Re:Zero Arc 4 Chapter 80.1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Lidah yang Kasar, bagian 1

—Merasakan sesuatu menyapu-nyapu pipinya… Subaru terbangun.

Kembali tersadar, Subaru didera oleh rasa lelah yang menyebar dengan cepat ke sekujur tubuhnya. Tubuhnya terasa berat, seakan-akan yang mengalir melalui urat nadinya adalah timah, bukan darah.

Rasa sakit yang tajam—menghantamnya ketika ia berusaha membuka bibirnya yang kaku untuk menghirup udara. Sementara itu, di dalam rongga mulutnya yang kering, lidahnya ke sana kemari—mencari sisa-sisa kelembapan dari darah cair yang memenuhi tenggorokannya.

Tangan dan kakinya lemas, dan demam di kepalanya membakar otak—membuatnya tidak dapat berpikir jernih.

Subaru bahkan tidak memiliki kekuatan untuk membuka kelopak mata, hanya berhasil membukanya dengan memutar bola matanya yang berat.

Dan di sana,

[Subaru: Ternyata kau.]

Saat warna membanjiri penglihatannya, mata Subaru menangkap rona hitam yang berbeda dari kegelapan di bawah kelopak matanya.

Mengendus-endus Subaru dengan aroma khas makhluk hidup, sepertinya makhluk itu menjaganya saat ia tidak sadar.

Makhluk itu memiliki tubuh hitam berkilau, bentuknya ramping dan halus. Meskipun, pesona tertentu pada mata reptilnya tajam, dan taringnya yang seperti pisau bisa mengirim seseorang kepada kematian dengan hanya satu gigitan. Naga kesayangan Subaru; Patrasche, menjulurkan lidah merahnya yang ada di antara taring itu untuk menjilat Subaru.

Menyadari bahwa Subaru telah terbangun, Patrasche menghentikan jilatannya dan duduk, menunggu perintah Subaru. Rupanya, bahkan naga yang sangat tangkas dan berbahaya mampu menekuk lututnya untuk duduk di tempat.

Melihat Patrasche di hadapannya, Subaru menyadari bahwa dia sedang duduk bersandar pada sesuatu yang keras, dengan kedua kakinya terbentang di tanah. Subaru memiringkan kepalanya, menemukan bahwa sandarannya adalah sebuah batu berlumut dekat dengan pintu masuk pemakaman.

[Subaru: Sepertinya, tadi aku di dalam … sekarang? Kenapa aku di luar?]

Satu hal yang Subaru ketahui dengan pasti adalah bahwa ia terbangun dari Benteng Mimpi, dan seharusnya berada di dalam pemakaman.

Jika seseorang masuk dan mengeluarkan Subaru yang sedang tidak sadar, maka ceritanya akan berbeda, tetapi selain dirinya, hanya ada dua orang yang dapat memasuki pemakaman di Sanctuary, dan mereka adalah Emilia dan Garfield..

Gagasan bahwa salah satu dari mereka bisa menyeret Subaru ke luar—sama sekali tidak meyakinkan.

[Subaru: Tapi, aku tak mungkin merangkak keluar sendiri, jadi….]

Ia baru saja hendak bergumam “Siapa?” ketika sebuah suara bergema mengalihkan perhatiannya.

Suara itu datang dari belakang Patrasche, dari sosok yang mendekat dari kejauhan, menyeret kakinya dan terengah-engah.

[???: Oooii! P-Patrasche kecil, tunggu … tunggu…! Hhha, hhha…. A—jangan melarikan diri dariku…! Aku bisa terkena masalah besar…. Huh?!]

Seorang pemuda berambut abu-abu—Otto, berdiri dengan ekspresi lega ketika melihat Patrasche. Setelah mengatur nafasnya, Otto menoleh ke arah Subaru, menyadari kehadirannya.

[Otto: Loh, Natsuki? Apa yang kau lakukan di sini?]

[Subaru: Tak bisakah kau lihat? Aku sedang menikmati cahaya bulan. Lagi pula, apa yang kau lakukan di sini? Tergantung jawabanmu, aku akan mempertimbangkan untuk membawamu kepada Garfield]

[Otto: Aku tak mengerti kenapa kau selalu mencurigaiku, alasanku ada di sini dengan keringat penuh di wajah tak ada hubungannya denganmu sama sekali, Natsuki Subaru]

Melihat bahwa itu adalah Otto, Subaru dengan bercanda menutup masalah seperti biasa. Otto merendahkan bahunya pada jawaban Subaru dan menggelengkan kepalanya seolah-olah mengatakan “ya ampun”.

[Subaru: Jadi ini ada hubungannya denganku?]

[Otto: Ketika aku mendengar kegaduhan besar di kandang kuda, aku segara memeriksanya, dan di sana aku menemukan Patrasche kecil menendang-nendang sesuatu. Kupikir mungkin dia stress karena terkurung selama berhari-hari, jadi aku membuka pintu gerbang, bermaksud mengajaknya jalan-jalan sedikit dan… Duar!]

Bertepuk tangan dengan hebohnya, Otto menyipitkan mata sambil memandang Patrasche yang diam dengan penuh wibawa. Patrasche mengabaikannya, masih sibuk fokus kepada Subaru.

[Otto: Kenapa aku merasa seperti benar-benar diabaikan… uh sudahlah. Jadi, bagaimanapun, dia membuatku terlempar dan berlari keluar dari istal. Aku tak bisa berpikir selama beberapa saat, tetapi kemudian aku benar-benar panik ketika menyadari masalah serius apa yang akan menimpaku kalau dia melarikan diri … maka di sinilah aku sekarang]

[Subaru: Karena Patrasche sudah bersamaku, kau bisa tenang sekarang]

[Otto: Oh—ya, Natsuki, apakah kau memberikan suatu instruksi pada Patrasche kecil?]

[Subaru: Aku tak sempat. Aku bahkan tak sering mengunjunginya, kecuali untuk memberinya makan]

[Otto: Oh, jadi itulah kenapa dia sangat khawatir…. Kau harus lihat bagaimana dia langsung melesat ke tempat ini]

Subaru: —]

“Khawatir”, mendengar kata ini dalam gumaman Otto, bantahan Subaru tiba-tiba tersangkut di tenggorokannya.

Tidak mungkin” ia berteriak dalam kepalanya ketika dia melihat tubuhnya untuk mencari bukti. Dan di sana, dia menemukannya.

Di bahu kanan jaketnya ada bekas-bekas gigitan bercampur air liur. Bagian tengah punggung Subaru juga dipenuhi debu seolah-olah dia telah diseret di atas tanah.

[Subaru: Patrasche.…]

[Patrasche: —-]

Matanya yang bulat masih terfokus pada Subaru.

Melihat naganya dengan sabar menunggu perintah, Subaru menahan nafasnya tanpa sadar.

[Subaru: Apakah kau … menyeretku keluar dari pemakaman?]

Tentu saja, Patrasche tidak dapat menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata. Sesaat setelah Patrasche melihat kotoran di tubuhnya sendiri, Subaru memperhatikan bahwa kulit hitam naga itu penuh dengan luka gores. Kulit naga tanah sangat keras, bukan perkara mudah untuk menggoresnya, bahkan dengan peralatan yang tepat. Akan tetapi, luka-luka Patrasche sepertinya berasal dari dalam pemakaman, bukan dari luar.

Lalu Subaru mengingat satu hal.

—Pemakaman akan mengaktifkan mekanisme pertahanannya untuk mengusir mereka yang tidak memenuhi syarat ujian.

Luka yang diderita Roswaal di kediamannya ditimbulkan dengan cara yang sama. Ketika seseorang tanpa kualifikasi masuk tanpa izin ke dalam, pemakaman itu tanpa ampun akan menunjukkan kengeriannya—yang berarti,

[Subaru: Apakah kau … sungguh-sungguh terluka hanya untuk mengeluarkanku?]

[Patrasche: —-]

[Subaru: Kenapa kau … melakukan hal yang sangat bodoh seperti itu.… Aku bisa saja bangun dan keluar dari sana tanpa terluka. Kau tidak harus merasa panik dan menarikku keluar…]

Luka yang terukir di kulitnya cukup dalam sehingga daging merah di bawah sisik hitamnya terlihat, dan hanya melihat darah merembes dari celah yang menganga itu membuat Subaru mengerenyit ngeri.

Kegigihan Patrasche dalam menarik Subaru ke luar terlepas dari luka-lukanya, terus terang, merupakan tindakan sia-sia.

Tidak dapat memahami arti dari tindakan Patrasche, Subaru mengalihkan pandangannya sementara si naga tanah mendekatkan moncongnya. Subaru, yang masih duduk di sana dengan kakinya yang terbentang tanpa daya, merasakan permukaannya yang keras menggesek-gesek belakang lehernya.

Selama ini, Subaru selalu berpikir bahwa pemahaman di antara dirinya dan Patrasche adalah pemahaman satu arah, dan kenyataannya Patrasche-lah yang lebih memahaminya.

[Subaru: Otto]

[Otto: Hah? Ada apa? Kalian berdua terlihat seperti sedang menikmati waktu berdua, jadi kupikir mungkin aku pergi saja agar tidak mengganggu.…]

[Subaru: Bisakah kau—tanyakan pada Patrasche kenapa dia membantuku?]

 

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded