Re:Zero Arc 4 Chapter 78.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Suara di Ambang Tangisan, bagian 2

Tubuh Subaru harusnya masih berada dalam pemakaman di Sanctuary.

Apa yang dipanggil ke sini adalah rohnya, atau dalam kata lain, jiwanya. Jika rohnya mati di sini, apakah ia akan kembali ke tubuh fisiknya? Bisakah sebuah jiwa mati? Sudahlah, tidak penting. Kalau ia bisa mati dan hidup kembali, dia akan baik-baik saja.

Subaru tidak akan meminta tolong kepada para penyihir. Sebaliknya, ia akan maju dengan lebih nekat dan lebih sembrono, mengesampingkan semua masalah yang tak perlu. Jika ia bisa tetap setia pada caranya sendiri, tentu saja, jalan akan terbuka—jika saja aku dapat melakukan itu maka,

[Minerva: Si bodoh itu…!]

Tepat ketika ia menyadari upaya bunuh diri Subaru, Minerva menggulung lengan bajunya dan melesat ke depan, bergegas meninju Subaru untuk menyembuhkannya. Tapi, di depannya kini berdiri Typhon, berdiri di antara mereka dengan tangannya yang dibentangkan. Penyihir kecil itu, menghalangi jalan Minerva.

[Typhon: Subaru telah membuat keputusannya! Nerva, tidak boleh ikut campur!]

[Minerva: Melukai diri sendiri! Bunuh diri! Cidera! Pembunuhan! Aku tidak akan membiarkannya terjadi di depan mataku…! Aku tidak peduli penderitaan macam apa yang ada di kepalanya, aku tidak bisa menyembuhkan luka yang tidak bisa kulihat! Itulah sebabnya, aku tidak bisa mengabaikan luka yang terlihat olehku!]

Tanah runtuh di bawah kaki Minerva saat tinjunya dengan cepat terarah kepada wajah Typhon.

Tinju itu melesat dengan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan gunung, namun saat mengenai makhluk hidup, tinju itu dapat menyembuhkan, walau dampak dari tinju itu masih akan tetap dirasakan si penerima.

Menghasilkan gelombang ledakan yang menggelegar, tinju Minerva dengan kekuatan penuh mengirim Typhon terbang. Gadis kecil itu terpental seperti daun gugur, menari di ruang luas yang terbentang di atas padang rumput. Pemandangan itu cukup brutal—tapi Typhon bukan satu-satunya korban.

[Minerva: —tch!]

Lengan kanan Minerva, mulai dari bahunya ke depan, hancur seperti serpihan es. Itulah konsekuensi dari mengusik sang penghakiman—Witch of Pride, dan dengan demikian membuat Minerva dianggap seorang “pendosa.

Minerva mendongak kasar, berusaha melawan rasa sakit yang dengan cepat menjalar di lengannya yang kini telah hancur, membuka mulutnya lebar-lebar dan memekik liar—

[Minerva: Luka kecil…!]

Atau tidak.

Meskipun dia peka terhadap rasa sakit orang lain, sang Penyihir Wrath sepenuhnya mengabaikan rasa sakitnya sendiri.

Bahkan ketika dia mengkritik Natsuki Subaru karena cara berpikirnya, sebenarnya Minerva sama saja seperti pria itu.

[Minerva: Inilah—Saatnya…!]

Setelah menyingkirkan hambatannya, Minerva melakukan gerak dengan mengangkat kaki ke depan—melompat ke arah Subaru, mengalirkan sisa-sisa energinya ke lengan kirinya yang tersisa untuk sekali lagi meninju dari atas,

[Sekhmet: Aku akan menghalangimu kali ini, haa.…]

Dalam sekejap—dengan rambut pirangnya yang berkibar—Minerva terpelanting ke tanah. Seluruh tubuhnya seakan ditelan oleh bumi, menimbulkan kawah di sekelilingnya. Minerva mengangkat wajahnya, yang memerah karena amarah, lalu berteriak kepada Sekhmet yang masih duduk di tempatnya.

[Minerva: Jangan menghalangiku! Sekhmet…!]

[Sekhmet: Tidak bisa, huu…. Jujur saja secara sentimental aku berada di pihak anak itu, haa…. Dan juga, aku ada di pihak Typhon, huu…. Jadi aku tidak punya alasan untuk membiarkanmu, haa….]

Mendengar pernyataan perang Sekhmet, Minerva dengan sedih, menggigit bibirnya ketika pandangannya mulai menyapu sekelilingnya.

Tetapi Daphne dan Camilla tetap netral dalam konflik ini, dan Echidona hanya menonton dengan ketertarikan yang berlebihan. Dan, Satella―

[Satella: Hhh …… hha …….]

Ia jatuh berlutut, suaranya bergetar saat ia melihat darah yang mengalir deras dari mulut Subaru. Dengan darah yang terus mengalir dan potongan lidah menyumbat tenggorokannya, Subaru merasa seperti ia sedang tenggelam ketika ia menangkap sosok Satella di ambang kesadarannya.

Dia sedang menangis, benar, kan?

Menyaksikan “kondisi sekarat” Subaru, Satella terlihat sangat terguncang. Subaru tidak pernah melihat Satella bersikap seperti itu sebelumnya.

[Satella: Kenapa kau tidak mengerti…? Bahwa dari semua hal yang ingin kau lindungi, kau harus menyertakan dirimu di dalamnya juga]

Kenapa dia berpikir seperti ini tentang Subaru?

Dalam delusinya, seberapa besar Subaru telah menyelamatkan hatinya?

[Satella: Seperti yang lainnya … yang sedang berjuang di kebuntuan nasib, kau juga sama. Hanya saja kau punya cara untuk merubah itu … tapi … kau juga harus selamat… jadi … kenapa…?]

Pernyataan Satella benar-benar salah.

Subaru adalah bajingan tanpa harapan yang bahkan tidak bisa menjaga apa yang ia miliki dalam genggamannya, apalagi menyelamatkan orang-orang yang ia ingin selamatkan. Bajingan tidak berguna yang setengah-setengah. Tidak ada penyangkalan, tidak ada jalan keluar dari hal itu.

Untuk mengalahkan diri yang tidak berguna itu, ia tidak akan lagi melakukan hal dengan setengah-setengah. Bukankah itu janjinya kepada diri sendiri?

Untuk menjadi dirinya yang seutuhnya. Bukankah itu yang telah ia putuskan?

Di dalam kepala Subaru, kepribadiannya yang lemah dan tidak berguna berdebat dengan dirinya yang ingin menjadi kuat.

Tidak ada yang akan melihat Natsuki Subaru yang lemah lagi.

Ia harus menjadi pahlawan yang kuat, bermartabat, dan tidak tergoyahkan seperti yang seharusnya.

Karena ada seorang gadis yang menginginkan sosok itu darinya. Itu adalah kutukan yang ia timpakan pada dirinya sendiri, dan itu adalah tugasnya untuk membalasnya karena menerima kutukan itu. Sungguh, baginya itu bukan tugas yang berat. Hanya karena gadis itu percaya padanya, Subaru ingin melindungi kepercayaan itu.

Ya. Begitulah.

Begitulah adanya.

Jika ada orang yang berduka atas kematian Subaru, itu pasti dia.

Memilih “kematian” adalah pengkhianatan terhadap gadis yang percaya padanya. Meskipun tentu saja, untuk Subaru, “kematian” bukanlah akhir dari segalanya. Menggunakan “kematian” itu sendiri sebagai batu loncatan, ia akan berusaha menghindarinya dan mengambil apa yang awalnya hilang.

Tapi bagaimana perasaan orang-orang di sekitar Natsuki Subaru ketika melihatnya bermain-main dengan kematian?

Dia tidak boleh berpikir tentang itu.

Dia tidak boleh tahu tentang ini. Pemikiran itu berbahaya.

Tidak apa-apa. Natsuki Subaru merasa baik-baik saja dengan cara ini.

Dia tidak boleh berpikir bahwa ada seseorang yang berduka untuknya.

Dia bukan orang yang layak untuk ditangisi. Kehidupan Subaru sendiri adalah sumber daya yang dapat dikonsumsi. Ia adalah alat untuk digunakan, dan digunakan, dan digunakan, sampai akhir yang bahagia tercipta. Begitulah seharusnya.

Untuk memanfaatkan kematian tanpa syaratnya agar hal-hal terbaik dapat dicapai, Subaru tidak boleh menolak ‘kematian’-nya sendiri.

Jadilah penentu. Tidak apa-apa untuk tidak berpikir. Dalam upaya untuk mengembalikan apa yang hilang, ia harus siap untuk meninggalkan apa yang harus ia tinggalkan. Semua orang melakukan hal itu, maka tidak apa-apa bagi Subaru untuk melakukan hal yang sama.

Dia hanya harus menyelamatkan yang berharga baginya

Jika dia bisa melakukan itu, Subaru―

[Satella: Apa yang kau lihat…. di Ujian Kedua?]

Ujian. –Ujian. Ujian, “Ujian”. Ujian—Ujian—Ujian, “Ujian” Ujian—Ujian—Ujian. Ujian…?

Pikiran Subaru telah di ambang batas akibat keterkejutan dan kurangnya oksigen. Penglihatannya semakin kabur dan menghilang menjadi titik-titik merah yang berkedip-kedip, ketika kepalanya dipenuhi oleh suara bising televisi yang rusak, ia samar-samar berpikir “Sudah waktunya ini berakhir”.

Akhir perlahan mendekat.

Sudah berapa kali ia menyambut “kematian” seperti ini? Ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk menghitungnya … lagi pula, itu tidaklah penting sama sekali.

Pada akhirnya, ia akan terus mengulangi kematian lagi dan lagi sehingga menghitungnya akan sangat memuakkan. Lagipula Subaru tidak yakin ia dapat bertahan cukup lama untuk menghitung kematiannya.

Hati baja itu.

Untuk memiliki, hati baja yang tak tergoyahkan―

Perlahan, dan perlahan, kesadaran Subaru pergi,

Dan pudar,

 

**** **** ****

{Aku mengandalkanmu, Nak}

Sebuah suara.

Di antara suara-suara yang tumpang tindih, ia mendengar satu suara yang sangat jernih.

{—Hati-hati di jalan}

 Dia mendengar suara lain.

Suara yang berbeda. Tapi suara itu membawa emosi yang sama ke dadanya.

{Aku akan senang memanggilmu teman}

Suara yang lain lagi, membawa perasaan yang lain pula. Entah bagaimana, suara itu membuatnya gelisah dan senang di saat yang bersamaan.

{Tuan Subaru… Kumohon maafkan aku…}

Dan suara lain lagi. Yang satu ini membanjiri dirinya dengan kesepian dan kerinduan, rasanya seperti ia ingin meminta maaf kepada si pemilik suara.

{Kau—bukan orang itu…. Aku tahu … tapi, setidaknya … tapi….}

Subaru merasakan cengkeraman di hatinya.

Mendengar suara ini, pengendalian dirinya runtuh. Suara itu terdengar seperti tangisan yang akan pecah. Suara yang tidak boleh dibiarkan menangis. Suara inilah yang harus dia lindungi. Suara ini. Suara ini. Suara ini.

{Jadi tunjukkanlah padaku seberapa hebat dirimu, Subaru}

*deg* sesuatu berdetak di dadanya, merespon suara itu.

Panas mengaliri tubuhnya. Ia merasakan dorongan untuk bergerak. Suara inilah yang selalu mendukungnya.

Dan,

{Terima kasih, Subaru}

Muncullah suara itu.

{—Karena telah menyelamatkanku}

—Suara yang mengumumkan awal dari segalanya. 

 

**** **** ****

Dia mungkin sedang menangis.

Jika orang-orang yang disayanginya mengetahui tentang kematiannya, apakah mereka akan berduka untuknya?

Orang-orang berharga yang ada di dunia di mana Subaru dengan egoisnya melarikan diri melalui “kematian”, akankan mereka menangis dan berduka untuknya?

Seperti Subaru yang meratapi kelemahannya, berkali-kali mengulangi kematian untuk mendapat akhir yang terbaik, mereka yang kehilangan dirinya pada saat-saat terakhir, apakah mereka juga menangisinya?

Orang-orang yang berharga baginya.

Orang-orang yang harus ia lindungi.

Orang-orang yang ingin ia selamatkan dari kebuntuan nasib mereka sendiri.

―Apakah dirinya layak untuk air mata mereka?

Tidak apa-apa untuk merasa sedikit sombong, bukan?

Menjadi begitu sombong dengan berpikir bahwa aku juga berharga bagi orang yang berharga bagiku.

Tidak apa-apa memiliki sedikit keyakinan, bukan?

Percaya bahwa mereka yang ingin kulindungi juga ingin melindungiku.

Tidak apa-apa untuk sedikit berharap, bukan?

Seseorang akan menitikkan air mata jika aku mati, dan menganggapku penting sehingga mereka akan menyelamatkanku dengan tangan mereka.

—Tidak apa-apa bagiku untuk berpikir seperti ini, bukan?

Aku tidak ingin mati.

Aku tidak ingin menyerah, seolah-olah cara terakhir adalah untuk mati.

Aku tidak ingin menjadi batu loncatan, bahkan walaupun itu dapat menyelamatkan masa depan orang yang kusayangi.

Di masa depan di mana aku telah melindungi mereka semua, aku ingin berada di sana juga.

Tidak apa-apa bagiku untuk berpikir seperti ini, bukan?

Aku … juga punya hak untuk bahagia… bukan? Kalau iya, maka—

[Subaru: Aku tidak ingin mati]

Kata-kata itu meluncur dari mulut Subaru, yang dengan susah payah tersedak melalui darah yang mulai mengering di tenggorokannya. Potongan lidah yang menyumbat saluran nafasnya pecah ketika ia megap-megap mencari udara. Paru-parunya memompa kembali, oksigen memenuhi otaknya seperti musim semi, dan penglihatannya menjadi sedikit lebih jelas.

[Minerva: Dengar…. Dengar itu! Itulah keinginannya…. Kh!]

Meskipun dengan kedua kakinya yang telah hancur, Minerva merangkak ke arah Subaru, dan dengan segenap tekadnya, menabrakkan kepalanya ke—kepala Subaru.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded