapi aku tidak bisa mengubah apa pun]

[???: ――Kurang lebih aku paham apa yang telah terjadi. Memang, itu sangat disesalkan]

Binatang itu berbicara, bukan untuk menyesali kekalahannya, namun hanya menerima kenyataan. Dan, itu adalah suara yang sangat jelas dan elegan saat menjawab.
Di dunia yang sudah berakhir itu, suaranya seperti tidak merasa sedikitpun penderitaan atau kehilangan kekuatan. Berdiri tegap, dengan rambut merah yang berkibar ditiup angin, adalah sosok pemuda bermata biru.

[Pemuda: Emilia-sama dan Subaru tidak lagi ada di dunia ini, apa aku mengerti?]

[Beast: Lia sedang tertidur, untuk selamanya. Keberadaanku didunia ini tidak ada artinya tanpa anak itu. Dan aku, setelah gagal melindungi anak itu, sama bersalahnya dengan lelaki itu—]

[Pemuda: Jadi karena alasan itu, kau akan menghancurkan dunia?]

[Beast: Aku tahu bahwa aku akan dihalangi. Tapi melakukannya adalah sumpahku]

Apa yang terhunus didepan cakar itu, adalah baja berkilau yang menunjuk ke moncong binatang itu , Puck, dalam bentuk aslinya, sementara, sambil memegang itu, Si Pedang Suci Reinhard dengan perlahan menggelengkan kepalanya.
Apa yang tampak dimatanya, adalah dukacita yang dalam, dan penuh kesedihan.

[Reinhard: Aku mengerti penyesalanmu. Dan aku merasakan hal yang sama. Tapi itu bukan berarti kau dapat dengan kejam melampiaskan penyesalan itu kepada negeri ini. Tindakanmu, dan sumpahmu akan membawa kekacauan ke dunia ini. ――Dan aku tidak akan pernah mengizinkannya]

[Puck: Karena itu tidak adil?]

[Reinhard: Ya, karena itu tidak adil. ――Aku penegak Keadilan. Pedang yang memperbaiki kesalahan. Karena itulah, aku akan membunuhmu di sini. Great Spirit-sama]

Meskipun ukuran tubuh mereka berbeda jauh, perbedaan kekuatan mereka terlihat jelas.
Bahkan Puck, dalam wujud yang sebenarnya, gagal mengalahkan Reinhard yang sedang mengeluarkan ekspresi santai, berdiri dihadapan napas Puck yang sekarat. Hanya dengan menebaskan pedangnya yang terulur, pedang Reinhard akan membelah sosok roh itu menjadi dua.
Dengan mengeluarkan Aura seorang pendekar pedang yang menggelegar, Reinhard dengan keras menyatakan fakta itu.

[Puck: ――kh]

Suara itu membuat Reinhard mengerutkan alisnya.
Bahkan kesadaran Subaru yang tidak memiliki tubuh merasakan sesuatu yang mirip dengan kebingungan dalam emosinya.

Singkat dan agak samar, sulit untuk menyadari suara apa itu.
Sulit, karena itu sangat sulit untuk percaya apa yang dia dengar.

[Puck: Kh, kheheh …… haha, hhahaha!]

[Reinhard: ――Apanya yang lucu?]

Dengan tenggorokannya gemetar, dan diambang kematian, wajah Puck menjadi aneh saat dia tertawa.
Bahkan dengan nyawa dan kematiannya yang berada di tangan orang lain, dan setelah aksinya dihalangi, Puck tertawa. Tidak dapat memahami maknanya, Reinhard menanyakan pertanyaan itu.
Tapi Puck sepertinya merasa reaksinya bahkan lebih lucu.

[Puck: Apa yang lucu? Itu lucu, tentu saja itu lucu. Reinhard, kau …… tidak, apa yang mungkin diketahui pemula ini?]

[Reinhard: …………]

[Puck: Aku ingat sekarang. Bagaimana itu seharusnya. Butuh waktu cukup lama untuk memahaminya. Dan, setelah memahaminya, ketika aku rasa kau masih tidak tahu, itu sangat lucu, aku tidak bisa menahan diri]

Ada sesuatu yang berbeda tentang nada dan volume pernyataan itu, tidak seperti Puck biasanya.
Bagi Subaru, yang memiliki banyak kenangan bersama Puck dalam bentuk kucingnya, ini adalah pertama kalinya dia mendengar kebencian seperti itu didalam kata-katanya.

Ini berbeda dengan kebenciannya terhadap Subaru dan Petelgeuse setelah Emilia terbunuh. Pada saat itu, Puck masih Puck yang biasa.
Kali ini, tawa yang diarahkan pada Reinhard tidak seperti apa yang pernah dilihatnya dari Puck sebelumnya, tetapi sesuatu yang berbeda――

[Reinhard: …… Aku akan memastikan bahwa tidak ada lagi korban. Jika kau ingin membenci seseorang, maka bencilah aku]

[Puck: Aku tidak membencimu, Reinhard. Kau adalah seorang pahlawan. Dan seorang pahlawan memiliki peran yang harus dilakukan. Aku tidak kesal atau menyalahkanmu karena mengikuti apa yang kau yakini]

[Reinhard: ――――]

[Puck: Kau adalah pahlawan, Reinhard. ――Seorang pahlawan, itulah dirimu]

Pada akhirnya, dia mengucapkan kata-kata yang dipenuhi rasa dengki.

Setelah ucapan itu, Reinhard mengangkat pedangnya di atas kepalanya, dan dengan sebuah cahaya yang keluar dari pedangnya―― cahaya yang berasal dari tepi pedangnya, sebuah panas yang hebat melesat keluar.
Membelah udara, menebas atmosfir dan menghancurkan bumi, pusaran dari gelombang Mana memotong segalanya yang ada digaris lurus area tempat pedangnya diayunkan―― dan, ketika cahaya mulai menghilang, dunia terbelah dihadapan Subaru yang tak memiliki tubuh.

[Reinhard: ――――]

Ketika pengakhiran dengan tebasan pedang yang luar biasa, dunia yang diselimuti oleh putih dan angin yang dingin telah terlahir kembali.
Dunia yang terbelah itu juga kembali semula, ketika pusaran mana memudar menjadi butiran, dan kembali ke atmosfer. Dari dunia yang hancur itu, bunga bertunas dan mekar. Udara yang masuk dipenuhi dengan kehangatan, saat sinar matahari muncul dari langit yang terbelah.

Serangan dari Pedang Suci secara bersamaan membawa akhir dan kelahiran bagi dunia.
―― Sementara binatang raksasa yang dihantam oleh serangan itu menghilang tanpa jejak.

Tidak dapat dipercaya, padahal baru beberapa saat yang lalu dia disini, tubuh yang sangat besar itu lenyap, dan tidak ada indikasi bahwa dia masih hidup.

{――――}

Dengan nada yang melengking, Reinhard mengembalikan Pedang Ksatrianya kedalam sarung.
Angin membelai rambut merahnya, Reinhard menyipitkan matanya saat dia melihat ke langit sambil menghembuskan nafas yang hampir tidak terdengar.

[Reinhard: ――Felt-sama pasti akan sedih]

Dia bicara dengan pelan, lalu menutup matanya.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

{Menyaksikan, Keberadaan yang tidak seharusnya}

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

{Menyaksikan, Keberadaan yang tidak seharusnya}

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

{Menyaksikan, Keberadaan yang tidak seharusnya}

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

{Menyaksikan, Keberadaan yang tidak seharusnya}

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

{Menyaksikan, Keberadaan yang tidak seharusnya}

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

{Menyaksikan, Keberadaan yang tidak seharusnya}

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

{Menyaksikan, Keberadaan yang tidak seharusnya}

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

{Menyaksikan, Keberadaan yang tidak ―― }

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded