Re:Zero Arc 4 Chapter 81.1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Cahaya, bagian 1

Setelah berbincang-bincang dengan Otto dan Patrasche, untuk sementara—perasaan beban di hati Subaru telah terangkat dari kedalaman jurang.

Sejujurnya, ada banyak peristiwa yang terjadi di dalam Benteng Mimpi yang masih belum ditelannya, akan tetapi, pada akhirnya ia harus mengunyahnya dan mengubahnya menjadi kekuatan.

[Subaru: Ya … tidak akan ada lagi pertolongan dari Echidona.…]

The Witch of Greed Echidona, telah bersikap sangat ramah ketika ia mengamati perjuangan Subaru. Tetapi setelah pertukaran terakhir mereka, dia sekarang yakin bahwa itu bukanlah sifat asli Echidona, dan bahwa penyihir adalah makhluk yang tidak pernah menyimpang dari prinsip mereka.

Hal itu diperjelas dengan cara yang menyakitkan oleh lima penyihir lainnya—Sekhmet, Daphine, Camilla, Typhon, dan Minerva. Di mata Subaru, mereka bukan makhluk jahat. Tetapi tidak tepat juga kalau menganggap mereka makhluk yang berbudi luhur.

Bahkan untuk Minerva, yang keyakinannya adalah untuk menyembuhkan orang lain. Cara penyihir itu untuk bergegas menyembuhkan Subaru, dan mengabaikan keadaannya sendiri meski dalam keadaan mengerikan dengan tangan dan kaki yang telah putus, itu bahkan lebih mengerikan dari pada para kesatria.

Adapun untuk penyihir terakhir—Satella, jika dimungkinkan Subaru tidak ingin memikirkannya setidaknya untuk saat ini.

Perasaannya pada Satella, emosi-emosi yang tidak dapat dipahami itu melonjak dalam dirinya: secara naluriah dia tahu bahwa mencari jawaban mereka sekarang, ketika dia tak memiliki banyak waktu, akan sangat berbahaya.

Dan percakapan terakhir mereka sesaat sebelum perpisahan. Terakhir kali hanya dengan melihat sosoknya–hanya dengan mengingat “Satella” membuat hati Subaru saat itu berdegup kencang, seakan-akan jantungnya akan tersayat-sayat dengan sendirinya.

Karenanya, Subaru berusaha keras untuk tidak memikirkan soal Satella, mengalihkan pikirannya ke ha-hal lain. Ia memikirkan nasihat terakhir Echidona, dan apakah ia harus menerima kata-kata Satella.

[Subaru: Bersikap baik pada diri sendiri … mudah mengatakannya, tapi….]

Dari Pertemuannya dengan Satella, dan pengalamannya pada ujian pertama dan kedua membuat Subaru sadar bahwa orang-orang yang ingin ia selamatkan dari kematian akan bersedih atas kematiannya.—Dan juga, jauh di dalam lubuk hatinya, Subaru tidak ingin mati.

Tapi apa yang dapat ia lakukan? Tidak ada yang dapat mengubah fakta bahwa Subaru tidak memiliki senjata lain yang bisa ia gunakan. Banyak masalah menunggu untuk diselesaikan, dan pada kenyataannya, jumlah orang yang bisa ia andalkan malah berkurang.

Meskipun hatinya sedikit bersemangat, segala sesuatunya menjadi lebih buruk, dan bukannya membaik.

[Subaru: Terus-menerus bergantung pada orang-orang yang peduli kepadaku… Bagaimana aku bisa terus melakukannya…]

“Jadilah jujur dan minta bantuan mereka”. Mungkin itulah yang Satella maksudkan. Tapi, di sisi lain, Satella juga yang melarang Subaru memberitahu orang lain soal kutukannya—atau, jika dilihat dari perdebatan para penyihir, orang yang melarang Subaru untuk membeberkan Return by Death bisa jadi adalah bisikan dari Penyihir Kecemburuan. Mungkin, Satella memiliki pemikiran yang berbeda dari kepribadian itu. Dan, dalam kalimatnya yang terakhir—

 [Subaru: —Uh, aku, kan, sudah memutuskan untuk tidak memikirkannya sekarang]

Menyadari bahwa pikirannya sekali lagi melayang ke arah Satella, Subaru menghentikan dirinya.

Apa yang perlu dia lakukan adalah menemukan rencana yang jelas untuk menyelesaikan masalahnya.

[Subaru: Garfiel… takut dengan dunia luar … ya]

Itu adalah nasihat terakhir Echidona, dan mungkin informasi yang diperlukannya untuk mengatasi situasi ini.

Garfiel secara tidak langsung mengakui bahwa dia telah mengambil ujian pertama, dan kata-kata Echidona telah mengkonfirmasi hal itu.

Pertanyaannya adalah; apa yang dia lihat di masa lalunya yang membuatnya takut akan dunia luar?

Trauma karena tidak bisa mengikuti Frederica keluar dari sanctuary untuk tinggal di rumah Roswaal pasti ada hubungannya dengan hal itu.

Tapi Subaru ragu, Garfiel akan membocorkannya begitu saja jika ia memintanya langsung.

[Subaru: Berarti aku harus bertanya kepada orang lain yang tahu .… Baik Fredrica atau Lewes, keduanya cukup pandai membungkam mulut mereka….]

Jika kata-kata Frederica dapat dipercaya, maka dia benar-benar tidak dapat mengikuti Garfiel ke makam, dan akibatnya, dia tidak akan berada dalam posisi untuk mengetahui isi ujian. Di sisi lain—Lewes atau setidaknya tiruan Lewes yang berlari untuk menyeretnya keluar, telah menjalani ujian itu. Ada peluang bagus bahwa dia mungkin mengetahui detail ujian Garfiel.

[Subaru: Aku benar-benar benci melakukannya … tapi sepertinya rencana paling bagus adalah mendapatkan Otoritas Komando dari Kristal Lewes Meyer dan memerintahkannya untuk memberitahuku]

Bahkan pemimpin tiruan—perwakilan santuary—Lewes, tidak bisa melanggar perintah dari pemegang Otoritas Komando. Hal itu membuat sang pemegang akan dapat memaksa Lewes untuk melakukan apa saja, dengan atau tanpa persetujuannya.

Dan lebih dari sekadar informasi, itu juga berarti mendapatkan dukungan dari dua puluh kaki tangan Lewes yang aneh. Setidaknya, itulah cara Subaru berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

[Subaru: —-]

Pikirannya dipenuhi oleh gambaran sanctuary yang tenggelam dalam lautan api, dikuasai oleh gerombolan kelinci putih. Bersamaan dengan itu, ingatan buruk saat dirinya berusaha memerintahkan tiruan Lewes untuk melindunginya sementara ia berlari dengan luka-luka yang ikut membanjiri kepalanya.

Aku harus pergi ke sisi Emilia. Dengan itu sebagai pembenarannya, Subaru tanpa berpikir memberikan perintahnya saat ia berlari, dengan penuh luka, ke arah pemakaman.

Dia tidak pernah menyesali atau merenungkan tindakannya setelah pembenaran itu, tetapi sekarang setelah dia memikirkannya lagi dengan kepala yang jernih, tindakannya yang tanpa perasaan itu membuatnya ngeri.

[Suabaru: Pikiranku kacau sekali—memikirkan terlalu banyak hal-hal negatif, sial! Otakku bisa-bisa meledak kalau aku terus berpikir seperti ini. Baiklah, coba pikirkan satu persatu, dan selesaikan hal yang dapat diselesaikan]

Pertanyaan dan jawaban, uraikan masalahnya. Mulailah menjawabnya satu per satu dan kemudian hubungkan semua jawaban menjadi solusi yang lebih besar.

Pendekatan masalah—datangi masalahnya agar hasilnya lebih bagus. Pertama-tama,

[Subaru: Karena aku lulus di ujian pertama, berarti akulah yang harus memerdekakan sanctuary. Tidak perlu lagi membebani Emilia. Atau, lebih tepatnya, karena beban itu dapat mengacaukan pikirannya, aku harus menghindarinya]

Semakin mendekat ke sanctuary yang tertutup salju Subaru bisa mengingat Emilia dengan manis.

Itu jelas hasil dari pikirannya yang hancur ketika dia berulang kali mengikuti ujian. Tidak ada hal baik yang bisa didapat dari membuatnya melakukan ujian lagi.

[Subaru: Menyelesaikan ujian akan menjadi tanggung jawabku… yang akhirnya berujung ke ujian kedua. Aku berhasil selamat, tapi apakah itu berarti aku lulus?]

Hadiah-hadiah yang seharusnya tidak terjadi—seperti namanya, adalah bagaimana keadaan dunia jika ia memilih pilihan yang berbeda. Ujian kedua dikhususkan untuk mengalami dunia paralel seperti itu.

Bagi siapa pun selain Subaru, hal itu mungkin hanya eksplorasi jalan alternatif yang bisa diambil oleh dunia. Tapi, untuk Subaru sendiri, ujian benar-benar menunjukkan taringnya.

Subaru dipaksa melihat kelanjutan di dunia di mana ia gagal.

Yang ada di hadapannya adalah segudang penyesalan, konsekuensi, dan duka yang mendalam atas “kematiannya”.

Pemandangan itu terpatri jelas pada mata Subaru, dan meresap dengan kuat ke dalam kulitnya, menghancurkan hatinya menjadi serpihan-serpihan kecil.

Bahkan sekarang, mengingatnya saja membuat perasaan dingin yang menusuk anggota tubuhnya, seolah-olah mengalir melalui pembuluh darah dan melumpuhkan tubuh.

Dan, tepat ketika dia ditelan oleh jeritan hatinya sendiri, dia dipanggil ke Benteng Mimpi― jadi sekarang pertanyaannya adalah; apakah dia lulus ujian atau tidak?

Sepertinya tidak.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded