Re:Zero Arc 4 Chapter 74 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

[Translator : Scraba]

Rencana dan Usulan Penyihir

Terengah-engah karena nafas yang sesak, Subaru terlambat menyadari bahwa tangannya sudah berada di padang rumput yang hijau.
Dari tanah tempat tubuhnya berpindah, naik aroma rumput yang tebal yang menyengat hidungnya. Seperti padang rumput yang bermandikan sinar matahari setelah hujan, aroma alam dengan lembut membungkus seluruh tubuhnya.

Dia menoleh, dan melihat Echidona tepat di hadapannya.
Dia, seperti biasa, berada di bukit kecil di tengah dataran, duduk di kursi bersama dengan mejanya, menunggu tamu pesta tehnya yaitu―― Subaru.
Seperti biasa. ――Ya, seperti biasanya.

[Echidona: Aku yakin ada banyak hal yang ingin kau katakan dan tanyakan padaku …… tapi pertama-tama, bagaimana kalau kita duduk dan minum teh dulu?]

[Subaru: …… Mengingat apa yang baru saja kau lakukan padaku, apakah kau pikir aku akan duduk dengan sopan di kursi itu … dan ikut bersama dalam pesta tehmu?]

[Echidona: Ya. Dibandingkan dengan kehilangan kendali karena naluri dan kemarahan yang tidak masuk akal, kau adalah tipe orang yang lebih mungkin untuk membungkus dirimu dengan perhitungan yang rasional. Sekarang, daripada menjauhkan diri dariku, akan lebih berguna jika kita saling ngobrol …… bukankah itu kesimpulan yang ada dalam hatimu?]

[Subaru: ――――]

Dihadapkan dengan Subaru yang sedang berusaha menekan kemarahannya, sikap riang Echidona tetap tidak terpengaruh.
Memanggil dia dari atas, seolah mengejek gertakan Subaru yang terlalu jelas, kata-kata itu menjadi benar ketika Subaru tidak bisa menyangkalnya.
Kecuali, hal yang diinjak itu tidak penting baginya sehingga dia memilih mengabaikannya saja.

[Subaru: Echidona …… katakan saja padaku kalau kau tidak bermaksud begitu]

[Echidona: Hm?]

[Subaru: Baru saja …… trik yang digunakan si Penyihir Nafsu, katakan padaku kau tidak bermaksud itu terjadi. Katakan padaku, bahwa kau membuat kesalahan, coba katakan itu]

[Echidona:. ………]

[Subaru: Katakan bahwa itu tidak bisa dihindari. Katakan bahwa kau tidak mengantisipasinya, dan seharusnya tidak terjadi seperti itu. Coba katakan. Jika kau mengatakan itu padaku … Aku tidak akan menyalahkanmu untuk itu]

Apa yang dikatakan Echidona benar.
Jika Subaru ingin melanjutkan, dia akan membutuhkan pengetahuan dan bantuannya.
Tapi, apa yang tak termaafkan tetap tak termaafkan. Echidona telah menggunakan Penyihir Nafsu untuk masuk tanpa izin ke tempat yang berharga dan tak dapat diganggu di dalam diri Subaru―― “Tempat sucinya”. Sudah pasti itu.
Jadi, bagi Subaru, ini adalah persyaratan yang diperlukan sebelum dia bisa memaafkan Echidona dan mengadakan percakapan dengannya,

[Echidona: …… .dan aku tidak mengerti apa yang kau maksud]

Saat ini, dia pasti mengerti kelemahan dan keteguhan batin Subaru.
Melontarkan kalimat yang spontan itu, Echidona mengalihkan tatapannya ke arah Subaru, yang menggigit bibirnya, menunggu jawaban. Dia dengan santai memainkan rambut putihnya, dan,

[Echidona: Kalau begitu, seperti yang kau inginkan, itu adalah saat Penyihir Nafsu mengamuk. Aku mencoba menghentikannya, tetapi dia tidak mau mendengarkan. Memanfaatkan Ujian, dia mencoba merayumu dengan membuka bagian dari dirimu yang paling tidak ingin disentuh, dan begitulah, kau pun ikut larut didalamnya]

[Subaru: ――――]

[Echidona: Padahal itu sudah hampir, tapi kau masih bisa melarikan diri dari mantranya dengan kekuatanmu sendiri. Kemudian, setelah gagal dengan rayuannya, ketika Camilla lengah, aku mengambil kembali kendali dan memanggilmu ke Bentengku ini. Kau dapat mengatakan bahwa itu adalah keberuntungan yang kita bisa temui di sini, dengan saling berhadapan]

[Subaru: ――――]

[Echidona: …… Sekarang, aku rasa aku sudah memberitahumu semuanya, apakah kau puas?]

Dengan cepat, Echidona mengatakan semua yang ingin didengar Subaru, hal itu bertentangan dengan ucapan yang dilontarkan sebelumnya.
Tanpa mengatakan apapun, Subaru melihat ke atas, seolah untuk menempatkan Echidona didalam pandangannya.

[Subaru: …… Apa yang kau coba lakukan, memanfaatkan Penyihir seperti itu]

[Echidona: Camilla tidak memberitahumu? Apa yang dia lakukan adalah menyelamatkanmu, setelah Ujian itu, semuanya telah menghancurkan hatimu.]

[Subaru: Itu … tidak mungkin itu niat sebenarnya dari Penyihir Nafsu. Jika apa yang dikatakannya benar, maka itu hanya kelemahan egoisku yang ingin mendengar Rem mengatakan hal-hal itu padaku. Penyihir Nafsu tidak punya alasan untuk bersikap baik padaku. …… Bukankah itu karena kau menyuruhnya,]

[Echidona: Jadi kau sudah menyimpulkan sebanyak itu bahkan ketika begitu sedikit yang kau dengar …… kalau begitu, aku kira tidak ada gunanya membuat alasan]

Dengan santai, Echidona membuang sikap aktingnya dengan mengangkat bahu. Kemudian, dia menyodorkan secangkir teh itu ke bibir, dan menghisapnya dengan satu tegukan,

[Echidona: Itu seperti yang kau curigai, mengirim Camilla kepadamu dan membuatnya berpura-pura menjadi gadis yang kau cintai, semua itu adalah atas perintahku. Padahal, hasil yang tidak sempurna dan fakta bahwa itu terlihat jelas merupakan masalah Camilla bukannya diriku]

[Subaru: …… mengapa … kau mau melakukan itu?]

[Echidona: Mendengarnya langsung mungkin akan membuatmu marah. ――Ini adalah metode yang paling efisien, dan yang paling mungkin dapat berhasil]

Tanpa permintaan maaf, Echidona terus melanjutkan saat ekspresi Subaru mulai menghilang.

[Echidona: Bahkan aku tidak menyangka bahwa dirimu terlalu cepat selesai pada Ujian Kedua. Dan yang lebih penting, fakta bahwa isinya dapat memberikan pukulan sekeras ini, jujur saja, itu pasti sesuatu yang tidak dapat aku bayangkan sampai aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri]

[Subaru: ――――]

[Echidona: Ya ampun, aku berharap kau akan mengabaikan diriku yang mengintip Ujianmu? Aku yakin aku sudah memberi tahumu setelah Ujian pertama, bahwa ini adalah Ujian yang dipersiapkan oleh Penyihir? Bahkan jika hal itu agak kejam, aku masih tidak ingin orang mengatakan ini dan itu tentangku]

[Subaru: …… langsung pada intinya saja]

[Echidona: Ngomong-ngomong, saat menyaksikan dirimu menghadapi Ujian dari luar, aku berpikir. ――Jika kau terus menantang Ujian seperti ini, tidak butuh waktu lama sebelum dirimu hancur sampai keintinya ……]

Itu tidak berlebihan. Bahkan, itu tidak jauh dari kebenaran.
Subaru tidak begitu peduli dengan apa yang terjadi padanya sehingga dia tidak mencoba untuk membantahnya.
Ujian Kedua―― sesuatu yang seharusnya tidak ada―― dan adegan, peristiwa, dan tragedi yang dia saksikan lebih dari cukup untuk menghancurkan kesombongan, kekeraskepalaan, dan delusinya.

[Echidona: Jadi aku ikut campur. Bahkan jika diriku akan hancur sampai ke inti juga, itu merupakan hasil dari itu sendiri, aku suka bereksperimen dengan segala sesuatu melalui Ujian dan Kesalahan. Keingintahuanku tak pernah terpuaskan, dan berusaha tanpa henti untuk menghasilkan kesimpulan. Untuk memuaskan Keserakahanku yang tak pernah puas, aku mencari segala dan seluruh hasil. ――Tidak terkecuali menantang dan menerobos Ujianmu.]

[Subaru: Jadi kenapa kau ikut campur tangan? Jika aku melanggar hanya hasil lain yang akan kau lihat, kau bisa meninggalkanku begitu saja. Jika itu semua adalah hasil yang aku dapatkan… maka kau juga akan puas, bukankah begitu?]

[Echidona: Aku benar-benar keberatan untuk menerimanya jika hasilnya berbeda …… aku melakukannya, tetapi bukan berarti aku tidak boleh melakukan sesuatu untuk menghasilkan hasil yang aku inginkan]

[Subaru: apa ……?]

Diburu oleh pertanyaan Subaru, Echidona menurunkan nada suaranya saat dia menjawab.
Mendengar ini, untuk pertama kalinya hari ini, Subaru mengerutkan alisnya untuk alasan selain kemarahan.
Dengan hati-hati meneliti kata-katanya dan berusaha menyusun setiap maknanya, jika dia tidak salah, maka,

[Subaru: Itu untuk menolak hasil dari diriku yang akan hancur…… itulah mengapa kau mengatur situasi itu. Apakah itu yang ingin kau katakan?]

[Echidona: …… Dan sebagai hasilnya, aku masuk ke wilayah yang sangat berharga bagimu, aku tidak punya alasan untuk itu. Jadi jika kau ingin menghujaniku dengan penghinaan, aku akan pasrah menerimanya. Itu wajar jika kau marah, dan itu salahku karena sembrono. Untuk itulah semuanya]

Meletakkan cangkirnya di atas meja, Echidona menatap lurus ke bawah kepada Subaru yang berada di kaki bukit.
Benar-benar berbeda dari tingkahnya yang santai sebelumnya, Penyihir Keserakahan sekarang menghadapinya dengan seluruh ketulusan.
Sikapnya, gelagatnya, dan kata-katanya membuat Subaru kewalahan.
Tiba-tiba, kemarahan dan ketidakpercayaan terhadap Echidona yang menumpuk didalam dadanya beberapa saat yang lalu sekarang tampak menghilang.

Sebenarnya— dia tidak bisa melupakan bantuan yang sebelumnya, Subaru masih enggan menerima bantuan Echidona, tetapi kemudian, bagaimana jadinya hati Subaru jika tidak dibantu?
Berbaring di lantai yang dingin didalam Makam, hatinya, hancur, akan hancur hingga menjadi debu, terhampar didalam kegelapan tanpa cahaya itu, dan di sana, diapun akan lenyap. Tidak sulit untuk membayangkannya.
Dia tidak bisa melakukan hal sejauh itu, untuk berterima kasih pada Echidona. Tetapi dia juga tidak merasa bahwa Echidona layak menerima kemarahan dan penghinaannya. ――Sebanyak itulah, kebingungan yang melandanya.

[Subaru: ――――]

Berdiri tanpa sepatah kata pun, Subaru menepuk rumput yang ada di pakaiannya dan berjalan menaiki bukit.
Duduk di kursinya, sekilas rasa pedih terlintas dimata Echidona saat dia menyaksikan Subaru yang mendekat. Apa yang akan dia katakan padanya begitu dia tiba di sini? Tampaknya bahkan Penyihir yang sudah berusia berabad-abad ini pun tidak tahu.

Inkarnasi dari sosok yang Haus akan Pengetahuan. Sang Penyihir Keserakahan. Melihat ekspresi musuh seperti itu, merasakan sebuah kepedihan karena Subaru yang mendekat membuat hati Subaru sedikit lega.

[Echidona: ――ah]

Dihadapan teriakan terkejut yang pelan dari Echidona, Subaru menarik keluar kursi dan duduk di hadapannya.
Meskipun dia tidak berniat meminum teh itu, ini adalah caranya untuk menunjukkan kesediaannya untuk berbicara. Sementara Echidona melihat dengan sedikit kegelisahan, Subaru meletakkan pipinya di tangannya dan memalingkan wajahnya,

[Subaru: Aku tidak berminat untuk minum teh. …… Tapi aku ingin berbincang denganmu]

Menelan emosi yang tak tertahankan, Subaru memunculkan kemurahan hati untuk membalasnya.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

[Subaru: Jadi pada akhirnya, apa sebenarnya Ujian Kedua itu?]

Sambil tetap memegangi pipinya dengan telapak tangan, Subaru bertanya tanpa melihat kearah Echidona.
Disisi lain, Echidona menggeser kursinya ke depan agar dapat dilihat oleh Subaru,

[Echidona: Yah, menurutmu apa itu?]

[Subaru: Kau tidak …… mencoba membuatku bingung, kan? Apa kau berpikir aku terlalu banyak tanya? Memperlakukan aku seperti itu]

[Echidona: Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku memang melakukan sesuatu yang membuatmu kesal. Aku hanya ingin memastikan apakah kita masih bisa berbicara dengan ramah, dan juga mendengar pendapatmu saat kita berbincang]

Kata-kata itu akan membuat orang merasa malu.
Jika Subaru melakukan percakapan ini dalam keadaan pikiran yang normal, dia pasti akan terkurung dan terjebak pada kata-katanya.
Tapi, dalam keadaan pikirannya yang saat ini, tidak mungkin Subaru akan memberikan reaksi yang diinginkannya. Sebaliknya, Subaru menumpahkan desahan kecil sebagai balasan,

[Subaru: Topik mengenai Ujian adalah “Menyaksikan, Keberadaan yang tidak seharusnya”. Itu adalah premisnya, dan juga subjek dari adegan yang ditunjukkan padaku. …… Aku menebak ” Menyaksikan, Keberadaan yang tidak seharusnya ” akan benar-benar ada sebuah Keberadaan jika aku membuat pilihan yang berbeda selama ini, benar begitu?]

Salah satu cara untuk memikirkan itu adalah seperti yang biasa terjadi dalam Novel Visual.
Sama seperti yang terjadi dalam game di mana pemain membuat keputusan pada point-poin kunci dari cerita, menyebabkan menyimpangnya alur. Pada skala yang lebih besar, bahkan seseorang akan mengatakan bahwa kehidupan itu sendiri adalah semacam Game Raksasa yang sedang dimainkan.
Orang-orang harus secara konstan menghadapi pilihan, dan membuat keputusan berdasarkan kehendak pribadi mereka — sambil mencoba untuk mencapai suatu potensi di dunia: seperti itulah persisnya “Kehidupan”.

[Echidona: Secara definisi, itu semua adalah dunia yang seharusnya tidak dapat kau saksikan. Siapa tahu? Kau mungkin merasa dirimu lebih bahagia di dunia itu daripada di masa sekarang, sehingga mungkin saja kau merasa menyesal: “Mengapa aku tidak melakukannya saat itu?” Atau sebaliknya, bahwa dunia itu mungkin lebih buruk daripada duniamu yang sebenarnya, dan mungkin kau akan berkata kepada dirimu sendiri: “Terima kasih Tuhan, syukurlah aku tidak melakukan itu”. “Pada akhirnya, Ujian Kedua adalah untuk menyaksikan “Keberadaan”selain dari “Keberadaan” yang telah kau pilih, dan untuk menentukan apakah dirimu dapat dengan benar menegaskan satu-satunya “Keberadaan”yang asli.
[T/N : Banyak sekali permainan kata-kata disini, si Echidona mencoba mengartikan kata “Present”]

Mengikuti kata-kata Subaru, Echidona dengan ringkas menyimpulkan Ujian Kedua.
Itu tidak terlalu jauh dari apa yang Subaru bayangkan. Kecuali bagian di mana Subaru harus melalui cobaan yang sangat berat itu.

[Subaru: ――Jadi, “Keberadaan” yang aku lihat dan terus berganti-ganti itu, apakah itu semua benar-benar ada?]

[Echidona: …………]

[Subaru: Setiap kali aku mati, aku akan mengulang Kembali disebabkan Kematian itu. Jadi aku tidak pernah melihat apa yang terjadi setelah aku mati. …… Sampai sekarang aku bahkan tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan dunia yang terus berlanjut setelah kematianku. …… Tidak, sebenarnya, itulah yang tidak ingin aku lakukan]

Ya tentu saja.
Subaru hanya Kembali oleh Kematian karena dunia itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Untuk memecahkan kebuntuan dan menyelamatkan semua orang yang ia sayangi, Subaru yakin bahwa menggunakan kemampuan Mengulang dengan Kematian, ia bisa mencapai masa depan yang sempurna―― atau begitulah ia berkata pada dirinya sendiri agar ia bisa menahan perasaan dirinya yang terus-menerus mati.

Keberadaan dunia setelah kematiannya akan memunculkan sumber premisnya.
Jika hanya untuk menenangkan pikirannya, ia harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak ada “Dunia lain yang ditinggalkannya”, dan bahwa orang-orang di dunia yang ditinggalkan itu sebenarnya telah diselamatkan.
Dan,

[Subaru: Setelah kematianku … apakah dunia terus berlanjut ……? Ketika pilihanku menyebabkan dunia itu menyimpang, ketika aku meninggalkan dunia yang tidak dapat diselamatkan itu … apakah semua orang yang gagal aku lindungi masih tetap dalam keadaan mereka……?]

[Echidona: ――――]

[Subaru: Bagaimana dengan itu, Echidona. ……Tolong jawab aku]

Setelah terpaksa menatap Echidona dengan matanya, Subaru membungkuk ke depan di kursinya dan mengarahkan tatapan memohon kepada Echidona.
Echidona tidak mengucapkan sepatah kata pun, tetapi, saat ditatap begitu oleh Subaru, dia menyentuh dagunya seolah berpikir, dan kemudian menutup matanya.

[Echidona: Ada, satu hal yang harus kujelaskan tentang Ujian]

[Subaru: …………]

[Echidona: “Keberadaan” yang ada didalam Ujian kedua itu tidak lebih dari sebuah fenomena yang memungkinkanmu untuk menyaksikan dunia imajinasi. Penantang yang menjalani Ujian …… yaitu kau. Dengan memperlihatkan detail-detail dari ingatanmu, Ingatan dari Dunia mendatangkan segala sesuatu yang membentuk lingkunganmu: orang-orang, dunia, atmosfer, dan bahkan Mana, dan, mengumpulkan mereka berdasarkan informasi yang diperlukan dari masa lalu, sekarang , dan masa depan, maka terciptalah “Keberadaan” baru]

[Subaru: …………]

[Echidona: Artinya, tidak peduli seberapa sempurna hal itu, itu tidak lebih dari “Ketidaknyataan” yang dibuat dengan baik. Beberapa tingkat di atas khayalan yang dibuat sendiri, itu merupakan realitas yang palsu yang “mungkin juga” telah benar-benar terjadi. Apakah itu nyata atau tidak, aku tidak bisa menjawabnya dengan pasti]

[Subaru: I-itu artinya ……]

[Echidona: Namun]

Melihat harapan dari penjelasan Echidona, Subaru mengangkat kepalanya. Tetapi ketika dia berpikir dirinya melihat secercah harapan, Echidona mengangkat telapak tangannya dan menghentikannya,

[Echidona: Mekanisme yang tepat dari kemampuan Mengulang dengan Kematian milikmu masih tidak jelas. Hampir dapat dipastikan bahwa yang memfasilitasi kemampuan Mengulang dengan Kematianmu adalah Penyihir Kecemburuan, tetapi masalah bagaimana Penyihir Kecemburuan membuat dirimu dapat Mengulang dengan Kematian meninggalkan sebuah tanda tanya besar. Mungkin, itu adalah kekuatan yang memutar ulang dunia lewat “Kematian”-mu. Atau mungkin, setiap kali, itu dapat meraih dengan menjangkau dunia parallel yang berbeda dan menarik keluar dirimu yang lain, dan dengan itu, menimpa eksistensimu]

[Subaru: Aa ……]

[Echidona: Jika kita berasumsi berdasarkan pilihan yang terakhir, maka Dunia Paralel memang benar keberadaannya, dan, setelah kematianmu, dunia-dunia itu akan berlanjut bahkan tanpa adanya dirimu]

[Subaru: J-jadi bagaimana cara mengetahuinya dengan pasti ……]

[Echidona: ――Kita tidak bisa]

Dengan menggelengkan kepalanya, Echidona memotong ucapan Subaru.
Mata Subaru terbuka lebar sementara mulutnya terbuka tanpa mengeluarkan suara. Echidona memberinya tatapan bersimpati saat dia mengetuk jarinya di tepi meja.

[Echidona: Jika pun ada suatu cara untuk memastikannya, itu adalah dengan bertanya pada Penyihir Kecemburuan itu sendiri. Tetapi aku yakin kau tahu dari pengalaman bahwa betapa sulitnya itu?]

Echidona sedang mengacu pada ingatan Subaru ketika pertama kalinya dia melihat wajah sesungguhnya dari Penyihir Kecemburuan. Meninggalkan Makam setelah berakhirnya pesta minum teh, di sana, ia menemukan sang Penyihir Kecemburuan.
Mencuri tubuh Emilia, mencabik-cabik Garfiel hingga hancur, dan menyelimuti Tempat Suci dalam bayangan, itu adalah monster yang sesungguhnya. ―― Tiba-tiba dia mengingat keraguan dirinya mengenai sebuah penampilan.

[Subaru: Be..nar…… Echidona. Sebelumnya, setelah pesta teh berakhir …… di luar, aku melihat Penyihir di Tempat Suci. Apa…itu? Apa sebenarnya itu?]

[Echidona: Bukankah kau pikir itu sudah jelas? Itu adalah Penyihir Kecemburuan. Padahal, si palsu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang asli. Tubuh yang menjadi wadah yang dipilihnya belum matang, dan yang lebih penting, tidak satu pun segelnya rusak. Dengan kurangnya Gen dari Penyihir, tidak mungkin itu memiliki kekuatan yang sama dengan yang asli ketika masa kejayaannya]

[Subaru: Itu masih tidak ada apa-apa dibandingkan dengan ketika masa kejayaannya ……?]

Mengalahkan Garfiel yang sudah berubah seolah dia bukan apa-apa dan membantai semua orang tanpa terluka sedikitpun, monster itu masih tidak bisa dibandingkan dengan Penyihir Kecemburuan yang asli.
Empat ratus tahun yang lalu, di usia ketika Penyihir sebenarnya tidak terkendali, apa yang telah terjadi?

[Echidona: Seperti yang kau bayangkan, pemicu dari penampilannya adalah pesta teh. Bahkan hal itu tidak bisa mencegahmu untuk melanggar hal tabu di sini. Jadi, didorong oleh kemarahan bersamaan dengan Kecemburuan tapi tidak dapat terus menampungnya, sehingga mengeluarkan kemarahannya ke dunia luar, meledak menjadi sebuah amukan sehingga menimbulkan malapetaka ketika kebangkitannya]

[Subaru: Dan kau tahu itu akan terjadi?]

[Echidona: Tidak juga. Itu adalah pertama kalinya. Karena itu pertama kali, hanya setelah benar-benar terjadi, barulah aku dapat mengajukan hipotesisku. Aku tidak dapat memperoleh kesimpulan tanpa terlebih dahulu melihat itu terjadi, dengan kata lain, sebagai Penyihir Keserakahan, aku tidak berbeda dari kalian semua.]

[Subaru: ――――]

Subaru tidak mampu mengeluarkan kata-kata karena melihat sikap dari penonton Echidona tidak menunjukkan tanda-tanda akan jatuh. Tidak ada gunanya menyalahkannya karena hal itu. Tetapi meskipun dia mengetahui ini, dia masih tidak bisa menghilangkan kekesalan itu.
Kalau saja dia merasa seperti itu, merasa seolah ingin membantu Subaru, maka mungkin――

[Echidona: Aku ragu ada alasan yang bagus mengapa orang yang kau cintai terpilih sebagai Wadah. Meskipun ada kesamaan tertentu ketika mereka sama-sama Half-Elf, aku pikir alasan terbesarnya adalah “Kecemburuan”]

[Subaru: Kecemburuan……?]

[Echidona: Bagi seorang Penyihir yang ingin menjadi satu-satunya orang yang ada didalam pikiranmu, bukankah tidak sulit untuk percaya bahwa dia membenci dan berusaha menghancurkan orang yang menerima kasih sayangmu?]

Mencintai seseorang dan tergila-gila padanya juga berarti menuntut orang itu untuk membalas cintanya. Selama cinta itu tidak ditujukan padanya, dia akan terus berusaha keras untuk mewujudkannya. Begitulah kegilaan yang bergejolak yang dikenal sebagai cinta.
Mungkin saja Penyihir Kecemburuan adalah inkarnasi dari perilaku itu.

[Echidona: Semua pertanyaan yang mengganggu pikiranmu, adalah sesuatu yang hanya bisa dijawab oleh Penyihir Kecemburuan]

[Subaru: ――――]
[Echidona: Kau bisa terus memikirkan itu semua, tapi, sejujurnya, aku ragu kau akan mendapatkan jawabannya. Baik itu mengenai alasan dia mengejarmu, atau mengenai “Keberadaan yang tidak seharusnya”]

[Subaru: I..itu ……]

Bagi Subaru, itu akan menjadi kenyataan yang sangat kejam.
Dia ingin sekali mendengar bahwa itu tidak benar. Mendengar bahwa dunia setelah kematiannya itu tidak pernah ada.
Atau, setidaknya dia ingin mendengarnya langsung. Bahwa “Begitu banyak yang telah dikorbankan karena kesombonganmu.”

Apapun jawabannya, Subaru akan menganggapnya sebagai teguran baginya, keyakinannya, pengingatnya untuk tidak pernah lupa, dan meskipun dia menggertakkan giginya, meneteskan air mata darah dan menangis dari dalam jiwanya, dia akan mengubah langkahnya untuk terus ke depan.
――Tetapi apa yang dia dapat adalah “Tidak ada jawaban”, bukankah itu terlalu kejam?

Apakah dia hidup, tanpa menerima kepastian atau menerima penolakan, meninggalkan nasib dunia pada ketidakpastian ini?
Untuk terus melangkah tanpa mengetahui apakah itu langkahnya sendiri. Apakah dia telah meninggalkan apa yang telah ditinggalkannya. Apakah itu semua adalah dosa-dosanya. Apakah ini menjadi hukuman baginya?
Apakah kejahatan Natsuki Subaru begitu besar sehingga tidak ada yang bisa memaafkannya?

Tidak ada yang mampu memberikan pendapat pada Subaru. Dan juga, tidak ada yang bisa menghukumnya. Dia mengerti itu.
――Tapi bahkan jika diri Subaru sendiri yang menyangkal kebenaran itu?

[Echidona: Aku pikir itu kasar. Tapi aku juga berpikir bahwa satu-satunya hal yang harus dilakukan adalah memutuskan]

Saat Subaru dilanda kebisuan, Echidona memanggilnya dengan kata-kata itu.
Dia perlahan menggerakkan kepalanya, dan mengalihkan tatapan kosongnya kearah Echidona.
Ditatap oleh Subaru, Echidona menelan nafasnya, dan, dengan ekspresi serius,

[Echidona: Dalam istilah yang lebih ekstrim, Ujian Kedua adalah menerima Keberadaan yang sebenarnya sebagai “Satu-satunya keberadaan yang ada”, sambil memisahkan hal lainnya sebagai dunia yang sama sekali tidak dapat dijangkau]

[Subaru: ――――]

[Echidona: Aku yakin itu pasti sulit, karena, dibandingkan dengan penantang lain, kau memiliki alasan yang jauh lebih banyak untuk percaya bahwa kenyataan itu benar-benar ada. Tapi tetap saja, sudah waktunya kau beralih]

[Subaru: Beralih……?]

[Echidona: Pilihanmu mungkin memang meninggalkan banyak pengorbanan. Dan di antara mereka yang kau tinggalkan, pasti ada banyak yang tidak dapat diambil kembali. Tapi menghabiskan hidupmu dengan menghitung mereka yang telah kau tinggalkan … akan menyedihkan. Sia-sia. Dan menyakitkan, bukankah begitu?]

[Subaru: Jika aku hanya menginginkan idealisme kosong semata, aku tidak akan datang kepadamu. …… Aku tidak tahu mengapa aku harus mengatakan ini, tapi apakah kau benar-benar berpikir dengan nasehat seperti itu akan membantuku melewati ini ……?]

Kata-kata Echidona sangat enak didengar, dan menghibur.
Jika luka itu dangkal, atau hanya kejahatan ringan, atau jika itu hanya masalah dari beberapa peristiwa kausal, maka mungkin itu akan membantu.
Atau mungkin, jika dia hanya ingin merasa diselamatkan, Subaru mungkin telah membuat “Perubahan” itu.
Tapi,

[Subaru: Itu masih tidak mengubah fakta bahwa semua yang telah aku lakukan dan semua kenyataan yang tidak bisa aku ubah sedikit pun … bahwa setiap orang yang aku korbankan dengan yakin bahwa semua dunia itu akan lenyap bisa saja merupakan kesalahan…]

[Echidona: …… Itu benar]

[Subaru: Lalu bagaimana mungkin aku bisa baik-baik saja dengan itu semua? Bagaimana aku harus memaafkan diriku sendiri? Ketika kau mencoba mengulurkan tangan padaku, aku menepisnya. Itu karena aku tidak ingin diselamatkan oleh Rem palsu. Aku pasti akan menerima Rem yang asli, baik itu maupun yang lainnya―― tetapi]

Dengan nafas yang terhenti, wajah Subaru berubah dalam kesedihan,

[Subaru: ――Ketika aku melakukannya… akankah dia benar-benar Rem yang sama dengan yang akan aku selamatkan?]

[Echidona: ――――]

[Subaru: Tanpa memiliki jawaban, hatiku tidak punya tempat untuk kembali. …… Dan sekarang kau mengatakan padaku bahwa aku tidak harus seperti ini, yang harus aku lakukan adalah memutuskan ……?]

[Echidona: ――――]

[Subaru: Daripada menghitung yang tidak bisa aku selamatkan, aku harus terus hidup, menghitung mereka yang telah aku selamatkan …… apa itu yang ingin kau katakan padaku?]

Apa yang Echidona coba katakan padanya adalah bahwa ada harapan jika dia terus menatap ke depan.
Bagi Subaru, kata-kata itu mungkin telah menjadi suar.
――Tapi kegelapan tempat dia jatuh tidak sedangkal itu, sehingga dia bisa menganggapnya seperti itu.

[Subaru: Dengan idealisme yang seperti itu … kau mengatakan padaku …… untuk terus memperjuangkan itu ……?]

[Echidona: ――Aku]

[Subaru: ――――]

[Echidona: Itulah yang ingin aku katakan kepadamu]

Sementara Subaru mengkesampingkan semua kata-kata yang menghibur dan menangis dari kedalaman rasa keputusasaan, Echidona mengatakan ini kepada Subaru.
Berbicara perlahan, mengucapkan setiap suku kata, Echidona menatap lurus kemata Subaru dan memberitahunya.

[Echidona: Daripada menghitung jumlah orang yang mungkin belum dapat kau selamatkan, lebih baik kau menghitung semua orang yang sudah kau selamatkan. Aku telah melihat jalan yang kau ambil untuk sampai ke sini]

[Subaru: Aku, apa …… apa k … tentangku ……]

[Echidona: Aku telah melihat kau melakukan yang terbaik, berjuang dengan segenap jiwamu untuk menciptakan jalanmu sendiri hingga sekarang. Sehingga, aku bisa mengatakan ini. Benar sekali, aku bisa mengatakannya]

[Subaru: ――――]

[Echidona: Dari semua jalan yang kau tempuh sampai sekarang, tidak satu pun yang terbuang sia-sia. Tidak ada yang berhak mengatakan kepadamu bahwa dirimu “tidak cukup”. Hanya dengan membuang semua yang kau miliki, kau telah mencapai momen ini. ――Itu adalah sesuatu yang bisa dibanggakan]

Kata-kata tulus Echidona menimpa dada Subaru yang kosong. Sesuatu bergema dari bagian dalam dirinya yang hampa―tapi itu tetaplah tidak cukup. Kata-kata itu tidak bisa memaksanya berdiri.
Bahkan jika dia diberitahu bahwa dia harus bangga, kenyataannya tidak berubah bahwa dia telah meninggalkan dan kehilangan terlalu banyak. Sesuatu yang seharusnya bisa dia ubah. Sesuatu yang hasilnya akan berbeda jika itu adalah orang lain selain Subaru. Tapi, karena orang itu adalah Subaru, ada begitu banyak yang tidak bisa diselamatkan.
Itu adalah kejahatan Subaru. Dosa bagi Subaru. Dosa yang harus diterima dan ditebus oleh Subaru.

[Subaru: Tidak ada yang bisa memaafkanku]

[Echidona: Kalau begitu aku akan memaafkanmu. Aku, yang tahu segalanya tentang dirimu]

[Subaru: Tidak ada yang bisa menghakimiku]

[Echidona: Kalau begitu aku akan menghakimimu. Aku, yang tahu semua dosamu]

[Subaru: ――Tidak ada yang bisa menerimaku]

[Echidona: Jika kau tidak bisa menerima dirimu sendiri, maka ijinkan aku untuk menyingkirkan diri yang tidak bisa kau maafkan itu]

[Subaru: ――――]

[Echidona: Jika kau tidak bisa menerima dosamu, maka biarkan aku untuk menyingkirkannya]

Setiap kata-kata Subaru, Echidona memiliki sesuatu untuk menyangkalnya.
Mengapa Penyihir ini begitu ngotot untuk menyingkirkan dosa Subaru?
Mengapa Penyihir ini begitu tidak henti-hentinya untuk ingin menghapus kegelapan itu dari hati Subaru?

[Subaru: Kenapa … kau …… berusaha begitu keras untuk membantuku?]

[Echidona: …… Meminta seorang gadis untuk mengatakan hal yang terus terang, kau tahu]

Echidona, yang tidak pernah bimbang sama sekali sampai sekarang, untuk pertama kalinya, bicara dengan gagap.
Kemudian, dengan sedikit tersipu hingga pipinya memerah, Echidona berdeham, dan,

[Echidona: ――Apakah kau mau membuat kontrak denganku, Natsuki Subaru?]

Suaranya tenang, namun mengisyaratkan kehendaknya yang kuat.
Subaru berkedip, membiarkan kata-kata itu meresap ke dalam otaknya tetapi masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk memahaminya.

[Subaru: Kon … trak……?]

[Echidona: Ya, kontrak. Melakukan kontrak dengan Penyihir Keserakahan ―― apakah kau tertarik untuk melakukannya?]

[Subaru: Jika kita… … membuat kontrak ini, apa yang terjadi kemudian?]

[Echidona: Itu sederhana. ―― Mulai sekarang, setiap kali kau bertemu dengan rintangan yang tidak bisa kau atasi, aku akan menghadapi dinding itu dan memikirkannya bersama denganmu. Kapanpun kau ingin mendengar kata-kata seseorang, aku akan berusaha memberimu kesaksian yang kau inginkan. Kapanpun kau merasa akan hancur karena beban dosamu, aku akan membersihkan dosa-dosa itu bersamamu]

Mengatakan ini dengan satu tarikan nafas, senyum tersipu muncul di wajah Echidona,

[Echidona: Apa kau akan menjalin kontrak ini denganku?]

[Subaru: …… Tapi kau sudah mati … jadi kau tidak bisa lagi mempengaruhi kenyataan, kan?]

[Echidona: Aku yakin jangkauanku sudah jauh melebihi dari kematian? Aku kira memang agak terlambat bagiku untuk mengatakan hal semacam ini, tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. …… Itu kalau kau bisa memaafkanku]

Menggenggam kedua tangannya di dada, mencondongkan kepalanya saat dia berbicara, ucapan Echidona menggema di gendang telinga Subaru. Getaran yang melewati tubuhnya itu, membawa kehangatan yang mengikuti darah yang mengalir dan merasuki seluruh tubuhnya.
Sensasi itu kembali ke jari-jarinya yang sudah mati rasa.
Lidahnya yang kering mendapatkan kembali kelembapan dan mobilitasnya, dan dia bisa merasakan matanya yang kering yang telah lupa untuk berkedip telah terpuaskan karena sesuatu yang basah dan hangat.

Dia yang telah menawarkan tangannya, rencananya, sarannya, janji untuk memberikan pertolongan membuat Subaru bingung bagaimana harus menjawabnya.
Tepat ketika dia bersumpah untuk terus berjuang tampak seperti penuh dengan tekad tetapi kehilangan artinya, sang Penyihir berjanji untuk berada di sana untuk mendukungnya.

[Echidona: Aku tidak bermaksud menyombongkan diri, tapi aku agak percaya diri dengan banyaknya pengetahuanku. Aku bisa menyiapkan tindakan balasan untuk masalah apa pun yang mungkin kau hadapi, dan tidak peduli betapa mustahilnya situasi yang mengancam dirimu, tidak seperti rekan-rekanmu, kau tidak perlu bersusah payah untuk membujukku. Dan, yang paling penting, aku bisa memahami kemampuan Mengulang dengan Kematian milikmu]

[Subaru: Apa kau mencoba membujukku seperti seorang sales?]

[Echidona: Sebagai pihak yang meminta, aku pikir itu wajar bagiku jika melakukan kontrak akan menguntungkanku. Dan jika itu berhasil membuat hatimu tenang, maka itu lebih baik, bukankah begitu?]

Memanfaatkan kata-kata Subaru, Echidona bahkan mengambil itu sebagai bagian dari serangannya. Melihat sang Penyihir dengan cara ini, Subaru mau tidak mau melonggarkan pipinya dan membentuk senyuman.
Tiba-tiba merasakan udara sejuk mengalir keluar dari paru-parunya, “ahh”, Subaru menghela nafas.

Bermandikan angin segar dari padang rumput, dia menyandarkan punggungnya ke kursi dan memandang ke langit.
Di langit biru, langit buatan, dia bisa melihat awan putih yang mengambang.

Setiap kali dia terjebak, kapan pun dia kebingungan tanpa memiliki jawaban, setiap kali dia menghadapi rintangan yang mustahil.
――Jika saja Subaru bisa duduk di sini di bawah langit biru ini, dan bertukar kata dengan dia untuk mencari solusi …

[Subaru: Mungkin, itu tidak terlalu buruk ……]

[Echidona: ―― Maksudmu ……?]

Dengan kursinya yang berderit saat dia berdiri, dengan spontan mengepalkan tinjunya, Echidona menatap Subaru. Tapi, melihat tatapan Subaru yang menoleh balik padanya dengan posisinya yang condong dengan punggung menghadap ke kursinya, wajah Echidona tiba-tiba berubah merah seolah malu oleh tindakannya sendiri,

[Echidona: Ah, tidak …… Mn, tapi, jika kau benar-benar bersikeras, maka kurasa menyegel kontrak semacam itu tidak sepenuhnya keluar dari …]

[Subaru: Sudah agak terlambat untuk menutupinya, bukan? Maksudku, kau adalah orang yang bertanya apakah …… ugh lupakan, mengatakan itu akan sangat kasar pada saat ini]

Echidona adalah orang yang mengusulkan itu, tetapi dia melakukannya untuk menyelamatkan hati Subaru.
Sederhananya, itu adalah kebaikan seorang Penyihir. Fakta bahwa dia tidak membuat Subaru melekat dan memohon pastilah merupakan pertimbangan sang Penyihir untuk Subaru.
Tidak peduli di mana dia berada, tidak peduli siapa itu, apakah dia akan selalu diselamatkan seperti ini?

Menghentakkan punggungnya ke kursi untuk menyentak ke depan, Subaru pun berdiri.
Berdiri cukup dekat untuk dapat disentuh jika dia hanya mengulurkan tangannya, Echidona melihat ke dalam mata Subaru yang sekarang sejajar dengan miliknya, terlihat kegelisahan dalam ekspresinya.
Bahkan setiap tindakan Penyihir itu sangat licik, pikir Subaru.
Tapi karena dia yang diselamatkan, dia tidak dalam posisi untuk mengeluh.

[Subaru: Jadi … bagaimana caranya menyegel kontrak?]

[Echidona: ――Untuk menyegel kontrak yang sah, kau dan aku harus terhubung melalui jalur di antara kita. Aku akan mengurus detailnya … tapi untuk sekarang, mana telapak tanganmu]

Echidona mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangannya yang putih menghadap ke arah Subaru.
“Di sini, letakkan telapak tanganmu di tanganku” mungkin itulah maksudnya.

Merasa agak kaget, menyaksikan Penyihir di seberangnya yang gagal untuk menyembunyikan rasa gembira dari bibirnya, “haa”, Subaru menumpahkan desahan tenang,

[Subaru: Sekarang, semoga semuanya akan mulai berubah ……]

Dipenuhi dengan harapan besar akan masa depan, dia menempatkan telapak tangannya ke arah Echidona, dan――

Benturan.

Ledakan keras terdengar saat meja yang ada di sampingnya meledak berkeping-keping.
Dampak yang menghancurkan meja hingga ke tanah, melahirkan sebuah kawah saat dentuman dari gempa bumi mengguncang Subaru yang terkejut,

[???: ――Aku akan menghentikan kontrak ini]

Menghantamkan tinjunya ke tanah, menyerukan ini dengan suaranya yang luar biasa, adalah seorang gadis berambut pirang, bermata biru――
――Penyihir Kemurkaan, menatap dengan matanya pada kedua orang itu, membara dengan amarahnya yang berapi-api.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded