Re:Zero Arc 4 Chapter 79.1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Akhir dari Mimpi itu, bagian 1

Saat Subaru merasakan oksigen melewati saluran napasnya, ia terbatuk-batuk—memuntahkan sisa-sisa gumpalan darah yang tersisa. Masih dengan posisi wajah tertelungkup di tanah, ia terengah-engah sambil berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatan.

Tidak ada waktu untuk memikirkan kondisinya yang menyedihkan. Meskipun, Subaru sangat menyadari betapa menyedihkan dirinya karena ia tanpa ragu menggantungkan hidupnya pada usaha yang Minerva lakukan untuk menyelamatkannya setelah ia berusaha menggigit lidahnya sendiri untuk mati. Tapi,

[Subaru: …. Apakah…?]

[Minerva: —Hmm?]

[Subaru: Apakah hidupku … berharga…? Selain untuk mati … selain untuk mati—berkali-kali …. Apakah hidupku punya arti lain…?]

Mengulangi semuanya setelah ia kembali dari kematian (Return by Death), dan menyelamatkan semua orang dari keputusasaan.

Ia percaya bahwa membayar dengan nyawanya untuk mencapai hasil yang diinginkan adalah satu-satunya arti dari hidup Natsuki Subaru.

Tetapi, apakah tidak apa-apa untuk berpikir sebaliknya?

[Subaru: Apakah tidak apa-apa … untuk berpikir bahwa orang sepertiku … memiliki tujuan selain Return by Death? Berpikir bahwa … orang yang aku sayangi … peduli padaku … juga?]

[Minerva:—Mana aku tahu?]

Minerva membuang muka, mengabaikan rengekan Subaru.

Setelah kehilangan lengan kanan dan kedua kakinya, Minerva menggunakan lengan kirinya untuk menjauh dari Subaru. Kemudian ia menggigit bahu kanannya, dan dalam sekejap lengannya bercahaya dan mulai beregenarasi. Minerva lalu membuka dan menutup kepalan tangan kanannya yang telah dipulihkan—melanjutkan untuk meninju kedua kakinya; mulai dari paha ke bawah. Kaki-kaki itu tumbuh kembali seperti lengannya.

Roknya yang memang sudah pendek, sekarang terpangkas lebih pendek lagi dangan lengan kanan bajunya terbuka sepenuhnya. Tetapi, selain pakaiannya yang compang-camping, tubuh the Witch of Wrath Minerva telah kembali seperti kondisi primanya—tanpa luka.

Ia berdiri dengan kaki-kaki barunya, menyilangkan lengannya dengan posisi membusungkan dada yang dari awal memang besar, memandang rendah kepada Subaru. Kemudian,

[Minerva: Aku tidak peduli apakah kau berharga atau tidak. Tapi dia benar-benar ingin kau hidup … dan kau sudah melihatnya di Ujian kedua juga, bukan?]

[Subaru: …… Tapi Ujian Kedua … adalah salahku … dan dosaku…]

[Minerva: Kau ini bodoh, ya? Ini bukan tentang membuatmu bertanggung jawab atas dunia yang kau kacaukan. Itu untuk menunjukkan kepadamu betapa sedihnya semua orang karena kesalahanmu. —Bukankah ini jawaban yang selalu kau inginkan?]

[Subaru: ――――h]

Dia mengingatnya.

Suara yang memilukan. Suara yang dipenuhi penyesalan. Suara yang dengan lembut mengiringi kematiannya. Bisikan cinta dari seseorang yang percaya padanya. Dan kata-kata yang memulai segala sesuatu yang akan menjadi alasan untuk Subaru bertarung.

Suara-suara yang seharusnya tidak ia miliki di hidupnya.

Tidak memiliki apapun, kehilangan apa yang seharusnya ia miliki, Subaru dipanggil ke dunia ini.

Untuk membuktikan apa arti dari hidupnya sendiri, satu-satunya yang dapat ia lakukan adalah terus berjuang. Dan untuk melindungi semua yang dia sayangi, dia harus melanjutkan perjalanan yang sunyi ini.

Kupikir selama ini aku hanya menerima pemberian dari orang lain, bolehkah aku berpikir sebaliknya?

Akankah mereka menangis untukku?

Akankah mereka menyesali ketidakberdayaan mereka sendiri untukku?

Apakah mereka ingin melihat masa depan bersamaku?

Ketika kita semua sampai di masa depan itu, akankah mereka memberiku tempat di antara mereka, dan tersenyum bersamaku?

Ia tidak yakin bahwa ia layak mendapat tempat itu.

Tetapi tentu saja, jika ia memilih untuk berjalan dengan keras kepala sendirian, pada akhirnya, tempat itu tidak akan ada untuknya. Pada akhirnya, hatinya, yang ia tempa sedemikian rupa sehingga ia bisa bertarung dengan keinginan yang tak tergoyahkan, tidak akan menyisakan sisi yang lembut untuk tersenyum.

Jadi, bolehkah ia percaya?

Entah mendapatkan masa depan itu untuk orang-orang yang ia cintai dengan mengorbankan hatinya sendiri.

Atau mati-matian mempertahankan hatinya sendiri dengan mengorbankan masa depan mereka.

Selain dua pilihan itu, adakah pilihan lain yang lebih serakah dibanding keduanya?

Di masa depan itu … bisakah Natsuki Subaru berharap untuk membuat tempatnya sendiri…?  Bersama semua orang yang ia sayangi?

[Satella: —Kau bisa]

[Subaru: —-]

Perlahan-lahan Air mata Subaru tumpah, itu adalah suara hati Subaru.

Namun, waktu jawaban itu begitu sempurna sehingga seolah-olah Subaru barusan mengatakan seluruh perasaannya.

Masih terbaring di tanah, Subaru mendongak untuk melihat melalui Minerva—ke arah gadis yang berlutut di atas rerumputan, tersenyum tanpa peduli pada air matanya yang terus berlinang.

Subaru masih tidak dapat melihat wajah gadis itu … wajah yang masih tersembunyi di balik tabir kegelapan, sehingga bahkan detik ini pun Subaru tidak dapat memastikan ekspresi apa yang gadis itu buat.

Hanya saja, entah bagaimana, Subaru tahu bahwa Satella sedang tersenyum.

Echidona telah memberitahunya. Alasan Subaru tidak bisa melihat wajahnya adalah karena dia tidak bisa menerimanya. Ia menyadari senyuman Satella, tetapi alam bawah sadarnya bersikeras bahwa ia tidak melihatnya.

[Satella: Kau menyelamatkanku. Jadi, kau berhak untuk diselamatkan juga. Aku ingin kau… selamat]

Sadar akan kata-kata dan suara Satella yang meresap ke dalam hatinya yang retak, Subaru membenamkan wajahnya di lengannya. Dengan semua air mata dan darah di wajahnya, penampilannya sudah sangat menyedihkan, namun, tetap saja Subaru tidak ingin orang lain melihatnya seperti ini.

Bahkan setelah menghujani Satella dengan semua sumpah serapahnya, bagaimana mungkin ia merasa lega setelah mendengar kata-kata gadis itu? Dan, bagaimana bisa ia membiarkan mereka melihat ekspresinya yang kini jauh lebih tenang? Namun, kata-kata “cinta” Satella yang tidak bisa dijelaskan itulah yang memberi tahu Subaru arti sebenarnya dari Ujian tersebut.

[Echidona: …..Aku terkejut Minerva berhasil mengatasi Typhon dan Sekhmet, tapi, jujur saja, secara pribadi, yang lebih mengejutkanku adalah kalian berdua]

Mengabaikan Subaru yang masih mengubur wajahnya dalam-dalam, Echidona bergumam kecil.

Setelah menyaksikan regenrasi Minerva, Echidona mengalihkan perhatiannya ke tempat lain—ke arah Typhon yang sedang mencakar-cakar peti mati hitam pekat untuk merusaknya, dan seketika pemilik peti—Daphine—menghadap Sekhmet dengan serius.

Mendengar komentar Echidona, Daphine tertawa geli. Ia melepas ikatan di kakinya dan melangkah dengan bertelanjang kaki di atas rumput, menjulurkan lidahnya.

[Daphine: Aku pasti lawan yang paling cocok untuk Ty-ty…. Peti Lipan itu tidak punya otak untuk berpikir dengan … dengan itu sebagai pengganti kaki dan tanganku, kekuatan Ty-ty tidak akan bekerja padaku.…]

[Typhon: Uuuhh. Phinnie…! Hentikan…! Hnnnn…! Uuuuh]

[Sekhmet: Jadi, haa … akhirnya kau menunjukkan sifat aslimu untuk mengendalikanku, huu.… Aku bukan Echidona, haa.… Kenapa kau repot-repot melakukan ini padaku? Huu … berbeda dengan Minerva, aku tidak mengerti kenapa kau ikut campur haa.…]

Sekhmet dengan kasar menggaruk rambutnya yang terlalu tebal. Dengan Typhon yang tengah disandera, bahkan Sekhmet tidak bisa bertindak sembarangan di sini.

Mendengar pernyataan Sekhmet, Daphine mengayunkan kuncir ekor kudanya (pigtails) yang pendek dan tersenyum.

[Daphine: Hmmmmm….]

[Daphne: Subaruun… dia membuat beberapa penawaran yang cukup besar untukku…. Membunuh Paus Putih, dan selanjutnya Kelinci Besar…? Jadi—kupikir…. Aku ingin dia setidaknya hidup cukup lama untuk menanggungnya….]

[Echidona: Sudut pandang yang menarik. Kalau dia serius, mungkin saja dia dapat melakukannya, kau menyadarinya, kan? Atau jangan-jangan kau benar-benar ingin Kelinci Besar hancur?]

[Daphine: Tidak ada bedanya…? Saat kelinci itu terpisah dari Daphne, perutnya bukan perut Daphine lagi…. Aku tidak peduli apakah dia akan hancur atau apa … tapi aku tertarik untuk melihat bagaimana Kelinci Besar yang mewakili kelaparan Daphne yang tidak pernah puas akan berakhir….]

[Daphine: lagipula….]

“Setelah semua”, Daphne melanjutkan kata-katanya—

[Daphne: Jika sampai akhir harus dipenuhi … … itu akan menjadi kebahagiaan yang sama sekali tidak aku kenal….]

Daphne, yang terus menerus disiksa oleh kelaparan yang tiada akhir, kalau saja itu dapat terpuaskan, hal ini akan menjadi mimpi yang tidak terjangkau.

Kelinci Besar adalah cerminan dari kelaparannya yang tidak berujung, dan mungkin, bahkan bagian dari dirinya sendiri. Meski begitu, Daphne sendiri benar-benar tidak memiliki ikatan yang berarti dengan si kelinci.

Jika Kelinci Besar dapat mencapai akhir lain dari apa yang telah Daphine terima, pantaskah itu disebut sebagai pemenuhan? Adakah harapan baginya untuk terpuaskan? Dengan sedikit ketertarikan dengan hal yang melebihi keterkarikannya pada makanan, Daphine tersenyum.

Mendengar jawaban Daphine, Echidona mengangguk puas, dan pandangannya beralih lagi, bukan ke Subaru, Satella, atau Minerva. Bukan pula kepada Daphine, atau Sekhmet, atau Typhon. Ia kini berkonsetrasi kepada seseorang yang sama seperti dirinya, terisolasi dari keributan yang terjadi. Melihat ke arah Witch of Lust Camilla, Echidona mengelus rambut putihnya sendiri.

[Echidona: Dan bagaimana denganmu, Camilla? Kau punya alasan seperti Daphine?]

[Camilla: A-ada … yang i-ingin kau katakan…? E-Echidona?]

[Echidona: Sederhana saja—kau berseru kepada kesadaran bocah itu saat ia berada di ambang kematian, tepat ketika ia sudah benar-benar akan mati. Dengan otoritas den kekuatanmu—“Dewi Tanpa Wajah”—kau tahu bagaimana hasilnya]

[Camilla: —-]

[Echidona: Seruanmu akan sangat berarti baginya. Kau harusnya tau itu. Jadi aku bertanya, karena sepertinya kau tidak dekat dengannya. Kenapa?]

Mendengarkan pertanyaan Echidona, Camilla memegang kedua tangannya ke bibir saat matanya menyapu sekitar dengan panik. Ia melirik ke arah Daphne dan Minerva, seolah berharap ada orang lain yang akan mendukungnya. Tapi tidak ada penyihir di situ yang tergoda dengan Camilla tercinta. Kehabisan akal, Camilla mulai mengigit kuku jarinya, menatap Echidona dengan mata berair.

[Camilla: Tidak ada… alasan yang berarti? Di-dia, menolak…. Bu-bujukan Echidona, ja-jadi, aku sudah pu-puas…. Dan, se-semuanya mulai bertarung ka-karena alasan masing-masing… na-namun itu tidak a-ada hu … hubungannya denganku…. Ha-hanya saja….]

[Echidona: Hanya saja?]

[Camilla: Ci-cinta itu… ha-hal yang penting… kau tahu? Ra-rasanya salah… kalau ka-kau mengabaikannya…. Di-dia tidak me-melihatnya… namun a-aku merasakan ci-cinta…. Dan aku ti-tidak akan membiarkan ci-cinta itu dito…lak, di de-depan mataku…. Dan aku, tidak suka tindakan menerima tanpa memberi]

Mendengar hanya bagian terakhir yang diucapkan dengan sangat jelas, Echidona mengangkat bahu.

The Witch of Greed tersenyum masam, sebelum melihat masing-masing penyihir yang lain secara bergantian,

[Echidona: Sekhmet dan Typhon menghormati keinginan Subaru dan memutuskan untuk turun tangan, sementara Minerva menghargai kehidupannya dan menyembuhkannya. Daphine membantu memperpanjang hidupnya karena ia ingin melihat Subaru bertarung, dan Camilla menggunakan kekuatannya untuk menyadarkannya tentang ketulusan cinta yang ia tolak. –Maka semua orang di sini, dengan alasan masing-masing, telah memutuskan untuk membantu Natsuki Subaru]

Mendengarkan penilaian Echidona atas tindakan mereka, semua ekspresi penyihir berubah.

Pride memiringkan kepalanya, Sloth menghela nafas lesu, Wrath mendengus dan melipat tangannya di dada, Gluttony mengunyah salah satu kaki peti matinya yang panjang dan tersenyum, sementara Lust merengut sedih.

Dan, melihat semua ini, Greed memegangi dagunya,

[Echidona: Mengagumkan sekali…. Ya, kan?]

Senyum merekah di bibir Echidona. Kata-kata barusan ditujukan untuk Natsuki Subaru, yang sedang berusaha berdiri dengan kedua kaki gemetar.

Setelah menyeka jejak air mata dengan lengan bajunya, dengan susah payah akhirnya berhasil berdiri, Subaru tidak menanggapi pertanyaan Echidona.

Ia menatap Echidona dengan mata tanpa semangat, lalu beralih ke para penyihir lainnya dan,

[Subaru: Apa yang… kalian semua….]

[—-]

[Subaru: Keingintahuan. Simpati. Rasa kasihan. Tanggung jawab. Ekspektasi. Rasa muak…. Tidak ada satu pun alasan kalian yang masuk akal. Kurasa itulah mengapa kalian dipanggil penyihir]

[Echidona: Karena kau telah kembali melemparkan hinaan, apakah mungkin tenagamu sudah pulih?]

[Subaru: ……Aku tidak tahu]

Echidona menyipitkan salah satu matanya ketika mendengar pernyataan Subaru. Kalimat singkat itu sudah cukup untuk menggambarkan seluruh perasaan Subaru.

[Subaru: Seharusnya aku sudah memutuskan… apa yang harus kulakukan. Hal-hal yang harus kulakukan tidak berubah. Aku yakin soal itu … aku yakin…]

“Tapi”, lanjut Subaru, memperjelas untuk dirinya sendiri.

[Subaru: Aku sudah memutuskan bahwa itulah satu-satunya cara… Itulah yang kupilih… itulah tuntutanku. Tapi, Ujian itu menghancurkannya]

Ujian Kedua, kenyataan yang seharusnya tidak ada—terjebak dalam konsekuensi dalam tindakannya sendiri karena kenyataannya ia tak bisa lagi bergantung pada “Keputusan”—merobek-robek hatinya menjadi serpihan.

Dipaksa untuk menyaksikan semuanya, Subaru berusaha sekuat tenaga untuk melupakan, dan melangkah ke depan dengan keputusannya. Begitulah yang seharusnya terjadi.

[Subaru: Tapi ketika aku mengetahui alasan kalian membantuku, lalu Satella tiba-tiba muncul di hadapanku…. Kepalaku rasanya mau meledak. Kalian semua! Bisakah kalian berhenti bertindak sesuka hati? Yang kuminta pada diriku adalah menyelesaikan urusanku sendiri. Tapi, kalian semua….]

Pada titik ini, bagaimana dia bisa mulai berpegang teguh pada kehidupan yang telah ia putuskan untuk diperlakukan sebagai barang yang bisa dibuang?

Pada titik ini, bagaimana dia seharusnya mulai menilai kehidupan yang seharusnya digunakan semaksimal mungkin?

Pada titik ini, apa yang dapat ia lakukan, mengetahui bahwa dirinya sedang dicintai?

[Subaru: Aku … tidak tahu… harus … berbuat … apa lagi….]

“Kau tidak dapat melindungi siapa pun kalau kau tidak mati!” sisa-sisa kesadaran Subaru berteriak.

“Ada orang-orang yang akan sedih kalau kau melukai dirimu sendiri!” ingatan Subaru berteriak.

Orang-orang akan menderita jika dia tidak mati, dan orang-orang akan menderita jika dia mati.

[Echidona: –Aku akan bertanya kepadamu sekali lagi, Natsuki Subaru]

Saat Subaru menggelengkan kepalanya dengan kebingungan, suara Echidona melunak dan ia berbicara.

Subaru mendongak, melihat Echidona mengangkat satu jari di depannya.

Melihat dirinya terpantul di mata Subaru, dia perlahan mengangguk,

[Echidona: Jika kau meminta bantuanku, kau akan meraih masa depan di mana semua orang yang kau sayangi akan selamat, tanpa kegagalan. Tidak perlu merasa khawatir. Dalam istilah yang lebih ekstrim, aku akan menggantikanmu, dan mengatasi semua masalahmu. Yang perlu kau lakukan hanyalah melakukan semua perubahan itu dengan sempurna, dan melewati semua hambatan. Jika beban itu terlalu berat untukmu, kau bisa menyalahkanku sesuka hatimu. Aku tidak akan membantah, dan aku akan menerimanya dengan sepenuh hati. Maka, aku akan bertanya kepadamu sekali lagi–]

[Subaru: —-]

[Echidona: Tersesat dan tanpa arah, maukah kau mengijinkanku untuk menuntunmu? Aku akan memberimu masa depan itu, pasti. Aku bersumpah padamu]

Echidona mengulurkan tangannya kepada Subaru, sambil bibirnya mengatakan janjinya dengan lembut.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded