Re:Zero Arc 4 Chapter 78.1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Suara di Ambang Tangisan, bagian 1

[Sekhmet: Sekarang kau meringkuk dan menjadi seseorang yang keras kepala … terlihat sangat kekanak-kanakan, bukan? Menyedihkan sekali, aku tidak tahan melihatnya … huu….]

Subaru tidak membantah perkataan Sekhmet. Ia meringkuk lebih rapat lagi, tidak dapat menyangkal kebenaran dalam kata-kata itu.

Keras kepala dan sombong, Subaru menutup gendang telinganya dari mendengarkan suara di sekelilingnya—tapi tentu saja, ia masih percaya bahwa metodenya memang yang paling tepat untuk meminimalisir rasa sakit yang menderanya.

Diberi kesempatan yang tidak terbatas untuk memutar ulang takdir, dengan hidupnya sebagai satu-satunya yang berharga, Subaru bisa terus berusaha lagi dan lagi. Proses yang tidak berujung itu mengikis hatinya sedikit demi sedikit.

Tetapi ketika dia berada di ambang kehancuran, seseorang mengatakan sesuatu yang membuatnya dapat berdiri lagi.

{—Kau adalah pahlawanku, Subaru}

Hanya itu. Hanya itulah yang ia butuhkan. Bahkan, ketika jiwa dan raganya hampir mencapai ambang batas, jika ia dapat mendengar kalimat itu … dengan semua orang di sisinya… itu sudah cukup baginya.

Apa yang salah dengan itu?

[???: —Subaru menangis…?]

Tiba-tiba, suara tangisan anak-anak memecah kesunyian di udara, membuat para penyihir yang sedari tadi menahan napas tertegun.

Meringkuk seperti bola, Subaru merasakan tangan-tangan kecil mengelus kepalanya. Ia mendongak, melihat melalui air matanya yang berlinang, dan melihat seorang gadis dengan kulit sawo matang menatapnya dengan alisnya yang dikerutkan.

Pandangan Subaru mendarat pada The Witch of Pride.

[Typhon: Subaru yang malang… ia menangis….  Siapa yang membuatnya menangis…?]

Typhon bangkit dari posisi berlututnya, menatap tajam ke arah para penyihir yang membisu. Sekilas cahaya berbahaya mengikuti kecepatan matanya. Sementara ia menyapu semua orang di ruangan itu dengan pandangan penuh penilaian. Alisnya terangkat ketika akhirnya ia menatap Satella.

[Typhon: Satella? Satella di sini? Kenapa? Sudah lama sekali.…]

Typhon melambai kepada Satella, namun permusuhan di matanya tidak meredup. Melihat hal itu, orang pertama yang menengahi adalah Sekhmet, yang mendesah pelan saat ia duduk.

[Sekhmet: Typhon … haa…. Dia agak sedikit sibuk saat ini, huu.… Jangan ganggu anak itu, haa.… Kemarilah, huu.…]

[Typhon: Mama … apakah kau melakukan hal yang buruk pada Subaru? Mama … apakah kau juga orang jahat…?]

[Sekhmet: Mamamu … haa … tidak punya energi untuk menjadi orang jahat, huu…. Aku tidak ingin pekerjaan tambahan, dan aku tidak ingin memberimu pekerjaan tambahan pula, huu….]

Typhon mengangguk kecil pada jawaban Sekhmet, tetapi tidak menunjukkan niat untuk pindah dari Subaru seperti yang diperintahkan. Sebaliknya, dia menoleh ke Minerva,

[Typhon: Nerva…? Apakah kau pelakunya… … nah….]

[Minerva: Bisa-bisanya kau bertanya seperti itu padaku? Bukankah itu tidak masuk akal? Aku tidak selalu berkeliling dan menyembuhkan orang, tahu. Meskipun kadang aku terbawa suasana dan sedikit melecehkan orang sesukaku … maksudku, aku juga bisa menyakiti orang, kadang-kadang….]

[Echidona: Susah untuk berpikir demikian ketika wajahmu berubah menjadi biru, hanya dengan memikirkan untuk menyakiti orang, Minerva]

Echidona mengangkat bahu, menggoda Minerva karena jawabannya yang tidak meyakinkan. Minerva melotot tajam ke arahnya, sementara Typhon juga mengikuti pandangannya—mengalihkannya ke Echidona, seketika wajah kekanak-kanakannya berubah masam.

[Typhon: Jadi kau ya—Dona. Dona, kau melakukan hal buruk lagi, kan…? Dona … apakah kau orang jahat?]

[Echidona: Hei, kenapa kau terdengar seperti sedang menyimpulkan dan bukanya bertanya? Sepertinya aku harus berbicara dengan orang yang merawatmu. Jadi, bagaimana?]

[Sekhmet: Ini ada hubungannya dengan perilakumu sehari-hari … haa….]

Sekhmet memegang dahinya ketika berkomentar. Typhon, yang tidak bergerak dari sisi Subaru, masih sibuk mencari siapa “orang jahat yang membuat Subaru menangis”.

Melihat kelakuan si penyihir kecil, Echidona menyipitkan matanya dan bergumam,

[Echidona: Lagi pula .…]

[Echidona: Sekarang, Typhon ada di sini. Kita hampir lengkap. Kalau Daphine muncul juga, peristiwa ini akan jadi seperti 400 tahun yang lalu….]

[???: Apakah … seseorang baru saja memanggil Daphine?]

Menanggapi komentar Echidona, sebuah peti mati sehitam butiran arang yang halus tiba-tiba muncul di tengah padang rumput.

Di dalamnya, dengan seluruh tubuh yang terikat dan mata tertutup kain penutup mata, Daphine—Penyihir Keserakahan—mengendus semua yang ada di tempat itu, dia membuat kedutan-kedutan kecil dengan hidungnya.

[Daphine: Bukan hanya Subaruun… Tella-tella juga di sini? Woaaahh…. Ketujuh Penyihir Dosa ada di sini, bahkan kandidat Sage juga ada.…]

[Echidona: Daphine. —Dia … belum hadir di sini]

[Daphine: … Ahhh, sungguh? Maaf, deh…. Omong-omong…. *sniff—sniff* Aku mencium sesuatu yang asin … ada yang menangis, ya? Apakah itu Neru-neru?]

Tanpa mempedulikan suasana, Daphine terus mengacaukan situasi, dengan suaranya yang terdengar bodoh.

Ini adalah momen langka untuk ketuju penyihir, termasuk Satella, berkumpul di dalam Kastil Mimpi, bahkan selama masa keemasan penyihir 400 tahun yang lalu. Dengan berkumpulnya ketuju penyihir yang dulu pernah menenggelamkan dunia dalam kekacauan, dalam suasana yang menegangkan ini ada cukup aura dan kekuatan untuk menata ulang dunia.

The Witch of Pride, berusaha untuk menghakimi orang yang membuat Subaru menangis.

The Witch of Wrath, mengepalkan tinjunya, bertekad untuk memenuhi keinginan teman dekatnya.

The Witch of Sloth, mengawasi semua orang dengan siaga, siap untuk menghancurkan siapa pun yang berniat merusak perdamaian.

The Witch of Lust, berusaha tidak ikut campur, bersiap untuk melindungi dirinya sendiri jika situasi memburuk.

The Witch of Gluttony, yang sudah kehilangan minat pada apa yang terjadi di sekitarnya, sekarang menggigit jari-jemarinya dengan tidak sabar. Rasa lapar menguasainya.

The Witch of Greed, masih berkonsetrasi pada Satella dengan penuh permusuhan, sementara matanya terus menjelajahi adegan itu dengan keingintahuan, penasaran bagaimana pesta minum teh ini akan berakhir.

Dan orang terakhir yang bukan Witch of Envy, melainkan Satella—

[Satella: Aku mencintaimu.—Karena kaulah yang memberiku cahaya. Kaulah yang menggegam tanganku dan menunjukkan dunia kepadaku. Di malam yang sepi dan menakutkan, kaulah yang menemaniku. Dan saat aku sendirian, kau mencium bibirku dan berkata bahwa aku tidak sendirian. Kau telah memberikan banyak hal padaku, banyak sekali…. Itulah kenapa aku mencintaimu. Karena kau… kau memberiku segalanya]

[Subaru: —-]

Subaru sama sekali tidak dapat mengingat—satu hal pun yang Satella bisikan.

Dia tidak memiliki kenangan di dalamnya, dan Satella tidak ada hubungannya dengannya. Tidak ada pertemuan, tidak ada cerita, tidak ada perasaan hangat di antara mereka. Semua yang ia katakan adalah delusinya sendiri. Fantasi kosong tanpa makna dari seorang wanita yang gila karena mendambakan sesuatu.

Begitulah seharusnya, namun, Natsuki Subaru ‘mengingatnya’.

[Subaru: Kenapa aku… apa ini di dalam kepalaku? Aku tak menginginkan perasaan ini. Jangan coba-coba mengikatku… dengan kenangan yang tidak nyata… kau … kau … aku mem—]

“Aku membencimu”, harusnya kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya.

Yang harus Subaru lakukan adalah menusuk perasaan cinta Satella dengan fakta bahwa ia tidak memiliki sedikit pun cinta untuknya. Begitu ia melakukannya, ia akan dapat melihat raut wajah gadis yang dengan egois berusaha untuk membelokkan hatinya. Tentunya, gadis itu akan menunjukkan ekspresi tak terduga karena patah hati.

—“Tapi tidakkah kau merasa bersalah kepadanya?”

[Typhon: Subaru?]

[Sekhmet: Oh… astaga]

[Camilla: Di-dia.…]

[Minerva: Kau… cih!]

[Daphine: Subaruuuun?]

[Echidona: Oh … yah, itu juga bisa jadi pilihan yang bagus…. Natsuki Subaru]

Ketika para penyihir bergantian menyebut nama Subaru, Echidona mengangguk kecil pada hasil akhirnya.

[Subaru:—gha, bhu!]

 —Sambil masih meringkuk di tanah, Subaru menggigit lidahnya sendiri sampai putus.

Terpojok oleh tindakan para penyihir, Subaru tidak dapat memikirkan cara lain.

Dengan hati yang terombang-ambing, pilihan apa yang tersisa untuknya jika bahkan kehendaknya bukan lagi menjadi miliknya?

Kalau saja ia bisa menolak hal yang tidak ia inginkan itu, semuanya akan baik-baik saja.

 Tapi, di depan Satella, ketika penolakannya diubah menjadi penerimaan—itu benar-benar mengerikan.

―Sekarang, apa yang akan terjadi jika kau mati di dalam mimpi?

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded