Re:Zero Arc 4 Chapter 76.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Satella, bagian 2

Subaru merasa seperti baru saja mendengar sesuatu yang akan mengubah semua yang ia tahu di kepalanya.

Pertanyaan Minerva benar-benar bertentangan dengan apa yang selama ini Subaru pikir ia mengerti. Namun, kesunyian dari penyihir lain—yang secara pribadi telah hidup pada masa itu—seperti menegaskan bahwa Minerva sedang tidak meracau ataupun bercanda.

Mendengar panggilan Minerva, untuk pertama kalinya, bahu Penyihir Iri Hati bergetar. Kabut hitam yang menutupi kepalanya menggeliat, lalu ia pun mengalihkan pandangannya kepada Minerva.

—Seakan-akan sang penyihir baru saja menyadari kehadiran Minerva.

[Subaru: —-]

“Apa maksudnya pertanyaan itu?” Tidak ada waktu bagi Subaru untuk bertanya. Terlebih lagi, rasa takut yang mencekik di tenggorokannya dengan cepat memperburuk kegelisahannya.

Respon sang penyihir pun semakin mengacaukan pikiran Subaru.

Karena … ucapan Minerva berarti bahwa—

—Orang yang dipanggil Witch of Envy dan Satella mungkin saja dua orang yang berbeda.

Tidak, ia mungkin saja sedang mengada-ada dari sedikit informasi yang ia terima. Berapa kali dia mengalami pengalaman menyakitkan karena terjatuh ke dalam asumsi bodoh yang menggunakan petunjuk dangkal sebagai acuan? Meskipun ia harus selalu mempertimbangkan segala kemungkinan, ia tidak boleh terjebak dengan ide-ide seperti itu.

Yang lebih penting lagi, dia tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari adegan di hadapannya bahkan untuk sedetik pun.

[Minerva: Karena kau tidak menyerangku di pertanyaan pertama tadi … masih ada kesempatan]

Sambil mengatakan itu, Minerva memperpendek jaraknya. Antara Witch of Wrath dan The Witch of Envy—mereka hanya terpisah sejauh lima langkah sekarang.

[Minerva: Walaupun, jika kau benar-benar Witch of Envy, harusnya kau sudah menyerangku karena cemburu saat aku hadir di antara kalian berdua … jadi aku sedikit lega]

Empat langkah.

[Minerva: Dan lagi, kau bisa mengatakan sesuatu sejak awal. Maksudku, aku tahu kita tidak punya banyak kesempatan untuk bertemu langsung selama ini. Dan ekspresi terakhirmu ketika kau menelanku jelas bukan sesuatu yang bisa kulupakan begitu saja]

Tiga langkah.

[Minerva: Daripada lima lainnya, kupikir memang lebih baik aku saja. Selain Typhon, dibandingkan penyihir lain, aku adalah … teman terdekatmu, kupikir]

Dua langkah. Minerva menunduk.

[Minerva: Ya, itulah yang kupikirkan…. Dan karena itu … aku memikirkan ini….!]

Ia membungkuk. Dengan hanya dua langkah di antara mereka, Minerva mencondongkan tubuh ke depan, mengalirkan kekuatannya ke kaki belakangnya. Dan,

[Minerva: Apa kau tahu rasanya diabaikan? Setelah sekian lama–!?]

Tanah meledak, langsung memusnahkan jarak di antara mereka.

Minerva maju ke depan, meninggalkan awan debu di belakangnya, saat dia memutar tubuhnya untuk meninju dengan sekuat tenaga. Menembus udara, menerobos penghalang suara dengan tepukan menggelegar, ia terus melesat menuju kepala sang penyihir, ke dalam bayangan yang menutupi wajah wanita itu, dan—

[Minerva: —Lihat, sudah kutebak!]

Tinju Minerva secara ajaib berhenti hanya beberapa inci dari wajah sang penyihir.

Bukan karena bayangan tangan sang penyihir membelit tangannya, tapi sebaliknya, Minerva sengaja berhenti sebelum kepalannya menghantam wajah sang penyihir. Dengan masih mengepalkan tinjunya, Minerva mundur, mengibaskan rambut keemasannya,

[Minerva: Lihat, lihat? Dia tahu tidak perlu menghindari pukulanku, itu Satella, bukan The Witch of Envy. Echidona, kau terlalu khawatir]

[Echidona:  ….Entahlah. Jujur saja aku mengagumi tekadmu, menggunakan tubuhmu sendiri untuk mengujinya, tapi kekhawatiranku bukan hal yang sama. Bisa jadi kau diabaikan olehnya karena ancamanmu itu sama sekali tidak berbahaya. Jadi, Sekhmet….]

[Sekhmet: Kau tidak dapat memaksaku bergerak, huu… dan kau juga tidak tahu kapan harus menyerah, Echidona, haa…. percaya saja kalau itu Satella, huu.…]

Sekhmet menghela nafas, membungkam Echidona.

Masih berupa gumpalan rambut, senjata pamungkas para penyihir itu pun tak menujukkan tanda-tanda akan bergerak. Lalu, masih dalam jarak serang sang Penyihir—Satella, Minerva berbalik ke arah Subaru.

Melihat dirinya terpantul dalam mata biru pucat si penyihir, dan masih tidak dapat menerima kenyataan bahwa Minerva berdiri tepat di samping ancaman besar itu, Subaru yang tercengang hanya berdiri di sana.

Melihat itu, Minerva mendengus, dan cemberut dengan ekspresi tidak puas,

[Minerva: Kenapa kau masih berdiri di sana? Kemarilah]

[Subaru: Ke … sana … lebih dari … baiklah, bahkan jika kau menyuruhku begitu …]

[Minerva: Apa? … jangan-jangan kamu bukan laki-kaki sama sekali. Aku berdiri tepat di sampingnya dan aku masih hidup, lihat? Atau semua omong kosong ini belum cukup? Kalau kau tidak mau menyeberangi jembatan berbatu ini bahkan setelah seseorang telah membangunnya khusus untukmu, lalu, bagaimana caramu ingin menyeberang!?]

[Subaru: Tidak usah marah-marah! Bukannya aku tidak akan datang  ke sana karena ketakutan! Aku hanya tidak menemukan alasan kenapa aku harus datang kesana!]

Berteriak kembali ke Minerva dengan nada marah yang sama, Subaru keberatan menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa di sini.

Menunjuk Satella, yang tampaknya tidak dianggap sebagai ancaman secara langsung, Subaru melihat ke penyihir lain, yang sekarang sudah tidak dalam posisi siap siaga untuk menyerang,

[Subaru: Pertama-tama, apa maksudmu Penyihir Iri Hati berbeda dari Satella!? Kau terus membicarakannya seakan-akan semua itu sudah dipastikan, tapi aku tidak tahu hal itu sama sekali!]

[Echidona: Tidak serumit itu. Ketika kau menyuntikkan gen penyihir ke seseorang yang tidak cocok, hal-hal yang seperti ini akan terjadi. Kepribadian penyihir yang timbul dari gen itu akan bertentangan dengan kepribadian asli… atau sejenis itu. Tapi menurutku, mereka berdua tetap satu entitas dan merupakan orang yang sama, jadi aku tidak melihat pentingnya membedakan mereka secara khusus seperti yang dilakukan penyihir lainnya]

[Subaru: Kepribadian… yang berbeda? Lalu apa..? Maksud kalian kepribadian yang menelan kalian dan mengukir kekejaman dalam sejarah itu adalah kepribadian yang jahat, meskipun kepribadian lain tidak menginginkannya….]

[Echidona: Kurasa itu juga kurang tepat]

Ketika Subaru mencoba memahami informasi yang diberikan kepadanya, Echidona menghentikannya. Dia menggelengkan kepalanya, seolah mengoreksi teori Subaru,

[Echidona: Melahap separuh dunia, dan menelan kami, keenam Penyihir Dosa, sepenuhnya perbuatan Satella, bukan Witch of Envy]

[Subaru: Apa!? Tidak, tapi itu tidak masuk akal! Jika orang yang menelanmu adalah Satella, dan itu Satella yang berdiri di sana … maka….]

[Sekhmet: Sebenarnya, itu masuk akal, haa… meskipun kita tidak bisa memaafkan Penyihir Iri Hati … huu … kita tidak menyimpan dendam terhadap Satella, haa … begitulah, huu….]

[Camilla: A-aku ju-juga tidak … me-menyukai Satella-kecil, ta-tapi setidaknya ia le-lebih baik dari pada si pe-Penyihir Iri Ha-hati, ku-kurasa]

Persetujuan Sekhmet dan Camilla makin menimbulkan banyak pertanyaan di dalam kepala Subaru.

Para penyihir tampaknya sepakat, tetapi Subaru tidak bisa memahaminya sama sekali. Mereka akan memaafkan kepribadian yang menghancurkan mereka, tetapi bukan kepribadian alternatif yang tidak melakukan apapun—apa-apaan itu?

[Echidona: Aku selalu bersikeras bahwa tidak ada gunanya membeda-bedakan seperti itu … percuma saja. Jadi, aku tidak bisa mengabaikan perasaan mereka dan melenyapkannya begitu saja. Tubuh rohku yang lemah tidak akan bertahan lama, hanya untuk membuat mereka berbalik menyerangku. Bahkan aku tidak akan selamat hanya demi mendapati satu-satunya jiwaku hancur dan ditiup angin]

[Subaru: Ta-tapi… bukankah itu sangat beresiko bagi kelima penyihir lainnya juga? Kaulah yang menjaga jiwa mereka agar tetap utuh. Kalau kau menghilang, kelima penyihir lainnya juga akan.…]

[Echidona: Mereka sudah berdamai dengan “kematian” mereka sendiri. Jadi mereka tidak memiliki keterikatan khusus untuk memperpanjang keberadaan mereka sebagai jiwa. ―Mereka lebih suka memilih kehancuran daripada hidup dengan mengkhianati cita-cita mereka. Pemikiran seperti itulah yang membuat mereka menjadi penyihir]

Baik Sekhmet maupun Camilla tidak menentang kata-kata Echidona.

“Orang yang berpikiran tinggi” mungkin terdengar melebih-lebihkan, tapi Subaru tidak punya kata lain lagi untuk menggambarkan cara hidup para penyihir yang tidak kenal kompromi.

“Kalau saja aku bisa seperti ini”, “Aku berharap aku bisa seperti ini”, siapa pun akan memiliki pemikiran seperti itu pada satu titik dalam hidup mereka.

Tetapi untuk tetap setia pada cita-cita mereka bahkan setelah datangnya kematian, bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh sembarang orang.

[Subaru: Dan Minerva….]

Mungkin sama.

Dia mungkin bisa menjadi orang pertama yang dihancurkan oleh The Witch of Envy. Namun dia masih cukup percaya padanya untuk mendekati sang penyihir dalam jangkauan serang, dan hasilnya membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak salah tempat.

Subaru tidak tahu hubungan seperti apa yang dimiliki gadis-gadis ini.

Tetapi jika ada ikatan kepercayaan di antara mereka, apa yang mendorong Penyihir Iri Hati untuk menghancurkan enam penyihir lainnya? Dan bagaimana, sehingga mereka kemudian bisa memaafkannya?

Pikiran Echidona setidaknya bisa dimengerti.

Tapi, meski begitu—

[Subaru: Aku bisa memahami kalian sedikit. Agak … sedikit tidak masuk akal bagiku.… Tapi, aku sedikit banyak mengerti. Masalahnya, belum ada yang menjelaskan kepadaku kenapa dia ada disini]

[——]

[Subaru: Dia tidak akan menyerang, oke, aku tahu.… Tapi bukan berarti dia tidak berbahaya. Kalau selama ini yang kuhadapi adalah The Witch of Envy, lalu apa yang Satella mau dariku? Penyihir itu sungguh sangat membuatku menderita … jadi walau kalian tiba-tiba bilang padaku bahwa yang satu ini berbeda, aku masih tidak mengerti]

Selain itu, menurut para penyihir itu sendiri, Satella jelas adalah orang yang melahap mereka. Jadi, bahkan jika orang yang menelan sanctuary adalah Penyihir Iri Hati, tampaknya Satella tidak kalah berbahaya.

Jadi bukan salah Subaru kalau ia merasa terancam dan khawatir, dan ingin menjaga jarak?

[Subaru: Apa yang dia inginkan, mengapa dia ada di sini. Selama ini, tidak ada yang memberitahuku….!]

[Minerva: Kalau kau ingin tahu, datanglah kemari]

Minerva menghentikannya tepat saat suara Subaru mulai meninggi.

Menempatkan tangannya di pinggul, Minerva tidak bisa menyembunyikan kekesalan di wajahnya yang manis ketika dia menatap Subaru.

[Minerva: Sudah cukup! Semua alasanmu yang berbelit-belit dan bantahanmu yang dibuat-buat itu. Aku berdiri di sebelahnya, dan aku baik-baik saja. Dan lagi, dia datang kesini untuk menemuimu. Jadi kalau kau terus berdiri di sana seperti seorang pengecut, itu berarti kami telah salah menilaimu]

[Subaru: Apanya yang salah menilai!? Jangan hanya berpikir sepihak tentangku! Dan berhenti mengatakan omong kosong itu padaku! Lagipula, apa yang kau ketahui tentangku!?]

Ditampar dengan deskripsi sewenang-wenang tentang dirinya sendiri, sepertinya Subaru baru saja mulai bertindak tepat sesuai apa yang barusan Minerva katakan.

Tapi, sekali, ketika Subaru meneriakkan hal yang sama persis itu, terdengar suara yang menjawabnya. Dia masih ingat apa yang dikatakannya. Dan kata-kata itu telah menjadi kekuatannya.

—Jika dia tidak ingin mengkhianati dirinya di masa lalu yang diselamatkan oleh kata-kata itu, maka,

[Subaru: Aghh, sialan! … apa yang telah aku pikirkan … bodoh sekali.…]

Menjadi tidak rasional, membuat keputusan hanya berdasarkan emosi.

Setelah begitu banyak pengalaman menyakitkan yang dihasilkan dari ini, apakah dia tidak belajar sama sekali?

Sebaliknya, dia harus memperhatikan detail, menahan emosinya sehingga dia bisa bertindak dengan tenang. Bukan karena dorongan hati, tetapi berdasarkan fakta yang sesungguhnya―untuk menegakkan hati baja yang tak pernah goyah itu.

Itulah yang selalu diinginkan Subaru.

[Minerva: Kau lama sekali]

[Subaru: Bayangkan rasanya berdekatan dengan seseorang yang berkali-kali hampir membunuhmu.… Sial!, kau tahu rasanya, ya, kan? Sulit]

[Minerva: Kami bukannya tidak merasakan apapun. Sekhmet dan Camilla hanya sedikit lebih dewasa, tidak sepertiku. Tapi ada alasannya mengapa aku menjaganya]

Melihat Subaru berdecak saat berjalan, Minerva mengangkat bahu. Memberinya waktu untuk bertanya apa alasannya, Minerva menyerahkan siatuasi itu sepenuhnya kepada Subaru.

The Witch of Wrath secara alami menyingkir ketika Subaru mendekat ke sang penyihir―sampai dia bertatap muka dengan Satella.

[Subaru: —-]

Tanpa sadar menelan ludah di depan sesuatu itu … Subaru, kehilangan kata-kata.

Meskipun Subaru sudah mengetahui ini akan terjadi—saat menjadi pengamat dari jauh tadi, serta saat berjalan menghampirinya, dia masih tidak bisa terbiasa dengan tekanan yang sangat besar dan gambaran yang tak sesuai ini.

Gaun berbayang yang menempel di tubuhnya mengukir lekuk sosok Satella, sementara kerudung yang tidak bisa ditembus di atas lehernya menimbulkan pesona yang tak biasa.

Tetapi semua itu langsung hilang karena wajahnya yang tak dapat dikenali.

[Subaru: —-]

Melihatnya dari dekat, Subaru menyadari bahwa bukanlah hal fisik yang menghalangi pandangannya

Apa yang tampak seperti kegelapan yang menyelimuti kepalanya itu, nyatanya, bukanlah hal yang menyembunyikan wajahnya dari pandangan.

Apa yang membuat wajah sang penyihir tidak terlihat adalah sesuatu yang lebih mendasar, yaitu sesuatu pada yang berada jauh di dalam dasar jiwa.

Tidak ada penghalang fisik yang menutupi wajahnya dari pandangan. Sebaliknya, itu adalah sesuatu yang murni yang tak memungkinkan Subaru untuk “melihatnya”.

[Echidona: Semua orang tidak ingin melihat delusi mereka yang paling menjijikkan]

[Subaru: ….]

[Echidona: Kalau kau tidak bisa melihat wajahnya, berarti ada masalah dengan hatimu]

Suara hati-hati datang dari belakangnya, menegaskan pikiran Subaru.

Subaru mengabaikan Echidona, menahan keinginan untuk membalas—atau lebih tepatnya, ia terlalu sibuk terpaku kepada Satella sampai-sampai ia tidak sempat merespon.

Sementara itu, Satella masih belum mengambil tindakan apa pun.

Satu-satunya hal yang Satella lakukan sejauh ini hanya muncul di sini. Dan orang-orang di sekelilingnya menimbulkan kehebohan tanpa arti, yang dengan panik berusaha mencegah kemungkinan kerusakan akibat tindakannya.

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa rasa takut yang ditimbulkan oleh kehadirannya merupakan bukti bahaya yang ia bawa hanya dengan kehadirannya.

Tepat ketika Subaru mulai tidak sabar dengan sikap diamnya Satella,

[Subaru: –gh!]

[Satella: —-]

Melihat tangan Satella tiba-tiba meraihnya, Subaru panik dan tanpa sadar menelan ludah.

Subaru tetap memusatkan perhatiannya pada Satella, berusaha mengabaikan gangguan apapun yang datang kepadanya. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Ketidakpastian itu mencekiknya seperti tangan-tangan tak kasat mata yang tengah bermain dengan pikirannya.

Keterkejutannya bukan karena dia gagal melihat gerakan tangan itu. Subaru jelas melihat tangan Satella bergerak ke arahnya. Yang mengejutkannya adalah kesadarannya sendiri, yang diam-diam memperhatikan kedekatan mereka sampai akhir.

[Subaru: Kau ini … apa, sungguh? Apa … yang kau mau dariku…?]

Faktanya, Subaru tidak membuat banyak reaksi terhadap tangan yang meraihnya. Meskipun secara tidak sadar mengerti apa arti gerakannya, Subaru buru-buru mengucapkan kata-kata itu.

Seolah-olah dia tak perlu mengakui fakta itu, seolah-olah dia tidak harus menghadapinya, dia mengatakannya dengan cepat,

[Subaru: Jika kaulah … orang yang memberiku kekuatan untuk mengulang masa lalu … kenapa … kau.…]

Dia tidak tahu mengapa Satella melakukan ini.

Atau mengapa tubuhnya, menghadap Satella pada jarak yang cukup dekat untuk disentuh—meskipun pikirannya berkali-kali menyuruhnya untuk menjauh—menolak untuk mematuhinya.

―Apakah dia seharusnya merasa begitu “lega” di depan Satella?

[Satella: —-h]

[Subaru: –a?]

Masih berusaha mengatasi tubuhnya yang tidak mau menurut, Subaru bereaksi dengan lambat terhadap suara yang baru saja sampai di gendang telinganya. Kali ini—tidak diragukan lagi—merupakan reaksi yang tepat terhadap sesuatu yang jauh di luar perkiraannya.

Sambil menahan napas, Subaru diam, menunggu kelanjutan suara itu.

Di hadapan Satella yang menatapnya dengan ekspresi yang masih tak terlihat, Subaru menelan ludah, menunggu Satella berbicara sementara waktu terus berjalan.

[Satella: —-Aku akan]

[Subaru: —-]

[Satella: Aku akan selalu.

Selalu.

Mencintaimu]

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded