Re:Zero Arc 4 Chapter 77.1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Sendirian, bagian 1

Bagaimana cara yang tepat untuk menggambarkan keterkejutan Subaru? Saat ia mendengar pernyataan cinta itu?

Rasanya seperti ada ilusi petir yang menyambarnya—menusuknya, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Setiap pori-pori tubuhnya terbuka. Ia merinding, darah mendidih di setiap pembuluh darahnya, membuat tubuhnya memanas. Detak jantungnya yang berdegup kencang menyebabkan darah terpompa ke wajahnya. Sambil terengah-engah … tanpa sadar Subaru tersandung satu langkah kebelakang.

Dia tidak bisa berdiri di sana lebih lama lagi, atau … napas dan jemarinya akan menggapai gadis itu. Kalau ia tidak buru-buru menjauh darinya ketika instingnya masih waras, Subaru mungkin tidak akan bisa mengendalikan dirinya.

Dan jika itu terjadi, Subaru akan tersentuh oleh kata “cinta”—

[Subaru: Berhenti…..]

[Satella: Aku mencintaimu]

[Subaru: Kumohon, berhentilah…]

[Satella: Aku selalu, dan akan selalu, mencintaimu]

[Subaru: Aku bilang berhenti—!]

Menggelengkan kepalanya dan mengayunkan lengannya, Subaru mengalihkan pandangannya dari tatapan Satella yang membara dan memikat.

Meskipun demikian, ekspresi Satella tidak terlihat oleh Subaru. Oleh karenanya … Subaru tidak bisa memastikan emosi apa yang tersimpan di dalam sorot mata itu. Namun, panas yang berdenyut di dadanya tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda.

Seakan-akan ia baru saja meludahi sang penyihir dengan darah, mendorongnya dengan penolakan tadi dengan sepenuh hatinya. Kalau bukan karena usaha mati-matiannya untuk menekan perasaan itu, Subaru merasa kesadarannya akan runtuh. Jika dia tidak mempertahankan upaya ini untuk membuat dirinya sadar, dia yakin—bahwa, keberadaannya akan berubah. Pikiran itu membuatnya takut.

Dengan terang-terangan menolaknya, melemparkan rasa jijik tanpa ragu-ragu, dan menamparnya dengan kebenaran itu, Subaru berteriak…! Sementara Satella hanya berdiri di sana seperti sebelumnya.

Ekspresinya masih tersembunyi di balik tabir bayangan gelap itu. Tidak terlihat. Tidak terbaca. Namun, entah bagaimana, Subaru bisa mengatakan bahwa Satella terluka oleh kata-kata itu, dan kini mengalihkan pandangannya di suatu tempat di dalam hatinya. Subaru merasakan dorongan untuk membelai rambut Satella, menghiburnya dari kesedihan, dan membalas pernyataan itu dengan cintanya sendiri sehingga gadis itu dapat tersenyum kembali.

Bahkan ketika dia mencoba menolaknya, hatinya bersikeras bahwa dia “mencintai” Satella.

[Subaru: Apa… Apa-apaan kau? Apa yang kau lakukan padaku?! Apakah kau melakukan sesuatu untuk memanipulasi perasaanku, sebagaimana kau meletakkan Return by Death?!]

Subaru mencurahkan semua ketidakpercayaan dari hatinya yang bimbang pada Satella. Kenapa hatinya tiba-tiba bereaksi dengan cara yang benar-benar bertentangan dengan akal sehatnya? Jika emosi yang meluap-luap di dalam dirinya ini juga merupakan perbuatan penyihir mengerikan ini, maka itu akan sangat mengerikan.

Memanipulasi perasaan seseorang sesuka hati—itu adalah tindakan yang sangat rendah dan menjijikkan.

Rasa sukanya kepada Emilia adalah harapan pertama yang Natsuki Subaru rasakan di dunia ini.

Tersesat, tanpa memiliki arah dan tujuan, dia berhutang budi kepada Emilia karena mengulurkan tangannya. Ingatannya masih tersimpan rapi, kenangan tentang bagaimana Emilia menyelamatkan hatinya yang sudah di ambang kehancuran. Bahkan hingga detik ini, sosok Emilia masih merupakan cahaya tersendiri bagi Subaru.

Di hari-hari yang panjang, yang ia habiskan dari mengulangi putaran kematian—yang tidak ada habisnya, bertarung sendirian melalui banyak kesulitan, jumlah orang berharga yang ingin ia lindungi semakin bertambah, kata-kata, ikatan, dan perasaan yang ia bagikan dengan mereka perlahan-lahan menumpuk di dalam dirinya.

Sekarang ini, dia tidak bisa lagi mengatakan bahwa perasaannya pada Emilia adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus berjuang. Meski begitu, tetap saja Emilia adalah cahayanya yang pertama, dan sekarang Satella menuntut perasaan yang sama untuk dirinya.

Meskipun mereka tidak pernah bertukar cerita, tidak pernah merasakan sentuhan masing-masing, tidak pernah menghabiskan waktu bersama dan tidak memiliki ikatan apa pun, Satella menuntut Subaru untuk “mencintainya”.

Jika bukan keji, perbuatan gadis ini disebut apa?

[Subaru: Kau, dan Echidona … kalian berdua sudah gila! Ini … tempat-tempat ini, penuh dengan bajingan yang tidak bisa dimengerti! Aku sangat muak dengan semua ini!]

Subaru meneriakkan amarah dan rasa jijiknya dengan sempurna kepada kedua penyihir itu. Satella, yang berusaha memeras perasaan cinta tidak masuk akal dari dalam dirinya, dan Echidona, yang dengan liciknya melibatkan orang lain hanya untuk memuaskan keingintahuannya. Mereka berdua sama-sama monster yang tidak dapat dipahami.

[Echidona: Jangan samakan aku dengan benda itu, meskipun secara teknis kami sama-sama penyihir, bagiku, dia tidak lebih daripada makhluk buas yang derajatnya beberapa tingkat di bawah penyihir. Tapi, kau salah tentang “tidak dapat dimengerti”]

[Subaru: Oh diamlah! Kau berpura-pura baik, tapi aku belum melupakan betapa liciknya dirimu…. Sudah cukup. Tidak ada gunanya—aku berada di sini. Keluarkan aku, aku tidak ingin terlibat dengan kalian semua!]

Mengutuk Echidona, Subaru memegangi kepalanya dan memohon agar dibebaskan dari Benteng Mimpinya.

Dia tidak ingin berdiri sedetik pun di depan Satella dan Echidona. Ia sudah punya cukup banyak masalah untuk dikhawatirkan, dan ia tidak ingin mencari-cari kekhawatiran baru yang tidak ada gunanya.

Subaru bukan orang yang mahatahu, ada batasan seberapa banyak masalah yang bisa dia tangani. Namun, mengapa masalah terus menumpuk satu demi satu di atas punggungnya?—Ketika masalah-masalah sebelumnya saja belum terselesaikan?

[Subaru: Aku tidak akan pernah meminta bantuan kepada kalian lagi…. Aku akan menangani semua masalahku seorang diri.—Memang seharusnya begitu, kan?! Itulah yang seharusnya aku lakukan sejak awal…]

[Minerva: Lalu? Kau mau kembali ke skenario kematian berulang-ulang, membuat banyak orang menangis sambil berkata pada diri sendiri “ini adalah pengumpulan informasi, apa boleh buat?” ….Heh, cocok untukmu]

Minerva menyilangkan tangan di depan dada dan mendengus mendengar ocehan perpisahan Subaru yang meyakinkan. Kemudian, melihat Subaru membalas tatapannya, wajah kusut Minerva memerah,

[Minerva: Apa? ….Ada yang ingin kau katakan?]

[Subaru: Apa urusanmu? Semua rasa sakit, penderitaan, luka dan kerusakan yang timbul akibat Retrun by Death, semuanya aku yang merasakan! Kau tidak punya hak untuk mengeluh tentang hal itu!]

[Minerva: Mudah bagimu untuk berkata bahwa kau siap dengan semua rasa sakit dan penderitaan itu. Bagaimana dengan orang-orang di sekitarmu? Yang harus melihatmu berdarah-darah sementara tubuhmu tercerai berai dan tulang-tulangmu hancur? Kau selalu menggunakan alasan—mengatakan bahwa kaulah yang paling menderita]

[Subaru: Apa…?!]

[Minerva: Hanya karena kau merasakan luka yang terlihat jelas, kau pikir orang-orang yang juga terluka akibat perbuatanmu tidak punya hak untuk mengeluh? Lagi pula, kau yang paling menderita … yang harus menanggung banyak pederitaan …. Jadi, wajar saja kalau orang di sekitarmu tidak boleh protes dan diam saja sambil menangis, ya, kan?]

Mungkin karena amarah yang menumpuk saat dia berbicara, nada suara Minerva meninggi—ketika Subaru menggertakkan giginya. Tidak mungkin Subaru bisa membiarkan kata-kata tanpa ampun itu tidak dijawab.

[Subaru: Kau! Kau pikir aku mabuk oleh tragedi mengerikan yang aku alami sendiri, agar aku bisa membuat alasan sehingga semua orang terdiam?! Bahwa jalan buntu sialan yang sedang kulalui ini hanya tindakan pura-pura?!]

[Minerva: Tidak, bukan itu maksudku…. Maksudku adalah pemikiranmu yang merasa tidak apa-apa asal kau lebih tersakiti daripada orang lain adalah sebuah pemikiran pengecut! Aku bukan penggemar metode licik Echidona, dan seumur hidup aku tidak akan bisa memahami betapa rumitnya Stella… tapi menurutku caramu membuat rumit segala hal jauh lebih memuakkan daripada kami… para penyihir]

[Subaru: —-]

[Minerva: Dan lagi, caramu bukan hanya berkebalikan dengan caraku yang “menghajar untuk menyembuhkan”—caramu benar-benar bertentangan dengan caraku. Bukankah itu terlalu tidak tahu terima kasih atas apa yang telah ia lakukan untukmu?]

Mengulurkan tinjunya yang kecil ke Subaru, Minerva menggertak dengan kata-kata itu. Menambahkan bisikan pelan di akhir, dia mengalihkan mata birunya ke arah Satella.

Masih berdiri di sana seperti sebelumnya, Satella tidak bereaksi sejak Subaru menghujani dia dengan semua omelan pedasnya, tidak juga menunjukkan tanda-tanda penyangkalan atau penegasan. Minerva melihat Satella dengan mata yang menyipit sedih.

Bagaimanapun, Subaru sudah tidak peduli lagi dengan pemandangan sentimental di hadapannya.

[Subaru: Memuakkan.… Tidak tahu terima kasih…?]

Menanggapi kata-kata terakhir Minerva, dengan wajah murung, bahu Subaru sedikit bergetar, semakin lama semakin hebat, dan ketika Subaru mengangkat wajahnya lagi, dia tersenyum.

Itu terlalu menggelikan, bagaimana dia bisa menahan tawa?

[Subaru: apa-apaan itu? Sakit atau apa pun … dan menurutmu siapa yang membuatku menjadi seperti ini? Bagaimana aku bisa memiliki cara berpikir yang katamu rumit itu? Baik metode maupun pola pikirku… bukankah keduanya adalah hasil dari tangan yang menjejalkan itu semua kepadaku!? Benar,kan?!]

[Satella: —-]

[Subaru: Itu adalah kau! Kau! Kaulah alasan aku menjadi seperti ini!]

Berteriak, Subaru melontarkan semua amarahnya pada Satella, yang masih diam sampai detik ini seolah-olah ia ingin melarikan diri dari kesalahannya.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded