Re:Zero Arc 4 Chapter 79.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Akhir dari Mimpi itu, bagian 2

Subaru membeku, matanya terpaku pada jemari Echidona yang seputih kapur, lalu kepada wajahnya yang penuh penantian.

Kata-kata itu persis seperti permintaan yang baru saja ia tolak sebelumnya.

Dulu, ketika Subaru pertama kali mengetahui sifat asli Echidona, ia merasa takut dengan keingintahuan mengerikan yang mendorong penyihir itu.

Lalu, bagaimana dengan sekarang? Sekarang setelah ia menghabiskan cukup banyak waktu untuk merenungkan kata-kata Echidona, bagaimana dengan sekarang?

Subaru telah memperlakukan hidupnya seperti barang yang dapat dibuang setelah dipakai, melakukan berbagai percobaan dan kesalahan, dan menggunakan segala cara untuk menghancurkan rintangan yang menghalangi jalannya. Antara menerima tawaran Echidona, berjuang dengan mengorbankan hatinyadan menolak tawaran itu lalu berjuang sendirian, adakah perbedaan di antara keduanya?

Dorongan keras kepala dan rasa jijik yang meluap-luap terhadap Echidona-lah yang membuat Subaru menolak tawaran penyihir itu sebelumnya.

Tetapi jika Subaru benar-benar memiliki tekad untuk meninggalkan segalanya dan mengorbankan dirinya, jika dia bisa mengesampingkan sifat Echidona, lalu mengapa ia tak menerima usulan itu?

Bahkan jika ia menolak Echidona atas dasar keegoisannya sendiri, lalu hanya untuk kembali melalui jalan yang samasebenarnya apa inti dari penolakannya tanpa hentinya itu?

Dia harus meraih tangan itu.

Jika dia memiliki tekad untuk menelan semua rasa sakit dan penderitaan, dan berjuang tanpa takut terluka, maka ia harus meraih tangan itu.

Dan kemudian,

[Subaru: Echidona]

[Echidona: —-]

[Subaru: Aku … takut terluka]

[Echidona: —-]

[Subaru: Aku membenci rasa sakit, kesengsaraan dan kesedihan. Aku tidak ingin melalui pengalaman yang mengerikan itu, dan aku tidak ingin melihat orang lain menderita karena nasib yang buruk. Aku tidak ingin mati]

[Echidona: —-]

[Subaru: Jadi, tanganmu yang mengandaikan pengorbanan diriku…. Aku tidak tahan lagi]

Bahkan walau Subaru tidak yakin ia akan mampu melakukannya sendiri, ia tidak sanggup lagi menjalani jalan yang Echidona pilih.

Dia telah menyadari keinginannya untuk hidup.

Dia telah belajar bahwa, bahkan ketika dia berpikir bahwa kematian adalah satu-satunya hal yang dapat ia lakukan, ada orang yang akan menerimanya bahkan jika ia tidak mati. Natsuki Subaru bukan “Seorang pria yang hanya bernilai kalau ia mati”.

Orang-orang yang berduka baginya tidak bisa melakukannya karena mereka melihat arti dari kematian Subaru.

Tapi, kalau begitu, hal apa yang ada pada Subaruyang membuat mereka berduka untuknya?

[Subaru: Aku masih tidak tahu apa yang mereka lihat pada diriku … tapi aku ingin mencari tahu. Aku merasa kalau aku tahu alasan mereka, aku dapat membayar perasaan itu dengan cara lain selain kematian]

[Echidona: …Tapi, itu adalah jalan berduri, Natsuki Subaru. Menggunakan “kematian” untuk membuka jalan baru, menggunakan dirimu sendiri sampai kau kelelahan untuk melanjutkannya; tidak bisa dipungkiri itu adalah jalan tercepat, meskipun berbahaya. Satu-satunya yang perlu kau korbankan adalah hatimu. Tapi kau menolaknya, kau ingin menjaga hatimu dan masa depan orang-orang yang kau sayangi sekaligus, itu tugas yang sangat sulit. Bukankah itu….]

Kata-kata Echidona terhenti, dan sebuah senyuman merekah di wajahnya. Senyum paling indah yang pernah Subaru lihat di wajah penyihir itu, Echidona melanjutkan,

[Echidona: Terdengar seperti keserakahan?]

Mempertegas keinginan itu, The Witch of Greed menerima keputusan Subaru dengan ekspresi puas. Entah bagaimana, setelah penolakan terjadi, si penyihir tetap terlihat bahagia. Subaru gagal memahami apa yang terjadi di kepala Echidona, tapi,

[Subaru: Sebenarnya kau telah menyelamatkanku berkali-kali…. Bahkan ketika di lubuk hatimu kau menganggapku sebagai kelinci percobaan … tapi tetap saja]

Selama ini, kehadiran Echidona sendiri adalah dukungan bagi hati Subaru, dan membuatnya sanggup melewati masa-masa sulit itu.

Karena alasan itu Subaru berterimakasih kepada Echidona, yang ikut menanggung semua konsekuensi keputusannya agar ia tetap bisa bertahan.

[Echidona: —Garfiel yang bodoh dan menyedihkan itu takut pada dunia luar]

[Subaru: Hah?]

[Echidona: Apa yang dilihat anak itu dalam Ujian Pertama selalu mengikatnya. Jika kau ingin mengatasi situasi ini sendiri, kau harus membatalkan kutukan itu]

[Subaru: Echidona?]

[Echidona: Penyihir lainnya telah memberimu kelebihan mereka masing-masing, jadi, jika aku tidak memberimu hal yang sama, apa yang akan kau pikirkan tentangku? Aku tidak mau kau berpikir bahwa “semua penyihir adalah orang-orang baik, kecuali Si Jahat Echidona”. Lagi pula aku juga seorang gadis, dan aku sedikit menyukaimu]

Echidona mengatakan kalimat itu dengan cepat sambil menyodok Subaru dengan jari telunjuknya membuat Subaru mundur selangkah. Ketika Subaru mendongak lagi, Echidona sudah memalingkan wajah. Rambutnya yang keperakan berayun ketika ia menjauh dari Subaru.

Para penyihir yang lain melihat kejadian itu dalam diam.

[Subaru: Aku sama sekali tidak dapat mengerti kalian semua]

[—-]

[Subaru: Kalian semua membuatku gila, membuat kepalaku sakit, dan jujur saja aku masih marah dengan semua perkataan kalian. Sepanjang waktu aku terus berpikir “Berhentilah membicarakan hal-hal yang tidak kumengerti”, sungguh, aku tidak tahan lagi dengan kalian.…]

Itu benar.

Semua penyihir memiliki idealitas keras kepala yang melampaui apa yang bisa dimengerti Subaruatau orang normal mana pun.

Karena sifat alami itu, Subaru tidak bisa memahaminya, atau setuju dengan tindakan mereka.

Tapi, sama seperti perasaannya terhadap Echidona, pemahaman dan rasa terima kasih adalah hal yang terpisah.

[Subaru: Terima kasih … karena telah membiarkanku mati. Terima kasih … karena tidak membiarkanku mati. Dan, terima kasih … karena telah membuatku mendengar suara-suara yang berharga itu. Terima kasih banyak]

Subaru membungkuk kepada masing-masing penyihir satu persatu, merasa sedikit senang melihat cara mereka menelan nafas.

Kemudian, Subaru berbalik dan berjalan ke depan.

Ia kini berhadapan dengan gadis yang masih berlutut di atas rumput—Satella.

Satella menatap Subaru ketika ia mendekat, menahan nafas seolah-olah tenggorokannya membeku.

Melihatnya ketakutan, duduk di sana seperti gadis kecil, Subaru kehilangan kata-katanya.

Mengapa, ketika dihadapkan dengan seseorang yang ia pikir menjijikkan, hatinya dipenuhi kehangatan?

Emosi apa yang dia simpan di dalam dirinya untuk seseorang yang belum pernah ia sentuh sebelumnya?

Subaru telah memiliki terlalu banyak pertanyaan yang tak terjawab semenjak ia tiba di tempat ini.

Masih tanpa satu jawaban pun yang pasti, hanya bertahan pada keputusannya untuk berjuang, Subaru mengulurkan tangannya kepada penyihir itu.

Satella memandangi tangan Subaru yang terulur, tersesat dan tanpa kepastian.

[Subaru: Aku … tidak tahu siapa kau? Aku tidak tahu mengapa kau menyatakan cinta kepadaku … maksudmu ketika kau bilang aku telah menyelamatkanmu]

[Satella: a……]

[Subaru: Namun, Return by Death yang kau berikan kepadaku telah menyelamatkanku, begitulah adanya. Berkatmu, aku bisa sampai sejauh ini, sungguh]

[Satella: —-]

[Subaru: Return by Death bukan satu-satunya pilihan, kan?]

[Satella: —-]

[Subaru: Aku tidak boleh bergantung padanya sepenuhnya, aku harus lebih mencintai diriku sendiri … itu, kan, yang kau katakan?]

[Satella: —-]

[Subaru: Aku tidak akan berpura-pura mengetahui solusi yang lebih baik. Tapi kau, yang telah memberiku kekuatan ini … kau tidak ingin aku mati. Aku tahu hal itu dengan pasti sekarang]

Jadi,

[Subaru: Seperti katamu, aku akan berusaha…. Bersikap lebih baik kepada diriku sendiri. Aku akan menghargai diriku sendiri. Aku tidak tahu apa yang terjadi kalau kulakukan itu … tapi tidak apa]

[Satella: Apakah akan baik-baik saja?]

[Subaru: Yah…. Dibandingkan sekarat, ini tidak ada apa-apanya]

Sebagai jawaban atas kekhawatiran Satella, Subaru berusaha menunjukkan senyum kecil.

Seolah lega melihat ekspresinya, Satella memegang tangan Subaru.

Seketika, suara dunia pecah di gendang telinga Subaru. Langit biru dan padang rumput di sekitarnya memudar saat Natsuki Subaru perlahan-lahan terbebas dari Benteng Mimpi.

[Subaru: Kalau begitu, aku pergi dulu…?]

Dia tidak bisa lagi mengingat bagaimana, atau mengapa, dia datang ke tempat ini.

Apa yang akan dia lakukan pertama kali ketika dia keluar? Untuk alasan di dalam hatinya, bahkan ia tidak dapat memastikannya.

[Satella: Jangan berjuang sendirian…. Berjuanglah bersama orang-orang yang menyayangimu]

[Subaru: —-]

[Satella: Orang-orang yang tidak ingin kau mati … orang-orang yang tidak akan membiarkanmu mati, berjuanglah bersama mereka…. Kalau itu tidak cukup, jangan pernah lupakan rasa takutmu pada kematian.…]

[Subaru: —-]

Subaru tidak dapat menemukan kata-kata untuk memanggil namanya.

Suaranya hilang di tenggorokannya. “Satella”, nama itu tidak boleh luput dari bibirnya. Keinginannya untuk menolak gadis itu beradu dengan keinginan untuk menerimanya.

Langit di atasnya runtuh, tanah di bawah kakinya hancur. Cahaya membanjiri tempat itu sampai sekelilingnya bukan lagi seperti Benteng Mimpi. Penyihir lainnya menghilang, hanya menyisakan Subaru dan Satella di dunia itu.

Semuanya memudar, dan awal yang baru terbentuk.

—Subaru tetap diam ditempat, memandangi Satella, tidak menemukan kata-kata untuk diucapkan.

[—-]

Tiba-tiba, bayangan hitam pekat yang sedari tadi berputar di wajah Satella menghilang.

Bayangan hitam yang muncul akibat penolakannya yang keras kepala terhadap kehadiran sang penyihir menghilang.

Dan ketika ia akhirnya dapat melihat wajah di balik bayangan itu, napas Subaru terhenti.

Dihadapan Subaru yang terlalu terkejut untuk bernafas, Rambut keperakan Satella berkibar, sementara air mata berjatuhan dari mata kristalnya yang berwarna keunguan

[Satella: Dan suatu hari nanti—kau harus datang, dan membunuhku]

Memudar.

Menghilang.

Dunia di sekelilingnya tersapu perlahan-lahan, dan bahkan gadis di depannya mulai menghilang.

[Subaru: Aku … apapun yang terjadi]

Menggenggam sisa-sisa kehangatan yang dapat ia temukan di tangannya, Subaru

[Subaru: Aku pasti akan menyelamatkanmu]

Mengatakan hal itu pada gadis yang sangat ia cintai, yang memudar di depan matanya.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded