Re:Zero Arc 4 Chapter 72.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

[Translator : Scraba]

Berapa kali aku harus dipukul oleh kebodohanku sendiri sebelum aku bisa mengerti?

[???: DESU, DESU! DESUDESUDESUDESU, DESU !!]

Suara nyaring yang memekakkan telinga itu bergaung.
Terlihat dengan arogan, mulut yang lebar, meneteskan air liur dari bibir dan meraba-raba rambutnya yang panjang dan merah, seorang wanita muda melolong.
Perilaku menjijikkan wanita ini, matanya yang merah dan membelalak, serta postur gila yang dia ambil tidak seperti manusia.

[Wanita: DEMI CINTA! UNTUK CINTA! DALAM CINTA! OLEH CINTA! PEMBAYARAN ATAS CINTA! SEMUANYA! DESU! AAH! OH PENYIHIR! O PENYIHIR YANG TERCINTA! TEMPAT PELABUHAN BAGI CINTAKU!]

Jatuh berlutut, dengan kedua tangannya membentang ke langit dan air mata yang mengalir dari matanya, wanita itu memuji cintanya.
Di sekeliling wanita yang gila itu, mayat yang terendam dalam lautan darah. Tubuh yang tercabik-cabik, kep4la yang sudah hancur, terbaring mayat yang tak terhitung jumlahnya.
Di tengah mereka, adalah tubuh seorang pemuda berambut hitam, tenggor0kannya ditu5uk oleh pedangnya sendiri.

Darah membasahi setiap sudut desa, karena setiap anggota ekspedisi sudah tergeletak, itu artinya mereka sudah mati.
Aset mereka yang paling kuat, si Pedang Iblis, gugur ketika dalam melakukan penyergapan, yang sudah direncanakan.
Dan sisanya dihabisi oleh “Tangan tak terlihat”, sebuah rantai kematian yang tidak henti-hentinya sampai mereka semua mati.

[Wanita: MEMENUHI KERAJINANKU! APA INI YANG DISEBUT PEMBERSIH KEMALASAN, JIKA ITU BUKAN TUJUAN CINTAKU! DESU! AAAH! PUJAANKU, KEPERCAYAANKU, CINTAKU YANG TAK TERGOYAHKAN! TERIMALAH INI! TERIMA INI! MUNGKINKAH ITU BERADA DIDEKAPAN ANDA ―― DESU !!]

Mengungkapkan cintanya, air mata mengalir, wanita itu menyalak di tengah tumpukan mayat, pikirannya dikuasai oleh monster, Petelgeuse Romanée-Conti.
Setelah dilenyapkan oleh tim penyelamatan Subaru dalam satu gerakan, meski kehilangan penganutnya, orang gila itu terus menyatakan cintanya.
Kapan–

[???: Apa… yang terjadi?]

Seorang gadis yang terengah-engah bergumam saat dia berlari menyusuri jalan kecil dari desa.
Dengan tidak sabar menyingkirkan rambut perak yang menempel di kepalanya, dia mengamati dengan kedua matanya pada pembantaian itu. Mata Emilia melebar pada orang-orang desa yang tergenang oleh lautan darah, dan menyadarinya.

[Emilia: Suba .. ru?]

Tergeletak di pusat pembantaian, adalah pemuda yang dikenalnya dengan baik.
Emosi apa yang terlintas di benaknya saat ini? Perasaan di mata yang melebar itu terlalu kompleks, sehingga tidak ada seorang pun, bahkan dirinya sendiri, yang bisa memahaminya.
Hanya saja, bibir Emilia gemetar, saat dia,

[Emilia: kenapa, …… Subaru, tidur di …… huh?]

[Puck: Lia――! Ini buruk, itu adalah Pemuja Penyihir! Salah satu Pendosa …… kenapa, kenapa harus sekarang!?]
*Tepatnya dosa kemalasan/ Sin of Sloth

Ekspresi Emilia yang terkejut hingga tidak dapat menerima kenyataan. Sebagai gantinya, Puck terbang dalam keadaan yang sangat panik.
Terbang mengelilingi Emilia sambil menatap pada Petelgeuse, berdiri sendirian ditengah pembantaian itu, mata bulatnya yang hitam dipenuhi tanda bahaya dan permusuhan.

[Puck: Lia! Sekarang, sekarang juga! Pergi dari sini sekarang! Kau …… tidak harus bertemu dengan si Uskup Pendosa! Ujian [Trials] akan segera dimulai! Jika kau memaksakan dirimu, ini akan berakhir mengerikan!]

[Emilia: Puck ……?]

[Puck: Aku baru ingat, akhirnya aku ingat! Bajingan itu … bertemu dengan bajingan itu akhirnya membuatku ingat! Kenapa aku sampai lupa …… dan ada begitu banyak hal yang masih belum bisa aku ingat …… kecuali, aku tidak bisa mengingat jika semuanya tidak seperti ini …… ]

Menghadap ke arah langit, Puck merentangkan tubuh kecilnya sebisa mungkin, dan menjerit.

[Puck: ITU TIDAK SEPERTI YANG KAU BILANG―― ECHIDONA !!]

Penuh dengan frustrasi dan kebencian, teriakan itu bergema saat Puck terengah-engah, lalu menggelengkan kepalanya. Sementara itu, Emilia terdiam dihadapan rekannya yang terlihat aneh.
Setelah mendengar jeritan itu, orang gila itu perlahan berdiri tegak.

[Petelgeuse: Baik, baik …… betapa senangnya BERTEMU DENGANMU! DESU!]

Sambil memiringkan badannya, Petelgeuse dengan kasar menarik rambut merahnya yang panjang, sekuat tenaga menariknya dan saat itu pula darah mulai merembes keluar dari kulit kepalanya.
Menyaksikan tindakan melukai diri ini, rasa takut dan menjijikan terlihat dari mata Emilia.

[Petelgeuse: Aku Uskup Agung Pemuja Penyihir Dosa dari, Kemalasan―― Petelgeuse Romanée-CONTI … DESU!]

Orang gila itu tertawa, suaranya mengguncang atmosfer.
Lalu, orang gila itu melolong dengan memiringkan tubuhnya saat ia mengamati Emilia yang membatu dari kepala hingga kaki, seolah dia menjilati seluruh tubuh Emilia dengan pandangannya,

[Petelgeuse: …… Luar biasa, desu]

Dia mengeluarkan ucapan kagum itu.
Suara tepuk tangan. Petelgeuse bertepuk tangan, mengarahkan tepuk tangannya kepada Emilia.

[Petelgeuse: Luar biasa … desu! SOSOK YANG SANGAT SEMPURNA UNTUK MENJADI WADAH! WAJAH YANG BEGITU MENGINGATKAN PADA PENYIHIR KETIKA DIA MASIH HIDUP! karena kau sudah menyiapkan wadah yang begitu indah, tidak perlu lagi BERDEBAT! DESU! UJIAN! UJIAN UNTUK MENENTUKAN APAKAH GEN DARI PENYIHIR DAPAT DITANAM!]

[Puck: Diam, orang gila! Satu langkah saja kau mendekati anak ini! Aku akan membuatmu menyesal――! Sangat Menyesal!]

[Petelgeuse: Dalam menghadapi cinta, rasa sakit dan ketakutan adalah persembahan yang pantas untuk dikorbankan…… ucapanmu tidak memberiku alasan untuk berhenti, desu]

Puck menghadang Petelgeuse yang mengoceh dengan mengancam, tetapi orang gila itu tampak menghiraukannya. Terus menyeret setiap langkahnya, perlahan-lahan mendekat, sementara Puck terlihat gemetar, tidak dapat melakukan apapun.

[Puck: Kena..pa. Kenapa, ini harus menjadi momen ketika aku …… tidak, itu salah. Aku ingat sekarang. Itu salah. Ya, itu salah, itu salah! Itu salah! Aku …… aku, aku]

[Emilia: Puck! A-apa yang harus aku …… apa yang harus aku lakukan !? A-aku …… dan Subaru … dengan dia yang ada disana ……]

[petelgeuse: UJIAN! JIWA YANG RAJIN INI TELAH DIPILIH DESU! SEBUAH WADAH YANG AKAN DIISI, AKAN DICAMPUR DENGAN JIWA YANG DISUNTIKKAN DESU! ISINYA, TIDAK DIBUTUHKAN ―― DESU!]

Emilia dengan putus asa memanggil-manggil Puck, yang memeluk kepalanya. Sementara Petelgeuse terus berjalan menuju sepasang orang yang kebingungan itu.
Menyaksikan Petelgeuse membuat gerakan aneh dengan jari-jarinya dan menjilati bibirnya, suar peringatan terdengar di dalam diri Emilia.
Saat melihat matanya yang penuh kegilaan, Emilia tersentak, dan, dengan suara yang tercekik,

[Emilia: tidak …… aku takut, ayah …… h]

Dia merintih, berharap kepada seseorang.
Meminta bantuan dengan suara yang begitu pelan sehingga tidak ada yang bisa mendengarnya.

Petelgeuse sepenuhnya mengabaikan ini ketika dia mengulurkan tangannya ke arah Emilia. Tentu saja, tangan yang diulurkan itu, merupakan Otoritas dari Kemalasan , Tangan yang tidak terlihat.
Tangan itu mencapai tubuh Emilia yang membatu, dan mencekiknya――

[Puck: ――Jauhkan tangan kotormu itu dari putriku !!]

===

Setelah itu, dinding es yang sangat padat dan tinggi muncul di depan Emilia.
Memisahkan mereka berdua, dinding itu terus membesar.

Dalam sekejap, bahkan Petelgeuse, dengan Tangan tak terlihatnya yang memanjang, dipaksa untuk mundur.

[Petelgeuse: Itu――!]

[Puck: Akhirnya aku ingat yang paling penting dari semuanya …… Untuk melindunginya, kontrak dan batasan, aku sudah tidak peduli lagi. Hal berharga yang telah membuatku terikat … sekarang, akhirnya aku ingat]

Mendengar tanda keraguan dalam suara Petelgeuse, kucing kecil yang mengambang diudara dengan tenang menyatakan itu.
Aura kebingungan itu telah lenyap, ketika roh itu melototi orang gila itu dari atas.

[Puck: Aku ingat sekarang, kenapa aku menjadi seperti ini. Itu adalah untuk melindungi putriku— jika harga untuk melakukan itu adalah sebuah batasan … … si bedebah itu …]

[Emilia: Puck ―― a]

Emilia mengulurkan jari-jarinya ke arah Puck yang penuh sesal, ketika mulutnya tak mampu berucap.
Di dadanya, ada kristal yang bersinar dengan cahaya hijau. Itu adalah tempat jiwa Puck berada, batu berharga yang mengikatnya dan Emilia bersama.
Tapi tiba-tiba, tanpa disentuh sedikitpun, batu itu hancur menjadi debu.

[Emilia: Apa …… kenapa …… !?]

[Puck: Aku …… Aku telah melanggar batasannya, dan akan ada konsekuensinya. Mungkin ini sudah diramalkan sejak awal …… tapi tetap saja]

Berbalik, Puck melayang didepan mata Emilia.
Kerlip keraguan dapat terlihat dari mata Emilia. Tapi, Puck menatapnya dengan ekspresi dari seseorang yang memandang sesuatu yang berharga dan dicintainya.

[Puck: Lia, ini adalah perpisahan――]

[Emilia: ken……]

[Puck: Perjanjiannya telah rusak. Aku tidak bisa terikat dengan tubuh ini lagi. Aku ingin tetap berada disisimu, tapi ini juga merupakan bagian dari harga yang harus dibayarkan. –Maafkan aku]

[Emilia: Tidak, tidak, Puck …… semuanya… semuanya menghilang …… Subaru… dan …… semuanya … menghilang! Puck … jika kau meninggalkanku juga …… aku … aku akan sendirian …… Aku tidak … ingin … untuk …]

Seperti anak yang sedang merengek, Emilia memohon dengan air mata yang mengalir dari matanya.
Puck menggunakan ekornya yang panjang untuk menyeka air mata itu, dan dengan lembut mencium ujung hidung gadis yang menangis itu.

[Puck: Jangan mengatakan hal seperti itu, dan dengarkan baik-baik. Masih ada Ram di Mansion. Betty juga ada. Jika perlu, kau dapat mengandalkan Betty. Anak itu … tidak akan pernah menolakmu. Meskipun, itu agak kejam bagiku untuk meminta hal ini langsung padanya]

[Emilia: Aku …! Puck, selain dirimu, aku tidak punya siapa-siapa ……]

[Puck: ――Pergilah sekarang. Orang yang paling aku sayangi, Emiliaku tersayang, yang paling kucintai]

[Emilia: Tung――]

Sebelum Emilia bisa mengatakan sesuatu, tubuh Puck yang kecil mendorong dahinya dengan keras.
Tidak dapat menahan kekuatan yang tak terduga itu, tubuh Emilia terpental ke belakang―― dan seketika, sosok yang bertubuh ramping itupun menghilang,

[Emilia: Ap――]

Dalam sekejap, sosok Emilia menghilang dari desa.

――Menyaksikan adegan ini sampai akhir, Puck menghebuskan nafas yang panjang.

[Puck: Maaf karena memaksamu melakukan ini, Beatrice]

Puck berterima kasih kepada orang yang membantunya dalam penghilangan mendadak itu.
Kemudian, dia berbalik, dan melihat Petelgeuse, yang telah menatapnya,

[Puck: Kau hanya duduk di sana dan memperhatikan …… kau cukup sopan untuk seorang fanatik agama]

[Petelgeuse: Rasanya seperti jika aku melakukan sesuatu, kau akan menghancurkanku dalam sekejap, desu. Bagaimanapun, itu akan sama saja setelah aku pergi menuju Mansion, desu. Tidak ada gunanya menginjak ekor harimau … desu]

[Puck: Aku mengerti. Kau mungkin terlihat gila, tapi ternyata kau sangat bijaksana. –Sampah]

Setelah mengucapkan itu, Puck terbang di atas dinding es ke arah Petelgeuse.
Bahkan Petelgeuse tidak melakukan sesuatu yang bodoh seperti menggunakan Tangan tak terlihatnya untuk menghentikan itu.
Kemudian, mereka saling berhadapan dengan sedikit jarak diantara mereka,

[Puck: Tidak ada waktu lagi. ――Cepat dan ayo kita mulai, agar semua ini berakhir. Sisanya … akan aku serahkan pada adik kepercayaanku]

[Petelgeuse: Ada yang aneh dengan dirimu, desu. Bagi seorang roh, baumu seperti manusia]

[Puck: ――Ya, kurasa memang begitu]

Puck menggosok-gosokkan tangan kecilnya ke hidung pinknya dengan senyuman sinis.

[Puck: Aku mungkin terlihat seperti ini sekarang, tapi tubuhku ini dulu pernah sedikit lebih tinggi, dan wajahku juga agak tampan. Ketika putriku semanis itu, bukankah itu wajar?]

[Petelgeuse: …… Aku sulit memahamimu, desu]

[Puck: Yah, tidak apa-apa. Aku tidak berharap kau untuk mengerti …… karena kau akan mati di sini]

Mengatakan ini, Puck mengarahkan tangannya ke arah Petelgeuse saat tubuhnya mulai berubah menjadi putih.
Dia kehabisan mana, dan kehilangan kemampuannya untuk tetap berada dalam kondisi tubuh sekarang ini. Mungkin, ini sebagian karena ikatannya dengan Emilia yang telah terputus, dan sebagian lagi karena ia telah melanggar batasan yang telah disebutkan sebelumnya.
Lalu, tubuhnya mulai memudar――

[Puck: Sebelum aku menghilang, aku akan melenyapkanmu terlebih dahulu. Tidak disangka teman matiku adalah seorang fanatik agama. Menjijikan]

[Petelgeuse: Aku ingin bilang, desu, bahkan jika kau menghancurkan tubuh ini, bukan berarti kau dapat memb–]

[Puck: Aku juga akan membekukan jiwamu. ――Jika aku melakukan itu, kira-kira apa yang akan terjadi ya?]

Seringai kepercayaan diri di wajah Petelgeuse seperti membeku.
Melihat mata orang gila itu yang melebar, Puck tersenyum, sebuah senyum kebahagiaan,

[Puck: Aaah―― sekarang aku jadi ingin melihat wajah seseorang, bodohnya]

Dalam sekejap, bersamaan dengan tubuh roh yang mulai memudar, pancaran cahaya putih pun meledak, dan――

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

――Dipaksa untuk menyaksikan akhir dunia satu demi satu, Subaru terbaring jatuh di tanah.

Dia tidak bisa lagi mengatakan di mana dia sekarang.
Apakah ini kenyataan, atau apakah dia berada didalam mimpi? Mungkinkah itu mimpi buruk? Dan jika itu adalah mimpi buruk, apa dia akan dibebaskan begitu saja?
Apakah itu semua hanya kemungkinan? Ataukah itu semua adalah dunia yang benar-benar ada? Mungkinkah itu cuma khayalan yang diciptakan oleh pikiran Subaru? Jika demikian, lalu bagaimana dia menjelaskan informasi yang sebelumnya yang tidak dia diketahui yang terkandung di dalamnya?
Apakah dunia itu lahir dari khayalan? Apakah realitasnya saling bergantian? Yang mana pun itu, hati Subaru sangatlah tersiksa.
Begitulah, dan sekarang dia tidak bisa berdiri maupun mengangkat kepalanya, atau melakukan apa saja.
Dan —

[Rem: Apa kau tidak bisa berdiri lagi? Subaru-kun?]

Dia mendengar seseorang di sisinya, dengan lembut mengetuk hatinya dengan kata-kata itu.
Dia pikir itu adalah suara seseorang yang dia cintai.

[Subaru ――――]

Air mata yang seharusnya tidak lagi mengalir membasahi pipi Subaru.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded