Re:Zero Arc 4 Chapter 73 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

[Translator : Scraba]

Tempat kelemahannya berada

――Sudah berapa lama sejak terakhir kali dia mendengar suara itu?

Kenyataannya, Rem tidak tidur selama itu.
Hanya sekitar seminggu: rentang waktu yang biasanya dihabiskan sendirian tanpa teman ataupun keluarga. ――Tapi Subaru tidak bisa berpikir seperti itu.

Bagi Subaru, yang selalu mengorbankan nyawa dan waktunya, rentang waktu bukanlah masalah baginya. Menurut jam yang ada didalam jiwanya, rentang waktu yang jauh lebih panjang telah berlalu sejak terakhir kali suara itu masuk ketelinga dan hatinya.

[Rem: ――Bangun, Subaru-kun, aku akan lebih senang jika bisa melihat wajahmu]

Kata-kata itu menghujani dari atas saat dia berbaring tengkurap di tanah.
Kasih sayang yang lembut dan hangat yang terkandung di dalam suara itu dengan cepat memenuhi dada Subaru dengan kehangatan, dan menanamkan didalam kekeringan, ruang kosong didalam hatinya dengan kehangatan yang membara.
Semua ini, hanya dengan satu kalimat yang dibisikkan oleh suara lembut itu.

―― Sudah berapa banyak kekuatan yang dia berikan padanya?

[Subaru: …… Kau bercanda]

[Rem: Tidak, ini bukan lelucon]

[Subaru: Kau tidak bisa berada di sini]

[Rem: Kalau kau mau, Subaru-kun, aku akan selalu berada di sisimu]

[Subaru: Setiap kali ada hal penting yang harus kulakukan … kapanpun aku merasa seperti ini …… rasanya kau selalu datang padaku …… bagaimana mungkin … semua kebetulan ini ……]

[Rem: Yah, aku selalu ingin menjadi gadis yang kebetulan selalu berada disisi Subaru-kun]

Dengan suara terisaknya, dia menumpahkan rengekan menyedihkan itu.
Tapi suara yang menjawab itu tidak memandang rendah dirinya, atau mengabaikannya.
Karena dia tahu.

Tahu bahwa, Subaru itu lemah, tidak berdaya, begitu rapuh sehingga dia tidak bisa hidup tanpa ada sesuatu untuk dipegang, selalu kurang percaya diri, dan terus-menerus merasa ragu.
Namun demikian, gadis itu mengatakan kepada Subaru yang lemah ini bahwa dia mencintainya.

[Subaru: ――Rem]

[Rem: Ya. Ini Rem nya Subaru-kun]

Dia mengangkat kepalanya.
Karena air mata, warna biru memenuhi matanya.

Dengan kasar menyeka matanya dengan lengan yang kotor, menghapus air matanya, dia melihat.
Sosok gadis yang berdiri di depannya.

Sosok Rem yang dicintainya.

[Subaru: Rem ……]

[Rem: Ya, Rem. Pelayan yang selalu mengulurkan tangan ketika Subaru-kun sedang membutuhkannya]

[Subaru: k, au ……]

Sedikit memiringkan kepalanya, Rem menjawab dengan sedikit nada bercanda.
Tepat sebelum dia bisa mengatakan sesuatu tentang sikap Rem, dia merasakan udara dengan tenang merembes keluar dari paru-parunya. Dengan suara keras, beban yang berat di dadanya seperti jatuh ke tanah.
Nafasnya sudah lebih ringan, dan jeritan kecil yang ada didalam kepalanya pun menghilang.

Karena begitu mudah, begitu mudahnya, Subaru membisu.
Dia mengira dirinya sudah putus asa dan terjebak, namun, setelah melihat sosok gadis ini berdiri di depan matanya, dia dengan mudah melepaskan semua itu.

[Subaru: Kau luar biasa, Rem ……]

[Rem: Terima kasih. Subaru-kun juga luar biasa]

Sambil tersenyum ketika berbicara, percakapan mereka sama sekali tidak seperti biasanya.
Merasa senang saat percakapan itu, semua yang dia tahan selama ini dia lepaskan hingga menjadi air mata yang berjatuhan.
Sementara dia tergeletak ditanah, menatap dengan matanya, Rem sedang berlutut di hadapannya,

[Rem: Apa kau baik-baik saja? Apa kau merasa lelah?]

[Subaru: Entah… lah…… mungkin aku … lelah …… tapi tidak ada … yang terselesaikan]

Di dunia yang tiada akhir ini, Subaru yang telah menderita tanpa mendapat satu jawaban pun. Dia tidak bisa bilang kalau dirinya lelah.
Tidak sementara orang lain lebih menderita. Tidak sementara orang lain bertahan lebih lama. Kenapa orang lain harus menderita bersamanya? ―― Jawabannya sangat jelas.

[Subaru: Itu karena diriku terlalu lemah]

[Rem: ――――]

[Subaru: Karena aku memiliki banyak kekurangan]

[Rem: ――――]

[Subaru: Kalau saja aku lebih kuat, lebih pintar, dan sedikit lebih berguna …… mereka tidak akan harus menderita, berduka, atau terluka seperti ini …….]

Jika Subaru cukup kuat untuk melakukan segala sesuatu sendiri, maka tugasnya untuk menghibur hati Emilia yang hancur dimasa lalu, mengurangi kesedihan selama 400 tahun kesendirian Beatrice, menyelamatkan Petra dan Frederica dari pembunuh, melindungi orang-orang di Tempat Suci dari ancaman Great Rabbit, dan dapat mencapai pemahaman dengan Garfiel yang berusaha mengusir orang luar――semua akan ditimpakan padanya.

Segalanya, semuanya, setiap aspeknya, adalah kesalahan Subaru.
Maka, untuk mengatasi kelemahannya sendiri, Subaru harus membersihkan jiwanya dan mulai mencobanya lagi.
――Atau begitulah yang dia pikirkan, namun,

[Subaru: Pada akhirnya …… apakah aku… tidak menyelamatkan siapapun?]

[Rem: Subaru-kun]

[Subaru: Jika dunia tetap berlanjut setelah kematianku, lalu berapa banyak … berapa lama… berapa banyak orang …… yang aku tinggalkan ketika mati?]

[Rem: Subaru-kun]

[Subaru: Sudah berapa kali aku membiarkanmu mati? Berapa kali aku harus … membunuhmu sampai semua ini cukup?]

[Rem: ――Subaru-kun]

Gemetar karena rasa takut yang melonjak dari dalam dirinya, Subaru mengoceh mengakui dosanya.
Mengeluarkan semua itu dari bibirnya, dia hanya ingin segera dihukum atas kejahatannya. Sebelum dia menghancurkan hatinya sendiri menjadi debu, dia ingin seseorang, siapa pun, untuk melaksanakan hukuman untuknya.
Dia ingin seseorang berteriak pada idiot ini yang berjanji untuk tidak membuat kesalahan lagi namun tersandung pada langkah pertamanya ketika berada dijalan yang salah, untuk menghajar orang bodoh sepertinya ini.

[Subaru: ――――]

――Tetapi permohonan Subaru itu dijawab oleh pelukan yang lembut, pelukan hangat.

[Subaru: Re, m]

[Rem: Tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja, Subaru-kun]

[Subaru: Tapi, tidak ….. tidak ada …… yang baik-baik …… saja]

Tidak ada. Subaru tidak berhasil melakukan apa pun.
Jika Subaru menyerah sekarang, tidak ada yang akan diselamatkan sama sekali. Banyak orang yang akan menemui ajalnya. Termasuk Rem, orang yang benar-benar harus diselamatkan Subaru.
Karena hanya dia yang berhak untuk menghukum Natsuki Subaru, orang yang tidak memadai, penuh kekurangan, dan sangat lemah ini.

[Subaru: Kau seharusnya …… disisiku ……!]

[Rem: ――Aku mencintaimu]

Dia menekankan dahinya pada Subaru, dan membisikkan kata-kata penuh cinta itu.

===

[Subaru: ――――]

Tidak ada satu kata pun yang lolos darinya.
Tidak ada yang bisa dia katakan.

Begitu dekat, matanya yang biru menatap langsung ke mata Subaru.
Dia bisa tenggelam dalam keharuan yang terdapat dari kedua mata itu.

[Rem: Aku mencintaimu, Subaru-kun. ――Dan juga, semua baik-baik saja]

[Subaru: I,tu …… bukan jawaban ……]

[Rem: Ya, benar. Itu alasan aku di sini. Alasan aku memaafkan Subaru-kun. Alasanku memegangmu sekarang – semua karena hal itu]

Cukup dekat untuk merasakan napas masing-masing, senyum Rem dengan lembut menggenggam hati Subaru seperti tangan yang tak terlihat.
Dia tidak bisa bergerak. Bahkan tidak ada kedutan. Mencoba meraih punggungnya, tangannya yang lembut menggenggam keliman pakaian Subaru, erat, erat, begitu erat seolah menyatu menjadi satu, dia memeluknya dengan erat.

[Rem: Itu pasti sulit ya, Subaru-kun]

[Subaru: ――――]

[Rem: Sendirian, menerima semua rasa sakit itu sendirian …… itu pasti sulit, Subaru-kun]

[Subaru: ―――― hg]

[Rem: Kau tidak perlu menanggung semua kesedihan itu lagi, tidak apa]

Tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk menjawabnya, Subaru dengan putus asa berusaha mencegah agar tidak berlinang, sementara bisikan Rem yang manis terus berlanjut.
Dengan hati-hati menyelesaikan kekusutan hatinya, dan meneguhkan hatinya.

[Rem: Semua rasa sakit, kesedihan, dan kelemahan Subaru-kun, semuanya, Rem akan menanggungnya untukmu]

[Subaru: …………]

[Rem: Semua yang Subaru-kun ingin lindungi, perjuangkan, dan ingin dicapai …… serahkan semuanya padaku]

[Subaru: …………]

[Rem: Kau tidak perlu lagi untuk menanggung setiap beban. ―― Kau dapat menyerahkan semuanya padaku Untuk saat ini, istirahat saja, dan tidurlah]

[Subaru: …… Aku, aku]

[Rem: Dan biarkan aku melihat Subaru-kun yang aku cintai sekali lagi]

Rem meletakkan tangannya di pipi Subaru dan mengangkat wajahnya, menatap langsung ke arahnya.
Bibirnya yang mengetat, seakan ragu, saat dia mendekatkan wajahnya.
Apa yang dia lakukan? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bahkan kesadaran Subaru yang tersisa mengerti itu.

Begitu dekat, cukup dekat untuk merasakan napasnya, bibir gadis cantik itu mendekat.
Tidak masalah jika mereka saling melengkapi, dapat terjalin, tenggelam, larut, dan bersatu bersamanya, bukankah begitu?

――Tak peduli apa yang benar dan salah, Rem akan memaafkannya, bukankah begitu?

Seberapa dalam ucapan manis Rem meresap ke dalam hati Subaru?
Emosinya yang tidak karuan, jiwanya, entah itu karena penderitaannya atau bukan sehingga muncul pertolongan, bersama dengan keseluruhan keberadaan Subaru ini sekali lagi diselamatkan oleh gadis yang sangat mengenal dirinya.

Untuk Subaru yang tak berdaya ini, Rem mengulurkan tangan untuknya.
Terhadap Subaru yang rapuh ini, Rem memberikan dukungannya.
Subaru yang berada dijalan yang penuh kebodohan ini, Rem dengan senang mengambil tangannya dan menawarkan diri untuk menunjukkan jalannya.

Tanpa malu, melekat, dan begitu bergantung padanya— apakah dia akan dituntun pada sebuah jawaban?
Apa gunanya, ketika kau berjuang sendirian?

Diri yang sudah rapuh, kehilangan tempat bertumpu, tidak yakin lagi ke mana harus melangkahkan kakinya, mungkin dia harus, menyerah, akan segalanya, dan meninggalkan semua ――

{Menyerah itu mudah}

[Subaru: ――――]

{Tapi,}

[Subaru: ――――]

{――Hal itu tidak cocok untukmu, Subaru-kun}

Dia mendengar suara yang berbicara.

[Rem: ――Subaru-kun?]

Bingung, Rem bertanya dihadapannya.
Itu wajar saja, karena sebelum bibir mereka bisa bertemu, sebuah tangan ditempatkan di antara bibir mereka.

Sensasi manis dari lidah yang melilit yang seharusnya telah dia rasakan, sementara ada sedikit keraguan, kilau ketidaksenangan berkerlip dimata Rem.
Melihat kilap keraguan ini melalui celah di antara jari-jarinya, Subaru berbicara.

[Subaru: ――Siapa kau?]

[Rem: Huh――?]

[Subaru: Aku bertanya padamu. Siapa kau?]

[Rem: Subaru-kun, kenapa kau …… bertanya siapa, aku ……]

Dihadapkan pada pertanyaan Subaru yang tenang, tenggorokan Rem tampak sesak, tidak bisa berbicara.
Tampak redup, rasa ketidaksenangan semakin terlihat dari matanya, karena ekspresinya tampak semakin dipenuhi oleh kesedihan. Bagaimanapun, itu seperti merobek hati Subaru karena melihat ini.
Untuk mengalihkan perhatiannya dari perasaan ini, dia menekan tangannya ke dada dan memperlihatkan giginya.

[Subaru: Ketika aku …… putus asa dan berada ambang kehancuran, aku benar-benar berharap bahwa seseorang, siapa pun, dapat membantuku… dan ketika aku merasa itu tidak mungkin, dan hendak menyerah …… aku benar-benar berharap, kau akan datang kepadaku]

[Rem: ――――]

[Subaru: Jika kau ada di sana, kau akan menghiburku, membuatku nyaman, meskipun aku duduk di sana sambil memeluk lututku … aku percaya itu]

[Rem: ――――]

[Subaru: Sama seperti sekarang ini, kau mendengar rengekanku, membiarkanku mengeluarkan semua rengekanku, melihatku menangis sampai air mataku kering …]

[Rem: ――――]

[Subaru: ――Dan kemudian, kau memintaku untuk bangkit]

Sentuhan lembut dari jari-jarinya, kehangatan kulitnya, dan keluasan cintanya, Natsuki Subaru bisa mengingat itu semua.
Maka, dia bisa mengatakan, tanpa keraguan―― bahwa Rem yang ada dihadapannya sekarang ini adalah palsu.

[Subaru: Dia tidak akan pernah mengatakan “Beristirahatlah sekarang”]

[Rem ――――]

[Subaru: Dia tidak akan pernah mengatakan “Menyerah, dan serahkan semuanya padaku”]

[Rem: ――――]

[Subaru: Gadis yang mencintaiku, dan yang dicintai olehku, yang baik hati kepadaku, yang rela berkorban untukku―― orang yang ketat dan orang yang keras kepala terhadapku dari siapa pun yang ada di dunia ini, ITULAH Rem!]

Sambil melompat berdiri, Subaru menyalak saat dia menjauh dari Rem yang ada di depan matanya.
Masih dalam posisi berlutut, Rem menengadah ke Subaru tanpa sepatah katapun. Bahkan sekarang, dia merasa seperti akan tenggelam dalam kesedihan yang terdapat pada ekspresi wajahnya karena penolakan Subaru barusan.

[Rem: Tidak, kau salah. Subaru-kun, dengarkan aku! Aku … bukan itu yang aku maksud. Hanya saja, aku tidak tahan melihat Subaru-kun yang menderita seperti ini …… itulah sebabnya … aku hanya ingin kau melupakan rasa sakitmu dan beristirahat, itu saja!]

[Subaru: Aku akan membiarkanmu melihat kelemahanku. Aku akan membiarkanmu melihat kekuranganku. Aku akan membiarkanmu melihat betapa tidak berdayanya aku, bajingan tidak berguna sepertiku ini. ――Namun aku tidak akan pernah membiarkanmu melihatku menyerah]

“Subaru adalah pahlawan”, itulah yang dikatakan Rem kepadanya.
Maka, Natsuki Subaru telah memutuskan untuk menjadi pahlawan Rem.

Sejak mereka saling berjanji akan hal itu, Subaru telah memutuskan――
―― Bahwa dalam kehidupan ini, di dunia ini, satu-satunya tempat di mana Natsuki Subaru akan menunjukkan kelemahannya, adalah dihadapan Rem.

Hanya di hadapan Rem, yang meskipun mengetahui kelemahan Subaru dan masih mengharapkan dirinya untuk menjadi lebih kuat, tanpa sadar dia memperlihatkan kekurangannya.
Bukan Emilia, bukan Beatrice, dia tidak akan membiarkan siapa pun melihatnya kecuali Rem.

[Subaru: Kelemahanku hanya milik Rem. Dia menerima dan melindungi kelemahanku, dan sebagai gantinya, aku akan menahan semua niat untuk menyerah, dan tidak akan pernah melakukannya.]

[Rem: ――――]

[Subaru: Dasar si palsu sialan. ――Dan jangan mencoba untuk menghiburku dengan memakai wajah dan suara Rem!]

Dengan tegas menyatakan ini, Subaru menghadapkan tinjunya kearah Rem―― pada penipu itu.

===

Dihadapan pernyataan Subaru, dia tidak mendengarkan kata-katanya. Terus menundukkan wajahnya, dengan perlahan, dia berdiri,

[???: T-tapi itu, bukan …… apa, yang dia, beritahukan …… padaku?]

[Subaru: ah ……?]

Memiringkan kepalanya dan mengayunkan rambutnya yang biru, penipu itu mulai bicara.
Mendengar ini, Subaru mengeluarkan suara keraguan――
[Subaru: ――――]

Di depan matanya, gambaran dari gadis itu tampak kabur karena sosok Rem berubah dengan samar.
Badai dari televisi yang buram ketika tengah malam menenggelamkan penglihatannya, dan, setelah adegan pemalsuan itu, sekarang ada orang lain yang berdiri di tempat yang sama. 

――Seseorang yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Rambut pink nya teruntai hingga keseparuh punggungnya, sikapnya yang tampak lembut — atau lebih tepatnya, pemalu. Roman dari gadis itu sangat menarik, tetapi tidak ada sesuatu yang membuatnya tampak luar biasa indah. Itu lebih ke sesuatu yang biasa, kelucuan yang biasa.

Mengenakan jubah putih dengan lengan panjang, tangannya bersembunyi di dalam lengan bajunya saat dia memegang pipinya, menatap Subaru dengan gugup.

[Subaru: Siapa kau ……?]

[Camilla: Aku-aku adalah Penyihir Nafsu …… Camilla … kau tahu? Senang bertemu … denganmu]

Mendengar jawaban gadis itu―― Camilla, Subaru dengan spontan menelan nafasnya.
Dia menyebut dirinya sendiri sebagai “Penyihir Nafsu”. Itu artinya,

[Subaru: Jadi ruang aneh yang tak dapat dijelaskan ini … berada di dalam mimpi Echidona?]

[Camilla: Ya … dan tidak …… aku rasa. Echidona-chan, menyaksikan, Ujiannya…… dan Ujian itu sendiri, adalah, semacam, mimpi … mm …… yeah]

[Subaru: Itu tidak ada artinya, tapi tidak, bahkan sebelum itu ……]

Cara bicara Camilla semakin mengganggu pikiran Subaru. Secara alami, melihat tatapan Subaru yang semakin intens, Camilla segera mulai menggigil dan memeluk kepalanya.

[Camilla: T-tolong jangan pu …… pukul aku ……]

[Subaru: Aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Aku tidak akan, tapi …… apa yang kau coba lakukan sebelumnya?]

[Camilla: Sebelum …… nya?]

[Subaru: Muncul di depanku, pura-pura menjadi Rem! Apakah itu kekuatanmu!?]

Semua Penyihir yang memiliki nama dari sebuah dosa tampaknya memiliki semacam Otoritas khusus.
Tidak terkecuali untuk Penyihir Nafsu, dia pasti memiliki Otoritas juga. Jika perubahan sebelumnya adalah Otoritasnya, maka――

[Subaru: Yah, aku kira dibandingkan dengan apa yang Penyihir lain bisa lakukan, perubahan adalah kemampuan yang cukup berguna …]

[Camilla: Aku-aku tidak, ber-berubah …… meskipun, Aku-aku, hanya, melihat, kepadamu, seperti orang, lain …… k-karenanya …… kau akan melihat, seseorang yang ingin kau lihat… itu saja?]

[Subaru: apa?]

[Camilla: M-Maksudku …… Aku, bahkan tidak ingin, bertemu denganmu … E-Echidona-chan, memintaku, untuk melakukannya …… dan berbohong, padaku, dan juga ……]

Perkataan Camilla membuat Subaru semakin kesal.
Cara dia berbicara, cara dia mengubah tatapannya, dan cara dia memandang rendah setiap kali dia merasakan tatapannya, semua membuatnya kesal. Nada rengekan itu, dan keluhan merajuk itu, apa itu masalah baginya?
Bukan hanya ucapannya yang tidak jelas, dia bahkan tidak menyadari bahwa dia sudah menginjak sesuatu yang sangat disayangi oleh Subaru.

Menjengkelkan. Semakin jengkel. Dia ingin berteriak padanya supaya dia mengerti.

[Subaru: Kau …… apa kau tahu apa yang baru saja kau lakukan ……?]

[Camilla: Echidona-chan, dia ……b-bilang, aku hanya harus sedikit……memanjakan, mu dan semuanya akan baik-baik saja …… bahkan, meskipun …….. aku tidak mau, aku bilang begitu padanya]

[Subaru: Dengarkan aku …… !!]

[Camilla: S-semuanya …… bersekongkol untuk memilih, memilih diriku…… seperti ini. Echidona-chan juga, melakukannya. Kalian semua, sangat …… sangat jahat]

[Subaru: AKU BILANG DENGARKAN AKU DULU ―― !! ??]

Menjerit, Subaru merasakan seluruh udara yang keluar dari paru-parunya saat dia meneriakan itu. Dia merasakannya, tetapi kemarahan yang membara bergejolak melalui tubuhnya sehingga menghapus pikiran itu dari kepalanya.
Kekurangan nafas tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kejengkelan yang dirasakannya saat ini.
Dia ingin sekali menyumpal mulut yang tersendat-sendat, tergagap-gagap, rengekan, dan meledakkannya dengan seluruh kemarahan dan kesedihan yang ada di dalam dirinya sehingga dia mengerti apa yang telah dia lakukan.

[????: ――Yang lebih penting lagi, hidupmu akan dalam bahaya]

[Subaru: ―――― gh !?]

Saat itu, Subaru mendengar suara berbisik di telinganya, membuatnya tersadar.

Pada saat yang sama, rasa sakit karena kekurangan oksigen hingga menghantam dirinya dengan rasa sesak nafas, bersama dengan rasa kering dari mata yang terus terbuka lebar.

[Subaru: Aa――a, aah?]

[????: Itu adalah tindakan yang tegas, tapi aku senang melihatmu kembali. ―― Saat menghadapi Camilla, “Dewi Tanpa Wajah” dari Dosa Nafsu, orang akan cenderung lupa untuk bernafas. Bahkan hingga jantung mereka berhenti berdetak]

[Subaru: Egha, ghpt …… hha, hhaa]

Meludahkan air liur karena tersedak, setelah jatuh berlutut dengan tangan dan kakinya, kesadaran Subaru terus menyala.
Namun suara itu telah memasuki telinganya, itu artinya suara itu sudah sampai kedalam otaknya.
Dan begitu, Subaru menyeka bibirnya dengan lengan bajunya saat dia melihat ke arah orang yang menjadi dalang dibalik lelucon ini, dan, memamerkan giginya,

[Subaru: Apa yang sebenarnya kau rencanakan―― Echidona]

Orang yang ditatap oleh Subaru dengan penuh kebencian, Si Penyihir berambut putih dengan lembut membelai rambutnya, dan dengan sendirinya meletakkan sikunya di atas meja,

[Echidona: Bukankah sudah jelas? ――Aku Penyihir. Tentu saja aku merencanakan sesuatu yang jahat]

Dia berkata sambil tersenyum.

 

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded