Re:Zero Arc 4 Chapter 77.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Sendirian, bagian 2

Dengan menerima Return by Death, memungkinkan untuk mengaktifkan karakteristik kutukan itu sendiri, melalui segala hambatan dan menanggung semua kesulitan yang Subaru rasakan selama ini―membuatnya dapat terus melangkah maju.

Mencicipi keputusasaan “kematian berulang-ulang” membiarkan penderitaan terukir di dalam hatinya, dan menjadikannya sebagai kekuatan, Subaru dapat berdiri sampa ke titik ini.

―Dan itu adalah jalan yang di pilih Natsuki Subaru untuk dilewati, yang membuatnya menjadi dirinya yang sekarang.

[Subaru: Yang menanggung rasa sakit, dan penderitaan … adalah aku! Semua aku! Hanya aku! Jika membuatku menderita sudah cukup, semuanya akan baik-baik saja, kan?! Selama aku bisa menahannya, selama aku bisa mengubur―amarah, kesedihan, dan semuanya … aku tidak akan membiarkan keputusasaan menyentuh orang lain, tak peduli betapa menyakitkannya aku harus mati! Dari awal hingga akhir, selama aku satu-satunya yang terluka, maka semuanya baik-baik saja, bukan?! …. Apa yang salah dengan itu?!]

Dengan perulangan yang disebabkan oleh Return by Death, dan, dengan semua usaha dan kesalahan, Subaru dapat membuat akhir yang paling baik. Hal itu sesuai dengan apa yang Echidona katakan. Tetapi, alih-alih menerima tawaran Echidona yang akan menggunakan tekad itu untuk memuaskan rasa ingin tahunya sendiri, dia akan terus menempa jalannya sendiri, seperti yang selalu dia lakukan.

Tidak seperti Echidona, yang akan membujuknya untuk mengambil tindakan tambahan, jika Subaru menetapkan hati dan pikirannya untuk mencari tindakan yang optimal, jumlah percobaan ulang pasti akan lebih sedikit daripada jika ia menuruti Echidona. Mungkin lebih baik dari yang bisa ia hitung. Namun, meski begitu, percobaan itu sendiri bukannya tidak bernilai.

Jika masa depan di mana semua orang tidak terluka ada di ujung lain lengannya yang penuh luka, maka―

[Subaru: Aku bilang bahwa kau tidak bisa dimengerti, dan aku lelah dengan semua itu, kan? Baiklah, maaf, salahku. Semua perasaan itu benar adanya… Tapi aku memang harus berterima kasih padamu. Bagaimana aku bisa lupa? Bahwa aku sangat tidak tahu diuntung]

[Satella: —–]

[Subaru: Aku hanya ingin berterima kasih untuk satu hal. Terima kasih telah memberiku Return by Death. Semuanya berkat dirimu. Tanpanya, aku tidak akan mampu melindungi satu hal pun yang penting bagiku. Jadi aku akan tetap bergantung pada kekuatan ini. Oleh karena itu… hanya karenanya… terima kasih banyak]

Subaru sudah siap untuk mencoba dan melakukan kesalahan.

Ia sudah membuang jauh-jauh opsi untuk melarikan diri dari takdir.

Sejak dia berkata, “ambil tanganku, dan larilah bersamaku” dan ditolak, baginya tidak ada lagi pilihan untuk melarikan diri.

Dia harus terus berjuang. Karena ini adalah sumpahnya, apa yang dia harapkan darinya, dan apa yang dia percayai padanya. Subaru tidak akan lari, tetapi terus berjuang.

Subaru adalah pria yang akan selalu mencoba. Kalau tidak, dia tidak akan lagi menjadi Pahlawan Rem.

[Subaru: Karena itu… terima kasih telah memberiku kekuatan ini. Kaulah yang membuat orang bodoh dan tidak berguna sepertiku dapat mengubah keputusasaan…]

[Satella: —jangan]

[Subaru: kepu… tusasaan…]

Tepat ketika Subaru hendak mencurahkan semua perasaan yang membakar hatinya, Satella menggumamkan sesuatu yang memecah kesunyian itu. Mendengarnya, kata-kata yang hendak diucapkan Subaru seperti hilang berantakan. Wajahnya menegang, menunggu, memohon untuk mendengar bisikan itu sekali lagi.

Apa yang barusan akan ia katakan? Ketidaksabaran Subaru membuat kepalanya memanas.

Subaru menahan nafasnya, dan Satella, setelah diam sesaat, melanjutkan kata-katanya.

[Satella: —Kumohon… jangan menangis. Jangan merasakan sakit. Jangan menderita. Jangan… sedih seperti itu lagi]

Bisikan Satella terdengar seperti permohonan yang tulus dan memelas.

Kata-katanya menimbulkan perasaan yang keras dalam hati Subaru. Kemarahan, keterkejutan, campur aduk yang tidak biasa dari setiap emosi yang ada.

[Subaru: ka… kau… apa yang…]

Terjebak pada emosinya sendiri, Subaru tidak tahu harus berkata apa. Panas yang kuat membakar ternggorokannya, membuatnya termegap-megap sambil menatap Satella.

Di hadapan Subaru yang terguncang, Satella melanjutkan.

[Satella: Jadi, cintaku…]

[Subaru: Ja…. Jadi ini yang kau mau? Kau ingin mengacaukan pikiranku sampai akhirnya aku mencintaimu? Itukah yang kau…]

[Satella: —Tidak]

Satella menyela kata-kata Subaru yang bergetar.

Ekspresinya tetap tidak terlihat. Tapi, entah bagaimana, Subaru hampir bisa merasakan bahkan di permukaan kulitnya bagaimana Satella menatapnya di balik tabir bayangan itu—Satella, dia,

[Satella: —Kau harus belajar mencintai dirimu… lebih banyak lagi]

Tatapan Satella adalah tatapan penuh iba yang tak terbantahkan.

*** **** ***

Subaru membutuhkan beberapa saat untuk menyerap makna kata-kata itu ke dalam otaknya. Tapi begitu ia berhasil, gelombang emosi yang tidak berbentuk dan membingungkan langsung menelan hatinya.

[Subaru: Apa―yang…. Barusan kau katakan?]

[Satella: ….Kumohon, jangan sakiti dirimu lagi. Perlakukan dirimu sendiri dengan baik]

[Subaru: Kaulah … yang memberiku kutukan ini…, kan? Kau memberiku Return by Death agar aku dapat terus maju…]

[Satella: —Aku mencintaimu. Jadi kumohon, cintailah dirimu juga. Lindungi dirimu]

[Subaru: Kalau aku hanya memikirkan diriku sendiri, kalau kau menarik kutukan ini dariku! Apa yang akan tersisa dariku?!]

Sebagai penolakan terhadap bisikan cinta Satella yang tak terbatas, Subaru berteriak, menekankan tangan ke dadanya,

[Subaru: Kau tahu sendiri, kan!? Aku ini lemah! Aku bukan orang yang cerdas, aku tidak kuat, dan aku tidak punya kemampuan khusus! Yang orang tidak berguna ini punya hanyalah Return by Death pemberianmu! Jadi bukankah hidupku adalah satu-satunya hal yang dapat kutawarkan!?]

[Satella: Jangan bersedih]

[Subaru: Aku sudah memperhitungkan semua rasa sakit dan semua kematian yang harus kualami. Aku menerimanya, dan aku baik-baik saja dengan hal itu! Kalau aku satu-satunya yang harus menderita … tidak apa-apa!]

[Satella: Jangan menderita lagi]

[Subaru: Membuat diriku terluka lebih dari orang lain, dengan melewati lebih dari orang lain, jika aku berusaha dan berjuang untuk melindungi orang lain, maka aku bisa memastikan bahwa tidak ada orang selain aku yang harus menderita! Aku tidak ingin apa-apa lagi!]

[Satella: kumohon… jangan menangis]

[Subaru: Tidak penting apa yang terjadi padaku, kan!? Tidak usah peduli pada apa yang terjadi pada bajingan sepertiku! Tidak peduli seberapa hancur, seberapa tercabiknya aku, selama semua orang mencapai masa depan itu dengan aman, maka … hk]

Karena, jika Subaru berhenti menanggung luka-luka yang paling jelas itu―

[Subaru: Jika kita bisa membuat masa depan itu … tanpa kehilangan siapa pun … maka … gh]

— Dia mungkin kehilangan seseorang di suatu tempat yang tidak dapat dijangkau lagi.

[Subaru: ….Rem sudah mati]

[Satella: —-]

[Subaru: Jika aku lebih pintar, jika aku lebih kuat, jika aku tidak begitu peduli dengan hidupku, jika aku menempatkan diriku di depan…. Aku bisa mencegahnya]

Kenangan dari saat itu masih menghantui Natsuki Subaru, hingga detik ini, menelannya dalam perasaan kehilangan dan keputusasaan. Jadi, Subaru telah memutuskan untuk tidak bergantung pada siapa pun, ia memutuskan untuk membawa luka-lukanya, berjuang sendirian, mempercayai kebenarannya sendiri.

[Subaru: aku harus percaya… aku harus percaya pada kemungkinan lainnya…]

Return by Death dapat menyelesaikan segalanya.

Selama dia menggunakannya dengan baik, Subaru tidak akan kehilangan apapun pada akhirnya.

Jika dia tidak percaya, jika dia tidak mengatakan pada dirinya sendiri bahwa semua luka itu perlu, jika dia tidak meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu adalah kebenaran, bagaimana mungkin dia bisa menghadapi keputusasaan itu lagi?

[Subaru: Aku … aku tidak mau kehilangan siapapun lagi seperti aku kehilangan Rem—gh!]

Memegang kepalanya, Subaru memekik seakan ia tidak ingin mendengar suara apapun. Sebelum dia menyadarinya, dia telah jatuh ke tanah. Subaru tidak mempedulikan lagi dorongannya untuk menjauh dari Satella, ia meringkuk, menolak bisikan manisnya.

Racun. Racun yang mematikan. Keberadaan Satella sendiri adalah racun yang dapat melelehkan setiap senti tubuh Subaru.

Hati Subaru hancur menjadi kepingan-kepingan kecil, mengkhianati sumpahnya sendiri untuk tidak membiarkan hatinya goyah. Keputusasaan menusuknya seperti es, membuat semua mimpi buruknya muncul kembali.

[Sekhmet: Kau―bukan anak kecil lagi]

Gumaman itu memecah suasana.

Melihat Subaru, meratap dan menangis, dengan keras kepala bersikukuh pada kesimpulan buatannya sendiri dan menggelengkan kepalanya untuk menyangkal hal lain, salah satu penyihir yang sedari tadi membisu akhirnya angkat bicara.

[Sekhmet: Menangis, meraung, mengamuk, menyalahkan diri sendiri,  bukankah hal itu sama seperti…]

[Subaru: —-]

[Sekhmet: —Anak kecil yang ditinggal sendirian?]

Komentar itu terlontar dari mulut Sekhmet dengan nada sedih dan kasihan. Tidak ada bantahan dari penyihir lainnya.

The Witch of Sloth benar.

Karena sosok Subaru sekarang terlihat seperti anak kecil yang menyedihkan, lemah dan rapuh.

 

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded