Re:Zero Arc 4 Chapter 72.1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

[Translator : Scraba]

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Suruh Mbak Google Baca”]

Akhir yang Buruk

――Berapa kali lagi hatiku harus hancur sebelum aku bisa dimaafkan?

[???: Dan itu sudah berakhir …… ini benar-benar pekerjaan yang merepotkan]

Di dalam gudang yang gelap, menatap ke bawah pada tiga mayat yang tenggelam dalam lautan darah, si cantik berjubah hitam sedikit memiringkan kepalanya.
Bahkan dalam adegan yang dipenuhi darah ini, membuktikan kehebatannya dalam memastikan dirinya tidak tersentuh oleh setetes pun darah, dengan jalan pikir yang aneh membuatnya tidak terpengaruh dengan pembantaian itu.
Tidak diragukan lagi, inilah yang mereka sebut monster dalam bentuk manusia.

Melangkah di lantai yang tergenang oleh darah, monster itu memandang mayat yang tergeletak dengan penuh hasrat.
Seorang pria tua raksasa dengan satu tangan yang terputus dan darah yang sudah mengering di kepalanya. Seorang gadis muda berambut hitam dengan sempurna memotong perutnya, setelah mati menggeliat saat usu5nya berserakan keluar.
――Dan, seorang gadis berambut perak, yang ditebas menjadi dua, dari bahu kiri hingga kebagian kanan pinggangnya.

――Sudah berapa kali dia bertarung dan berjuang hanya agar dia tidak harus menyaksikan adegan seperti ini?

[???: Dalam menjalankan tugas, ini memang hal yang buruk… apa-apaan sebenarnya semua ini.]

Sambil memegang bibir merahnya dengan jari, monster itu dengan santai membuat gumaman penasaran. Menggantung di tangannya yang lain, sebilah pisau, berdarah, bengkok— Pisau Kukri miliknya.
Sambil mengayunkan senjata yang baru saja merenggut tiga ―― tidak, empat nyawa sekaligus dirumah penjarah itu, monster bernama Elsa tersenyum lebar.

[Elsa: ――Aya]

Elsa memiringkan kepalanya, dan dengan ringan melompat ke belakang.
Segera, sebilah es menusuk ke lantai tempat Elsa berdiri. Diikuti rentetan suara tembakan es, mengejar langkah Elsa dengan cepat.

[Elsa: Ini ……]

[????: Beraninya kau]

Dihadapan Elsa yang sedang menghindar, titik-titik cahaya redup berkumpul di ruang kosong saat sosok roh yang kecil terbentuk.
Roh kucing yang mengambang ―― Ekspresi Puck sangat menakutkan, sementara suaranya yang andogini bergetar karena amarah.

*angrogini : suara cowo mirip cewek 

[Puck: Kau akan menyesal telah merenggut nyawa Lia――]

[Elsa: Ah, jadi gadis itu …… adalah seorang Pengguna Roh. Luar biasa… aku belum pernah membuka isi perut roh sebelumnya. –Meskipun]

Menghadapi Puck yang siap bertempur yang dikelilingi oleh tombak es yang mengambang, ekspresi Elsa menunjukkan rasa senang. Tapi, sebelum meningkatkan kewaspadaannya, dia menyipitkan sebelah matanya,

[Elsa: Kenapa kau tidak muncul sebelum anak itu mati? Roh dan Pengguna Roh seharusnya menjadi satu tim―― sayang sekali jika aku tidak dapat menikmati pengalaman lengkapnya]

[Puck: Cukup dengan omong kosongmu, pembunuh. ――Jika aku tidak terikat karena kontrak, aku…]

Puck menggelengkan kepalanya dengan ekspresi kesal.
Dia memamerkan taringnya, menunjukkan tangan kecilnya kearah Elsa,

[Puck: Aku tidak punya niat untuk mengobrol denganmu. Aku akan membekukanmu, dan membiarkan jiwa Lia beristirahat. Setelah membunuhmu, aku juga akan menghancurkan Kerajaan, dunia, kemudian Naga dan sang Penyihir. Semuanya]

[Elsa: Hhaa ~, menakjubkan―― Aku akan menikmati ini!]

Elsa melompat, merangkak di sepanjang dinding dan langit-langit seperti laba-laba. Dengan posturnya yang ramping sebagai target, es itu melesat dengan cepat, menusuk dinding rumah penjarah dan membekukan atmosfer, seraya jeritan nyaringnya terdengar di udara.
Seluruh pandangannya tertutup oleh awan putih, sampai tidak ada yang bisa dilihat.

Tangan mereka yang saling berpegangan bukanlah hal yang kebetulan, antara mayat Subaru dan Emilia. Tidak sama sekali.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

――Berapa kali aku harus dikhianati oleh dunia ini sebelum dapat dihargai?

[Rem: Saya hanya mencegah situasi agar tidak menjadi lebih buruk. Saat saya menemukannya, keadaan Subaru-kun sudah tidak dapat diselamatkan lagi. ――Dia berharap dapat turun dengan cepat]

[Emilia: Jadi, …… begitulah … kejadian yang mengerikan ini… terjadi. Apa itu yang ingin kau katakan … Rem? Subaru adalah orang yang baik kepadaku, dan ada begitu banyak hal yang ingin kami bicarakan … dan kau …]

Dia mendengar kata-kata bertengkar dari dua gadis yang dicintainya.
Suara yang satunya memanggil Subaru dengan penuh kasih dan kesedihan yang mendalam.

Dan suara yang lain, ketika dia berdiri dengan ekspresi kemalangan, betapa seringnya, betapa sabar, betapa memohon, dan betapa manisnya, dia (He)berharap disentuh oleh suara itu.

Gadis berambut biru dan gadis berambut perak itu berhadapan satu sama lain, ketika atmosfir yang bergejolak mengalir ke seluruh ruangan.
Itu adalah tempat bersantai yang ada di Mansion, keduanya duduk di kedua sisi meja, dan situasinya seperti akan meledak.

===

[Roswaal: Baiklah sekarang, Emilia-sama tidak boleh terbawa emosi ju~~ga. Pertama-tama, kita harus mendengar apa yang dikatakan Rem, bukankah begitu?]

[Emilia: Roswaal …… apa kau mengerti apa yang telah terjadi di sini? Rem …… pelayanmu, telah menyebabkan … ke… matian… bagi penolongku… dan tamumu … Subaru]

[Roswaal: O ~~ tentu saja saya mengerti. Itu~~lah kenapa saya …… ingin percakapan ini dapat diselesaikan. ――Kita tidak boleh membiarkan adanya kesalahpahaman diantara kita.

Roswaal menyipitkan mata kuningnya ketika dia menjawab. Kemudian, badut itu mengalihkan tatapannya ke arah Rem, yang duduk di sampingnya. Merasakan pandangannya, Rem mengangguk,

[Rem: Ketika tengah malam disayap timur mansion …… ada penyusup yang berada ditingkat Emilia-sama. Mengetahui ini karena adanya alarm permata, Rem segera pergi ke tempat kejadian, dan saat itulah saya menemukan Subaru-kun merangkak di lantai]

[Ram: Barusu sudah di bawah pengaruh kutukan saat itu]

[Rem: Ya, itu seperti yang One-sama katakan. Subaru-kun melemah ketika diambang kematiannya. Efek kutukan telah melemahkan daya hidupnya hingga kebatas memprihatinkan, dan saya beranggapan bahwa tidak mungkin untuk menyelamatkannya lagi ……]

[Emilia: Jadi kau menghancurkannya dengan senjatamu hingga mati. ―― Itu hanya menambah penderitaannya]

[Ram: Emilia-sama――]

Sambil memegang tangan Rem di sisinya, Ram melotot tajam ke arah Emilia. Tapi pandangan tajam dan tak henti-hentinya Emilia tetap terkunci pada Rem,

[Emilia: Itulah faktanya. …… Tubuh Subaru, lengannya, dan kepalanya … Jika kau ingin membuatnya keluar dari penderitaannya, seharusnya ada jalan yang lebih lembut. Sebaliknya, kenapa kau …]

[Rem: Itu, karena……]

[Emilia: …………]

Rem tidak bisa menjawab pertanyaan Emilia.
Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, mungkin karena kepribadiannya yang tidak dapat berbohong, dan kata-kata Emilia telah menyentuh inti dari motif yang sebenarnya.

Rem telah memendam rasa ketidakpercayaan terhadap Subaru saat itu.
Setelah putaran kematian yang kedua ketika di Mansion―― karena gagal menyembunyikan mayat Subaru setelah menghancurkannya hingga mati di lorong, membuatnya jatuh pada situasi perdebatan seperti sekarang ini.
Melihat percakapan Subaru yang bersahabat dengan Ram membuatnya semakin diracuni oleh rasa permusuhan, hingga ia tidak bisa lagi menahan niat membunuhnya.

―― Apa yang sebenarnya dia pikirkan ketika mengayunkan besi itu ke arah Subaru di lantai atas Mansion?

Mungkin Rem sendiri tidak tahu itu.

[Emilia: ――Apa karena tanganmu tidak sengaja melakukannya … atau karena kau meragukannya …… itulah jawaban yang ingin aku dengar …]

[Rem: ―――― hg]

Dengan mata tertutup, Emilia dengan sedih bergumam ketika wajah Rem terangkat.
Tidak jelas seberapa tertekan perasaan Rem ketika Emilia mengatakan itu. Dan itu akan selalu, selamanya tetap tidak akan jelas.

[Roswaal: Emilia-sama, mau kemana anda?]

Melihat Emilia berdiri, menepuk keliman roknya, ekspresi Roswaal berubah ketika dia menanyakan pertanyaan ini kepadanya.
Mendengarnya, Emilia menyibakkan rambut peraknya yang panjang dengan tangannya,

[Emilia: ――Aku akan pergi. Walaupun hanya sebentar, tapi terima kasih atas keramahanmu selama ini. Tanpa dukungan darimu, aku tidak akan dapat berpartisipasi dalam Seleksi Kerajaan. Tapi …… aku tidak bisa mempercayaimu lagi]

[Roswaal: Bahkan jika Anda tidak mempercayai kami, tentunya hubungan yang saling menguntungkan ini tetap berjalan, bukankah begitu? Kehilangan posisi anda hanya karena luapan amarah bukanlah keputusan yang bijak]

[Emilia: Luapan amarah ……?]

Mendengar ucapan Roswaal, Emilia berhenti di tempatnya karena ekspresinya yang menegang karena terkejut. Kemudian, dia segera menoleh kearah Roswaal, dan,

[Roswaal: ――――]

Tidak ada yang bisa menghentikan suara tepukan itu untuk berbunyi.
Jari-jarinya yang putih menampar keras di pipi badut Roswaal.
Di depan pipinya yang memerah dan membengkak, tamparan itu membuat Emilia kehabisan nafas. Orang yang telah ditampar tidak bereaksi, tetapi malah menahan Ram saat dia akan berdiri dengan corak kulitnya yang berubah.

[Roswaal: Ram]

[Ram: Tapi, Roswaal-sama――]

[Roswaal: Tidak apa-apa. Kau duduk saja. Emilia-sama, saya minta maaf atas perilaku Ram]

[Emilia: Kau selalu seperti ini denganku …… tapi ketika itu Subaru … kau bahkan tidak akan mengatakan apapun ……]

Menggigit bibirnya, Emilia menatap Roswaal yang terlihat tenang. Tapi meskipun kemarahan yang meluap tampak dari kedua matanya yang seperti permata, Roswaal tidak kehilangan ketenangannya bahkan untuk sesaat.
Itu adalah bukti bahwa mereka sudah tidak dapat didamaikan.

[Roswaal: Setelah anda meninggalkan Mansion, dan kembali ke hutan ―― apa yang akan anda lakukan?]

[Emilia: Aku salah karena telah terperdaya oleh ucapanmu. Ini adalah penebusan dosaku …… penebusan dosa bagiku akan muncul dalam banyak bentuk lainnya. Itu karena kesalahanku… sehingga Subaru mati]

Emilia menutup matanya, dan dengan pelan menjawab pertanyaan Roswaal.
Kemudian, dengan sedikit menggoyangkan kepalanya,

[Emilia: Aku akan membawa jiwanya bersamaku, dan membaringkannya untuk beristirahat di hutan. ――Untuk Subaru dan yang lainnya, seberapa lamapun itu, aku akan mencurahkan waktuku untuk menjaga jiwa mereka. Hanya itu yang dapat aku katakan]

Dengan ini, Emilia mungundurkan dari Roswaal, menunjukkan bahwa dia tidak punya niat untuk melanjutkan percakapan.
Rambut peraknya bergoyang saat dia membalikkan punggungnya, sementara Roswaal menyaksikan dengan matanya yang tidak serasi (beda warna). Masih duduk di kursinya, dia mengulurkan tangannya ke arah sosok yang pergi itu―― tetapi meletakkan tangannya kembali.

[Roswaal: Jika itu menyimpang dari yang tertulis, maka …… inilah akhir bagi~~ku]

[Ram: Roswaal-sama ……]

Mendengar gumaman lesu dari Roswaal, Ram menumpahkan suara kekhawatiran saat dia meraih tangannya. Badut itu melirik kembali tatapan khawatir gadis itu, sementara senyum lemah muncul di wajahnya,

[Roswaal: Ram, sepertinya kau memenangkan taruhan~~nya. Di sinilah tujuanku terhenti …… dengan kata lain, kontraknya telah terpenuhi sekarang]

[Ram: …… ya. Ya, Roswaal-sama]

Menghiraukan percakapan mereka dalam diam, Emilia terus berjalan menuju Rem, yang berdiri untuk membuka pintu. Sebelum melewatinya, dia menatap kearah Rem yang sedang membungkuk,

[Emilia: Bawa aku ke tempat Subaru]

[Rem: Emilia-sama, kalau itu ……]

[Emilia: Dia dalam keadaan yang buruk, aku tahu. Aku akan memulihkan keadaannya sebanyak yang aku bisa … dan membawanya bersamaku … ke hutan]

Menyaksikan sisi wajah sedih Emilia, ekspresi Rem berubah kaku saat dia menundukkan kepalanya. Dalam ekspresi itu ada sesuatu seperti penyesalan, dan juga sesuatu seperti kemarahan.
Kenapa harus seperti ini, dia pasti bertanya-tanya.

――Kenapa semuanya harus seperti ini? Tidak ada yang tahu jawabannya.

[Emilia: Maafkan aku, Subaru―― Aku tidak bisa melakukan apa-apa]

Emilia berbisik disaat-saat terakhir.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded